Tag Archives: Gereja

Efesus 1:1-2

「Oleh kehendak Allah」

Oleh Dr. Ronnie Poon (潘仕楷)
Alliance Bible Seminary H.K.

(Efesus 1:1-2 [ITB])
1 Dari Paulus, rasul Kristus Yesus oleh kehendak Allah, kepada orang-orang kudus di Efesus, orang-orang percaya dalam Kristus Yesus. 2 Kasih karunia dan damai sejahtera dari Allah, Bapa kita dan dari Tuhan Yesus Kristus menyertai kamu.

Dalam renungan bulan ini, kita akan memikirkan berita dari Surat Efesus pasal 1-3. Meskipun Efesus adalah kitab yang relatif pendek, namun menyampaikan berita yang mengandung teologis yang sangat kaya, dengan penekanan khusus pada sifat dan misi gereja. Struktur surat ini secara kasar dapat dibagi menjadi dua bagian: pasal 1 sampai 3 menggunakan dua doa sebagai kerangka untuk menggambarkan secara rinci keselamatan yang telah digenapkan oleh Allah dalam Kristus Yesus, terutama mendeskripsikan secara mendalam sifat dari komunitas orang yang diselamatkan. Renungan bulan ini akan bertolak dari bagian pertama ini (pasal 1-3) untuk merefleksikan karya tindakan Tuhan di dalam gereja, berharap melalui perenungan atas anugerah Allah yang kaya ini, kita akan memiliki pemahaman yang lebih dalam tentang kehendak Allah.

Ayat Alkitab yang diambil untuk renungan ini untuk setiap hari relatif singkat, sehingga dalam bagian pembacaan ayat yang direnungkan akan menyertakan teks sebelum dan sesudahnya, sehingga saudara dan saudari bisa memiliki pemahaman yang lebih baik tentang alur konteks dari ayat yang direnungkan.

Efesus 1:1-2 merupakan bagian pembukaan surat ini. Di zaman kerajaan Yunani dan Romawi, sebuah surat biasanya dengan sangat sederhana menjelaskan situasi penulisan, tetapi dalam surat Paulus, kita dapat mengamati pendapat dia tentang penulis surat dan kelompok penerima surat, membuat kita dapat melihat pandangan iman yang diekspresikan di dalamnya.

Pertama, Paulus menunjukkan bahwa dirinya sebagai rasul Kristus Yesus, itu adalah oleh kehendak Allah. Dalam pasal 1 surat Efesus ini berulang empat kali menggunakan kata kehendak Allah, mencerminkan bahwa ini adalah tema di dalam surat ini yang dipandang penting oleh Paulus. Di sini selain memperkenalkan identitasnya, di ayat 1:5 dia menunjukkan sesuai dengan kerelaan kehendak-Nya, kita telah ditentukan dari semula untuk menjadi anak-anak-Nya melalui Yesus Kristus; lalu ayat 1:9 menunjukkan bahwa karena kehendak Allah sehingga memungkinkan kita untuk mengenal rahasia kehendak-Nya; dan ayat 1:11 menunjukkan: sesuai dengan keputusan kehendak Allah, kita yang dari semula ditentukan Dia untuk menerima bagian warisan di dalam Kristus. Dengan kata lain, identitas dan misi seorang Kristen semuanya memiliki dasar kehendak Allah.

Dari segi penerima surat, karena beberapa salinan manuskrip kuno tidak mencantumkan kata Efesus, maka surat ini juga memiliki fungsi sebagai surat edaran. Meskipun kita memiliki alasan yang sangat kuat untuk percaya bahwa kata Efesus ini ada dalam surat aslinya, namun hal ini membuat kita juga memperhatikan bahwa terdapat pesan yang bersifat universal dalam surat ini yang tidak melulu tertuju pada masalah-masalah gereja di Efesus, tetapi membahas makna Gereja secara lebih umum dan realisasi misi yang diberikan Allah kepada gereja. Di sini Paulus menggunakan dua kata sifat untuk menggambarkan penerima surat. Pertama-tama, penerima surat ini adalah kata kudus, dalam Perjanjian Baru, kata sifat ini biasanya diterjemahkan sebagai orang-orang kudus, yang mencerminkan bahwa orang Kristen adalah sekelompok orang yang telah dikuduskan. Aspek kedua, penerima surat dideskripsikan sebagai orang percaya dalam Kristus Yesus (atau setia kepada Kristus Yesus lihat BIMK, ISH, CUV). Terjemahan LuZhenzhong adalah orang yang setia percaya, sedangkan terjemahan Studium Biblicum adalah orang yang percaya kepada Kristus Yesus. Terjemahan yang berbeda ini karena dalam bahasa aslinya, πιστός pistós bisa berarti kesetiaan dan juga iman. Secara umum, ketika konteksnya membahas beberapa tugas atau misi, kata tersebut seharusnya merujuk pada arti kesetiaan, tetapi dalam konteks di sini tidak secara jelas membahas tugas tanggung jawab, jadi mungkin di sini tepat juga untuk menerjemahkannya sebagai percaya / beriman. Di sisi lain, identitas seorang kudus bisa juga mengandung arti tugas dan misi, sehingga bisa juga memiliki arti kesetiaan. Kenyataannya, kesetiaan dan iman adalah konsep yang tidak bisa dipisahkan, kesetiaan tanpa iman itu buta, dan iman tanpa kesetiaan itu munafik.

