Tag Archives: Pembenaran

2 Korintus 5:16-21

Menasihati orang untuk didamaikan dengan Allah

Oleh Rev. Dr. Lam Lee Man-yiu (李文耀)
Alliance Bible Seminary H.K.

(2 Kor. 5:16-21 [ITB])
16 Sebab itu kami tidak lagi menilai seorang jugapun menurut ukuran manusia. Dan jika kami pernah menilai Kristus menurut ukuran manusia, sekarang kami tidak lagi menilai-Nya demikian. 17 Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang.
18 Dan semuanya ini dari Allah, yang dengan perantaraan Kristus telah mendamaikan kita dengan diri-Nya dan yang telah mempercayakan pelayanan pendamaian itu kepada kami. 19 Sebab Allah mendamaikan dunia dengan diri-Nya oleh Kristus dengan tidak memperhitungkan pelanggaran mereka. Ia telah mempercayakan berita pendamaian itu kepada kami.
20 Jadi kami ini adalah utusan-utusan Kristus, seakan-akan Allah menasihati kamu dengan perantaraan kami; dalam nama Kristus kami meminta kepadamu: berilah dirimu didamaikan dengan Allah. 21 Dia yang tidak mengenal dosa telah dibuat-Nya menjadi dosa karena kita, supaya dalam Dia kita dibenarkan oleh Allah.

Kemarin, kita melihat bahwa Paulus tahu dirinya memiliki tanggung jawab untuk menasihati orang percaya Korintus, didasarkan pada dua alasan / motivasi, satu adalah karena mengetahui bahwa patut takut hormat akan Allah, setiap orang harus menghadap takhta pengadilan Kristus; kedua karena kasih Kristus, mengetahui bahwa Tuhan Yesus mati dan bangkit bagi semua orang. Kedua alasan / motivasi itu bekerja pada waktu yang sama, kasih dan penghakiman ada bersamaan di dalam Kristus. Lalu, nasihat apa yang Paulus ingin berikan kepada mereka? Sebagai hamba Kristus dan pelayan Perjanjian Baru, apa nasihat yang paling penting? Apa tujuannya? Perikop yang kita baca hari ini memberi kita jawaban.

Di 5:16 ini Paulus juga mulai dengan kata sebab itu (ὥστε hoste), artinya perkataan berikut ini adalah perpanjangan dari teks sebelumnya di atas. Teks sebelumnya (yaitu, orang harus hidup bagi Tuhan yang telah mati dan bangkit kembali bagi mereka) adalah dasar bagi teks berikut yang menunjuk apa makna konkretnya bagi pemikiran dan tindakan manusia — jangan memakai cara pandang manusia untuk memahami orang dan Kristus. Apa masalah cara pandang manusia? Atau cara pandang manusia yang seperti apa yang bermasalah? Jelas, nasihat Paulus ini ditujukan kepada mereka yang mengandalkan penampilan luar untuk memegahkan diri, juga memakai cara tersebut untuk menghakimi orang-orang di sekitar (termasuk Paulus) (5:12) Ada peneliti Alkitab yang menunjukkan, sikap mereka yang mengandalkan penampilan luar untuk menilai orang ini kemungkinan dipengaruhi kebiasaan persaingan dan konsep kehormatan, kefasihan, kekayaan dan kekuatan menaklukkan dalam budaya Yunani waktu itu untuk menilai harga dan kehormatan seseorang dalam masyarakat. Bagi orang-orang ini, Paulus adalah manusia lemah, bahasa kasar (10:10), dan jauh dibandingkan dengan mereka yang menganggap diri mereka sebagai super rasul, bagaimana mungkin Paulus bisa memenuhi syarat untuk menasihati dan mengingatkan mereka? Paulus di sini menunjukkan kesalahan mereka yang paling mendasar, karena, siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru (καινὴ κτίσις kaino ktisis / new creation, 5:17).

