Tag Archives: Kitab Ayub

Ayub 17:6-16

24 Maret 2018 – Hari Sabtu Minggu kelima, Pra Paskah

Ia menjadikan aku sindiran di antara bangsa-bangsa

(Ayub 17:6-16)
6Aku telah dijadikan sindiran di antara bangsa-bangsa, dan aku menjadi orang yang diludahi mukanya. 7 Mataku menjadi kabur karena pedih hati, segala anggota tubuhku seperti bayang-bayang.

8 Orang-orang yang jujur tercengang karena hal itu, dan orang yang tidak bersalah naik pitam terhadap orang fasik.
9Meskipun begitu orang yang benar tetap pada jalannya, dan orang yang bersih tangannya bertambah-tambah kuat.
10Tetapi kamu sekalian, silakan datang kembali! Seorang yang mempunyai hikmat takkan kudapati di antara kamu!

11 Umurku telah lalu, telah gagal rencana-rencanaku, cita-citaku.
12 Malam hendak dijadikan mereka siang: terang segera muncul dari gelap, kata mereka.
13Apabila aku mengharapkan dunia orang mati sebagai rumahku, menyediakan tempat tidurku di dalam kegelapan, 14dan berkata kepada liang kubur: Engkau ayahku, kepada berenga: Ibuku dan saudara perempuanku, 15 maka di manakah harapanku? Siapakah yang melihat adanya harapan bagiku? 16 Keduanya akan tenggelam ke dasar dunia orang mati, apabila kami bersama-sama turun ke dalam debu. ”

Renungan
“Usaha yang bagus!“ adalah pujian orang tua masa kini untuk menyemangati anak-anak mereka. Sebaliknya, kitab Ayub menceritakan tentang seorang Ayub yang baik, saleh, yang mengalami kehilangan dan penderitaan yang sangat besar dan mempertanyakan Tuhan tentang penderitaannya. Bukannya pujian dan penghiburan yang dia dapatkan, tetapi malah mendapatkan kritik orang saleh dari teman-teman dekatnya, yang dia anggap “penghibur pembawa derita“ (Ayub 16:2). Ayub berteriak bahwa namanya sudah menjadi sindiran bangsa-bangsa seperti seorang pendosa terkenal yang sedang dihakimi lebih dari seorang penderita yang tak berdosa.

Di dalam kesakitannya, Ayub terombang-ambing antara keputusasaan dan harapan, dan ketika dia menghadapi kematian, dia berteriak “di mana pengharapanku? Siapa yang melihat harapanku?“(Ayat 15). Dia merindukan pemulihan nama baiknya sebelum dia meninggal dan memanggil seseorang untuk menjadi saksinya di hadapan Tuhan, seseorang yang bertindak sebagai sanak saudara yang menjadi penebus untuk membela kasusnya di surga.

Bagian dari ratapannya, Ayub merindukan pembela surgawi “Ketahuilah sekarangpun juga, Saksiku ada di sorga, Yang memberi kesaksian bagiku ada di tempat yang tinggi.“ (Ayub 16:19). Kemudian, sebagai tanggapannya atas kritikan lebih lanjut, dia mencatat bahwa dia telah ditinggalkan oleh keluarganya, teman-temannya, dan dia mengekspresikan keinginan untuk seorang sanak saudara yang menjadi penebusnya untuk mempertahankannya: “Tetapi aku tahu: Penebusku hidup, dan akhirnya Ia akan bangkit di atas debu. Juga sesudah kulit tubuhku sangat rusak, tanpa dagingkupun aku akan melihat Allah.“ (19:25-26).

Beranjak dari kitab Perjanjian Lama ke Perjanjian Baru, kita melihat bahwa harapan Ayub yang samar dan jauh digenapi di dalam Yesus. Yesuslah yang menjadi daging untuk menderita dan meninggal karena dosa-dosa kita, yang dapat simpati dengan kelemahan-kelemahan kita dan menjadi perantara kita sebagai Imam tinggi yang setia dan penuh belas kasihan di hadapan Allah. (Ibrani 2:14-18).

Dia sungguh-sungguh benar dan tidak berdosa tapi mati karena kesalahan kita, untuk membawa kita kepada Tuhan (1 Petrus 3:18). Kita dipanggil untuk mengikuti teladan-Nya akan bertahan pada penderitaan yang tidak adil dan penolakan (1 Petrus 2:21-24).

Yesus adalah Sang Penebus yang hidup yang memberikan kita hidup baru ke sebuah pengharapan yang hidup oleh kebangkitan-Nyad dari kematian (1 Petrus 1:3, 18-21) dan janji akan bertemu dengan-Nya dalam kebangkitan tubuh yang baru, di dalam ciptaan yang baru (2 Kor. 5). Ayub, seperti para nabi-nabi Perjanjian Lama tidak tahu penggenapan dari harapannya yang redup ditemukan dalam Yesus (1 Petrus 1:10-12), tapi perkataan-Nya menyemangati kita untuk meletakkan pengharapan kita sepenuhnya atas kasih karunia yang dianugerahkan kepadamu pada waktu penyataan Yesus kristus (1 Petrus 1:13). Sementara itu, saat kita menderita karena Kristus, biarlah pengalaman-pengalaman kita ini membantu kita untuk menghibur orang lain.

Doa
Terima kasih Tuhan Yesus akan kasih-Mu yang menebus kami, menderita karena dosa-dosa kami, dan teladan-Mu akan pengampunan dan ketabahan. Biarlah Roh-Mu memampukanku untuk peduli dan memberi penghiburan pada mereka yang sedang kesusahan, dan bawa mereka lebih dekat lagi kepada-Mu.

Tindakan
Semoga Tuhan membantu kita mendengar dan belajar dari firman-Nya dan Roh-Nya sehingga kita dapat mengekspresikan penghiburan-Nya yang penuh kasih kepada sesama,

Dr Ernest Chew
Advisory Elder, Bethesda (Frankel Estate) Church
Vice-President, The Bible Society of Singapore

Copyright The Bible Society of Singapore

(Diterjemahkan oleh WMC)

Ayub 42:7-17

Kembalinya Ayub dari penderitaan」

Oleh Lu Zhuo An (呂焯安)
Alliance Bible Seminary H.K.

(Ayub 42:7-17 [ITB])
7 Setelah TUHAN mengucapkan firman itu kepada Ayub, maka firman TUHAN kepada Elifas, orang Teman: Murka-Ku menyala terhadap engkau dan terhadap kedua sahabatmu, karena kamu tidak berkata benar tentang Aku seperti hamba-Ku Ayub.8 Oleh sebab itu, ambillah tujuh ekor lembu jantan dan tujuh ekor domba jantan dan pergilah kepada hamba-Ku Ayub, lalu persembahkanlah semuanya itu sebagai korban bakaran untuk dirimu, dan baiklah hamba-Ku Ayub meminta doa untuk kamu, karena hanya permintaannyalah yang akan Kuterima, supaya Aku tidak melakukan aniaya terhadap kamu, sebab kamu tidak berkata benar tentang Aku seperti hamba-Ku Ayub.
9 Maka pergilah Elifas, orang Teman, Bildad, orang Suah, dan Zofar, orang Naama, lalu mereka melakukan seperti apa yang difirmankan TUHAN kepada mereka. Dan TUHAN menerima permintaan Ayub.
10 Lalu TUHAN memulihkan keadaan Ayub, setelah ia meminta doa untuk sahabat-sahabatnya, dan TUHAN memberikan kepada Ayub dua kali lipat dari segala kepunyaannya dahulu.
11 Kemudian datanglah kepadanya semua saudaranya laki-laki dan perempuan dan semua kenalannya yang lama, dan makan bersama-sama dengan dia di rumahnya. Mereka menyatakan turut berdukacita dan menghibur dia oleh karena segala malapetaka yang telah ditimpakan TUHAN kepadanya, dan mereka masing-masing memberi dia uang satu kesita dan sebuah cincin emas.
12 TUHAN memberkati Ayub dalam hidupnya yang selanjutnya lebih dari pada dalam hidupnya yang dahulu; ia mendapat empat belas ribu ekor kambing domba, dan enam ribu unta, seribu pasang lembu, dan seribu ekor keledai betina.13 Ia juga mendapat tujuh orang anak laki-laki dan tiga orang anak perempuan;14 dan anak perempuan yang pertama diberinya nama Yemima, yang kedua Kezia dan yang ketiga Kerenhapukh.15 Di seluruh negeri tidak terdapat perempuan yang secantik anak-anak Ayub, dan mereka diberi ayahnya milik pusaka di tengah-tengah saudara-saudaranya laki-laki.
16 Sesudah itu Ayub masih hidup seratus empat puluh tahun lamanya; ia melihat anak-anaknya dan cucu-cucunya sampai keturunan yang keempat.17 Maka matilah Ayub, tua dan lanjut umur.

Ayat Kunci: baiklah hamba-Ku Ayub meminta doa untuk kamu, karena hanya permintaannyalah yang akan Kuterima, supaya Aku tidak melakukan aniaya terhadap kamu, sebab kamu tidak berkata benar tentang Aku seperti hamba-Ku Ayub (Ayub 42:8)

Akhir kitab ini sama dengan awal, penulis kitab ini yang mendapat inspirasi wahyu dari TUHAN menjelaskannya dalam gaya prosa. Dia memberi kita informasi penting tentang ketiga teman Ayub (ayat 7-9) dan tentang kekayaan Ayub di kemudian hari (ayat 10-17). Pada bagian penutupan ini, penulis sengaja tidak menyebut Iblis lagi. Dia adalah karakter utama dalam bagian pembukaan, jahat dan ingin agar Ayub mengutuk Allah. Susunan ini untuk menekankan pelajaran utama kitab ini: hubungan antara manusia dan Allah bukanlah hubungan tawar-menawar: Berapa banyak yang Anda berikan kepada aku, bagaimana aku harus memperlakukan Anda? Ini bukanlah hubungan kontrak untuk saling menguntungkan.

Dalam ayat 7-8, Allah berbicara kepada Elifas (yang juga mewakili Bildad dan Zofar). Elihu tidak disebutkan, mungkin karena dia tidak dengan cara yang salah memahami Allah, tidak seperti ketiga sahabat Ayub. Kesalahan ketiga sahabat Ayub adalah membatasi kedaulatan Allah. Dengan menegaskan bahwa Allah akan memberi pahala yang baik dan menghukum kejahatan dalam hidup ini, mereka membatasi Allah, dan dengan demikian mereka berdosa, sehingga memerlukan korban bakaran untuk memohon penghapusan dosa. Sama seperti Allah mengampuni Ayub, Ayub juga mengampuni teman-temannya (lih. Mat. 6:12) dan mendoakan mereka seperti seorang imam (lih. 1:5; Mat. 5:44). Ayub berdiri sebagai mediator antara teman-temannya dengan Allah; sebelumnya dia merasakan kebutuhan dirinya akan seorang mediator. Allah bukan saja tidak menghakimi Ayub, tetapi menerimanya karena dia memang hamba-Nya (digunakan empat kali dalam ayat 7-9) dan bukan pemberontak terhadap Allah seperti yang dituduhkan teman-temannya.

Berharga diperhatikan, bahwa Allah mulai memberkati Ayub setelah ia menjadi mediator bagi sahabat-sahabatnya (ayat 18), bukan setelah ia bertobat (42:10-17). Kesediaannya untuk mendoakan teman-temannya yang menganiaya dirinya menunjukkan perubahan nyata dalam dirinya, dari sikap yang mempertanyakan Allah menjadi menerima para penganiayanya (lihat Matius 6:15). Setelah lulus ujian, Allah melipatgandakan kekayaan Ayub (ayat 10).

MilikSebelum UjianSesudah Ujian
Domba7.00014.000
Unta3.0006.000
Lembu5001.000
Keledai betina5001.000
Anak laki-laki77
Anak perempuan33
Umur70140

Nama-nama putri Ayub (ayat 14) cocok dengan gambaran kecantikan mereka (ayat 15). Yemima, yang artinya merpati, Kezia artinya rempah-rempah, dan Kerenhapukh artinya tanduk yang indah, Ayub membuat mereka menerima milik pusaka di tengah-tengah saudara-saudaranya laki-laki adalah tindakan yang tidak biasa, mencerminkan kekayaan Ayub yang besar dan belas kasihannya yang besar.

