Tag Archives: Doa

Mazmur 52:1-9

「Kasih setia Allah senantiasa ada, tiada henti」

Oleh Rev. Dr. Andrew Kwong (鄺炳釗)
Alliance Bible Seminary H.K.


(Mazmur 52:1-9 [TB2])
1 Untuk pemimpin biduan. Nyanyian pengajaran Daud, ketika Doeg, orang Edom, datang memberitahukan kepada Saul bahwa Daud telah sampai di rumah Ahimelekh.

Mengapa engkau terus-menerus memegahkan diri dengan kejahatan, hai pejuang, terhadap orang yang dikasihi Allah?
……Kasih setia Allah kualami sepanjang hari.
2 Engkau merancangkan penghancuran,
……lidahmu seperti pisau cukur yang diasah,
……hai engkau, penipu!
3 Engkau mencintai yang jahat lebih daripada yang baik,
……dan dusta lebih daripada perkataan yang benar. Sela.
4 Engkau mencintai segala perkataan yang mengacaukan,
……hai lidah penipu!
5 Tetapi, Allah akan merobohkan engkau untuk seterusnya,
……Ia akan menangkap dan menarik engkau dari dalam kemah,
……mencabut engkau dari dunia. Sela.
6 Maka orang-orang benar terkejut,
……lalu menertawakan dia:
7 Inilah orang yang tidak menjadikan Allah tempat perlindungannya,
……hanya bersandar pada kekayaannya yang melimpah,
……dan berlindung pada tindakan penghancurannya!

8 Tetapi, aku ini seperti pohon zaitun yang menghijau
……di dalam Rumah Allah;
……aku percaya akan kasih setia Allah
……untuk seterusnya dan selamanya.
9 Aku hendak bersyukur kepada-Mu selama-lamanya,
……sebab Engkau telah bertindak;
……Aku berharap pada nama-Mu
……sebab Engkau baik,
……di hadapan orang-orang yang Kaukasihi!


Penulis mazmur ini difitnah oleh orang jahat yang berkuasa, jadi dia meminta Tuhan untuk membantunya, dan karena dia percaya bahwa Allah akan menolong dia, dia mengubah permohonannya menjadi sebuah deklarasi, mirip dengan Mazmur 23.

Ayat 1. Hai pejuang! Mengapa kamu bermegah karena melakukan kejahatan? Kasih setia Allah senantiasa ada; ini menunjukkan bahwa mereka yang menganiaya pemazmur adalah pejuang. Kata ini kebanyakan mengacu pada pejuang perkasa yang ahli dalam berperang, tetapi di sini digunakan dengan nada sarkastik, merujuk pada fakta bahwa orang-orang ini memiliki kekuatan dan kemampuan tetapi menggunakannya untuk menindas orang yang tidak bersalah. Tidak hanya itu, mereka juga bangga dengan kejahatan yang telah mereka lakukan (dengan perkasa menindas orang lemah), dan tidak disangka-sangka bahwa suatu saat mereka dan apa yang mereka miliki akan lenyap. Namun, pemazmur mengandalkan dan bermegah oleh kasih setia Allah yang dapat ia alami setiap hari (sepanjang hari).

Ayat 2-4 menggambarkan senjata yang digunakan orang-orang perkasa tersebut untuk menyerang pemazmur, yaitu lidah. Apa yang mereka lakukan mengingatkan kita pada perkataan rasul Yakobus: Demikian juga lidah, walaupun suatu anggota kecil dari tubuh, ia dapat memegahkan hal-hal yang besar (Yak. 3:5); lidah merupakan suatu dunia kejahatan di antara anggota-anggota tubuh kita, sesuatu yang menodai seluruh tubuh (Yak. 3:6); ia tidak terkuasai, jahat dan penuh racun yang mematikan (Yak. 3:8). Kita harus mengingat perintah Petrus: Siapa yang mau mencintai hidup dan mau melihat hari-hari baik, ia harus menjaga lidahnya dari yang jahat dan bibirnya dari ucapan-ucapan yang menipu(1 Petrus 3:10).

Ayat 5-7 mencatat keyakinan pemazmur bahwa Tuhan akan menghukum orang-orang jahat yang menggunakan lidah mereka yang memfitnah dirinya secara tidak benar. Mereka adalah orang-orang kaya yang mengandalkan kekayaan mereka yang berlimpah untuk menyakiti orang lain, dan mereka berpikir bahwa rencana jahat mereka akan berhasil (ayat 7 ini maknanya: mereka menetapkan diri sendiri).

Ayat 8-9 adalah akhir dari mazmur ini, menunjukkan bahwa pemazmur sama sekali berbeda dari orang-orang jahat. Ia selalu mengandalkan kemurahan kasih setia Allah, menggemakan ayat 1 bahwa kasih setia Allah itu kekal, sehingga ia bisa seperti pohon di Bait Suci yang selalu hijau. Pohon zaitun itu kuat dan kokoh, tidak seperti orang-orang fasik pemfitnah yang tinggal di tenda-tenda yang roboh jika ditiup angin (ayat 5a), dan seperti tanaman tak berakar yang mudah tumbang (ayat 5b). Di ayat 9 pemazmur memuji Allah karena Dia telah membuktikan dirinya tidak bersalah dan tidak tersakiti oleh para pemfitnah dirinya; memang benar kasih setia Allah itu kekal.

Seorang Yahudi ternama berbagi pengalamannya: 「Saya dulu adalah orang yang paling pesimis dan tidak bahagia di dunia. Saya dipenuhi kebencian setiap hari dan marah tanpa alasan. Tiga tahun psikoterapi tidak membuahkan hasil. Saya pikir saya akan menjadi orang yang sama sepanjang hidup saya (sampai kematian saya). Saya tidak hidup bahagia. Suatu hari rabi bertanya apakah saya ingin memperbaiki situasi saya. Saya berkata,Ya.Ia meminta saya sepanjang hari senantiasa mengingat empat kata bahasa Ibrani 〔ḥěsěd ᾽ēl kŏl-hăyyôm〕 (Mzm. 52:1), terjemahan literalnya adalah kasih setia, Allah, sepanjang, hari Alkitab bahasa Inggris: The kindness of God is all day long. Keesokan harinya, saya bangun dan mulai merenungkannya. Sungguh ajaib, saya masih belum bisa menjelaskannya sampai hari ini. Saya memikirkan empat kata ini dan mendapat cara pandang baru tentang hal-hal yang saya temui, saya merasa kehidupan ini indah, setiap hari, setiap menit, setiap detik dapat merasakan kasih setia Tuhan. Sejak hari itu, saya berangsur-angsur berubah, dan sekarang saya mungkin orang yang paling optimis dan paling bahagia di dunia. Ayat ini mempunyai dampak yang jauh lebih efektif pada saya dibandingkan tiga tahun konseling.」

Apapun kesulitan, penderitaan dan penganiayaan yang kita hadapi, kita selalu dapat mengandalkan kasih setia Tuhan untuk menghadapinya.

Doa:
Tuhan! Bantu saya untuk tidak menyakiti orang lain dengan lidah saya, dan menjalani hidup berkelimpahan dengan mengandalkan kasih setia-Mu setiap hari.

Bacaan doa
Silakan pilih ayat dari mazmur ini untuk doa langsung, doa transformasi, dan doa syafaat.





Mazmur 34:1-22

「Hatiku menengadah pandangan tertuju kepada TUHAN」

Oleh Rev. Dr. Andrew Kwong (鄺炳釗)
Alliance Bible Seminary H.K.


(Mazmur 34:1-22 [ITB])
1 Dari Daud, pada waktu ia pura-pura tidak waras pikirannya di depan Abimelekh, sehingga ia diusir, lalu pergi.
Aku hendak memuji TUHAN pada segala waktu; puji-pujian kepada-Nya tetap di dalam mulutku.
2 Karena TUHAN jiwaku bermegah; biarlah orang-orang yang rendah hati mendengarnya dan bersukacita.
3 Muliakanlah TUHAN bersama-sama dengan aku, marilah kita bersama-sama memasyhurkan nama-Nya!
4 Aku telah mencari TUHAN, lalu Ia menjawab aku, dan melepaskan aku dari segala kegentaranku.
5 Tujukanlah pandanganmu kepada-Nya, maka mukamu akan berseri-seri, dan tidak akan malu tersipu-sipu.
6 Orang yang tertindas ini berseru, dan TUHAN mendengar; Ia menyelamatkan dia dari segala kesesakannya.
7 Malaikat TUHAN berkemah di sekeliling orang-orang yang takut akan Dia, lalu meluputkan mereka.
8 Kecaplah dan lihatlah, betapa baiknya TUHAN itu! Berbahagialah orang yang berlindung pada-Nya!
9 Takutlah akan TUHAN, hai orang-orang-Nya yang kudus, sebab tidak berkekurangan orang yang takut akan Dia!
10 Singa-singa muda merana kelaparan, tetapi orang-orang yang mencari TUHAN, tidak kekurangan sesuatupun yang baik.
11 Marilah anak-anak, dengarkanlah aku, takut akan TUHAN akan kuajarkan kepadamu!
12 Siapakah orang yang menyukai hidup, yang mengingini umur panjang untuk menikmati yang baik?
13 Jagalah lidahmu terhadap yang jahat dan bibirmu terhadap ucapan-ucapan yang menipu;14 jauhilah yang jahat dan lakukanlah yang baik, carilah perdamaian dan berusahalah mendapatkannya!
15 Mata TUHAN tertuju kepada orang-orang benar, dan telinga-Nya kepada teriak mereka minta tolong;16 wajah TUHAN menentang orang-orang yang berbuat jahat untuk melenyapkan ingatan kepada mereka dari muka bumi.
17 Apabila orang-orang benar itu berseru-seru, maka TUHAN mendengar, dan melepaskan mereka dari segala kesesakannya.
18 TUHAN itu dekat kepada orang-orang yang patah hati, dan Ia menyelamatkan orang-orang yang remuk jiwanya.
19 Kemalangan orang benar banyak, tetapi TUHAN melepaskan dia dari semuanya itu;20 Ia melindungi segala tulangnya, tidak satupun yang patah.
21 Kemalangan akan mematikan orang fasik, dan siapa yang membenci orang benar akan menanggung hukuman.
22 TUHAN membebaskan jiwa hamba-hamba-Nya, dan semua orang yang berlindung pada-Nya tidak akan menanggung hukuman.


