Tag Archives: Pendamaian

2 Korintus 5:16-21

Menasihati orang untuk didamaikan dengan Allah

Oleh Rev. Dr. Lam Lee Man-yiu (李文耀)
Alliance Bible Seminary H.K.

(2 Kor. 5:16-21 [ITB])
16 Sebab itu kami tidak lagi menilai seorang jugapun menurut ukuran manusia. Dan jika kami pernah menilai Kristus menurut ukuran manusia, sekarang kami tidak lagi menilai-Nya demikian. 17 Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang.
18 Dan semuanya ini dari Allah, yang dengan perantaraan Kristus telah mendamaikan kita dengan diri-Nya dan yang telah mempercayakan pelayanan pendamaian itu kepada kami. 19 Sebab Allah mendamaikan dunia dengan diri-Nya oleh Kristus dengan tidak memperhitungkan pelanggaran mereka. Ia telah mempercayakan berita pendamaian itu kepada kami.
20 Jadi kami ini adalah utusan-utusan Kristus, seakan-akan Allah menasihati kamu dengan perantaraan kami; dalam nama Kristus kami meminta kepadamu: berilah dirimu didamaikan dengan Allah. 21 Dia yang tidak mengenal dosa telah dibuat-Nya menjadi dosa karena kita, supaya dalam Dia kita dibenarkan oleh Allah.

Kemarin, kita melihat bahwa Paulus tahu dirinya memiliki tanggung jawab untuk menasihati orang percaya Korintus, didasarkan pada dua alasan / motivasi, satu adalah karena mengetahui bahwa patut takut hormat akan Allah, setiap orang harus menghadap takhta pengadilan Kristus; kedua karena kasih Kristus, mengetahui bahwa Tuhan Yesus mati dan bangkit bagi semua orang. Kedua alasan / motivasi itu bekerja pada waktu yang sama, kasih dan penghakiman ada bersamaan di dalam Kristus. Lalu, nasihat apa yang Paulus ingin berikan kepada mereka? Sebagai hamba Kristus dan pelayan Perjanjian Baru, apa nasihat yang paling penting? Apa tujuannya? Perikop yang kita baca hari ini memberi kita jawaban.

Di 5:16 ini Paulus juga mulai dengan kata sebab itu (ὥστε hoste), artinya perkataan berikut ini adalah perpanjangan dari teks sebelumnya di atas. Teks sebelumnya (yaitu, orang harus hidup bagi Tuhan yang telah mati dan bangkit kembali bagi mereka) adalah dasar bagi teks berikut yang menunjuk apa makna konkretnya bagi pemikiran dan tindakan manusia — jangan memakai cara pandang manusia untuk memahami orang dan Kristus. Apa masalah cara pandang manusia? Atau cara pandang manusia yang seperti apa yang bermasalah? Jelas, nasihat Paulus ini ditujukan kepada mereka yang mengandalkan penampilan luar untuk memegahkan diri, juga memakai cara tersebut untuk menghakimi orang-orang di sekitar (termasuk Paulus) (5:12) Ada peneliti Alkitab yang menunjukkan, sikap mereka yang mengandalkan penampilan luar untuk menilai orang ini kemungkinan dipengaruhi kebiasaan persaingan dan konsep kehormatan, kefasihan, kekayaan dan kekuatan menaklukkan dalam budaya Yunani waktu itu untuk menilai harga dan kehormatan seseorang dalam masyarakat. Bagi orang-orang ini, Paulus adalah manusia lemah, bahasa kasar (10:10), dan jauh dibandingkan dengan mereka yang menganggap diri mereka sebagai super rasul, bagaimana mungkin Paulus bisa memenuhi syarat untuk menasihati dan mengingatkan mereka? Paulus di sini menunjukkan kesalahan mereka yang paling mendasar, karena, siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru (καινὴ κτίσις kaino ktisis / new creation, 5:17).

Dalam Perjanjian Baru, ini adalah ayat yang sangat penting, yang menunjukkan bahwa melalui kematian dan kebangkitan Kristus maka ciptaan baru telah berlaku atas diri orang-orang percaya. Ciptaan baru bukan semata-mata masalah masa depan. Di sini, Paulus menggunakan fakta dasar ini untuk memperbaiki sikap mereka yang memandang orang berdasarkan penampilan luar, menunjukkan bahwa orang-orang di dalam Kristus tidak mungkin lagi mengevaluasi dan membandingkan satu sama lain memakai cara-cara atau nilai-nilai duniawi lama yang sudah berlalu, yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang. Karena adalah ciptaan baru maka hanya dapat memakai cara pandang yang baru untuk melihat segala sesuatu, seperti halnya kita telah memasuki era Internet yang mengglobal, tidak mungkin memakai lagi cara pandang teknologi informasi lama yang terbatas dari masa lalu untuk menyelesaikan masalah. Bagi Paulus, ciptaan baru sudah mulai, memiliki efek pada kehidupan orang percaya, maka, jemaat Korintus tidak sepatutnya memakai lagi cara pandang dunia untuk memandang orang dan Kristus. Mereka patut merenungkan lagi hubungan mereka dengan Kristus, memikiran apakah ciptaan baru telah terjadi pada diri mereka, jika tidak, maka harus sesegera mungkin untuk berdamai dengan Kristus.