Apakah fakta bahwa Allah memberkati Ayub membuktikan bahwa perkataan teman-teman Ayub itu benar? Apakah hubungan manusia dengan Allah benar-benar berdasarkan hukum sebab akibat? TIDAK.

Allah memberkati Ayub dalam kehidupan ini bukan karena dia baik hati dan jujur, tetapi karena anugerah Allah yang melimpah. Fondasi hubungan antara manusia dan Allah adalah anugerah Allah. Kitab Ayub tidak menyangkal bahwa Allah pada umumnya memberkati orang benar, namun dengan jelas menunjukkan bahwa ada pengecualian terhadap prinsip ini. Karena Allah berdaulat, Dia mempunyai hak untuk memperlakukan manusia sesuai dengan pilihan-Nya. Hanya Dia yang tahu alasannya. Tetapi kita bisa yakin bahwa Dia akan dengan adil dan benar memperlakukan orang.

Renungkan:
Agar bisa menjadi berkat bagi sesama, kita harus tunduk pada kedaulatan Allah. Mari kita manfaatkan kesempatan ini untuk berdoa dan memberkati seorang teman (atau anggota keluarga) setiap hari dalam hidup kita.


Renungan pemahaman Kitab Ayub

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Ayub ditulis oleh Lu Zhuo An (呂焯安) yang dipublikasi pada bulan Oktober 2015 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Ayub 40:6-42:6

Kehendak Allah tidak ada yang bisa menghambat」

Oleh Lu Zhuo An (呂焯安)
Alliance Bible Seminary H.K.

(Ayub 40:6-42:6 [ITB])
6 Maka dari dalam badai TUHAN menjawab Ayub:
7 Bersiaplah engkau sebagai laki-laki; Aku akan menanyai engkau, dan engkau memberitahu Aku.
8 Apakah engkau hendak meniadakan pengadilan-Ku, mempersalahkan Aku supaya engkau dapat membenarkan dirimu?9 Apakah lenganmu seperti lengan Allah, dan dapatkah engkau mengguntur seperti Dia?
10 Hiasilah dirimu dengan kemegahan dan keluhuran, kenakanlah keagungan dan semarak!11 Luapkanlah marahmu yang bergelora; amat-amatilah setiap orang yang congkak dan rendahkanlah dia!12 Amat-amatilah setiap orang yang congkak, tundukkanlah dia, dan hancurkanlah orang-orang fasik di tempatnya!13 Pendamlah mereka bersama-sama dalam debu, kurunglah mereka di tempat yang tersembunyi.
14 Maka Akupun akan memuji engkau, karena tangan kananmu memberi engkau kemenangan.
15 Perhatikanlah kuda Nil, yang telah Kubuat seperti juga engkau. Ia makan rumput seperti lembu.16 Perhatikanlah tenaga di pinggangnya, kekuatan pada urat-urat perutnya!17 Ia meregangkan ekornya seperti pohon aras, otot-otot pahanya berjalin-jalinan.18 Tulang-tulangnya seperti pembuluh tembaga, kerangkanya seperti batang besi.19 Dia yang pertama dibuat Allah, makhluk yang diberi-Nya bersenjatakan pedang;20 ya, bukit-bukit mengeluarkan hasil baginya, di mana binatang-binatang liar bermain-main.21 Di bawah tumbuhan teratai ia menderum, tersembunyi dalam gelagah dan paya.22 Tumbuhan-tumbuhan teratai menaungi dia dengan bayang-bayangnya, pohon-pohon gandarusa mengelilinginya.23 Sesungguhnya, biarpun sungai sangat kuat arusnya, ia tidak gentar; ia tetap tenang, biarpun sungai Yordan meluap melanda mulutnya.
24 Dapatkah orang menangkap dia dari muka, mencocok hidungnya dengan keluan?

41:1 Dapatkah engkau menarik buaya dengan kail, atau mengimpit lidahnya dengan tali?2 Dapatkah engkau mengenakan tali rotan pada hidungnya, mencocok rahangnya dengan kaitan?3 Mungkinkah ia mengajukan banyak permohonan belas kasihan kepadamu, atau berbicara dengan lemah lembut kepadamu?4 Mungkinkah ia mengikat perjanjian dengan engkau, sehingga engkau mengambil dia menjadi hamba untuk selama-lamanya?5 Dapatkah engkau bermain-main dengan dia seperti dengan burung, dan mengikat dia untuk anak-anakmu perempuan?6 Mungkinkah kawan-kawan nelayan memperdagangkan dia, atau membagi-bagikan dia di antara pedagang-pedagang?7 Dapatkah engkau menusuki kulitnya dengan serampang, dan kepalanya dengan tempuling?8 Letakkan tanganmu ke atasnya! Ingatlah pertarungannya! Engkau takkan melakukannya lagi!
9 Sesungguhnya, harapanmu hampa! Baru saja melihat dia, orang sudah terbanting.
10 Orang yang nekatpun takkan berani membangkitkan marahnya. Siapakah yang dapat bertahan di hadapan Aku?11 Siapakah yang menghadapi Aku, yang Kubiarkan tetap selamat? Apa yang ada di seluruh kolong langit, adalah kepunyaan-Ku.12 Aku tidak akan berdiam diri tentang anggota-anggota badannya, tentang keperkasaannya dan perawakannya yang tampan.
13 Siapakah dapat menyingkapkan pakaian luarnya? Baju zirahnya yang berlapis dua, siapakah dapat menembusnya?14 Siapa dapat membuka pintu moncongnya? Di sekeliling giginya ada kengerian.15 Punggungnya adalah perisai-perisai yang bersusun, terlekat rapat seperti meterai.16 Rapat hubungannya yang satu dengan yang lain, sehingga angin tidak dapat masuk;17 yang satu melekat pada yang lain, bertautan tak terceraikan lagi.
18 Bersinnya menyinarkan cahaya, matanya laksana merekahnya fajar.19 Dari dalam mulutnya keluar suluh, dan berpancaran bunga api.20 Dari dalam lubang hidungnya mengepul uap bagaikan dari dalam belanga yang mendidih dan menggelegak isinya.21 Nafasnya menyalakan bara, dan nyala api keluar dari dalam mulutnya.
22 Di dalam tengkuknya ada kekuatan; ketakutan berlompatan di hadapannya.23 Daging gelambirnya berlekatan, melekat padanya, tidak tergerak.24 Hatinya keras seperti batu, keras seperti batu kilangan bawah.
25 Bila ia bangkit, maka semua yang berkuasa menjadi gentar, menjadi bingung karena ketakutan.26 Bila ia diserang dengan pedang, ia tidak mempan, demikian juga dengan tombak, seligi atau lembing.27 Besi dirasanya seperti jerami, tembaga seperti kayu lapuk.28 Anak panah tidak dapat menghalau dia, batu umban seolah-olah berubah padanya menjadi jerami.29 Gada dianggapnya jerami dan ia menertawakan desingan lembing.
30 Pada bagian bawahnya ada tembikar yang runcing; ia membujur di atas lumpur seperti pengeretan pengirik.31 Lubuk dibuatnya berbual-bual seperti periuk, laut dijadikannya tempat memasak campuran rempah-rempah.32 Ia meninggalkan jejak yang bercahaya, sehingga samudera raya disangka orang rambut putih.
33 Tidak ada taranya di atas bumi; itulah makhluk yang tidak mengenal takut.34 Segala yang tinggi takut kepadanya; ia adalah raja atas segala binatang yang ganas.

42:1 Maka jawab Ayub kepada TUHAN:
2 Aku tahu, bahwa Engkau sanggup melakukan segala sesuatu, dan tidak ada rencana-Mu yang gagal.
3 Firman-Mu: 『Siapakah dia yang menyelubungi keputusan tanpa pengetahuan?』 Itulah sebabnya, tanpa pengertian aku telah bercerita tentang hal-hal yang sangat ajaib bagiku dan yang tidak kuketahui.
4 Firman-Mu: 『Dengarlah, maka Akulah yang akan berfirman; Aku akan menanyai engkau, supaya engkau memberitahu Aku.』
5 Hanya dari kata orang saja aku mendengar tentang Engkau, tetapi sekarang mataku sendiri memandang Engkau.
6 Oleh sebab itu aku mencabut perkataanku dan dengan menyesal aku duduk dalam debu dan abu.

Ayat Kunci: TUHAN berfirman Siapakah yang dapat bertahan di hadapan Aku? Siapakah yang menghadapi Aku, yang Kubiarkan tetap selamat? Apa yang ada di seluruh kolong langit, adalah kepunyaan-Ku (Ayub 41:10-11)

Ketika Ayub pertama kali menanggapi Allah, dia tidak mengakui dosa apa pun. Oleh karena itu, Allah berfirman lagi; Dia, bukan Ayub, merasa perlu untuk berkata-kata untuk kedua kalinya (40:6-41:34). Firman kedua hampir sama dengan firman pertama, namun terdapat juga perbedaan. Seolah berbicara untuk pertama kalinya, Allah menantang Ayub (40:6-14; lih. 38:1-3). Namun, ini bukan akhir (lih. 40:1-2 Apakah si pengecam hendak berbantah dengan Yang Mahakuasa? Hendaklah yang mencela Allah menjawab!). Ayub pernah menyatakan bahwa Allah tidak adil. Dalam menanggapi Ayub, Allah tidak membantah Ayub. Pertanyaan Allah membuat Ayub menyadari keterbatasannya sendiri. Jika dia tidak bisa menjawab pertanyaan Allah, bagaimana dia bisa memenuhi syarat untuk mengajari Allah cara mengatasi masalahnya? Ketika mengkritik Allah, Ayub meninggikan dirinya ke posisi di atas Allah. Kini Allah mengingatkan Ayub bahwa ia tidak lebih tinggi dari Allah, juga tidak setara dengan Allah (ayat 9,11-13). Jika dia lebih tinggi dari Allah atau setara dengan Allah, dia bisa saja menyelamatkan dirinya dari penderitaannya; tetapi dia tidak bisa (ayat 14). Karena Ayub lebih rendah dari Allah, dia tidak punya hak untuk mengkritik apa yang telah Allah lakukan.

Pada firman bagian pertama, Allah berbicara tentang ciptaan-Nya, baik ciptaan yang tidak bernyawa maupun biotik. Dalam firman bagian kedua, Allah meletakkan fokus pada dua binatang yang sulit: kuda nil dan buaya (kuda nil hidup di darat dan buaya hidup di air). Tujuan utama-Nya sama dengan firman bagian pertama, yaitu untuk mengingatkan Ayub bahwa hikmah dan kemampuannya sangat terbatas jika dibandingkan dengan Allah, agar Ayub dapat merendahkan diri, percaya dan taat kepada-Nya. Ayub, ketiga temannya, dan Elihu semuanya mendasarkan argumen mereka, sampai batas tertentu, pada analisis rasional atas tindakan Allah. Allah menyebut kuda nil dan buaya dalam firman-Nya, sebagian untuk mengajarkan mereka bahwa pekerjaan Allah berada di luar pemahaman manusia.

Setelah membaca dua bagian firman Allah, kita mungkin merasa bahwa Allah tidak mempunyai rasa simpati atau belas kasihan; Dia tampaknya lebih peduli untuk menegakkan kemuliaan-Nya sendiri daripada hamba-Nya yang menderita, Ayub. Namun, jangan lupa bahwa Allah bisa berbicara atau diam. Inilah yang paling dibutuhkan Ayub, dan itu juga baik baginya. Hal ini bukan hanya untuk menjawab beberapa pertanyaannya, namun untuk menyingkapkan Allah itu sendiri kepadanya. Penyingkapan firman ini mengubah kehidupan Ayub. Firman Allah mungkin terasa kasar kepada Ayub, namun Dia hanya ingin membuat Ayub paham, bukan mengejeknya. Allah ingin kita mengenal Dia lebih dalam dalam keterbatasan kita. Inilah sebabnya Dia berbicara kepada Ayub, dan itu juga mengapa Dia menyimpan kata-kata ini ditulis dalam Alkitab untuk generasi mendatang.