Mazmur ini adalah mazmur ucapan syukur pribadi, pemazmur diselamatkan oleh Allah (lihat ayat 4, 6-7, 15, 19, 22) dan menulis mazmur ini untuk mengungkapkan rasa syukurnya kepada Allah.

Keseluruhan mazmur dibagi menjadi tiga bagian: ayat 1-3, pemazmur dirinya sendiri memuji Allah dan mengajak orang lain untuk bergabung dengannya; ayat 4-8, mengemukakan alasan melakukan hal tersebut; ayat 9-22, pemazmur menceritakan pengalamannya dan menggunakannya untuk mendorong agar orang-orang yang rendah hati (ayat 2), orang Israel lainnya (umat kudus, ayat 9) dan generasi yang lebih muda (anak-anak, ayat 11). Rasul Petrus sepertinya menyukai mazmur ini dan mengutipnya tiga kali:

Pertama, 1 Petrus 2:3 jika kamu benar-benar telah mengecap kebaikan Tuhan mengutip Mazmur 34:8 Kecaplah dan lihatlah … dalam bahasa aslinya memang hanya Kecaplah dan lihatlah …, tidak menentukan apa yang harus dicicipi, sehingga pembaca dapat menggunakan imajinasinya untuk mengisi objek apa yang harus dicicipi tersebut. Pemazmur menitik beratkan pada tindakan mengecap, yaitu secara perlahan menikmati kecapan, yaitu pengalaman langsung dan mengalami secara pribadi, tidak dapat diperoleh hanya dengan mengandalkan ajaran orang lain. Mencicipinya seperti meminum air, mengetahui apakah itu dingin atau hangat. Bagaimana cara mengecap? Bagaimana cara mengalaminya? Kata asli ṭʽm (טָעַם ta`am) mengecap memiliki akar kata yang sama dengan ṭāʽăm prilaku tindakan; mengecap sepatutnya melakukan tindakan yang seharusnya ada, antara lain: takut hormat akan Dia (ayat 7, 9, 11) yang merupakan kata kunci mazmur ini; menengadah mengarahkan pandangan tertuju kepada-Nya (ayat 5), berlindung kepada-Nya (ayat 8), mencari-Nya (ayat 4, 10), dan seterusnya.

Petrus menggunakan ayat ini untuk menggambarkan mereka yang percaya kepada Tuhan perlu mengecap kasih karunia Tuhan, terus bertumbuh, dan bukan sekadar menikmati kecapan. Ibrani 6:4 juga mengutip tentang mengecap kasih karunia Tuhan, tetapi merujuk kasih karunia surgawi, Sebab mereka yang pernah diterangi hatinya, yang pernah mengecap karunia sorgawi, dan yang pernah mendapat bagian dalam Roh Kudus. Pemberian karunia yang akan datang dari surga, yakni apa yang telah digenapi oleh Allah di dalam Kristus Yesus, keselamatan yang dianugerahkan kepada orang-orang percaya.

Apa yang harus diketahui oleh mereka yang mengecap? Mengetahui betapa baiknya TUHAN itu (ayat 8). Mengetahui bersumber dari fungsi mata melihat , dan respons terhadap mengecap adalah fungsi lidah. Bahasa asli baik sama dengan yang baik ṭôb di ayat 10, mencerminkan bahwa orang yang mengalami Allah akan mengetahui bahwa Dia itu sungguh baik. Apakah kita sudah merasakan kasih karunia Allah (anugerah surgawi) melalui Yesus Kristus sehingga kita bisa terus bertumbuh di dalam Tuhan?

Kedua, 1 Petrus 2:6b Sebab ada tertulis dalam Kitab Suci: 『Sesungguhnya, Aku meletakkan di Sion sebuah batu yang terpilih, sebuah batu penjuru yang mahal, dan siapa yang percaya kepada-Nya, tidak akan dipermalukan.』 Frasa 『… siapa yang percaya kepada-Nya, tidak akan dipermalukan.』 yang mungkin ada kaitannya dengan Mazmur 34:6 ini Mereka yang memandang kepada-Nya, akan bersinar dan wajahnya tidak akan malu(terjemahan IMB). Mereka yang mengarahkan pandangan berharap kepada Tuhan akan menerima kemuliaan dan bukannya rasa malu, digambarkan wajah mereka bersinar; mereka yang memandang kepada Tuhan tidak akan merasa malu karena Tuhan tidak menyelamatkan sehingga wajah mereka akan menjadi gelap dan kusam, serupa dengan apa yang dikatakan Petrus 『siapa yang percaya kepada-Nya, tidak akan dipermalukan』; kepada-Nya adalah mengacu pada Yesus.

Kita sering merasa malu karena orang lain memandang rendah atau mengejek kita sebagai orang Kristen. Bagaimana kita bisa tidak lagi merasa malu karena kita memandang kepada Bapa Surgawi kita atau percaya kepada Sang Putra, dan bahkan wajah kita pun dapat selalu bersinar berseri-seri?

Ketiga, 1 Petrus 3:10-12 Siapa yang mau mencintai hidup dan mau melihat hari-hari baik, ia harus menjaga lidahnya terhadap yang jahat dan bibirnya terhadap ucapan-ucapan yang menipu. Ia harus menjauhi yang jahat dan melakukan yang baik, ia harus mencari perdamaian dan berusaha mendapatkannya. Sebab mata Tuhan tertuju kepada orang-orang benar, dan telinga-Nya kepada permohonan mereka yang minta tolong, tetapi wajah Tuhan menentang orang-orang yang berbuat jahat.Ia mengutip Mazmur 34:12-16, yang menyatakan bahwa orang-orang yang mencintai kehidupan: dalam aspek ucapan akan menahan lidahnya dari ucapan yang jahat, dan bibirnya dari ucapan yang menipu (ayat 13); aspek perilaku yakni kita harus menjauhi kejahatan dan aktif berbuat baik (ayat 14a); dalam aspek relasi: kita harus mencari perdamaian, mengejarnya dengan sepenuh hati (ayat 14b) dan segenap hati diri untuk bergaul dengan damai dengan orang lain. Mengapa melakukan ini? Petrus menyatakan: 1) Karena kita dipanggil untuk melakukan hal ini, supaya oleh sebabnya kita diberkati (1 Petrus 3:9); 2) Allah peduli terhadap orang benar, telinga-Nya mendengarkan doa-doa mereka, tetapi orang-orang yang berbuat jahat, Tuhan mengubah wajah-Nya terhadap mereka (1 Petrus 3:12).

Orang-orang yang dipanggil Allah sering kali hanya mengetahui secara mental bahwa mereka dipanggil untuk menjadi orang-orang kudus, atau merasakan hal ini secara mental, namun tidak berperilaku atau bertindak sesuai dengan panggilan itu. Kita harus menghidupi sebagaimana seharusnya orang-orang kudus, tidak hanya dalam perkataan dan tindakan kita, tetapi juga dalam cara kita bergaul dengan orang lain, menghidupi karakter yang sepatutnya dimiliki orang Kristen.

Doa:
Tuhan! Tolonglah aku bukan hanya sekadar menikmati anugerah surga, tetapi juga untuk terus bertumbuh dan sedikit demi sedikit belajar untuk mengarahkan pandangan dan percaya kepada-Mu, agar aku bisa lebih sedikit berbuat dosa, memperbanyak perbuatan saleh, dan berusaha semaksimal mungkin untuk hidup membawakan kedamaian kepada orang lain.

Bacaan doa
Silakan pilih ayat dari mazmur ini untuk doa langsung, doa transformasi, dan doa syafaat.





Mazmur 30:1-12

「Anugerah sepanjang hidup」

Oleh Rev. Dr. Andrew Kwong (鄺炳釗)
Alliance Bible Seminary H.K.


(Mazmur 30:1-12 [ITB])
1 Mazmur. Nyanyian untuk pentahbisan Bait Suci. Dari Daud.
Aku akan memuji Engkau, ya TUHAN, sebab Engkau telah menarik aku ke atas, dan tidak memberi musuh-musuhku bersukacita atas aku.
2 TUHAN, Allahku, kepada-Mu aku berteriak minta tolong, dan Engkau telah menyembuhkan aku.3 TUHAN, Engkau mengangkat aku dari dunia orang mati, Engkau menghidupkan aku di antara mereka yang turun ke liang kubur.
4 Nyanyikanlah mazmur bagi TUHAN, hai orang-orang yang dikasihi-Nya, dan persembahkanlah syukur kepada nama-Nya yang kudus!5 Sebab sesaat saja Ia murka, tetapi seumur hidup Ia murah hati; sepanjang malam ada tangisan, menjelang pagi terdengar sorak-sorai.
6 Dalam kesenanganku aku berkata: Aku takkan goyah untuk selama-lamanya!7 TUHAN, oleh karena Engkau berkenan, Engkau telah menempatkan aku di atas gunung yang kokoh; ketika Engkau menyembunyikan wajah-Mu, aku terkejut.
8 Kepada-Mu, ya TUHAN, aku berseru, dan kepada Tuhanku aku memohon:9 Apakah untungnya kalau darahku tertumpah, kalau aku turun ke dalam lobang kubur? Dapatkah debu bersyukur kepada-Mu dan memberitakan kesetiaan-Mu?10 Dengarlah, TUHAN, dan kasihanilah aku, TUHAN, jadilah penolongku!
11 Aku yang meratap telah Kauubah menjadi orang yang menari-nari, kain kabungku telah Kaubuka, pinggangku Kauikat dengan sukacita,12 supaya jiwaku menyanyikan mazmur bagi-Mu dan jangan berdiam diri. TUHAN, Allahku, untuk selama-lamanya aku mau menyanyikan syukur bagi-Mu.


Mazmur ini adalah ucapan syukur pribadi. Ayat 4, 9, dan 12 semuanya menggunakan kata kerja ydh syukur, pemazmur bersyukur Allah mendengar seruan permohonannya dan menyembuhkannya. Judul mazmur ini menyebutkan Nyanyian untuk penahbisan Bait Suci, mungkin karena bangsa Israel yang kembali dari pembuangan menggunakan mazmur ini ketika mereka mempersembahkan Bait suci yang dibangun kembali kepada Allah pada tahun 515 SM; orang Yahudi merasa dibuang ke penawanan dan Bait Suci dihancurkan adalah seperti orang jatuh sakit; kembali dari pembuangan dan pembangunan kembali Bait Suci bagaikan orang yang baru sembuh dari penyakit. Oleh karena itu, mereka menggunakan mazmur yang sama untuk mengungkapkan dua aspek ucapan syukur, maka mazmur ini juga bisa kita gunakan untuk mengucap syukur setelah menderita.

