Category Archives: Lent Devotional 2020

03 Maret – SELASA MINGGU PERTAMA PRA-PASKAH. Kembali kepada TUHAN

Oleh
Rev Malcolm T H Tan O.S.L
Pastor-in-Charge Covenant Community Methodist Church
Chaplain-in-Charge Methodist Girl’s School
Penerjemah: Team WMC

Yesaya 55:6-11

6 Carilah TUHAN selama Ia berkenan ditemui; berserulah kepada-Nya selama Ia dekat!
7 Baiklah orang fasik meninggalkan jalannya, dan orang jahat meninggalkan rancangannya; baiklah ia kembali kepada TUHAN, maka Dia akan mengasihaninya, dan kepada Allah kita, sebab Ia memberi pengampunan dengan limpahnya.
8 Sebab rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalan-Ku, demikianlah firman TUHAN. 9 Seperti tingginya langit dari bumi, demikianlah tingginya jalan-Ku dari jalanmu dan rancangan-Ku dari rancanganmu.
10 Sebab seperti hujan dan salju turun dari langit dan tidak kembali ke situ, melainkan mengairi bumi, membuatnya subur dan menumbuhkan tumbuh-tumbuhan, memberikan benih kepada penabur dan roti kepada orang yang mau makan, 11 demikianlah firman-Ku yang keluar dari mulut-Ku: ia tidak akan kembali kepada-Ku dengan sia-sia, tetapi ia akan melaksanakan apa yang Kukehendaki, dan akan berhasil dalam apa yang Kusuruhkan kepadanya.

Renungan
Nabi Yesaya telah mengumumkan, bahwa adalah mungkin untuk mencari Allah dan menemukan Allah. Berlawanan dengan apa yang dikatakan oleh beberapa orang: “Bahwa tidak ada Allah, dan Allah tidak dapat ditemukan!” Sebaliknya, Allah adalah jauh karena kita mencari Dia pada saat kita tidak lagi dapat melakukannya. Menurut Yesaya, terdapat suatu kesempatan waktu untuk mencari Allah. Waktu ketika kita dapat sungguh-sungguh mencari-Nya, memanggil-Nya dan tetap menemukan bahwa Ia dekat dengan kita. Waktu ketika kita dapat tetap mengalami Allah di dalam jiwa kita. Ada yang dikatakan sebagai kesempatan yang terlewatkan di dalam hidup. Seringkali, kesempatan-kesempatan dapat datang dan membuka pintu-pintu bagi kita di dalam kehidupan kita sehari-hari. Karenanya, kesempatan itu sekarang untuk mencari Allah janganlah disia-siakan dan dilewatkan. Jika tidak, kita mungkin akan hidup di dalam penyesalan di masa depan.

Mencari dan menemukan Allah dapat menjadi sulit! Terdapat ekspektasi: “Biarlah yang berdosa meninggalkan jalannya”, tetapi terdapat harga yang mahal yang harus kita bayar. Seringkali, melepaskan kebiasaan-kebiasaan moral kita yang berbahaya dapat menjadi terlalu sulit untuk kita lakukan. Kita lebih baik menyimpan “kejahatan” daripada meninggalkan mereka demi mencari Allah. Tetapi mana di antara ke dua pilihan yang sesungguhnya pantas untuk dicari dan disimpan? Allah atau gaya hidup kita yang secara moral berbahaya? Jawaban kita di sini akan menunjukkan kondisi spiritual kita.
Nabi Yesaya melanjutkan. Ia menekankan adanya jurang yang besar antara Allah yang Kudus dan kita, makhluk yang tidak sempurna, yang secara terus menerus mempraktekkan pikiran-pikiran yang tidak suci dan tindakan-tindakan yang jahat. Terlebih lagi, juga terdapat jurang yang nyata antara Allah yang Mutlak Tidak Terbatas dan kita, makhluk hidup yang terbatas. Sebagaimana dikatakan oleh seorang teolog Karl Barth: “Biarlah Allah menjadi Allah dan biarlah manusia menjadi manusia!” Nabi Yesaya juga menekankan jurang antara Pikiran Allah dan pikiran manusia. Kita, dengan pikiran kita yang lemah tidak akan mengerti secara penuh Pikiran Allah. Namun, kita seringkali memberanikan diri “menghakimi” Allah dan mencoba menunjukkan betapa Allah “tidak adil!” Oleh karena itu, kebutuhan besar kita akan penyingkapan wahyu Allah melalui Firman-Nya. Adalah Firman Allah yang tertulis yang mengklarifikasikan Pikiran Allah kepada kita. Firman Allah penuh kuasa. Ia efisien dan dapat mencapai tujuan-tujuan Allah. Oleh sebab itu, untuk bertobat kembali kepada Allah berarti adalah berputar kembali kepada Allah dan Firman-Nya, di dalam kerendahan hati dan kemampuan untuk diajar.

Juga terdapat alasan yang lebih positif untuk kembali kepada Allah dan mencari-Nya: “Allah kita akan memberi pengampunan.” Satu alasan yang baik untuk mencari Allah adalah kepastian janji dari pengampunan Allah, penuh dan gratis. Betapa indah bagi kita untuk mengenal Allah dan mengalami Allah, sebagai Allah yang mengampuni dengan murah hati. Tentu saja, kita kembali kepada Allah karena kita tidak ingin kehilangan kesempatan kita untuk mencarinya, karena semakin banyak kita mengatakan “Tidak” kepada Allah, hati kita akan menjadi semakin keras, dan kita tidak merasakan keyakinan dari Roh Kudus yang seperti sebelumnya. Kita kembali kepada Allah, oleh karena anugerah, sehingga kita telah menentukan untuk meninggalkan dosa, lebih memilih Allah daripada kejahatan. Kita mencari Allah karena kita telah memiliki kepastian dari pengampunan besar-Nya yang penuh kasih. Tentu, kita sebaiknya “kembali kepada Allah” sekarang. Jalan-jalan Allah adalah lebih baik daripada jalan-jalan kita.

Doa
Ya Allah, bantulah aku mencari-Mu secara cepat dan segera. Bantulah aku untuk tidak menunda di dalam mencari-Mu karena hal-hal lain yang lebih kecil yang menggangu aku sekarang. Bantulah aku berlari kepada Yesus dengan cepat sebelum dosa mengeraskan hatiku dan Engkau menjadi sulit untuk ditemukan. Jagalah hatiku selalu lembut di hadapan-Mu, oh Allah Penyelamatku. Di dalam Nama Kristus, aku dengan rendah hati memohon.