Tanggapan Ayub yang kedua kepada Allah (42:1-6) merefleksikan perubahan yang dihasilkan dalam dirinya melalui penyingkapan firman Allah. Tiba-tiba dia menyadari bahwa Allah mempunyai kuasa dan hikmat yang seutuh-utuhnya. Pengetahuan yang demikian menghasilkan sikap ketaatan (ayat 2). Ia sadar betapa bodoh dirinya mempertanyakan perbuatan Allah. Dengan mengutip pertanyaan Allah yang pertama kepadanya (ayat 3a; 38:2), Ayub menunjukkan bahwa ia setuju dengan apa yang Allah katakan dan mengakui bahwa itulah yang telah ia lakukan (ayat 3b). Di sisi lain, Ayub juga mengulangi perkataan Allah sebelum firman-Nya yang kedua (ayat 4; 38:3; 40:7). Allah meminta Ayub untuk menjawab Dia, dan sekarang dia menjawab Allah.

Namun situasinya berbeda dari sebelumnya. Sebelumnya, pendengaran Ayub tentang Allah dari tempat lain sangat terbatas, dan informasi yang diperoleh dari tangan kedua membuat dia melakukan tuduhan palsu terhadap Allah. Namun, kini melalui lebih banyak penyingkapan firman Allah, dia mengenal Allah dengan lebih jelas dan memperoleh pencerahan spiritual yang lebih besar (ayat 5). Dan mengetahui lebih banyak tentang Allah membuat Ayub memahami dirinya lebih baik – kini dia melihatnya dengan lebih nyata. Ayub tidak hanya mencabut tuduhannya terhadap Allah, tetapi dia juga merasa muak dengan sikap sombongnya sendiri. Sebelumnya Ayub berduka atas kehilangannya, namun kini ia menyesali dosa-dosanya. Namun, mohon perhatian khusus pada fakta Ayub mengakui bahwa penderitaannya menyebabkan dia berbuat dosa (salah memahami Allah, menuduh Allah tidak adil, dll), ia bukan mengatakan bahwa dosanya menyebabkan dia menderita. Hal ini tidak bisa disamakan.

Melalui penyingkapan firman Allah, Ayub mengalami lebih mendalam. Kini ia sudah melupakan hendak membela diri. Ia kehilangan segalanya, tetapi menemukan Allah dan merasa puas. Dia tidak lagi bertanya Mengapa? karena dia sudah mengenal Allah. Ketika kita benar-benar mengalami Allah, kita tidak perlu lagi bertanya mengapa. Ini adalah pelajaran penting dalam kitab ini. Kita semua mempunyai saat-saat ketika sesuatu yang buruk terjadi pada kita, dan kita bertanya-tanya mengapa hal itu terjadi. Namun jika kita tahu bahwa Allah masih memegang kendali, dan bahwa kuasa serta hikmat-Nya yang tak terbatas memastikan bahwa tindakan-Nya tepat, kita tidak perlu mengetahui penyebab penderitaan.

Hal ini tidak berarti bahwa kita tidak dapat mencari akar penyebab penderitaan kita. Seperti yang dikatakan oleh teman-teman Ayub, hal ini mungkin bisa jadi karena kita telah berdosa; atau seperti yang dikatakan Elihu, hal ini bisa jadi karena Allah ingin memberikan beberapa pekerjaan rumah kepada kita. Tentu saja, mungkin ada alasan yang tidak perlu kita ketahui. Ketika kita tidak dapat menentukan mengapa kita menghadapi penderitaan, kita masih dapat menemukan ketenangan dalam Allah dan terus percaya serta menaati-Nya karena kita tahu bahwa Dia mengendalikan segalanya dan merupakan Allah yang pengasih. Kita harus membantu mereka yang menderita untuk melihat hal ini. Dengan membagikan wawasan penting ini, Anda benar-benar dapat menghibur orang lain. Bukan seperti ketiga sahabat Ayub yang hanya menambah kesedihan sahabatnya.

Renungkan:
Mari merenungkan dengan teliti tanggapan Ayub ketika Allah kembali berbicara. Apakah menurut Anda dia telah benar-benar mempelajari apa yang Allah ingin dia pahami? Mengapa?


Renungan pemahaman Kitab Ayub

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Ayub ditulis oleh Lu Zhuo An (呂焯安) yang dipublikasi pada bulan Oktober 2015 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Ayub 38:39-40:5

Bagaimana manusia bisa menjawab Allah?」

Oleh Lu Zhuo An (呂焯安)
Alliance Bible Seminary H.K.

(Ayub 38:39-40:5 [ITB])
38:39 Dapatkah engkau memburu mangsa untuk singa betina, dan memuaskan selera singa-singa muda,40 kalau mereka merangkak di dalam sarangnya, mengendap di bawah semak belukar?41 Siapakah yang menyediakan mangsa bagi burung gagak, apabila anak-anaknya berkaok-kaok kepada Allah, berkeliaran karena tidak ada makanan?

39:1 Apakah engkau mengetahui waktunya kambing gunung beranak, atau mengamat-amati rusa waktu sakit beranak?2 Dapatkah engkau menghitung berapa lamanya sampai genap bulannya, dan mengetahui waktunya beranak?3 Dengan membungkukkan diri mereka melahirkan anak-anaknya, dan mengeluarkan isi kandungannya.4 Anak-anaknya menjadi kuat dan besar di padang, mereka pergi dan tidak kembali lagi kepada induknya.
5 Siapakah yang mengumbar keledai liar, atau siapakah yang membuka tali tambatan keledai jalang?6 Kepadanya telah Kuberikan tanah dataran sebagai tempat kediamannya dan padang masin sebagai tempat tinggalnya.7 Ia menertawakan keramaian kota, tidak mendengarkan teriak si penggiring;8 ia menjelajah gunung-gunung padang rumputnya, dan mencari apa saja yang hijau.
9 Apakah lembu hutan mau takluk kepadamu, atau bermalam dekat palunganmu?10 Dapatkah engkau memaksa lembu hutan mengikuti alur bajak dengan keluan, atau apakah ia akan menyisir tanah lembah mengikuti engkau?
11 Percayakah engkau kepadanya, karena kekuatannya sangat besar? Atau kauserahkankah kepadanya pekerjaanmu yang berat?12 Apakah engkau menaruh kepercayaan kepadanya, bahwa ia akan membawa pulang hasil tanahmu, dan mengumpulkannya di tempat pengirikanmu?
13 Dengan riang sayap burung unta berkepak-kepak, tetapi apakah kepak dan bulu itu menaruh kasih sayang?14 Sebab telurnya ditinggalkannya di tanah, dan dibiarkannya menjadi panas di dalam pasir,15 tetapi lupa, bahwa telur itu dapat terpijak kaki, dan diinjak-injak oleh binatang-binatang liar.16 Ia memperlakukan anak-anaknya dengan keras seolah-olah bukan anaknya sendiri; ia tidak peduli, kalau jerih payahnya sia-sia,17 karena Allah tidak memberikannya hikmat, dan tidak membagikan pengertian kepadanya.18 Apabila ia dengan megah mengepakkan sayapnya, maka ia menertawakan kuda dan penunggangnya.
19 Engkaukah yang memberi tenaga kepada kuda? Engkaukah yang mengenakan surai pada tengkuknya?20 Engkaukah yang membuat dia melompat seperti belalang? Ringkiknya yang dahsyat mengerikan.21 Ia menggaruk tanah lembah dengan gembira, dengan kekuatan ia maju menghadapi senjata.22 Kedahsyatan ditertawakannya, ia tidak pernah kecut hati, dan ia pantang mundur menghadapi pedang.23 Di atas dia tabung panah gemerencing, tombak dan lembing gemerlapan;24 dengan garang dan galak dilulurnya tanah, dan ia meronta-ronta kalau kedengaran bunyi sangkakala;25 ia meringkik setiap kali sangkakala ditiup; dan dari jauh sudah diciumnya perang, gertak para panglima dan pekik.
26 Oleh pengertianmukah burung elang terbang, mengembangkan sayapnya menuju ke selatan?27 Atas perintahmukah rajawali terbang membubung, dan membuat sarangnya di tempat yang tinggi?28 Ia diam dan bersarang di bukit batu, di puncak bukit batu dan di gunung yang sulit didatangi.29 Dari sana ia mengintai mencari mangsa, dari jauh matanya mengamat-amati;30 anak-anaknya menghirup darah, dan di mana ada yang tewas, di situlah dia.

40:1 Maka jawab TUHAN kepada Ayub:
2 Apakah si pengecam hendak berbantah dengan Yang Mahakuasa? Hendaklah yang mencela Allah menjawab!
3 Maka jawab Ayub kepada TUHAN:4 Sesungguhnya, aku ini terlalu hina; jawab apakah yang dapat kuberikan kepada-Mu? Mulutku kututup dengan tangan.5 Satu kali aku berbicara, tetapi tidak akan kuulangi; bahkan dua kali, tetapi tidak akan kulanjutkan.

Ayat Kunci: Apakah si pengecam hendak berbantah dengan Yang Mahakuasa? (Ayub 40:2)

Perikop hari ini melanjutkan pertanyaan kemarin dan merupakan pertanyaan Allah kepada Ayub (38:4-39:30). Pada bagian perikop kemarin, pertanyaan Allah kepada Ayub mencakup kosmologi, ekologi kelautan, meteorologi, dan astrologi. Pada bagian Alkitab hari ini, Allah beralih berbicara tentang dunia binatang (38:39-39:30), disebutkan enam jenis binatang dan empat jenis burung, salah satunya telah dipelihara oleh manusia pada zaman Ayub, yang mana adalah kudanya. Hewan dan burung tersebut antara lain yang ganas dan kejam, yang lemah dan tidak berdaya, yang pemalu, yang kuat, yang aneh dan yang liar. Mereka mencerminkan kejeniusan kreatif dan ketelitian Allah. Keberadaan dunia hewan masih menjadi misteri dan tidak ada semata-mata untuk memenuhi kebutuhan manusia. Manusia tidak dapat menjelaskan mengapa hewan hidup seperti ini. Hanya Allah yang sepenuhnya memahami misteri ini.

Pertanyaan Allah kepada Ayub terutama membuat dia memahami bahwa meskipun manusia mengamati dengan cermat ciri-ciri kehidupan dan perilaku masing-masing hewan, mereka tetap tidak dapat sepenuhnya memahaminya. Saat ini, dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, situasinya serupa. Semua hewan adalah unik, dan Allah mengizinkan mereka berperilaku seperti ini. Alasannya di luar pengetahuan Ayub. Demikian pula, alasan mengapa Allah mengizinkan setiap orang mengalami hal-hal yang berbeda bukanlah sesuatu yang dapat diketahui oleh manusia. Hanya Allah yang memiliki cukup kuasa dan hikmat untuk melakukan hal-hal tersebut.

Dalam firman Allah yang pertama, awal dan akhir merupakan sebuah tantangan (40:1-2). Dalam kehidupannya yang saleh dan jujur, Ayub dengan kesalehannya mengalami penderitaan yang diizinkan Allah, sehingga ia mengira itu adalah kesalahan Allah. Ayub pernah berkata bahwa ia ingin menghadap Allah di pengadilan, menunjukkan ketidakadilan Allah, dan mendengar jawaban-Nya (13:3,15). Namun Allah mengungkapkan kuasa dan hikmat-Nya kepada Ayub melalui misteri penciptaan, dan bertanya kepada Ayub apakah dia masih ingin berkonfrontasi debat dengan Allah.

Ayat 40:3-5 adalah respons pertama Ayub kepada Allah. Sebelumnya (9:14), Ayub ragu untuk mempertanyakan Allah. Namun lambat laun, ia menjadi lebih percaya diri dan meminta untuk berbicara dengan Allah (13:22a). Kemudian, Ayub melangkah lebih jauh dan mengatakan bahwa ia ingin masuk ke hadapan Allah seperti seorang pangeran (31:37). Namun, setelah menyadari ketidakmampuan dirinya sebagai manusia (40:4), ia tampak terdiam (40:5) dan berserah diri di hadapan Allah. Ia merasa tidak perlu berkata apa-apa lagi karena ia sudah mengatakannya berkali-kali sebelumnya (Lihat 33:14 「Karena Allah berfirman dengan satu dua cara, tetapi orang tidak memperhatikannya.」).

Renungkan:
Bagaimana Anda memahami diri Anda sendiri ketika menghadapi serangkaian pertanyaan yang Allah ajukan? Apa tanggapan pertama Ayub terhadap Allah yang menginspirasi Anda?


Renungan pemahaman Kitab Ayub

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Ayub ditulis oleh Lu Zhuo An (呂焯安) yang dipublikasi pada bulan Oktober 2015 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Ayub 38:1-38

Nyatakanlah, kalau engkau tahu semuanya itu」

Oleh Lu Zhuo An (呂焯安)
Alliance Bible Seminary H.K.