Ayat 1-3: pemazmur menunjukkan bahwa ia bersyukur karena Allah mendengar seruannya dan menyembuhkannya, mencegahnya dari sakit dan mati (ayat 2-3 TUHAN, Allahku, kepada-Mu aku berteriak minta tolong, dan Engkau telah menyembuhkan aku. TUHAN, Engkau mengangkat aku dari dunia orang mati, Engkau menghidupkan aku di antara mereka yang turun ke liang kubur)

Ayat 4-5 pemazmur yang menasihati sanak saudara dan sahabatnya (orang-orang kudus). Ia berbagi hikmah yang didapatnya, yaitu murka Allah hanya sesaat, namun rahmat murah hati-Nya berlangsung seumur hidup. Menangis mungkin berlangsung semalam, namun kegembiraan datang di pagi hari. Pemazmur menggunakan empat rangkaian kontras:

Pertama, murka versus kasih karunia. Murka adalah respons Allah terhadap dosa dan penjahat, dengan tujuan membuat mereka bertobat; kasih karunia adalah respons Allah terhadap mereka yang mau bertobat, termasuk kasih, pengampunan, berkat, dll. Kedua, sekejap mata versus seumur hidup; murka Allah membuat manusia bertobat, murka-Nya surut dalam sekejap, tetapi kasih karunia-Nya kekal tidak berubah. Ketiga, menangis versus bersorak, pemazmur menitikkan air mata sepanjang malam, namun keesokan paginya dia bisa bersorak sebagai ganti duka. Keempat, sepanjang malam (malam) versus pagi, yang pertama adalah metafora untuk kepedihan hidup di bawah murka Allah (kegelapan melambangkan ketidakbahagiaan), sedangkan pagi mengacu pada keselamatan dan kelepasan manusia (cahaya pagi melambangkan kegembiraan dan harapan.)

Kita hendaknya bersyukur kepada Tuhan atas anugerah seumur hidup, kasih karunia-Nya mendesak kita untuk bertobat setelah kita berbuat dosa, yang memungkinkan murka-Nya surut, dan bahwa kita dapat bersorak dan bukannya menangis. Sayangnya, kita sering hanya mengucap syukur atas berkat materi dan jasmani, namun jarang mengucap syukur atas anugerah rohani (terutama keselamatan kekal yang diberikan oleh Tuhan). Kita juga cenderung mengucap syukur untuk diri sendiri dan keluarga, tetapi jarang mengucap syukur untuk gereja dan saudara-saudari.

Ayat 6-7 menunjukkan bahwa Allah murka terhadap pemazmur karena ia melakukan dosa kesombongan dan tidak tahu mengucap syukur. Dia mengenang, Dalam kesenanganku aku berkata: 『Aku takkan goyah untuk selama-lamanya!』 Di sini kesenanganku mengacu pada stabilitas dan kemakmuran, dalam kemakmuran tersebut pemazmur bangga dan puas diri, dan bahkan berbicara seperti orang fasik , ia mengatakan: Aku takkan goyah untuk selama-lamanya! (Lihat 10:6 Ia berkata dalam hatinya: 『Aku takkan goyang. Aku tidak akan ditimpa malapetaka turun-temurun.』) Raja Nebukadnezar diturunkan hina menjadi binatang buas karena dia merasa bangga tinggal dengan damai di istana (Dan 4:4 Aku, Nebukadnezar, diam dalam rumahku dengan tenang dan hidup dengan senang dalam istanaku) dan berkata: Bukankah itu Babel yang besar itu, yang dengan kekuatan kuasaku dan untuk kemuliaan kebesaranku telah kubangun menjadi kota kerajaan? (Daniel 4:30)

Ketika semuanya berjalan baik bagi kita dan kita dianggap sebagai orang sukses, kita harus berhati-hati jangan sampai kita menjadi sombong, tidak bersyukur, dan acuh terhadap kenyataan bahwa semua yang kita miliki adalah pemberian Tuhan, sehingga menyebabkan kita menjadi sombong seperti pemazmur dan lupa bahwa hanya Dia yang kokoh seperti gunung,Engkau telah menempatkan aku di atas gunung yang kokoh itu adalah adalah rahmat kemurahan Tuhan kepadanya (ayat 7). Anugerah bukanlah sesuatu yang pantas atau kita peroleh, namun diberikan tanpa syarat oleh Tuhan. Nebukadnezar kemudian mempelajari pendisiplinan ini dan mengetahui bahwa Yang Maha Tinggi memerintah dalam kerajaan manusia dan memberikan kerajaan kepada siapa pun yang Dia inginkan (Dan. 4:32), dan akhirnya dia dapat memperoleh kembali kerajaan tersebut.

Doa:
Tuhan! Bantulah aku agar tidak hanya bersyukur setelah sakit atau menderita, tetapi juga agar selalu mempunyai hati yang bersyukur di hari-hari yang lancar. Aku akan meneladani pemazmur yang berkata kepada-Mu: Engkaulah Tuhanku, tidak ada yang baik bagiku selain Engkau! (Mzm. 16:2) Tolong bantu aku. Engkau mengajariku untuk mengingat: Kecongkakan mendahului kehancuran, dan tinggi hati mendahului kejatuhan (Amsal 16:18).

Bacaan doa
Silakan pilih ayat dari mazmur ini untuk doa langsung, doa transformasi, dan doa syafaat.





Mazmur 29:1-11

「Sumber kekuatan」

Oleh Rev. Dr. Andrew Kwong (鄺炳釗)
Alliance Bible Seminary H.K.


(Mazmur 29:1-11 [ITB])
1 Mazmur Daud.
Kepada TUHAN, hai penghuni sorgawi,
kepada TUHAN sajalah kemuliaan dan kekuatan!
2 Berilah kepada TUHAN kemuliaan nama-Nya,
sujudlah kepada TUHAN dengan berhiaskan kekudusan!
3 Suara TUHAN di atas air, Allah yang mulia mengguntur,
TUHAN di atas air yang besar.
4 Suara TUHAN penuh kekuatan,
suara TUHAN penuh semarak.
5 Suara TUHAN mematahkan pohon aras, bahkan,
TUHAN menumbangkan pohon aras Libanon.
6 Ia membuat gunung Libanon melompat-lompat seperti anak lembu, dan gunung Siryon seperti anak banteng.
7 Suara TUHAN menyemburkan nyala api.
8 Suara TUHAN membuat padang gurun gemetar,
TUHAN membuat padang gurun Kadesh gemetar.
9 Suara TUHAN membuat beranak rusa betina yang mengandung, bahkan, hutan digundulinya; dan di dalam bait-Nya setiap orang berseru: Hormat!
10 TUHAN bersemayam di atas air bah,
TUHAN bersemayam sebagai Raja untuk selama-lamanya.
11 TUHAN kiranya memberikan kekuatan kepada umat-Nya,
TUHAN kiranya memberkati umat-Nya dengan sejahtera!


Mazmur ini merupakan mazmur pujian, memuji Allah yang telah menunjukkan kemuliaan dan kuasa-Nya melalui guruh dan kilat di alam, serta memuji Dia sebagai Raja yang berkemenangan. Angin kencang, guntur, kilat, dan gempa bumi yang menyertai kemunculan Raja agung ini ─ seperti pemandangan yang terjadi saat Ia menampakkan diri di Gunung Sinai ─ membuat manusia mau tidak mau pasti hormat takut, menaati-Nya, dan memahami keterbatasan manusia. Latar mazmur ini berpindah dari surga (ayat 1-2) ke bumi (ayat 3-9a), lalu kembali ke surga, tempat bersemayamnya Allah (ayat 9b -10), kemudian sebagai penutup akhir adalah doa umat Allah di bumi.

Ayat 1-2: pemazmur mengajak penghuni surgawi (malaikat) untuk memberikan kemuliaan kuasa kepada Allah; ayat 3-9 menunjukkan alasan mengundang mereka untuk melakukan hal tersebut, yaitu karena suara Allah berada di atas air dan segala sesuatu, yang menunjukkan kuasa-Nya. Ayat 9b: Pemazmur mengajak untuk memuji Allah dengan kata kemuliaan; ayat 10 menunjukkan alasannya, yaitu Allah duduk sebagai Raja pada saat air bah. Ayat 11 adalah bagian akhir. Pemazmur memohon agar Allah memberikan kekuatan dan kedamaian kepada umat Allah. Tidak diragukan lagi, kemuliaan (1, 2, 3, 9) dan kekuasaan (1, 4, 11; lihat juga guntur dan kilat mencerminkan kuasa Allah) menjadi fokus mazmur ini.

Ayat 1 menyatakan kepada TUHAN sajalah kemuliaan dan kekuatan, yang berarti mengakui bahwa kemuliaan dan kekuasaan adalah milik TUHAN, sama seperti Daniel memuji Allah dan berkata: Terpujilah nama Allah dari selama-lamanya sampai selama-lamanya, sebab dari pada Dialah hikmat dan kekuatan! (Dan. 2:20) Kalau kita dengan tulus mengembalikan kepada TUHAN sajalah kemuliaan dan kekuatan, maka akan terjadi dua wujud:

Pertama, kita mengakui bahwa Allah layak menerima semua kemuliaan, dan motivasi kita dalam melakukan sesuatu adalah untuk memuliakan Dia, bukan diri kita sendiri. Ini seperti yang dikatakan Yohanes Pembaptis tentang Yesus: Ia harus makin besar, tetapi aku harus makin kecil (Yohanes 3:30) Kita tidak bisa pada saat yang sama memuliakan Allah dan diri kita sendiri. Kita perlu membuat pilihan untuk memuliakan Tuhan lebih daripada diri kita sendiri. Misalnya, saat kita bersiap mengajar di Sekolah Minggu, hendaknya kita bertanya pada diri sendiri: Apakah tujuan mengajar adalah membuat siswa Sekolah Minggu mengenal Tuhan dan memuliakan Dia, atau agar mereka menghargai saya dan menganggap saya guru yang berpengetahuan? Jika yang pertama, kita akan mengajari siswa apa yang mereka perlukan pada hari Minggu. Bagikan apa yang kita ketahui kepada mereka; jika yang kedua, kita akan memberikan materi pengajaran yang mengesankan bagi mereka, tetapi mengabaikan apakah materi tersebut dapat membantu mereka benar-benar mengenal Tuhan.

