Tag Archives: Anak-anak Allah

02 Maret – SENIN MINGGU PERTAMA PRA-PASKAH. Menjadi Anak-anak Allah di dalam Kristus

Oleh
Rev Dr Maggie Low
Minister, Presbyterian Church in Singapore
Faculty, Trinity Theological College
Penerjemah: Team WMC

Galatia 3:23-4:7

3:23 Sebelum iman itu datang kita berada di bawah pengawalan hukum Taurat, dan dikurung sampai iman itu telah dinyatakan. 24 Jadi hukum Taurat adalah penuntun bagi kita sampai Kristus datang, supaya kita dibenarkan karena iman. 25 Sekarang iman itu telah datang, karena itu kita tidak berada lagi di bawah pengawasan penuntun. 26 Sebab kamu semua adalah anak-anak Allah karena iman di dalam Yesus Kristus. 27 Karena kamu semua, yang dibaptis dalam Kristus, telah mengenakan Kristus. 28 Dalam hal ini tidak ada orang Yahudi atau orang Yunani, tidak ada hamba atau orang merdeka, tidak ada laki-laki atau perempuan, karena kamu semua adalah satu di dalam Kristus Yesus. 29 Dan jikalau kamu adalah milik Kristus, maka kamu juga adalah keturunan Abraham dan berhak menerima janji Allah.
4:1 Yang dimaksud ialah: selama seorang ahli waris belum akil balig, sedikitpun ia tidak berbeda dengan seorang hamba, sungguhpun ia adalah tuan dari segala sesuatu; 2 tetapi ia berada di bawah perwalian dan pengawasan sampai pada saat yang telah ditentukan oleh bapanya. 3 Demikian pula kita: selama kita belum akil balig, kita takluk juga kepada roh-roh dunia. 4 Tetapi setelah genap waktunya, maka Allah mengutus Anak-Nya, yang lahir dari seorang perempuan dan takluk kepada hukum Taurat. 5 Ia diutus untuk menebus mereka, yang takluk kepada hukum Taurat, supaya kita diterima menjadi anak. 6 Dan karena kamu adalah anak, maka Allah telah menyuruh Roh Anak-Nya ke dalam hati kita, yang berseru: “ya Abba, ya Bapa !” 7 Jadi kamu bukan lagi hamba, melainkan anak; jikalau kamu anak, maka kamu juga adalah ahli-ahli waris, oleh Allah.

Renungan
Prinsip-prinsip dasar dari dunia di dalam Galatia 4:2 adalah kepercayaan manusia yang jatuh dalam dosa tentang sebuah masyarakat. Bagi orang-orang di Galatia, diasumsikan bahwa orang-orang Yahudi lebih baik dari para orang-orang non-Yahudi, bahwa orang-orang bebas lebih baik dari pada para budak, bahwa pria lebih baik daripada wanita. Hari ini, prinsip-prinsip ini seperti rasisme, elitisme dan seksisme, masih mencekik masyarakat kita.

Di dalam konteks lokal kita, kita mengukur orang lain dan diri kita sendiri dengan penilaian dari sekolah kita, IPK kita, gelar-gelar, pencapaian-pencapaian kita (atau pencapaian-pencapaian anak-anak kita), pekerjaan-pekerjaan kita, mobil, kode pos. Jika kita berhasil, kita menggelembung dengan kesombongan, dan jika tidak, kita menjadi depresi. Sementara itu, kita dengan stres berjuang untuk bertahan hidup.