Akhirnya, Paulus menyapa dengan cara standarnya. Kasih karunia adalah sapaan secara Yunani, dan damai sejahtera adalah sapaan secara Yahudi. Salam Paulus sepenuhnya mencerminkan konsep universal tentang keselamatan, komunitas baru yang didirikan oleh Yesus Kristus melintasi batas budaya. Kasih karunia Tuhan tidak terbatas, dan semua orang adalah pihak yang Dia ingin selamatkan.

Renungkan:
Kiranya kita memahami kehendak Tuhan dan kita sesuai dengan kasih karunia-Nya mengabarkan keselamatan Yesus Kristus kepada manusia di dunia.

Tambahan penerjemah: Oleh karena kehendak Allah yang cakupannya lintas budaya, tidak hanya terbatas pada satu bangsa atau satu budaya saja, bagaimana kita sesuai kehendak Allah memberitakan kehendak Allah kepada dunia yang berbeda budaya, berinteraksi dengan dunia yang ada di sekitar kita, namun tetap menjaga keutuhan identitas dan iman kita sebagai orang kudus yang πιστός pistós percaya dan yang setia kepada Yesus Kristus?


Renungan pemahaman Surat Efesus

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Surat Efesus 1-3 ditulis oleh 潘仕楷 (Pān Shì Kǎi) yang dipublikasi pada bulan Desember 2020 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Iklan yang ada bukan milik blog ini, tetapi milik WordPress penyedia fasilitas blog tanpa biaya.

Wahyu 21:9-17

「Gereja Kristus adalah Kota Suci, adalah Bait Suci」
Oleh 吳慧儀 (Wú Huì Yí)

Alliance Bible Seminary H.K.

(Why. 21:9-17 [ITB])
9 Maka datanglah seorang dari ketujuh malaikat yang memegang ketujuh cawan, yang penuh dengan ketujuh malapetaka terakhir itu, lalu ia berkata kepadaku, katanya: Marilah ke sini, aku akan menunjukkan kepadamu pengantin perempuan, mempelai Anak Domba. 10 Lalu, di dalam roh ia membawa aku ke atas sebuah gunung yang besar lagi tinggi dan ia menunjukkan kepadaku kota yang kudus itu, Yerusalem, turun dari sorga, dari Allah. 11 Kota itu penuh dengan kemuliaan Allah dan cahayanya sama seperti permata yang paling indah, bagaikan permata yaspis, jernih seperti kristal. 12 Dan temboknya besar lagi tinggi dan pintu gerbangnya dua belas buah; dan di atas pintu-pintu gerbang itu ada dua belas malaikat dan di atasnya tertulis nama kedua belas suku Israel. 13 Di sebelah timur terdapat tiga pintu gerbang dan di sebelah utara tiga pintu gerbang dan di sebelah selatan tiga pintu gerbang dan di sebelah barat tiga pintu gerbang. 14 Dan tembok kota itu mempunyai dua belas batu dasar dan di atasnya tertulis kedua belas nama kedua belas rasul Anak Domba itu.
15 Dan ia, yang berkata-kata dengan aku, mempunyai suatu tongkat pengukur dari emas untuk mengukur kota itu serta pintu-pintu gerbangnya dan temboknya. 16 Kota itu bentuknya empat persegi, panjangnya sama dengan lebarnya. Dan ia mengukur kota itu dengan tongkat itu: dua belas ribu stadia; panjangnya dan lebarnya dan tingginya sama. 17 Lalu ia mengukur temboknya: seratus empat puluh empat hasta, menurut ukuran manusia, yang adalah juga ukuran malaikat.