Raja Nebukadnezar dari Babel diturunkan rendah menjadi binatang buas dan Belsyazar dibunuh karena kesombongan, memuliakan dirinya sendiri lebih daripada memuliakan Allah (Dan. 4:29-30, 5:22-23); Herodes mengenakan pakaian kerajaan, lalu duduk di atas takhta dan berpidato kepada mereka. Dan rakyatnya bersorak membalasnya: Ini suara allah dan bukan suara manusia! Dan seketika itu juga ia ditampar malaikat Tuhan karena ia tidak memberi hormat kepada Allah; ia mati dimakan cacing-cacing. (Kis. 12:22-23)

Kedua, kita bukan saja harus memuliakan TUHAN, tetapi juga mengembalikan kuasa kepada Dia, yang berarti mengakui bahwa kekuasaan adalah milik Allah, bukan bermegah diri seperti Nebukadnezar yang berkata Bukankah itu Babel yang besar itu, yang dengan kekuatan kuasaku dan untuk kemuliaan kebesaranku telah kubangun menjadi kota kerajaan? (Daniel 4:30) Kita harus memuji Allah karena semua kekuatan diberikan oleh-Nya, dan kita harus belajar lebih mengandalkan Dia untuk memberi kita kekuatan untuk melakukan apa yang seharusnya kita lakukan..

Godaan terbesar yang kita hadapi saat ini adalah kita sering berpikir bahwa kita dapat melakukan hal-hal besar sendiri. Kita tidak mempercayai peringatan keras Tuhan sebelum kematian-Nya: di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa (Yohanes 15:5). Bukan berarti tidak ada yang bisa dilakukan tanpa bergantung pada-Nya, tetapi apa yang dilakukan tidak berkenan kepada Allah Bapa, dan buahnya tidak akan bertahan lama, seperti pohon yang berbuah, tetapi buahnya tidak akan bertahan lama segera membusuk (Yohanes 15). Kita tidak pernah lupa memohon kepada Tuhan untuk memberi kita kekuatan ketika kita terlibat dalam pelayanan suci di gereja, namun kita gagal melakukannya dalam pekerjaan kantor sehari-hari. Kita lupa bahwa kekuatan adalah milik Tuhan, padahal Ia berkenan memberikan kita kekuatan agar kita melakukan pekerjaan sehari-hari dengan baik. Sayangnya, kita sering mengabaikan Allah adalah sumber kekuatan terbaik.

Doa:
Tuhan! Bantu saya untuk setiap hari mengembalikan kemuliaan dan kekuatan kepada Engkau, dan menggunakan tindakan praktis untuk menghidupi mazmur ini. Secara khusus, semua yang saya lakukan harus untuk kemuliaan-Mu dan mengandalkan kekuatan yang Engkau berikan kepada saya untuk melakukannya, apakah itu pelayanan suci di gereja atau pekerjaan sehari-hari di kantor.

Bacaan doa
Silakan pilih ayat dari mazmur ini untuk doa langsung, doa transformasi, dan doa syafaat.





Mazmur 27:1-14

「Di Bait-Mu」

Oleh Rev. Dr. Andrew Kwong (鄺炳釗)
Alliance Bible Seminary H.K.


(Mazmur 27:1-14 [ITB])
1 Dari Daud.
TUHAN adalah terangku dan keselamatanku, kepada siapakah aku harus takut? TUHAN adalah benteng hidupku, terhadap siapakah aku harus gemetar?
2 Ketika penjahat-penjahat menyerang aku untuk memakan dagingku, yakni semua lawanku dan musuhku, mereka sendirilah yang tergelincir dan jatuh.3 Sekalipun tentara berkemah mengepung aku, tidak takut hatiku; sekalipun timbul peperangan melawan aku, dalam hal itupun aku tetap percaya.
4 Satu hal telah kuminta kepada TUHAN, itulah yang kuingini: diam di rumah TUHAN seumur hidupku, menyaksikan kemurahan TUHAN dan menikmati bait-Nya.5 Sebab Ia melindungi aku dalam pondok-Nya pada waktu bahaya; Ia menyembunyikan aku dalam persembunyian di kemah-Nya, Ia mengangkat aku ke atas gunung batu.
6 Maka sekarang tegaklah kepalaku, mengatasi musuhku sekeliling aku; dalam kemah-Nya aku mau mempersembahkan korban dengan sorak-sorai; aku mau menyanyi dan bermazmur bagi TUHAN.
7 Dengarlah, TUHAN, seruan yang kusampaikan, kasihanilah aku dan jawablah aku!
8 Hatiku mengikuti firman-Mu: Carilah wajah-Ku; maka wajah-Mu kucari, ya TUHAN.
9 Janganlah menyembunyikan wajah-Mu kepadaku, janganlah menolak hamba-Mu ini dengan murka; Engkaulah pertolonganku, janganlah membuang aku dan janganlah meninggalkan aku, ya Allah penyelamatku!
10 Sekalipun ayahku dan ibuku meninggalkan aku, namun TUHAN menyambut aku.
11 Tunjukkanlah jalan-Mu kepadaku, ya TUHAN, dan tuntunlah aku di jalan yang rata oleh sebab seteruku.
12 Janganlah menyerahkan aku kepada nafsu lawanku, sebab telah bangkit menyerang aku saksi-saksi dusta, dan orang-orang yang bernafaskan kelaliman.
13 Sesungguhnya, aku percaya akan melihat kebaikan TUHAN di negeri orang-orang yang hidup!
14 Nantikanlah TUHAN! Kuatkanlah dan teguhkanlah hatimu! Ya, nantikanlah TUHAN!


Mazmur 27 ini juga merupakan mazmur tentang percaya dan bersandar (seperti Mazmur 16), telah disebutkan sebelumnya bahwa meskipun Mazmur 25 bukan mazmur tentang percaya dan bersandar, namun tetap menekankan percaya yang bersandar kepada Allah. Mazmur ini menekankan: pertama, Tuhan menolong kita, jadi kita tidak perlu takut pada manusia. Kita kenal dengan baik ayat 1 TUHAN adalah terangku dan keselamatanku, kepada siapakah aku harus takut? TUHAN adalah benteng hidupku, terhadap siapakah aku harus gemetar? Di sini cahaya terang dikaitkan dengan perang karena sejajar dengan kalimat berikutnya tentang keselamatan, yang memiliki makna kemenangan. Mereka yang percaya kepada Allah mendapat penyertaan dan perlindungan TUHAN, Ia mampu mengusir musuh yang ingin mencelakakan mereka (lihat ayat 2), seperti terang yang muncul dan mengusir kegelapan.

Pemazmur tidak hanya menyebutkan di awal bahwa ia tidak perlu takut terhadap manusia, tetapi juga di bagian akhir (ayat 14) mengutip perkataan imam kepadanya Nantikanlah TUHAN! Kuatkanlah dan teguhkanlah hatimu! Ya, nantikanlah TUHAN! Musa juga menggunakan kata kerja ini untuk menginstruksikan penggantinya Yosua agar tidak takut (Ul. 31:7, diterjemahkan sebagai Kuatkan dan teguhkanlah hatimu …). Yosua harus teguh dan berani, tidak perlu takut terhadap raja-raja Kanaan; TUHAN akan membantunya berhasil menduduki tanah perjanjian; pemazmur harus teguh dan berani, karena TUHAN tidak akan menyerahkan dia kepada musuh-musuhnya (ayat 12) tidak akan mendapat celaka oleh mereka. Kebanyakan orang yang kita takuti adalah orang-orang yang penting bagi kita (misalnya anggota keluarga), orang-orang yang dapat menyakiti kita (misalnya atasan, rekan kerja, dll), dan orang-orang yang dapat menolong kita (misalnya dokter, dll).. Bagaimana kita bisa karena Tuhan sehingga mengurangi rasa takut terhadap mereka, agar kita tidak hidup dalam ketakutan dan dirugikan secara fisik, mental, dan spiritual?

Kedua, tidak takut pada manusia berkaitan dengan percaya dan bersandar Tuhan. Ayat 3 Sekalipun tentara berkemah mengepung aku, tidak takut hatiku; sekalipun timbul peperangan melawan aku, dalam hal itupun aku tetap percaya. Pemazmur mengulangi bahwa ia tidak takut, dan menambahkan, aku tetap percaya. Dalam bahasa asli bṭḥ diterjemahkan sebagai percaya bersandar seperti di Mazmur 25:2, juga punya arti tenteram yaitu aku tetap tenteram. Percaya kepada Tuhan adalah penyembuh rasa takut yang baik. Tak heran jika Alkitab sering berkata: Jangan takut, percaya saja. Orang yang percaya kepada Tuhan adalah orang yang aman, tenteram, dan nyaman seperti bayi dalam gendongan ibunya. Mazmur 131:2 Sesungguhnya, aku telah menenangkan dan mendiamkan jiwaku; seperti anak yang disapih berbaring dekat ibunya, ya, seperti anak yang disapih jiwaku dalam diriku. Orang yang benar-benar percaya dan bersandar kepada Tuhan dapat merasa aman di tangan-Nya dan berkurang takut terhadap manusia lain.

Ketiga, bagaimana kita bisa percaya dan bersandar Tuhan? Yaitu mendekatkan diri kepada-Nya, seperti ayat 4 Satu hal telah kuminta kepada TUHAN, itulah yang kuingini: diam di rumah TUHAN seumur hidupku, menyaksikan kemurahan TUHAN dan menikmati bait-Nya. Pemazmur merasa bahwa satu hal yang harus kita lakukan dalam hidup adalah menyembah Allah dan memahami kehendak-Nya. Hal ini mengingatkan kita bahwa Paulus percaya bahwa hal terpenting dalam hidup adalah mengenal Yesus Kristus adalah harta tertinggi … segala sesuatu kuanggap rugi, karena pengenalan akan Kristus Yesus, Tuhanku, lebih mulia dari pada semuanya (Filipi 3:8, 12). Orang percaya yang menghargai hubungannya dengan Tuhan, ia dengan cara ini mempercayai Tuhan dan tidak perlu takut pada manusia. Tindakan praktis apa yang dapat kita ambil saat ini untuk tinggal di bait Tuhan sepanjang hidup kita, memandang keindahan-Nya, dan menikmati bait-Nya. Frasa menikmati bait-Nya dapat diterjemahkan sebagai mencari tahu (meditasi/merenungkan) di dalam bait-Nya

Keempat, mengapa kita harus percaya yang bersandar Tuhan? Pemazmur mengulangi di ayat 8 Hatiku mengikuti firman-Mu: 『Carilah wajah-Ku』; maka wajah-Mu kucari, ya TUHAN. Ia mencari wajah TUHAN karena dia tahu bahwa Allah tidak akan meninggalkannya bahkan jika orang tuanya meninggalkan dia, Allah akan menerima dia (ayat 9-10). Selain itu, ayat 13 menyebutkan Sesungguhnya, aku percaya akan melihat kebaikan TUHAN di negeri orang-orang yang hidup! Kata kebaikan adalah terjemahan secara harfiah dapat juga dipahami sebagai perkenanan Tuhan. Kita percaya yang bersandar dan mempercayakan diri kepada Tuhan karena Dia tidak akan pernah meninggalkan kita, dan karena Dia bersedia menganugerahkan kepada kita segala kebaikan-Nya.

