Tag Archives: Orang Mulia

Yesaya 3:1-7

「Anak-anak Menjadi Pemimpin」

Renungan ini merupakan terjemahan 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Yesaya 1-8 ditulis oleh 高銘謙 (Gāo Míng Qiān) yang dipublikasi pada bulan Maret 2018 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).

(Yes. 3:1-7 [ITB])
1Maka sesungguhnya Tuhan, TUHAN semesta alam, akan menjauhkan dari Yerusalem dan dari Yehuda setiap orang yang mereka andalkan, segala persediaan makanan dan minuman: 2pahlawan dan orang perang, hakim dan nabi, petenung dan tua-tua, 3perwira dan orang yang terpandang, penasihat dan ahli sihir, dan orang yang paham mantera.
4Aku akan mengangkat pemuda-pemuda menjadi pemimpin mereka, dan anak-anak akan memerintah atas mereka. 5Maka bangsa itu akan desak-mendesak, seorang kepada seorang, yang satu kepada yang lain; orang muda akan membentak-bentak terhadap orang tua, orang hina terhadap orang mulia.
6Sehingga apabila seorang memegang saudaranya di rumah ayahnya dan berkata: 「Engkau masih mempunyai jubah, jadilah pemimpin kami, dan reruntuhan ini di bawah kuasamu」,
7maka pada waktu itu saudaranya akan menjawab: 「Aku tidak mau menjadi tabib; di rumahku tidak ada roti dan tidak ada jubah; janganlah angkat aku menjadi pemimpin bangsa.」

Saat kerajaan Yehuda tidak lagi menggunakan keadilan dan kebenaran TUHAN sebagai definisi kemuliaan negara, maka umat Allah mulai mendefinisikan kemuliaan dengan hal-hal yang dipandang bangsa-bangsa asing sebagai apa yang paling mampu membuat negara kuat besar. Di dalam pandangan kitab Yesaya, keberhasilan negara bukan dengan kaya raya, kedudukan, gelar pendidikan dsb., tetapi ada di dalam perhatian kepada kaum lemah dan orang miskin, juga di dalam kesetiaan kepada hukum Taurat dan perjanjian persekutuan antara TUHAN dengan umat, saat umat Israel menggunakan hukum Taurat sebagai pengontrol dan pemimpin tingkah laku mereka, maka mampu memancarkan kemuliaan Allah di dalam negara.

Yesaya 3:1-7 menunjukkan kesombongan manusia menyetir manusia bersandar kepada 「orang-orang besar」 untuk membuat negara kuat besar, mereka adalah pahlawan dan orang perang, hakim dan nabi, petenung dan tua-tua (ayat 2), orang-orang ini di permukaan kulit luar kelihatannya para profesional yang menjadi sandaran negara, yang dapat diandalkan (ayat 1), dan kenyataan, rakyat jelata dalam masyarakat saat itu sebagian besar adalah buta huruf, tidak mampu membaca sendiri kitab hukum Taurat, mereka hanya mampu mengandalkan pemimpin agama untuk memahami hukum Taurat, maka secara alamiah percaya sepenuhnya pada diri orang-orang ini, percaya mereka adalah ahli militer (para pahlawan dan orang perang), ahli menghakimi (hakim), para ahli yang menerima perkataan Allah (nabi, petenung dan tua-tua), di dalam pandangan umat, mereka selamanya tidak akan berbuat kesalahan.

Tetapi, ayat perikop memiliki sebuah berita yang lain, mengatakan bahwa 「orang-orang besar」 yang kepadanya umat bersandar, tidak mampu membawakan kebangkitan negara yang sesungguhnya, Allah malahan memilih memakai orang yang dipandang manusia tidak mampu mengurus negara, yakni 「anak-anak」, 「pemuda-pemuda」 dan 「orang hina」 (ayat 4-5), orang-orang ini tidak memiliki pengalaman mengurus negara, semuanya 「tidak cukup kualifikasi」 di dalam pandangan manusia, semua adalah orang yang lemah dan tidak memiliki kemampuan kualitas yang nyata. Di dalam perikop ini dapat dilihat bahwa mereka dipakai secara negatif, karena mereka akan memerintah dengan sembarangan, dengan penindasan dan sombong tanpa sopan santun terhadap 「orang-orang besar」. Penggambaran macam ini sebenarnya adalah sebuah perumpamaan, melukiskan bahwa 「orang-orang besar」 akan mendapatkan pembalasan yang sepatutnya mereka miliki, dan Allah justru memakai mereka yang dahulunya ditindas oleh 「orang-orang besar」 menjadi terbalik menindas 「orang-orang besar」 ini. Ternyata, Allah senang memakai orang-orang yang dipandang manusia dunia sebagai 「satu tingkat lebih rendah」untuk melaksanakan penghakiman-Nya.

Renungkan: Allah adalah pribadi yang membela, Dia akan membawakan kembali keadilan kepada mereka yang tertindas 「anak-anak」, 「pemuda-pemuda」 dan 「orang hina」, juga dengan sindiran yang menusuk Ia memakai orang-orang yang tertindas dan yang tidak memiliki pendidikan, berbalik menindas 「orang-orang besar」, ini bukan membalas kejahatan dengan kejahatan, tetapi menjelaskan Allah pasti akan membalas orang yang bertingkah laku gelap dan tidak bermoral baik. Oleh karena itu, sebagai pemimpin, kita tidak sepatutnya mengabaikan orang yang dipandang rendah dalam masyarakat, melihat mereka hanya sebagai pihak yang dapat diperalat, tidak tahu Allah berdiri di sisi mereka selamanya, membawakan kembali keadilan bagi mereka.