Tag Archives: Doa

Mazmur 15:1-5

「Memeriksa diri」

Oleh Rev. Dr. Andrew Kwong (鄺炳釗)
Alliance Bible Seminary H.K.


(Mazmur 15:1-5 [ITB])
1 Mazmur Daud.
TUHAN, siapa yang boleh menumpang dalam kemah-Mu? Siapa yang boleh diam di gunung-Mu yang kudus?
2 Yaitu dia yang berlaku tidak bercela, yang melakukan apa yang adil dan yang mengatakan kebenaran dengan segenap hatinya,
3 yang tidak menyebarkan fitnah dengan lidahnya, yang tidak berbuat jahat terhadap temannya dan yang tidak menimpakan cela kepada tetangganya;
4 yang memandang hina orang yang tersingkir, tetapi memuliakan orang yang takut akan TUHAN; yang berpegang pada sumpah, walaupun rugi;
5 yang tidak meminjamkan uangnya dengan makan riba dan tidak menerima suap melawan orang yang tak bersalah. Siapa yang berlaku demikian, tidak akan goyah selama-lamanya.


Mazmur ini adalah puisi tentang memasuki istana. Pada zaman dahulu, bangsa Israel pergi ke Bait Suci dari berbagai tempat untuk menyembah Allah, dan mereka pergi ke Bait Suci tiga kali setahun (Hari Raya Roti Tidak Beragi, Hari Raya Panen, dan Hari Raya Pondok Daun). Mazmur ini menggambarkan orang-orang yang berdiri di luar gerbang Bait Suci bertanya kualifikasi memasuki Bait Suci, dengan mengatakan: siapa yang boleh menumpang dalam kemah-Mu? Siapa yang boleh diam di gunung-Mu yang kudus? Atas nama Allah, imam menjawab dengan menyebutkan sepuluh persyaratan bagi para penyembah (ayat 2-5), dan mengakhiri mazmur ini dengan janji (ayat 5).

Sepuluh persyaratan tersebut antara lain: tiga aspek positif (ayat 2) yang berlaku tidak bercela, yang melakukan apa yang adil dan yang mengatakan kebenaran dengan segenap hatinya. Tiga aspek negatif (ayat 3): yang tidak menyebarkan fitnah dengan lidahnya, yang tidak berbuat jahat terhadap temannya dan yang tidak menimpakan cela kepada tetangganya; dua aspek positif (ayat 4): yang memandang hina orang yang tersingkir (yang menganggap rendah orang yang ditolak Allah), tetapi memuliakan orang yang takut akan TUHAN; yang berpegang pada sumpah, walaupun rugi. Dua aspek negatif (5a): yang tidak meminjamkan uangnya dengan makan riba dan tidak menerima suap melawan orang yang tak bersalah.

Anehnya, sepuluh syarat tersebut tidak menyebutkan tiga aspek yang umumnya dianggap berkaitan dengan ibadah: Pertama, tidak disebutkan sikap manusia terhadap Allah (bandingkan Sepuluh Perintah Jangan menyebut nama TUHAN, Allahmu, dengan sembarangan, menaati hukum Allah dan tidak menyembah berhala. Kedua, tidak ada pembahasan mengenai tuntutan seremonial (seperti persyaratan Sepuluh Perintah Allah untuk memelihara hari Sabat, dan pembahasan Perjanjian Lama tentang ritual persembahan kurban dan hari raya. Ketiga, tidak disebutkan kejahatan berat (seperti pembunuhan, perzinaan, dll yang disebutkan dalam Sepuluh Perintah Allah).

Mazmur ini tidak menyebutkan ketiga aspek tersebut, mungkin karena pemazmur tidak ingin pembacanya mempunyai ilusi bahwa jika seseorang menjalankan kewajiban agama (seperti mempersembahkan kurban, merayakan hari raya, dan memberikan sedekah) dan menahan diri dari perzinaan, maka ibadah orang tersebut pasti berkenan kepada Allah. Pemazmur berharap agar orang-orang yang menghadap Allah hendaknya introspeksi memeriksa perilaku mereka untuk melihat apakah diri mereka telah melakukan apa yang seharusnya dilakukan, dan menghindari melakukan hal-hal yang tidak boleh dilakukan seperti yang ditunjukkan oleh mazmur ini (walaupun hal-hal ini mungkin tampak sepele, seperti memfitnah orang)? Hal ini mengingatkan kita akan firman Tuhan Yesus: Sebab itu, jika engkau mempersembahkan persembahanmu di atas mezbah dan engkau teringat akan sesuatu yang ada dalam hati saudaramu terhadap engkau, 24 tinggalkanlah persembahanmu di depan mezbah itu dan pergilah berdamai dahulu dengan saudaramu, lalu kembali untuk mempersembahkan persembahanmu itu (Matius 5:23-24).

Mazmur ini mengingatkan kita bahwa untuk beribadah kepada Allah kita harus mempunyai akhlak dan perilaku yang baik. Mengapa kita perlu mempunyai tangan yang bersih dan hati yang murni untuk beribadah kepada Allah (24:4, mazmur ini juga merupakan puisi tentang memasuki Bait Suci)? Orang-orang Yahudi percaya bahwa kedekatan tidak berarti kedekatan dalam ruang atau jarak, tetapi kesamaan artinya: dekat atau tidaknya dua orang tidak tergantung pada apakah mereka berdiri atau duduk bersama, tetapi apakah mentalitas mereka serupa, seperti yang dikatakan Amos: Berjalankah dua orang bersama-sama, jika mereka belum berjanji? (Amos 3:3) Penyembah Allah yang tulus harus mau meniru Dia, melakukan apa yang Dia perintahkan, dan menjadi semakin serupa dengan-Nya. Penyembahan bukan hanya sekadar tindakan ritual kita (seperti menyanyi, berdoa, dan membaca Alkitab), namun kesediaan untuk menaati perintah Allah yang kita sembah, sehingga menjadikan kita semakin serupa dengan-Nya (lihat apa yang disebut dalam Perjanjian Baru meniru Kristus).

Ketika kita beribadah kepada Allah, kita harus memperhatikan karakter dan perilaku kita, karena seperti yang ditanyakan Yesaya: Siapakah di antara kita yang dapat tinggal dalam api yang menghabiskan ini? Siapakah di antara kita yang dapat tinggal di perapian yang abadi ini? (Yesaya 33:14), dan yang diingatkan dalam surat Ibrani: Sebab Allah kita adalah api yang menghanguskan (Ibrani 12:29); bagaimana mungkin orang yang datang beribadah di hadapan Allah yang seperti api yang menghanguskan tidak memeriksa diri mereka sendiri untuk melihat apakah mereka telah melakukan dosa dan pelanggaran terhadap-Nya? Umat Kristiani bisa mengaku dosanya di hadapan Allah melalui Tuhan Yesus Sang Imam Besar. Namun, kita harus tetap berhati-hati untuk tidak sembarangan berbuat dosa atau hidup dalam dosa, jangan sampai ibadah kita tidak berkenan kepada Allah karena melanggar sepuluh syarat mazmur ini.

Doa:
Tuhan! Mungkin selama ini kami berpikir bahwa menyembah-Mu adalah hal yang sangat santai dan menyenangkan, hanya dengan menyanyikan lagu-lagu yang kami suka nyanyikan dan melantunkan ayat-ayat suci yang sudah dikenal, itu sudah cukup. Tolong beri kami pemahaman baru melalui Mazmur 15, agar kami sebelum menyembah-Mu dapat ingat untuk memeriksa diri sendiri terlebih dahulu, bukan hanya ketika menerima Perjamuan Kudus.

Bacaan doa
Silakan pilih ayat-ayat dari Mazmur 15 ini untuk doa langsung, doa transformasi, dan doa syafaat.