Doa:
Tuhan! Engkau tahu siapa yang paling aku takuti. Tolong bantu aku menghargai hubunganku dengan Engkau sehingga aku bisa lebih memiliki iman kepada-Mu dan mengurangi takut pada manusia.

Bacaan doa
Silakan pilih ayat dari mazmur ini untuk doa langsung, doa transformasi, dan doa syafaat.





Mazmur 25:1-22

「Percaya dan bersandar sepenuhnya」

Oleh Rev. Dr. Andrew Kwong (鄺炳釗)
Alliance Bible Seminary H.K.


(Mazmur 25:1-22 [ITB])
1 Dari Daud.
Kepada-Mu, ya TUHAN, kuangkat jiwaku;2 Allahku, kepada-Mu aku percaya; janganlah kiranya aku mendapat malu; janganlah musuh-musuhku beria-ria atas aku.
3 Ya, semua orang yang menantikan Engkau takkan mendapat malu; yang mendapat malu ialah mereka yang berbuat khianat dengan tidak ada alasannya.
4 Beritahukanlah jalan-jalan-Mu kepadaku, ya TUHAN, tunjukkanlah itu kepadaku.5 Bawalah aku berjalan dalam kebenaran-Mu dan ajarlah aku, sebab Engkaulah Allah yang menyelamatkan aku, Engkau kunanti-nantikan sepanjang hari.
6 Ingatlah segala rahmat-Mu dan kasih setia-Mu, ya TUHAN, sebab semuanya itu sudah ada sejak purbakala.
7 Dosa-dosaku pada waktu muda dan pelanggaran-pelanggaranku janganlah Kauingat, tetapi ingatlah kepadaku sesuai dengan kasih setia-Mu, oleh karena kebaikan-Mu, ya TUHAN.
8 TUHAN itu baik dan benar; sebab itu Ia menunjukkan jalan kepada orang yang sesat.9 Ia membimbing orang-orang yang rendah hati menurut hukum, dan Ia mengajarkan jalan-Nya kepada orang-orang yang rendah hati.
10 Segala jalan TUHAN adalah kasih setia dan kebenaran bagi orang yang berpegang pada perjanjian-Nya dan peringatan-peringatan-Nya.
11 Oleh karena nama-Mu, ya TUHAN, ampunilah kesalahanku, sebab besar kesalahan itu.
12 Siapakah orang yang takut akan TUHAN? Kepadanya TUHAN menunjukkan jalan yang harus dipilihnya.
13 Orang itu sendiri akan menetap dalam kebahagiaan dan anak cucunya akan mewarisi bumi.
14 TUHAN bergaul karib dengan orang yang takut akan Dia, dan perjanjian-Nya diberitahukan-Nya kepada mereka.
15 Mataku tetap terarah kepada TUHAN, sebab Ia mengeluarkan kakiku dari jaring.
16 Berpalinglah kepadaku dan kasihanilah aku, sebab aku sebatang kara dan tertindas.
17 Lapangkanlah hatiku yang sesak dan keluarkanlah aku dari kesulitanku!
18 Tiliklah sengsaraku dan kesukaranku, dan ampunilah segala dosaku.
19 Lihatlah, betapa banyaknya musuhku, dan bagaimana mereka membenci aku dengan sangat mendalam.
20 Jagalah kiranya jiwaku dan lepaskanlah aku; janganlah aku mendapat malu, sebab aku berlindung pada-Mu.
21 Ketulusan dan kejujuran kiranya mengawal aku, sebab aku menanti-nantikan Engkau.
22 Ya Allah, bebaskanlah orang Israel dari segala kesesakannya!


Ini adalah mazmur doa permohonan pribadi, pemazmur meminta Allah melindunginya dari tangan musuh-musuhnya, membimbingnya, dan mengampuninya. Percaya bersandar menjadi fokus mazmur ini, tidak heran jika mazmur ini lebih mirip mazmur iman, hanya secara sepintas menyebutkan alasan permohonan.

Ayat 1 sampai 3 adalah pembukaan mazmur ini, yang dengan jelas menyebutkan bahwa pemazmur bersandar dan percaya kepada Allah, ia menggunakan kosa kata yang berbeda untuk mengungkapkan hal ini. Ayat 1 Kepada-Mu, ya TUHAN, kuangkat jiwaku, jiwaku menengadah kepada-Mu, terjemahan harfiah dari kalimat ini adalah: aku mengangkat tinggi jiwaku. Kata-kata serupa muncul dalam Ulangan 24:14-15 Janganlah engkau memeras pekerja harian yang miskin dan menderita, … Pada hari itu juga haruslah engkau membayar upahnya sebelum matahari terbenam; ia mengharapkannya, karena ia orang miskin; supaya ia jangan berseru kepada TUHAN mengenai engkau dan hal itu menjadi dosa bagimu. Kata-kata ia mengharapkannya, … berseru kepada TUHAN secara harfiah diterjemahkan sebagai dia mengangkat jiwanya yang berarti ia mengandalkan (upah) untuk bertahan hidup. Oleh karena itu, Kepada-Mu, ya TUHAN, kuangkat jiwaku artinya aku bersandar dan mengandalkan Engkau untuk dapat eksis. Mazmur 143:8 juga menyatakan hal yang sama, bersandar tidak dapat dipisahkan dari mengangkat jiwa yang berharap kepada TUHAN, Perdengarkanlah kasih setia-Mu kepadaku pada waktu pagi, sebab kepada-Mulah aku percaya! Beritahukanlah aku jalan yang harus kutempuh, sebab kepada-Mulah kuangkat jiwaku.

Apakah kita benar-benar berpegang teguh pada iman bahwa kelangsungan hidup kita bergantung sepenuhnya pada Tuhan? Apakah kita sudah setiap hari mengangkat jiwa kepada TUHAN karena kita percaya kepada-Nya?

Mazmur 25:2 Allahku, kepada-Mu aku percaya … Kata percaya yang memiliki makna percaya bersandar, dalam bahasa aslinya bṭḥ secara harfiah memang seharusnya diterjemahkan sebagai iman yang percaya dan merupakan kata kerja yang sangat penting dalam Perjanjian Lama. Daniel dan ketiga temannya mampu dengan gagah berani menghadapi bahaya singa dan api yang menghanguskan karena mereka iman yang percaya kepada Allah (dua kata bahasa Aram yang digunakan untuk bersandar di Dan. 3:28 dan iman percaya di Dan. 6:23 memiliki arti yang mirip dengan bṭḥ). Mereka percaya bahwa Allah berkuasa dan mampu menyelamatkan mereka dari penganiayaan (Dan. 3:17). Mereka juga percaya pada kasih dan hikmat Allah yang sempurna. Jika Dia tidak menyelamatkan (Dan. 3:18), pasti ada alasannya. Karena mereka berempat percaya kepada Allah, mereka dapat tanpa rasa takut menghadapi raja yang paling keji dan penganiayaan yang paling besar (Yesaya 12:2 Sungguh, Allah itu keselamatanku; aku percaya dengan tidak gemetar, sebab TUHAN ALLAH itu kekuatanku dan mazmurku, Ia telah menjadi keselamatanku menghubungkan percaya dan bersandar dengan tidak gemetar/tanpa rasa takut).

Hak ini yang paling kita perlukan bukanlah sekadar iman, tetapi karena percaya kepada Tuhan dan mempercayakan diri kepada-Nya. Percaya yang mempercayakan diri kepada-Nya ibarat seorang anak menaruh kepercayaan kepada orang tuanya, sehingga ia tidak khawatir akan makanan, pakaian, tempat tinggal di masa depan, karena percaya bahwa orang tuanya akan menjaga dan memeliharanya maka ia tidak perlu khawatir. Tuhan pernah berkata bahwa Sesungguhnya barangsiapa tidak menyambut Kerajaan Allah seperti seorang anak kecil, ia tidak akan masuk ke dalamnya (Markus 10:15). Sayangnya, kita tidak seperti anak kecil mempercayai Tuhan, tetapi kita seperti pemuda kaya yang disebutkan dalam paragraf berikutnya di Markus 10:17-22, ia hanya mempercayai uang yang dimilikinya, lebih daripada mempercayai Tuhan yang mengajaknya untuk mengikuti-Nya (lihat Mazmur 49:6, 52:7). Akibatnya, dia pergi dengan sedih. Meskipun Tuhan mengasihi dia, tetapi ketidakpercayaannya menghalangi dia untuk merasakan kasih Tuhan dan tidak membiarkan Tuhan menjaganya. Semakin banyak kekayaan, kekuasaan, dan pengetahuan yang dimiliki seseorang, semakin sulit untuk memercayai Tuhan. Kita perlu memeriksa diri sendiri.

Ayat 3 Ya, semua orang yang menantikan Engkau takkan mendapat malu, ayat 5 dan 21 menyebutkan lagi menantikan. Menanti adalah percaya kepada Tuhan dan menantikan dengan tenang pekerjaan-Nya (seperti melindungi pemazmur dari musuh); penantian yang percaya kepada Tuhan adalah selalu menunggu dengan sabar dan tekun, serta tidak cepat menyerah sehingga tidak mendapat malu. Mereka yang menantikan Tuhan bukan saja tidak akan merasa malu, tetapi akan memperoleh kembali kekuatan mereka. Orang-orang yang menanti-nantikan TUHAN mendapat kekuatan baru: mereka seumpama rajawali yang naik terbang dengan kekuatan sayapnya; mereka berlari dan tidak menjadi lesu, mereka berjalan dan tidak menjadi lelah (Yesaya 40:31). Ya, semua orang yang menantikan Engkau takkan mendapat malu; yang mendapat malu ialah mereka yang berbuat khianat dengan tidak ada alasannya.