(Ayub 38:1-38 [ITB])
1 Maka dari dalam badai TUHAN menjawab Ayub:
2 Siapakah dia yang menggelapkan keputusan dengan perkataan-perkataan yang tidak berpengetahuan?
3 Bersiaplah engkau sebagai laki-laki! Aku akan menanyai engkau, supaya engkau memberitahu Aku.
4 Di manakah engkau, ketika Aku meletakkan dasar bumi? Ceritakanlah, kalau engkau mempunyai pengertian!5 Siapakah yang telah menetapkan ukurannya? Bukankah engkau mengetahuinya? Atau siapakah yang telah merentangkan tali pengukur padanya?
6 Atas apakah sendi-sendinya dilantak, dan siapakah yang memasang batu penjurunya7 pada waktu bintang-bintang fajar bersorak-sorak bersama-sama, dan semua anak Allah bersorak-sorai?
8 Siapa telah membendung laut dengan pintu, ketika membual ke luar dari dalam rahim?9 ketika Aku membuat awan menjadi pakaiannya dan kekelaman menjadi kain bedungnya;10 ketika Aku menetapkan batasnya, dan memasang palang dan pintu;11 ketika Aku berfirman: Sampai di sini boleh engkau datang, jangan lewat, di sinilah gelombang-gelombangmu yang congkak akan dihentikan!
12 Pernahkah dalam hidupmu engkau menyuruh datang dinihari atau fajar kautunjukkan tempatnya13 untuk memegang ujung-ujung bumi, sehingga orang-orang fasik dikebaskan dari padanya?
14 Bumi itu berubah seperti tanah liat yang dimeteraikan, segala sesuatu berwarna seperti kain.
15 Orang-orang fasik dirampas terangnya, dan dipatahkan lengan yang diacungkan.
16 Engkaukah yang turun sampai ke sumber laut, atau berjalan-jalan melalui dasar samudera raya?17 Apakah pintu gerbang maut tersingkap bagimu, atau pernahkah engkau melihat pintu gerbang kelam pekat?
18 Apakah engkau mengerti luasnya bumi? Nyatakanlah, kalau engkau tahu semuanya itu.
19 Di manakah jalan ke tempat kediaman terang, dan di manakah tempat tinggal kegelapan,20 sehingga engkau dapat mengantarnya ke daerahnya, dan mengetahui jalan-jalan ke rumahnya?
21 Tentu engkau mengenalnya, karena ketika itu engkau telah lahir, dan jumlah hari-harimu telah banyak!
22 Apakah engkau telah masuk sampai ke perbendaharaan salju, atau melihat perbendaharaan hujan batu,23 yang Kusimpan untuk masa kesesakan, untuk waktu pertempuran dan peperangan?
24 Di manakah jalan ke tempat terang berpencar, ke tempat angin timur bertebar ke atas bumi?
25 Siapakah yang menggali saluran bagi hujan deras dan jalan bagi kilat guruh,26 untuk memberi hujan ke atas tanah di mana tidak ada orang, ke atas padang tandus yang tidak didiami manusia;27 untuk mengenyangkan gurun dan belantara, dan menumbuhkan pucuk-pucuk rumput muda?28 Apakah hujan itu berayah? Atau siapakah yang menyebabkan lahirnya titik air embun?29 Dari dalam kandungan siapakah keluar air beku, dan embun beku di langit, siapakah yang melahirkannya?30 Air membeku seperti batu, dan permukaan samudera raya mengeras.
31 Dapatkah engkau memberkas ikatan bintang Kartika, dan membuka belenggu bintang Belantik?32 Dapatkah engkau menerbitkan Mintakulburuj pada waktunya, dan memimpin bintang Biduk dengan pengiring-pengiringnya?
33 Apakah engkau mengetahui hukum-hukum bagi langit? atau menetapkan pemerintahannya di atas bumi?
34 Dapatkah engkau menyaringkan suaramu sampai ke awan-awan, sehingga banjir meliputi engkau?
35 Dapatkah engkau melepaskan kilat, sehingga sabung-menyabung, sambil berkata kepadamu: Ya?
36 Siapa menaruh hikmat dalam awan-awan atau siapa memberikan pengertian kepada gumpalan mendung?
37 Siapa dapat menghitung awan dengan hikmat, dan siapa dapat mencurahkan tempayan-tempayan langit,38 ketika debu membeku menjadi logam tuangan, dan gumpalan tanah berlekat-lekatan?

Ayat Kunci: (TUHAN berfirman) Siapakah dia yang menggelapkan keputusan dengan perkataan-perkataan yang tidak berpengetahuan? (Ayub 38:2)

Pasal 38 hingga 42 bisa dikatakan sebagai klimaks dari kitab ini, yang mencatat percakapan antara Allah dan Ayub. Di sinilah firman Allah yang paling panjang tercatat dalam seluruh wahyu Alkitab. Semua gambaran lainnya tentang Sang Pencipta, atau kisah tentang keagungan Sang Pencipta, tidak dapat menandingi keajaiban dan misteri dalam perkataan Allah yang dicatat di perikop ini. Ayat-ayat hari ini adalah bagian pertama dari firman Allah yang pertama. Pada akhirnya, Allah berbicara kepada Ayub dan memberinya wahyu yang telah ia rindukan (lihat 13:22; 31:35). Mediator yang diminta Ayub (lih. 9:33; 16:19) tidak lagi dibutuhkan. TUHAN Yahweh berbicara langsung kepadanya, dan Ayub mempunyai kesempatan untuk merespons langsung kepada Allah.

Apa yang Allah katakan kepada Ayub dan apa yang tidak Dia katakan sama mengejutkan dia. Ia tidak menyebutkan penderitaan Ayub, tidak menjelaskan masalah dosa, dan tidak membela ketidakadilan yang diajukan oleh Ayub. Allah hanya menyatakan diri-Nya kepada Ayub dan teman-temannya dalam tingkat yang lebih besar daripada yang pernah mereka ketahui sebelumnya, dan penyingkapan wahyu yang lebih besar ini memecahkan masalah mereka. Dalam firman-Nya ini, Allah tidak berdiri sebagai terdakwa, yang ingin membela diri terhadap tuduhan Ayub; sebaliknya, Dialah yang mendakwa, yang mempertanyakan Ayub yang menjadi terdakwa. Dia mengajukan lebih dari tujuh puluh pertanyaan yang tidak dapat dijawab Ayub untuk membuktikan ketidaktahuan dan ketidakmampuannya. Karena Ayub tidak mengerti dan tidak bisa menentukan tindakan Allah di alam semesta, dia tentu saja tidak bisa mengerti atau mengendalikan cara Allah berurusan dengan manusia.

Ayat 38:1-3 adalah tantangan Allah terhadap Ayub. Allah memulai firman-Nya dengan sebuah tantangan, sebuah tantangan terhadap kebijaksanaan manusia, seperti yang dilakukan oleh lima orang yang berdebat. Dia mempertanyakan Ayub yang telah menggunakan kata-kata yang tidak benar sehingga telah mengaburkan kebenaran-Nya. Karena Ayub mengaku sebagai sahabat Allah, hendaknya ia menjunjung kebenaran dan keadilan Allah, bukan mengingkarinya. Namun, dia melakukan kesalahan karena kurangnya wahyu! Demikian pula, setiap orang beriman tidak boleh menghakimi hal-hal yang berkaitan dengan kehidupan orang lain, dengan asumsi bahwa mereka mengetahui kehendak Allah. Karena kita semua mempunyai keterbatasan, kita tidak dapat memahami semua alasan mengapa Allah melakukan sesuatu. Allah kemudian meminta Ayub bersiap menghadapi pertanyaan yang sulit: menjelaskan tindakan-Nya di alam semesta. Jika Allah melakukan sesuatu yang salah, Ayub pasti tahu apa yang benar.

Perikop 38:4-39:30 adalah pertanyaan Allah kepada Ayub. Seperti sahabat Ayub, Allah mengawalinya dengan menghancurkan kesombongan Ayub. Apa yang tidak dapat dilakukan oleh sahabat Ayub, Allah dapat melakukannya. Allah memberi Ayub ujian lisan, yang merupakan ujian ilmiah; yang mencakup topik-topik seperti kosmologi alam semesta, ekologi kelautan, meteorologi, astrologi, dan zoologi. Allah memulai dengan berbicara tentang asal mula bumi (38:4-7). Ketika bumi diciptakan, Ayub tidak ada di sana. Oleh karena itu, dia dapat dikatakan tidak tahu apa-apa tentang bumi. Allah menciptakan bumi, jadi Dia harus mempunyai kuasa untuk mengaturnya.

Anak-anak Allah dalam ayat 7 dengan jelas merujuk pada malaikat (lih. 1:6; Mazmur 148:2-3). Bintang pagi dapat merujuk pada bintang yang diciptakan Allah sebelum bumi diciptakan. Namun untuk memahami dari struktur puisi yang seimbang, bintang pagi juga harus merujuk pada malaikat, seperti halnya anak Allah. Allah kemudian bertanya tentang asal usul lautan (38:8-11). Jelas sekali Ayub tidak ikut serta dalam karya ciptaan Allah yang besar, sehingga ia tentu saja tidak dapat menjawab pertanyaan Allah. Ayub tidak mempunyai kemampuan atau pengalaman membuat matahari terbit di timur atau terbenam di barat, apalagi memelihara bumi (38:12-15). Ayat 13 orang-orang fasik dikebaskan dari padanya adalah karena mereka menyukai kegelapan, saat matahari terbit dan bersinar akan menghasilkan efek seperti itu (lihat Yohanes 3:19). Allah menggunakan matahari terbit untuk mengusir kegelapan dan mencegah orang jahat berhasil dalam rencananya.

Demikian pula, Ayub sama sekali tidak mengetahui jurang maut, gerbang maut, luasnya bumi, dll. (38:16-21), tidak ada satu pun yang pernah ia lihat. Ayub tidak tahu ke mana perginya matahari setelah terbenam, atau ke mana datangnya kegelapan antara matahari terbenam dan matahari terbit. Pertanyaan lain yang Allah ingin tanyakan pada Ayub (38:22-30), kata terang berpencar dalam ayat 24 diyakini mengacu pada kilat. Ayat 25 saluran bagi hujan deras mengacu pada saluran-saluran yang melaluinya air hujan jatuh ke bumi. Dalam 38:31-38, TUHAN sekali lagi menggunakan misteri langit untuk semakin mendorong Ayub menyadari ketidaktahuan dan ketidakmampuan dirinya.

Renungkan:
Bagaimana Anda memahami diri Anda sendiri ketika menghadapi serangkaian pertanyaan yang Allah ajukan? Tuliskanlah langkah pertama yang dapat membantu seseorang merendahkan diri di hadapan Allah adalah ______________________________.


Renungan pemahaman Kitab Ayub

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Ayub ditulis oleh Lu Zhuo An (呂焯安) yang dipublikasi pada bulan Oktober 2015 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Ayub 36:1-37:24

Allah itu maha besar, kita tidak bisa mengetahui segalanya」

Oleh Lu Zhuo An (呂焯安)
Alliance Bible Seminary H.K.