Mazmur 14:1-7

Apakah mengerti?」

Oleh Rev. Dr. Andrew Kwong (鄺炳釗)
Alliance Bible Seminary H.K.


(Mazmur 14:1-7 [ITB])
1 Untuk pemimpin biduan. Dari Daud.
Orang bebal berkata dalam hatinya: Tidak ada Allah. Busuk dan jijik perbuatan mereka, tidak ada yang berbuat baik.
2 TUHAN memandang ke bawah dari sorga kepada anak-anak manusia untuk melihat, apakah ada yang berakal budi dan yang mencari Allah.3 Mereka semua telah menyeleweng, semuanya telah bejat; tidak ada yang berbuat baik, seorangpun tidak.
4 Tidak sadarkah semua orang yang melakukan kejahatan, yang memakan habis umat-Ku seperti memakan roti, dan yang tidak berseru kepada TUHAN?
5 Di sanalah mereka ditimpa kekejutan yang besar, sebab Allah menyertai angkatan yang benar.
6 Kamu dapat mengolok-olok maksud orang yang tertindas, tetapi TUHAN adalah tempat perlindungannya.
7 Ya, datanglah kiranya dari Sion keselamatan bagi Israel! Apabila TUHAN memulihkan keadaan umat-Nya, maka Yakub akan bersorak-sorak, Israel akan bersukacita.


Fokus mazmur ini adalah keyakinan pemazmur bahwa meskipun bangsa Israel dianiaya oleh musuh-musuh mereka, tetapi Allah akan membantu umat pilihan ini dan membebaskan mereka dari penawanan untuk kembali ke tanah air mereka. Orang bebal (ayat 1) dan pelaku kejahatan (ayat 4) yang disebutkan dalam mazmur itu termasuk Asyur dan Babel, yang masing-masing menganiaya Israel dan Yehuda (lihat ayat 4 yang memakan habis umat-Ku). Pemazmur tidak menyebutkan nama bangsa-bangsa itu secara langsung, namun hanya menyebut mereka bebal, sama seperti Mazmur 137:3 tidak menyebut Babilonia, namun hanya menyebutkan orang-orang yang menawan kita

Musuh-musuh umat Israel itu adalah: orang bebal (ayat 1), tidak berakal budi (ayat 2), dan bejat (ayat 3). Mengapa mereka dianggap bodoh atau bebal? Jawabannya adalah: Mereka mengatakan dalam hati bahwa Tidak ada Allah (ayat 1). Hal ini bukan berarti mereka ateis, namun berarti mengingkari Allah adalah Maha Tahu, mengabaikan keberadaan-Nya, sengaja tidak menaati ajaran-Nya, bahkan menghina-Nya. Mereka mengira Allah tidak mengetahui perbuatan jahat yang telah mereka lakukan, dan kalaupun Dia mengetahuinya, Dia tidak akan mempertanyakannya; mereka sama sekali tidak memperhitungkan Allah di mata mereka, sama seperti orang-orang jahat dan sombong dalam Mazmur 73 yang mengatakan: Bagaimana Allah tahu hal itu, adakah pengetahuan pada Yang Mahatinggi?

Hasilnya adalah: mereka (orang bebal) semuanya jahat dan telah melakukan perbuatan keji, dan tidak ada satupun dari mereka yang berbuat baik (ayat 1). Dua kalimat pertama adalah mereka melakukan sesuatu yang seharusnya tidak mereka lakukan (dosa perbuatan/sins of commission), dan kalimat terakhir adalah mereka tidak melakukan sesuatu yang seharusnya mereka lakukan (dosa pengabaian/sins of omission). Ayat 4 menunjukkan bahwa orang-orang ini tidak berseru kepada Allah, tidak merasa membutuhkan Allah, dan tidak menghormati Dia. Mereka mirip dengan gambaran Paulus: Sebab sekalipun mereka mengenal Allah, mereka tidak memuliakan Dia sebagai Allah atau mengucap syukur kepada-Nya (Roma 1:21). Ayat 5 Di sanalah mereka ditimpa kekejutan yang besar, sebab Allah menyertai angkatan yang benar, ketika penghakiman Allah datang, mereka sangat ketakutan di sana yakni di tempat mereka menganiaya umat Allah, karena Allah berada di tengah-tengah orang-orang benar (umat pilihan) (.

Seorang ateis mengajukan petisi ke pengadilan Florida di Amerika Serikat untuk membatalkan hari raya keagamaan seperti Paskah Kristen dan Paskah Yahudi dengan alasan bahwa hal tersebut tidak adil bagi para ateis karena mereka tidak mempunyai hari raya untuk dirayakan. Hakim menolak permohonannya karena ateis juga mempunyai hari libur. Kemudian ia bertanya kepada hakim, festival manakah yang termasuk dalam kategori ateis? Hakim menjawab: Mazmur 14:1 menyatakan bahwa siapa pun yang berkata dalam hatinya bahwa tidak ada Tuhan adalah orang bodoh. Tanggal 1 April (April Mop) adalah hari liburmu setiap tahun.

April Mop tidak ada hubungannya dengan umat Kristiani, karena umat Kristiani tidak akan mengatakan dalam hati bahwa Tuhan itu tidak ada. Pertanyaannya, apakah kita hidup dalam keyakinan bahwa Dia Maha Hadir dan Maha Tahu, sehingga kita tetap menaati perintah-Nya meski tak seorang pun bisa melihat kita? Yusuf mampu mengatasi godaan majikan perempuannya karena ia menghidupi keyakinannya tersebut. Dia tahu bahwa melakukan perzinaan adalah dosa terhadap Allah, dan meskipun majikan perempuannya tidak dapat melihat Allah, tetapi Dia mengetahui semua yang dikatakan dan dilakukan oleh perempuan itu dan Yusuf. Yusuf adalah orang yang bijaksana karena ia hormat takut akan Allah (Kejadian 39:9). Kitab Amsal mengatakan: Permulaan hikmat adalah takut akan TUHAN, dan mengenal Yang Mahakudus adalah pengertian (Amsal 9:10).

Doa:
Tuhan, tolong selalu ingatkan saya untuk tidak menjadi bodoh dan kehilangan rasa hormat takut saya kepada Engkau, sehingga saya melakukan hal-hal yang tidak seharusnya saya lakukan dan tidak melakukan apa yang seharusnya saya lakukan.

Doa Transformasi: ayat 1.
Doa Langsung: gunakan ayat 2 beberapa kali berdoa.





Mazmur 8:1-9

Terikat pada Penciptanya」

Oleh Rev. Dr. Andrew Kwong (鄺炳釗)
Alliance Bible Seminary H.K.


(Mazmur 8:1-9 [ITB])
1 Untuk pemimpin biduan. Menurut lagu: Gitit. Mazmur Daud.
Ya TUHAN, Tuhan kami, betapa mulianya nama-Mu di seluruh bumi! Keagungan-Mu yang mengatasi langit dinyanyikan.
2 Dari mulut bayi-bayi dan anak-anak yang menyusu telah Kauletakkan dasar kekuatan karena lawan-Mu, untuk membungkamkan musuh dan pendendam.
3 Jika aku melihat langit-Mu, buatan jari-Mu, bulan dan bintang-bintang yang Kautempatkan:4 apakah manusia, sehingga Engkau mengingatnya? Apakah anak manusia, sehingga Engkau mengindahkannya?
5 Namun Engkau telah membuatnya hampir sama seperti Allah, dan telah memahkotainya dengan kemuliaan dan hormat.6 Engkau membuat dia berkuasa atas buatan tangan-Mu; segala-galanya telah Kauletakkan di bawah kakinya:7 kambing domba dan lembu sapi sekalian, juga binatang-binatang di padang;8 burung-burung di udara dan ikan-ikan di laut, dan apa yang melintasi arus lautan.
9 Ya TUHAN, Tuhan kami, betapa mulianya nama-Mu di seluruh bumi!