Sebab itu bagian berikutnya berbicara tentang perdamaian dengan Allah (rekonsiliasi). Paulus memberikan nasihat dalam berbagai aspek kepada orang percaya Korintus, tetapi yang paling penting adalah nasihat agar mereka berdamai dengan Allah dalam nama Kristus kami meminta kepadamu: berilah dirimu didamaikan dengan Allah (5:20) Sebagai utusan khusus Kristus, salah satu tugas terpenting adalah menasihati orang untuk berdamai dengan Allah. Semua pengajaran, peringatan, dan teguran harus didasarkan pada tujuan tertinggi ini. Sampai di sini, dari isi surat dan sikap Paulus dapat kita lihat bahwa bagian besar orang-orang percaya Korintus memiliki hubungan cukup baik dengan Tuhan dan Paulus, jadi perkataan Paulus berilah dirimu didamaikan dengan Allah pada dasarnya ditujukan kepada orang-orang yang menyerangnya. Tujuan menasihati adalah agar orang berdamai dengan Allah, dan hanya dengan demikian barulah bisa memiliki awal yang baru, barulah bisa didasarkan ciptaan baru dan cara pandang baru untuk memiliki pemahaman baru atas orang lain dan memperbaiki celah perpecahan, sehingga dalam kasih Kristus membangun hubungan saling menghormati dan saling percaya. Rekonsiliasi didamaikan dengan dengan Allah, menjadi ciptaan baru, memakai sudut pandang ciptaan baru untuk memandang segala sesuatu, membangun kembali hubungan kasih dengan manusia dan Allah, semua ini adalah hal-hal yang telah dilakukan Yesus Kristus bagi dunia, dan ini adalah transformasi besar yang dibawa oleh kematian dan kebangkitan-Nya.

Terakhir, layak direnungkan ayat 5:10 menyebutkan setiap orang harus diadili di hadapan takhta pengadilan Kristus, tetapi ayat 5:21 menunjukkan bahwa Allah melalui penebusan Yesus Kristus sehingga dalam Dia kita dibenarkan oleh Allah. Melalui Kristus, dosa manusia telah diampuni (dibenarkan) oleh Allah, lalu apa yang perlu diadili lagi dalam penghakiman kelak? Jika kelak setiap orang memperoleh apa yang patut diterimanya, sesuai dengan yang dilakukannya dalam hidupnya ini, baik ataupun jahat, lalu bagaimana Yesus Kristus menanggung semua dosa dan hutang kita? Dua ayat itu tampaknya konflik dengan satu sama lain, tetapi dalam pengajaran Paulus, keduanya benar adanya pada waktu yang sama. Sebagai utusan khusus Kristus, di satu sisi, kita harus memberitakan kepada orang-orang Injil kebenaran (3:9, 5:21), di sisi lain, kita juga harus menasihati orang untuk meninggalkan yang jahat dan melakukan yang baik, dan berdamai dengan Allah. Pesan pembenaran dan penghakiman sama pentingnya, dan ketika dua benar adanya berdampingan pada saat yang sama, sehingga membentuk tarikan ketegangan. Bagaimanakah penghakiman di masa depan? Apakah pada hari itu Tuhan Yesus berkata Aku tidak pernah mengenalmu? Karena dengan ketidakpastian ini, hari ini kita harus memegang erat kesempatan didamaikan dengan Allah, meninggalkan kejahatan dan berbuat baik. Pembenaran jika tidak ada penghakiman maka menjadi anugerah murahan, penghakiman jika tidak ada pembenaran maka menjadi kutukan yang besar, tidak ada satu orang pun yang diselamatkan masa depan. Pembenaran adalah jaminan keselamatan, penghakiman mendesak orang agar tidak hidup semaunya karena merasa ada jaminan pembenaran. Pembenaran dan penghakiman perlu ada berdampingan, sehingga pelayanan menasihati memiliki fungsi. Dalam dasar paling utama didamaikan dengan Allah, pembenaran dan penghakiman memiliki titik berat fokusnya masing-masing.

Renungkan:
Hari ini tolok ukur apa yang biasanya digunakan orang untuk menilai harga dan kehormatan seseorang? Apakah saya sering memakai cara pandang manusia untuk mengenal memahami orang lain? Apa itu ciptaan baru? Apa perbedaan antara melihat sesuatu dari sudut pandang ciptaan yang baru? Apakah saya yakin bahwa saya adalah ciptaan baru di dalam Kristus? Dalam dasar didamaikan dengan Allah, apa yang dapat saya lakukan untuk Tuhan? Apa hubungan antara pembenaran dan penghakiman?