(Ayub 36:1-37:24 [ITB])
36:1 Berkatalah Elihu selanjutnya:
2 Bersabarlah sebentar, aku akan mengajar engkau, karena masih ada yang hendak kukatakan demi Allah.
3 Aku akan meraih pengetahuanku dari jauh dan membenarkan Pembuatku;4 karena sungguh-sungguh, bukan dusta perkataanku, seorang yang sempurna pengetahuannya menghadapi engkau.
5 Ketahuilah, Allah itu perkasa, namun tidak memandang hina apapun, Ia perkasa dalam kekuatan akal budi.
6 Ia tidak membiarkan orang fasik hidup, tetapi memberi keadilan kepada orang-orang sengsara;7 Ia tidak mengalihkan pandangan mata-Nya dari orang benar, tetapi menempatkan mereka untuk selama-lamanya di samping raja-raja di atas takhta, sehingga mereka tinggi martabatnya.
8 Jikalau mereka dibelenggu dengan rantai, tertangkap dalam tali kesengsaraan,9 maka Ia memperingatkan mereka kepada perbuatan mereka, dan kepada pelanggaran mereka, karena mereka berlaku congkak,10 dan ia membukakan telinga mereka bagi ajaran, dan menyuruh mereka berbalik dari kejahatan.
11 Jikalau mereka mendengar dan takluk, maka mereka hidup mujur sampai akhir hari-hari mereka dan senang sampai akhir tahun-tahun mereka.
12 Tetapi, jikalau mereka tidak mendengar, maka mereka akan mati oleh lembing, dan binasa dalam kebebalan.
13 Orang-orang yang fasik hatinya menyimpan kemarahan; mereka tidak berteriak minta tolong, kalau mereka dibelenggu-Nya;14 nyawa mereka binasa di masa muda, dan hidup mereka berakhir sebelum saatnya.
15 Dengan sengsara Ia menyelamatkan orang sengsara, dengan penindasan Ia membuka telinga mereka.
16 Juga engkau dibujuk-Nya keluar dari dalam kesesakan, ke tempat yang luas, bebas dari tekanan, ke meja hidanganmu yang tenang dan penuh lemak.
17 Tetapi engkau sudah mendapat hukuman orang fasik sepenuhnya, engkau dicengkeram hukuman dan keadilan;18 janganlah panas hati membujuk engkau berolok-olok, janganlah besarnya tebusan menyesatkan engkau.
19 Dapatkah teriakanmu meluputkan engkau dari kesesakan, ataukah seluruh kekuatan jerih payahmu?
20 Janganlah merindukan malam hari, waktu bangsa-bangsa pergi dari tempatnya.
21 Jagalah dirimu, janganlah berpaling kepada kejahatan, karena itulah sebabnya engkau dicobai oleh sengsara.

22 Sesungguhnya, Allah itu mulia di dalam kekuasaan-Nya; siapakah guru seperti Dia?
23 Siapakah akan menentukan jalan bagi-Nya, dan siapa berani berkata: 『Engkau telah berbuat curang?』
24 Ingatlah, bahwa engkau harus menjunjung tinggi perbuatan-Nya, yang selalu dinyanyikan oleh manusia.
25 Semua orang melihatnya, manusia memandangnya dari jauh.

26 Sesungguhnya, Allah itu besar, tidak tercapai oleh pengetahuan kita, jumlah tahun-Nya tidak dapat diselidiki.
27 Ia menarik ke atas titik-titik air, dan memekatkan kabut menjadi hujan,28 yang dicurahkan oleh mendung, dan disiramkan ke atas banyak manusia.
29 Siapa mengerti berkembangnya awan, dan bunyi gemuruh di tempat kediaman-Nya?

30 Sesungguhnya, Ia mengembangkan terang-Nya di sekeliling-Nya, dan menudungi dasar laut.
31 Karena dengan semuanya itu Ia mengadili bangsa-bangsa, dan juga memberi makan dengan berlimpah-limpah.
32 Kedua tangan-Nya diselubungi-Nya dengan kilat petir dan menyuruhnya menyambar sasaran.
33 Pekik perang-Nya memberitakan kedatangan-Nya, kalau dengan murka Ia berjuang melawan kecurangan.

37:1 Sungguh, oleh karena itu hatiku berdebar-debar dan melonjak dari tempatnya.
2 Dengar, dengarlah gegap gempita suara-Nya, guruh yang keluar dari dalam mulut-Nya.
3 Ia melepaskannya ke seluruh kolong langit, dan juga kilat petir-Nya ke ujung-ujung bumi.
4 Kemudian suara-Nya menderu, Ia mengguntur dengan suara-Nya yang megah; Ia tidak menahan kilat petir, bila suara-Nya kedengaran.
5 Allah mengguntur dengan suara-Nya yang mengagumkan; Ia melakukan perbuatan-perbuatan besar yang tidak tercapai oleh pengetahuan kita;6 karena kepada salju Ia berfirman: 『Jatuhlah ke bumi,』 dan kepada hujan lebat dan hujan deras: 『Jadilah deras!』
7 Tangan setiap manusia diikat-Nya dengan dibubuhi meterai, agar semua orang mengetahui perbuatan-Nya.
8 Maka binatang liar masuk ke dalam tempat persembunyiannya dan tinggal dalam sarangnya.
9 Taufan keluar dari dalam perbendaharaan, dan hawa dingin dari sebelah utara.
10 Oleh nafas Allah terjadilah es, dan permukaan air yang luas membeku.
11 Awanpun dimuati-Nya dengan air, dan awan memencarkan kilat-Nya,12 lalu kilat-Nya menyambar-nyambar ke seluruh penjuru menurut pimpinan-Nya untuk melakukan di permukaan bumi segala yang diperintahkan-Nya.
13 Ia membuatnya mencapai tujuannya, baik untuk menjadi pentung bagi isi bumi-Nya maupun untuk menyatakan kasih setia.
14 Berilah telinga kepada semuanya itu, hai Ayub, diamlah, dan perhatikanlah keajaiban-keajaiban Allah.
15 Tahukah engkau, bagaimana Allah memberi tugas kepadanya, dan menyinarkan cahaya dari awan-Nya?
16 Tahukah engkau tentang melayangnya awan-awan, tentang keajaiban-keajaiban dari Yang Mahatahu,17 hai engkau, yang pakaiannya menjadi panas, jika bumi terdiam karena panasnya angin selatan?
18 Dapatkah engkau seperti Dia menyusun awan menjadi cakrawala, keras seperti cermin tuangan?
19 Beritahukanlah kepada kami apa yang harus kami katakan kepada-Nya: tak ada yang dapat kami paparkan oleh karena kegelapan.
20 Apakah akan diberitahukan kepada-Nya, bahwa aku akan bicara? Pernahkah orang berkata, bahwa ia ingin dibinasakan?
21 Seketika terang tidak terlihat, karena digelapkan mendung; lalu angin berembus, maka bersihlah cuaca.
22 Dari sebelah utara muncul sinar keemasan; Allah diliputi oleh keagungan yang dahsyat.
23 Yang Mahakuasa, yang tidak dapat kita pahami, besar kekuasaan dan keadilan-Nya; walaupun kaya akan kebenaran Ia tidak menindasnya.
24 Itulah sebabnya Ia ditakuti orang; setiap orang yang menganggap dirinya mempunyai hikmat, tidak dihiraukan-Nya.

Ayat Kunci: Yang Mahakuasa, yang tidak dapat kita pahami, besar kekuasaan dan keadilan-Nya; walaupun kaya akan kebenaran Ia tidak menindasnya. (Ayub 37:23)

Pasal 36 sampai 37 adalah pidato Elihu yang keempat. Ayat 36:1-4 memperkenalkan pidato ini. Di sini Elihu mendesak Ayub untuk memperhatikan apa yang ia katakan. Ia menyatakan bahwa perkataannya benar dan ia sendiri berpengetahuan penuh (ayat 4). Kemudian, ia membahas Allah dari dua sudut pandang. Dalam 36:5-25, ia membahas cara Allah berurusan dengan manusia. Dalam pasal 36, Elihu empat kali berkata Ketahuilah! / Sesungguhnya (lihat ayat 5, 22, 26, 30), mengawali Elihu mengatakan sesuatu yang penting tentang Allah, kemudian dia akan mengembangkan pidatonya.

Elihu pertama-tama membuktikan bahwa Allah itu mahakuasa dan penuh belas kasihan (ayat 5-10), dan Allah menggunakan penderitaan untuk membimbing manusia. Ada dua kemungkinan tanggapan terhadap ajaran Allah: taat (ayat 11) atau tidak taat (ayat 12). Setiap respons mempunyai konsekuensi. Elihu menampilkan tanggapan-tanggapan ini dan akibat-akibatnya, pertama sebagai tanggapan dari orang-orang fasik (ayat 13-14) dan kemudian dari orang-orang saleh (ayat 15-16). Pada dasarnya orang fasik akan menolak pertolongan Allah dan akhirnya binasa (ayat 13-14). Adapun orang saleh, ketika menghadapi penderitaan, mereka akan berpaling kepada Allah, mencari petunjuk-Nya, taat kepada-Nya, belajar bertumbuh, dan pada akhirnya bertahan di hadirat Allah (ayat 15). Terakhir, Elihu menerapkan pelajaran ini kepada Ayub, memperingatkan dia untuk tidak bertindak seperti orang fasik (ayat 16-21). Dia secara khusus mengingatkan Ayub untuk tidak marah dan mengkritik Allah dengan jahat, agar semua yang dia alami tidak sia-sia.

Melalui kalimat Sesungguhnya! yang kedua (ayat 22), Elihu ingin mengenalkan dan meneguhkan bahwa Allah adalah guru yang berdaulat dan berhikmat secara supranatural (ayat 22-23), sehingga mengingatkan Ayub bahwa hendaknya ia beribadah kepada Allah, bukannya mengeluh, berkeluh kesah, dan bersungut-sungut, mengasihani dirinya sendiri (ayat 24-25). Penyembahan membantu Ayub mempelajari pelajaran yang Allah ajarkan kepadanya.

Dalam ayat 36:26-37:24, Elihu membahas metode Allah dalam menangani alam, sehingga menekankan kedaulatan dan kebenaran Allah yang disebutkan di atas. Ayat 36:27-33 mungkin menggambarkan pemandangan musim gugur, sedangkan ayat 37:1-13 menggambarkan musim dingin, dan ayat 37:17-18 menggambarkan musim panas. Ucapan Elihu yang ketiga, Sesungguhnya! (36:26) menarik perhatian manusia pada hikmat Allah yang tak terbatas. Tidak seorang pun dapat memahami sepenuhnya mengapa Dia mengatur cara kerja alam sedemikian rupa (36:29). Kalimat keempat Elihu, Sesungguhnya! (36:30) memberikan penekanan yang sama: Allah mendatangkan berkat dan kutukan melalui hujan; meskipun manusia belum sepenuhnya memahami kapan dan mengapa fenomena ini terjadi.

Melalui pengelolaan Allah atas alam, Elihu memperkenalkan kedaulatan Allah untuk diwujudkan dalam seluruh ciptaan (36:36-33). Dia terus mengembangkan ide ini di pasal tiga puluh tujuh. Dalam 37:1-13, ia mengutip lebih banyak tindakan Allah di alam yang tidak dapat kita pahami sepenuhnya (ayat 5). Kita dapat mengetahui bahwa semua ini adalah pekerjaan Allah (ayat 7) dan mempunyai tujuan yang berbeda-beda (ayat 13). Elihu kemudian berbalik dan menerapkan ajaran ini pada situasi Ayub (37:14-24). Ia mendorong Ayub untuk merendahkan diri di hadapan Allah (ayat 14-20), dengan mengetahui bahwa meskipun Allah tidak dapat ditemukan oleh manusia, Allah tetap dapat dipercaya dan diandalkan (ayat 21-23).

Dalam empat pidato di atas, Elihu mengemukakan alasan lain atas penderitaan: Allah mempunyai sesuatu untuk diajarkan kepada manusia, dan hal-hal ini hanya dapat dipahami melalui penderitaan. Melalui uraian Elihu, Ayub dapat memperoleh pemahaman yang lebih menyeluruh dan pemahaman yang lebih lengkap tentang Allah. Ini di luar jangkauan ketiga temannya. Ketiga sahabat tersebut tidak sepenuhnya memahami situasi Ayub, terutama karena mereka tidak mendapatkan penyingkapan pasal 1-2. Oleh karena itu kita harus selalu rendah hati, karena manusia selalu terbatas.

Ucapan Elihu lebih mendekati kebenaran dan mempersiapkan Allah untuk menyingkapkan diri-Nya yang lebih lengkap di pasal 38-42. Ringkasnya, sahabat Ayub menekankan aspek negatif dari Allah, sedangkan Elihu menekankan aspek positif dari karakter Allah. Elihu melihat Allah sebagai Bapa; yang lain melihat Allah sebagai Hakim. Keduanya dapat dikatakan benar, namun dalam situasi Ayub, yang pertama lebih praktis dibandingkan yang kedua.

Renungkan:
Seandainya Anda berada dalam situasi Ayub, apakah perkataan Elihu akan sampai ke telinga dan hati Anda? Marilah kita membantu orang-orang yang berada dalam kesulitan untuk berpikir tentang Allah yang melakukan keajaiban.


Renungan pemahaman Kitab Ayub

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Ayub ditulis oleh Lu Zhuo An (呂焯安) yang dipublikasi pada bulan Oktober 2015 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Ayub 34:1-35:16

「Allah,
yang membuat aku, dan yang memberi nyanyian pujian di waktu malam


Oleh Lu Zhuo An (呂焯安)
Alliance Bible Seminary H.K.