Dalam Perjanjian Baru, ini adalah ayat yang sangat penting, yang menunjukkan bahwa melalui kematian dan kebangkitan Kristus maka ciptaan baru telah berlaku atas diri orang-orang percaya. Ciptaan baru bukan semata-mata masalah masa depan. Di sini, Paulus menggunakan fakta dasar ini untuk memperbaiki sikap mereka yang memandang orang berdasarkan penampilan luar, menunjukkan bahwa orang-orang di dalam Kristus tidak mungkin lagi mengevaluasi dan membandingkan satu sama lain memakai cara-cara atau nilai-nilai duniawi lama yang sudah berlalu, yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang. Karena adalah ciptaan baru maka hanya dapat memakai cara pandang yang baru untuk melihat segala sesuatu, seperti halnya kita telah memasuki era Internet yang mengglobal, tidak mungkin memakai lagi cara pandang teknologi informasi lama yang terbatas dari masa lalu untuk menyelesaikan masalah. Bagi Paulus, ciptaan baru sudah mulai, memiliki efek pada kehidupan orang percaya, maka, jemaat Korintus tidak sepatutnya memakai lagi cara pandang dunia untuk memandang orang dan Kristus. Mereka patut merenungkan lagi hubungan mereka dengan Kristus, memikiran apakah ciptaan baru telah terjadi pada diri mereka, jika tidak, maka harus sesegera mungkin untuk berdamai dengan Kristus.

Sebab itu bagian berikutnya berbicara tentang perdamaian dengan Allah (rekonsiliasi). Paulus memberikan nasihat dalam berbagai aspek kepada orang percaya Korintus, tetapi yang paling penting adalah nasihat agar mereka berdamai dengan Allah dalam nama Kristus kami meminta kepadamu: berilah dirimu didamaikan dengan Allah (5:20) Sebagai utusan khusus Kristus, salah satu tugas terpenting adalah menasihati orang untuk berdamai dengan Allah. Semua pengajaran, peringatan, dan teguran harus didasarkan pada tujuan tertinggi ini. Sampai di sini, dari isi surat dan sikap Paulus dapat kita lihat bahwa bagian besar orang-orang percaya Korintus memiliki hubungan cukup baik dengan Tuhan dan Paulus, jadi perkataan Paulus berilah dirimu didamaikan dengan Allah pada dasarnya ditujukan kepada orang-orang yang menyerangnya. Tujuan menasihati adalah agar orang berdamai dengan Allah, dan hanya dengan demikian barulah bisa memiliki awal yang baru, barulah bisa didasarkan ciptaan baru dan cara pandang baru untuk memiliki pemahaman baru atas orang lain dan memperbaiki celah perpecahan, sehingga dalam kasih Kristus membangun hubungan saling menghormati dan saling percaya. Rekonsiliasi didamaikan dengan dengan Allah, menjadi ciptaan baru, memakai sudut pandang ciptaan baru untuk memandang segala sesuatu, membangun kembali hubungan kasih dengan manusia dan Allah, semua ini adalah hal-hal yang telah dilakukan Yesus Kristus bagi dunia, dan ini adalah transformasi besar yang dibawa oleh kematian dan kebangkitan-Nya.