Kabar baiknya adalah bahwa Kristus telah memerdekakan kita dengan membuat kita menjadi anak-anak Allah – bukan hanya sebagai sebuah prinsip mental di dalam kepala-kepala kita, tetapi sebagai sebuah pengalaman pribadi di dalam hati kita, sehingga kita bisa berteriak, “Abba! Bapa!” Ini adalah bagaimana Yesus memanggil Bapa di dalam bahasa Aramaik, sebuah bahasa yang tidak lazim bagi orang-orang non-Yahudi di Galatia yang berbicara bahasa Yunani, tetapi yang memungkinkan kita untuk membagikan keintiman yang sama seperti yang dimiliki Yesus dengan sang Bapa.
Seorang wanita muda pernah diberitahu oleh ayahnya bahwa ia tidak pintar, hanya bekerja keras. Hal tersebut mendorongnya untuk belajar lebih keras untuk membuktikan bahwa ayahnya salah. Ketika dia mendapatkan gelar dan mulai mengajar, ayahnya mengulang berkata kepadanya, “Engkau tidak pintar; hanya bekerja keras.” Mungkin ayahnya yang biasanya baik itu berusaha untuk mengatur daya dorong dari putrinya. Tetapi kata-kata itu menghancurkan semangatnya dan membuatnya merasa dia tidak akan pernah menjadi cukup baik. Suatu hari dalam sebuah proses penyembuhan, dia dengan penuh rasa sakit bertanya kepada Allah mengapa ia tidak pintar tetapi hanya bekerja keras. Kemudian ia mendengar Yesus berkata kepadanya di dalam hati: “Aku tidak perlu engkau untuk menjadi pintar atau bekerja keras.” Segera, penjara gelap dari prinsip-prinsip dasar duniawi runtuh dan jatuh. Ia telah melangkah keluar sebagai seorang anak dan ahli waris dari Allah hari itu.

Ayah-ayah duniawi kita mungkin mengasihi kita, tetapi secara tidak sempurna. Ketahuilah bahwa Kristus telah membuatmu menjadi seorang anak Allah supaya engkau dapat hidup merdeka dari semua kritik-kritik duniawi.

Doa
Abba, Bapa, terima kasih bahwa Kristus telah memerdekakan kami dari perbudakan dosa dan penghakiman-penghakiman dunia. Terima kasih karena engkau telah mengadopsi aku menjadi anak-Mu dan ahli waris-Mu. Terima kasih aku tidak perlu menjadi cukup baik di mata dunia, karena aku cukup baik sebagai anak-Mu. Bantulah aku hidup merdeka dan hidup bagi-Mu, sebagaimana aku memiliki karunia-karunia dan kemampuan-kemampuan yang Engkau telah anugerahkan kepadaku.

Tindakan
Bertobat bila engkau telah menghakimi atau bertindak kepada yang lain dengan ekspektasi duniawi.
Ampuni dan berdoalah bagi mereka yang telah menghakimimu bahwa Allah juga akan memerdekakan mereka.

Diterjemahkan dari terbitan: Singapore Bible Society (2020).
Untuk Kalangan Kristen

(Iklan yang ada adalah milik WordPress penyedia sarana gratis WEB ini)

Efesus 1:3-14

「Perbuatan Allah」

Ditulis oleh 梁家麟 (Liáng Jiā Lín) Alliance Bible Seminary H.K.

(Ef. 1:3-14 [ITB])
3 Terpujilah Allah dan Bapa Tuhan kita Yesus Kristus yang dalam Kristus telah mengaruniakan kepada kita segala berkat rohani di dalam sorga.
4 Sebab di dalam Dia Allah telah memilih kita sebelum dunia dijadikan, supaya kita kudus dan tak bercacat di hadapan-Nya. 5 Dalam kasih Ia telah menentukan kita dari semula oleh Yesus Kristus untuk menjadi anak-anak-Nya, sesuai dengan kerelaan kehendak-Nya, 6 supaya terpujilah kasih karunia-Nya yang mulia, yang dikaruniakan-Nya kepada kita di dalam Dia, yang dikasihi-Nya. 7 Sebab di dalam Dia dan oleh darah-Nya kita beroleh penebusan, yaitu pengampunan dosa, menurut kekayaan kasih karunia-Nya, 8 yang dilimpahkan-Nya kepada kita dalam segala hikmat dan pengertian.
9 Sebab Ia telah menyatakan rahasia kehendak-Nya kepada kita, sesuai dengan rencana kerelaan-Nya, yaitu rencana kerelaan yang dari semula telah ditetapkan-Nya di dalam Kristus 10 sebagai persiapan kegenapan waktu untuk mempersatukan di dalam Kristus sebagai Kepala segala sesuatu, baik yang di sorga maupun yang di bumi.
11 Aku katakan di dalam Kristus, karena di dalam Dialah kami mendapat bagian yang dijanjikan kami yang dari semula ditentukan untuk menerima bagian itu sesuai dengan maksud Allah, yang di dalam segala sesuatu bekerja menurut keputusan kehendak-Nya 12 supaya kami, yang sebelumnya telah menaruh harapan pada Kristus, boleh menjadi puji-pujian bagi kemuliaan-Nya.
13 Di dalam Dia kamu juga karena kamu telah mendengar firman kebenaran, yaitu Injil keselamatanmu di dalam Dia kamu juga, ketika kamu percaya, dimeteraikan dengan Roh Kudus, yang dijanjikan-Nya itu. 14 Dan Roh Kudus itu adalah jaminan bagian kita sampai kita memperoleh seluruhnya, yaitu penebusan yang menjadikan kita milik Allah, untuk memuji kemuliaan-Nya.