Kemarin kita membaca langit dan bumi baru serta membawakan serangkaian hal baru, salah satunya adalah kota suci ─ Yerusalem baru, seperti seorang pengantin perempuan berpakaian rapi, menunggu suaminya. Jadi bagaimana pakaian pengantin wanita ini? Ayat-ayat berikutnya adalah close-up (foto yang diambil dari jarak sangat dekat sehingga objek foto terlihat jelas), ini sangat penting bagi orang Kristen karena pengantin perempuan ini melambangkan Gereja Kristus. Kita akan membagi close-up yang cukup panjang ini menjadi tiga bagian: hari ini Why. 21:9-17 melihat penampilan luar kota suci ini; besok Why. 21:18-21 melihat bahan bangunan kota suci, setara dengan keindahan pengantin perempuan, mempelai Anak Domba; lusa Why. 21:22-22:5 untuk melihat kehidupan di dalam kota suci.

Ini adalah keempat kalinya Yohanes diinspirasikan oleh Roh Kudus dan dibawa ke suatu tempat untuk melihat penglihatan tersebut. Ini adalah yang terakhir yang dicatat dalam kitab ini (ayat 9-10; lihat Why. 1:10-20 dan renungan Why. 1:10-20). Sebelumnya, ia dibawa ke padang gurun untuk melihat pelacur besar itu dihukum, sekarang ini ia dibawa ke atas sebuah gunung yang besar lagi tinggi untuk melihat pengantin perempuan yang kudus. Nabi Yehezkiel dari Perjanjian Lama pernah dibawa ke atas gunung yang tinggi sekali untuk melihat sebuah bangunan yang merupakan kota, yang juga Bait (Yeh. 40:1-48:35). Ada keserupaan dengan perikop di sini — misalnya, ada tiga gerbang di tenggara dan barat laut (Why. 21:12; lih. Yeh. 48:31-34), dan kemiripan antara keduanya membantu kita memahami bahwa Kota Suci yang turun dari langit ini pada saat yang sama juga merupakan Bait di mana Allah hadir!

Kitab Suci mengatakan: Kota itu penuh dengan kemuliaan Allah dan cahayanya sama seperti permata yang paling indah, bagaikan permata yaspis, jernih seperti kristal (ayat 11). Ini adalah deskripsi yang sangat penting, menunjukkan bahwa Gereja Kristus hendaknya mencerminkan kemuliaan Allah; dalam pasal 4, takhta juga digambarkan bagaikan permata yaspis dan permata sardis (Why. 4:3), gambaran ini menunjukkan kemuliaan keindahan Allah. Ini sangat berbeda dengan hiasan indah pelacur besar dan Babel yang dibicarakan dalam pasal 17.

Melihat struktur Kota Suci: temboknya besar lagi tinggi memiliki dua belas gerbang, di atas pintu-pintu gerbang itu tertulis nama kedua belas suku Israel, dan tembok kota itu mempunyai dua belas batu dasar dan di atasnya tertulis kedua belas nama kedua belas rasul Anak Domba itu (ayat 12, 14). Ini membuatnya cukup jelas bahwa identitas mempelai wanita adalah umat Allah, termasuk umat pilihan Perjanjian Lama dan orang-orang Kristen Perjanjian Baru.

Lalu Yohanes diberitahu untuk mengukur kota itu serta pintu-pintu gerbangnya dan temboknya (ayat 15); penuh dengan simbol! Pertama-tama, Why. 11:1 mengukur Bait Allah melambangkan penerimaan dan perlindungan Allah atas umat-Nya (lihat renungan Wahyu 11:1-4). Lihatlah bentuk kota suci: itu adalah sebuah kubus, panjang, lebar, dan tinggi yang sama (ayat 16). Ini tidak mungkin merupakan struktur umum sebuah kota, tetapi bagian dalam Bait Allah, setara dengan tempat maha kudus bagian dalam dari Kemah Pertemuan (1 Raj. 6:20), ini merupakan gambaran yang lebih jauh bahwa Yerusalem Baru memiliki peran Bait Suci. Panjang dan lebar sama-sama 12.000 stadia, dan tembok kota adalah 144 hasta; angka-angka ini terkait dengan umat kudus, yang juga berarti bahwa: Kota Suci dari langit baru dan bumi baru — yakni Bait Suci, dibentuk dari orang-orang kudus.

Kita percaya bahwa kehendak Allah adalah untuk memperbaharui Gereja, sampai langit baru dan bumi baru selesai sempurna maka Gereja milik Kristus siap untuk menjadi kota suci seperti yang ada dalam penglihatan Yohanes — yang menampilkan Bait Suci. Oleh karena itu, gambaran yang di sini harus menjadi pengingat yang indah bagi orang Kristen, terutama para pemimpin gereja.

Renungkan:

Teks perikop ini menekankan tingginya Kota Suci dan kokoh kuat temboknya — setebal 144 hasta, setara dengan 66 meter atau 216 kaki. Renungkan apa yang dilambangkan oleh tinggi dan kekokohan ini? Apakah ini situasi gereja Anda saat ini?