Renungan pemahaman Surat 2 Korintus

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema 2 Korintus ditulis oleh Rev. Dr. Lam Lee Man-yiu (李文耀) yang dipublikasi pada bulan September 2021 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Efesus 2:16-18

「Dipersatukan jadi satu tubuh」

Oleh Dr. Ronnie Poon (潘仕楷)
Alliance Bible Seminary H.K.

(Efesus 2:16-18 [ITB])
16 dan untuk memperdamaikan keduanya, di dalam satu tubuh, dengan Allah oleh salib, dengan melenyapkan perseteruan pada salib itu. 17 Ia datang dan memberitakan damai sejahtera kepada kamu yang jauh dan damai sejahtera kepada mereka yang dekat, 18 karena oleh Dia kita kedua pihak dalam satu Roh beroleh jalan masuk kepada Bapa.

Pada dasarnya ayat 2:16 adalah pengulangan teks sebelumnya, dengan lebih jelas dan kuat menunjukkan bahwa Allah melalui salib menggenapkan perdamaian antara kedua pihak yang awalnya terpisah. Ungkapan dalam ayat ini makin lebih kuat menunjukkan salib adalah harga mahal yang dibayarkan dalam proses untuk menyatukan kedua belah pihak. Dalam dunia zaman kekaisaran Romawi, salib adalah alat hukuman yang dikenal dalam masyarakat yang ada di bawah kekuasaannya. Salib tidak hanya digunakan untuk mengeksekusi hukuman mati, tetapi juga dirancang terutama untuk para tahanan politik, untuk mempermalukan di depan umum orang-orang yang dianggap menentangnya. Yesus Kristus tidak hanya membayar harga penebusan atas dosa-dosa manusia, tetapi juga menanggung segala penghinaan kita, sehingga konfrontasi antar manusia dapat dihilangkan, dan dapat disatukan jadi satu tubuh, dan didamaikan dengan Allah.

Oleh karena itu, di kayu salib Yesus Kristus melenyapkan perseteruan dan mendamaikan manusia dengan Allah dan juga dengan sesama. Dalam teks aslinya, kata melenyapkan (ἀποκτείνω apokteino) aslinya berarti membunuh, ini adalah penulisan bergaya ironis yang dilakukan Paulus untuk mengungkapkan pekerjaan transendental (yang bersifat melampaui) yang telah dilakukan Allah. Yesus Kristus adalah pihak yang dibunuh di kayu salib, tetapi Paulus menunjukkan bahwa Allah menggunakan salib untuk membunuh perseteruan. Keselamatan Yesus Kristus begitu penuh dengan paradoks, penghinaan yang diterima-Nya mengungkapkan kemuliaan; pengorbanan-Nya mendatangkan damai. Manusia dunia berpikir bahwa Yesus Kristus disalibkan sampai mati (ya memang Ia disalibkan, mati, namun bangkit dari kematian, menang atas maut), Allah menggunakan salib ini untuk menghapus perseteruan.

Yesus Kristus tidak hanya menggenapkan damai, tetapi Dia juga datang untuk mengabarkan Injil perdamaian kepada orang-orang yang jauh dan dekat. Mungkin ada bayangan dari Perjanjian Lama Yesaya 57:19 Damai, damai sejahtera bagi mereka yang jauh dan bagi mereka yang dekat Ini bukan untuk menunjukkan bahwa di dalam sejarah Yesus Kristus memberitakan Injil perdamaian ke tempat yang jauh dan yang dekat, tetapi karena Yesus Kristus maka Injil kedamaian diberitakan ke mana-mana. Ini juga mencerminkan pesan dari Yesaya 52:7 Betapa indahnya kelihatan dari puncak bukit-bukit kedatangan pembawa berita, yang mengabarkan berita damai dan memberitakan kabar baik, yang mengabarkan berita selamat …, di dalam Kisah 1:8 dinyatakan bahwa Allah hendak menggunakan orang percaya menjadi saksi-Nya di mana-mana, para rasul adalah wakil dari Yesus Kristus, memenuhi misi Injil di generasi mereka. Dan kita dan orang percaya sepanjang zaman sama-sama adalah saksi tentang Injil Yesus Kristus.

Dengan demikian, kesaksian Injil perdamaian bisa direalisasikan karena Allah di dalam Yesus Kristus membuat dalam Roh Kudus yang sama kita yang semula tidak saling cocok dan yang saling diskriminatif, bisa bersama masuk ke hadirat Bapa. Meskipun kita menerima Injil secara individu, tetapi setelah diselamatkan kita menjadi bagian dari satu tubuh Yesus Kristus. Semua orang percaya di dalam Kristus adalah anggota tubuh satu sama lain dan memiliki Roh Kudus yang sama. Kita berdamai dengan Allah dan dengan orang lain.