Mazmur ini adalah sebuah himne, dan juga merupakan himne pertama di seluruh Kitab Mazmur. Pemazmur mengangkat matanya ke langit, merasakan banyak hal, dan tidak tertahankan ia memuji Pencipta alam semesta. Ayat 1a Ya TUHAN, Tuhan kami, betapa mulianya nama-Mu di seluruh bumi! Pemazmur menyebut Allah dengan sebutan TUHAN, Tuhan kami Gabungan sebutan ini jarang muncul dalam Perjanjian Lama. Tuhan menggambarkan Allah sebagai Raja Maha Tinggi, Ia adalah Tuhan maka Ia bertindak sesuai dengan kehendak-Nya sendiri (Mazmur 115:3; Yunus 1:14), dan respons manusia terhadap-Nya haruslah merupakan ketaatan. Pujian betapa mulianya nama-Mu di seluruh bumi, nama-Mu adalah merujuk kepada diri Allah, betapa Ia berwibawa, betapa Ia Maha Agung.

Ayat 1b – 3 menggambarkan keagungan dan wibawa Allah: Keagungan-Mu yang mengatasi langit dinyanyikan. Dari mulut bayi-bayi dan anak-anak yang menyusu telah Kauletakkan dasar kekuatan karena lawan-Mu, untuk membungkamkan musuh dan pendendam (ayat 2); karya penciptaan yang Ia lakukan menunjukkan besar kuasa-Nya, Jika aku melihat langit-Mu, buatan jari-Mu, bulan dan bintang-bintang yang Kautempatkan, cukup dengan jari saja Ia menciptakan langit serta menempatkan bulan dan bintang di langit (ayat 3). Ketiga benda langit ini disembah dan dianggap sebagai dewa oleh bangsa-bangsa Timur Dekat kuno, namun sang pemazmur menunjukkan bahwa mereka hanyalah benda ciptaan Allah.

Ayat 4 – 8 menggambarkan kasih Pencipta yang agung ini ─ Dia peduli dan memelihara manusia yang tidak berdaya dan kecil (ayat 4, apakah manusia, sehingga Engkau mengingatnya? Apakah anak manusia, sehingga Engkau mengindahkannya?), diberikan status yang mulia kepada manusia yang aslinya berasal dari debu; menjadikan manusia hanya sedikit lebih rendah dari para malaikat (ayat 5a); memberi manusia mahkota kemuliaan dan kehormatan (ayat 5b) yaitu memberi manusia status dan identitas sebagai raja; kepada manusia diberikan kuasa atas segala sesuatu di laut, darat, dan langit, untuk dikelola manusia (ayat 6-8), kata berkuasa atas sering digunakan pada diri para raja untuk mengatur negara, yang sekali lagi mencerminkan status manusia sebagai raja.

Terakhir, pemazmur mengulangi awal ayat 1 dan sekali lagi menaikkan puji-pujian kepada Allah, dengan mengatakan: Ya TUHAN, Tuhan kami, betapa mulianya nama-Mu di seluruh bumi! (ayat 9)

Bagaimana tanggapan kita setiap kali melihat ciptaan Allah? Apakah kita melihat kebesaran Allah dari berbagai ciptaan? Apakah Anda memperhatikan betapa kecil dan rapuhnya manusia yang adalah makhluk ciptaan (terutama dari diri Anda sendiri)? Apakah kita bersyukur bahwa manusia yang kecil tidak berarti ini, dirawat dan dipelihara oleh Sang Pencipta yang Maha Agung?

Sangat sering penerimaan atas diri sendiri dan menilai diri sendiri didasarkan pada penerimaan, pengakuan, rasa hormat dan penghargaan orang lain terhadap dirinya. Oleh karena itu, dia ingin diakui sukses dengan cara apa pun, berpikir rupa kecantikan, kuasa, uang, kedudukan dan status dapat berguna untuk memperoleh rasa hormat dari orang lain, dan dengan demikian menghasilkan harga diri.

Penerimaan dan harga diri yang tepat harus didasarkan pada: 1. Karena Allah menciptakan kita, maka Ia tidak akan menciptakan diri kita sebagai manusia yang tidak berharga dan tidak berguna. 2. Nilai suatu karya seni tergantung siapa penciptanya, Raja segala rajalah yang menciptakan kita, maka nilai kita pasti jauh lebih besar daripada karya manusia mana pun. 3. Ketika kita menyelesaikan misi yang dipercayakan Allah (seperti Adam dan Hawa dipercaya mengatur segala sesuatu), kita mempunyai status sebagai raja di mata Allah dan adalah biji mata-Nya.

Doa:
Tuhan! Tolong bantu saya untuk selalu memuji Engkau karena melihat kebesaran dan kasih-Mu yang tercermin dari karya penciptaan-Mu. Tolong saya membangun citra diri pada dasar saya adalah ciptaan-Mu dan Engkau memberikan saya kedudukan sebagai raja.

Doa langsung: ayat 1 beberapa kali.
Doa Transformasi: ayat 4.
Doa Syafaat: ayat 4.





Mazmur 6:1-10

Doa permohonan saat sakit」

Oleh Rev. Dr. Andrew Kwong (鄺炳釗)
Alliance Bible Seminary H.K.


(Mazmur 6:1-10 [ITB])
1 Untuk pemimpin biduan. Dengan permainan kecapi. Menurut lagu: Yang kedelapan. Mazmur Daud.
Ya TUHAN, janganlah menghukum aku dalam murka-Mu, dan janganlah menghajar aku dalam kepanasan amarah-Mu.
2 Kasihanilah aku, TUHAN, sebab aku merana; sembuhkanlah aku, TUHAN, sebab tulang-tulangku gemetar,3 dan jiwakupun sangat terkejut; tetapi Engkau, TUHAN, berapa lama lagi?4 Kembalilah pula, TUHAN, luputkanlah jiwaku, selamatkanlah aku oleh karena kasih setia-Mu.5 Sebab di dalam maut tidaklah orang ingat kepada-Mu; siapakah yang akan bersyukur kepada-Mu di dalam dunia orang mati?
6 Lesu aku karena mengeluh; setiap malam aku menggenangi tempat tidurku, dengan air mataku aku membanjiri ranjangku.7 Mataku mengidap karena sakit hati, rabun karena semua lawanku.
8 Menjauhlah dari padaku, kamu sekalian yang melakukan kejahatan, sebab TUHAN telah mendengar tangisku;9 TUHAN telah mendengar permohonanku, TUHAN menerima doaku.10 Semua musuhku mendapat malu dan sangat terkejut; mereka mundur dan mendapat malu dalam sekejap mata.


Mazmur ini merupakan permohonan pribadi, pemazmur berada di ambang kematian karena sakit dan memohon kepada Allah. Mazmur ini juga dinyanyikan oleh bangsa Israel ketika mereka membersihkan diri dari wabah penyakit dan mempersembahkan korban penghapus dosa dan korban tebusan salah. Mazmur ini juga merupakan yang pertama dari tujuh mazmur pertobatan yang ditetapkan oleh gereja mula-mula, dan digunakan di sinagoga-sinagoga pada abad pertama dan kedua Masehi, demikian juga mereka yang beribadah di gereja membacanya setiap hari.

Ayat 1 terdapat dua permohonan, pemazmur memohon kepada Allah: Ya TUHAN, janganlah menghukum aku dalam murka-Mu, dan janganlah menghajar aku dalam kepanasan amarah-Mu. Orang-orang pada waktu itu percaya bahwa penyakit adalah hukuman yang dijatuhkan oleh Allah dalam murka-Nya (lihat Kitab Ayub, juga Yohanes 9:2), mereka berpendapat bahwa Allah memberkati orang benar, dan penyakit seseorang mencerminkan dosanya sehingga mendapatkan hukuman dari Allah, ini adalah alasan utama mengapa ketiga teman Ayub menyerang Ayub.