Jagalah kiranya jiwaku dan lepaskanlah aku; janganlah aku mendapat malu, sebab aku berlindung pada-Mu, ayat 20 menambahkan kata kerja berlindung yang berhubungan dengan percaya, mengangkat jiwa berharap ke atas dan menantikan. Ini menggambarkan orang-orang pada waktu itu melarikan diri ke Bait Allah untuk mencari perlindungan, dan kemudian menunjukkan bahwa orang-orang mendapatkan perlindungan terkuat di dalam Tuhan, Ya TUHAN, bukit batuku, kubu pertahananku dan penyelamatku, Allahku, gunung batuku, tempat aku berlindung, perisaiku, tanduk keselamatanku, kota bentengku! (Mzm. 18:2).

Ketika kita berada dalam bahaya dan membutuhkan perlindungan, apakah kita benar-benar percaya bahwa kita dapat berpaling kepada Tuhan dan Dia dapat melindungi kita? Sekalipun Dia tampak seakan-akan belum mengambil tindakan untuk melindungi kita, apakah kita masih mempercayai-Nya, percaya bahwa Dia baik dan mengetahui apa yang terbaik bagi kita?

Doa:
Tuhan! Bangunkan saya untuk tidak mempercayai apa yang saya miliki atau orang lain lebih dari percaya Engkau! Bantu saya untuk lebih memercayai Engkau dan mengurangi rasa khawatir dan takut serta berubah menjadi orang yang lebih kuat.

Bacaan doa
Silakan pilih ayat-ayat dari mazmur ini untuk doa langsung, doa transformasi, dan doa syafaat.





Mazmur 23:4-6

「Hidup berkelimpahan」

Oleh Rev. Dr. Andrew Kwong (鄺炳釗)
Alliance Bible Seminary H.K.


(Mazmur 23:4-6 [ITB])
4 Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku; gada-Mu dan tongkat-Mu, itulah yang menghibur aku.
5 Engkau menyediakan hidangan bagiku, di hadapan lawanku; Engkau mengurapi kepalaku dengan minyak; pialaku penuh melimpah.
6 Kebajikan dan kemurahan belaka akan mengikuti aku, seumur hidupku; dan aku akan diam dalam rumah TUHAN sepanjang masa.


Kita telah merenungkan Mazmur 23:1-3, merupakan pernyataan pengakuan iman pemazmur bahwa TUHAN Raja adalah gembalanya, beserta empat hal yang diterima.

Ayat 4-5 merupakan respons pemazmur kepada-Nya, memanggil Dia secara langsung sebagai Engkau, bukan lagi menyebutkan Ia seperti di ayat 1-3. Ayat 4 menyebutkan bahwa pemazmur mendapat penyertaan dan perlindungan Raja agung yang seperti seorang Gembala, ia dapat menghadapi bahaya apa pun. Bahkan jika dirinya seperti domba berjalan melewati lembah kekelaman atau dapat diterjemahkan sebagai lembah bayang-bayang kematian, dia tidak akan takut akan bahaya. Bayangan kematian dapat berarti yang paling parah, dan bayangan kematian dapat berarti kegelapan yang paling gelap. Berdasarkan arti harfiah, ini dapat menggambarkan ancaman kematian, bahaya yang dihadapi rakyat dari Sang Raja dalam peperangan, namun mereka tidak perlu takut karena kehadiran Raja, karena gada dan tongkat raja menghibur mereka. Tongkat dan gada sering dikaitkan dengan raja dalam Perjanjian Lama dan literatur Timur Dekat kuno, yang melambangkan otoritas dan kekuatan raja. Dengan kehadiran, penyertaan dan perlindungan Raja, umat Allah bukan saja tidak merasa takut, namun juga merasa tenteram (tenang).

Di ayat 5 pemazmur menunjukkan bahwa Raja agung tidak hanya memimpin rakyat-Nya (termasuk pemazmur) dalam pertempuran, namun juga mengalahkan musuh dan kembali dengan kemenangan. Ia juga menangkap para pemimpin musuh ke istana raja, dan membuat para tawanan tersebut berdiri di sana untuk menyaksikan Raja agung dan rakyatnya menikmati perjamuan perayaan, inilah artinya Engkau menyediakan hidangan bagiku, di hadapan lawanku (lihat juga Kolose 2:15, Ia telah melucuti pemerintah-pemerintah dan penguasa-penguasa dan menjadikan mereka tontonan umum dalam kemenangan-Nya atas mereka ).

Ayat 5b Engkau mengurapi kepalaku dengan minyak menggambarkan raja mengurapi pemazmur dan umat Allah yang lain dengan minyak zaitun pada jamuan perayaan untuk membuat mereka merasa segar, dan memberi mereka anggur untuk diminum untuk merayakan kemenangan dalam perang (pialaku penuh melimpah) . Pada jamuan perayaan, gelas umat Allah diisi dengan anggur harum, yang tidak hanya menyegarkan semangat para pejuang yang lelah, tetapi juga melambangkan pahala dari Raja bagi para pejuang, yang secara metaforis memberi mereka berkat yang besar.

Di bawah pemerintahan Raja agung yang seperti seorang gembala, pemazmur tidak hanya dapat memperoleh pemeliharaan, kedamaian, dibawa kembali dari jalan menyimpang, mengikuti jalan kebenaran, dan tidak takut akan bahaya (seperti perang), namun ia juga dapat berkemenangan dan selalu sukacita. Oleh karena itu, pemazmur mengakhiri mazmur ini dengan dua pernyataan iman:

Pertama, Kebajikan dan kemurahan belaka akan mengikuti aku, seumur hidupku, TUHAN adalah Raja yang Agung, itulah yang membuat pemazmur memiliki ketenangan pikiran, mengetahui bahwa rahmat dan kasih-Nya akan mengikuti sepanjang hidup. Kata mengikuti memiliki arti mengejar (lihat penghakiman Allah mengikuti mengejar manusia, 83:15 kejarlah mereka dengan badai-Mu, dan kejutkanlah mereka dengan puting beliung-Mu), artinya kasih karunia kemurahan Tuhan erat mengikuti pemazmur dan tidak akan pergi. Seperti yang Paulus katakan, tidak ada yang dapat memisahkan kita dari dari kasih Allah, yang ada dalam Kristus Yesus, Tuhan kita (Rm. 8:35-39).

Kedua, aku akan diam dalam rumah TUHAN sepanjang masa, kasih karunia dan kemurahan dapat merujuk pada kepedulian dan dukungan timbal balik antar anggota keluarga. Pemazmur merasakan kasih sayang TUHAN Raja dan ia memutuskan untuk tinggal di Bait-Nya selamanya, yaitu menyembah-Nya secara dekat dan berkomunikasi dengan-Nya sepanjang hidupnya.

Perjanjian Baru memberitahu kita bahwa Tuhan Yesus adalah Gembala yang Baik, memberikan nyawa-Nya bagi domba-domba-Nya, dan memberikan kepada domba-domba-Nya hidup berkelimpahan (Yohanes 10:11-16). Mazmur 23 membuat kita melihat kehidupan yang berkelimpahan: kebutuhan mendapat pemeliharaan, mendapat ketenangan, dibawa kembali berbalik dari jalan menyimpang, berjalan di jalan yang Tuhan ingin kita tempuh, tidak takut akan bahaya (misalnya perang), berkemenangan, penuh sukacita, dan rahmat dan kasih Tuhan dengan erat mengejar kita.

Masalahnya adalah: Apakah Anda ingin TUHAN Raja menjadi gembala Anda? Apakah Anda ingin dekat dan menyembah Tuhan sepanjang hidup Anda? Apakah Anda bersedia menjadi murid Tuhan? Jika tidak, bagaimana Anda bisa mendapatkan kehidupan berkelimpahan yang diterima oleh domba?

Doa:
Tuhan! Tolonglah aku untuk bertekad menjadi domba-domba-Mu, domba yang Engkau kenali dan yang mengenal Engkau, sehingga aku dapat mengalami semua yang disebutkan dalam mazmur ini.

Bacaan doa
Silakan pilih ayat-ayat dari mazmur ini untuk doa langsung, doa transformasi, dan doa syafaat.





Mazmur 23:1-3

「Membawa domba kembali」

Oleh Rev. Dr. Andrew Kwong (鄺炳釗)
Alliance Bible Seminary H.K.


(Mazmur 23:1-3 [ITB])
1 Mazmur Daud. TUHAN adalah gembalaku, takkan kekurangan aku.
2 Ia membaringkan aku di padang yang berumput hijau, Ia membimbing aku ke air yang tenang;
3 Ia menyegarkan jiwaku. Ia menuntun aku di jalan yang benar oleh karena nama-Nya.


Di antara semua mazmur, mazmur ini disebut mutiara dan merupakan mazmur yang disukai banyak orang. Pendeta Paul Shen menunjukkan bahwa mazmur ini dapat membantu orang yang sedih mendapatkan penghiburan, orang yang putus asa mendapatkan semangat, orang yang tidak sabar mendapatkan ketenangan, orang yang lelah mendapatkan kekuatan, orang yang sedih mendapatkan kedamaian, dan memungkinkan orang yang mendekati ajal dapat dengan tenang menyeberangi dunia ini. Mazmur ini adalah mazmur iman, pemazmur sedang menghadapi penganiayaan oleh musuh (seperti Mazmur 22) dan berada dalam bahaya. Namun, karena iman kepercayaannya bersandar kepada Tuhan, dia mengubah ratapannya menjadi pernyataan iman kepada TUHAN, Raja segala raja seperti seorang gembala yang pasti akan menolong melepaskan dari musuh.

Dalam tradisi biasanya membagi mazmur ini menjadi dua bagian, ayat 1-4, di mana TUHAN adalah gembala, dan ayat 5-6, di mana Dia adalah tuan rumah yang ramah. Kami mengadopsi pandangan baru yang membagi mazmur ini menjadi tiga bagian: ayat 1 sampai 3 adalah pernyataan pemazmur bahwa TUHAN itu adalah Raja seperti gembala; ayat 4 sampai 5 adalah tanggapan pemazmur; ayat 6 adalah pernyataan pemazmur lagi.

Mari terlebih dahulu kita melihat ayat 1-3. Pemazmur menyatakan lima hal:

Pertama, TUHAN adalah Raja seperti gembala (1a). Pada zaman dahulu dan Perjanjian Lama menyebut raja sebagai gembala (Yesaya 44:28).