Terakhir, layak direnungkan ayat 5:10 menyebutkan setiap orang harus diadili di hadapan takhta pengadilan Kristus, tetapi ayat 5:21 menunjukkan bahwa Allah melalui penebusan Yesus Kristus sehingga dalam Dia kita dibenarkan oleh Allah. Melalui Kristus, dosa manusia telah diampuni (dibenarkan) oleh Allah, lalu apa yang perlu diadili lagi dalam penghakiman kelak? Jika kelak setiap orang memperoleh apa yang patut diterimanya, sesuai dengan yang dilakukannya dalam hidupnya ini, baik ataupun jahat, lalu bagaimana Yesus Kristus menanggung semua dosa dan hutang kita? Dua ayat itu tampaknya konflik dengan satu sama lain, tetapi dalam pengajaran Paulus, keduanya benar adanya pada waktu yang sama. Sebagai utusan khusus Kristus, di satu sisi, kita harus memberitakan kepada orang-orang Injil kebenaran (3:9, 5:21), di sisi lain, kita juga harus menasihati orang untuk meninggalkan yang jahat dan melakukan yang baik, dan berdamai dengan Allah. Pesan pembenaran dan penghakiman sama pentingnya, dan ketika dua benar adanya berdampingan pada saat yang sama, sehingga membentuk tarikan ketegangan. Bagaimanakah penghakiman di masa depan? Apakah pada hari itu Tuhan Yesus berkata Aku tidak pernah mengenalmu? Karena dengan ketidakpastian ini, hari ini kita harus memegang erat kesempatan didamaikan dengan Allah, meninggalkan kejahatan dan berbuat baik. Pembenaran jika tidak ada penghakiman maka menjadi anugerah murahan, penghakiman jika tidak ada pembenaran maka menjadi kutukan yang besar, tidak ada satu orang pun yang diselamatkan masa depan. Pembenaran adalah jaminan keselamatan, penghakiman mendesak orang agar tidak hidup semaunya karena merasa ada jaminan pembenaran. Pembenaran dan penghakiman perlu ada berdampingan, sehingga pelayanan menasihati memiliki fungsi. Dalam dasar paling utama didamaikan dengan Allah, pembenaran dan penghakiman memiliki titik berat fokusnya masing-masing.

Renungkan:
Hari ini tolok ukur apa yang biasanya digunakan orang untuk menilai harga dan kehormatan seseorang? Apakah saya sering memakai cara pandang manusia untuk mengenal memahami orang lain? Apa itu ciptaan baru? Apa perbedaan antara melihat sesuatu dari sudut pandang ciptaan yang baru? Apakah saya yakin bahwa saya adalah ciptaan baru di dalam Kristus? Dalam dasar didamaikan dengan Allah, apa yang dapat saya lakukan untuk Tuhan? Apa hubungan antara pembenaran dan penghakiman?


Renungan pemahaman Surat 2 Korintus

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema 2 Korintus ditulis oleh Rev. Dr. Lam Lee Man-yiu (李文耀) yang dipublikasi pada bulan September 2021 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


2 Korintus 4:16-5:10

yang tak kelihatan adalah kekal

Oleh Rev. Dr. Lam Lee Man-yiu (李文耀)
Alliance Bible Seminary H.K.

(2 Kor. 4:16-5:10 [ITB])
16 Sebab itu kami tidak tawar hati, tetapi meskipun manusia lahiriah kami semakin merosot, namun manusia batiniah kami dibaharui dari sehari ke sehari. 17 Sebab penderitaan ringan yang sekarang ini, mengerjakan bagi kami kemuliaan kekal yang melebihi segala-galanya, jauh lebih besar dari pada penderitaan kami. 18 Sebab kami tidak memperhatikan yang kelihatan, melainkan yang tak kelihatan, karena yang kelihatan adalah sementara, sedangkan yang tak kelihatan adalah kekal.
5:1 Karena kami tahu, bahwa jika kemah tempat kediaman kita di bumi ini dibongkar, Allah telah menyediakan suatu tempat kediaman di sorga bagi kita, suatu tempat kediaman yang kekal, yang tidak dibuat oleh tangan manusia. 2 Selama kita di dalam kemah ini, kita mengeluh, karena kita rindu mengenakan tempat kediaman sorgawi di atas tempat kediaman kita yang sekarang ini, 3 sebab dengan demikian kita berpakaian dan tidak kedapatan telanjang. 4 Sebab selama masih diam di dalam kemah ini, kita mengeluh oleh beratnya tekanan, karena kita mau mengenakan pakaian yang baru itu tanpa menanggalkan yang lama, supaya yang fana itu ditelan oleh hidup.
5 Tetapi Allahlah yang justru mempersiapkan kita untuk hal itu dan yang mengaruniakan Roh, kepada kita sebagai jaminan segala sesuatu yang telah disediakan bagi kita. 6 Maka oleh karena itu hati kami senantiasa tabah, meskipun kami sadar, bahwa selama kami mendiami tubuh ini, kami masih jauh dari Tuhan, 7 sebab hidup kami ini adalah hidup karena percaya, bukan karena melihat 8 tetapi hati kami tabah, dan terlebih suka kami beralih dari tubuh ini untuk menetap pada Tuhan.
9 Sebab itu juga kami berusaha, baik kami diam di dalam tubuh ini, maupun kami diam di luarnya, supaya kami berkenan kepada-Nya. 10 Sebab kita semua harus menghadap takhta pengadilan Kristus, supaya setiap orang memperoleh apa yang patut diterimanya, sesuai dengan yang dilakukannya dalam hidupnya ini, baik ataupun jahat.