Tindakan

Mempraktikkan disiplin-disiplin spiritual, khususnya doa dan pembacaan Kitab Suci di hadapan Allah. Ingat mencari Allah dan Firman-Nya akan membantu kita untuk menyelesaikan rencana-rencana-Nya.
Mempraktikkan hati yang mencari dan bertobat secara reguler; ‘biarlah orang fasik meninggalkan jalan-jalannya’ bukan merupakan janji yang hanya satu kali saja kepada Allah. Kita perlu melakukan ini, sesering kita mengijinkan diri kita menjadi praktisi kebiasaan-kebiasaan yang tidak kudus.
Selalu merendahkan diri kita di hadapan Allah. Ingatlah bahwa jalan-jalan Allah selalu lebih tinggi daripada kita.

Diterjemahkan dari terbitan: Singapore Bible Society (2020).
Untuk Kalangan Kristen

(Iklan yang ada adalah milik WordPress penyedia sarana gratis WEB ini)

02 Maret – SENIN MINGGU PERTAMA PRA-PASKAH. Menjadi Anak-anak Allah di dalam Kristus

Oleh
Rev Dr Maggie Low
Minister, Presbyterian Church in Singapore
Faculty, Trinity Theological College
Penerjemah: Team WMC

Galatia 3:23-4:7

3:23 Sebelum iman itu datang kita berada di bawah pengawalan hukum Taurat, dan dikurung sampai iman itu telah dinyatakan. 24 Jadi hukum Taurat adalah penuntun bagi kita sampai Kristus datang, supaya kita dibenarkan karena iman. 25 Sekarang iman itu telah datang, karena itu kita tidak berada lagi di bawah pengawasan penuntun. 26 Sebab kamu semua adalah anak-anak Allah karena iman di dalam Yesus Kristus. 27 Karena kamu semua, yang dibaptis dalam Kristus, telah mengenakan Kristus. 28 Dalam hal ini tidak ada orang Yahudi atau orang Yunani, tidak ada hamba atau orang merdeka, tidak ada laki-laki atau perempuan, karena kamu semua adalah satu di dalam Kristus Yesus. 29 Dan jikalau kamu adalah milik Kristus, maka kamu juga adalah keturunan Abraham dan berhak menerima janji Allah.
4:1 Yang dimaksud ialah: selama seorang ahli waris belum akil balig, sedikitpun ia tidak berbeda dengan seorang hamba, sungguhpun ia adalah tuan dari segala sesuatu; 2 tetapi ia berada di bawah perwalian dan pengawasan sampai pada saat yang telah ditentukan oleh bapanya. 3 Demikian pula kita: selama kita belum akil balig, kita takluk juga kepada roh-roh dunia. 4 Tetapi setelah genap waktunya, maka Allah mengutus Anak-Nya, yang lahir dari seorang perempuan dan takluk kepada hukum Taurat. 5 Ia diutus untuk menebus mereka, yang takluk kepada hukum Taurat, supaya kita diterima menjadi anak. 6 Dan karena kamu adalah anak, maka Allah telah menyuruh Roh Anak-Nya ke dalam hati kita, yang berseru: “ya Abba, ya Bapa !” 7 Jadi kamu bukan lagi hamba, melainkan anak; jikalau kamu anak, maka kamu juga adalah ahli-ahli waris, oleh Allah.

Renungan
Prinsip-prinsip dasar dari dunia di dalam Galatia 4:2 adalah kepercayaan manusia yang jatuh dalam dosa tentang sebuah masyarakat. Bagi orang-orang di Galatia, diasumsikan bahwa orang-orang Yahudi lebih baik dari para orang-orang non-Yahudi, bahwa orang-orang bebas lebih baik dari pada para budak, bahwa pria lebih baik daripada wanita. Hari ini, prinsip-prinsip ini seperti rasisme, elitisme dan seksisme, masih mencekik masyarakat kita.

Di dalam konteks lokal kita, kita mengukur orang lain dan diri kita sendiri dengan penilaian dari sekolah kita, IPK kita, gelar-gelar, pencapaian-pencapaian kita (atau pencapaian-pencapaian anak-anak kita), pekerjaan-pekerjaan kita, mobil, kode pos. Jika kita berhasil, kita menggelembung dengan kesombongan, dan jika tidak, kita menjadi depresi. Sementara itu, kita dengan stres berjuang untuk bertahan hidup.

Kabar baiknya adalah bahwa Kristus telah memerdekakan kita dengan membuat kita menjadi anak-anak Allah – bukan hanya sebagai sebuah prinsip mental di dalam kepala-kepala kita, tetapi sebagai sebuah pengalaman pribadi di dalam hati kita, sehingga kita bisa berteriak, “Abba! Bapa!” Ini adalah bagaimana Yesus memanggil Bapa di dalam bahasa Aramaik, sebuah bahasa yang tidak lazim bagi orang-orang non-Yahudi di Galatia yang berbicara bahasa Yunani, tetapi yang memungkinkan kita untuk membagikan keintiman yang sama seperti yang dimiliki Yesus dengan sang Bapa.
Seorang wanita muda pernah diberitahu oleh ayahnya bahwa ia tidak pintar, hanya bekerja keras. Hal tersebut mendorongnya untuk belajar lebih keras untuk membuktikan bahwa ayahnya salah. Ketika dia mendapatkan gelar dan mulai mengajar, ayahnya mengulang berkata kepadanya, “Engkau tidak pintar; hanya bekerja keras.” Mungkin ayahnya yang biasanya baik itu berusaha untuk mengatur daya dorong dari putrinya. Tetapi kata-kata itu menghancurkan semangatnya dan membuatnya merasa dia tidak akan pernah menjadi cukup baik. Suatu hari dalam sebuah proses penyembuhan, dia dengan penuh rasa sakit bertanya kepada Allah mengapa ia tidak pintar tetapi hanya bekerja keras. Kemudian ia mendengar Yesus berkata kepadanya di dalam hati: “Aku tidak perlu engkau untuk menjadi pintar atau bekerja keras.” Segera, penjara gelap dari prinsip-prinsip dasar duniawi runtuh dan jatuh. Ia telah melangkah keluar sebagai seorang anak dan ahli waris dari Allah hari itu.

Ayah-ayah duniawi kita mungkin mengasihi kita, tetapi secara tidak sempurna. Ketahuilah bahwa Kristus telah membuatmu menjadi seorang anak Allah supaya engkau dapat hidup merdeka dari semua kritik-kritik duniawi.