Kedua, TUHAN membuat pemazmur tidak kekurangan (1b). Ini tidak berarti bahwa rakyat akan menerima segala sesuatu yang mereka inginkan, tetapi apa yang mereka butuhkan akan disediakan; seperti gembala menyiapkan makanan untuk domba-dombanya, demikian TUHAN Raja juga menyediakan kebutuhan umat-Nya, sama seperti Dia pernah menyiapkan makanan untuk orang Israel di padang gurun belantara.

Ketiga, Dia membuat pemazmur tinggal berdiam dengan tenang (ayat 2). Dalam tradisi ayat 2 menunjukkan bahwa penggembala membuat domba-dombanya berbaring di padang rumput yang hijau. Domba-domba itu berbaring di atas rumput itu, di kiri atau di kanan terdapat rumput untuk dimakan, domba-domba itu dibawa ke tepi air mengalir dengan tenang, dapat beristirahat dan dapat dengan mudah minum air. Ia membaringkan aku di padang yang berumput hijau, Ia membimbing aku ke air yang tenang ayat 2 mengembangkan pernyataan ayat 1 bahwa mereka tidak akan kekurangan, menggambarkan domba dalam keadaan kenyang; namun, dua kata kerja dalam ayat 2 (berbaring dan beristirahat) fokus pada domba yang memiliki rasa aman. Raja Agung seperti seorang gembala memimpin umat-Nya agar mereka dapat berbaring dan beristirahat tanpa rasa takut, sama seperti orang-orang benar dalam Mazmur 1 yang seperti pohon, yang ditanam di tepi aliran air. Fokus ayat 2 bukan sekadar rasa puas, tetapi juga rasa tenteram, nyaman, dan aman.

Keempat, Dia membawa pemazmur berbalik kembali (ayat 3a Ia menyegarkan jiwaku …). Frasa Ia menyegarkan jiwaku dalam beberapa tradisi gereja dijelaskan sebagai domba yang setelah makan dan minum banyak maka roh (jiwa) terbangun segar dan penuh vitalitas. Namun, kata menyegarkan di sini seharusnya diartikan sebagai kembali atau berbalik, seperti yang TUHAN katakan: Aku akan mengembalikan Israel ke padang rumputnya, supaya ia makan rumput di atas Karmel dan di Basan, dan menjadi kenyang di atas pegunungan Efraim dan di Gilead (Yeremia 50:19). Dalam bahasa aslinya kata menyegarkan sama dengan kembali, ayat ini juga menghubungkan berbalik kembali dan kepuasan. Ketika umat TUHAN tersesat atau berjalan menyimpang, Dia seperti seorang gembala, membuat mereka berbalik kembali.

Kelima, Dia memberi petunjuk kepada pemazmur di jalan kebenaran (ayat 3b, … Ia menuntun aku di jalan yang benar oleh karena nama-Nya). Dalam beberapa tradisi gereja dijelaskan sebagai jalan yang benar, tetapi jalan yang benar adalah keadilan dan kebenaran. Hal ini mengacu pada fakta bahwa Raja agung ini memimpin umat-Nya untuk melakukan apa yang seharusnya mereka lakukan setelah mereka berbalik kembali, seperti melakukan keadilan dan kasih sayang (Mikha 6:8 Hai manusia, telah diberitahukan kepadamu apa yang baik. Dan apakah yang dituntut TUHAN dari padamu: selain berlaku adil, mencintai kesetiaan, dan hidup dengan rendah hati di hadapan Allahmu? )

Bagaimana kita dapat menikmati berkat kedua dan kelima yang disebutkan di atas? Marilah bertanya pada diri kita sendiri apakah saya menyatakan pengakuan iman: TUHAN adalah gembalaku. Kata aku muncul enam belas kali dalam mazmur yang hanya terdiri dari enam bait ini, yang mencerminkan eratnya hubungan antara gembala dan domba.

Dua pendeta pergi ke Wales dan mengajari seorang anak gembala yang buta huruf untuk melafalkan Mazmur 23. Mereka menyuruhnya untuk menggenggam satu jari tangan kirinya dengan tangan kanannya setiap kali dia mengucapkan sebuah kata. Dia akhirnya menghafal lima kata dari ayat pertama 『The Lord is my shepherd』 (Tuhan adalah gembalaku). Tahun berikutnya mereka mengunjungi tempat lama itu lagi dan menemukan bahwa anak penggembala itu telah meninggal. Ibunya berkata: Ketika putranya meninggal, tangan kanannya menggenggam jari keempat tangan kirinya. Apakah Anda tahu mengapa? Kedua pendeta berkata serempak: Dia sedang melafalkan 『The Lord is my shepherd』, jari keempat menunjukkan 『ku』, anak Anda menyatakan bahwa Tuhan adalah gembala milik 『ku』

Doa:
Tuhan! Bantulah aku menjalin hubungan dengan-Mu sehingga aku dapat mendeklarasikan pengakuan iman: Engkau adalah gembalaku, sehingga aku dapat mengandalkan Engkau, Engkau yang memelihara dan memenuhi aku, menemukan kedamaian, dan berbalik kembali, berjalan di jalan yang Engkau kehendaki, dan melakukan apa yang Engkau ingin aku lakukan.

Bacaan doa
Silakan pilih ayat dari mazmur ini untuk doa langsung, doa transformasi, dan doa syafaat.





Mazmur 19:1-14

「Hukum Kebijaksanaan」

Oleh Rev. Dr. Andrew Kwong (鄺炳釗)
Alliance Bible Seminary H.K.


(Mazmur 19:1-14 [ITB])
1 Untuk pemimpin biduan. Mazmur Daud.
Langit menceritakan kemuliaan Allah, dan cakrawala memberitakan pekerjaan tangan-Nya;2 hari meneruskan berita itu kepada hari, dan malam menyampaikan pengetahuan itu kepada malam.
3 Tidak ada berita dan tidak ada kata, suara mereka tidak terdengar;4 tetapi gema mereka terpencar ke seluruh dunia, dan perkataan mereka sampai ke ujung bumi. Ia memasang kemah di langit untuk matahari,5 yang keluar bagaikan pengantin laki-laki yang keluar dari kamarnya, girang bagaikan pahlawan yang hendak melakukan perjalanannya.6 Dari ujung langit ia terbit, dan ia beredar sampai ke ujung yang lain; tidak ada yang terlindung dari panas sinarnya.
7 Taurat TUHAN itu sempurna, menyegarkan jiwa; peraturan TUHAN itu teguh, memberikan hikmat kepada orang yang tak berpengalaman.8 Titah TUHAN itu tepat, menyukakan hati; perintah TUHAN itu murni, membuat mata bercahaya.
9 Takut akan TUHAN itu suci, tetap ada untuk selamanya; hukum-hukum TUHAN itu benar, adil semuanya,10 lebih indah dari pada emas, bahkan dari pada banyak emas tua; dan lebih manis dari pada madu, bahkan dari pada madu tetesan dari sarang lebah.
11 Lagipula hamba-Mu diperingatkan oleh semuanya itu, dan orang yang berpegang padanya mendapat upah yang besar.
12 Siapakah yang dapat mengetahui kesesatan? Bebaskanlah aku dari apa yang tidak kusadari.
13 Lindungilah hamba-Mu, juga terhadap orang yang kurang ajar; janganlah mereka menguasai aku! Maka aku menjadi tak bercela dan bebas dari pelanggaran besar.
14 Mudah-mudahan Engkau berkenan akan ucapan mulutku dan renungan hatiku, ya TUHAN, gunung batuku dan penebusku.


Kita telah merenungkan Mazmur 1 dan mengetahui bahwa Mazmur tersebut merupakan mazmur hikmat. Ini mengingatkan kita bahwa untuk diberkati, kita harus melakukan tiga hal, antara lain: menjauhi dosa dan tidak ikut-ikutan orang fasik, mengasihi dan taat firman Tuhan, dan memenuhi misi Tuhan bagi kita, seperti pohon yang menghasilkan buah. Tiga hal ini muncul di Mazmur 19 dalam urutan terbalik: memenuhi misi Tuhan bagi kita, mencintai dan menaati firman Tuhan, dan menjauhi dosa dan tidak dikendalikan oleh dosa. Dua mazmur hikmat saling berhubungan satu sama lain.

Ayat 1 sampai 6 menunjukkan bahwa matahari, bulan, dan bintang-bintang di langit memenuhi misi yang diberikan Allah kepada mereka melalui fungsinya, dengan demikian menceritakan kemuliaan Tuhan dan memberitakan karya-Nya (ayat 1). Ayat 4b sampai 6 selanjutnya menggunakan matahari sebagai contoh untuk menggambarkan bagaimana ia bergerak sehingga makhluk lain dapat menerima cahaya dan panasnya (ayat 6). Alkitab sering menilai kehidupan seseorang berdasarkan apakah dia telah menyelesaikan misi yang diberikan Tuhan, seperti Daud (Kis. 13:36) dan Paulus (2 Tim. 4:6-8), Tuhan Sang Firman Allah yang berinkarnasi menyimpulkan kehidupan-Nya, Dia berkata: Aku telah mempermuliakan Engkau di bumi dengan jalan menyelesaikan pekerjaan yang Engkau berikan kepada-Ku untuk melakukannya (Yohanes 17:4) Apakah kita tahu misi apa yang telah diberikan Tuhan kepada kita, dan apakah kita bekerja keras untuk menyelesaikannya?

Ayat 7-10 menanggapi Mazmur 1:2, mengapa kita harus mencintai hukum Tuhan dan merenungkannya siang dan malam? Karena kuasa ampuh hukum Tuhan: ayat 7-8 menyebutkan bahwa hukum Tuhan dapat menyegarkan jiwa; peraturan TUHAN itu teguh, memberikan hikmat kepada orang yang tak berpengalaman. Titah TUHAN itu tepat, menyukakan hati; perintah TUHAN itu murni, membuat mata bercahaya. Oleh karena itu, pemazmur merasa bahwa hukum Tuhan lebih berharga dari pada emas murni, bahkan lebih manis dari pada madu, bahkan lebih manis dari pada sarang madu (ayat 10). Seberapa sering kita begitu mencintai Alkitab, bersedia membacanya, dan menganggapnya berharga dan manis? Bersediakah kita: jika tidak membaca Alkitab, tidak sarapan; jika tidak membaca Alkitab, tidak menonton TV; jika tidak membaca Alkitab, tidak tidur?