Di ayat 2 dan 3 Kasihanilah aku, TUHAN, sebab aku merana; sembuhkanlah aku, TUHAN, sebab tulang-tulangku gemetar, dan jiwakupun sangat terkejut; tetapi Engkau, TUHAN, berapa lama lagi? Pemazmur meminta Allah untuk menyembuhkannya, lalu menyebutkan dasar permohonannya (alasan mengapa Tuhan harus mengabulkan doanya), termasuk apa yang dia katakan: karena aku merana (ayat 2), karena tulang-tulangku gemetar (ayat 2), jiwaku terkejut, dan oleh karena oleh karena kasih setia-Mu telah menyelamatkan aku (ayat 4). Karena tidak ada seorang pun yang akan mengingat-Mu dalam kematian, dan tidak ada seorang pun yang akan memuji-Mu di alam kematian (ayat 5). Arti dari ayat 5 adalah jika Allah tidak menyembuhkan pemazmur, maka Dia akan berkurang satu orang di dunia ini yang dapat memuji-Nya (ingat kepada-Mu adalah identik dengan frasa paralel bersyukur kepada-Mu pada kalimat berikutnya, mengacu pada tindakan bersaksi secara terbuka tentang apa yang telah Allah lakukan bagi manusia). Pemazmur sepertinya sedang menghadapi kematian karena sakit dan memohon kepada Allah untuk menyelamatkannya dari musuh terakhirnya (kematian) agar dia bisa terus hidup dan terus beribadah dan memuji Allah yang pengasih di depan umum. Permohonan seperti ini didasarkan pada pujian kepada Allah, berpusat pada Allah, dan banyak digunakan oleh orang sakit pada saat itu (30:9, 88:10-12, 115:17; Yesaya 38:18).

Dalam ayat 6-7 Lesu aku karena mengeluh; setiap malam aku menggenangi tempat tidurku, dengan air mataku aku membanjiri ranjangku. Mataku mengidap karena sakit hati, rabun karena semua lawanku. Pemazmur menggambarkan rasa sakit yang ditimbulkan oleh penyakit itu. Dia terus-menerus menghela nafas dan kelelahan, tetapi dia tidak bisa tidur karena dia terus menangis. Di ayat 7, pemazmur menyebutkan bahwa ia diserang oleh musuh (seperti ketiga teman Ayub) karena penyakitnya, namun ia percaya bahwa Allah akan mendengarkan permohonannya dan menerima doanya, dan ia akan sembuh, musuh tidak menyerangnya lagi tetapi akan pergi dengan rasa malu (ayat 8 – 10 Menjauhlah dari padaku, kamu sekalian yang melakukan kejahatan, sebab TUHAN telah mendengar tangisku; TUHAN telah mendengar permohonanku, TUHAN menerima doaku. Semua musuhku mendapat malu dan sangat terkejut; mereka mundur dan mendapat malu dalam sekejap mata.).

Mazmur ini mengingatkan kita untuk memohon kesembuhan kepada Tuhan ketika kita sakit. Dan penting untuk: pertama, merenungkan apakah kita telah melakukan dosa yang berhubungan dengan penyakit tersebut, jika demikian, akui dosa-dosa kita dan bertobat. Kedua, ceritakan kepada Tuhan secara rinci tentang rasa sakit Anda. Ketiga, dan yang paling penting, pikirkan secara mendalam alasan-alasan Allah dalam menyembuhkan kita dan sampaikan secara jujur, seperti yang dengan berani dinyatakan oleh pemazmur: Sembuhkanlah aku, ya Allah, karena jika aku mati karena sakit, maka di dunia ini akan berkurang satu orang yang ingat kepada-Mu dan yang bersyukur kepada-Mu. Alasan mengapa Allah mendengarkan doa dan menyembuhkan kita mungkin terkait dengan sifat-sifat-Nya, seperti yang disebutkan dalam mazmur ini: Dia marah kepada orang yang tidak bertobat (ayat 1), Dia baik kepada orang miskin (ayat 2), dan Dia menolong orang-orang yang memohon kepada-Nya (ayat 4), Dia Maha Pengasih (ayat 4), mendengarkan tangisan dan permohonan orang (ayat 8-9), mengabulkan doa orang (ayat 9), dan melindungi manusia dari aniaya musuh (ayat 10).

Tentu saja Tuhan pasti akan mendengarkan doa kita saat kita sakit, namun belum tentu Dia (atau segera) menyembuhkan kita sesuai permintaan kita, karena Dia akan memberikan yang lebih baik (Matius 7:11), dan yang lebih penting di mata-Nya melalui penyakit memungkinkan kita memiliki hubungan yang lebih baik dengan-Nya.

Doa:
Tuhan! Tolong ajari saya bagaimana meniru pemazmur dan berdoa kepada Engkau ketika saya sakit, dan biarkan saya mengenal Engkau dan lebih merasakan penyertaan-Mu selama saya sakit.

Doa Syafaat: gunakan ayat 2.

Doa langsung: doakan ayat 4 beberapa kali

Doa Transformasi: gunakan ayat 9 untuk berdoa dalam kata-kata Anda sendiri.





Mazmur 3:1-8

TUHAN, adalah perisai yang melindungi aku」

Oleh Rev. Dr. Andrew Kwong (鄺炳釗)
Alliance Bible Seminary H.K.


(Mazmur 3:1-8 [ITB])
1 Mazmur Daud, ketika ia lari dari Absalom, anaknya.
Ya TUHAN, betapa banyaknya lawanku! Banyak orang yang bangkit menyerang aku;
2 banyak orang yang berkata tentang aku: Baginya tidak ada pertolongan dari pada Allah. Sela
3 Tetapi Engkau, TUHAN, adalah perisai yang melindungi aku, Engkaulah kemuliaanku dan yang mengangkat kepalaku.
4 Dengan nyaring aku berseru kepada TUHAN, dan Ia menjawab aku dari gunung-Nya yang kudus. Sela
5 Aku membaringkan diri, lalu tidur; aku bangun, sebab TUHAN menopang aku!
6 Aku tidak takut kepada puluhan ribu orang yang siap mengepung aku.
7 Bangkitlah, TUHAN, tolonglah aku, ya Allahku! Ya, Engkau telah memukul rahang semua musuhku, dan mematahkan gigi orang-orang fasik.
8 Dari TUHAN datang pertolongan. Berkat-Mu atas umat-Mu! Sela


Mazmur ini merupakan permohonan pribadi yang pertama dalam Kitab Mazmur. Pemazmur memohon kepada Allah untuk menyelamatkannya dari musuh-musuh yang menyerang dirinya. Dia percaya bahwa Allah akan membantunya, jadi dia tidak perlu takut pada mereka. Mazmur permohonan adalah mazmur yang ditulis untuk memohon pertolongan kepada Allah ketika menghadapi tantangan (penyakit, bahaya maut, penganiayaan musuh, dan lain-lain). Isaac Bashevis Singer, pemenang Hadiah Nobel Sastra tahun 1978, pernah berkata, Saya berdoa hanya ketika saya dalam kesulitan. Untungnya, saya selalu dalam kesulitan, jadi saya berdoa setiap saat. Cara yang baik untuk menghadapi hidup (terutama penganiayaan) adalah senantiasa berdoa

Di ayat 1-2 pemazmur menyebutkan mengapa dia berseru kepada Allah karena dia mengalami penganiayaan dan banyak musuh yang menyerangnya (perhatikan peningkatan dan banyaknya orang di ayat 1). Meski begitu, imannya meningkat pesat melalui doa, dan dia bahkan dapat menyatakan: Sekalipun puluhan ribu orang datang mengepung aku, aku tidak akan takut (ayat 6).