Doa
Abba, Bapa, terima kasih bahwa Kristus telah memerdekakan kami dari perbudakan dosa dan penghakiman-penghakiman dunia. Terima kasih karena engkau telah mengadopsi aku menjadi anak-Mu dan ahli waris-Mu. Terima kasih aku tidak perlu menjadi cukup baik di mata dunia, karena aku cukup baik sebagai anak-Mu. Bantulah aku hidup merdeka dan hidup bagi-Mu, sebagaimana aku memiliki karunia-karunia dan kemampuan-kemampuan yang Engkau telah anugerahkan kepadaku.

Tindakan
Bertobat bila engkau telah menghakimi atau bertindak kepada yang lain dengan ekspektasi duniawi.
Ampuni dan berdoalah bagi mereka yang telah menghakimimu bahwa Allah juga akan memerdekakan mereka.

Diterjemahkan dari terbitan: Singapore Bible Society (2020).
Untuk Kalangan Kristen

(Iklan yang ada adalah milik WordPress penyedia sarana gratis WEB ini)

01 Maret – HARI MINGGU PRA-PASKAH PERTAMA. Menghadapi Pencobaan

Oleh
Rev Dr Chua Chung Kai
Chairman
Evangelical Free Church of Singapore
Penerjemah: Team WMC

Matius 4:1-11

1 Maka Yesus dibawa oleh Roh ke padang gurun untuk dicobai Iblis.
2 Dan setelah berpuasa empat puluh hari dan empat puluh malam, akhirnya laparlah Yesus. 3 Lalu datanglah si pencoba itu dan berkata kepada-Nya: “Jika Engkau Anak Allah, perintahkanlah supaya batu-batu ini menjadi roti.”
4 Tetapi Yesus menjawab: “Ada tertulis:
Manusia hidup bukan dari roti saja,
tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah.”
5 Kemudian Iblis membawa-Nya ke Kota Suci dan menempatkan Dia di bubungan Bait Allah, 6 lalu berkata kepada-Nya: “Jika Engkau Anak Allah, jatuhkanlah diri-Mu ke bawah, sebab ada tertulis :
Mengenai Engkau Ia akan memerintahkan malaikat-malaikat-Nya
dan mereka akan menatang Engkau di atas tangannya,
supaya kaki-Mu jangan terantuk kepada batu.”
7 Yesus berkata kepadanya: “Ada pula tertulis: Janganlah engkau mencobai Tuhan, Allahmu!” ”
8 Dan Iblis membawa-Nya pula ke atas gunung yang sangat tinggi dan memperlihatkan kepada-Nya semua kerajaan dunia dengan kemegahannya, 9 dan berkata kepada-Nya: “Semua itu akan kuberikan kepada-Mu, jika Engkau sujud menyembah aku.” 10 Maka berkatalah Yesus kepadanya: “Enyahlah, Iblis ! Sebab ada tertulis:
Engkau harus menyembah Tuhan, Allahmu,
dan hanya kepada Dia sajalah engkau berbakti! “
11 Lalu Iblis meninggalkan Dia, dan lihatlah, malaikat-malaikat datang melayani Yesus.

Renungan
Kita semua menghadapi pencobaan.
Kita bersyukur bahwa “Imam Besar yang kita punya, bukanlah imam besar yang tidak dapat turut merasakan kelemahan-kelemahan kita, sebaliknya sama dengan kita, Ia telah dicobai, hanya tidak berbuat dosa” (Ibrani 4:15) Perikop renungan kita pagi ini mengingatkan kita akan hal itu. Bagaimana cara kita menghadapi pencobaan? Dua pemikiran yang sederhana.

Pertama, Tuhan kita dicobai di saat Dia paling lemah namun Dia mengatasi dengan Firman Allah. Dia melakukan apa yang gagal dilakukan bangsa Israel. Bangsa Israel menolak untuk masuk ke dalam Tanah Perjanjian dan di dalam pengembaraan mereka selama empat puluh tahun di padang belantara, berulang kali mereka memberontak terhadap Allah. Mereka gagal dengan menyedihkan sebagai putra ALLAH (lihat. Keluaran 4:22 – 23; Hosea 11:1). Tuhan kita, sebaliknya bertempur dengan iblis, memenangkannya, menunjukkan diri-Nya sebagai Putra ALLAH yang sejati! (lihat Matius 4:17; 2:15.) Terpujilah ALLAH Juru Selamat kita yang telah menang! Itulah tempat kemenangan kita!

Kedua, kita ingat perkataan Rasul Paulus tentang pergumulannya, “Jika ada orang merasa lemah, tidakkah aku turut merasa lemah? Jika ada orang tersandung, tidakkah hatiku hancur oleh dukacita?” (2 Korintus 11:29.)

Pencobaan mengingatkan kita bahwa kita adalah manusia, dan jika kita mencoba untuk menghadapinya dengan usaha kita sendiri, kita akan gagal, dan gagal dengan menyedihkan. Maka, pada saat dicobai, kita mengakui kelemahan kita dan berpaling pada Juru Selamat kita – berseru kepada-Nya untuk pertolongan! Inilah apa yang dimaksudkan ketika Paulus menulis: “Tetapi jawab Tuhan kepadaku: ‘Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna.’ Sebab itu terlebih suka aku bermegah atas kelemahanku, supaya kuasa Kristus turun menaungi aku. …. Sebab jika aku lemah, maka aku kuat.” (2 Korintus 12:9-10) Pencobaan menjadi kesempatan bagi kita untuk berpaling kepada Yesus! Di dalam pergumulanmu, berpalinglah pada Tuhan kita, berseru kepada-Nya dan engkau akan dapat mengalami anugerah-Nya untuk menang!

Doa
Tuhan Yesus terkasih, terima kasih karena Engkau yang menghadapi semua pencobaan dan Engkau menang! Aku datang kepada-Mu dan mengakui aku membutuhkan anugerah-Mu. Tolonglah aku ya Tuhan untuk berseru kepada-Mu di saat aku menghadapi pergumulan dan lemah.
Berikan anugerah-Mu untuk menghadapinya! Aku percaya pada-Mu! Dalam nama Yesus aku berdoa, amen!

Tindakan
Ketika dicobai, berserulah pada YESUS untuk mengatasi dengan anugerah-Nya.