Penyembahan dan pelayanan yang dipersatukan, orang percaya saling mengasihi dan dalam keharmonisan adalah kesaksian terbaik dari Injil berita damai kegembiraan ini.

Renungkan:
Kita adalah saksi Injil Yesus Kristus. Jadi di dalam komunitas, kita sepatutnya saling mengasihi dan menyatakan kedamaian yang telah digenapkan Allah melalui Yesus Kristus.


Renungan pemahaman Surat Efesus

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Surat Efesus 1-3 ditulis oleh 潘仕楷 (Pān Shì Kǎi) yang dipublikasi pada bulan Desember 2020 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Iklan yang ada bukan milik blog ini, tetapi milik WordPress penyedia fasilitas blog tanpa biaya.

Efesus 2:11-22 (2)

「Menggenapkan Pendamaian (2)」

Ditulis oleh 梁家麟 (Liáng Jiā Lín) Alliance Bible Seminary H.K.

(Ef. 2:11-22 [ITB])
11 Karena itu ingatlah, bahwa dahulu kamu–sebagai orang-orang bukan Yahudi menurut daging, yang disebut orang-orang tak bersunat oleh mereka yang menamakan dirinya sunat, yaitu sunat lahiriah yang dikerjakan oleh tangan manusia, — 12 bahwa waktu itu kamu tanpa Kristus, tidak termasuk kewargaan Israel dan tidak mendapat bagian dalam ketentuan-ketentuan yang dijanjikan, tanpa pengharapan dan tanpa Allah di dalam dunia. 13 Tetapi sekarang di dalam Kristus Yesus kamu, yang dahulu jauh, sudah menjadi dekat oleh darah Kristus. 14 Karena Dialah damai sejahtera kita, yang telah mempersatukan kedua pihak dan yang telah merubuhkan tembok pemisah, yaitu perseteruan, 15 sebab dengan mati-Nya sebagai manusia Ia telah membatalkan hukum Taurat dengan segala perintah dan ketentuannya, untuk menciptakan keduanya menjadi satu manusia baru di dalam diri-Nya, dan dengan itu mengadakan damai sejahtera, 16 dan untuk memperdamaikan keduanya, di dalam satu tubuh, dengan Allah oleh salib, dengan melenyapkan perseteruan pada salib itu. 17 Ia datang dan memberitakan damai sejahtera kepada kamu yang jauh dan damai sejahtera kepada mereka yang dekat, 18 karena oleh Dia kita kedua pihak dalam satu Roh beroleh jalan masuk kepada Bapa. 19 Demikianlah kamu bukan lagi orang asing dan pendatang, melainkan kawan sewarga dari orang-orang kudus dan anggota-anggota keluarga Allah, 20 yang dibangun di atas dasar para rasul dan para nabi, dengan Kristus Yesus sebagai batu penjuru. 21 Di dalam Dia tumbuh seluruh bangunan, rapih tersusun, menjadi bait Allah yang kudus, di dalam Tuhan. 22 Di dalam Dia kamu juga turut dibangunkan menjadi tempat kediaman Allah, di dalam Roh.

Ketika berbicara tentang keselamatan Kristus, jika meletakkan fokus kita pada bagian yang terkait dengan Iblis, kita menekankan aspek peperangan dan memberitakan Kristus mengalahkan iblis, dan kuasa untuk mengusir dosa dan kematian; Tetapi jika fokus kita adalah pada hubungan dengan Allah Bapa, maka akan fokus pada aspek pendamaian, menekankan bahwa Kristus menghilangkan keretakan antara manusia dan Allah, dan meredahkan murka Allah atas kejahatan manusia, dan membuat orang tidak lagi 「orang-orang yang harus dimurkai (anak-anak kemurkaan)」 (Ef. 2:3), mendapatkan pemulihan hubungan damai dengan Allah.

Kita akan melihat dalam pasal 6 bahwa meskipun Paulus berbicara tentang peperangan rohani dan perlengkapan senjata, tetapi ia terutama hendak menyampaikan berita damai daripada perang. Kita memberitakan 「beritakan damai sejahtera」 (Ef. 2:17), dan menghendaki kita menjadi anak perdamaian.

Makna pertama dari Injil damai sejahtera adalah pemulihan relasi damai Allah dan manusia, dan makna kedua adalah hubungan antara manusia dengan manusia. Paulus menunjukkan bahwa pemulihan manusia dan Tuhan adalah fondasi dasar mampunya manusia berelasi damai dengan manusia.