(Ayub 34:1-35:16 [ITB])
34:1 Maka berbicaralah Elihu:
2 Dengarkanlah perkataanku, kamu orang-orang yang mempunyai hikmat, berilah telinga kepadaku, kamu orang-orang yang berakal budi.3 Karena telinga itu menguji kata-kata, seperti langit-langit mencecap makanan.
4 Biarlah kita memutuskan bagi kita sendiri apa yang adil, menentukan bersama-sama apa yang baik.
5 Karena Ayub berkata: Aku benar, tetapi Allah mengambil hakku;6 kendati aku mempunyai hak aku dianggap berdusta, sekalipun aku tidak melakukan pelanggaran, lukaku tidak dapat sembuh lagi.
7 Siapakah seperti Ayub, yang minum hujatan terhadap Allah seperti air,8 yang mencari persekutuan dengan orang-orang yang melakukan kejahatan dan bergaul dengan orang-orang fasik?9 Karena ia telah berkata: 『Tidak berguna bagi manusia, kalau ia dikenan Allah.』
10 Oleh sebab itu, kamu orang-orang yang berakal budi, dengarkanlah aku: Jauhlah dari pada Allah untuk melakukan kefasikan, dan dari pada Yang Mahakuasa untuk berbuat curang.11 Malah Ia mengganjar manusia sesuai perbuatannya, dan membuat setiap orang mengalami sesuai kelakuannya.12 Sungguh, Allah tidak berlaku curang, Yang Mahakuasa tidak membengkokkan keadilan.
13 Siapa mempercayakan bumi kepada-Nya? Siapa membebankan alam semesta kepada-Nya?
14 Jikalau Ia menarik kembali Roh-Nya, dan mengembalikan nafas-Nya pada-Nya,15 maka binasalah bersama-sama segala yang hidup, dan kembalilah manusia kepada debu.
16 Jikalau engkau berakal budi, dengarkanlah ini, pasanglah telinga kepada apa yang kuucapkan.
17 Dapatkah pembenci keadilan memegang kekuasaan, dan apakah engkau mau mempersalahkan Dia yang adil dan perkasa,18 Dia yang berfirman kepada raja: 『Hai, orang dursila,』 kepada para bangsawan: 『Hai, orang fasik;』19 Dia yang tidak memihak kepada para pembesar, dan tidak mengutamakan orang yang terkemuka dari pada orang kecil, karena mereka sekalian adalah buatan tangan-Nya?20 Dalam sekejap mata mereka mati, ya, pada tengah malam orang dikejutkan dan binasa; mereka yang perkasa dilenyapkan bukan oleh tangan orang.
21 Karena mata-Nya mengawasi jalan manusia, dan Ia melihat segala langkahnya;22 tidak ada kegelapan ataupun kelam kabut, di mana orang-orang yang melakukan kejahatan dapat bersembunyi.
23 Karena bagi manusia Ia tidak menentukan waktu untuk datang menghadap Allah supaya diadili,24 orang-orang yang perkasa diremukkan-Nya dengan tidak diperiksa, dan orang-orang lain diangkat-Nya ganti mereka.
25 Jadi, Ia mengetahui perbuatan mereka, dan menggulingkan mereka di waktu malam, sehingga mereka hancur lebur.26 Mereka ditampar-Nya karena kefasikan mereka, dengan dilihat orang banyak,27 karena mereka meninggalkan-Nya, dan tidak mengindahkan satupun dari pada jalan-Nya,28 sehingga mereka menyebabkan jeritan orang miskin naik ke hadapan-Nya, dan Ia mendengar jeritan orang sengsara.
29 Kalau Dia berdiam diri, siapa akan menjatuhkan hukuman? Kalau Dia menyembunyikan wajah-Nya, siapa akan melihat Dia, baik itu sesuatu bangsa atau orang seorang?30 supaya jangan menjadi raja orang fasik yang adalah jerat bagi orang banyak.
31 Tetapi kalau seseorang berkata kepada Allah: 『Aku telah menyombongkan diri, tetapi aku tidak akan lagi berbuat jahat;32 apa yang tidak kumengerti, ajarkanlah kepadaku; jikalau aku telah berbuat curang, maka aku tidak akan berbuat lagi,』33 menurut hematmu apakah Allah harus melakukan pembalasan karena engkau yang menolak? Jadi, engkau jugalah yang harus memutuskan, bukan aku; katakanlah apa yang engkau tahu!
34 Maka orang-orang yang berakal budi dan orang yang mempunyai hikmat yang mendengarkan aku akan berkata kepadaku:35 Ayub berbicara tanpa pengetahuan, dan perkataannya tidak mengandung pengertian.
36 Ah, kiranya Ayub diuji terus-menerus, karena ia menjawab seperti orang-orang jahat!37 Karena ia menambahkan dosanya dengan pelanggaran, ia mengepalkan tangan di antara kami dan banyak bicara terhadap Allah.

35:1 Maka berbicaralah Elihu:
2 Inikah yang kauanggap adil dan yang kausebut: kebenaranku di hadapan Allah,3 kalau engkau bertanya: 『Apakah gunanya bagiku? Apakah kelebihanku bila aku berbuat dosa?』
4 Akulah yang akan memberi jawab kepadamu dan kepada sahabat-sahabatmu bersama-sama dengan engkau:5 Arahkan pandanganmu ke langit dan lihatlah, perhatikanlah awan-awan yang lebih tinggi dari padamu!
6 Jikalau engkau berbuat dosa, apa yang akan kaulakukan terhadap Dia? Kalau pelanggaranmu banyak, apa yang kaubuat terhadap Dia?7 Jikalau engkau benar, apakah yang kauberikan kepada Dia? Atau apakah yang diterima-Nya dari tanganmu?
8 Hanya orang seperti engkau yang dirugikan oleh kefasikanmu dan hanya anak manusia yang diuntungkan oleh kebenaranmu.
9 Orang menjerit oleh karena banyaknya penindasan, berteriak minta tolong oleh karena kekerasan orang-orang yang berkuasa;10 tetapi orang tidak bertanya: 『Di mana Allah, yang membuat aku, dan yang memberi nyanyian pujian di waktu malam;11 yang memberi kita akal budi melebihi binatang di bumi, dan hikmat melebihi burung di udara?』
12 Ketika itu orang menjerit, tetapi Ia tidak menjawab, oleh karena kecongkakan orang-orang jahat.13 Sungguh, teriakan yang kosong tidak didengar Allah dan tidak dihiraukan oleh Yang Mahakuasa.
14 Lebih-lebih lagi kalau engkau berkata, bahwa engkau tidak melihat Dia, bahwa perkaramu sudah diadukan kehadapan-Nya, tetapi masih juga engkau menanti-nantikan Dia!
15 Tetapi sekarang: karena murka-Nya tidak menghukum dan Ia tidak terlalu mempedulikan pelanggaran,16 maka Ayub berbesar mulut dengan sia-sia, banyak bicara tanpa pengertian.

Ayat Kunci: Jauhlah dari pada Allah untuk melakukan kefasikan, dan dari pada Yang Mahakuasa untuk berbuat curang (Ayub 34:10)

Perikop hari ini adalah pidato Elihu lagi (pasal 34) dan sekali lagi (pasal 35). Di pasal 34, Elihu ingin membantah aspek tidak adil dari tuduhan Ayub terhadap Allah. Dia mencoba menjawab pertanyaan Ayub: Mengapa Allah tidak menunjukkan belas kasihan kepadaku? Dia pertama-tama berbicara kepada ketiga temannya (kamu sekalian di ayat 10-15) dan kemudian kepada Ayub (kamu di ayat 16-27). Elihu mengingatkan ketiga temannya yang lebih tua bahwa Ayub telah menyatakan bahwa dia tidak bersalah dan tidak berbuat dosa (lihat 13:18, 23; 14:17; 23:11; 27:2,6). Kemudian, ia berdiri di sisi ketiga sahabat Ayub dan berpikir bahwa Ayub memang berdosa, dan Allah adil ketika menghukumnya.

Seperti ketiga teman Ayub, Elihu percaya bahwa Allah tidak mungkin membiarkan Ayub menderita, dalam pandangannya itu tidak adil, dan bahwa Ayub menuduh Allah tidak adil adalah tindakan yang salah (ayat 10). Elihu kemudian membahas sifat-sifat Allah untuk membuktikan bahwa Allah adalah adil dan benar (ayat 11-30). Elihu percaya bahwa Allah tidak perlu menjelaskan apa yang telah Dia lakukan terhadap manusia, termasuk Ayub (ayat 31-37; lih. Ayat 13). Dalam pidato ini, Elihu menjadi sangat galak (ayat 33, 36). Ia membuat rangkuman, beberapa dosa yang dilakukan Ayub membuatnya menderita, dan ketidaktaatan serta pemberontakan Ayub melawan Allah membuatnya semakin berdosa (ayat 37). Sebagian besar dari apa yang dikatakan Elihu dalam pasal ini adalah benar, tetapi seperti ketiga sahabat Ayub, mereka salah berasumsi bahwa Ayub berbohong dan Ayub bukan tidak bersalah. Namun, kita dapat mengetahui dari pasal 1-2 bahwa penderitaan Ayub sebenarnya bukan karena dosanya.

Dalam pasal 35, Elihu berbicara untuk ketiga kalinya. Kita dapat menggunakan tabel berikut untuk membuat daftar perbedaan antara ketiga pidato Elihu:

Pidato ElihuMenjawab Pertanyaan AyubMenyanggah Tuduhan Ayub
Pertama Kalinya (pasal 33)Mengapa Allah tidak menjawab aku?Allah tidak responsif
Kedua kalinya (pasal 34)Mengapa Allah tidak melepaskan aku?Allah tidak adil
Ketiga kalinya (pasal 35)Mengapa Allah tidak membalas perbuatan baikku dengan upah?Kekudusan juga tidak bermanfaat

Ayub percaya bahwa Allah seharusnya memberi upah atas integritasnya, bukan membuatnya menderita. Jawaban Elihu adalah: baik dosa manusia maupun kebenaran manusia tidak mempengaruhi Allah. Alasan mengapa Allah tidak menanggapi Ayub adalah karena dia sombong. Seperti sebelumnya, Elihu pertama-tama mengutip perkataan Ayub (ayat 1-3) dan kemudian membantah argumennya (ayat 4-16). Ayub pernah berkata: Karena Allah belum tentu memberi pahala kepada kebaikan dan menghukum kejahatan dalam hidup ini, kehidupan yang benar tidak ada gunanya (9:30-31; lih. 34:9; 35:3). Elihu menganggap pernyataan ini salah. Mengenai masalah Ayub yang dikemukakannya, Elihu menjawab dengan dua cara:

Pertama, ia menyatakan bahwa Allah tidak harus menanggapi tindakan manusia, entah tindakan itu baik atau jahat. Allah tinggal di dunia manusia, dan ketika Dia memilih untuk merespons manusia, Dia akan melakukannya. Ini adalah pemikiran yang diungkapkan Elifas sebelumnya (22:2-3, 12). Namun lebih lanjut Elihu menegaskan bahwa perilaku seseorang berdampak pada orang lain (ayat 4-8), sehingga menjaga kesucian itu baik. Kedua, Elihu berbicara tentang fakta bahwa Allah tidak serta merta menjawab doa orang yang tertindas dan membebaskannya (ayat 9-16; lih. 24:12; 36:13). Ia percaya bahwa sering kali doa-doa seperti itu dimotivasi oleh keegoisan atau kesombongan, bukannya belajar dari penderitaan dengan kerendahan hati. Karena Allah tidak menjawab doa-doa yang mementingkan diri, tidak mengherankan jika Ia tidak menjawab seruan Ayub yang sombong dan tidak sabar. Elihu mendorong Ayub untuk menantikan Allah dengan tenang.

Renungkan:
Bagaimana diskusi rasional dapat mencegah munculnya emosi negatif? Ketika berdiskusi secara rasional, ketika Anda menyadari bahwa emosi Anda mungkin tidak terkendali, apa yang akan Anda lakukan untuk membantu diri Anda sendiri?


Renungan pemahaman Kitab Ayub

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Ayub ditulis oleh Lu Zhuo An (呂焯安) yang dipublikasi pada bulan Oktober 2015 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Ayub 33:1-33

Allah lebih besar dari manusia」

Oleh Lu Zhuo An (呂焯安)
Alliance Bible Seminary H.K.