Ia percaya dengan iman. Pertama, Allah adalah pelindungnya, dia berkata: Tetapi Engkau, TUHAN, adalah perisai yang melindungi aku (ayat 3) Aku membaringkan diri, lalu tidur; aku bangun, sebab TUHAN menopang aku!(ayat 5). Kedua, Allah akan menjawab doa, Dengan nyaring aku berseru kepada TUHAN, dan Ia menjawab aku dari gunung-Nya yang kudus (ayat 4), kata menjawab dalam bentuk belum selesai (imperfect tense), menyiratkan bahwa Allah selalu melakukan hal ini.

Ketika kita menghadapi penganiayaan, kita harus bersandar pada Allah yang melindungi dan menopang kita, serta berfokus pada Allah semesta alam, daripada hanya melihat berapa banyak dan berapa kuatnya musuh kita. Kalau kita beriman kepada Allah sebagai perisai, pelindung, dan penopang, kita bisa meredam ketakutan kita dan menghadapi aniaya dengan tenang, serta tidur kita tidak terganggu (ayat 3: aku membaringkan diri, lalu tidur). Allah berkata kepada Abraham, Janganlah takut, Abram, Akulah perisaimu; upahmu akan sangat besar. (Kejadian 15:1) Perintah yang sering diberikan dalam Alkitab adalah: Jangan takut, percaya saja. Iman percaya kepada Allah sebagai perisai, pelindung, dan pemelihara membantu kita menghadapi musuh apa pun tanpa rasa takut, termasuk penyakit dan kematian. Bukankah karena pemazmur percaya bahwa Allah adalah Gembala sehingga ia tidak takut pada lembah kekelaman, bayang-bayang maut (Mazmur 23:4)?

Ayat 7 Bangkitlah, TUHAN, tolonglah aku, ya Allahku! Ya, Engkau telah memukul rahang semua musuhku, dan mematahkan gigi orang-orang fasik, ini adalah permohonan pemazmur, meminta Allah melakukan tiga hal baginya: pertama, menyelamatkan dia dari celaka musuh-musuhnya. Kedua, mohon agar Allah memukul rahang semua musuh. Ketiga, mohon agar Allah mematahkan gigi orang fasik. Permintaan kedua dan ketiga sebagai hal-hal yang telah terjadi, mengungkapkan keyakinan pemazmur bahwa Allah akan melakukan ini, namun pada awalnya itu adalah tindakan permohonan kepada Allah.

Saat kita dianiaya, bisakah kita meminta Allah untuk menghadapi musuh kita seperti yang dilakukan pemazmur (memukul rahang, mematahkan gigi), atau bahkan meminta Allah untuk menghadapi nenek moyang dan keturunannya? Seperti 109:9-14 Biarlah anak-anaknya menjadi yatim, dan isterinya menjadi janda. Biarlah anak-anaknya mengembara tidak keruan dan mengemis, … Biarlah kesalahan nenek moyangnya diingat-ingat di hadapan TUHAN, dan janganlah dihapuskan dosa ibunya

Jawabannya adalah: Tidak. Kita tidak bisa meniru pemazmur dalam mengutuk musuh kita, karena mazmur mempunyai latar belakang yang berbeda dan kondisi khusus, dan Perjanjian Baru dengan jelas mengajarkan kita untuk mengasihi musuh kita serta berdoa bagi mereka yang menganiaya kita (Matius 5:38-39, 44) Kita harus percaya bahwa Allah pada akhirnya akan menegakkan keadilan bagi kita. Kita tidak boleh membalas dengan gigi ganti mata atau mata ganti mata.

Doa:
Tuhan! Saat saya menghadapi serangan, tolong bantu saya untuk tidak terlalu takut dan tidur nyenyak dengan percaya kepada-Mu sebagai perisaiku. Tolong bantu saya untuk berdoa syafaat bagi musuh-musuhku daripada membenci mereka dan mengharapkan penderitaan mereka.

Doa Transformasi: berdoalah menggunakan ayat 1 dalam bahasa Anda sendiri.
Doa langsung: dengan sikap doa bacalah ayat 3 beberapa kali.





Mazmur 2:1-12

Hormat takut dan menaati」

Oleh Rev. Dr. Andrew Kwong (鄺炳釗)
Alliance Bible Seminary H.K.


(Mazmur 2:1-12 [ITB])
1 Mengapa rusuh bangsa-bangsa, mengapa suku-suku bangsa mereka-reka perkara yang sia-sia?
2 Raja-raja dunia bersiap-siap dan para pembesar bermufakat bersama-sama melawan TUHAN dan yang diurapi-Nya:
3 Marilah kita memutuskan belenggu-belenggu mereka dan membuang tali-tali mereka dari pada kita!
4 Dia, yang bersemayam di sorga, tertawa; Tuhan mengolok-olok mereka.5 Maka berkatalah Ia kepada mereka dalam murka-Nya dan mengejutkan mereka dalam kehangatan amarah-Nya:6 Akulah yang telah melantik raja-Ku di Sion, gunung-Ku yang kudus!
7 Aku mau menceritakan tentang ketetapan TUHAN; Ia berkata kepadaku: Anak-Ku engkau! Engkau telah Kuperanakkan pada hari ini.8 Mintalah kepada-Ku, maka bangsa-bangsa akan Kuberikan kepadamu menjadi milik pusakamu, dan ujung bumi menjadi kepunyaanmu.9 Engkau akan meremukkan mereka dengan gada besi, memecahkan mereka seperti tembikar tukang periuk.
10 Oleh sebab itu, hai raja-raja, bertindaklah bijaksana, terimalah pengajaran, hai para hakim dunia!
11 Beribadahlah kepada TUHAN dengan takut dan ciumlah kaki-Nya dengan gemetar,12 supaya Ia jangan murka dan kamu binasa di jalan, sebab mudah sekali murka-Nya menyala. Berbahagialah semua orang yang berlindung pada-Nya!


Mazmur 2 adalah mazmur raja. Latar belakangnya adalah setelah kematian raja Yehuda, para pemimpin koloni berusaha memberontak dan melepaskan diri dari yurisdiksi kerajaan Yehuda (ayat 1-2). Pemazmur memperingatkan mereka untuk menaati TUHAN dan dan raja baru yang telah Dia tetapkan (yang baru saja naik takhta).

Ayat 2:11-12a Beribadahlah kepada TUHAN dengan takut dan ciumlah kaki-Nya dengan gemetar, supaya Ia jangan murka dan kamu binasa di jalan … (ITB) diterjemahkan sebagai Kiss the Son (KJV) / Ciumlah Sang Putra (MIL atau CUV Mandarin) adalah sama dengan kata anak di ayat 7 Anak-Ku engkau! Engkau telah Kuperanakkan pada hari ini dianggap sama-sama merujuk kepada Putra Allah Sang Firman Yesus. Patut dipertimbangkan adalah: pertama, jika diterjemahkan sebagai Ciumlah Sang Putra dengan asumsi dianggap sama-sama merujuk kepada Putra Allah Sang Firman Yesus, maka pertanyaannya bagaimana raja-raja dan hakim dunia pada zaman itu dengan mulut mereka mencium Yesus Kristus (ayat 10, bandingkan terjemahan ITB yang berbeda Oleh sebab itu, hai raja-raja, bertindaklah bijaksana, terimalah pengajaran, hai para hakim dunia! Beribadahlah kepada TUHAN dengan takut dan ciumlah kaki-Nya dengan gemetar … adalah tertuju kepada TUHAN, bukan diasumsikan tertuju kepada Anak). Kedua, ayat 7 Anak-Ku engkau! Engkau telah Kuperanakkan pada hari ini … terkait dengan perjanjian dengan Daud (2 Samuel 7:14), yang mengacu pada fakta bahwa raja baru dianggap sebagai anak yang diangkat TUHAN pada hari dia naik takhta … pada hari ini … (walau merupakan tipologi yang merujuk kepada Anak Sang Firman Yesus Kristus yang kelak datang ke dunia). Ketiga, kata asli anak di ayat 7 adalah bēn, dan kata asli di ayat 12 adalah bar merupakan bahasa Ibrani yang di Mazmur 24:4 dan Mazmur 73:1 diartikan murni yang berhubungan dengan hati, diterjemahkan sebagai hati yang murni; jika itu adalah bahasa Aram barulah bisa menerjemahkan bar di ayat 12 sebagai anak).

