Tag Archives: Kematian

2 Timotius 4:6-8 (1)

「Angkat jangkar dan berlayar」

Oleh Yè Sōng Mào (葉松茂)
Alliance Bible Seminary H.K.

(2 Tim. 4:6-8 [ITB])
6 Mengenai diriku, darahku sudah mulai dicurahkan sebagai persembahan dan saat kematianku sudah dekat. 7 Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir dan aku telah memelihara iman. 8 Sekarang telah tersedia bagiku mahkota kebenaran yang akan dikaruniakan kepadaku oleh Tuhan, Hakim yang adil, pada hari-Nya; tetapi bukan hanya kepadaku, melainkan juga kepada semua orang yang merindukan kedatangan-Nya.

Ayat 4:6-8 Paulus secara langsung menunjukkan bahwa kemartirannya sudah dekat, dan waktu kematian telah tiba. Versi mandarin CUV tidak mencantumkan kata karena di awal kalimat 4:6 (ITB menerjemahkan sebagai mengenai, ITL memakai kata karena), karena Paulus akan segera meninggal, jadi dalam paragraf sebelumnya 4:1-5 dia dengan sungguh-sungguh meminta muridnya Timotius bersumpah untuk mewarisi visi semangatnya, baik atau tidak baik waktunya pergi sekuat tenaga untuk memberitakan Injil kabar bahagia. Paulus menggunakan dua gambaran untuk menggambarkan kematiannya yang akan segera terjadi.

Dicurahkan sebagai persembahan mengacu pada persembahan curahan dari Perjanjian Lama. Bilangan 15:7 sebagai korban curahan haruslah kaupersembahkan sepertiga hin anggur, menjadi bau yang menyenangkan bagi TUHAN.Saya sering secara pribadi memasak di rumah, saya selalu ingin menambahkan satu sendok teh anggur Shaoxing ketika saya memasak makanan. Saat saya menuangkan ke dalam masakan, wangi anggur itu meluap. Anda bisa membayangkan api yang membakar di atas mezbah, memanggang berbagai korban bakaran, dan tiba-tiba dicurahkan satu setengah liter anggur, aroma anggur yang kuat memenuhi seluruh tempat kudus dan bertahan lama. Ayat 4:6 darahku sudah mulai dicurahkan, teks aslinya memang terdapat kata sudah, tetapidicurahkanadalah dalam bentuk sekarang. Adegan itu adalah satu setengah liter anggur sudah mulai dituangkan di atas mezbah, dan sedang dituangkan dari tempat anggur, perlahan asap merebak dan aroma arak semakin kuat dan kuat. Paulus membayangkan hidupnya yang dikorbankan di atas mezbah, sebagai persembahan yang harum, kurban yang berkenan kepada Allah. Roma 12:1 berpesan agar kita mempersembahkan tubuh kita kepada Allah sebagai persembahan yang hidup Sekarang Paulus hampir mati syahid, dia merasa kemartirannya lebih seperti persembahan curahan.

Ayat 4:6 kematianku sudah dekat bahasa aslinya mengacu pada orang-orang nomaden yang membongkar kemah untuk berangkat, atau anggota awak yang menarik jangkar kapal untuk berlayar, dapat dimengerti diterjemahkan sebagai meninggal, karena pada zaman kuno, istilah ini sering digunakan sebagai eufemisme untuk kematian. Buku The Lord of the Rings penuh dengan metafora spiritual, di akhir novel, setelah Justice League menang atas iblis, hobbit Bilbo Baggins dan para pemimpin Elf mengibarkan layar memulai perjalanan dan meninggalkan Benua Dunia Tengah menuju negeri ajaib di seberang lautan. Paulus berkata, saat kematianku sudah dekat mungkin ada gambaran yang serupa, telah sampai di akhir hidup, telah sampai di pelabuhan, menaiki kapal besar, bersiap meninggalkan dermaga memulai perjalanan, menuju rumah surgawi untuk bersama Tuhan Kristus selamanya.