(Ayub 33:1-33 [ITB])
1 Akan tetapi sekarang, hai Ayub, dengarkanlah bicaraku, dan bukalah telingamu kepada segala perkataanku.2 Ketahuilah, mulutku telah kubuka, lidahku di bawah langit-langitku berbicara.3 Perkataanku keluar dari hati yang jujur, dan bibirku menyatakan dengan terang apa yang diketahui.
4 Roh Allah telah membuat aku, dan nafas Yang Mahakuasa membuat aku hidup.
5 Jikalau engkau dapat, jawablah aku, bersiaplah engkau menghadapi aku, pertahankanlah dirimu.
6 Sesungguhnya, bagi Allah aku sama dengan engkau, akupun dibentuk dari tanah liat.
7 Jadi engkau tak usah ditimpa kegentaran terhadap aku, tekananku terhadap engkau tidak akan berat.
8 Tetapi engkau telah berbicara dekat telingaku, dan ucapan-ucapanmu telah kudengar:
9 Aku bersih, aku tidak melakukan pelanggaran, aku suci, aku tidak ada kesalahan.
10 Tetapi Ia mendapat alasan terhadap aku, Ia menganggap aku sebagai musuh-Nya.
11 Ia memasukkan kakiku ke dalam pasung, Ia mengawasi segala jalanku.
12 Sesungguhnya, dalam hal itu engkau tidak benar, demikian sanggahanku kepadamu, karena Allah itu lebih dari pada manusia.
13 Mengapa engkau berbantah dengan Dia, bahwa Dia tidak menjawab segala perkataanmu?
14 Karena Allah berfirman dengan satu dua cara, tetapi orang tidak memperhatikannya.
15 Dalam mimpi, dalam penglihatan waktu malam, bila orang nyenyak tidur, bila berbaring di atas tempat tidur,16 maka Ia membuka telinga manusia dan mengejutkan mereka dengan teguran-teguran17 untuk menghalangi manusia dari pada perbuatannya, dan melenyapkan kesombongan orang,18 untuk menahan nyawanya dari pada liang kubur, dan hidupnya dari pada maut oleh lembing.
19 Dengan penderitaan ia ditegur di tempat tidurnya, dan berkobar terus-menerus bentrokan dalam tulang-tulangnya;20 perutnya bosan makanan, hilang nafsunya untuk makanan yang lezat-lezat;21 susutlah dagingnya, sehingga tidak kelihatan lagi, tulang-tulangnya, yang mula-mula tidak tampak, menonjol ke luar,22 sampai nyawanya menghampiri liang kubur, dan hidupnya mendekati mereka yang membawa maut.
23 Jikalau di sampingnya ada malaikat, penengah, satu di antara seribu, untuk menyatakan jalan yang benar kepada manusia,24 maka Ia akan mengasihaninya dengan berfirman: Lepaskan dia, supaya jangan ia turun ke liang kubur; uang tebusan telah Kuperoleh.
25 Tubuhnya mengalami kesegaran seorang pemuda, ia seperti pada masa mudanya.
26 Ia berdoa kepada Allah, dan Allah berkenan menerimanya; ia akan memandang wajah-Nya dengan bersorak-sorai, dan Allah mengembalikan kebenaran kepada manusia.
27 Ia akan bernyanyi di depan orang: Aku telah berbuat dosa, dan yang lurus telah kubengkokkan, tetapi hal itu tidak dibalaskan kepadaku.
28 Ia telah membebaskan nyawaku dari jalan ke liang kubur, dan hidupku akan melihat terang.
29 Sesungguhnya, semuanya ini dilakukan Allah dua, tiga kali terhadap manusia:30 mengembalikan nyawanya dari liang kubur, sehingga ia diterangi oleh cahaya hidup.
31 Perhatikanlah, hai Ayub, dengarkanlah aku, diamlah, akulah yang berbicara.
32 Jikalau ada yang hendak kaukatakan, jawablah aku; berkatalah, karena aku rela membenarkan engkau.
33 Jikalau tidak, hendaklah engkau mendengarkan aku; diamlah, aku hendak mengajarkan hikmat kepadamu.

Ayat Kunci: Ia telah membebaskan nyawaku dari jalan ke liang kubur, dan hidupku akan melihat terang. (Ayub 33:28)

Setelah Elihu menyatakan alasan mengapa dia ingin berbicara (32:6-22), di pasal 33, dia menyampaikan pidato pertamanya kepada Ayub. Tujuan dari keseluruhan pidatonya adalah untuk mencoba menjelaskan kepada Ayub mengapa Allah tidak menjawabnya. Elihu berkata bahwa banyak hal yang ingin dia katakan. Singkatnya, ia mengatakan kepada Ayub bahwa Allah tidak tinggal diam seperti yang dikatakan Ayub, namun Ia berbicara kepada nenek moyang melalui mimpi dan penyakit (ayat 15-16). Allah tidak menggunakan penderitaan untuk menghukum Ayub sebagai orang berdosa. Allah ingin menggunakan penderitaan untuk mencegah Ayub dari kematian, oleh karena itu, Allah sungguh berbelas kasihan kepada Ayub. Ketiga sahabat tersebut percaya bahwa tujuan penderitaan adalah hukuman, dan istri Ayub mengatakan bahwa penderitaan Ayub disebabkan oleh ketidakadilan Allah. Kini Elihu memberikan jawaban ketiga: Allah mengajar Ayub melalui penderitaan. Dia percaya bahwa tujuan penderitaan adalah untuk mengajar. (Meskipun ini bukan satu-satunya tujuan, hal ini tentunya merupakan salah satu tujuan, lihat 2 Korintus 12:19 semua ini, saudara-saudaraku yang kekasih, terjadi untuk membangun iman kamu).

Ayat 1-7 mengatakan bahwa Elihu meminta Ayub mendengarkan perkataannya, lalu Elihu terlebih dahulu merangkum apa yang Ayub katakan (ayat 8-13). Ia menjelaskan bahwa Allah menyampaikan pesan-pesan-Nya melalui mimpi, penglihatan (ayat 14-18), dan penderitaan (ayat 19-28). Ayub mendapat pengalaman wahyu dalam mimpi (7:14); Elihu percaya bahwa hal ini untuk melindungi Ayub agar tidak terjerumus ke dalam perilaku dan sikap yang salah, terutama kesombongan (ayat 17). Dalam keadaan sakit dan penderitaan, orang merasa semakin dekat dengan kematian, sehingga menyebabkan mereka mengevaluasi kembali kehidupan mereka. Jika mereka merespons dengan tepat, mereka dapat memperdalam hubungan mereka dengan Allah. Malaikat adalah utusan Allah, yang ditugaskan untuk mendatangkan penyakit dan pemulihan kepada manusia (ayat 23; lih. 5:1; 9:33). Kata tebusan di ayat 24 mungkin mengacu pada pertobatan orang yang dalam penderitaan, dan melihat terang (ayat 28) berarti kehidupan dan masih hidup. Ayat 29-33 merangkum pidato Elihu.

Perbandingan pandangan Elihu dan ketiga sahabat Ayub:

ElihuTiga sahabat Ayub
Penderitaan dapat menyebabkan kejahatanKejahatan menyebabkan penderitaan
Penderitaan memiliki fungsi pelindunganPenderitaan adalah pembalasan
Penderitaan adalah pendidikanPenderitaan adalah hukuman
Ayub perlu memperhatikan dan belajarAyub perlu bertobat
Allah memulai pemulihanPemulihan harus dimulai oleh Ayub

Siapa yang benar? Ayat-ayat Alkitab lain mengungkapkan bahwa Allah menggunakan penderitaan untuk dua tujuan: untuk menghukum orang berdosa dan untuk menghasilkan pertumbuhan rohani. Dalam beberapa kasus Dia mungkin memiliki tujuan ini, dan dalam kasus lain Dia mungkin memiliki tujuan lain. Jadi di sisi lain, perkataan Elihu dan ketiga sahabatnya ada sebagian tidak benar; Ayub bukanlah orang yang berdosa besar, dan terkadang Allah campur tangan secara langsung terhadap individu dan dalam pengalaman seseorang.

Renungkan:
Seandainya Anda berada dalam situasi Ayub, apakah perkataan Elihu akan masuk ke telinga dan hati Anda? Menurut Anda apa langkah pertama yang harus dilakukan untuk membantu berpikir seseorang yang berada dalam kesulitan?


Renungan pemahaman Kitab Ayub

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Ayub ditulis oleh Lu Zhuo An (呂焯安) yang dipublikasi pada bulan Oktober 2015 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Ayub 32:1-22

Allah lebih besar dari manusia」

Oleh Lu Zhuo An (呂焯安)
Alliance Bible Seminary H.K.

(Ayub 32:1-22 [ITB])
1 Maka ketiga orang itu menghentikan sanggahan mereka terhadap Ayub, karena ia menganggap dirinya benar.
2 Lalu marahlah Elihu bin Barakheel, orang Bus, dari kaum Ram; ia marah terhadap Ayub, karena ia menganggap dirinya lebih benar dari pada Allah,3 dan ia juga marah terhadap ketiga orang sahabat itu, karena mereka mempersalahkan Ayub, meskipun tidak dapat memberikan sanggahan.4 Elihu menangguhkan bicaranya dengan Ayub, karena mereka lebih tua dari pada dia.5 Tetapi setelah dilihatnya, bahwa mulut ketiga orang itu tidak lagi memberi sanggahan, maka marahlah ia.
6 Lalu berbicaralah Elihu bin Barakheel, orang Bus itu: Aku masih muda dan kamu sudah berumur tinggi; oleh sebab itu aku malu dan takut mengemukakan pendapatku kepadamu.7 Pikirku: Biarlah yang sudah lanjut usianya berbicara, dan yang sudah banyak jumlah tahunnya memaparkan hikmat.
8 Tetapi roh yang di dalam manusia, dan nafas Yang Mahakuasa, itulah yang memberi kepadanya pengertian.9 Bukan orang yang lanjut umurnya yang mempunyai hikmat, bukan orang yang sudah tua yang mengerti keadilan.
10 Oleh sebab itu aku berkata: Dengarkanlah aku, akupun akan mengemukakan pendapatku.
11 Ketahuilah, aku telah menantikan kata-katamu, aku telah memperhatikan pemikiranmu, hingga kamu menemukan kata-kata yang tepat.
12 Kepadamulah kupusatkan perhatianku, tetapi sesungguhnya, tiada seorangpun yang mengecam Ayub, tiada seorangpun di antara kamu menyanggah perkataannya.
13 Jangan berkata sekarang: Kami sudah mendapatkan hikmat; hanya Allah yang dapat mengalahkan dia, bukan manusia.
14 Perkataannya tidak tertuju kepadaku, dan aku tidak akan menjawabnya dengan perkataanmu.
15 Mereka bingung, mereka tidak dapat memberi sanggahan lagi, mereka tidak dapat berbicara lagi.
16 Haruskah aku menunggu, karena mereka putus bicara, karena mereka berdiri di sana dan tidak memberi sanggahan lagi?
17 Akupun hendak memberi sanggahan pada giliranku, akupun akan mengemukakan pendapatku.
18 Karena aku tumpat dengan kata-kata, semangat yang ada dalam diriku mendesak aku.
19 Sesungguhnya, batinku seperti anggur yang tidak mendapat jalan hawa, seperti kirbat baru yang akan meletup.
20 Aku harus berbicara, supaya merasa lega, aku harus membuka mulutku dan memberi sanggahan.
21 Aku tidak akan memihak kepada siapapun dan tidak akan menyanjung-nyanjung siapapun,22 karena aku tidak tahu menyanjung-nyanjung; jika demikian, maka segera Pembuatku akan mencabut nyawaku.

Ayat Kunci: Bukan orang yang lanjut umurnya yang mempunyai hikmat, bukan orang yang sudah tua yang mengerti keadilan (Ayub 32:9)

Pasal 32 sampai 37 adalah perkataan Elihu. Banyak peneliti Alkitab Injili percaya bahwa sejumlah besar bukti internal dan eksternal menunjukkan bahwa bagian pasal ini sepenuhnya sesuai dengan konteks keseluruhan kitab. Di permukaan, kata-kata Elihu sepertinya mengganggu alur penulisan kitab ini. Namun, sebenarnya itu adalah mempersiapkan kata-kata TUHAN nanti. Elihu bagaikan saksi setia yang berbicara mewakili Allah (36:2). Di satu sisi, ia menegur ketiga sahabat Ayub (lihat 32:3, 6-14; 34:2-15; 35:4); di sisi lain, ia juga menyarankan agar Ayub perlu bertobat dari kesombongannya (lihat 33:17; 30 5:12-16). Ia mendorong Ayub untuk memuji perbuatan Allah, karya Allah yang terlihat jelas di alam semesta (36:24-37:18), dan hendaknya takut akan Allah (37:22-24). Konsep Elihu ditegaskan dan dikembangkan dalam firman Allah nanti.