Memiliki harta dalam bejana tanah liat, tidak perlu takut menghadapi apa-apa. Kemarin, kita melihat Paulus mampu dengan positif menghadapi segala macam tantangan dan kesulitan, karena ia percaya kekuatan besar Allah, kuasa Allah ini pertama-tama diwujudkan dalam kebangkitan Yesus Kristus dari antara orang mati, dan kemudian dinyatakan dan ditegaskan dalam perubahan kehidupan orang percaya. Oleh karena itu, Paulus melihat penderitaan yang merupakan awal dari keselamatan Allah kepada dunia, bahkan jika dia mati, itu demi agar orang lain mendapatkan hidup, menyatakan kehidupan Yesus juga bekerja di dalam diri mereka. Keyakinan inilah yang membuat Paulus tidak takut berada dalam segala macam bahaya. Tetapi, kematian bagiku apa gunanya? Apa yang terjadi setelah saya mati? Bagian dari perikop yang kita baca hari ini menjawab pertanyaan ini.

Dalam perikop ini Paulus memakai sejumlah perbandingan untuk menunjukkan tempat indah tiada banding yang ia akan pergi setelah mati, kematian memiliki manfaat bagi dia juga orang lain. Segala penderitaan yang kita alami sekarang hanyalah singkat dan ringan jika dibandingkan dengan masa kelak yang tiada banding dan kekal kemuliaan (4:17), kemah di bumi, tempat kediaman (para peneliti umumnya percaya bahwa ini adalah metafora tubuh, sama seperti bejana tanah liat di ayat 4:7) jika setelah dibongkar, kita akan memiliki tempat tinggal yang kekal di surga (yaitu tubuh yang dibangkitkan), bukan buatan tangan manusia, tetapi dibangun oleh Allah sendiri (5:1). Oleh karena itu, kematian hanyalah pintu keluar (exit), agar orang dari sisi sekarang ini pergi menuju sisi kehidupan selanjutnya yang kekal dan mulia. Ketika kita memiliki visi ini (yang disebut pandangan hari akhir[eschatological perspective]), meskipun lahiriah diri kita membusuk, tetapi diri batiniah diperbaharui hari ke hari, dan pembaruan ini meneguhkan iman kita bahwa hal-hal di masa depan akan digenapi, karena ini adalah jaminan pekerjaan Roh Kudus di dalam diri kita (5:5). Di dalam daging, kesulitan dapat membuat kita sedih, frustrasi menghela napas dan putus asa; di dalam Roh Kudus, seluruh diri kita membawa iman dan keberanian untuk melalui setiap hari ── Sebab itu kami tidak tawar hati (4:16), oleh karena itu hati kami senantiasa tabah(5:6). Bagi Paulus, itu adalah bukti jaminan pekerjaan Roh Kudus pada diri kita yang fana. Karena kita memiliki janji Allah dan jaminan Roh Kudus, maka kita merindukan tempat tinggal surgawi, selamanya tinggal bersama dengan Tuhan (5:2-4, 8). Ini bukan berarti menyangkal dan menolak sepenuhnya segala sesuatu yang sekarang, di sini Paulus bukan memperkenalkan semacam pemikiran dualitas kepada orang percaya: jiwa itu baik, tubuh itu jahat; surga itu baik, dunia ini tidak baik; kehidupan selanjutnya adalah baik, tetapi kehidupan ini buruk; apa yang tidak terlihat itu baik, apa yang terlihat tidak baik. Ada banyak hal dalam kenyataan yang baik dan layak dikejar selama di dunia (seperti cinta sejati, persaudaraan), tetapi relatif terhadap kemuliaan yang sangat tiada banding dan kekal yang akan digenapkan bagi orang percaya, maka yang sekarang semua keuntungan dan kerugian, kehormatan dan hinaan, tidak cukup menjadi masalah.

