Pandangan 「Berharap」 dari Hamba
Renungan ini merupakan terjemahan 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Mazmur 120-134 ditulis oleh 黃天逸 (Huáng Tiān Yì) yang dipublikasi pada bulan Mei 2018 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).
(Maz. 123:1-4 [ITB])
1Nyanyian ziarah. Kepada-Mu aku melayangkan mataku, ya Engkau yang bersemayam di sorga. 2Lihat, seperti mata para hamba laki-laki memandang kepada tangan tuannya, seperti mata hamba perempuan memandang kepada tangan nyonyanya, demikianlah mata kita memandang kepada TUHAN, Allah kita, sampai Ia mengasihani kita.
3Kasihanilah kami, ya TUHAN, kasihanilah kami, sebab kami sudah cukup kenyang dengan penghinaan; 4jiwa kami sudah cukup kenyang dengan olok-olok orang-orang yang merasa aman, dengan penghinaan orang-orang yang sombong.
Setelah membaca puisi ini, kita mungkin memiliki kesan bahwa fokus dari puisi adalah mereka yang menderita dari 「penghinaan dan ejekan」 memohon belas kasihan dan bantuan kepada TUHAN. Namun, dalam ayat 4 ketika Pemazmur menggambarkan mereka menerima begitu banyak olok-olok dari orang-orang yang hidup aman dan hinaan dari orang-orang yang sombong, hanya sampai di sini tidak melanjutkan perkataannya lagi, dan tidak tahu apa yang Allah telah lakukan ketika mereka mengalami kesulitan. Jika demikian, bagaimana kita memahami Mazmur 123?
Dalam ayat 1, Pemazmur berkata 「Kepada-Mu aku melayangkan mataku, ya Engkau yang bersemayam di sorga.」 Hal yang aneh, sebagai 「Mazmur Ziarah」 yang keempat, kita ingat bahwa tindakan 「melayangkan mata」 telah muncul di Maz. 121, dan Pemazmur akhirnya menemukan bahwa bantuan yang sesungguhnya datang dari TUHAN Pencipta dunia. Dari sini dilihat, Mazmur 123 sekali lagi menyebutkan 「melayangkan mata」, mungkin tidak meletakkan titik fokus bukan pada keselamatan dari Allah. Jadi sebenarnya apa yang Pemazmur hendak katakan? Ayat 2 memberi kita jawabannya.
Dalam ayat 2, Pemazmur menyebutkan 「mata para hamba laki-laki」 dan 「mata hamba perempuan」, fokus Pemazmur di sini bukanlah 「mata」, tetapi sikap yang sama dari mereka yakni 「berharap」 kepada Tuan. Ayat ini juga merupakan catatan paling penting bagi tindakan para peziarah 「melayangkan mata」 di ayat 1, memberitahukan kepada kita: bahwa jika kita berdiri di posisi yang salah, maka kita akan sulit menanggapi perintah Tuannya secara tepat waktu. Jika demikian, kita hendaknya bertanya: apa hubungan antara hamba mentaati perintah Tuannya dengan tindakan 「melayangkan mata」 kepada TUHAN yang dikatakan dalam ayat 1?
Dalam budaya daerah Timur dekat zaman purba, 「tangan」 adalah sebuah bahasa yang penting, terutama dalam zaman dulu, pemilik memakai tangan memberi perintah kepada hambanya, memanggil mereka datang, demikian juga jika menghempaskan lengan baju untuk menyuruh mereka pergi. Dengan kata lain, begitu tuan menggerakkan tangan, maka hamba yang ada di dekat dirinya harus tahu apa pikiran tuan, hamba wanita yang ada di dekat diri tuannya juga harus sadar akan pikiran nyonyanya. Oleh karena itu, tatapan mata hamba pada tangan tuannya, dan hamba wanita memandang tangan nyonyanya sebenarnya memiliki dua lapisan makna:
- Menunjukkan bahwa mereka dengan satu hati berfokus melayani tuannya atau nyonyanya;
- Mereka harus penuh perhatian menaati perintah
「Dengan satu hati berfokus melayani」, 「penuh perhatian menaati」 ─ Pemazmur menggunakan perumpamaan ini untuk menghendaki para peziarah memahami kebenaran yang sangat penting: jangan hanya berfokus pada diri sendiri. Pada kenyataannya, jika Allah adalah Tuhan yang sungguh, Dia pasti lebih tahu tentang keadaan dan kesulitan kita daripada diri kita, dan jika Allah adalah Tuhan yang sungguh, Dia juga pasti memahami apa yang kita butuhkan lebih daripada yang diri kita. Maka jika demikian adanya, kita dengan maksimal seperti 「mata para hamba laki-laki memandang kepada tangan tuannya」 dan seperti 「mata hamba perempuan memandang kepada tangan nyonyanya」. Dengan 「satu hati berfokus melayani」, 「penuh perhatian menaati」 perintah tuan ─ 「menerima pengutusan」, 「menerima perintah」, dengan demikian itu sudah cukup untuk membuktikan bahwa kita tidak berdiri dalam posisi yang salah!
Renungkan: Mungkin hari ini kita berada di dalam berbagai macam kesulitan, dan mungkin kita akan berdoa kepada TUHAN memohon anugerah-Nya dengan besar ditambahkan pada diri kita, sehingga kita dapat lepas dari kesulitan. Tetapi apakah kita pernah mencoba dengan sungguh-sungguh 「berdiri」 di posisi itu dan mempelajari pelajaran 「satu hati berfokus melayani」 dan 「penuh perhatian menaati」 agar kita memahami bagaimana Tuhan menempatkan kita di posisi itu dan menyadari apa yang kehendak dan misi yang Tuhan ingin kita lakukan di sini?