Ada seorang bankir Hong Kong dengan kekayaan dan status sosial yang tinggi, tetapi hari-hari sebelum kematiannya, dia penuh ketakutan dan gelisah sepanjang hari, dan dipenuhi rasa panik. Istrinya adalah seorang Kristen, tetapi sebelum kematiannya penuh dengan harapan dan kedamaian, pergi dengan damai. Anak laki-laki mereka menyaksikan perbedaan besar dalam kehidupan orang tua mereka sebelum mereka meninggal, dan sangat terkesan, membuat dia sangat percaya pada kebenaran Kristus dan bertekad untuk mengikuti Kristus sepanjang hidupnya dan tidak pernah menyimpang darinya.

Renungkan:
Akhir hidup hanyalah awal dari perjalanan lain yang lebih baik bagi mereka yang mengikuti Tuhan Yesus. Apakah Anda memiliki kepastian ini dalam hati Anda?


Renungan pemahaman Surat 2 Timotius

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Surat 2 Timotius ditulis oleh Yè Sōng Mào (葉松茂) yang dipublikasikan pada bulan Februari 2021 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Bilangan 19:17-19

Tahir dan najis
Oleh Lài Jiàn Guó (賴建國)
Alliance Bible Seminary H.K.

(Bil. 19:17-19 [ITB])
11 Orang yang kena kepada mayat, ia najis tujuh hari lamanya.
12 Ia harus menghapus dosa dari dirinya dengan air itu pada hari yang ketiga, dan pada hari yang ketujuh ia tahir. Tetapi jika pada hari yang ketiga ia tidak menghapus dosa dari dirinya, maka tidaklah ia tahir pada hari yang ketujuh.
13 Setiap orang yang kena kepada mayat, yaitu tubuh manusia yang telah mati, dan tidak menghapus dosa dari dirinya, ia menajiskan Kemah Suci TUHAN, dan orang itu haruslah dilenyapkan dari Israel; karena air pentahiran tidak disiramkan kepadanya, maka ia najis; kenajisannya masih melekat padanya.
14 Inilah hukumnya, apabila seseorang mati dalam suatu kemah: setiap orang yang masuk ke dalam kemah itu dan segala yang di dalam kemah itu najis tujuh hari lamanya; 15 setiap bejana yang terbuka yang tidak ada kain penutup terikat di atasnya adalah najis.
16 Juga setiap orang yang di padang, yang kena kepada seorang yang mati terbunuh oleh pedang, atau kepada mayat, atau kepada tulang-tulang seorang manusia, atau kepada kubur, orang itu najis tujuh hari lamanya.
17 Bagi orang yang najis haruslah diambil sedikit abu dari korban penghapus dosa yang dibakar habis, lalu di dalam bejana abu itu dibubuhi air mengalir. 18 Kemudian seorang yang tahir haruslah mengambil hisop, mencelupkannya ke dalam air itu dan memercikkannya ke atas kemah dan ke atas segala bejana dan ke atas orang-orang yang ada di sana, dan ke atas orang yang telah kena kepada tulang-tulang, atau kepada orang yang mati terbunuh, atau kepada mayat, atau kepada kubur itu; 19 orang yang tahir itu haruslah memercik kepada orang yang najis itu pada hari yang ketiga dan pada hari yang ketujuh, dan pada hari yang ketujuh itu haruslah ia menghapus dosa orang itu; dan orang yang najis itu haruslah mencuci pakaiannya dan membasuh badannya dengan air, lalu ia tahir pada waktu matahari terbenam.
20 Tetapi orang yang telah najis, dan tidak menghapus dosa dari dirinya, orang itu harus dilenyapkan dari tengah-tengah jemaah itu, karena ia telah menajiskan tempat kudus TUHAN; air pentahiran tidak ada disiramkan kepadanya, jadi ia tetap najis.
21 Itulah yang harus menjadi ketetapan bagi mereka untuk selama-lamanya. Orang yang menyiramkan air penyuci itu, ia harus mencuci pakaiannya, dan orang yang kena kepada air penyuci itu, ia menjadi najis sampai matahari terbenam. 22 Segala yang diraba orang yang najis itu menjadi najis dan orang yang kena kepadanya menjadi najis juga sampai matahari terbenam.