Tentu saja, orang-orang Kristen juga perlu tahu bahwa suatu hari di masa kelak, setiap orang harus berdiri di hadapan takhta pengadilan Kristus (5:10); di masa kelak akan ada tempat tinggal yang mulia / tubuh kebangkitan menunggu kita, tapi kita harus terlebih dahulu melewati pengadilan Kristus barulah bisa menempatinya / mengenakannya. Ayat 3:9 menyebutkan pelayanan yang memimpin kepada pembenaran, di sini juga ditunjukkan bahwa setiap orang akan memperoleh apa yang patut diterimanya, sesuai dengan yang dilakukannya dalam hidupnya ini, baik ataupun jahat. Saudara saudari, mohon memperhatikan, pembenaran tidak menyingkirkan pengadilan akhir ini, Tuhan Yesus memperingatkan orang-orang yang mengikutinya. tidak semua orang yang berseru Tuhan, Tuhan dapat masuk ke dalam Kerajaan surga, tetapi dia yang melakukan kehendak Bapa yang di surga (Matius 7:21). Oleh karena itu, ketika kita merindukan tempat tinggal yang datang surga itu, dan tahu bahwa setiap orang akan dihakimi di hadapan Kristus menurut perbuatannya sendiri, Paulus mendorong kita mengambil tekad untuk dapat berkenan kepada Tuhan dalam hidup ini (5:9). Pandangan mata orang Kristen tidak hanya pada dunia ini, tetapi di bawah wahyu Kristus dan terang Roh Kudus, orang Kristen dapat mengetahui terlebih dahulu hal-hal masa kelak, pandangan Hari akhir ini memberikan kita kekuatan dan keberanian untuk menghadapi segala sesuatu dalam kehidupan ini, pada saat yang sama juga mendorong kita dengan hati yang hormat takut akan Allah untuk hidup saleh di hadapan Tuhan. Memang di mata manusia, kata-kata dan ajaran Paulus tampak terlalu tinggi, tidak banyak orang yang mampu melaksanakannya, tetapi justru karena orang-orang biasa tidak dapat melakukannya, kita perlu bergantung pada Roh Kudus untuk dapat melihat, percaya, dan melaksanakan semua ini.

Renungkan:
Menderita dan mati demi karena Tuhan, punya arti apa bagi orang lain dan bagi saya sendiri? Mengetahui bahwa Allah mengatur segala bagi umat-Nya di masa kelak, apa gunanya itu bagi hidup kita hari ini? Dalam menghadapi banyak kesulitan dan tantangan, sudahkah saya membuat tekad hendak hidup berkenan kepada Tuhan? Apa sebenarnya hidup yang berkenan kepada Tuhan Yesus?


Renungan pemahaman Surat 2 Korintus

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema 2 Korintus ditulis oleh Rev. Dr. Lam Lee Man-yiu (李文耀) yang dipublikasi pada bulan September 2021 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Filipi 3:8-11

「Mengenal Kristus adalah Harta Paling Berharga」
Oleh 潘仕楷 (Pān Shì Kǎi)

Alliance Bible Seminary H.K.

(Fil. 3:8-11 [ITB])
8 Malahan segala sesuatu kuanggap rugi, karena pengenalan akan Kristus Yesus, Tuhanku, lebih mulia dari pada semuanya. Oleh karena Dialah aku telah melepaskan semuanya itu dan menganggapnya sampah, supaya aku memperoleh Kristus, 9 dan berada dalam Dia bukan dengan kebenaranku sendiri karena mentaati hukum Taurat, melainkan dengan kebenaran karena kepercayaan kepada Kristus, yaitu kebenaran yang Allah anugerahkan berdasarkan kepercayaan. 10 Yang kukehendaki ialah mengenal Dia dan kuasa kebangkitan-Nya dan persekutuan dalam penderitaan-Nya, di mana aku menjadi serupa dengan Dia dalam kematian-Nya, 11 supaya aku akhirnya beroleh kebangkitan dari antara orang mati

