「Memeriksa diri」
Oleh Rev. Dr. Andrew Kwong (鄺炳釗)
Alliance Bible Seminary H.K.
(Mazmur 15:1-5 [ITB])
1 Mazmur Daud.
TUHAN, siapa yang boleh menumpang dalam kemah-Mu? Siapa yang boleh diam di gunung-Mu yang kudus?
2 Yaitu dia yang berlaku tidak bercela, yang melakukan apa yang adil dan yang mengatakan kebenaran dengan segenap hatinya,
3 yang tidak menyebarkan fitnah dengan lidahnya, yang tidak berbuat jahat terhadap temannya dan yang tidak menimpakan cela kepada tetangganya;
4 yang memandang hina orang yang tersingkir, tetapi memuliakan orang yang takut akan TUHAN; yang berpegang pada sumpah, walaupun rugi;
5 yang tidak meminjamkan uangnya dengan makan riba dan tidak menerima suap melawan orang yang tak bersalah. Siapa yang berlaku demikian, tidak akan goyah selama-lamanya.
Mazmur ini adalah puisi tentang memasuki istana. Pada zaman dahulu, bangsa Israel pergi ke Bait Suci dari berbagai tempat untuk menyembah Allah, dan mereka pergi ke Bait Suci tiga kali setahun (Hari Raya Roti Tidak Beragi, Hari Raya Panen, dan Hari Raya Pondok Daun). Mazmur ini menggambarkan orang-orang yang berdiri di luar gerbang Bait Suci bertanya kualifikasi memasuki Bait Suci, dengan mengatakan: 「siapa yang boleh menumpang dalam kemah-Mu? Siapa yang boleh diam di gunung-Mu yang kudus?」 Atas nama Allah, imam menjawab dengan menyebutkan sepuluh persyaratan bagi para penyembah (ayat 2-5), dan mengakhiri mazmur ini dengan janji (ayat 5).
Sepuluh persyaratan tersebut antara lain: tiga aspek positif (ayat 2) yang berlaku tidak bercela, yang melakukan apa yang adil dan yang mengatakan kebenaran dengan segenap hatinya. Tiga aspek negatif (ayat 3): yang tidak menyebarkan fitnah dengan lidahnya, yang tidak berbuat jahat terhadap temannya dan yang tidak menimpakan cela kepada tetangganya; dua aspek positif (ayat 4): yang memandang hina orang yang tersingkir (yang menganggap rendah orang yang ditolak Allah), tetapi memuliakan orang yang takut akan TUHAN; yang berpegang pada sumpah, walaupun rugi. Dua aspek negatif (5a): yang tidak meminjamkan uangnya dengan makan riba dan tidak menerima suap melawan orang yang tak bersalah.
Anehnya, sepuluh syarat tersebut tidak menyebutkan tiga aspek yang umumnya dianggap berkaitan dengan ibadah: Pertama, tidak disebutkan sikap manusia terhadap Allah (bandingkan Sepuluh Perintah 「Jangan menyebut nama TUHAN, Allahmu, dengan sembarangan」, menaati hukum Allah dan tidak menyembah berhala. Kedua, tidak ada pembahasan mengenai tuntutan seremonial (seperti persyaratan Sepuluh Perintah Allah untuk memelihara hari Sabat, dan pembahasan Perjanjian Lama tentang ritual persembahan kurban dan hari raya. Ketiga, tidak disebutkan kejahatan berat (seperti pembunuhan, perzinaan, dll yang disebutkan dalam Sepuluh Perintah Allah).