Diterjemahkan dari terbitan: Singapore Bible Society (2020).
Untuk Kalangan Kristen

(Iklan yang ada adalah milik WordPress penyedia sarana gratis WEB ini)

29 Februari – SABTU SETELAH RABU ABU. Tinggalkan dan Bertobat

Oleh
Rev Dr Alex Thomas
Vicar Mar Thoma Church in Singapore
Penerjemah: Team WMC

Lukas 5:27-32

27 Kemudian, ketika Yesus pergi ke luar, Ia melihat seorang pemungut cukai, yang bernama Lewi, sedang duduk di rumah cukai. Yesus berkata kepadanya: “Ikutlah Aku!”
28 Maka berdirilah Lewi dan meninggalkan segala sesuatu, lalu mengikut Dia.
29 Dan Lewi mengadakan suatu perjamuan besar untuk Dia di rumahnya dan sejumlah besar pemungut cukai dan orang-orang lain turut makan bersama-sama dengan Dia. 30 Orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat bersungut-sungut kepada murid-murid Yesus, katanya: “Mengapa kamu makan dan minum bersama-sama dengan pemungut cukai dan orang berdosa ?”
31 Lalu jawab Yesus kepada mereka, kata-Nya: “Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit; 32 Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, tetapi orang berdosa, supaya mereka bertobat.”

Renungan
Ketika Yesus Kristus memulai pelayanan publik-Nya, Ia mengajak orang-orang untuk mengikut Dia (Matius 4:19; 9:9). Dia juga mengajak orang-orang untuk mengikut Dia dengan bertobat (Markus 1:14). Murid-murid-Nya mengikut Dia, meninggalkan keluarga dan pekerjaan mereka (Matius 4:22). Perikop ini berbicara tentang panggilan terhadap Lewi yang dipercaya sebagai Rasul Matius (Matius 9:9-13). Di Palestina pemungut cukai adalah orang yang paling dibenci dan dilarang masuk ke dalam rumah-rumah ibadah. Suatu pekerjaan yang menguntungkan karena mereka menyalahgunakan sistem perpajakan bangsa Romawi untuk memeras uang dari orang-orang. Sehingga orang-orang membenci kelompok tersebut. Yesus melihat orang ini dan memanggilnya untuk mengikut-Nya. Tetapi orang-orang Farisi yang menyatakan diri mereka benar, tidak senang melihat teman Yesus yang mereka sebut sebagai pendosa.

Panggilan Yesus untuk menjadi murid mematahkan struktur si jahat dan berbalik kepada kerajaan Allah melalui pertobatan. Di dalam kitab Perjanjian Baru, kata metanoia sering diterjemahkan sebagai “pertobatan”. Tetapi pertobatan jenis ini bukanlah tentang penyesalan, rasa bersalah atau rasa malu; itu menyiratkan membuat keputusan untuk berbalik, untuk menghadapi tujuan yang baru. Lewi, si pemungut pajak menjalani kehidupan yang sangat berlawanan dengan nilai-nilai Kerajaan. Menjadi pemungut cukai dan mengikuti Yesus tidak cocok dengan pemuridan Kerajaan Allah. Kerajaan Allah menjamin keadilan, perdamaian dan rekonsiliasi dengan Allah dan manusia. Jadi, Yesus meminta Lewi untuk meninggalkan profesinya yang telah memutuskan hubungan yang benar dengan Allah dan sesama manusia. Levi dengan sepenuh hati menerima panggilan itu.

Di masa Pra-paskah ini, Yesus sekali lagi mengundang kita untuk berbalik dari semua yang akan membuat kita tidak menikmati persekutuan kerajaan Allah, dan untuk mengikutinya dengan perubahan sikap dan tindakan kita secara total.

Doa
Tuhan terkasih, beri kami anugerah-Mu untuk mengikut Engkau dengan pertobatan. Berilah anugerah-Mu untuk membedakan semua yang menghalangi kami untuk memiliki hubungan yang benar dengan Engkau, dan dengan sesama.

Tindakan
Ambil langkah-langkah yang disengaja untuk memperbaiki sikap dan perilaku yang salah terhadap anggota keluargamu, anggota gereja dan semua orang yang berhubungan denganmu.

Diterjemahkan dari terbitan: Singapore Bible Society (2020).
Untuk Kalangan Kristen

(Iklan yang ada adalah milik WordPress penyedia sarana gratis WEB ini)

28 Februari – JUMAT SETELAH RABU ABU. Hati yang Patah dan Remuk

Oleh
Rev Dr Jimmy Tan
Lecturer Trinity Theological College
Penerjemah: Team WMC

Mazmur 51:1-5, 17-18

1 Untuk pemimpin biduan. Mazmur dari Daud. ketika nabi Natan datang kepadanya setelah ia menghampiri Batsyeba.
Kasihanilah aku, ya Allah, menurut kasih setia-Mu,
hapuskanlah pelanggaranku menurut rahmat-Mu yang besar!
2 Bersihkanlah aku seluruhnya dari kesalahanku,
dan tahirkanlah aku dari dosaku!
3 Sebab aku sendiri sadar akan pelanggaranku,
aku senantiasa bergumul dengan dosaku.
4 Terhadap Engkau, terhadap Engkau sajalah
aku telah berdosa dan melakukan apa yang Kauanggap jahat,
supaya ternyata Engkau adil dalam putusan-Mu, bersih dalam penghukuman-Mu.
5 Sesungguhnya, dalam kesalahan aku diperanakkan,
dalam dosa aku dikandung ibuku.
17 Korban sembelihan kepada Allah ialah jiwa yang hancur;
hati yang patah dan remuk tidak akan Kaupandang hina, ya Allah.
18 Lakukanlah kebaikan kepada Sion menurut kerelaan hati-Mu
bangunkanlah tembok-tembok Yerusalem!

Renungan
Memiliki hati yang patah dan remuk dapat kelihatan begitu berlawanan dengan keberhasilan di saat begitu banyak masyarakat kontemporer tampaknya berprinsip untuk tetap memperoleh kemenangan walau dengan cara apapun juga. Kutipan yang dikaitkan dengan Napoleon Bonaparte, almarhum juru kampanye militer terkenal Kaisar Prancis, berbunyi “Dalam politik, tidak pernah mundur, tidak pernah menarik kembali, tidak pernah mengakui kesalahan.” Namun, dalam Mazmur 51, kita menemukan Daud, di puncak kekuasaan karirnya sebagai raja Israel dan komandan pasukannya, bertobat di hadapan Tuhan dengan hati yang patah dan remuk.