mempersiapkan abu lembu betina merah, membuat air pentahiran

Bilangan 19:1-10 berbicara tentang prosedur khusus mempersiapkan abu lembu betina merah. Barulah di ayat 11-22 dijelaskan kegunaan abu lembu betina merah yang dipakai membuat air penahiran, penyuci orang yang kena kepada mayat. Penjelasan berikut dibagi menjadi tiga poin:

• Keperluan air penahiran: dari semua kenajisan seremonial (bukan najis karena dosa moral), yang paling serius adalah kematian. Tidak hanya harus secepat mungkin menguburkan almarhum di luar tempat perkemahan, bahkan mereka yang menyentuh mayat dianggap najis dan harus ditangani dengan benar, jika tidak, mereka tidak diizinkan untuk mendekati Kemah Pertemuan. Ayat 11 terlebih dahulu berbicara bahwa orang yang kena kepada mayat, ia najis tujuh hari lamanya. Kata najis (ṭāmē’) ini sama dengan najis (ṭāmē’) yang disebutkan dalam Imamat pasal 11 sampai 15, sama-sama merujuk pada kenajisan ritual dan tidak ada hubungannya dengan dosa moral. Akan tetapi kenajisan ini tidak akan otomatis hilang begitu saja karena waktunya sudah selesai, orang tersebut tidak hanya harus membersihkan diri pada hari ketiga dan ketujuh, ia juga harus disiramkan air penahiran pada dirinya, jika tidak ia tetap dianggap najis.

• Objek dari air penahiran: yakni semua orang yang bersentuhan dengan mayat dianggap najis (ṭāmē’). Ini dibagi menjadi di dalam tenda dan di luar. Jika seseorang meninggal di dalam tenda, setiap orang yang masuk atau berada di dalam tenda dianggap najis (ṭāmē’), dan bahkan semua bejana yang terbuka dan tidak tertutup dihitung najis. Jika seseorang meninggal di alam terbuka, baik dibunuh atau mati sendiri, mayat, tulang, atau bahkan kuburan almarhum, siapa pun yang bersentuhan dengannya dianggap najis (ṭāmē’) dan harus ditahirkan dengan air penahiran.

• Cara penggunaan air penahiran: (1) pertama adalah membuat air penahiran (mê nîdâ). Masukkan abu hasil pembakaran lembu betina merah ke dalam bejana dan tambahkan air hidup (mengalir) yaitu air yang diambil dari mata air atau sungai hidup, bukan air yang ada di bak. (2) Selanjutnya, orang yang tahir (‘îš ṭāhôr, tidak harus seorang imam) mencelupkan rumput hisop ke dalam air penahiran yang telah disiapkan dan memercikkan air penahiran ke orang atau benda yang najis. Waktunya adalah hari ketiga dan ketujuh. Hari ketiga adalah awal pembersihan, dan hari ketujuh adalah selesainya pembersihan. Sehingga, orang yang najis karena bersentuhan dengan mayat akan ditahirkan.

Renungkan:
• Allah menyiapkan lembu betina merah untuk membuat air penahiran, bukan bagi orang mati, tetapi adalah bagi orang yang bersentuhan dengan orang mati. Bukan untuk masa lalu, tapi untuk masa depan. Bukan untuk beberapa orang, tetapi untuk semua orang, terlepas dari sengaja atau tidak disengaja, individu atau kelompok.

• Kenajisan yang disebabkan oleh kematian bersifat menular, tetapi dapat dihilangkan dengan air penahiran membuang kenajisan.

• Anugerah yang bersifat obyektif harus didapatkan secara subjektif sebelum menjadi pengalaman yang sebenarnya. Semua ini menunjuk pada Kristus yang mati sebagai pengganti, menghasilkan penebusan dan membawa pembersihan penahiran jiwa kehidupan.