Bagaimana pemulihan relasi damai Allah dan manusia mempengaruhi hubungan antara orang? Ada dua keterkaitan penting. Pertama adalah menghapuskan aspek objektif, penerimaan Allah atas segala manusia, menghapuskan berbagai perbedaan kesucian dan keniscayaan antar manusia; Jika Tuhan tidak keberatan perbedaan antara orang Yahudi dan bangsa-bangsa lain, mengapa harus kita sengaja membuat klasifikasi lalu menciptakan kontradiksi dan saling perlawanan? Kita telah membahas hal ini kemarin. Yang kedua adalah aspek subjektif, kita telah mengalami penerimaan dan rahmat belas kasih Tuhan yang tanpa syarat, maka penerimaan dan belas kasih kita atas orang lain tidak hanya menjadi dapat dilakukan, tetapi juga menjadi tugas iman.

Aspek subjektif tidak disebutkan dalam perikop ini, tetapi Paulus di perikop belakang yang mengajarkan tentang etika orang Kristen, menambahkan: 「Tetapi hendaklah kamu ramah seorang terhadap yang lain, penuh kasih mesra dan saling mengampuni, sebagaimana Allah di dalam Kristus telah mengampuni kamu」 (Ef. 4:32) 「Sebab itu jadilah penurut-penurut Allah, seperti anak-anak yang kekasih dan hiduplah di dalam kasih, sebagaimana Kristus Yesus juga telah mengasihi kamu dan telah menyerahkan diri-Nya untuk kita …」(Ef. 5:1-2)

Ini adalah pengajaran konsisten dalam Alkitab, relasi Allah dengan manusia mempengaruhi hubungan manusia dengan manusia. Bagaimana Tuhan memperlakukan kita, demikian juga sepatutnya kita memperlakukan orang lain dengan sikap yang sama. Kasih Karunia yang kita terima dari Allah dengan cuma-cuma, tanpa membayar harga di muka; Tapi setelah menerima kasih karunia, harus ada kehidupan baru yang sesuai, jika tidak demikian maka tidak mencerminkan fakta bahwa kita telah menerima Kasih Karunia.

Iman pertama-tama memperhatikan hubungan antara Allah dan manusia, lalu etika terutama hendaknya melibatkan hubungan antar manusia. Jika hubungan Allah dengan manusia mempengaruhi hubungan interpersonal, maka iman adalah panduan bagi etika.

Kembali ke tema Injil damai sejahtera, pertama-tama adalah pemulihan relasi damai Allah dan manusia, kemudian manusia dengan manusia dapat dipulihkan hubungan damai. Faktor-faktor politik, sosial, ekonomi, dan budaya yang di masa lalu telah menciptakan pemisahan antar manusia, sekarang ditinggalkan di dalam Kristus, dan mereka tidak lagi memiliki efek.

Kisah Para Rasul pasal 10 mencatat visi yang dilihat Petrus di Yafo, cukup untuk menjelaskan kebenaran ini. Ketika Petrus masih bergumul apakah hendak mengabarkan Injil kepada Cornelius, Allah dalam visi memaksa dia untuk makan makanan yang haram menurut hukum Taurat, dan menyatakan bahwa apa yang Allah pandang tahir, manusia tidak boleh memandangnya sebagai haram (Kis. 10:15), ini mengubah pandangan stereotip dirinya yang mengecualikan bangsa-bangsa lain di luar Injil. Di pasal 11, ketika Petrus membuat laporan kepada para rasul di Yerusalem, ia gunakan hal ini sebagai bukti pertama untuk menjelaskan mengapa harus menerima bangsa-bangsa lain masuk ke dalam Gereja. Selain itu, Petrus mengajukan bukti kedua bahwa ketika ia berkhotbah kepada Cornelius, Roh Kudus turun pada sekeluarga Cornelius. Petrus makin menyadari bahwa jika karunia Tuhan kepada orang Yahudi juga diberikan kepada bangsa-bangsa lain, dan karunia yang diterima orang Yahudi dan bukan Yahudi adalah persis sama, mengapa harus membedakan ras manusia dan mempertentangkan satu sama lain (Kis. 11:17)?

Allah tidak memperlakukan pembedaan, maka manusia tidak boleh memecah belah. Allah dan manusia berdamai, maka manusia tidak punya hak untuk bermusuhan dengan sesama. Perdamaian antara Allah dan manusia membawakan perdamaian antar manusia, namun bukanlah berarti bahwa perdamaian antar manusia akan secara alami terjadi, tetapi perlu diusahakan. Damai sejahtera Allah di satu sisi memberikan kita kemampuan berdamai antar manusia dan juga merupakan tugas iman. Kita adalah anak-anak pendamaian, kita memberitakan Injil damai sejahtera, hendaknya kita mewujudkan perdamaian yang nyata antar manusia.

Renungkan:

1. Hampir setiap agama memiliki pengajaran kasih dan damai, tetapi dalam sejarah dan di hari ini, agama mudah menjadi (atau dieksploitasi) elemen penyebar kebencian dan unsur permusuhan, menurut Anda permasalahannya ada di mana?