Titik baliknya datang ketika nabi Nathan menghadapkannya pada dosa perzinahan dan pembunuhannya. Anehnya, saat ketika Daud mengakui dosa-dosanya yang mematikan, juga merupakan saat ketika anugerah memasuki hatinya dengan cara penebusan yang sangat mendalam. Buah dari roh yang patah dan hati yang remuk adalah kondisi yang menyelamatkannya dari penghukuman-Nya. Karena dalam kondisi itu, ketika dia berseru kepada Allah, Allah memberikan pengampunan yang sepenuhnya, menghapus pelanggarannya dan membersihkannya sepenuhnya dari dosa-dosanya.

Daripada bersikeras untuk terlihat terhormat, datang di hadapan Allah dengan hati yang patah dan remuk adalah sifat yang bertentangan yang akan membawa pemulihan dan kehidupan, bukan cemooh dan kematian. Tuhan adalah yang melihat hati. Dia merunduk untuk menyelamatkan barangsiapa yang datang ke hadapan-Nya dengan jiwa yang hancur.

Di masa Pra Paskah ini, marilah kita menyerahkan kekerasan hati, dan memilih untuk memberikan kepada Tuhan bahkan sisa-sisa dari hati yang hancur.

Tindakan
Ambil waktu di hadapan Allah sekarang dengan jiwa yang hancur dan hati yang patah dan remuk. Mintalah pada Allah untuk menyelidiki hatimu untuk menyatakan apa yang tidak kudus dan tidak berkenan di hadapan-Nya.
Engkau boleh memilih untuk mendoakan doa berikut ini.

Doa
Selidiki aku, ya Allah, dan ketahuilah hatiku, agar aku boleh menyadari di mana aku telah berdosa terhadap Engkau. Kasihanilah aku dan ampuni aku, karena aku bertobat di hadapan-Mu dengan hati yang patah dan remuk.
Sucikan aku dengan menyeluruh, aku berdoa kiranya aku boleh berjalan di dalam kebebasan belas kasihan dan kasih-Mu yang teguh. Dalam nama Yesus, Amen.

Diterjemahkan dari terbitan: Singapore Bible Society (2020).
Untuk Kalangan Kristen

(Iklan yang ada adalah milik WordPress penyedia sarana gratis WEB ini)

27 Februari – KAMIS SETELAH RABU ABU. Pilihlah Kehidupan

Oleh
Mr Michael Perreau
Director General United Bible Societies.
Penerjemah: Team WMC

Ulangan 30:15-20

15 “Ingatlah, aku menghadapkan kepadamu pada hari ini kehidupan dan keberuntungan, kematian dan kecelakaan, 16 karena pada hari ini aku memerintahkan kepadamu untuk mengasihi TUHAN, Allahmu, dengan hidup menurut jalan yang ditunjukkan-Nya dan berpegang pada perintah, ketetapan dan peraturan-Nya, supaya engkau hidup dan bertambah banyak dan diberkati oleh TUHAN, Allahmu, di negeri ke mana engkau masuk untuk mendudukinya.
17 Tetapi jika hatimu berpaling dan engkau tidak mau mendengar, bahkan engkau mau disesatkan untuk sujud menyembah kepada allah lain dan beribadah kepadanya, 18 maka aku memberitahukan kepadamu pada hari ini, bahwa pastilah kamu akan binasa; tidak akan lanjut umurmu di tanah, ke mana engkau pergi, menyeberangi sungai Yordan untuk mendudukinya.
19 Aku memanggil langit dan bumi menjadi saksi terhadap kamu pada hari ini: kepadamu kuperhadapkan kehidupan dan kematian, berkat dan kutuk. Pilihlah kehidupan, supaya engkau hidup, baik engkau maupun keturunanmu, 20 dengan mengasihi TUHAN, Allahmu, mendengarkan suara-Nya dan berpaut pada-Nya, sebab hal itu berarti hidupmu dan lanjut umurmu untuk tinggal di tanah yang dijanjikan TUHAN dengan sumpah kepada nenek moyangmu, yakni kepada Abraham, Ishak dan Yakub, untuk memberikannya kepada mereka.”

Renungan
“Tatkala fajar memperbaharui wajah bumi yang membawa terang dan kehidupan bagi semua ciptaan, kiranya kita bersukacita di hari ini” dibacakan pada Doa Pagi. Setiap hari baru saat kita terjaga, disegarkan dari kepulasan tidur kita memiliki pilihan untuk dibuat. Allah mengundang kita untuk memasuki dunia-Nya, kerajaan-Nya dan memilih kehidupan.

Secara tradisional di masa Pra Paskah kita menghabiskan waktu untuk merenungkan Firman Allah. Sekarang di saat kita merenungkan perikop dalam kitab Ulangan, perkataan Musa tentang tantangan atas ketaatan. “Jika engkau memegang ketetapan-ketetapan itu Tuhan Allahmu akan memberkati engkau.”
Ketetapan yang terutama dan terbesar adalah “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu.”
Taat dan kasih kelihatannya saling bertentangan, Allah memanggil kita untuk taat, tetapi panggilan-Nya yang pertama adalah untuk mengasihi. Inilah hukum yang terutama, untuk mengasihi. Sekali kita mengasihi, ketaatan akan mengikuti tanpa kesukaran. Allah tidak memaksakan kehendak-Nya pada seseorang. Dia mengijinkan kita untuk memutuskan apakah mau mengikut Dia dan memilih hidup di dalam kepenuhannya. Di awal setiap hari dalam setiap situasi baru, kita perlu berhenti, berpikir, berdoa dan sekali lagi memilih mengikuti Sang Pemberi kehidupan, Bapa, Anak dan Roh Kudus.
Berjalan Bersama melalui perjalanan Pra Paskah ini berkali-kali kita akan jatuh cinta dengan Allah sekali dan sekali lagi dan kasih kita kepada sesama akan mekar dan berkembang.

Hari ini ketika engkau bangun di sinar pagi, pilihlah hidup di dalam terang Firman Allah, saling mendorong satu dengan lainnya. Kiranya engkau boleh memberitahukan satu sama lainnya bagaimana engkau telah memilih untuk menghidupi kehidupanmu yang unik dan Indah. Engkau akan menjadi berkat!

