Oleh
Rev Malcolm T H Tan O.S.L
Pastor-in-Charge Covenant Community Methodist Church
Chaplain-in-Charge Methodist Girl’s School
Penerjemah: Team WMC
Yesaya 55:6-11
6 Carilah TUHAN selama Ia berkenan ditemui; berserulah kepada-Nya selama Ia dekat!
7 Baiklah orang fasik meninggalkan jalannya, dan orang jahat meninggalkan rancangannya; baiklah ia kembali kepada TUHAN, maka Dia akan mengasihaninya, dan kepada Allah kita, sebab Ia memberi pengampunan dengan limpahnya.
8 Sebab rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalan-Ku, demikianlah firman TUHAN. 9 Seperti tingginya langit dari bumi, demikianlah tingginya jalan-Ku dari jalanmu dan rancangan-Ku dari rancanganmu.
10 Sebab seperti hujan dan salju turun dari langit dan tidak kembali ke situ, melainkan mengairi bumi, membuatnya subur dan menumbuhkan tumbuh-tumbuhan, memberikan benih kepada penabur dan roti kepada orang yang mau makan, 11 demikianlah firman-Ku yang keluar dari mulut-Ku: ia tidak akan kembali kepada-Ku dengan sia-sia, tetapi ia akan melaksanakan apa yang Kukehendaki, dan akan berhasil dalam apa yang Kusuruhkan kepadanya.
Renungan
Nabi Yesaya telah mengumumkan, bahwa adalah mungkin untuk mencari Allah dan menemukan Allah. Berlawanan dengan apa yang dikatakan oleh beberapa orang: “Bahwa tidak ada Allah, dan Allah tidak dapat ditemukan!” Sebaliknya, Allah adalah jauh karena kita mencari Dia pada saat kita tidak lagi dapat melakukannya. Menurut Yesaya, terdapat suatu kesempatan waktu untuk mencari Allah. Waktu ketika kita dapat sungguh-sungguh mencari-Nya, memanggil-Nya dan tetap menemukan bahwa Ia dekat dengan kita. Waktu ketika kita dapat tetap mengalami Allah di dalam jiwa kita. Ada yang dikatakan sebagai kesempatan yang terlewatkan di dalam hidup. Seringkali, kesempatan-kesempatan dapat datang dan membuka pintu-pintu bagi kita di dalam kehidupan kita sehari-hari. Karenanya, kesempatan itu sekarang untuk mencari Allah janganlah disia-siakan dan dilewatkan. Jika tidak, kita mungkin akan hidup di dalam penyesalan di masa depan.
Mencari dan menemukan Allah dapat menjadi sulit! Terdapat ekspektasi: “Biarlah yang berdosa meninggalkan jalannya”, tetapi terdapat harga yang mahal yang harus kita bayar. Seringkali, melepaskan kebiasaan-kebiasaan moral kita yang berbahaya dapat menjadi terlalu sulit untuk kita lakukan. Kita lebih baik menyimpan “kejahatan” daripada meninggalkan mereka demi mencari Allah. Tetapi mana di antara ke dua pilihan yang sesungguhnya pantas untuk dicari dan disimpan? Allah atau gaya hidup kita yang secara moral berbahaya? Jawaban kita di sini akan menunjukkan kondisi spiritual kita.
Nabi Yesaya melanjutkan. Ia menekankan adanya jurang yang besar antara Allah yang Kudus dan kita, makhluk yang tidak sempurna, yang secara terus menerus mempraktekkan pikiran-pikiran yang tidak suci dan tindakan-tindakan yang jahat. Terlebih lagi, juga terdapat jurang yang nyata antara Allah yang Mutlak Tidak Terbatas dan kita, makhluk hidup yang terbatas. Sebagaimana dikatakan oleh seorang teolog Karl Barth: “Biarlah Allah menjadi Allah dan biarlah manusia menjadi manusia!” Nabi Yesaya juga menekankan jurang antara Pikiran Allah dan pikiran manusia. Kita, dengan pikiran kita yang lemah tidak akan mengerti secara penuh Pikiran Allah. Namun, kita seringkali memberanikan diri “menghakimi” Allah dan mencoba menunjukkan betapa Allah “tidak adil!” Oleh karena itu, kebutuhan besar kita akan penyingkapan wahyu Allah melalui Firman-Nya. Adalah Firman Allah yang tertulis yang mengklarifikasikan Pikiran Allah kepada kita. Firman Allah penuh kuasa. Ia efisien dan dapat mencapai tujuan-tujuan Allah. Oleh sebab itu, untuk bertobat kembali kepada Allah berarti adalah berputar kembali kepada Allah dan Firman-Nya, di dalam kerendahan hati dan kemampuan untuk diajar.
Juga terdapat alasan yang lebih positif untuk kembali kepada Allah dan mencari-Nya: “Allah kita akan memberi pengampunan.” Satu alasan yang baik untuk mencari Allah adalah kepastian janji dari pengampunan Allah, penuh dan gratis. Betapa indah bagi kita untuk mengenal Allah dan mengalami Allah, sebagai Allah yang mengampuni dengan murah hati. Tentu saja, kita kembali kepada Allah karena kita tidak ingin kehilangan kesempatan kita untuk mencarinya, karena semakin banyak kita mengatakan “Tidak” kepada Allah, hati kita akan menjadi semakin keras, dan kita tidak merasakan keyakinan dari Roh Kudus yang seperti sebelumnya. Kita kembali kepada Allah, oleh karena anugerah, sehingga kita telah menentukan untuk meninggalkan dosa, lebih memilih Allah daripada kejahatan. Kita mencari Allah karena kita telah memiliki kepastian dari pengampunan besar-Nya yang penuh kasih. Tentu, kita sebaiknya “kembali kepada Allah” sekarang. Jalan-jalan Allah adalah lebih baik daripada jalan-jalan kita.
Doa
Ya Allah, bantulah aku mencari-Mu secara cepat dan segera. Bantulah aku untuk tidak menunda di dalam mencari-Mu karena hal-hal lain yang lebih kecil yang menggangu aku sekarang. Bantulah aku berlari kepada Yesus dengan cepat sebelum dosa mengeraskan hatiku dan Engkau menjadi sulit untuk ditemukan. Jagalah hatiku selalu lembut di hadapan-Mu, oh Allah Penyelamatku. Di dalam Nama Kristus, aku dengan rendah hati memohon.
Tindakan
Mempraktikkan disiplin-disiplin spiritual, khususnya doa dan pembacaan Kitab Suci di hadapan Allah. Ingat mencari Allah dan Firman-Nya akan membantu kita untuk menyelesaikan rencana-rencana-Nya.
Mempraktikkan hati yang mencari dan bertobat secara reguler; ‘biarlah orang fasik meninggalkan jalan-jalannya’ bukan merupakan janji yang hanya satu kali saja kepada Allah. Kita perlu melakukan ini, sesering kita mengijinkan diri kita menjadi praktisi kebiasaan-kebiasaan yang tidak kudus.
Selalu merendahkan diri kita di hadapan Allah. Ingatlah bahwa jalan-jalan Allah selalu lebih tinggi daripada kita.
Diterjemahkan dari terbitan: Singapore Bible Society (2020).
Untuk Kalangan Kristen
(Iklan yang ada adalah milik WordPress penyedia sarana gratis WEB ini)