Kata asli nšq yang berarti beribadah atau kedekatan (lihat Hosea 13:2). Jadi terjemahan menyembah dengan hati yang suci lebih sesuai dibandingkan Kiss the Son / Ciumlah Sang Putra, dengan demikian juga lebih sesuai dengan ayat 11 yaitu Beribadahlah kepada TUHAN dengan takut. Struktur kalimat tersebut sama: kata kerja yang ditambahkan frasa yang menjelaskan tindakan yang harus dilakukan oleh mereka yang berencana memberontak ketika raja baru naik takhta: Beribadahlah kepada TUHAN dengan takut , ciumlah kaki-Nya dengan gemetar, menunjukkan bertobat dengan sungguh-sungguh dan menyembah TUHAN dengan hati yang tulus.

Apakah saat ini kita terlalu menekankan kasih Allah dan hanya mengingat bahwa Dia adalah Bapa, mengabaikan bahwa Dia adalah Allah yang Maha Besar, dan dengan demikian kehilangan rasa gemetar, rasa hormat, dan kekaguman yang seharusnya kita miliki terhadap Dia?

Apa yang dimaksud dengan takut akan Allah? Abraham menaati perintah TUHAN untuk mempersembahkan Ishak sebagai kurban, yang merupakan tanda penghormatan (Kejadian 22:12). Hormat takut akan Allah berarti menaati-Nya dan melakukan apa yang diperintahkan-Nya. Orang yang hormat takut akan Allah tidak berbuat dosa sembarangan karena mereka menghormati Dia (Ulangan 5:29, 8:6), sama seperti Ayub yang takut akan Allah dan menjauhi kejahatan (Ayub 1:1); Yusuf berkemenangan menghindari godaan majikan wanitanya adalah karena hormat takut akan Tuhan (Kejadian 39:9).

Ayat 12, terakhir menyebutkan berkat (menggemakan berkat yang disebutkan di awal Mazmur 1). Para raja dan pemimpin yang memberontak itu bisa menjadi umat yang diberkati dengan berlindung kepada Allah. Berlindung pada Allah berarti percaya kepada-Nya dan mencari perlindungan serta keselamatan-Nya (5:11, 7:1). Inilah yang ingin dilakukan Abraham, karena Allah adalah perisainya (Kejadian 15:1). Sayangnya, kita merasa lebih praktis dan berguna untuk berpaling kepada orang-orang yang dapat menolong kita atau mengandalkan uang dan kekuasaan yang kita miliki daripada berpaling kepada Allah. Apalagi ketika kita menghadapi kesulitan, penderitaan dan penganiayaan, kita terbiasa menggunakan cara kita sendiri untuk menyelesaikannya, lupa berlindung kepada Tuhan, sehingga kita seperti yang dikatakan dalam lirik 《Yesus adalah Sahabat》:
Yesus adalah sahabatku, yang menanggung dosa-dosaku dan menanggung kesedihanku,
Sungguh suatu hak untuk membawa segala sesuatu ke takhta Tuhan untuk memohon kepada-Nya,
Berapa banyak kedamaian yang berulang kali hilang, berapa banyak rasa sakit yang diderita dengan sia-sia,
Semua itu karena kita belum membawa segala sesuatunya ke takhta Tuhan untuk memohon kepada-Nya.

Doa:
Tuhan! Bantulah saya untuk semakin hormat takut akan Engkau, agar saya lebih bersedia menaati-Mu, dan lebih mampu menghadapi godaan-godaan yang saya hadapi. Tolong bantu saya mengingat bahwa saya dapat berpaling kepada Engkau dan bersandar kepada-Mu dalam setiap situasi.

Doa Transformasi: gunakan ayat 11 Beribadahlah kepada TUHAN dengan takut dan ciumlah kaki-Nya dengan gemetar, tambahkan aku sebagai subjek pelaku.

Doa langsung: bagian terakhir ayat 12 … Berbahagialah semua orang yang berlindung pada-Nya!





Mazmur 1:3-6

Berhadapan muka dengan Tuhan」

Oleh Rev. Dr. Andrew Kwong (鄺炳釗)
Alliance Bible Seminary H.K.


(Mazmur 1:3-6 [ITB])
3 Ia seperti pohon, yang ditanam di tepi aliran air, yang menghasilkan buahnya pada musimnya, dan yang tidak layu daunnya; apa saja yang diperbuatnya berhasil.
4 Bukan demikian orang fasik: mereka seperti sekam yang ditiupkan angin.
5 Sebab itu orang fasik tidak akan tahan dalam penghakiman, begitu pula orang berdosa dalam perkumpulan orang benar;
6 sebab TUHAN mengenal jalan orang benar, tetapi jalan orang fasik menuju kebinasaan.


Ayat 3 menggambarkan orang saleh yang diberkati itu seperti pohon yang ditanam di tepi aliran sungai, yang menghasilkan buah pada musimnya, dan tidak layu daunnya, dan segala perbuatannya berhasil. Apa maksudnya orang saleh itu seperti pohon ? Segala sesuatu yang mereka lakukan berjalan dengan baik. Apakah ini berarti mereka tidak pernah gagal? Apakah seperti yang dikatakan beberapa pengkhotbah, jika Anda mengasihi Tuhan, segala sesuatunya akan berjalan lancar dan Anda akan berhasil dalam segala hal yang Anda lakukan?

Pohon melambangkan kestabilan, berbeda dengan rerumputan di tembok yang tertiup angin dan terus bergoyang. Ciri-ciri pohon adalah tidak tumbang dan tidak mudah terguncang (15:5, 16:8). Berkat yang sebenarnya bukanlah tertawa sepanjang hari dan melakukan hal-hal yang membuat Anda gembira, tetapi menjadi stabil seperti pohon dan gunung, tanpa terlalu banyak rasa takut; ini mengingatkan pada berkat terbaik Maria: dia tidak seperti adiknya Martha yang diganggu oleh banyak hal.

Ditanam di tepi sungai artinya pohonnya cukup air. Hal ini mencerminkan bahwa orang-orang saleh yang diberkati mempunyai hubungan yang erat dengan Tuhan dan dikuatkan oleh-Nya sehingga tidak mudah digoncangkan, seperti halnya pemazmur bahwa Allah berada di sebelah kanannya dan ia tidak goyah. (Mzm. 16:8). Kita perlu merenungkan apakah kita mengejar stabilitas dan ketenangan yang diperoleh dari persekutuan dengan Tuhan, lebih daripada apa yang disebut oleh dunia sebagai kebahagiaan?