2. Bagaimana Anda mengerti iman dan implikasi sosial dari Injil damai sejahtera?


Daftar renungan pemahaman  (silahkan klik untuk membuka)

Daftar renungan pemahaman (silahkan klik untuk membuka)


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Surat Efesus ditulis oleh 梁家麟 (Liáng Jiā Lín) yang dipublikasi pada bulan Agustus 2018, merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Untuk Kalangan Sendiri.

Efesus 2:11-22

「Menggenapkan Pendamaian (1)」

Ditulis oleh 梁家麟 (Liáng Jiā Lín) Alliance Bible Seminary H.K.

(Ef. 2:11-22 [ITB])
11 Karena itu ingatlah, bahwa dahulu kamu–sebagai orang-orang bukan Yahudi menurut daging, yang disebut orang-orang tak bersunat oleh mereka yang menamakan dirinya sunat, yaitu sunat lahiriah yang dikerjakan oleh tangan manusia, — 12 bahwa waktu itu kamu tanpa Kristus, tidak termasuk kewargaan Israel dan tidak mendapat bagian dalam ketentuan-ketentuan yang dijanjikan, tanpa pengharapan dan tanpa Allah di dalam dunia. 13 Tetapi sekarang di dalam Kristus Yesus kamu, yang dahulu jauh, sudah menjadi dekat oleh darah Kristus. 14 Karena Dialah damai sejahtera kita, yang telah mempersatukan kedua pihak dan yang telah merubuhkan tembok pemisah, yaitu perseteruan, 15 sebab dengan mati-Nya sebagai manusia Ia telah membatalkan hukum Taurat dengan segala perintah dan ketentuannya, untuk menciptakan keduanya menjadi satu manusia baru di dalam diri-Nya, dan dengan itu mengadakan damai sejahtera, 16 dan untuk memperdamaikan keduanya, di dalam satu tubuh, dengan Allah oleh salib, dengan melenyapkan perseteruan pada salib itu. 17 Ia datang dan memberitakan damai sejahtera kepada kamu yang jauh dan damai sejahtera kepada mereka yang dekat, 18 karena oleh Dia kita kedua pihak dalam satu Roh beroleh jalan masuk kepada Bapa. 19 Demikianlah kamu bukan lagi orang asing dan pendatang, melainkan kawan sewarga dari orang-orang kudus dan anggota-anggota keluarga Allah, 20 yang dibangun di atas dasar para rasul dan para nabi, dengan Kristus Yesus sebagai batu penjuru. 21 Di dalam Dia tumbuh seluruh bangunan, rapih tersusun, menjadi bait Allah yang kudus, di dalam Tuhan. 22 Di dalam Dia kamu juga turut dibangunkan menjadi tempat kediaman Allah, di dalam Roh.

Paulus melanjutkan berbicara tentang rencana penebusan Kristus dan menghubungkan doktrin Keselamatan ini dengan doktrin Gereja. Karena sebenarnya tema utama Surat Efesus adalah tentang Gereja.

Ia memakai damai sejahtera (pendamaian) sebagai tema keselamatan, menunjukkan bahwa keselamatan Kristus adalah sebuah makna yang sangat penting, yakni menghapus cela keretakan dan pemisahan antara Allah dengan manusia.

「Karena Dialah damai sejahtera kita, yang telah mempersatukan kedua pihak dan yang telah merubuhkan tembok pemisah, yaitu perseteruan, 15 sebab dengan mati-Nya sebagai manusia Ia telah membatalkan hukum Taurat dengan segala perintah dan ketentuannya, untuk menciptakan keduanya menjadi satu manusia baru di dalam diri-Nya, dan dengan itu mengadakan damai sejahtera, 16 dan untuk memperdamaikan keduanya, di dalam satu tubuh, dengan Allah oleh salib, dengan melenyapkan perseteruan pada salib itu」 (ayat 14-16). Ada yang mengatakan bahwa ayat-ayat ini adalah sebuah puisi yang populer di Gereja awal, yang memuji Kristus sebagai utusan pendamai.

Kristus tidak hanya membawa kita mencapai perdamaian, Dia adalah kedamaian kita. Kata 「damai」 baik dalam bahasa Ibrani atau Yunani, memiliki makna yang kaya yang mengacu pada semua berkat. Dalam dunia yang penuh kekerasan, hidup dalam bahaya, dan perdamaian memiliki semua manfaat.

「Kedua pihak」 (ayat 14) harus dipahami sebagai Yahudi dan bukan Yahudi, walaupun Alkitab tidak menyatakan dengan jelas, kita juga dapat memakainya untuk setiap hubungan permusuhan berat yang ada di dunia. Yesus Kristus telah menghancurkan dinding pemisah yang menciptakan penghalang antara manusia dengan manusia, yaitu menghapus unsur yang menyebabkan permusuhan antar sesama. Bagaimana cara menghapus itu? Paulus menunjukkan yakni melalui kematian-Nya di kayu salib, melalui inkarnasi-Nya menjadi manusia di dunia dan mati di atas salib. 「di dalam satu tubuh, … melenyapkan perseteruan」; 「menghancurkan perseteruan itu di kayu salib.」 Misi Yesus Kristus di dunia, terutama penderitaan dan kematian, adalah tindakan menghapuskan dan meruntuhkan tembok kebencian.