Paulus sebelum memberikan pelajaran kepada saudara dan saudari, pertama-tama ia mewakili saudara dan saudari menaikkan pujian kepada Tuhan, memuji perbuatan Tuhan yang ajaib di atas diri mereka. Benar adanya, semuanya dimulai dari tindakan Allah, dan iman Kristen tidak dimulai dengan mengatakan apa yang akan kita lakukan untuk Tuhan, dengan melakukan untuk mendapatkan kelayakan di hadapan Tuhan, tetapi dengan menegaskan apa yang sudah dilakukan Tuhan bagi kita. Kita terlebih dahulu harus mengenal tindakan Tuhan, terutama apa yang Dia genapkan dalam diri kita. Saudara dan saudari, kita semua merupakan tindakan Tuhan, yang digenapkan di dalam Kristus. Hanya ketika diri kita merupakan tindakan Tuhan, kita dapat berbicara tentang melakukan apa untuk Dia.

Tindakan Tuhan di dalam diri kita, tentu saja merupakan kasih karunia-Nya. Alkitab mengatakan bahwa Tuhan telah menganugerahkan kepada kita 「segala berkat rohani」 (Ef. 1:3), dan dalam terjemahan CUVT mandarin frasa 「berbagai berkat rohani」 harus diterjemahkan sebagai 「segala berkat rohani」(seperti dalam ITB). Paulus tidak sedang menghitung berkat-berkat yang Tuhan telah anugerahkan kepada kita: memiliki orang tua yang baik, keluarga bahagia, tubuh yang sehat, tentu saja semua itu penting, tapi Paulus menekankan 「segala」, yakni segala hal, semua pengaturan, termasuk apa yang kita tidak sukai yang kita pikir adalah kutukan, yang bukan bagian dari kasih karunia. Seumur hidup kita semua adalah kasih karunia, bukan hanya sebagian saja merupakan kasih karunia, tetapi semuanya adalah kasih karunia. Ef. 1:3-14 membicarakan apa yang Allah (Roh Kudus) telah genapkan atau yang akan genapkan di tengah-tengah orang-orang percaya, mulai dari penciptaan dunia sampai akhir dunia.

Berkat dan kasih karunia yang bagaimana? Yang pertama adalah pemilihan. Ef. 1:4 memberitahu kita bahwa Tuhan telah 「memilih kita di dalam Kristus」 sebelum dunia diciptakan. Kita dipilih oleh Allah. Pemilihan ini adalah sebelum kita diciptakan, hubungan Tuhan dengan kami jauh sebelum kita mengenal Dia, jauh sebelum kita mengenal diri kita sebelumnya, jauh sebelum diri kita ada.