Akar dari pohon yang ditanam di tepi aliran sungai mendapat nutrisi, dan menghasilkan buah pada musimnya, dan daunnya tidak pernah layu. Berbuah tepat pada waktunya menandakan bahwa pohon tersebut merupakan pohon buah-buahan, akan berbuah, bermanfaat dan menguntungkan. Segala sesuatu yang dia lakukan berjalan sebagai semua buah yang dihasilkannya dengan subur. Orang-orang saleh yang diberkati mungkin tidak selalu segalanya berjalan lancar, namun mereka dapat berfungsi dan bermanfaat bagi orang lain. Sebenarnya, tokoh besar manakah dalam Alkitab yang selalu lancar dalam segala hal yang dilakukannya sepanjang hidupnya? Daun tak pernah layu menekankan bahwa daun tak pernah kering dan gugur, yang merupakan metafora orang saleh yang selalu penuh vitalitas. Kita harus bertanya pada diri sendiri: Apakah kita mengasihi Tuhan dan hanya ingin segala sesuatunya berjalan lancar dalam hidup kita, ataukah kita ingin dipakai oleh-Nya untuk memberi manfaat bagi orang lain?

Ayat 4-5 menjelaskan bahwa orang fasik ibarat sekam yang diayak oleh petani pada waktu ia mengirik, yang tidak berakar, tidak berbobot, dan tidak berguna. Berlawanan dengan orang saleh yang ibarat pohon yang kuat dan lebat buahnya.

Kedua jenis orang ini sangat berbeda karena TUHAN mengenal jalan orang benar (ayat 6), Dia peduli mengenai segala hal tentang orang benar, dan dengan menjauhi dosa dan memperhatikan serta menjalankan perintah-perintah-Nya maka mereka mempunyai hubungan yang erat dengan-Nya, sebagaimana Alkitab memberikan penilaian terhadap Musa: ia dikenal TUHAN dengan berhadapan muka (Ulangan 34:10), menggemakan Keluaran 33:11 TUHAN berbicara kepada Musa dengan berhadapan muka seperti seorang berbicara kepada temannya. Musa dikenal TUHAN dengan berhadapan muka, adalah kata kerja yang sama mengenal Mazmur 1:6 bahwa TUHAN mengenal jalan orang benar.

Ayat 2 mempunyai makna yang kaya, antara lain: menikmati hubungan yang erat dengan TUHAN, stabil dan tenteram seperti pohon, tidak takut, penuh vitalitas, dan menghasilkan buah yang memberkati sesama. Bagaimana seseorang dapat memperoleh berkat ini? Artinya tidak bergabung dengan kelompok orang jahat dan melakukan dosa dengan seenaknya, serta dengan tulus mengikuti petunjuk yang diberikan oleh Allah kepada kita melalui Alkitab.

Doa:
Tuhan! Bantu aku mengejar kebahagiaan menjadi seperti pohon. Saya berharap di akhir hidup saya, saya akan menjadi seperti Musa yang dikenal oleh Engkau secara langsung.

Doa Transformasi: gunakan ayat 3 Ia seperti pohon, yang ditanam di tepi aliran air, yang menghasilkan buahnya pada musimnya, dan yang tidak layu daunnya; apa saja yang diperbuatnya berhasil.

Doa Syafaat: doakan orang-orang yang Anda kenal menggunakan ayat 3

Doa langsung: dalam sikap doa baca beberapa kali ayat 6 TUHAN mengenal jalan orang benar, tetapi jalan orang fasik menuju kebinasaan.





Mazmur 1:1-2

「xxx」

Oleh Rev. Dr. Andrew Kwong (鄺炳釗)
Alliance Bible Seminary H.K.


(Mazmur 1:1-2 [ITB])
1 Berbahagialah orang yang tidak berjalan menurut nasihat orang fasik, yang tidak berdiri di jalan orang berdosa, dan yang tidak duduk dalam kumpulan pencemooh,
2 tetapi yang kesukaannya ialah Taurat TUHAN, dan yang merenungkan Taurat itu siang dan malam.


Mazmur ini adalah Mazmur Hikmah dan merupakan pengantar keseluruhan Kitab Mazmur. Mazmur ini mendorong pembaca untuk menjadi orang-orang saleh yang diberkati dan menunjukkan ciri-ciri orang yang diberkati, seperti mencintai hukum Allah dan merenungkannya pada siang hari maupun malam (ayat 2). Pertanyaannya, apakah mencintai dan merenungkan hukum Tuhan bisa mendatangkan berkat? Apakah harus menaatinya? Apa maksudnya merenungkan firman Allah siang dan malam? Apakah tidak bekerja atau tidur?

Mazmur ini menggambarkan tiga tidak dan dua ya dari orang saleh yang diberkati.

Ayat 1 menggambarkan orang seperti ini dari sisi tidak, yakni tidak berjalan menurut nasehat orang fasikyang secara harafiah diterjemahkan sebagai tidak mengikuti nasehat orang fasik, tidak bertindak sesuai dengan nasehat orang fasik. Tidak berdiri di jalan orang berdosa berarti perilaku dan sikap tidak seperti orang berdosa. Tidak duduk dalam kumpulan pencemooh (orang yang sombong, meninggikan diri) artinya tidak bergabung dengan mereka. Di sini tiga tidak dimulai dari berjalan, berdiri, dan sampai duduk, menunjukkan bahwa orang-orang saleh yang diberkati tidak akan menerima nasihat (pikiran) orang jahat, bertindak seperti mereka (perilaku), atau bergabung menjadi anggota/bagian mereka (rekan).

Bagaimana mungkin orang-orang percaya mampu tidak dipengaruhi oleh orang-orang yang tidak takut akan Tuhan? Bagaimana seseorang dapat bertekad seperti Daniel untuk tidak tercemar (Dan. 1:8)?

Ayat 2 menggambarkan dua hal yang harus dilakukan oleh orang saleh yang diberkati:

Pertama, kesukaannya terhadap hukum Tuhan, kata kesukaan dapat merujuk pada suka yang artinya oerasaan mencintai pria terhadap wanita (Kejadian 34:19), dan juga mencakup berkenan kepada Allah; orang benar yang diberkati menyukai hukum Allah. Di sini hukum Allah, bisa merujuk pada Kitab Taurat (lima kitab Musa), namun pada di ayat ini lebih tepat merupakan kehendak Allah yang diwahyukan kepada manusia yakni Alkitab (termasuk kitab Mazmur), agar manusia dapat mengetahui bagaimana harus bersikap sepanjang hidupnya. Mengapa kita lebih sering membaca buku, surat kabar, dan internet daripada membaca Alkitab yang mengungkapkan isi hati Allah? Penting untuk memikirkan bagaimana Anda dan saya bisa lebih menyukai membaca Alkitab daripada aktivitas lainnya (terutama hiburan dan waktu luang). Ketika kita membaca Mazmur 136 di akhir bulan ini, kita akan mengetahui bagaimana cara merenungkan dan berdoa ayat Alkitab. Cara ini akan membantu kita mencintai firman Tuhan yang berharga.

Kedua, merenungkan Taurat itu siang dan malam , ayat ini menggunakan dua antonim untuk mewakili semua, yang berarti setiap saat. Mazmur adalah puisi dan tidak perlu diartikan secara harfiah, siang dan malam berarti sering. Mereka yang menyukai Alkitab tentu saja ingin membacanya. Kata merenungkan dalam bahasa aslinya (hgh) bisa berarti membaca, tetapi di sini berarti menghargai dan memperlakukan sebagai sesuatu yang berharga, seperti halnya singa menganggap hasil buruannya (misal kelinci) sebagai harta dan menjaganya dengan segala kemampuan agar jangan ada yang merampasnya (Yesaya 31:4 seekor singa atau singa muda menggeram untuk mempertahankan mangsanya, kata (hgh) tersebut diterjemahkan sebagai mengaum).

Orang-orang saleh yang diberkati menghargai ajaran Tuhan dan bersedia menaatinya. Yosua 1:8 renungkanlah itu siang dan malam, supaya engkau bertindak hati-hati sesuai dengan segala yang tertulis di dalamnya menunjukkan bahwa tujuan merenungkan (hgh) hukum Tuhan siang dan malam adalah menaatinya dengan seksama. Apakah kita merasakan nikmatnya membaca Alkitab atau bahkan membacanya dengan penuh semangat tidak ingin berhenti? Bagaimana kita bisa mencintai Alkitab dan menganggapnya sebagai harta karun? Mengapa melakukan Firman dapat membantu kita menjadi orang yang diberkati?

