Ibrani 12:1-3

28 Mar 2018 – Rabu Minggu Suci

Tekun Memikul Salib Ganti Sukacita yang Disediakan bagi Dia

(Ibrani 12:1-3)
1 Karena kita mempunyai banyak saksi, bagaikan awan yang mengelilingi kita, marilah kita menanggalkan semua beban dan dosa yang begitu merintangi kita, dan berlomba dengan tekun dalam perlombaan yang diwajibkan bagi kita. 2 Marilah kita melakukannya dengan mata yang tertuju kepada Yesus, yang memimpin kita dalam iman, dan yang membawa iman kita itu kepada kesempurnaan, yang dengan mengabaikan kehinaan tekun memikul salib ganti sukacita yang disediakan bagi Dia, yang sekarang duduk di sebelah kanan takhta Allah.

3 Ingatlah selalu akan Dia, yang tekun menanggung bantahan yang sehebat itu terhadap diri-Nya dari pihak orang-orang berdosa, supaya jangan kamu menjadi lemah dan putus asa.

Renungan
Dalam perikop ini penulis merubah perhatian kita dari kehidupan karakter-karakter di Perjanjian Lama yang menginspirasi, “awan saksimata-saksimata” kita, kepada contoh yang terhebat dari semuanya, Tuhan Yesus Kristus. Pertandingan iman orang Kristen adalah sesuatu yang berat, menuntut ketekunan yang teguh. Tujuan dari penulis adalah membawa para saksimata sebelum kita yang akan bersaksi bahwa iman ini yang di dalam Yesus adalah setimpal. Beberapa dari kita akan ingat lomba lari 400 meter pada Olimpiade Paris 1924 yang membuat jantung berdebar-debar, yang diikuti oleh pelari Skotlandia Eric Liddell yang berhasil ditangkap dan dibuat terkenal oleh film Chariots of Fire (Kereta dari Api). Ia telah ditetapkan untuk pertandingan favoritnya yang sudah dipersiapkan, perlombaan lari 100 meter. Karena imannya yang tidak goyah untuk tidak mengikuti perlombaan lari tersebut pada hari Sabat, dia mengikut perlombaan lari 400 meter.

Untuk memperpendek cerita, ia menantang kemungkinan dan memenangkan perlombaan itu dengan sebuah prestasi rekor dunia. Mengutip orang tersebut ketika ditanya tentang rencananya untuk sebuah kemenangan, “Aku berlari 200 meter sekuat yang aku mampu, untuk 200 meter kedua, dengan pertolongan Allah, aku berlari lebih kuat.” Dengan iman yang sama teguh dan semangat yang pantang menyerah, dia lalu melayani sebagai misionaris pengajar dan dan kemudian diasingkan di bawah pendudukan Jepang di Tianjin, Tiongkok di mana ia meninggal. Dia memilih untuk bertahan dan mengakhiri pertandingan imannya yang lebih keras namun penuh sukacita, “mata yang tertuju kepada Yesus, yang memimpin kita dalam iman, dan yang membawa iman kita itu kepada kesempurnaan.” Ini adalah sebuah observasi tentangnya dari Langdon Gilkey, seorang kawan penyintas dari kamp di mana mereka adalah teman sepenjara:

‘Sering di sore hari aku melihat dia sedang duduk menghadapi papan catur atau sebuah perahu model, atau sedang mengarahkan semacam tarian kotak – begitu asik, lelah dan menarik, memberikan semua yang ia miliki kepada usahanya untuk menangkap imajinasi dari anak-anak muda yang terkurung ini. Dia melimpah dengan lelucon yang baik dan kecintaan akan hidup, dan dengan antusiasme dan pesona. Sangatlah jarang bagi seseorang untuk mendapatkan sebuah keberuntungan untuk bertemu dengan seorang kudus, tetapi dia mendekati seorang kudus dibanding setiap orang yang pernah saya kenal.’

(Sumber kutipan ~ http://albertmohler.com/2017/07/25/god-made-china-eric-liddell-beyond-olympic-glory/)

Doa
“Bersyukur untuk orang-orang kudus dari masa lalu dan orang-orang kudus yang hidup hari ini: meskipun seringkali dibenci oleh dunia, hati mereka dihargai dengan kaya oleh Allah – bersyukurlah bahwa kita bisa mengatakan bahwa kita berbagi perjalanan ziarah mereka.‘ (Martin E. Leckebusch)

Tindakan
Di mana dan bagaimana kita dapat menguatkan diri kita sendiri sehingga seperti para saksimata yang penuh kesetiaan sebelumnya kita dapat mengikuti langkah-langkah kaki dari Tuan kita?

Rev. Henry Hong
Minister of the Presbyterian Church in Singapore

Copyright The Bible Society of Singapore

(Diterjemahkan oleh WMC)