Mazmur ini tidak menyebutkan ketiga aspek tersebut, mungkin karena pemazmur tidak ingin pembacanya mempunyai ilusi bahwa jika seseorang menjalankan kewajiban agama (seperti mempersembahkan kurban, merayakan hari raya, dan memberikan sedekah) dan menahan diri dari perzinaan, maka ibadah orang tersebut pasti berkenan kepada Allah. Pemazmur berharap agar orang-orang yang menghadap Allah hendaknya introspeksi memeriksa perilaku mereka untuk melihat apakah diri mereka telah melakukan apa yang seharusnya dilakukan, dan menghindari melakukan hal-hal yang tidak boleh dilakukan seperti yang ditunjukkan oleh mazmur ini (walaupun hal-hal ini mungkin tampak sepele, seperti memfitnah orang)? Hal ini mengingatkan kita akan firman Tuhan Yesus: 「Sebab itu, jika engkau mempersembahkan persembahanmu di atas mezbah dan engkau teringat akan sesuatu yang ada dalam hati saudaramu terhadap engkau, 24 tinggalkanlah persembahanmu di depan mezbah itu dan pergilah berdamai dahulu dengan saudaramu, lalu kembali untuk mempersembahkan persembahanmu itu」 (Matius 5:23-24).
Mazmur ini mengingatkan kita bahwa untuk beribadah kepada Allah kita harus mempunyai akhlak dan perilaku yang baik. Mengapa kita perlu mempunyai tangan yang bersih dan hati yang murni untuk beribadah kepada Allah (24:4, mazmur ini juga merupakan puisi tentang memasuki Bait Suci)? Orang-orang Yahudi percaya bahwa 「kedekatan」 tidak berarti kedekatan dalam ruang atau jarak, tetapi 「kesamaan」 artinya: dekat atau tidaknya dua orang tidak tergantung pada apakah mereka berdiri atau duduk bersama, tetapi apakah mentalitas mereka serupa, seperti yang dikatakan Amos: 「Berjalankah dua orang bersama-sama, jika mereka belum berjanji?」 (Amos 3:3) Penyembah Allah yang tulus harus mau meniru Dia, melakukan apa yang Dia perintahkan, dan menjadi semakin serupa dengan-Nya. Penyembahan bukan hanya sekadar tindakan ritual kita (seperti menyanyi, berdoa, dan membaca Alkitab), namun kesediaan untuk menaati perintah Allah yang kita sembah, sehingga menjadikan kita semakin serupa dengan-Nya (lihat apa yang disebut dalam Perjanjian Baru 「meniru Kristus」).
Ketika kita beribadah kepada Allah, kita harus memperhatikan karakter dan perilaku kita, karena seperti yang ditanyakan Yesaya: 「Siapakah di antara kita yang dapat tinggal dalam api yang menghabiskan ini? Siapakah di antara kita yang dapat tinggal di perapian yang abadi ini?」 (Yesaya 33:14), dan yang diingatkan dalam surat Ibrani: 「Sebab Allah kita adalah api yang menghanguskan」 (Ibrani 12:29); bagaimana mungkin orang yang datang beribadah di hadapan Allah yang seperti api yang menghanguskan tidak memeriksa diri mereka sendiri untuk melihat apakah mereka telah melakukan dosa dan pelanggaran terhadap-Nya? Umat Kristiani bisa mengaku dosanya di hadapan Allah melalui Tuhan Yesus Sang Imam Besar. Namun, kita harus tetap berhati-hati untuk tidak sembarangan berbuat dosa atau hidup dalam dosa, jangan sampai ibadah kita tidak berkenan kepada Allah karena melanggar sepuluh syarat mazmur ini.
Doa:
Tuhan! Mungkin selama ini kami berpikir bahwa menyembah-Mu adalah hal yang sangat santai dan menyenangkan, hanya dengan menyanyikan lagu-lagu yang kami suka nyanyikan dan melantunkan ayat-ayat suci yang sudah dikenal, itu sudah cukup. Tolong beri kami pemahaman baru melalui Mazmur 15, agar kami sebelum menyembah-Mu dapat ingat untuk memeriksa diri sendiri terlebih dahulu, bukan hanya ketika menerima Perjamuan Kudus.
Bacaan doa
Silakan pilih ayat-ayat dari Mazmur 15 ini untuk doa langsung, doa transformasi, dan doa syafaat.
Renungan pemahaman Mazmur Doa
Renungan pemahaman Kitab Mazmur
Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain
Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Mazmur Doa ditulis oleh Rev. Dr. Andrew Kwong (鄺炳釗) yang dipublikasi pada bulan Februari 2014 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).
Renungan untuk Kalangan Kristen.