Renungan pemahaman Kitab Bilangan 1-16

Renungan pemahaman Kitab Bilangan 17-36

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Bilangan 17-36 ditulis oleh Lài Jiàn Guó (賴建國) yang dipublikasi pada bulan Nopember 2020 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Iklan yang ada bukan milik blog ini, tetapi milik WordPress penyedia fasilitas blog tanpa biaya.

Yesaya 65:17-20

「Sukacita serta Kekalnya Langit dan Bumi Baru」
Oleh 高銘謙 (Gāo Míng Qiān)
Alliance Bible Seminary H.K.

(Yesaya 65:17-20 [ITB])
17 Sebab sesungguhnya, Aku menciptakan langit yang baru dan bumi yang baru; hal-hal yang dahulu tidak akan diingat lagi, dan tidak akan timbul lagi dalam hati. 18 Tetapi bergiranglah dan bersorak-sorak untuk selama-lamanya atas apa yang Kuciptakan, sebab sesungguhnya, Aku menciptakan Yerusalem penuh sorak-sorak dan penduduknya penuh kegirangan. 19 Aku akan bersorak-sorak karena Yerusalem, dan bergirang karena umat-Ku; di dalamnya tidak akan kedengaran lagi bunyi tangisan dan bunyi erangpun tidak. 20 Di situ tidak akan ada lagi bayi yang hanya hidup beberapa hari atau orang tua yang tidak mencapai umur suntuk, sebab siapa yang mati pada umur seratus tahun masih akan dianggap muda, dan siapa yang tidak mencapai umur seratus tahun akan dianggap kena kutuk.

Yesaya 65:17-25 mencatat penglihatan langit yang baru dan bumi yang baru, menjelaskan bahwa ini adalah keadaan hari akhir, dan dengan Yerusalem sebagai tema utamanya, menunjukkan adalah dunia yang baru dan yang ditransformasikan, bahkan tangis dan ratap yang dahulu tidak akan diingat lagi. Bagaimanakah dunia yang baru yang telah ditransformasikan? Kita akan membaginya menjadi renungan dalam dua hari.

Ayat 17 memakai kata Lihat sebagai pembuka (KJV: For, behold, ITB: Sebab sesungguhnya) , menjelaskan bahwa langit yang baru dan bumi yang baru adalah lingkungan yang membuat orang tercengang, dan menunjukkan bahwa segala sesuatu di masa lalu tidak lagi diingat. Di satu sisi, itu berarti bahwa situasi di langit yang baru dan bumi yang baru pasti tidak pernah dialami, di sisi lain, juga menunjukkan bahwa kekecewaan, kesulitan, dan penderitaan masa lalu tidak akan ada lagi, situasi di langit yang baru dan bumi yang baru begitu sempurna indah, sehingga semua kesedihan masa lalu tidak perlu disimpan di dalam hati lagi.

Unsur pertama dalam langit yang baru dan bumi yang baru adalah sukacita, tetapi sukacita itu sendiri bukanlah intinya, tetapi yang merupakan inti utama adalah karena apa (atas hal apa) sehingga sukacita itu ada. Ayat 18 menunjukkan bahwa sukacita yang dapat bertahan selamanya bukan karena materi dan uang, tetapi karena Yerusalem dan penduduknya yang diciptakan oleh TUHAN, dan fokusnya bukan pada Yerusalem atau penduduknya, tetapi atas apa yang Kuciptakan (bara), kata cipta ini merupakan kata yang digunakan oleh Allah dalam penciptaan langit dan bumi dalam Kejadian pasal 1, kata yang juga dipakai terhadap langit dan bumi yang baru di hari akhir ini. Ayat 18 menggunakan kata ini dalam bentuk partisipatif (participle), menjelaskan bahwa tindakan Allah mencipta di langit dan bumi yang baru adalah tindakan yang berkelanjutan dan tiada henti, dan umat Allah terus bersukacita dalam tindakan Allah mencipta ini, karena cipta ini terus menghadirkan pembaharuan dan kejutan. Ternyata dibangunnya Yerusalem dan penduduknya bukanlah di satu titik waktu, tetapi berkelanjutan terus menerus. Karena sukacita ini, maka umat Allah secara abadi kekal tidak lagi menangis dan tidak ada lagi kesedihan (ayat 19), artinya bahwa di langit yang baru dan bumi yang baru, umat Allah tidak lagi mengalami penindasan dan serangan orang jahat (orang fasik), semua dukacita karena kejahatan dan kekejaman tidak akan pernah terlihat lagi, dan semua itu menjadi fosil, tidak ada nilai untuk diingat lagi atau dipakai sebagai referensi.