Ayat 32:1-5 adalah pernyataan pembuka Elihu. Narasi ayat-ayat pendek ini memang membagi bagian puitis kitab Ayub (32:1-6a). Padahal tujuannya adalah untuk memperkenalkan Elihu, sama seperti di awal kitab (pasal 1-2) memperkenalkan tokoh-tokoh lainnya.

Di antara anak-anak Nahor saudara Abraham, ada seorang yang bernama Bus (Kejadian 22:20-21). Elihu adalah dari kaum Bus (lihat Yeremia 25:23), jadi dia mungkin memiliki hubungan tertentu dengan Abraham. Di antara nenek moyang Daud, ada juga seorang bernama Ram (ayat 2, lihat Rut 4:19-22). Elihu marah, dan kemarahannya disebutkan tiga kali dalam ayat-ayat ini (ayat 2,3,5). Ia marah kepada Ayub karena Ayub menganggap dirinya benar dan Allah salah (ayat 2). Ia juga marah kepada ketiga sahabat Ayub karena mereka tidak dapat membuktikan bahwa Ayub layak menerima penghakiman Allah (ayat 3).

Sebelum Elihu menyampaikan pidatonya, ia berharap ketiga tua-tua dan Ayub dapat memahami alasan ia berbicara (32:6-22). Elihu memulai dengan mengungkapkan rasa hormatnya kepada ketiga sahabat Ayub (ayat 6-10). Mereka lebih tua darinya, jadi dia menunggu sampai sekarang barulah berbicara. Namun ia menyadari bahwa menjadi lebih tua tidak berarti ia bijaksana. Karena hikmah berasal dari Allah. Roh yang ada di dalam manusia dan nafas Yang Mahakuasa (ayat 8) mungkin merujuk pada Roh Allah (lihat Kejadian 41:38-39; Keluaran 31:3; Bilangan 27:18-21; Yesaya 11 2; Daniel 5:11-12), yang dimaksud Elihu adalah ketiga sahabat Ayub itu tidak memiliki bijaksana. Untuk memastikan bahwa mereka mau mendengarkan dia, sepuluh kali Elihu meminta mereka untuk memperhatikan (ayat 10, 20; 33:1, 12, 31, 33; 34:2, 10, 16; 37:14). Di ayat 11-14, Elihu kembali mengevaluasi ketiga orang ini. Mereka tidak dapat membuktikan kesalahan Ayub. Mereka pikir mereka benar, namun karena Ayub menolak mengakui kesalahannya dan menolak bertobat, hanya Allah yang bisa mengalahkannya dan membuatnya merasa bersalah (ayat 13). Elihu tidak pernah membantah Ayub, namun kini ia ingin meyakinkan Ayub dengan argumen yang berbeda (ayat 14).

Terakhir, Elihu menjelaskan kepada Ayub alasan dia ingin berbicara (ayat 15-22). Terutama karena yang lebih tua sudah diam tidak berbicara (ayat 15).

Renungkan:
Apa yang Anda dapatkan dari penjelasan Elihu tentang mengapa dia berbicara? Bagi Anda sendiri, apa yang harus menjadi langkah awal dalam menguasai waktu berbicara yang tepat?


Renungan pemahaman Kitab Ayub

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Ayub ditulis oleh Lu Zhuo An (呂焯安) yang dipublikasi pada bulan Oktober 2015 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Ayub 31:1-40

Aku hanya berharap ada seseorang yang mau mendengarkanku」

Oleh Lu Zhuo An (呂焯安)
Alliance Bible Seminary H.K.

(Ayub 31:1-40 [ITB])
1 Aku telah menetapkan syarat bagi mataku, masakan aku memperhatikan anak dara?
2 Karena bagian apakah yang ditentukan Allah dari atas, milik pusaka apakah yang ditetapkan Yang Mahakuasa dari tempat yang tinggi?
3 Bukankah kebinasaan bagi orang yang curang dan kemalangan bagi yang melakukan kejahatan?
4 Bukankah Allah yang mengamat-amati jalanku dan menghitung segala langkahku?
5 Jikalau aku bergaul dengan dusta, atau kakiku cepat melangkah ke tipu daya,6 biarlah aku ditimbang di atas neraca yang teliti, maka Allah akan mengetahui, bahwa aku tidak bersalah.
7 Jikalau langkahku menyimpang dari jalan, dan hatiku menuruti pandangan mataku, dan noda melekat pada tanganku,8 maka biarlah apa yang kutabur, dimakan orang lain, dan biarlah tercabut apa yang tumbuh bagiku.
9 Jikalau hatiku tertarik kepada perempuan, dan aku menghadang di pintu sesamaku,10 maka biarlah isteriku menggiling bagi orang lain, dan biarlah orang-orang lain meniduri dia.11 Karena hal itu adalah perbuatan mesum, bahkan kejahatan, yang patut dihukum oleh hakim.
12 Sesungguhnya, itulah api yang memakan habis, dan menghanguskan seluruh hasilku.
13 Jikalau aku mengabaikan hak budakku laki-laki atau perempuan, ketika mereka beperkara dengan aku,14 apakah dayaku, kalau Allah bangkit berdiri; kalau Ia mengadakan pengusutan, apakah jawabku kepada-Nya?15 Bukankah Ia, yang membuat aku dalam kandungan, membuat orang itu juga? Bukankah satu juga yang membentuk kami dalam rahim?
16 Jikalau aku pernah menolak keinginan orang-orang kecil, menyebabkan mata seorang janda menjadi pudar,17 atau memakan makananku seorang diri, sedang anak yatim tidak turut memakannya18 –malah sejak mudanya aku membesarkan dia seperti seorang ayah, dan sejak kandungan ibunya aku membimbing dia–;19 jikalau aku melihat orang mati karena tidak ada pakaian, atau orang miskin yang tidak mempunyai selimut,20 dan pinggangnya tidak meminta berkat bagiku, dan tidak dipanaskannya tubuhnya dengan kulit bulu dombaku;21 jikalau aku mengangkat tanganku melawan anak yatim, karena di pintu gerbang aku melihat ada yang membantu aku,22 maka biarlah tulang belikatku lepas dari bahuku, dan lenganku dipatahkan dari persendiannya.
23 Karena celaka yang dari pada Allah menakutkan aku, dan aku tidak berdaya terhadap keluhuran-Nya.
24 Jikalau aku menaruh kepercayaan kepada emas, dan berkata kepada kencana: Engkaulah kepercayaanku;25 jikalau aku bersukacita, karena kekayaanku besar dan karena tanganku memperoleh harta benda yang berlimpah-limpah;26 jikalau aku pernah memandang matahari, ketika ia bersinar, dan bulan, yang beredar dengan indahnya,27 sehingga diam-diam hatiku terpikat, dan menyampaikan kecupan tangan kepadanya,28 maka hal itu juga menjadi kejahatan yang patut dihukum oleh hakim, karena Allah yang di atas telah kuingkari.
29 Apakah aku bersukacita karena kecelakaan pembenciku, dan bersorak-sorai, bila ia ditimpa malapetaka30 –aku takkan membiarkan mulutku berbuat dosa, menuntut nyawanya dengan mengucapkan sumpah serapah! —
31 Jikalau orang-orang di kemahku mengatakan: Siapa yang tidak kenyang dengan lauknya?32 –malah orang asingpun tidak pernah bermalam di luar, pintuku kubuka bagi musafir! —
33 Jikalau aku menutupi pelanggaranku seperti manusia dengan menyembunyikan kesalahanku dalam hatiku,34 karena aku takuti khalayak ramai dan penghinaan kaum keluarga mengagetkan aku, sehingga aku berdiam diri dan tidak keluar dari pintu!
35 Ah, sekiranya ada yang mendengarkan aku! –Inilah tanda tanganku! Hendaklah Yang Mahakuasa menjawab aku! –Sekiranya ada surat tuduhan yang ditulis lawanku!36 Sungguh, surat itu akan kupikul, dan akan kupakai bagaikan mahkota.37 Setiap langkahku akan kuberitahukan kepada-Nya, selaku pemuka aku akan menghadap Dia.
38 Jikalau ladangku berteriak karena aku dan alur bajaknya menangis bersama-sama,39 jikalau aku memakan habis hasilnya dengan tidak membayar, dan menyusahkan pemilik-pemiliknya,40 maka biarlah bukan gandum yang tumbuh, tetapi onak, dan bukan jelai, tetapi lalang. Sekianlah kata-kata Ayub.

Ayat Kunci: apakah dayaku, kalau Allah bangkit berdiri; kalau Ia mengadakan pengusutan, apakah jawabku kepada-Nya? (Ayub 31:14)

Pasal 29 sampai 31 adalah pidato panjang dari Ayub membela dirinya tidak bersalah. Sebelum berdialog dengan ketiga temannya, Ayub mengadakan monolog (pasal tiga). Kini dia juga menulis monolog untuk merangkum percakapannya dengan teman-temannya. Dalam ketiga pasal ini, Ayub merindukan masa lalunya yang tidak bercacat (pasal 29); dia sedih dengan kesulitannya saat ini (pasal 30); dan dia menegaskan kembali bahwa dia tidak bersalah (pasal 31). Seluruh pidatonya seperti argumen penutup di pengadilan, namun ketiga temannya tidak disebutkan sama sekali. Kita sudah membaca pasal 29 sampai 30 kemarin.

Ketika Ayub mengakhiri pernyataannya, dia menekankan bahwa dia tidak bersalah dengan sebuah sumpah, seperti kebiasaan di Timur Dekat kuno. Ia menantang Allah untuk menunjukkan apa dosa-dosanya (ayat 35-37). Yang dimaksud Ayub adalah: Jika Allah diam saja berarti Ayub sebenarnya tidak bersalah; namun jika Ayub bersalah maka Allah akan terpaksa turun tangan dan melakukan penghakiman.

Ayub menyatakan dalam dua hal bahwa dia bebas dari dosa moral. Yang satu melalui perjanjian yang dibuatnya dengan matanya sendiri (ayat 1 Aku telah menetapkan syarat bagi mataku, masakan aku memperhatikan anak dara?); yang lain melalui bentuk sumpah serapah: jikalau … maka … (5-6, 7-8, 9-10, 13, 16, 19, 20 ; kedua kalinya 21-22, 24, 25, 26, 38, 39-40, dst.). Sebagian besar dosa yang disebutkan dalam pasal ini bukanlah kejahatan besar, tetapi jenis kesalahan-kesalahan yang relatif kecil, yang dilakukan secara sembunyi-sembunyi dan tidak secara terang-terangan. Dengan ini, Ayub mengungkapkan tingkat kesucian dan kesalehan hidupnya yang lebih tinggi. Perhatikan bahwa ia masih percaya bahwa Allah akan menghakimi orang fasik (ayat 2-3). Dalam ayat 35 Ah, sekiranya ada yang mendengarkan aku! Inilah tanda tanganku! Hendaklah Yang Mahakuasa menjawab aku! Sekiranya ada surat tuduhan yang ditulis lawanku! , Ayub berseru kepada seseorang yang mau mendengarkan dia, yang mungkin merujuk pada Allah dan bukan mediator yang dia sebutkan sebelumnya (16:19; 19:25; lih. 30:20).

Setelah merangkum argumennya, Ayub terdiam dan menunggu penghakiman Allah. Ini adalah klimaks lain dari kitab ini. Ayub menyatakan hidupnya suci (ayat 1-12), baik terhadap sesamanya (ayat 13-20) maupun terhadap Allah (ayat 24-34).

Renungkan:
Inspirasi apa yang diberikan oleh kesaksian hidup Ayub kepada Anda? Pilihlah satu aspek dari pernyataan Ayub (seperti ayat 24-25) untuk mengingatkan diri Anda akan kesaksian hidup Anda dalam aspek tersebut.


Renungan pemahaman Kitab Ayub

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Ayub ditulis oleh Lu Zhuo An (呂焯安) yang dipublikasi pada bulan Oktober 2015 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.