Yang kedua adalah pengudusan. Tuhan tidak hanya memilih kita, tetapi juga menjadikan kita kudus: 「supaya kita kudus dan tak bercacat di hadapan-Nya.」 Untuk menjadi suci kudus adalah konsekuensi dari kita diberkati, adalah hasil dari apa yang Allah telah perbuat atas diri kita, bukan dicapai dari usaha kita sendiri. Paulus tidak mengatakan bahwa kita mengandalkan bersandar pada perilaku moral untuk mencapai kekudusan, mencapai kekudusan adalah oleh karena kasih karunia yang Allah genapkan atas diri kita, bahwa Ia telah mengadakan relasi yang intim dengan kita, dan Dia telah berbagi kekudusan dan kesempurnaan diri-Nya kepada kita.

Alkitab menyebutkan pengudusan, terutama merujuk kepada pengudusan pasif, bukan pengudusan aktif; Ini adalah pembentukan hubungan, bukan tentang kesempurnaan tindakan moral. Kekudusan adalah sifat yang hanya dimiliki Allah, Dia adalah Sang Mahakudus Israel (The Holy), hanya dengan terhubung kepada Dia saja, barulah dapat berbagi kekudusan-Nya (kita tidak bisa memiliki kekudusan jika terlepas dari Tuhan kita). Dapat diumpamakan hubungan antara magnet dan besi sebagai metafora, besi sendiri tidak memiliki daya magnet, hanya ketika besi dan magnet terhubung barulah besi bisa berbagi daya tarik magnet, tetapi jika besi memiliki daya magnet, daya magnet ini bukan miliknya, begitu besi terpisah dari magnet, maka daya magnet segera hilang pada waktu itu juga. Demikian pula, ketika kita terhubung dengan Tuhan, kita berbagi kesucian Allah, tetapi itu bukan milik kita, dan jika kita terpisah dari Allah maka tidak ada lagi kesucian kekudusan. Yesus berkata, 「Akulah pokok anggur, engkau adalah cabang dan engkau tidak bisa melakukan apapun tanpa aku.」 Jika kita terlepas dari Kristus, kita tidak lagi suci kudus.

Ini menyebutkan bahwa Allah menjadikan kita suci, menekankan bahwa Allah telah memisahkan kita. 「Dipisahkan untuk menjadi kudus」 yakni ada pemisahan barulah dapat menjadi kudus. Kita adalah kumpulan yang unik, saat dilahirkan ibu sudah menjadi unik, Allah sudah memisahkan kita untuk menjadi kudus, kita berbeda dari orang lain.

Berkat rohani ketiga adalah membawa hak bagian menjadi anak-anak-Nya. Dari pemilihan sampai dipisahkan untuk dikuduskan, kita diterima sebagai anak Allah. Paulus menekankan bahwa kita adalah anak-anak Allah melalui Yesus Kristus. Dengan kata lain, kita tidak karena diciptakan sehingga menjadi anak-anak Allah, tetapi karena penebusan keselamatan Kristus maka kita diterima sebagai anak-anak Allah. Iman Kristen tidak menyatakan bahwa semua manusia adalah anak-anak Allah. Menjadi anak-anak Allah bukan karena diciptakan, tetapi karena penebusan.

Berkat keempat adalah keselamatan Yesus Kristus. 「Sebab di dalam Dia dan oleh darah-Nya kita beroleh penebusan, yaitu pengampunan dosa, menurut kekayaan kasih karunia-Nya, yang dilimpahkan-Nya kepada kita dalam segala hikmat dan pengertian.」 (Ef. 1:7-8) Ini adalah Injil, dan kita akan menguraikannya lebih terperinci di pasal 2.

Renungkan:

1. Cobalah menunjukkan empat tindakan Allah yang Ia genapkan dalam perjalanan iman Anda pribadi?

2. Bagaimana pendapat dan pengalaman Anda tentang orang-orang Kristen dikuduskan karena persatuan dengan Kristus, Kristus telah meminta kita untuk terhubung erat dengan Dia?


Daftar renungan pemahama  (silahkan klik untuk membuka)

Daftar renungan pemahaman (silahkan klik untuk membuka)


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Surat Efesus ditulis oleh 梁家麟 (Liáng Jiā Lín) yang dipublikasi pada bulan Agustus 2018, merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Untuk Kalangan Sendiri.