Jika bentuk kubus adalah Bait Suci, makna dari Tempat Kudus, lalu gereja sepatutnya memiliki sifat khusus atau fungsi yang bagaimana?


Renungan pemahaman kitab Wahyu (klik untuk membuka)

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain (klik untuk membuka)


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Wahyu 10-22 ditulis oleh 吳慧儀 (Wú Huì Yí) yang dipublikasi pada bulan September 2019, merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Iklan yang ada bukan milik blog ini, tetapi milik WordPress penyedia fasilitas blog tanpa biaya.

Wahyu 19:1-10

「Rubuh Pelacur, Pengantin Diberkati」
Oleh 吳慧儀 (Wú Huì Yí)

Alliance Bible Seminary H.K.

(Why. 19:1-10 [ITB])
1 Kemudian dari pada itu aku mendengar seperti suara yang nyaring dari himpunan besar orang banyak di sorga, katanya: Haleluya! Keselamatan dan kemuliaan dan kekuasaan adalah pada Allah kita, 2 sebab benar dan adil segala penghakiman-Nya, karena Ialah yang telah menghakimi pelacur besar itu, yang merusakkan bumi dengan percabulannya; dan Ialah yang telah membalaskan darah hamba-hamba-Nya atas pelacur itu.
3 Dan untuk kedua kalinya mereka berkata: Haleluya! Ya, asapnya naik sampai selama-lamanya.
4 Dan kedua puluh empat tua-tua dan keempat makhluk itu tersungkur dan menyembah Allah yang duduk di atas takhta itu, dan mereka berkata: Amin, Haleluya.
5 Maka kedengaranlah suatu suara dari takhta itu: Pujilah Allah kita, hai kamu semua hamba-Nya, kamu yang takut akan Dia, baik kecil maupun besar!
6 Lalu aku mendengar seperti suara himpunan besar orang banyak, seperti desau air bah dan seperti deru guruh yang hebat, katanya: Haleluya! Karena Tuhan, Allah kita, Yang Mahakuasa, telah menjadi raja. 7 Marilah kita bersukacita dan bersorak-sorai, dan memuliakan Dia! Karena hari perkawinan Anak Domba telah tiba, dan pengantin-Nya telah siap sedia. 8 Dan kepadanya dikaruniakan supaya memakai kain lenan halus yang berkilau-kilauan dan yang putih bersih! [Lenan halus itu adalah perbuatan-perbuatan yang benar dari orang-orang kudus.]
9 Lalu ia berkata kepadaku: Tuliskanlah: Berbahagialah mereka yang diundang ke perjamuan kawin Anak Domba. Katanya lagi kepadaku: Perkataan ini adalah benar, perkataan-perkataan dari Allah.
10 Maka tersungkurlah aku di depan kakinya untuk menyembah dia, tetapi ia berkata kepadaku: Janganlah berbuat demikian! Aku adalah hamba, sama dengan engkau dan saudara-saudaramu, yang memiliki kesaksian Yesus. Sembahlah Allah! Karena kesaksian Yesus adalah roh nubuat.

Kita sebelumnya telah melihat tiga nyanyian ratapan (ayat 9-10, 11-17a, 17b-19) , dan dalam perikop kemarin kita melihat kontras antara kesedihan dan sukacita (ayat 18:20-24), tetapi belum melihat pujian sukacita. Namun, setelah sampai pembacaan ayat-ayat hari ini, kita melihat lagu nyanyian sukacita (ayat 7), lagu ini jauh dari lagu berkabung di pasal 18. Dalam lagu ini, ada empat kali Haleluya (ayat 1, 3, 4, 6), yang setara dengan terpujilah TUHAN dalam bahasa Ibrani, frasa yang sudah kita kenal dengan baik. Kata ini diterjemahkan ke dalam bahasa Yunani Haleluya hanya muncul empat kali dalam Perjanjian Baru, dan semua hanya dalam paragraf ini. Oleh karena itu, lagu pujian dari paragraf ini adalah satu-satunya himne Haleluya dalam Perjanjian Baru.