Apakah 「perseteruan」 itu? Paulus merujuk kepada 「… hukum Taurat dengan segala perintah dan ketentuannya」(ayat 15). Ribuan tahun Orang Yahudi memelihara hukum Taurat, bangsa lain tidak memeliharanya, dan menyebabkan perbedaan serius dalam kehidupan antara kedua pihak. Perbedaan membawa berbagai stereotip labelisasi, pertentangan, berakumulasi menjadi kebencian dan permusuhan. Mereka dianiaya oleh masyarakat arus utama selama bertahun-tahun, dan ketika mereka memegang kekuasaan menganiaya orang lain.

Yesus Kristus di kayu salib membuat Perjanjian Baru dengan manusia, menggantikan Perjanjian lama dan menghapuskan jalan masuk dengan menjalani kebenaran melalui hukum Taurat, mendapatkan perkenan Allah dengan menaati hukum Taurat. Perjanjian Baru tidak terbatas kepada orang Yahudi, tetapi sama-sama berlaku bagi bangsa-bangsa lain; Dengan cara ini, perbedaan antara orang Yahudi dan bangsa-bangsa lain dihapus. Setiap orang dapat melalui Kristus menjadi 「baru」. 「Manusia baru」 tidak hanya baru sebagai orang yang baru (new man), tetapi juga kemanusiaan baru yang bersifat kolektif (new human).

Semua elemen yang membuat perbedaan dan polarisasi, dihapus dalam Kristus. Satu Bapa Sorgawi yang sama membuat kita semua anak-anak-Nya, dan menjadi saudara; Satu Kristus yang sama, sebagai nenek moyang manusia baru, komunitas Kristen yang memiliki esensi dasar yang sama walau penampilan yang berbeda.

Perdamaian adalah tidak hanya untuk mengupayakan persamaan; ini bukan hanya tentang mengalah untuk mencari jalan tengah, itu adalah perdamaian yang rapuh, manusia enggan hidup berdampingan. Kedamaian sejati adalah bahwa masing-masing dikembalikan ke bentuk aslinya, dan tidak lagi garis pembatas pengkhususan antara 「spesial aku」 dan 「orang lain」.

Komunitas damai yang demikian yang sepatutnya terdapat dalam gereja. Gereja adalah hibrida (mixed body) yang mencakup orang-orang dari berbagai kelas, pekerjaan, tingkat pendidikan, kondisi ekonomi dan status sosial; yang memiliki beda pendapat tentang politik, masyarakat, ekonomi dan budaya. Mengapa dan bagaimana kita dapat berjalan bersama-sama? Jawabannya adalah: kita didamaikan dengan Allah oleh kematian Yesus di kayu salib.

Renungkan:

1. Apa yang Anda pikir yang menyebabkan Anda tidak dapat diterima orang? Saat ini apakah ada orang yang memandang Anda sebagai musuh? Apakah rintangan yang harus dilalui begitu tinggi untuk mengasihi mereka? Apakah ini adalah dinding yang Paulus bicarakan?

2. Setelah menjadi seorang Kristen, apakah Anda memiliki pandangan yang berbeda, tidak lagi peduli berkutat dengan perbedaan satu sama lain, dapat masuk ke dalam komunitas yang berbeda, dan memiliki relasi yang baik dengan mereka? Apakah Anda keluar dari lingkaran kecil Anda untuk memperluas dunia kehidupan?


Daftar renungan pemahaman  (silahkan klik untuk membuka)

Daftar renungan pemahaman (silahkan klik untuk membuka)


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Surat Efesus ditulis oleh 梁家麟 (Liáng Jiā Lín) yang dipublikasi pada bulan Agustus 2018, merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Untuk Kalangan Sendiri.

Filemon 1-3

「Salam kepada Filemon」

Sebuah bagian salam dari surat ini ternyata memiliki makna yang sangat melimpah.

Renungan ini merupakan terjemahan versi bahasa Mandarin 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Surat Filemon ditulis oleh 麥耀光 (Mài Yào Guāng) yang dipublikasi pada bulan Desember 2017 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).

(Filemon 1:1-3 [ITB])
1Dari Paulus, seorang hukuman karena Kristus Yesus dan dari Timotius saudara kita, kepada Filemon yang kekasih, teman sekerja kami
2dan kepada Apfia saudara perempuan kita dan kepada Arkhipus, teman seperjuangan kita dan kepada jemaat di rumahmu:
3Kasih karunia dan damai sejahtera dari Allah, Bapa kita dan dari Tuhan Yesus Kristus menyertai kamu.

