Tag Archives: Berdamai

Kej. 45:4-8

「Saling mengenal dan berdamai」

Apakah kita sudah memiliki iman yang yakin sedemikian pasti?

(Kej. 45:4-8 [ITB])
4Lalu kata Yusuf kepada saudara-saudaranya itu: 「Marilah dekat-dekat.」Maka mendekatlah mereka. Katanya lagi: 「Akulah Yusuf, saudaramu, yang kamu jual ke Mesir. 5Tetapi sekarang, janganlah bersusah hati dan janganlah menyesali diri, karena kamu menjual aku ke sini,
sebab untuk memelihara kehidupanlah Allah menyuruh aku mendahului kamu.
6Karena telah dua tahun ada kelaparan dalam negeri ini dan selama lima tahun lagi orang tidak akan membajak atau menuai.
7Maka Allah telah menyuruh aku mendahului kamu untuk menjamin kelanjutan keturunanmu di bumi ini dan untuk memelihara hidupmu, sehingga sebagian besar dari padamu tertolong. 8Jadi bukanlah kamu yang menyuruh aku ke sini, tetapi Allah; Dialah yang telah menempatkan aku sebagai bapa bagi Firaun dan tuan atas seluruh istananya dan sebagai kuasa atas seluruh tanah Mesir.」

(Bacalah Kej. 45, silahkan klik di sini untuk membuka) Yusuf dan para abang saling mengenal dan berdamai, membuat catatan kisah yang dimulai kitab Kejadian pasal 37, sampai di sini sudah mencapai titik penyelesaian yang indah. Yusuf memastikan para abangnya sudah dengan sungguh hati bertobat, maka perasaan hati yang ditahan akhirnya meledak keluar. Atas kesungguhan hati para abangnya, ia membuat penjelasan tentang dirinya, perkataan yang tulus dan bersungguh-sungguh, dapat dibandingkan keindahannya dengan permohonan tulus dari Yehuda yang rela menggantikan menerima hukuman di pasal sebelumnya. Pusat dari perkataan dia kepada para abangnya, adalah meninggikan kedaulatan Allah. Karena ia tiga kali berbicara tentang, bahwa yang mengutus ia sampai datang ke Mesir, bukan para abang, tetapi adalah Allah (Kej. 45:5, 7, 8). Ini adalah contoh teladan yang baik tentang mengampuni dan berdamai di dalam Alkitab, menyatakan kualitas perasaan dan moral hati manusia yang mulia.

Kisah lebih dahulu dua kali menyebutkan 「tidak dapat」: Yusuf 「tidak dapat menahan hatinya」 (Kej. 45:1), jika diterjemahan secara langsung 「ia tidak dapat」menahan dirinya sendiri (lō’ yākōl). Berkoresponden dengan para abang karena takut dan gemetar sehingga 「tidak dapat」 (lō’ yākǝlû) menjawab dia (Kej. 45:3).

Yusuf tiga kali berbicara bahwa adalah Allah yang mengutus ia datang sampai ke Mesir,「Allah menyuruh aku mendahului kamu」 (šǝlāḥanî ’ĕlōhîm lipnêkem, Kej. 45:5), 「Allah telah menyuruh aku mendahului kamu」 (wayyišlāḥēnî ’ĕlōhîm lipnêkem, Kej. 45:7), 「bukanlah kamu yang menyuruh aku ke sini, tetapi Allah」 (lō’ ’attem šǝlaḥtem’ōtî hennâ kî hā’ĕlōhîm, Kej. 45:8), atau terjemahan langsung 「bukanlah engkau yang mengutus saya datang ke sini, adalah Allah」 (CCV). Kata terakhir adalah 「hā’ĕlōhîm」 menggunakan kata tunjuk “itu”, dapat diterjemahkan sebagai 「Allah yang sungguh」.

Yusuf tidak menyangkal kenyataan para abang menjual dirinya, tetapi setelah mengalami dua puluh tahun lebih penderitaan hati yang tertikam, ia sudah memiliki pemahaman atas pengalaman hidup yang lebih mendalam, karena ia 「melalui semua hal memandang Allah, juga melalui Allah memandang semua hal」. Ia memahami bahwa dibalik semua urusan ini, ada Allah yang memegang kendali, Allah bahkan melalui perbuatan jahat para abangnya, untuk menggenapi kehendak Dia yang indah dan baik. Bukan saja demikian, Yusuf malah sebaliknya menghibur para abangnya, menghendaki mereka 「janganlah bersusah hati dan janganlah menyesali diri, karena kamu menjual aku ke sini」 (Kej. 45:5) seringkali, pihak yang dilukai malahan menghibur pihak yang melukai!

Renungkan: Anda pernah mengampuni dan berdamai dengan orang? Mengampuni adalah penyataan dari sifat Allah, seperti Yesus di atas salib memohon 「Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat」 (Luk. 23:34). Tindakan 「mengampuni」 dapat dilakukan secara satu pihak oleh pihak korban, asal terdapat kekuatan yang cukup besar dan kuat di dalam hati; dan 「berdamai」 harus melibatkan kedua pihak yang semua memiliki kesungguhan kesediaan hati, terutama pihak pelaku yang melukai harus dengan sungguh hati bertobat, mencari mengampuni. Ini adalah penyebab mengapa Yusuf harus lebih dahulu 「menguji」 para abang, juga adalah perbedaan yang terdapat antara perdamaian Yusuf dan para abang, dengan Yakub dan Esau. (Iman dinyatakan dalam tindakan mengampuni.)

Renungan ini merupakan terjemahan 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Kejadian 27-50 ditulis oleh 賴建國 (Lài Jiàn Guó) yang dipublikasi pada bulan Januari 2018 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).