Tag Archives: Kitab Zakaria

Wahyu 11:1-4

「Gereja — Saksi Dibangun Ulangnya Bait Allah」
Oleh 吳慧儀 (Wú Huì Yí)

Alliance Bible Seminary H.K.

(Why. 11:1-4 [ITB])
1 Kemudian diberikanlah kepadaku sebatang buluh, seperti tongkat pengukur rupanya, dengan kata-kata yang berikut: Bangunlah dan ukurlah Bait Suci Allah dan mezbah dan mereka yang beribadah di dalamnya. 2 Tetapi kecualikan pelataran Bait Suci yang di sebelah luar, janganlah engkau mengukurnya, karena ia telah diberikan kepada bangsa-bangsa lain dan mereka akan menginjak-injak Kota Suci empat puluh dua bulan lamanya.
3 Dan Aku akan memberi tugas kepada dua saksi-Ku, supaya mereka bernubuat sambil berkabung, seribu dua ratus enam puluh hari lamanya. 4 Mereka adalah kedua pohon zaitun dan kedua kaki dian yang berdiri di hadapan Tuhan semesta alam.

Sama seperti makan gulungan kitab pada paragraf sebelumnya adalah tindakan metaforis, bagian ini menuliskan bahwa Yohanes telah diperintahkan untuk mengukur bait Allah, altar, dan orang-orang yang beribadah di Bait Suci (ayat 1), tindakan ini juga merupakan tindakan metaforis dengan makna arti yang juga berasal dari kitab Yehezkiel. Nabi Yehezkiel dalam penglihatan melihat bahwa seseorang telah mengukur Bait Allah secara keseluruhan (Yeh. 40 sampai 48), yang berarti bahwa Allah akan memulihkan kembali umat-Nya di hari-hari terakhir, membersihkan mereka, dan dipisahkan untuk menjadi kudus. Bait Suci adalah tempat Allah beserta bersama manusia, dan mengukur Bait Suci adalah penerimaan dan perlindungan Allah bagi umat-Nya. Dalam Wahyu, ada banyak metafora yang terkait dengan Bait Suci, seperti imam (Why. 1:6) dan kaki dian emas (Why. 1:12), semuanya merujuk pada orang Kristen dan gereja. Yesus berjanji kepada gereja Filadelfia: yang menang, akan dijadikan sokoguru Bait Suci (Why. 3:12), yang juga berarti bahwa gereja yang menang mendapat bagian membangun Bait Suci di akhir zaman. Dalam paragraf ini, apa yang akan diukur oleh Yohanes, yakni yang Allah ingin lindungi, adalah Bait Suci zaman akhir, Gereja milik Kristus.

Mengapa pelataran Bait Suci yang di sebelah luar, janganlah engkau mengukurnya (ayat 2a) Teks mengatakan: telah diberikan kepada bangsa-bangsa lain … (ayat 2b). Sampai di sini, kita dapat dengan mudah berpikir bahwa pelataran Bait Suci yang di sebelah luar mengacu pada bagian luar Bait, adalah dunia orang-orang yang tidak percaya. Sebenarnya, menurut struktur bait suci, pelataran sebelah luar juga merupakan bagian dari Bait Suci. Itu adalah area batasan yang dapat didatangi oleh bangsa-bangsa lain, ayat 2c mengatakan: mereka akan menginjak-injak Kota Suci empat puluh dua bulan lamanya, dan Kota Suci itu juga area ruang lingkup Allah. Dalam kitab Wahyu (lih. Why 3:12; 21:2, 10), kata Kota Suci bukanlah Yerusalem di bumi, tetapi kota surgawi Allah, seperti Bait Suci dan mezbah, melambangkan tempat umat Allah, yaitu Gereja. Dengan demikian di satu sisi Gereja memiliki kehadiran dan pemeliharaan Allah, di sisi lain juga diinjak-injak oleh yang tidak percaya. Faktanya, orang Kristen hidup di dunia, dan meskipun dipisahkan untuk menjadi kudus, di saat yang sama mereka harus menanggung gangguan dan terjangan arus dunia.