Kita dapat dengan jelas menemukan dua alasan untuk memuji Tuhan dari dua sub-bagian dalam paragraf ini. Paragraf pendek pertama adalah ayat 1-4, di sini dikatakan bahwa penghakiman Allah atas pelacur besar itu benar dan adil karena ia merusakkan dunia dengan percabulannya (ayat 2a). Ini adalah alasan untuk menerima salah satu dari pujian di atas, yaitu dosa Babel dan digulingkannya Babel. Paragraf pendek ini memiliki frasa Haleluya di awal, di tengah, dan di akhir, sangat memiliki melodi suasana kemenangan. Memang benar bahwa ketika dosa dihakimi dan orang teraniaya diselamatkan, menanglah kebenaran keadilan. Oleh karena itu, beberapa sarjana menerjemahkan keselamatan menjadi kemenangan, dan sehingga lagu ini dimulai demikian: Haleluya! Kemenangan dan kemuliaan dan kekuasaan adalah pada Allah kita (ayat 1b, misal terjemahan fungsional ERV)

Paragraf pendek berikutnya adalah ayat 5-8, mengatakan alasan lain untuk memuji Allah: Haleluya! Karena Tuhan, Allah kita, Yang Mahakuasa, telah menjadi raja (ayat 6). Ini dapat dikatakan sebagai gambaran awal bagi teks selanjutnya, pasal 19 memang berbicara tentang Tuhan akan datang kembali, yaitu Kerajaan Allah diwujudkan sepenuhnya pada hari-hari terakhir. Dalam literatur Yahudi, pesta pernikahan adalah simbol dari kedatangan Kerajaan Mesianik; di sini Wahyu menggunakan pengantin wanita untuk mewakili umat milik Mesias, mewakili hubungan dekat antara gereja dan Kristus, dan juga mengajarkan kita bahwa di dunia hendaklah hidup sebagai yang dipisahkan untuk disucikan, setia tidak mendua hati, ketika Tuhan datang kembali, sudah mempersiapkan diri dan bertemu dengan Tuhan (ayat 7). Pada saat itu, orang-orang kudus akan dianugerahkan dengan rahmat: memakai kain lenan halus yang berkilau-kilauan dan yang putih bersih (ayat 8). Kostum orang-orang kudus berbeda demikian besar dari diri pelacur besar! (Why. 17:4 perempuan itu memakai kain ungu dan kain kirmizi yang dihiasi dengan emas, permata dan mutiara, dan di tangannya ada suatu cawan emas penuh dengan segala kekejian dan kenajisan percabulannya. )

Dari pembacaan teks sebelumnya hingga paragraf ini, kita selalu melihat kontras perbandingan yang berbeda: rubuh ditunggangbalikkan, pahala; pelacur, pengantin; kenajisan percabulan, tindakan kebenaran suci; ratapan, lagu Haleluya. Serangkaian perbandingan ini menunjukkan satu hal: yang benar dan yang salah, adalah hal yang dapat diidentifikasikan serta dibedakan dengan jelas; apakah saya tahu bagaimana membedakan yang bagus dan yang buruk, yang baik dan yang jahat, dan membuat pilihan yang tepat dari antara keduanya? Dunia saat ini menjadi semakin rumit, sehingga banyak orang merasa bahwa hitam dan putih itu abu-abu kabur dan tidak ingin membedakan mana yang benar dan yang salah. Namun, penghakiman Allah adalah adil dan benar (ayat 2), Ia akan menghakimi dengan kebijaksanaan tertinggi dan standar yang adil! Maka marilah kita memilih untuk menjadi umat yang kudus, mempersiapkan gereja seperti mempelai wanita, untuk menunggu Tuhan datang kembali, untuk bertemu dengan Tuhan, dan untuk menghadiri perjamuan kawin Anak Domba yang penuh bahagia (ayat 9).

Renungkan:

Dalam Perjanjian Lama, frasa terpujilah TUHAN (Yahweh) muncul terutama dalam Mazmur, sekitar dua puluh kali. Coba periksalah kitab Mazmur dan renungkan, apa alasan mengapa pemazmur memuji TUHAN?

Mengenal kebenaran Allah bukan berarti memainkan peran sebagai Allah untuk melaksanakan kebenaran keadilan. Sebab amarah manusia tidak mengerjakan kebenaran di hadapan Allah. (Yakobus 1:20) Tetapi bagaimana saya menghidupi kebenaran keadilan Allah dalam kehidupan saya?


Renungan pemahaman kitab Wahyu (klik untuk membuka)

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain (klik untuk membuka)


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Wahyu 10-22 ditulis oleh 吳慧儀 (Wú Huì Yí) yang dipublikasi pada bulan September 2019, merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Iklan yang ada bukan milik blog ini, tetapi milik WordPress penyedia fasilitas blog tanpa biaya.

Wahyu 12:13-17

「Kejam Padang Belantara, Bahagia Penyertaan Tuhan」
Oleh 吳慧儀 (Wú Huì Yí)

Alliance Bible Seminary H.K.