Unsur kedua langit yang baru dan bumi yang baru adalah umur panjang, ayat 20 menyatakan bahwa tidak akan ada lagi bayi yang hanya hidup beberapa hari, dan tidak ada orang tua yang tidak mencapai umur panjang, ini adalah metafora yang menunjukkan bahwa umat Tuhan akan hidup selama-lamanya dan menikmati hidup kekal yang dianugerahkan Allah. Pada saat itu, waktu adalah abadi, atau mungkin tidak perlu memiliki konsep waktu lagi, setiap orang hidup selama-lamanya, jadi orang tidak perlu mengalami lagi penderitaan kematian, atau rasa sakit berkabung karena kematian orang yang dikasihi.

Renungkan:
Dua berkat dari langit baru dan bumi baru: umur panjang kekal dan sukacita kebahagiaan adalah hal-hal yang diinginkan oleh semua orang. Ini menjadi pengharapan kita untuk menghadapi kesulitan atau penderitaan yang ada di depan kita. Ketika kita menemukan bahwa kesulitan yang kita hadapi itu hanyalah sementara berumur pendek, dan kebahagiaan di hari akhir adalah yang abadi, kita tidak memiliki alasan untuk menjadi orang jahat, kita juga tidak akan dengan tidak bijaksana mengikuti jalan orang jahat (orang fasik), karena orang jahat tidak memiliki bagian dalam kekekalan, mereka mengejar kesenangan jangka pendek dan kehilangan sukacita abadi, mereka mengejar kesenangan yang singkat dalam hidup sekarang tetapi dengan bodoh telah mengabaikan kehidupan abadi. Berdoa kiranya Tuhan memberi kita kebijaksanaan untuk memilih, karena kita masing-masing harus memilih jalan yang kita hidupi.


Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain

Renungan pemahaman Kitab Yesaya (1-55)

Renungan pemahaman Kitab Yesaya 56-66


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Yesaya 56-66 ditulis oleh 高銘謙 (Gāo Míng Qiān) yang dipublikasi pada bulan Mei 2020 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Iklan yang ada bukan milik blog ini, tetapi milik WordPress penyedia fasilitas blog tanpa biaya.

27 Februari – KAMIS SETELAH RABU ABU. Pilihlah Kehidupan

Oleh
Mr Michael Perreau
Director General United Bible Societies.
Penerjemah: Team WMC