Allah membiarkan Bait Suci-Nya diinjak-injak, bukanlah tanpa alasan, kitab Wahyu selalu menunjukkan bahwa gereja memiliki misi mengabarkan Injil. Pikirkan jika Gereja ingin mengabarkan Injil, bagaimana bisa dipisahkan dari dunia? Pada ayat ketiga, kita dapat membaca instruksi dari Sorga ini dan meneruskan berkata, Aku akan memberi tugas kepada dua saksi-Ku, supaya mereka bernubuat sambil berkabung …. Kata bernubuat adalah mengabarkan Injil, orang yang mengabarkan Injil harus berkabung menunjukkan bahwa mereka akan berkabung, menderita terluka, karena pesan berita Allah selalu ditolak, menyebabkan pengabar Injil menderita, juga membawakan bencana penghakiman (renungan kemarin Wahyu 10:8-11, kitab yang manis tetapi juga pahit).

Angka-angka dalam Wahyu sering merupakan metaforis. tujuh roh bukanlah tujuh buah roh, tetapi roh yang lengkap. Demikian pula, dua saksi bukan sederhana dua orang, tetapi dua komponen dasar dari Firman Tuhan: Hukum Taurat dan nabi-nabi. Ini seperti Musa dan Elia yang muncul dalam transfigurasi Yesus, yang mengungkapkan kesaksian akan Firman Allah, Gereja mengabarkan Injil di dunia, dan juga didasarkan pada wahyu dan otoritas dari Firman Allah. Kitab Suci mengatakan: kedua orang ini adalah kedua pohon zaitun dan kedua kaki dian yang berdiri di hadapan Tuhan semesta alam (ayat 4), dapat dikatakan bahwa Gereja berada di dunia mengabarkan Injil dan memberikan kesaksian, adalah setara dengan membangun kembali Bait Suci pada akhir zaman. Menurut kitab Zakharia, kedua pohon zaitun mengacu pada dua orang yang memimpin Israel untuk membangun kembali Bait Suci, Yosua dan Zerubabel (Zak. 4:11-14), tetapi hari ini, misi ini telah dipercayakan kepada Gereja, yaitu yang bersaksi bagi Yesus, dan apa yang Tuhan Pencipta semesta alam hendak bangun ulang pada hari-hari terakhir adalah Bait Suci surgawi, Ia akan mendirikan Gereja di antara langit dan bumi, menjadi kaki dian di Bait Suci, dan memberikan kuasa kepada para hamba-Nya, bersaksi bagi Yesus di dunia, menerangi dunia.

Renungkan:

Yesus berdoa untuk para murid dan berkata, Kuduskanlah mereka dalam kebenaran; firman-Mu adalah kebenaran. Sama seperti Engkau telah mengutus Aku ke dalam dunia, demikian pula Aku telah mengutus mereka ke dalam dunia; (Yoh. 17:17-18) Apakah ada bagian yang serupa dengan ayat-ayat perikop hari ini?

Beberapa saudara diperlakukan dengan sungut dan amarah oleh keluarga mereka karena mereka tidak lagi menyembah berhala bersama keluarga mereka. Mereka ingin meninggalkan rumah dan pergi ke tempat lain. Bagaimana Anda bisa menasihati dan menghiburnya? Apa yang harus dia lakukan sebagaimana mestinya?

Ada pasar di dekat suatu gereja, dan lingkungannya rumit dan berisik. Karena itu, para diakon menyarankan untuk memindahkan tempat ibadah ini. Beberapa orang mengatakan bahwa pindah semakin jauh, semakin baik. Apa pendapat anda?


Renungan pemahaman kitab Wahyu (klik untuk membuka)

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain (klik untuk membuka)


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Wahyu 10-22 ditulis oleh 吳慧儀 (Wú Huì Yí) yang dipublikasi pada bulan September 2019, merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Iklan yang ada bukan milik blog ini, tetapi milik WordPress penyedia fasilitas blog tanpa biaya.