Doa
Yesus, tatkala fajar memperbaharui wajah bumi membawa cahaya-Mu, tolonglah kami pada hari ini dengan sungguh-sungguh memilih kehidupan dalam kepenuhan. Di dalam setiap situasi baru yang kami hadapi hari ini, ingatkan kami untuk mengikuti sinar-Mu, Firman-Mu dan hidup-Mu. Amen

Tindakan
Luangkan waktu hari ini merenungkan dan mendoakan bagaimana engkau mau taat pada Firman Allah melalui pengertian yang lebih mendalam akan kasih-Nya yang dalam untuk-mu. Lihatlah bagaimana ketaatan akan mengalir saat engkau mengerti kasih-Nya yang kaya. Ceritakan pada seseorang tentang kasih Allah padanya.

Diterjemahkan dari terbitan: Singapore Bible Society (2020).
Untuk Kalangan Kristen

(Iklan yang ada adalah milik WordPress penyedia sarana gratis WEB ini)

26 Februari – RABU ABU. Melakukan Kewajiban Agamamu

Oleh
Rev Martin Yee
Assistant to Bishop Terry Kee
Lutheran Church in Singapore
Penerjemah: Team WMC

Matius 6:1-6, 16-21

1 “Ingatlah, jangan kamu melakukan kewajiban agamamu di hadapan orang supaya dilihat mereka, karena jika demikian, kamu tidak beroleh upah dari Bapamu yang di sorga.
2 “Jadi apabila engkau memberi sedekah, janganlah engkau mencanangkan hal itu, seperti yang dilakukan orang munafik di rumah-rumah ibadat dan di lorong-lorong, supaya mereka dipuji orang. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya mereka sudah mendapat upahnya.
3 Tetapi jika engkau memberi sedekah, janganlah diketahui tangan kirimu apa yang diperbuat tangan kananmu.
4 Hendaklah sedekahmu itu diberikan dengan tersembunyi, maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu.”
5 “Dan apabila kamu berdoa, janganlah berdoa seperti orang munafik. Mereka suka mengucapkan doanya dengan berdiri dalam rumah-rumah ibadat dan pada tikungan-tikungan jalan raya, supaya mereka dilihat orang. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya mereka sudah mendapat upahnya.
16 “Dan apabila kamu berpuasa, janganlah muram mukamu seperti orang munafik. Mereka mengubah air mukanya, supaya orang melihat bahwa mereka sedang berpuasa. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya mereka sudah mendapat upahnya. 17 Tetapi apabila engkau berpuasa, minyakilah kepalamu dan cucilah mukamu, 18 supaya jangan dilihat oleh orang bahwa engkau sedang berpuasa, melainkan hanya oleh Bapamu yang ada di tempat tersembunyi. Maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu.”
19 “Janganlah kamu mengumpulkan harta di bumi; di bumi ngengat dan karat merusakkannya dan pencuri membongkar serta mencurinya.
20 Tetapi kumpulkanlah bagimu harta di sorga; di sorga ngengat dan karat tidak merusakkannya dan pencuri tidak membongkar serta mencurinya.
21 Karena di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada.

Renungan
Selama Pameran Perangko Singpex 2019, saya mengunjungi gerai filateli di Sabtu akhir pekan dan melihat sebuah perangko bergambar burung yang saya sukai. Tetapi aneh sekali tidak ada seorangpun ada di sana untuk menjualnya pada saya. Melihat lebih dekat lagi, saya melihat ada catatan yang mengatakan bahwa gerai itu ditutup untuk kewajiban beribadah. Saya menghormati keputusan pemilik stan itu yang kurasa mungkin seorang Yahudi. Dia memenuhi kewajiban agamanya meskipun hari itu adalah yang terbaik untuk bisnisnya.

Anehnya, Yesus mengecam orang-orang Yahudi karena ketaatan beragama mereka atau lebih tepatnya ekspresi lahiriah mereka yang menurut mereka menyenangkan Tuhan. Memberi sedekah kepada yang membutuhkan, doa dan puasa adalah hal-hal baik. Tetapi Tuhan lebih tertarik pada hati dan motivasi di balik mereka melakukannya.
Pertama-tama, sebagai orang Kristen kita harus tahu bahwa Allah menerima kita sebagai anak-anak-Nya tanpa satu pembelaan atau daya tawar-menawar, tetapi karena anugerah-Nya dan hanya karena iman. Kita yang sebelumnya adalah pendosa, dan Kristus mati untuk dosa-dosa kita. Kita datang kepada Allah sebagai pengemis yang menyesal meminta pengampunan atas dosa-dosa kita.

Martin Luther mengatakan hal ini dengan begitu indah, “Kiranya Tuhan yang berbelaskasih menyelamatkan saya dari Gereja Kristen yang di dalamnya semua adalah orang kudus! Saya ingin berada dan tetap tinggal di gereja dan kumpulan kecil orang-orang yang lemah, yang lemah dan sakit, yang merasakan dan mengakui betapa buruknya dosa-dosa mereka, yang menghela nafas dan berseru kepada Tuhan tanpa henti untuk penghiburan dan pertolongan, yang percaya pada pengampunan atas dosa.”

Yang kedua, kita perlu perlu memperbaiki prioritas kita. Allah melihat di manakah hati kita sebenarnya. Kita harus terlebih dahulu mencari kerajaan Allah dan kebenaran-Nya. Jika hati kita tidak berada di tempat yang tepat, Tuhan akan menolak apa yang kita lakukan.

Kewajiban keagamaan dan ketaatan bukan menjadi bukan menjadi syarat untuk mencari keselamatan, tetapi merupakan buah dari keselamatan. Roh Kudus melakukan pekerjaan-Nya di dalam dan melalui orang-orang Kristen, menghasilkan buah untuk kemuliaan Allah dan dalam pelayanan kepada sesama kita. Amen.

Doa
Roh Kudus, selidikilah bagian terdalam dalam hati kami agar kami paham apa yang benar-benar kami hargai dan di mana hati kami sebenarnya. Ampuni diriku karena tidak menempatkan Engkau dan kerajaan-Mu sebagai prioritas dan mencari kesenangan sebagai hal yang utama dalam hidupku.

Tindakan
Tuliskan hal-hal dalam hidupmu yang saat ini yang engkau hargai lebih dari Allah dan kerajaan-Nya. Bisa berupa manusia, kebiasaan, hobi, kekayaan atau harta.
Mintalah pada Allah untuk menolongmu melepaskannya satu persatu, terlebih dahulu mencari Kerajaan-Nya dan Kebenaran-Nya.

Diterjemahkan dari terbitan: Singapore Bible Society (2020).
Untuk Kalangan Kristen

(Iklan yang ada adalah milik WordPress penyedia sarana WEB ini)

Pengantar 2020

Oleh Revd Canon Dr Louis Tay, Auxiliary Clergy St Andrew’s Cathedral.