1 Yoh. 3:19-24

「Bukti Anugerah Keselamatan」

Apakah tanda-tanda dalam hati orang yang beroleh hidup di dalam Allah? Atau juga tanda-tanda kita adalah milik Allah?

Renungan ini merupakan terjemahan versi bahasa Mandarin 「爾道自建  Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Surat 1 Yohanes ditulis oleh 郭奕宏 (Guō Yì Hóng) yang dipublikasi pada bulan Oktober 2017 merupakan hak cipta (copyrightAlliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).

(1 Yoh. 3:19-24 [ITB])
19Demikianlah kita ketahui, bahwa kita berasal dari kebenaran. Demikian pula kita boleh menenangkan hati kita di hadapan Allah, 20sebab jika kita dituduh olehnya, Allah adalah lebih besar dari pada hati kita serta mengetahui segala sesuatu.
21Saudara-saudaraku yang kekasih, jikalau hati kita tidak menuduh kita, maka kita mempunyai keberanian percaya untuk mendekati Allah, 22dan apa saja yang kita minta, kita memperolehnya dari pada-Nya, karena kita menuruti segala perintah-Nya dan berbuat apa yang berkenan kepada-Nya.
23Dan inilah perintah-Nya itu: supaya kita percaya akan nama Yesus Kristus, Anak-Nya, dan supaya kita saling mengasihi sesuai dengan perintah yang diberikan Kristus kepada kita.
24Barangsiapa menuruti segala perintah-Nya, ia diam di dalam Allah dan Allah di dalam dia. Dan demikianlah kita ketahui, bahwa Allah ada di dalam kita, yaitu Roh yang telah Ia karuniakan kepada kita.

Yohanes di sini menggunakan dua macam suasana keadaan dalam hati untuk menunjukkan perbedaan kehidupan orang percaya. Orang yang mendapatkan ketenangan dalam hati adalah orang yang termasuk dalam milik kebenaran, sebaliknya hati yang seperti Kain membenci saudara adalah orang yang 「termasuk (milik) si jahat」 (1 Yoh. 3:12). Perikop ini dimulai dengan 「demikianlah」, yakni menyatakan tingkah laku yang disebutkan dalam teks sebelumnya 1 Yoh. 3:18 — orang yang saling mengasihi 「dengan perbuatan dan dalam kebenaran」 adalah orang yang termasuk dalam milik kebenaran. Sebenarnya orang yang termasuk dalam milik kebenaran, bukan hanya di otak kepala saja mengenal Firman Allah, di dalam kehendak dan hati percaya dan menerima, yang lebih penting adalah dalam kehidupan dengan tindakan dan dengan tulus (dalam kebenaran) mengasihi saudara dan saudari.

Tidak sedikit orang sering menggantungkan perkataan 「bertindak berdasarkan hati nurani」 di tepi mulut, menggunakan diri sendiri sebagai standard tolak ukur benar salahnya segala perbuatan. Yohanes mengingatkan bahwa Allah kita lebih besar dari hati kita, di hadapan-Nya tidak ada yang mampu disembunyikan, Dia lah standard tolak ukur segala benar atau salah. Maka semua orang yang melaksanakan perintah Allah (karena Dia lah tolak ukur benar dan salah), yakni orang yang percaya nama Yesus Kristus, semuanya adalah anak-anak Allah, tinggal di dalam Allah. Allah juga melalui Roh Kudus tinggal di dalam kita, Roh Kudus ini tidak hanya membuktikan kita adalah milik Allah, juga akan bekerja mempimpin, menghibur dan menegur kita atas perbuatan di dalam kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu, jika kita tidak sedang ditegur Roh Kudus yang tinggal di dalam hati kita, kita boleh tenang hati, dan juga dapat beroleh keberanian tanpa ketakutan di hadapan Allah (1 Yoh. 3:19).

