Panggilan yang 「Murni dan Lurus」
Renungan ini merupakan terjemahan 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Mazmur 120-134 ditulis oleh 黃天逸 (Huáng Tiān Yì) yang dipublikasi pada bulan Mei 2018 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).
(Maz. 120:1-4 [ITB])
1Nyanyian ziarah. Dalam kesesakanku aku berseru kepada TUHAN dan Ia menjawab aku: 2「Ya TUHAN, lepaskanlah aku dari pada bibir dusta, dari pada lidah penipu.」
3Apakah yang diberikan kepadamu dan apakah yang ditambahkan kepadamu, hai lidah penipu? 4Panah-panah yang tajam dari pahlawan dan bara kayu arar.
Mazmur mulai dari pasal 120 sampai pasal 134 disebut sebagai 「Mazmur Perjalanan Naik」 (atau 「Mazmur Ziarah」). Ke 15 Mazmur ini sangat mungkin adalah Mazmur Pujian yang sesuai urutan dinyanyikan oleh umat Ibrani dalam perjalanan menuju ke Yerusalem pada beberapa hari besar perayaan orang Yahudi. Yerusalem adalah sebuah kota yang secara geografis berada di tempat yang paling tinggi di Palestina, oleh karena itu, para peziarah yang datang dari berbagai penjuru, sebagian besar waktu mereka harus berjalan pada jalan di atas gunung. Kemudian, kata 「Perjalanan Naik」 bukanlah semata-mata hanya makna harafiah, pada saat yang sama dapat dikatakan sebuah metafora (lukisan yg berdasarkan persamaan atau perbandingan) ─ perjalanan menuju ke Yerusalem, seperti umat beriman menghidupi kehidupan yang terarah menuju kepada Allah, saat mereka mengangkat kepala melebarkan langkah, saat menuju kedewasaan, mereka hendak terlebih lagi mendekati Allah. 「Mazmur Perjalanan Naik」─ mengingatkan kita: sebagai pengikut Allah, tidak peduli di dalam keadaan apapun, jangan lupa identitas diri sendiri, dan juga hendak mengingat dengan erat arah hendak kita tuju.
Sebagai mazmur pujian pertama dari 「Mazmur Ziarah」, yang digambarkan pasal 120, pasti bukan selembar gambaran para penyembah berziarah dalam sukaria. Pemazmur memakai 「kesesakan」 (ayat 1) sebagai pembukaan, dan memakai 「perdamaian」 sebagai penutup akhir (Maz. 120:7), dengan demikian telah membuktikan mazmur ini bukanlah sebuah lagu gembira, tetapi adalah selembar potret kenyataan yang realistik dan mendesak.
Dalam ayat 2-4, Pemazmur hendak kita terlebih dahulu menyadari, adalah sebuah kenyataan tidak dapat dihindari ─ kita terus menerus hidup di dalam 「kebohongan」 dan 「penipuan」. bagaimana memahami peringatan dari Pemazmur?
Konteks sebelumnya dari pasal 120, dalam Maz. 119:45, 96 memberitahukan kepada kita: Firman perkataan Allah mampu memberikan kepada manusia pembebasan, segala hal semuanya ada batasannya tetapi perintah Allah sebaliknya sangat luas lebar. Dan Firman perkataan Allah mampu membuat orang mendapatkan pelepasan, pada saat menikmati kebebasan, Mazmur 120 justru memberikan kepada kita sebuah kontras yang sangat kuat ─ perkataan manusia mampu membuat manusia terjerumus ke dalam penderitaan, berjalan masuk kesulitan, bahkan jatuh masuk ke dalam jerat dosa kejahatan, dan ini 「kesesakan」 yang benar-benar Pemazmur katakan: dua jalan ada di depan, sebenarnya bagaimana seharusnya kita memilih?
Ayat 4, Pemazmur memakai 「Panah-panah yang tajam dari pahlawan」 dan 「bara kayu arar」 untuk menggambarkan 「lidah penipu」. Pemazmur hendak kita mengerti: 「anak panah」 begitu dilepaskan, sangat sulit ditarik kembali, dan ciri khusus pohon arar adalah mudah terbakar, dan juga lama tidak padam, artinya: perkataan 「kebohongan」 dan 「penipuan」 sama seperti 「panah yang tajam」 dan 「bara api」, dapat dengan cepat menyebar, dan juga membawakan pengaruh yang bertahan lama serta jauh mendalam.
Di bagian pembukaan 「Mazmur Ziarah」, Pemazmur di satu sisi membeberkan tantangan keadaan nyata, tetapi di sisi yang lain, di titik awal perjalanan sudah memberikan peringatan yang demikian ini kepada para peziarah, meminta kita waspada, juga meminta kita mengetahui bagaimana melanjutkan perjalanan.
Renungkan: di dalam 「perjalanan ziarah」, apa yang hendak kita lakukan? Mungkin kita tidak bisa menghindari tantangan di dalam kehidupan nyata, hanya saja apakah kita mampu menghindari 「berkata bohong」 dan 「menipu」, dan juga bersandar pada perkataan Allah yang berharga untuk menjaga 「integritas」 diri di perjalanan, untuk melawan ketidakadilan dan kefasikan pada saat terjadi?