(Why. 12:13-17 [ITB])
13 Dan ketika naga itu sadar, bahwa ia telah dilemparkan di atas bumi, ia memburu perempuan yang melahirkan Anak laki-laki itu.
14 Kepada perempuan itu diberikan kedua sayap dari burung nasar yang besar, supaya ia terbang ke tempatnya di padang gurun, di mana ia dipelihara jauh dari tempat ular itu selama satu masa dan dua masa dan setengah masa.
15 Lalu ular itu menyemburkan dari mulutnya air, sebesar sungai, ke arah perempuan itu, supaya ia dihanyutkan sungai itu.
16 Tetapi bumi datang menolong perempuan itu. Ia membuka mulutnya, dan menelan sungai yang disemburkan naga itu dari mulutnya.
17 Maka marahlah naga itu kepada perempuan itu, lalu pergi memerangi keturunannya yang lain, yang menuruti hukum-hukum Allah dan memiliki kesaksian Yesus.

Pasal 12 dapat dibagi menjadi tiga bagian kecil, dalam setiap bagian terlihat bahwa naga merah dilemparkan, tetapi fokus penekanan pada setiap bagian tidak sama. Bagian pertama, ayat 4b: setelah naga dilemparkan ke bumi, hendak menelan Sang Anak, yakni ingin membinasakan Yesus Kristus. Bagian kedua ayat 9: naga bertempur melawan penghulu malaikat Mikhael, kalah, dilemparkan ke bumi, karena itu setan tidak bisa menang atas Kritus. Bagian ketiga, ayat 13 dari perikop renungan hari ini: fokusnya adalah penganiayaan Setan terhadap Gereja, karena pada awal bagian ini dikatakan, ia (naga) telah dilemparkan di atas bumi, ia memburu (menganiaya) perempuan yang melahirkan Anak laki-laki itu, kita melanjutkan membacanya dapat melihat gambaran tentang penganiayaan dari naga: ular itu menyemburkan dari mulutnya air, sebesar sungai, ke arah perempuan itu, supaya ia dihanyutkan sungai itu (ayat 15), menunjukkan bahwa niat utama naga itu adalah untuk membinasakan Gereja Kristus. Air yang menyembur seperti sungai, air besar adalah simbol bencana dalam Perjanjian Lama, misalnya, air yang meluas mengamuk dari utara menjadi sungai yang membanjir menggambarkan musuh (Yer. 47:2), dan banjir besar adalah metafora untuk kesengsaraan. (Mzm. 32:6). Bencana seperti itu keluar dari mulut naga, menggambarkan tipu daya Setan, menyerang, memfitnah, menuduh, menggunakan kebohongan, menggunakan kata-kata jahat, dan ajaran guru palsu untuk mencoba mengambil orang-orang percaya dan membuat mereka meninggalkan serta mencampakkan Allah, atau memecah-belah gereja, berserakan seperti disembur deras sungai, bahkan mencelakai, memfitnah, menindas, menenggelamkan gereja. Namun, jangan takut, bumi … membuka mulutnya, dan menelan sungai yang disemburkan naga itu (ayat 16), metafora ini berasal dari nyanyian Musa di kitab Keluaran, yang berarti bahwa Allah melakukan mukjizat untuk menghancurkan musuh, sama seperti Allah membuat tentara Mesir ditelan habis saat mengejar umat Allah (Kel. 15:12)!

Dalam paragraf pertama, perempuan itu melarikan diri ke padang gurun telah disediakan suatu tempat baginya oleh Allah (ayat 6). Dalam bagian ketiga ini, dituliskan deskripsi yang lebih terperinci tentang pelarian perempuan itu ke padang belantara: diberikan kedua sayap dari burung nasar yang besar, sehingga ia mampu terbang ke tempatnya di padang gurun (ayat 14). Gambar ini juga berasal dari Keluaran Mesir, menggambarkan betapa menakjubkan orang Israel ketika mereka keluar dari Mesir, seolah-olah mereka didukung dan digendong di atas sayap rajawali yang besar serta dapat terbang, ini sebenarnya adalah keselamatan Allah (lih. Kel. 19:4; Ul. 32:11-12).

Ini mirip dengan pengalaman kita saat ini. Orang yang melayani Tuhan sering mengalami pemeliharaan khusus dari Tuhan dalam keadaan sulit. Kadang-kadang sangat sukar untuk dijelaskan, bagaimana bersukacita di tahun-tahun penuh penderitaan yang sulit, untuk menikmati kelimpahan hidup, seperti ada Manna untuk makan, itu ajaib luar biasa, itu adalah dipelihara oleh Tuhan (ayat 6, 14). Juga, di dalam kekosongan hutan belantara yang tidak menyediakan apapun, Tuhan telah mempersiapkan tempatnya bagi kita, ini tidak merujuk pada sebuah ruangan tempat, tetapi menunjuk pada kehadiran Allah di mana saja, kapan saja, untuk jauh dari tempat ular itu hindarkan kita dari yang jahat, tempat teraman adalah di mana Allah berada (ayat 14b)!