Yohanes pernah menggunakan kata 「beroleh keberanian」 yang sama, mengingatkan orang percaya jika tinggal di dalam Yesus Kristus, apabila Ia menyatakan diri-Nya, kita 「beroleh keberanian」 tidak usah malu menyambut Dia pada hari kedatangan-Nya (1 Yoh. 2:28). Sebenarnya beroleh keberanian tidak hanya terjadi di hari kedatangan Tuhan Yesus yang kedua kali, hari ini orang percaya jika hidup di dalam Tuhan, mematuhi perintah-Nya, melaksanakan apa yang berkenan kepada Dia, dan bertindak dalam ketaatan kepada Roh Kudus, maka sama-sama akan dapat mengalami apa yang disebut sebagai kehidupan yang beroleh keberanian tanpa ketakutan.

Yohanes terlebih lagi menekankan bahwa relasi yang demikian intim dengan Allah, mematuhi perintah-Nya, dan melaksanakan apa yang berkenan kepada Dia, dapat membuat kita mendapatkan segala apa yang kita mohon kepada Dia, ia menekankan bahwa perintah ini adalah percaya kepada Yesus Kristus dan melaksanakan saling mengasihi saudara dan saudari. Ini tepat seperti apa yang Yesus ajarkan: saat kita sedang di depan mezbah mempersembahkan persembahan, yakni menunjuk saat datang mendekati Allah, jika teringat ada saudara yang membenci kita, seharusnya terlebih dahulu tinggalkanlah persembahan, pergilah berdamai dengan saudaramu, lalu kembali untuk mempersembahkan persembahan (Mat. 5:23-24). Ini adalah menghendaki kita membawa hati yang yang beroleh keberanian tanpa ketakutan datang mendekati Allah. Terutama yang perlu diperhatikan adalah, Yesus berkata saudara kita membenci kita, yakni tidak hanya hendak menindak-lanjuti kebencian hati kita terhadap orang lain, tetapi juga orang lain yang membenci karena kita, anak-anak Allah juga hendaknya menindak-lanjuti, mengampuni orang lain. Tepat seperti Yesus berinisiatif datang mencari kita, menjadi pengantara demi kita yang terpisah dari Allah akibat dosa dan kelemahan kita.

Yohanes di dalam surat berulang kali mengkaitkan secara langsung 「doa yang dikabulkan」 dan 「menurut kehendak-Nya」 (1 Yoh. 5:14). Di sini menggunakan kata 「menurut kehendak-Nya」 terlebih hendak mendefiniskan apakah makna 「berdoa 」. Berdoa pada dasarnya adalah mencari kehendak-Nya, mengenal kehendak-Nya, orang percaya tidak sepatutnya menjadikan kehendak diri pribadi dan keinginan sebagai pusat atau titik berat doa. (Karena pusat hidup orang hidup di dalam Allah adalah Allah sendiri,bukan lagi diri sendiri.)

Renungkan: Paulus pernah mengajarkan: 「Roh itu bersaksi bersama-sama dengan roh kita, bahwa kita adalah anak-anak Allah」 (Rom. 8:16), Yohanes dari sudut pandang lain mengajarkan kita bagaimana mengetahui Allah tinggal di dalam kita, yakni Roh Kudus yang Allah karuniakan kepada kita. Roh Kudus memastikan identitas orang percaya termasuk dalam milik Roh, Roh Kudus pada saat yang sama juga menjamin kita hidup di dalam Allah, dan apa yang dilaksanakan dalam kehidupan adalah sesuai perintah Allah. Saudara dan saudari, apakah dalam kehidupanmu telah mendapatkan Roh Kudus? Apakah Roh Kudus telah mendapatkan engkau? Kiranya kita semua ada di dalam Roh Kudus dan penyertaan-Nya, hidup yang beroleh keberanian, hidup yang beroleh ketenangan hati yang tanpa ketakutan.