Ayat 11 sampai 14 menyebutkan bahwa orang-orang benar yang diberkati tidak dikendalikan oleh dosa. Banyak kata benda yang digunakan untuk menggambarkan dosa, antara lain: kesesatan (hal yang dilakukan tanpa disengaja, namun kemudian diketahui sebagai dosa), apa yang tidak disadari (hal yang tidak disengaja), kurang ajar (kesombongan, mengagungkan diri sendiri daripada mengagungkan Tuhan), penguasaan diri (dosa yang sering dilakukan manusia ketika tidak bisa mengendalikan diri), dan pelanggaran besar (dosa berat, ketidaktaatan yang disengaja).

Orang Kristen harus menghadapi godaan melakukan kejahatan sepanjang hidup mereka. Misalnya, pada tanggal 5 Februari 2009, Koran Ming Pao melaporkan bahwa polisi Vancouver di Kanada menangkap pelacur remaja termuda yang baru berusia 16 tahun, dan juga menangkap orang yang mencari pelacur yang berusia 100 tahun. Ketika Konfusius berkata, Pada usia tujuh puluh tahun, Anda mengikuti keinginan hati tetapi tidak melanggar hukum Itu tidak berarti bahwa orang tidak akan melakukan kejahatan setelah usia tujuh puluh tahun. Orang mudah dikendalikan oleh dosa pornografi dan harus sangat berhati-hati. Dalam menghadapi dosa ini, selain seperti Yusuf senantiasa mengingat bahwa Allah mahatahu dan mahahadir, kita juga harus takut kepada-Nya dan tidak dengan mudah begitu saja jatuh ke dalam dosa ketika menghadapi pencobaan; seperti yang Yesus katakan, kita harus selalu berjaga dan berdoa agar tidak terjatuh dalam pencobaan (Matius 2 16:41); ketika berdoa, mohon secara khusus kepada Tuhan agar mengirimkan Roh Kudus, Penghibur, untuk menenangkan kegelisahan di hati kita sehingga kita dapat menghadapi godaan dengan tenang dan berani.

Terakhir pemazmur menyebutkan bahwa TUHAN adalah Gunung Batu dan Penebus, Ia adalah sandaran dan penolong kita di setiap waktu, sehingga kita tidak dikendalikan oleh dosa. Maka kita dapat berkata kepada-Nya ayat 14 Mudah-mudahan Engkau berkenan akan ucapan mulutku dan renungan hatiku, ya TUHAN, gunung batuku dan penebusku.

Doa:
Tuhan! Tolong beri saya kekuatan sehingga saya dapat menggunakan telenta yang Engkau berikan kepada saya dan memenuhi misi-Mu. Bantu saya untuk mencintai dan membaca Alkitab dengan sepenuh hati. Ingatkan saya untuk berhati-hati sepanjang hidup saya, jangan sampai saya berbuat dosa, dikuasai dosa, dan menjadi budak dosa.

Bacaan doa
Silakan pilih beberapa ayat dari Mazmur ini untuk doa langsung, doa transformasi, dan doa syafaat.





Mazmur 16:1-11

「Sukacita yang kekal」

Oleh Rev. Dr. Andrew Kwong (鄺炳釗)
Alliance Bible Seminary H.K.


(Mazmur 16:1-11 [ITB])
1 Miktam. Dari Daud.
Jagalah aku, ya Allah, sebab pada-Mu aku berlindung.
2 Aku berkata kepada TUHAN: Engkaulah Tuhanku, tidak ada yang baik bagiku selain Engkau!
3 Orang-orang kudus yang ada di tanah ini, merekalah orang mulia yang selalu menjadi kesukaanku.
4 Bertambah besar kesedihan orang-orang yang mengikuti allah lain; aku tidak akan ikut mempersembahkan korban curahan mereka yang dari darah, juga tidak akan menyebut-nyebut nama mereka di bibirku.
5 Ya TUHAN, Engkaulah bagian warisanku dan pialaku, Engkau sendirilah yang meneguhkan bagian yang diundikan kepadaku.
6 Tali pengukur jatuh bagiku di tempat-tempat yang permai; ya, milik pusakaku menyenangkan hatiku.
7 Aku memuji TUHAN, yang telah memberi nasihat kepadaku, ya, pada waktu malam hati nuraniku mengajari aku.
8 Aku senantiasa memandang kepada TUHAN; karena Ia berdiri di sebelah kananku, aku tidak goyah.
9 Sebab itu hatiku bersukacita dan jiwaku bersorak-sorak, bahkan tubuhku akan diam dengan tenteram;10 sebab Engkau tidak menyerahkan aku ke dunia orang mati, dan tidak membiarkan Orang Kudus-Mu melihat kebinasaan.
11 Engkau memberitahukan kepadaku jalan kehidupan; di hadapan-Mu ada sukacita berlimpah-limpah, di tangan kanan-Mu ada nikmat senantiasa.


Mazmur ini adalah mazmur iman, pemazmur menghadapi krisis (seperti penyakit dan kematian, lihat ayat 1 pada-Mu aku berlindung, dan ayat 10 Engkau tidak menyerahkan aku ke dunia orang mati), atau dianiaya oleh orang-orang yang mengikuti allah lain (ayat 4); namun pemazmur bersandar pada Allah karena imannya kepada Allah, sehingga tetap memiliki sukacita di tengah krisis. Ayat 1 sampai 6 merupakan ungkapan iman, ayat 7 sampai 8 adalah tekad untuk teguh memegang iman, dan ayat 9 sampai 11 adalah hasil dari mengandalkan iman.

Pemazmur mengungkapkan imannya kepada Tuhan dalam ayat 2, ia mengatakan: Engkaulah Tuhanku, tidak ada yang baik bagiku selain Engkau! Dia tahu bahwa segala kebaikan berasal dari TUHAN, bukan dari dewa-dewa yang disembah oleh orang Kanaan. Kebanyakan umat Kristiani tidak akan mengira bahwa berkat yang mereka peroleh berasal dari illah palsu, tetapi mungkin mereka mengira bahwa itu adalah buah jerih payah mereka sendiri, sehingga lupa bersyukur dan merasa bangga atas diri sendiri?

Pemazmur bertekad untuk percaya bersandar kepada Allah yang telah memberinya kebaikan (ayat 7-8), dan mengatakan: … Aku senantiasa memandang kepada TUHAN; karena Ia berdiri di sebelah kananku, aku tidak goyah.Pertanyaannya, bagaimana pemazmur bisa memandang kepada TUHAN yang tidak dapat dilihat mata? Kalimat selanjutnya menyebutkan bahwa Dia berada di sebelah kanan pemazmur. Di manakah Allah berada? Apakah manusia dapat membuat Allah terlihat, bahwa Tuhan bisa digerakkan dan dimanipulasi oleh manusia?

Perlu kita ingat bahwa Mazmur ditulis dengan gaya puitis dan tidak selalu ditafsirkan secara harfiah. Pemazmur selalu menempatkan TUHAN sebagai yang utama, memandang Allah adalah Tuhan (ayat 2-3), selalu mendekatkan diri kepada-Nya dan beribadah kepada-Nya (perhatikan ayat 11 di hadapan-Mu ada sukacita berlimpah-limpah), dan bersandar kepada-Nya. Pada saat yang sama, dia bersedia untuk mematuhi peraturan-peraturan-Nya (lihat 18:22, pemazmur menempatkan hukum dan perintah Allah di hadapannya). Menaati peraturan juga mengingatkan ayat 7 Aku memuji TUHAN, yang telah memberi nasihat kepadaku dan ayat 11 Engkau memberitahukan kepadaku jalan kehidupan.

Ketika pemazmur mendekat untuk menyembah Allah dan menaati perintah-Nya, Dia berada di sebelah kanan pemazmur, melindunginya (lih. 121:5, Tuhanlah Penjagamu, Tuhanlah naunganmu di sebelah tangan kananmu); maka pemazmur tidak akan guncang, ayat 9 Sebab itu hatiku bersukacita dan jiwaku bersorak-sorak, bahkan tubuhku akan diam dengan tenteram bersukacita dan berbahagia dalam roh, dan mempunyai sukacita penuh dan nikmat kebahagiaan kekal (ayat 11 di hadapan-Mu ada sukacita berlimpah-limpah, di tangan kanan-Mu ada nikmat senantiasa).

Sukacita kebahagiaan yang dibahas dalam Alkitab bukanlah kebahagiaan dan sukacita yang bersifat jangka pendek, melainkan kedamaian, kepuasan, dan rasa aman yang bertahan kekal. Sama seperti sukacita yang disebutkan dalam surat Filipi, hal ini mencakup: tidak merasa cemas secara berlebihan (Filipi 4:4-6), mampu beradaptasi dengan situasi apa pun (10-13) dan seterusnya. Bagaimana cara mendapatkan sukacita ini? Itu adalah senantiasa memandang kepada TUHAN yakni menempatkan Allah di depan, senantiasa mendahulukan Allah, menempatkan Allah sebagai yang utama. Berkat yang diterima Maria berkaitan dengan duduk di kaki Yesus dan mendengarkan pengajaran firman-Nya. Ia tidak seperti Marta yang khawatir dan kesusahan dalam banyak hal (Lukas 10:38-42). Adam dan Hawa diusir dari Taman Eden setelah mereka berbuat dosa, dan sama seperti Kain tidak dapat melihat wajah Allah (Kejadian 4:14). Ketika kita menghadapkan Tuhan di depan kita, atau datang ke hadirat-Nya (ayat 11), kita dapat menikmati sukacita sejati yang dinikmati nenek moyang kita yang pertama di Taman Eden sebelum mereka berbuat dosa (penulis Kejadian menggambarkan Allah mengunjungi mereka di taman itu setiap hari, dan mereka berbicara; Kejadian 3:8), yaitu suatu sukacita yang memuaskan kita dan merupakan berkat yang kekal (ayat 11).

Doa:
Tuhan! Tolonglah aku untuk mengambil tindakan hari ini untuk mendahulukan Engkau, menempatkan Engkau di hadapan segala-galanya, yaitu mendekatkan diri kepada-Mu dan bersekutu dengan-Mu, sehingga aku dapat memperoleh sukacita sejati yang disebutkan dalam ayat 9-11.

Doa bacaan
Silakan pilih ayat dari mazmur ini untuk doa langsung, doa transformasi, dan doa syafaat.