Ulangan 30:15-20

15 “Ingatlah, aku menghadapkan kepadamu pada hari ini kehidupan dan keberuntungan, kematian dan kecelakaan, 16 karena pada hari ini aku memerintahkan kepadamu untuk mengasihi TUHAN, Allahmu, dengan hidup menurut jalan yang ditunjukkan-Nya dan berpegang pada perintah, ketetapan dan peraturan-Nya, supaya engkau hidup dan bertambah banyak dan diberkati oleh TUHAN, Allahmu, di negeri ke mana engkau masuk untuk mendudukinya.
17 Tetapi jika hatimu berpaling dan engkau tidak mau mendengar, bahkan engkau mau disesatkan untuk sujud menyembah kepada allah lain dan beribadah kepadanya, 18 maka aku memberitahukan kepadamu pada hari ini, bahwa pastilah kamu akan binasa; tidak akan lanjut umurmu di tanah, ke mana engkau pergi, menyeberangi sungai Yordan untuk mendudukinya.
19 Aku memanggil langit dan bumi menjadi saksi terhadap kamu pada hari ini: kepadamu kuperhadapkan kehidupan dan kematian, berkat dan kutuk. Pilihlah kehidupan, supaya engkau hidup, baik engkau maupun keturunanmu, 20 dengan mengasihi TUHAN, Allahmu, mendengarkan suara-Nya dan berpaut pada-Nya, sebab hal itu berarti hidupmu dan lanjut umurmu untuk tinggal di tanah yang dijanjikan TUHAN dengan sumpah kepada nenek moyangmu, yakni kepada Abraham, Ishak dan Yakub, untuk memberikannya kepada mereka.”

Renungan
“Tatkala fajar memperbaharui wajah bumi yang membawa terang dan kehidupan bagi semua ciptaan, kiranya kita bersukacita di hari ini” dibacakan pada Doa Pagi. Setiap hari baru saat kita terjaga, disegarkan dari kepulasan tidur kita memiliki pilihan untuk dibuat. Allah mengundang kita untuk memasuki dunia-Nya, kerajaan-Nya dan memilih kehidupan.

Secara tradisional di masa Pra Paskah kita menghabiskan waktu untuk merenungkan Firman Allah. Sekarang di saat kita merenungkan perikop dalam kitab Ulangan, perkataan Musa tentang tantangan atas ketaatan. “Jika engkau memegang ketetapan-ketetapan itu Tuhan Allahmu akan memberkati engkau.”
Ketetapan yang terutama dan terbesar adalah “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu.”
Taat dan kasih kelihatannya saling bertentangan, Allah memanggil kita untuk taat, tetapi panggilan-Nya yang pertama adalah untuk mengasihi. Inilah hukum yang terutama, untuk mengasihi. Sekali kita mengasihi, ketaatan akan mengikuti tanpa kesukaran. Allah tidak memaksakan kehendak-Nya pada seseorang. Dia mengijinkan kita untuk memutuskan apakah mau mengikut Dia dan memilih hidup di dalam kepenuhannya. Di awal setiap hari dalam setiap situasi baru, kita perlu berhenti, berpikir, berdoa dan sekali lagi memilih mengikuti Sang Pemberi kehidupan, Bapa, Anak dan Roh Kudus.
Berjalan Bersama melalui perjalanan Pra Paskah ini berkali-kali kita akan jatuh cinta dengan Allah sekali dan sekali lagi dan kasih kita kepada sesama akan mekar dan berkembang.

Hari ini ketika engkau bangun di sinar pagi, pilihlah hidup di dalam terang Firman Allah, saling mendorong satu dengan lainnya. Kiranya engkau boleh memberitahukan satu sama lainnya bagaimana engkau telah memilih untuk menghidupi kehidupanmu yang unik dan Indah. Engkau akan menjadi berkat!

Doa
Yesus, tatkala fajar memperbaharui wajah bumi membawa cahaya-Mu, tolonglah kami pada hari ini dengan sungguh-sungguh memilih kehidupan dalam kepenuhan. Di dalam setiap situasi baru yang kami hadapi hari ini, ingatkan kami untuk mengikuti sinar-Mu, Firman-Mu dan hidup-Mu. Amen

Tindakan
Luangkan waktu hari ini merenungkan dan mendoakan bagaimana engkau mau taat pada Firman Allah melalui pengertian yang lebih mendalam akan kasih-Nya yang dalam untuk-mu. Lihatlah bagaimana ketaatan akan mengalir saat engkau mengerti kasih-Nya yang kaya. Ceritakan pada seseorang tentang kasih Allah padanya.

Diterjemahkan dari terbitan: Singapore Bible Society (2020).
Untuk Kalangan Kristen

(Iklan yang ada adalah milik WordPress penyedia sarana gratis WEB ini)