「Allah yang Cemburu dan Pembalas kepada Musuh-Nya」
Oleh 潘仕楷 (Pān Shì Kǎi)
Alliance Bible Seminary H.K.
(Nahum 1:1-8 [ITB])
1 Ucapan ilahi tentang Niniwe. Kitab penglihatan Nahum, orang Elkosh.
2 TUHAN itu Allah yang cemburu dan pembalas, TUHAN itu pembalas dan penuh kehangatan amarah. TUHAN itu pembalas kepada para lawan-Nya dan pendendam kepada para musuh-Nya. 3 TUHAN itu panjang sabar dan besar kuasa, tetapi Ia tidak sekali-kali membebaskan dari hukuman orang yang bersalah. Ia berjalan dalam puting beliung dan badai, dan awan adalah debu kaki-Nya. 4 Ia menghardik laut dan mengeringkannya, dan segala sungai dijadikan-Nya kering. Basan dan Karmel menjadi merana dan kembang Libanon menjadi layu. 5 Gunung-gunung gemetar terhadap Dia, dan bukit-bukit mencair. Bumi menjadi sunyi sepi di hadapan-Nya, dunia serta seluruh penduduknya. 6 Siapakah yang tahan berdiri menghadapi geram-Nya? Dan siapakah yang tahan tegak terhadap murka-Nya yang bernyala-nyala? Kehangatan amarah-Nya tercurah seperti api, dan gunung-gunung batu menjadi roboh di hadapan-Nya.
7 TUHAN itu baik; Ia adalah tempat pengungsian pada waktu kesusahan; Ia mengenal orang-orang yang berlindung kepada-Nya 8 dan menyeberangkan mereka pada waktu banjir. Ia menghabisi sama sekali orang-orang yang bangkit melawan Dia, dan musuh-Nya dihalau-Nya ke dalam gelap.
Dalam enam hari ke depan, kita akan merenungkan pesan dari kitab Nahum. Meskipun dalam kitab Nahum tidak secara jelas diungkapkan waktu penulisan kitab ini, tetapi karena ada dua tanda sejarah dalam kitab ini, sehingga kita dapat secara kasar menentukan kapan kitab ini ditulis. Di satu sisi, ayat 1:1 menunjukkan bahwa kitab ini adalah ucapan ilahi tentang Niniwe, dan juga menubuatkan kehancuran Niniwe, jadi kitab ini seharusnya ditulis sebelum Niniwe jatuh pada tahun 612 SM. Di sisi lain, dalam 3:8-10 mengambil kehancuran No-Ammon kota dewa Amon sebagai contoh, jadi kitab ini seharusnya ditulis setelah kehancuran kota No-Ammon pada 663 SM. Karena itu, Nahum dituliskan kira-kira paruh kedua abad ketujuh SM, yang menubuatkan kehancuran kerajaan Asyur yang pemerintahannya mencakup Niniwe.
Di antara ke-12 kitab Nabi-nabi, kitab Nahum terkait erat dengan kitab Yunus, kedua kitab itu terkait dengan masa depan Niniwe. Dalam kitab Yunus, Niniwe mengalami kasih karunia Allah yang penuh kasih karena pertobatannya, tetapi dalam kitab Nahum, Niniwe menghadapi penghakiman TUHAN (Yahweh). Kitab Yunus dan Nahum dalam terjemahan Yunani kuno ditempatkan di posisi tengah ke-12 kitab Nabi-nabi yakni keenam dan ketujuh, tidak hanya menghubungkan dua kitab, bahkan menjadikan mereka sebagai pusat dari ke-12 kitab Nabi-nabi.
Dalam beberapa ayat di pembukaan kitab ini, penulis kitab menggunakan bentuk puisi untuk menggambarkan penghakiman TUHAN (Yahweh) yang berkuasa besar. Puisi ini adalah pengantar teologis dari kitab ini, menunjukkan bahwa kuasa TUHAN lebih dari kekuatan alam atau politik apapun, Dia pasti akan membalas musuh, dan agar mereka yang percaya bersandar pada-Nya mendapatkan penghiburan. Dalam ayat 2, nabi Nahum tiga kali mengulangi kata 「pembalas」 pemberian hukuman yang setimpal, kata ini biasanya digunakan dalam bahasa terkait tentang perjanjian, menunjukkan bahwa TUHAN dan umat milik-Nya berada di pihak yang sama, musuh umat-Nya adalah musuh-Nya, jadi Dia akan mengadakan pembalasan kepada musuh umat-Nya. Dalam ayat 3, Nahum mengutip bagian kedua dari Keluaran 34:6-7 (… 『TUHAN, TUHAN, Allah penyayang dan pengasih, panjang sabar, berlimpah kasih-Nya dan setia-Nya, yang meneguhkan kasih setia-Nya kepada beribu-ribu orang, yang mengampuni kesalahan, pelanggaran dan dosa; tetapi tidaklah sekali-kali membebaskan orang yang bersalah dari hukuman, yang membalaskan kesalahan bapa kepada anak-anaknya dan cucunya, kepada keturunan yang ketiga dan keempat』), dengan penuh kekuatan menunjukkan bahwa walaupun TUHAN panjang sabar tetapi Dia pasti akan dengan kuasa besar menghukum kejahatan.
Dari ayat 3-5, Nahum menggambarkan manifestasi dari kuasa TUHAN dalam bahasa yang mirip dengan Baal penunggang awan mitologi Kanaan. Nabi Nahum menggunakan cara ini secara khusus untuk menekankan bahwa kuasa TUHAN tidak hanya melampaui kekuatan alam, yang melampaui apa yang dibayangkan manusia. Sehingga dalam ayat 6 menuliskan kesimpulan: Siapakah yang tahan berdiri menghadapi geram-Nya? Dan siapakah yang tahan tegak terhadap murka-Nya yang bernyala-nyala?
Ayat 7 adalah inti dari pesan ini dan merupakan pengingat utama kepada pembaca. Meskipun tema nubuat Nahum adalah terhadap kekuatan orang-orang asing, tetapi tujuan perhatian mendasarnya tetap adalah umat Allah. Ketika kita menghadapi desakan atau penindasan dari sekitar, kita harus tahu bahwa Allah adalah perlindungan dan jaminan kita, dan Ia juga akan menggunakan kuasa besar-Nya melakukan penghakiman kepada mereka yang menganiaya kita, sehingga kita mendapatkan penghiburan. Nama Nahum juga mengungkapkan makna penghiburan, dan mungkin mencerminkan peran kitab ini terhadap tema Penghakiman Niniwe.
Renungkan:
Di tengah segala macam desakan dan kesengsaraan, apakah kita yakin akan kebaikan Tuhan kita? Apakah kita menganggap kesetiaan Dia sebagai perlindungan dan jaminan kita?
Renungan pemahaman Kitab Nahum
Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain
Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Zefanya, Yoel, Mikha, Nahum ditulis oleh 潘仕楷 (Pān Shì Kǎi) yang dipublikasi pada bulan Juli 2020 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).
Renungan untuk Kalangan Kristen.
Iklan yang ada bukan milik blog ini, tetapi milik WordPress penyedia fasilitas blog tanpa biaya.