Pemazmur membandingkan menjadi bagian dari orang-orang jahat dan menghargai hukum Allah, mengingatkan kita bahwa Alkitab adalah Firman Allah yang menjauhkan manusia dari dosa, dan dosa menjauhkan manusia dari Alkitab. Bagaimana membaca Alkitab dapat menjauhkan kita dari dosa dan mengurangi keterlibatan kita dengan orang fasik? Bagaimana membaca Alkitab dapat membantu kita menghadapi godaan? Silakan lihat bagaimana Tuhan Yesus mengutip Kitab Mazmur untuk menanggapi iblis ketika dia dicobai (Matius 4:1-11). Yang penting, apakah kita benar-benar percaya bahwa dua hal sederhana yakni: tidak ikut serta bergabung dengan orang fasik dan mencintai Alkitab, bisa membuat kita menjadi orang yang diberkati?

Doa:
Tuhan! Bantulah saya mengamalkan dan menghidupinya, menjalankan ajaran kedua ayat ini agar saya bisa menjadi orang yang benar-benar diberkati.

Doa Transformasi: jadikan ayat 1 sebagai doa dengan mengubahnya memakai kata-kata sendiri.

Doa langsung: dengan sikap doa bacalah ayat 2 berulang-ulang.





Mazmur dan Doa

Doa langsung, Doa Transformasi, Doa Syafaat」

Oleh Rev. Dr. Andrew Kwong (鄺炳釗)
Alliance Bible Seminary H.K.


Bulan ini kita akan merenungkan Mazmur. Mari kita membahas dulu bagaimana berdoa dengan berdasarkan Mazmur. Banyak ahli spiritual di zaman modern berpendapat bahwa ketika mempraktikkan saat teduh kerohanian, yang terbaik adalah terlebih dahulu membaca Kitab Mazmur dan kemudian berdoa dengan menggunakan ayat Alkitab. Orang beriman besar asal Inggris George Mueller membuat penemuan penting pada tahun 1841, yang kemudian ia sebutkan dalam otobiografinya:
“Dulu saya selalu bangun pagi-pagi sekali, dalam sepuluh tahun selalu mengawali hari dengan berdoa. Kini saya berpikir bahwa yang terpenting adalah merenungkan firman Tuhan agar hati saya bisa mendapatkan kekuatan, dihibur, diingatkan, dibimbing, dan diajar, agar hati saya bisa selaras dengan bersatu dengan Tuhan … Dahulu setiap pagi saat bangun tidur saya berdoa, tapi sekarang saya membaca Alkitab dan bermeditasi dahulu … Hati saya terpengaruh oleh firman Tuhan, dan saya secara alami memulai dialog dengan-Nya. Kata-kata dalam Alkitab adalah isi percakapan kita.”

George Whitefield adalah seorang penginjil yang hebat. Pada saat itu, alat komunikasi massa belum dikembangkan, dan jutaan orang mendengarkan khotbahnya. Ia mengatakan bahwa sumber kekuatannya hanya terletak pada berlutut setiap hari dan mendoakan setiap kalimat dan setiap kata dalam AlKitab.

Orang-orang besar dalam AlKitab sering mengutip firman Tuhan dalam doa mereka. Silakan merujuk pada doa Yakub (Kejadian 32:9-12), doa Daniel (Daniel 9:1-19), dan doa Nehemia (Nehemia 9:5-38) dll. Mazmur merupakan himne dan doa yang digunakan di Bait Suci yang sangat cocok untuk kita pakai dalam doa. Selain itu, pemazmur juga mengutip ayat-ayat Alkitab dalam doanya (lihat Mazmur 136). Bagaimana cara berdoa dari Mazmur atau ayat-ayat Alkitab suci lainnya? Ada tiga metode:

Pertama, doa langsung: langsung membaca sebuah ayat dan memakainya sebagai doa pribadi. Kedua, transformasikan doa: terjemahkan ayat ke dalam doa pribadi kepada Allah Bapa. Ketiga, doa syafaat: memakai ayat-ayat dengan mengubah sedikit untuk berdoa syafaat bagi seseorang atau suatu hal.

Contoh 1: TUHAN adalah gembalaku, takkan kekurangan aku (Mzm. 23:1)
Doa Langsung: membaca ayat pertama, atau ayat pertama dan kedua, dalam sikap berdoa.
Doa Transformasi: Terima kasih Tuhan, Engkau bukan hanya Gembala Israel, tapi Engkau juga Gembalaku. Tuhan! Tolong bantu aku merasa bahwa Engkau adalah Gembalaku, dan dengan demikian mengurangi kekhawatiran finansialku. Bapa di surga!Tolong ingatkan saya bahwa Engkau akan menyediakan apa yang saya butuhkan, bukan apa yang saya inginkan.
Doa Syafaat: Ya Allah! Ada saudara yang sedang menganggur. Tolonglah dia dan keluarganya agar tidak berada dalam kemiskinan. Tuhan! Orang tuaku hanya mengenal-Mu sebagai pengetahuan di dalam kepala saja, tetapi mereka tidak mengenal bahwa Engkaulah gembala mereka, tolong beri mereka penegasan ini agar mereka mengenal Engaku secara pribadi dan memiliki relasi dengan Engkau!

Contoh 2: Ya TUHAN semesta alam, berbahagialah manusia yang percaya kepada-Mu! (Mzm. 84:12)
Doa Langsung: dalam sikap doa ucapkan ayat ini berulang-ulang.
Doa Transformasi: Ya Tuhan! Bantulah aku memahami bahwa Engkau adalah Tuhan semesta alam. Ya Bapa Surgawi! Tolong ajari aku bagaimana mengandalkan Engkau. Tuhan! Biarlah aku dapat menerima berkat-berkat yang datang dari ketergantunganku kepada-Mu.
Doa Syafaat: Ya Tuhan! Putriku sangat cerdas tetapi sombong. Tolong biarkan dia belajar untuk bersandar pada-Mu. Bapa Surgawi! Gereja kami adalah gereja yang sangat besar, jadi kami mengandalkan kekuatan jemaat kami lebih dari pada mengandalkan Engkau. Ubahlah pikiran kami dan juga para pemimpin gereja kami untuk mengandalkan Engkau dalam segala hal.

Contoh 3: Tetapi harta ini kami punyai dalam bejana tanah liat, supaya nyata, bahwa kekuatan yang melimpah-limpah itu berasal dari Allah, bukan dari diri kami (2 Korintus 4:7)
Doa Langsung: ucapkan ini beberapa kali.
Doa Transformasi: Tuhan, tolong bantu saya untuk mengingat bahwa saya memiliki harta ini di dalam bejana tanah liat. Tolong bantu saya untuk menerima bahwa saya memiliki harta ini di dalam bejana tanah liat. Terima kasih Tuhan karena mengizinkan saya memiliki harta ini dalam bejana tanah liat.
Doa Syafaat: Tuhan, tolong bantu agar anggota keluarga saya (nama orang tersebut) bahwa dia mempunyai harta ini di dalam bejana tanah. Mohon Tuhan untuk menolong (nama orang tersebut) untuk menjadi kuat dan berani karena ia memiliki harta ini di dalam bejana tanah liat.

Renungkan:
Tuhan! Bantu saya mulai bulan ini belajar bagaimana berdoa dengan berdasarkan ayat-ayat Alkitab sehingga saya bisa berbicara dengan-Mu daripada berdoa hanya sekadar meminta-Mu untuk memberi saya sesuatu atau menyelesaikan masalah saya.