Zakaria 9:9-12

25 Mar 2018 – Minggu setelah Passion (Minggu Palma)

Rajamu Datang kepadamu: Rendah Hati dan Mengendarai Seekor Keledai

(Zakaria 9:9-12)
9 Bersorak-soraklah dengan nyaring, hai puteri Sion, bersorak-sorailah, hai puteri Yerusalem!
Lihat, rajamu datang kepadamu; ia adil dan jaya. Ia lemah lembut dan mengendarai seekor keledai, seekor keledai beban yang muda.
10 Ia akan melenyapkan kereta-kereta dari Efraim dan kuda-kuda dari Yerusalem; busur perang akan dilenyapkan, dan ia akan memberitakan damai kepada bangsa-bangsa. Wilayah kekuasaannya akan terbentang dari laut sampai ke laut dan dari sungai Efrat sampai ke ujung-ujung bumi.

11 Mengenai engkau, oleh karena darah perjanjian-Ku dengan engkau, Aku akan melepaskan orang-orang tahananmu dari lobang yang tidak berair.
12 Kembalilah ke kota bentengmu, hai orang tahanan yang penuh harapan! Pada hari ini juga Aku memberitahukan: Aku akan memberi ganti kepadamu dua kali lipat!

Renungan
Pada saat kita membaca perikop ini di awal Minggu Suci, kita akan segera memikirkan Yesus yang mengendarai anak keledai untuk memasuki kota Yerusalem. Selama festival-festival utama Yahudi, banyak orang Yahudi akan mengendarai seekor keledai ketimbang berjalan kaki menuju Kota Suci Yerusalem.

Tetapi segalanya menjadi berbeda pada saat Yesus mengendarai seekor keledai untuk memasuki Yerusalem. Karena Yesus pergi melalui seluruh kota-kota dan desa-desa Israel dan memberitakan injil dengan otoritas selama tiga tahun sebelumnya, orang-orang merasa disegarkan – pengajaran-Nya berbeda dari para pemimpin-pemimpin agama, dan apa yang mereka dengar adalah kabar baik dari Allah kebaikan dan rahmat. Ditambah lagi, Yesus menyembuhkan yang sakit, mengusir roh-roh najis, memiliki belas kasihan kepada yang dilecehkan dan tidak berdaya, tanpa rasa takut menghadapi para pemimpin agama dan penguasa yang korup dan menunjukkan bahwa mereka telah melanggar arti sesungguhnya dari kesalehan; khalayak dan murid-murid-Nya semua berpikir bahwa Yesus memenuhi nubuat-nubutan akan kedatangan sang Mesias.

Namun Mesias ini datang bukan sebagai seorang prajurit pahlawan dan perkasa, namun Yesus Dia yang rendah hati dan terkenal di seluruh Israel. Ia datang tidak hanya sebagai perantara dari perjanjian antara Allah dan manusia, tetapi juga sebagai bukti kebenaran perjanjian manusia dan Allah melalui pengorbanan hidup-Nya dan darah-Nya.

Doa
Tuhan, Engkau menderita cambukan dan penyaliban di atas salib bagi kami. Sekali lagi, contoh-Mu akan pengorbanan membangunkan dan menyentuh kami, membangkitkan perasaan syukur kami untuk menghargai keselamatan yang telah kami terima. Kiranya Engkau membantu kami agar tidak terpengaruh ketika kami diejek atau bahkan menderita penganiayaan ketika membagikan injil. Bantu kami menjadi peniru Engkau dan mengikuti-Mu sampai akhirnya.

Tindakan
1. Ambil tindakan untuk membantu seseorang yang membutuhkan, entah ia adalah orang yang engkau kenal atau orang asing.
2. Tunjukkan rasa hormat dan syukur anda kepada staf yang sedang melakukan pekerjaan sepele.

Bishop Dr. Chong Chin Chung
The Methodist Church in Singapore

Copyright The Bible Society of Singapore

(Diterjemahkan oleh WMC)