Fil. 3:8 dimulai dengan Malahan atau Tidak hanya demikian / Lebih daripada itu (lih. CUV, ISV, NIV), jelas menunjukkan kaitan erat antara apa yang diungkapkan dalam paragraf ini selangkah lebih maju mengembangkan apa yang dibicarakan dalam paragraf sebelumnya. Paulus tidak hanya menganggap identitas status masa lalunya dalam Yudaisme sebagai yang merugikan, tetapi terlebih ia juga memperluas pandangan ini untuk semua hal. Dalam teks aslinya, Paulus menggunakan ekspresi dua kata yang berlawanan pada saat yang sama, sangat menekankan bahwa sikapnya saat ini benar-benar berlawanan dengan nilai-nilai sebelumnya. Dia memiliki pikiran yang sangat berbeda dari yang dahulu, yakni ia memandang bahwa mengenal Yesus Kristus merupakan nilai tertinggi tiada banding, dan itu nilai yang absolut melampaui segalanya.

Paulus tidak hanya membuat perubahan ini dalam pikirannya, dia benar-benar menerapkan nilai ini dalam praktik dan membuang semuanya sebagai kotoran. Kata melepaskan semuanya (membuang semuanya) sebenarnya adalah bentuk kata kerja dari kata rugi, yang menyatakan telah mendapat kerugian, dan sering memiliki arti mengalami penderitaan dan kesulitan. Ini adalah arah yang sama dengan panggilan Yesus Kristus kepada para murid. Di teks berikutnya, ia juga menunjukkan bahwa ia hendak menderita bersama Yesus Kristus, bahkan hendak mengikuti teladan kematian Kristus.

Tetapi tekad Paulus untuk menerima penderitaan bukanlah karena dia pikir penderitaan adalah hal yang baik, tetapi yang dia hendak tegaskan tentang nilai yang lebih besar dari Injil Yesus Kristus. Di ayat 3:9, ia menunjukkan bahwa mereka yang percaya dan mengikuti Yesus Kristus dapat memperoleh kehidupan yang dipersatukan dengan Tuhan, berdamai dengan Allah, dan mendapat pembenaran (diperhitungkan sebagai benar). Kebenaran ini bukan karena ketaatan pada hukum Taurat sehingga mencapai adil benar tidak bercela di hadapan manusia, karena kebenaran seperti itu hanya bersifat relatif dan sementara. Apa yang diinginkan Paulus adalah kebenaran yang berasal dari Allah.

Jika kita melihat sesuai pemikiran Paulus, penerjemahan ayat 9b menjadi frasa kebenaran karena kepercayaan kepada Kristus terdapat sedikit perbedaan pandangan, karena di satu sisi dalam bahasa aslinya frasa tersebut dapat menjelaskan kebenaran yang berasal dari percaya kepada Yesus Kristus, tetapi di sisi lain itu dapat merujuk pada kebenaran yang berasal dari kesetiaan Yesus Kristus (lih. NET atau ISV the righteousness that comes by way of Christ’s faithfulness), Paulus tidak memberikan penjelasan terperinci atas ungkapannya ini, ia bahkan menggunakan aspek makna yang berbeda di tempat yang berbeda. Keadaan ini mungkin karena pernyataan itu sendiri mengandung kedua makna ini. Allah menyediakan metode pembenaran ini, Yesus Kristus harus menyelesaikan karya penebusan sesuai dengan kehendak Allah, dan manusia dapat menikmati anugerah penebusan ini, ia harus percaya kepada Yesus, menerima keselamatan dari Allah yang dikaruniakan melalui Kristus.