Catatan Pengantar

Melalui disiplin tradisional masa Pra Paskah yakni memberi sedekah, doa dan puasa (Mat 6:1–18), gereja berupaya diperbaharui dalam menyerupai Tuhan dan Juru Selamatnya, Yesus Kristus. Buku kecil ini bertujuan untuk mendorong pembaharuan seperti yang dilakukan oleh para murid Kristus dengan menyediakan serangkaian bacaan dan renungan yang secara khusus difokuskan pada tema-tema Pra Paskah.

Diambil dari Bacaan Lectionary Umum Harian edisi Revisi (Augsburg Fortress, 2005), perikop Alkitab dalam Renungan Harian untuk Pra Paskah 2020 telah dipilih karena hubungan tematik mereka dengan bacaan hari Minggu dari Bacaan Lectionary Umum Harian. Pelajaran Injil hari Minggu dari Lectionary Umum edisi Revisi (RCL) adalah fokus utama yang akan dituju oleh bacaan Pra Paskah kita harian dalam sepekan. Pembaca harus memperhatikan tema utama dan motif yang ditemui dalam bacaan Lectionary Umum edisi Revisi dan Bacaan Harian RCL untuk Pra Paskah:

Hari Minggu Pertama – Aku akan mengingat perjanjian-Ku (Kejadian 9:8–17)
Hari Minggu ke Dua – Mengikut Anak Manusia (Markus 8:31–38)
Hari Minggu ke Tiga – Kami yang dengan keyakinan iman yang teguh dan yang beroleh hidup (Ibrani 10:19–31, 36–39)
Hari Minggu ke Empat – Tetapi Tuhan Allah menolong aku (Yesaya 50:4–11)
Hari Minggu ke Lima – Ia telah belajar menjadi taat dari apa yang telah diderita-Nya (Ibrani 5:5–10)
Minggu Palem – Rajamu datang kepadamu … lemah lembut dan mengendarai seekor keledai (Zakaria 9:9–12)

Mengikuti pola bacaan Bacaan Harian RCL, maka bacaan di buku kecil ini pada hari Kamis, Jumat dan Sabtu dianggap sebagai “Persiapan untuk hari Minggu,” dan bacaan di hari Senin, Selasa, dan Rabu adalah “Refleksi dari hari Minggu.” Kelompok yang terdahulu melihat ke bagian depan, yang kemudian melihat balik ke bagian belakang. (Pengecualian adalah pola bacaan untuk Pekan Suci, yang mana semuanya akan menjadi persiapan untuk Jumat Agung dan Minggu Paskah.) Diharapkan bahwa sistem ini akan memberikan satu kesatuan dan fokus yang memampukan pembaca untuk menghargai bacaan Lectionary di hari Minggu dengan konteks Alkitabiah yang lebih luas.

Tema keseluruhan pada tahun 2020 dari ” Tahun Pemuridan Perorangan ” difokuskan pada Markus 8: 34 (ESV dan NLT) adalah “Serahkanlah! Terimalah! Ikutlah Dia! “, saat kita mendengar panggilan dari Sang Tuan, bukan hanya di masa Pra Paskah tetapi SETIAP HARI – “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya SETIAP HARI dan mengikut Aku”(Lukas 9:23), menantang kita dengan dua cara yang berhubungan dengan perjalanan kita bersama dengan Allah. Pertama, secara pribadi, dalam terang Firman Tuhan dan sarana rahmat-Nya yang lain, dengan rendah hati mempertimbangkan kondisi hubungan kita dengan Tuhan di saat ketika kita menghadapi tantangan dan godaan hidup, renungkan dan bertobatlah di saat kita gagal. Yang kedua, sebagai komunitas Allah yang missional, mendorong dan membangun satu sama lain, bersatu sebagai satu, dalam mengenal Firman Allah (Roma 15: 4), hidup dan berbagi kasih dan pengharapan Kristus (Kolose 1:27) untuk kita dan semua orang di mana saja (Roma. 15:12; Matius 12 : 21; Efesus 4: 4-6).

Beberapa saran untuk saat teduh Anda:

  1. Carilah tempat yang tenang di mana engkau tidak akan diganggu atau terganggu.
  2. Pilihlah waktu tertentu dan awalilah dengan himne pujian atau nyanyian penyembahan singkat untuk mempersiapkan hatimu menerima Firman Allah.
  3. Luangkan waktu anda dalam merenungkan kebenaran yang terkandung dalam perikop nats Alkitab. Saat engkau membaca nats Alkitab setidaknya dua kali, renungkanlah kebenaran yang mengubah hidup yang terkandung dalam Firman Allah.
  4. Buatlah komitmen yang tulus dengan Tuhan (engkau mungkin ingin merubah pernyataan komitmen yang disarankan, atau bahkan membuat komitmen dirimu sendiri), dan ambillah waktu untuk berdoa.
  5. Jika engkau sangat tersentuh oleh aspek bacaan di hari itu, cobalah untuk membagikan perolehan / wawasan anda dengan setidaknya orang lain.
  6. Tulislah jurnal rohani yang mencatat apa yang engkau peroleh.
  7. Selagi engkau mengawali dengan seri pelajaran “Persiapan”, pertimbangkan untuk membaca pelajaran hari Minggu sehingga engkau memperoleh “gambaran besarnya”.
  8. Pertimbangkan untuk meninjau pelajaran Minggu saat Anda memulai seri “Refleksi” dengan kelompok kecil Anda di gereja dan tempat kerja anda.

Kiranya engkau semakin dekat dengan Tuhan Yesus, melalui Roh Kudus dan Firman-Nya, dipenuhi dengan kesabaran Bapa (2 Petrus 3:9b) dan kiranya engkau diyakinkan oleh janji-Nya (Filipi 2:10-11). Ditantang oleh kesetiaan-Nya yang tak berkesudahan, menjadi murid yang setia dan berbuah dan mengutus komunitas di mana Kristus dapat melihat ”Sesudah kesusahan jiwanya ia akan melihat terang dan menjadi puas” (Yesaya 53:11; Matius 24:14).

Diterjemahkan dari terbitan: Singapore Bible Society (2020).
Untuk Kalangan Kristen

Kata Pengantar 2020

Oleh Rev Ezekiel Tan. General Secretary
The Bible Society of Singapore.

Daily Devotions for Lent 2020: ‘Give Up, Take Up, Follow Him!’