Surat yang Paulus tuliskan kepada Filemon ini singkat pendek dalam bahasa Yunani hanya ada 335 kata, kita akan memakai tujuh hari untuk merenungkan ke-25 ayat ini. Kita lebih dahulu memahami isi dari surat ini secara garis besar. Seorang budak bernama Onesimus, karena telah mencuri uang Filemon tuannya dan melarikan diri, di Roma bertemu Paulus.  Tidak peduli pertemuan mereka dipandang sebagai kebetulan atau adalah pengaturan dari Allah, namun pada pertemuan ini Paulus memimpin ia percaya kepada Tuhan. Sekarang Paulus mengirim Onesimus kembali kepada tuannya, juga menuliskan surat ini, memberikan dorongan kepada Filemon tidak hanya menerima budak yang melarikan diri ini, terlebih lagi hendaknya memandang ia sebagai saudara terkasih. Surat ini walaupun singkat, namun mengandung dasar teologi dan pengajaran rohani yang kaya.

Saat menuliskan surat ini, Paulus memakai format surat saat itu, termasuk nama penulis surat, penerima dan salam. Kita dapat menemukan surat ini adalah atas nama gabungan nama Paulus dan Timotius yang dituliskan kepada Filemon. Tidak jelas apa peran Timotius dalam penulisan surat ini, tidak pasti apakah sebenarnya surat ini merupakan tulisan dia dan Paulus berdua, atau Timotius hanyalah membantu menulis. Paulus sesuai kebiasaan di bagian pengantar diri, biasanya menuliskan dirinya adalah 「hamba」 atau 「rasul」. Namun Paulus dalam surat ini menyebutkan diri sendiri sebagai 「seorang hukuman」, ia tidak pernah menyebutkan dirinya seperti begini. (Apakah terkait dengan status Onesimus? Renungkan pengaruhnya bagi Filemon.)「Seorang hukuman」 atau 「dipenjarakan」 dalam 25 ayat ini, muncul sebanyak 6 kali (Filemon 1:1, 9, 10, 13, 22, 23). Paulus sepertinya khusus tidak memakai identitas 「rasul」, tidak ingin memakai wewenangnya untuk menyelesaikan perihal pendamaian ini.

Paulus sebagai 「mediator juru pendamai」 ini segenap hati ingin menolong Filemon dan Onesimus yang pernah punya relasi tuan dan budak, mengharapkan mereka bisa berdamai seperti semula. Di sini yang Paulus tuliskan adalah sepucuk surat kepada orang secara personal, dan bukan sepucuk surat pribadi, penerima surat selain Filemon, juga ada Apfia, Arkhipus, dan gereja yang ada di rumah Filemon. Maka surat ini akan diedarkan dibaca dalam gereja. Para peneliti percaya Filemon adalah seorang kaya, ia paling sedikit punya seorang budak, rumahnya dapat menampung orang percaya berkumpul beribadah, juga ada 「kamar tamu」 untuk memberi tumpangan (ayat 22), dapat menyediakan tempat tinggal bagi orang percaya yang datang dari jauh.

Selain itu, kita dapat menemukan Paulus khusus menyebutkan nama seorang penerima surat 「Arkhipus」 yang disebut sebagai teman seperjuangan (fellow soldier, tentara seperjuangan, dalam ITB hanya diterjemahkan sebagai 「seperjuangan」), ini tidak sering ditemukan; seorang yang lain adalah Epafroditus (Fil. 2:25 「… Epafroditus… teman seperjuanganku」). Di dalam surat ini terdapat topik utama tentang tunduk dan tanggung jawab, yakni tentara menaati perintah perwira atasan, ada peneliti berpendapat ini adalah khusus sengaja dikemukakan oleh Paulus.

Permulaan surat bagian ketiga adalah salam: 「Kasih karunia dan damai sejahtera dari Allah, Bapa kita dan dari Tuhan Yesus Kristus menyertai kamu」 (ayat 3) ini adalah bentuk standar salam dari Paulus. 「Kasih karunia」 dan 「damai sejahtera」 menggabungkan makna kasih karunia dari bahasa Yunani dan damai sejahtera (shalom) dari bahasa Ibrani. Nama Yesus Kristus dalam 25 ayat ini, muncul sebanyak 9 kali, percaya dalam hati Paulus, Yesus adalah Tuhan (Lord, Tuan) yang menganugerahkan damai sejahtera (ayat 3), memberkati 「 orang yang membawa damai」 (Mat. 5:9), dan mengaruniakan tugas 「utusan Kristus」 pendamai (2 Kor. 5:19-20) .

Renungkan: (1) Kata shalom dalam bahasa Ibrani, dalam bahasa Inggris 「peace」 diterjemahkan menjadi: damai sejahtera, berbaikan, dan harmonis, coba renungkan maknanya; (2) Apa harga yang harus dibayar oleh Filemon untuk menerima kembali Onesimus yang pernah berkhianat?