Renungkan:

Orang-orang Israel melarikan diri dari Mesir, berjalan melalui padang belantara, melewati tempaan, dan akhirnya memasuki Kanaan. Pengalaman mereka dicatat dalam Alkitab dan berulang kali dikutip sebagai pelajaran bagi umat Allah. Pelajaran apa yang dapat saya lihat dalam ayat-ayat hari ini?

Ketika orang menghadapi penderitaan, mereka dapat mencoba bermain untuk gembira dalam kepahitan, tetapi hanya mereka yang memiliki iman kepada Tuhan yang dapat mengalami berkat dalam penderitaan. Apakah Anda mencoba bermain untuk gembira dalam kepahitan, ataukah Anda sudah mengalami berkat dalam penderitaan?


Renungan pemahaman kitab Wahyu (klik untuk membuka)

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain (klik untuk membuka)


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Wahyu 10-22 ditulis oleh 吳慧儀 (Wú Huì Yí) yang dipublikasi pada bulan September 2019, merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Iklan yang ada bukan milik blog ini, tetapi milik WordPress penyedia fasilitas blog tanpa biaya.

Wahyu 11:1-4

「Gereja — Saksi Dibangun Ulangnya Bait Allah」
Oleh 吳慧儀 (Wú Huì Yí)

Alliance Bible Seminary H.K.

(Why. 11:1-4 [ITB])
1 Kemudian diberikanlah kepadaku sebatang buluh, seperti tongkat pengukur rupanya, dengan kata-kata yang berikut: Bangunlah dan ukurlah Bait Suci Allah dan mezbah dan mereka yang beribadah di dalamnya. 2 Tetapi kecualikan pelataran Bait Suci yang di sebelah luar, janganlah engkau mengukurnya, karena ia telah diberikan kepada bangsa-bangsa lain dan mereka akan menginjak-injak Kota Suci empat puluh dua bulan lamanya.
3 Dan Aku akan memberi tugas kepada dua saksi-Ku, supaya mereka bernubuat sambil berkabung, seribu dua ratus enam puluh hari lamanya. 4 Mereka adalah kedua pohon zaitun dan kedua kaki dian yang berdiri di hadapan Tuhan semesta alam.

Sama seperti makan gulungan kitab pada paragraf sebelumnya adalah tindakan metaforis, bagian ini menuliskan bahwa Yohanes telah diperintahkan untuk mengukur bait Allah, altar, dan orang-orang yang beribadah di Bait Suci (ayat 1), tindakan ini juga merupakan tindakan metaforis dengan makna arti yang juga berasal dari kitab Yehezkiel. Nabi Yehezkiel dalam penglihatan melihat bahwa seseorang telah mengukur Bait Allah secara keseluruhan (Yeh. 40 sampai 48), yang berarti bahwa Allah akan memulihkan kembali umat-Nya di hari-hari terakhir, membersihkan mereka, dan dipisahkan untuk menjadi kudus. Bait Suci adalah tempat Allah beserta bersama manusia, dan mengukur Bait Suci adalah penerimaan dan perlindungan Allah bagi umat-Nya. Dalam Wahyu, ada banyak metafora yang terkait dengan Bait Suci, seperti imam (Why. 1:6) dan kaki dian emas (Why. 1:12), semuanya merujuk pada orang Kristen dan gereja. Yesus berjanji kepada gereja Filadelfia: yang menang, akan dijadikan sokoguru Bait Suci (Why. 3:12), yang juga berarti bahwa gereja yang menang mendapat bagian membangun Bait Suci di akhir zaman. Dalam paragraf ini, apa yang akan diukur oleh Yohanes, yakni yang Allah ingin lindungi, adalah Bait Suci zaman akhir, Gereja milik Kristus.