Paulus menunjukkan bahwa tujuan keselamatan tidak berhenti pada pembenaran, tetapi bersatu dengan Tuhan untuk berada di dalam Dia. Bagi Paulus, ini termasuk dalam penderitaan meniru Yesus Kristus, dan terlebih lagi hendak penuh harapan bahwa di masa depan ia akan dibangkitkan untuk menjadi lebih sepenuhnya bersama dengan Tuhan. Ayat 3:11 dalam terjemahan CUV dimulai kata mungkin, dapat menyebabkan kita salah memahami bahwa Paulus tidak pasti tentang kebangkitan (ITB menggunakan kata supaya), tetapi dalam 1 Korintus 15 ia dengan kuat menyatakan bahwa kebangkitan adalah bagian penting dari Injil Yesus Kristus. Karena itu, apa yang diungkapkan di sini bukanlah pertanyaan tentang tujuan akhir, tetapi pertanyaan tentang bagaimana cara dan proses yang akan dialami dalam kebangkitan ini (lihat NIV mengunakan kata somehow (in some unspecified way or manner; or by some unspecified means), atau KJV by any means). Walau cara kebangkitan bukanlah proses yang dapat kita pahami, tetapi kita tahu bahwa kita dapat memiliki harapan akan kebangkitan di dalam Kristus.

Renungkan:

Kita memiliki harapan kebangkitan, apalagi yang tidak bisa dikorbankan (takut rugi) dalam kehidupan?


Renungan pemahaman Surat Filipi (klik untuk membuka)

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain (klik untuk membuka)


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Surat Filipi ditulis oleh 潘仕楷 (Pān Shì Kǎi) yang dipublikasi pada bulan January 2020 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Iklan yang ada bukan milik blog ini, tetapi milik WordPress penyedia fasilitas blog tanpa biaya.

Yesaya 53:7-12

「Rela Menerima Penderitaan」
Oleh 高銘謙 (Gāo Míng Qiān)

Alliance Bible Seminary H.K.

(Yes. 53:7-12 [ITB])
7 Dia dianiaya, tetapi dia membiarkan diri ditindas dan tidak membuka mulutnya seperti anak domba yang dibawa ke pembantaian; seperti induk domba yang kelu di depan orang-orang yang menggunting bulunya, ia tidak membuka mulutnya. 8 Sesudah penahanan dan penghukuman ia terambil, dan tentang nasibnya siapakah yang memikirkannya? Sungguh, ia terputus dari negeri orang-orang hidup, dan karena pemberontakan umat-Ku ia kena tulah. 9 Orang menempatkan kuburnya di antara orang-orang fasik, dan dalam matinya ia ada di antara penjahat-penjahat, sekalipun ia tidak berbuat kekerasan dan tipu tidak ada dalam mulutnya.
10 Tetapi TUHAN berkehendak meremukkan dia dengan kesakitan. Apabila ia menyerahkan dirinya sebagai korban penebus salah, ia akan melihat keturunannya, umurnya akan lanjut, dan kehendak TUHAN akan terlaksana olehnya. 11 Sesudah kesusahan jiwanya ia akan melihat terang dan menjadi puas; dan hamba-Ku itu, sebagai orang yang benar, akan membenarkan banyak orang oleh hikmatnya, dan kejahatan mereka dia pikul. 12 Sebab itu Aku akan membagikan kepadanya orang-orang besar sebagai rampasan, dan ia akan memperoleh orang-orang kuat sebagai jarahan, yaitu sebagai ganti karena ia telah menyerahkan nyawanya ke dalam maut dan karena ia terhitung di antara pemberontak-pemberontak, sekalipun ia menanggung dosa banyak orang dan berdoa untuk pemberontak-pemberontak.

Hamba menerima penderitaan adalah secara sukarela, kita dapat melihat dari beberapa poin terkait sukarela kesediaan-Nya.

Pertama, ayat 7 dua kali menyebutkan bahwa hamba yang menderita tidak membuka mulut-Nya, seperti domba yang diam tidak bersuara di depan pencukur bulu, perumpamaan ini pernah digunakan pada diri Yeremia (Yer. 11:19) untuk menggambarkan hamba yang menderita sendirian, diam tanpa bersuara menanggung semua penderitaan yang dikenakan pada-Nya. Karena itu, kerelaan hamba ditunjukkan dalam kesediaan-Nya, dan juga dalam keheningan-Nya.