Tambahan dari Blogger:

Lebih bermanfaat lagi jika kita merangkumkan inti sari dari renungan hari ini menjadi ringkasan yang pendek sambil mencocokkan dengan ayat-ayat dari perikop hari ini, serta mencocokan dengan judul yang diberikan 「Bukti Anugerah Keselamatan」,  hal ini akan membantu kita berusaha memahami, mencernakan dan mengingat ulang sehingga menjadi bagian dari diri kita sendiri.

1 Yoh. 3:4-10

「Anak-anak Allah tidak berbuat dosa」

Apa maksud Rasul Yohanes mengatakan anak-anak Allah tidak berbuat dosa lagi dan bagaimana caranya?

Renungan ini merupakan terjemahan versi bahasa Mandarin 「爾道自建  Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Surat 1 Yohanes ditulis oleh 郭奕宏 (Guō Yì Hóng) yang dipublikasi pada bulan Oktober 2017 merupakan hak cipta (copyrightAlliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).

(1 Yoh. 3:4-10 [ITB])
4Setiap orang yang berbuat dosa, melanggar juga hukum Allah, sebab dosa ialah pelanggaran hukum Allah.
5Dan kamu tahu, bahwa Ia telah menyatakan diri-Nya, supaya Ia menghapus segala dosa, dan di dalam Dia tidak ada dosa.
6Karena itu setiap orang yang tetap berada di dalam Dia, tidak berbuat dosa lagi;
setiap orang yang tetap berbuat dosa, tidak melihat dan tidak mengenal Dia.
7Anak-anakku, janganlah membiarkan seorangpun menyesatkan kamu.
Barangsiapa yang berbuat kebenaran adalah benar, sama seperti Kristus adalah benar;
8barangsiapa yang tetap berbuat dosa, berasal dari Iblis, sebab Iblis berbuat dosa dari mulanya.
Untuk inilah Anak Allah menyatakan diri-Nya, yaitu supaya Ia membinasakan perbuatan-perbuatan Iblis itu.
9Setiap orang yang lahir dari Allah, tidak berbuat dosa lagi; sebab benih ilahi tetap ada di dalam dia dan ia tidak dapat berbuat dosa, karena ia lahir dari Allah.
10Inilah tandanya anak-anak Allah dan anak-anak Iblis: setiap orang yang tidak berbuat kebenaran, tidak berasal dari Allah, demikian juga barangsiapa yang tidak mengasihi saudaranya.

Di dalam perikop pendek 7 ayat ini, Yohanes telah memakai kata 「dosa」 dalam bentuk kata benda dan kata kerja seluruhnya 10 kali. Nyata dan mudah dilihat, ketegangan antara orang Kristen dan dosa merupakan titik berat perikop ini. Yohanes mendefinisikan dosa adalah: 「melanggar hukum Allah」 (1 Yoh. 3:4). Walau dalam surat 1 Yohanes tidak ada pembicaraan secara langsung tentang 「hukum Allah」, namun berulang kali menekankan orang percaya hendaklah mematuhi perintah Tuhan, secara khusus menunjuk kehidupan yang saling mengasihi di antara saudara saudari. Ini seperti jawaban Yesus atas pertanyaan menantang dari para Ahli Taurat: 「hukum manakah yang terutama dalam hukum Taurat? 」 Yesus menjawab: 「Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu… Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri」, dan dengan jelas ini adalah inti dari seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi (Mat. 22:35-40).