Mengapa pelataran Bait Suci yang di sebelah luar, janganlah engkau mengukurnya (ayat 2a) Teks mengatakan: telah diberikan kepada bangsa-bangsa lain … (ayat 2b). Sampai di sini, kita dapat dengan mudah berpikir bahwa pelataran Bait Suci yang di sebelah luar mengacu pada bagian luar Bait, adalah dunia orang-orang yang tidak percaya. Sebenarnya, menurut struktur bait suci, pelataran sebelah luar juga merupakan bagian dari Bait Suci. Itu adalah area batasan yang dapat didatangi oleh bangsa-bangsa lain, ayat 2c mengatakan: mereka akan menginjak-injak Kota Suci empat puluh dua bulan lamanya, dan Kota Suci itu juga area ruang lingkup Allah. Dalam kitab Wahyu (lih. Why 3:12; 21:2, 10), kata Kota Suci bukanlah Yerusalem di bumi, tetapi kota surgawi Allah, seperti Bait Suci dan mezbah, melambangkan tempat umat Allah, yaitu Gereja. Dengan demikian di satu sisi Gereja memiliki kehadiran dan pemeliharaan Allah, di sisi lain juga diinjak-injak oleh yang tidak percaya. Faktanya, orang Kristen hidup di dunia, dan meskipun dipisahkan untuk menjadi kudus, di saat yang sama mereka harus menanggung gangguan dan terjangan arus dunia.

Allah membiarkan Bait Suci-Nya diinjak-injak, bukanlah tanpa alasan, kitab Wahyu selalu menunjukkan bahwa gereja memiliki misi mengabarkan Injil. Pikirkan jika Gereja ingin mengabarkan Injil, bagaimana bisa dipisahkan dari dunia? Pada ayat ketiga, kita dapat membaca instruksi dari Sorga ini dan meneruskan berkata, Aku akan memberi tugas kepada dua saksi-Ku, supaya mereka bernubuat sambil berkabung …. Kata bernubuat adalah mengabarkan Injil, orang yang mengabarkan Injil harus berkabung menunjukkan bahwa mereka akan berkabung, menderita terluka, karena pesan berita Allah selalu ditolak, menyebabkan pengabar Injil menderita, juga membawakan bencana penghakiman (renungan kemarin Wahyu 10:8-11, kitab yang manis tetapi juga pahit).

Angka-angka dalam Wahyu sering merupakan metaforis. tujuh roh bukanlah tujuh buah roh, tetapi roh yang lengkap. Demikian pula, dua saksi bukan sederhana dua orang, tetapi dua komponen dasar dari Firman Tuhan: Hukum Taurat dan nabi-nabi. Ini seperti Musa dan Elia yang muncul dalam transfigurasi Yesus, yang mengungkapkan kesaksian akan Firman Allah, Gereja mengabarkan Injil di dunia, dan juga didasarkan pada wahyu dan otoritas dari Firman Allah. Kitab Suci mengatakan: kedua orang ini adalah kedua pohon zaitun dan kedua kaki dian yang berdiri di hadapan Tuhan semesta alam (ayat 4), dapat dikatakan bahwa Gereja berada di dunia mengabarkan Injil dan memberikan kesaksian, adalah setara dengan membangun kembali Bait Suci pada akhir zaman. Menurut kitab Zakharia, kedua pohon zaitun mengacu pada dua orang yang memimpin Israel untuk membangun kembali Bait Suci, Yosua dan Zerubabel (Zak. 4:11-14), tetapi hari ini, misi ini telah dipercayakan kepada Gereja, yaitu yang bersaksi bagi Yesus, dan apa yang Tuhan Pencipta semesta alam hendak bangun ulang pada hari-hari terakhir adalah Bait Suci surgawi, Ia akan mendirikan Gereja di antara langit dan bumi, menjadi kaki dian di Bait Suci, dan memberikan kuasa kepada para hamba-Nya, bersaksi bagi Yesus di dunia, menerangi dunia.

Renungkan:

Yesus berdoa untuk para murid dan berkata, Kuduskanlah mereka dalam kebenaran; firman-Mu adalah kebenaran. Sama seperti Engkau telah mengutus Aku ke dalam dunia, demikian pula Aku telah mengutus mereka ke dalam dunia; (Yoh. 17:17-18) Apakah ada bagian yang serupa dengan ayat-ayat perikop hari ini?

Beberapa saudara diperlakukan dengan sungut dan amarah oleh keluarga mereka karena mereka tidak lagi menyembah berhala bersama keluarga mereka. Mereka ingin meninggalkan rumah dan pergi ke tempat lain. Bagaimana Anda bisa menasihati dan menghiburnya? Apa yang harus dia lakukan sebagaimana mestinya?

Ada pasar di dekat suatu gereja, dan lingkungannya rumit dan berisik. Karena itu, para diakon menyarankan untuk memindahkan tempat ibadah ini. Beberapa orang mengatakan bahwa pindah semakin jauh, semakin baik. Apa pendapat anda?


Renungan pemahaman kitab Wahyu (klik untuk membuka)

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain (klik untuk membuka)


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Wahyu 10-22 ditulis oleh 吳慧儀 (Wú Huì Yí) yang dipublikasi pada bulan September 2019, merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Iklan yang ada bukan milik blog ini, tetapi milik WordPress penyedia fasilitas blog tanpa biaya.