24 Lalu Yesus berkata kepada murid-murid-Nya: “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku. 25 Karena barangsiapa mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya. 26 Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia tetapi kehilangan nyawanya? Dan apakah yang dapat diberikannya sebagai ganti nyawanya?”- Matius 16: 24–26

Pra Paskah adalah periode refleksi 40 hari yang mengacu pada kematian, penguburan dan kebangkitan Tuhan Juruselamat kita Yesus Kristus. Selagi kita mempersiapkan diri kita untuk Jumat Agung dan hari Minggu Paskah dengan membaca dan merenungkan Firman Tuhan – kita memeriksa kehidupan kita, berduka atas dosa-dosa kita dan memperbaharui diri kita dengan keyakinan akan kemenangan atas kegelapan yang dibeli dengan darah-Nya.

Sejak Dewan Nasional Gereja-gereja Singapura didirikan pada tahun 2006, The Bible Society of Singapore telah ditugaskan untuk membuat koleksi bacaan dan refleksi tahunan untuk Masa Pra Paskah ini. Tahun ini menandai edisi ke 15 dari renungan Pra Paskah kita. Selama bertahun-tahun, kami telah berupaya menjadikan renungan ini tersedia dan lebih mudah diakses oleh komunitas-komunitas dari semua kalangan Gereja lokal. Tahun lalu, kami memproduksi dan mendistribusikan sekitar 18,500 salinan renungan, yang termasuk salinan cetak besar untuk orang tua, dalam bahasa Inggris dan Cina. Kami juga terus menyediakan edisi online dalam empat bahasa — Inggris, Cina, Bahasa Indonesia, dan Tamil — dan memproduksi rekaman audio materi berbahasa Hokkien. Kami berterima kasih atas kesempatan untuk terus menerus dapat memberkati dan membangun Tubuh Kristus melalui upaya ini, dan atas kontribusi dari banyak mitra kami yang telah mendukung bersama dengan kami dalam melakukan hal ini.

Dengan tema tahun ini “Serahkanlah, Terimalah, Ikutlah Dia!”. Dunia yang kita tempati ini sangat menghargai individualitas dan kebebasan untuk mengejar keinginan hati. Mengingat hal ini, panggilan orang Kristen untuk menyangkal diri, memikul Salib, dan menjalani kehidupan yang sepenuhnya bagi Kristus mungkin tampak aneh bagi banyak orang. Namun, keyakinan bahwa fondasi dari semua pengharapan dan sukacita kita ada di dalam Kristus yang telah disalibkan dan dibangkitkan, adalah pusat dari Injil. Hanya melalui Dia bahwa ada pengharapan di masa yang akan datang, dan rekonsiliasi sepenuhnya dengan Bapa kita. Tidak ada satupun kehidupan yang lebih baik daripada yang hidup untuk Dia, dan tidak ada hadiah yang lebih besar dibandingkan karya keselamatan dari Firman yang menjelma, Yesus Kristus. Karena kebebasan kita telah dibeli dengan harga, dan dibeli supaya kita yang hidup “tidak lagi hidup untuk dirinya sendiri, tetapi untuk Dia, yang telah mati dan dibangkitkan untuk mereka.” (2 Korintus 5:15).

Selagi kita menjalani masa Pra Paskah ini, marilah kita mengarahkan pandangan kita kepada Salib dan pekerjaan yang telah diselesaikan Yesus untuk keselamatan kita. Saya berdoa kiranya menyenangkan hati Tuhan dengan menggunakan renungan ini untuk mentransformasikan lebih jauh lagi kehidupan kita – sehingga kita boleh mengikuti Dia dan memimpin dunia yang berada dalam kebutaan untuk menemukan kehidupan melalui Kristus.

Rev Ezekiel Tan
General Secretary
The Bible Society of Singapore

Pra-Paskah 2020

Menyambut Paskah 2020

Oleh Bishop Terry Kee.
President of the National Council of Churches of Singapore.
Lent 2020 Devotional.

Pra Paskah adalah masa 40 hari sebelum Minggu Paskah— mengambil contoh 40 hari masa Yesus di padang gurun, di mana Ia berpuasa dan mengatasi setiap pencobaan. Secara tradisional, di masa Pra Paskah, orang-orang percaya berdoa, berpuasa dan memberi sedekah dalam menyambut Pekan Suci. Melalui refleksi yang penuh doa, sifat dosa kita diungkapkan kepada kita, yang dengan pedih memunculkan kebutuhan mendesak kita akan seorang Juruselamat.

Tahun 2020 menandai 15 tahun terbitnya Renungan Pra Paskah oleh Lembaga The Bible Society of Singapore, ditugaskan oleh Dewan Nasional Gereja Singapura. Renungan ini adalah kompilasi refleksi dari berbagai pemimpin Kristen dari berbagai denominasi dan gereja; sebuah refleksi tentang bagaimana masa Pra Paskah menyatukan komunitas orang percaya untuk mengklaim dengan penuh keyakinan apa yang telah dicapai oleh Yesus Kristus di kayu Salib bagi kita.

Tema untuk renungan tahun ini, Serahkanlah, Terimalah, Ikutlah Dia! memanggil kita untuk refleksi dan bertobat. Hal itu mengingatkan kita bahwa panggilan Yesus untuk mengikut Dia membutuhkan kita untuk melepaskan keinginan daging kita dan memikul salib kita untuk berjalan bersama-Nya.

Selagi kita bersama-sama melalui perjalanan masa Pra Paskah, marilah kita berharap pada harga yang mahal yang telah Yesus bayar untuk kita dan kemenangan final yang tidak dapat dibatalkan melalui darah-Nya. Ketika periode empat puluh hari berakhir dengan sukacita merayakan kemuliaan kemenangan Kristus atas kematian dengan Kebangkitan, kita memperoleh kekuatan dengan mengetahui bahwa kita dipanggil kepada kemuliaan yang kekal dalam Kristus — yang akan menyempurnakan, meneguhkan, menguatkan, dan mengokohkan kita di masa yang akan datang (1 Petrus 5:10).

Kiranya kita berdoa, bahwa renungan ini akan menerangi mata hati kita untuk sepenuhnya memahami implikasi dari kematian Kristus di atas kayu Salib bagi keselamatan kita. Semoga ini menolong untuk membawa transformasi yang mendalam dan kekal dalam kehidupan kita selagi kita berserah, menerima, dan mengikut Dia!

Bishop Terry Kee
Bishop, Lutheran Church in Singapore
President, of the National Council of Churches of Singapore