Kedua, ayat 10-11 menunjukkan bahwa TUHAN menganggap hamba-Nya sebagai korban penebus salah. Sebenarnya korban penebus salah terutama berurusan dengan dosa kesalahan (ma’al) pelanggaran yang terjadi oleh manusia terhadap Allah, arti kesalahan(ma’al) adalah tanpa diberikan wewenang secara tidak sah melakukan akses atau menyentuh benda-benda kudus, masuk ke tempat kudus, atau menyalahi orang-orang yang bertugas suci, dll., juga penyembahan berhala dapat termasuk sebagai kesalahan terburuk yang dapat menyebabkan pembuangan ke penawanan. Cara penyelesaiannya adalah terlebih dahulu bertobat dan mengakui dosa-dosa, mempersembahkan tebusan dan korban, yakni mempersembahkan korban penebus salah, dengan demikian menghindarkan orang berdosa dari konsekuensi dosanya. Dalam ayat 10, hidup hamba digunakan sebagai korban penebus salah, yang melambangkan hidup hamba sebagai harga tebusan untuk menebus konsekuensi dosa dari orang berdosa, sehingga orang berdosa yang akan dihukum dapat dibebaskan.

Pada akhirnya, dipersembahkannya hidup hamba sebagai korban penebus salah membawakan buah yakni ia akan melihat keturunannya, umurnya akan lanjut (ayat 10), dan akan membenarkan banyak orang (ayat 11). Keturunan ini dapat merujuk pada keturunan Sion, murid-murid TUHAN, hamba-hamba TUHAN, dll. Dengan demikian, hamba Allah akan melihat bahwa ada banyak keturunan, membentuk kelompok iman kepada TUHAN, pembentukan komunitas baru. Komunitas ini memiliki banyak orang mendapatkan pembenaran. Mereka disebut orang benar bukan karena hubungan darah, tetapi karena hamba Allah telah menjadi korban penebus salah, sehingga mereka dibenarkan. Ternyata hamba ini secara sukarela menderita adalah demi membentuk kelompok banyak orang yang mendapatkan pembenaran, dan kelompok ini menjadi keturunannya. Deskripsi banyak orang juga dianggap mencakup bangsa-bangsa lain, mereka yang tidak memiliki pengharapan untuk menjadi umat Allah ternyata dapat menjadi umat Allah, dan berbagi semua yang dijanjikan Allah.

Renungkan:

Hamba yang menderita menerima penderitaan secara sukarela, karena tujuan penderitaan-Nya adalah untuk membangun komunitas yang dibenarkan, yaitu Gereja. Fondasi Gereja bukanlah bangunan-bangunan besar, jumlah persembahan, jumlah kehadiran, strategi pelayanan, program yang menarik, dan berbagai layanan. Dasar fondasi Gereja adalah bahwa Yesus Kristus menjadi korban penebus dosa bagi orang berdosa, Ia berinisiatif menderita, secara sukarela dan diam tidak bersuara untuk membangun gereja yang dibenarkan, sehingga orang dapat melihat pengampunan dosa, tidak ada lagi penghukuman, ada kasih dan penerimaan, pertobatan, pengakuan dosa, harapan saling mengasihi satu sama lain. Jika kita masih mendefinisikan gereja dalam hal kekayaan, jumlah orang, pendidikan, program, dll., bukankah kita menyangkal anugerah cuma-cuma pembenaran karena iman, bukankah itu berarti kita memakai penampilan luar dan jasa untuk menyangkal penebusan Yesus Kristus?


Renungan pemahaman Kitab Yesaya (klik untuk membuka)

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain (klik untuk membuka)


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Yesaya Pasal 40-55 ditulis oleh 高銘謙 (Gāo Míng Qiān) yang dipublikasi pada bulan Desember 2019, merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Iklan yang ada bukan milik blog ini, tetapi milik WordPress penyedia fasilitas blog tanpa biaya.