Yesaya 42:1-9

26 Mar 2018 – Senin Minggu Suci

Lihatlah Hamba-Ku… Pilihan-Ku

(Yesaya 42:1-9)
1 Lihat, itu hamba-Ku yang Kupegang, orang pilihan-Ku, yang kepadanya Aku berkenan. Aku telah menaruh Roh-Ku ke atasnya, supaya ia menyatakan hukum kepada bangsa-bangsa.
2 Ia tidak akan berteriak atau menyaringkan suara atau memperdengarkan suaranya di jalan.
3 Buluh yang patah terkulai tidak akan diputuskannya, dan sumbu yang pudar nyalanya tidak akan dipadamkannya, tetapi dengan setia ia akan menyatakan hukum.
4 Ia sendiri tidak akan menjadi pudar dan tidak akan patah terkulai, sampai ia menegakkan hukum di bumi; segala pulau mengharapkan pengajarannya.

5 Beginilah firman Allah, TUHAN, yang menciptakan langit dan membentangkannya, yang menghamparkan bumi dengan segala yang tumbuh di atasnya, yang memberikan nafas kepada umat manusia yang mendudukinya dan nyawa kepada mereka yang hidup di atasnya:
6 “Aku ini, TUHAN, telah memanggil engkau untuk maksud penyelamatan, telah memegang tanganmu; Aku telah membentuk engkau dan memberi engkau menjadi perjanjian bagi umat manusia, menjadi terang untuk bangsa-bangsa,
7 untuk membuka mata yang buta, untuk mengeluarkan orang hukuman dari tempat tahanan dan mengeluarkan orang-orang yang duduk dalam gelap dari rumah penjara.
8 Aku ini TUHAN, itulah nama-Ku; Aku tidak akan memberikan kemuliaan-Ku kepada yang lain atau kemasyhuran-Ku kepada patung.
9 Nubuat-nubuat yang dahulu sekarang sudah menjadi kenyataan, hal-hal yang baru hendak Kuberitahukan. Sebelum hal-hal itu muncul, Aku mengabarkannya kepadamu.”

Renungan
Salah satu ide kunci yang ditampilkan di dalam nubuatan-nubuatan Yesaya adalah pekerjaan dari Hamba yang terpilih oleh Tuhan Allah yang Maha Kuasa. Di dalam perikop ini, sang Hamba yang terpilih dipresentasikan sebagai seseorang yang menyelesaikan rencana Tuhan Allah yang Maha Kuasa dengan membawa harapan dan terang kepada yang tertindas dan tertekan.

Membaca kata-kata pembuka dari teks, kita memperhatikan bahwa salah satu aspek kritis dari pekerjaan sang Hamba adalah membawa keadilan kepada bangsa-bangsa. Sang Hamba adalah setia, tanpa henti, dan tegas di dalam pekerjaan-Nya membawa keadilan bagi bangsa-bangsa (v 3b-4). Ditambah lagi, dia membawa bersama dirinya kelembutan kepada mereka yang lemah, lelah dan tak berdaya oleh gelombang ketidakadilan yang berulang-ulang yang mereka jumpai dalam kehidupan (v 3a).

Sebagaimana kita merefleksikan aspek ini dari pekerjaan sang Hamba, kita mengajukan pertanyaan, “Apa yang dapat dipelajari oleh gereja di Singapura dari misi Hamba Tuhan ini?” Karena teks tersebut menggambarkan sang Hamba sebagai seorang agen keadilan yang bekerja tanpa lelah untuk menegakkan keadilan di bangsa-bangsa, sebuah kesimpulan yang dapat kita buat adalah bahwa Tuhan gusar oleh adanya ketidakdilan.

Di tahun-tahun belakangan, saya telah menghabiskan waktu dan energi yang cukup banyak untuk mengajar dan meneliti pengalaman dari migran-migran di Singapura yang dibayar dengan murah. Saya telah membaca buku-buku, berbicara dengan orang-orang di lapangan yang melayani para pekerja pendatang, dan menjadi teman dari pekerja pendatang tersebut. Kesimpulan saya adalah bahwa meskipun banyak yang tidak melihatnya, ketidakadilan dalam salah satu ataupun bentuk yang lain adalah nyata dan merupakan pengalaman yang dialami oleh pekerja pendatang secara teratur. Entah apakah ketidakadilan tersebut dijumpai sebelum, selama ataupun setelah mereka di Singapura, adalah hal yang cukup mengkuatirkan yang memerlukan tanggapan dari komunitas Kristen.

Dengan penuh syukur, orang-orang Kristen telah terlibat di dalam pekerjaan melayani dan mencari keadilan bagi baik pekerja-pekerja asing pria maupun wanita di tengah kita. Namun partisipasi aktif dari orang Kristen butuh untuk ditingkatkan sebagaimana kita mempertimbangkan aspek kritis dari spiritualitas, identitas dan tanggung jawab kekristenan kita.

Sang Hamba membayar harga yang besar karena ia berkomitmen pada tugas misi untuk mengejar keadilan. Sebagai pengikut-Nya, kiranya kita tidak mencari cara mudah untuk menghindar, mengacuhkan atau membuat hati kita kebal dari ketidakadilan yang kita temukan pada orang-orang asing yang bergaji rendah di tengah-tengah kita.

Doa
Tuhan, Engkau datang untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang. Bantulah kami untuk menjadi seperti-Mu untuk mencari dan melayani yang hilang, yang kesepian, yang terakhir, yang terkecil, dan yang ditinggalkan di tengah-tengah kita.
Tindakan
Ambilah waktu untuk menemukan ketidakadilan dalam cara-cara berbeda yang dihadapi oleh pria dan wanita migran bergaji rendah yang dialami sebelum, selama dan setelah waktu mereka di Singapura.

Dr. Calvin Chong
Associate Professor in Educational Studies
Singapore Bible College

Copyright The Bible Society of Singapore

(Diterjemahkan oleh WMC)