Yohanes dari sudut pandang yang tidak sama menyatakan siapakah yang sungguh-sungguh termasuk milik Allah, yakni yang 「saling mengasihi 」 (1 Yoh. 3:11), yang 「berbuat kebenaran」 (1 Yoh. 3:10) dan 「tidak berbuat dosa / tidak melanggar hukum Allah」 (1 Yoh. 3:4). Yohanes sekali lagi menekankan orang percaya secara absolut tidak dapat mempunyai relasi tidak terputus dengan dosa, karena 「Firman Allah (benih ilahi) ada di dalam hatinya」, dan karena 「ia lahir dari Allah」 (1 Yoh. 3:9). Dari sudut pandang kehidupan orang percaya, berbuat dosa tidak hanya merupakan sebuah pilihan kemauan dan pergumulan rohani, berbuat dosa terlebih lagi juga adalah sifat karakteristik dari hidup dan penampilan dari hidup. Maka Yohanes bahkan berkata, orang percaya tidak hanya tidak sepatutnya berbuat dosa, lebih lagi adalah tidak dapat berbuat dosa, karena yang berbuat dosa, yang tidak berbuat kebenaran, yang tidak mengasihi saudaranya, semuanya adalah anak-anak iblis. Kebenaran yang bersifat absolut hitam putih dua warna ini, bagi orang Kristen masa kini mungkin merupakan permasalahan, namun ini adalah sebuah realitas (yang dinyatakan Alkitab). Bagaimana memahami bahwa anak-anak Allah tidak dapat berbuat dosa? Apakah satu kalipun juga tidak dapat berbuat dosa? Atau terdapat perbedaan dosa besar dan kecil?

Terdapat dua pemahaman yang tidak sama:

  • Membedakan 「sering berbuat dosa 」 dan 「adakala berbuat dosa 」, maksudnya adalah anak-anak Allah tidak dapat sering berbuat dosa. Penjelasan ini adalah yang paling banyak diterima orang, dan memandang bahwa perbuatan dosa yang sekarang menjadi unsur penunjang kebiasaan dan seringnya berbuat dosa. Namun dari teks sebelum dan sesudahnya tidak menunjukkan bahwa Yohanes mengarah kepada pandangan yang demikian.
  • Sebagian besar peneliti Alkitab setuju penjelasan yang kedua: yakni 「tidak berbuat dosa 」 dan 「tidak mampu berbuat dosa」 ada di dalam dua kondisi. Tidak berbuat dosa adalah masa sebelum kedatangan Yesus yang kedua kali, masa kita hidup sekarang ini, berbuat dosa dan tidak berbuat dosa adalah pencobaan yang dihadapi orang percaya setiap hari, kita dengan berusaha 「tidak berbuat dosa」 membuktikan kita adalah termasuk anak-anak Allah (walau masih mampu berbuat dosa, namun berusaha membuat pilihan dengan kemauan dan tekat untuk menjauhi perbuatan dosa); setelah Tuhan Yesus datang yang kedua kali dalam kemuliaan, di dalam Kerajaan Allah di mana Ia memerintah, anak-anak Allah adalah 「tidak mampu berbuat dosa」. Secara teologi ini disebut sebagai 「sudah namun belum」 (already-but-not-yet). Pemahaman ini adalah sama dengan dorongan Paulus kepada orang percaya agar mengejar kekudusan, terus-menerus diperbaharui, sampai memperoleh kemiripan seperti gambar Tuhan (Kol. 3:10).
    Pada saat yang sama Yohanes di sini membicarakan kemuliaan kedatangan Tuhan yang kedua kali, adalah menyatakan bahwa dalam kemuliaan kekudusan-Nya di dalam Kerajaan Allah adalah tidak ada dosa, anak-anak Allah di dalam Kerajaan Allah juga adalah tidak dapat berbuat dosa.

Renungkan: Saat orang Kristen hidup dalam dunia, tidak dapat tidak mengakui kita setiap hari menghadapi pencobaan dan ujian menjauhi dosa dan tidak berbuat dosa; namun pengharapan kita yang paling besar, adalah kemuliaan-Nya dalam Kerajaan Allah, dosa akan menjauhi kita semuanya yang termasuk anak-anak Allah, kita semua tidak akan berbuat dosa, terlebih adalah hidup yang tidak mampu berbuat dosa, ini adalah pengharapan yang indah. Walaupun kita hari ini tetap hidup dalam dunia yang berdosa, namun jika kita ada di dalam Tuhan, juga seharusnya memiliki kehidupan yang tidak berbuat dosa (di dalam Tuhan dengan kemauan dan tekat berusaha keras menjauhi perbuatan dosa. Itu juga menyatakan identitas kita yang sungguh-sungguh termasuk milik Allah).