Tag Archives: Makna Salib

1 Kor. 1:22-25

Kristus yang disalibkan adalah kekuatan Allah dan hikmat Allah!

Oleh Rev. Dr. Kiven Choy (蔡少琪)
Alliance Bible Seminary H.K.

(1 Kor. 1:22-25 [ITB])
22 Orang-orang Yahudi menghendaki tanda dan orang-orang Yunani mencari hikmat,
23 tetapi kami memberitakan Kristus yang disalibkan: untuk orang-orang Yahudi suatu batu sandungan dan untuk orang-orang bukan Yahudi suatu kebodohan,
24 tetapi untuk mereka yang dipanggil, baik orang Yahudi, maupun orang bukan Yahudi, Kristus adalah kekuatan Allah dan hikmat Allah.
25 Sebab yang bodoh dari Allah lebih besar hikmatnya dari pada manusia dan yang lemah dari Allah lebih kuat dari pada manusia.

Dalam perikop ini, Paulus mengemukakan tiga prinsip penting:
1. Hikmat dan nilai-nilai yang dicintai dunia sepenuhnya bertentangan dengan doktrin salib Kristus.
2. Dunia memandang rendah Kristus yang mengalami penghinaan dan penderitaan, yang disalibkan, tetapi justru yang paling dipandang penting oleh Allah, juga sangat berharga bagi orang percaya kepada Tuhan Yesus, yang sudah diselamatkan oleh kasih karunia. Kristus adalah kekuatan dan hikmat Allah.
3. Prinsip manusia berpikir bahwa penderitaan dan salib itu kebodohan dan lemah, tetapi Allah justru senang menggunakan kebenaran salib yang tampaknya bodoh dan lemah ini untuk membantu kita orang berdosa yang memang tidak berdaya untuk menyelamatkan diri kita sendiri. Hanya dengan sepanjang hidup kita percaya Tuhan yang disalibkan, kita dapat memperoleh hikmat dan kekuatan sejati.

Paulus mencatat: orang-orang Yahudi menghendaki tanda dan orang-orang Yunani mencari hikmat, di sini kata Yunani tanda (semeia) dalam terjemahan bahasa Inggris adalah signs, juga diterjemahkan sebagai miraculous signs (tanda mukjizat) (NIV). Tanda (semeion) adalah kata penting dalam empat Injil, Kisah Para Rasul dan Wahyu. Dalam Perjanjian Baru untuk pertama kalinya muncul di Matius 12:38, pada saat itu ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi berkata kepada Yesus: Guru, kami ingin melihat suatu tanda dari pada-Mu, Yesus dalam Injil Yohanes berkata: Jika kamu tidak melihat tanda dan mujizat, kamu tidak percaya (Yoh. 4:48) Orang Yahudi memandang penting tanda, mereka biasa memandang bahwa tanda seseorang adalah Mesias yakni mampu melakukan banyak mukjizat. Dalam Kitab Kisah Para Rasul, tujuan Allah memakai tanda mukjizat: Tuhan menguatkan berita tentang kasih karunia-Nya dengan mengaruniakan kepada mereka kuasa untuk mengadakan tanda-tanda dan mukjizat-mukjizat (Kis. 14:3) tetapi Allah memberikan tanda mukjizat yang paling penting, bukan penyembuhan, atau mukjizat hebat lainnya, tetapi kematian dan kebangkitan Tuhan Yesus. Orang Yahudi menghendaki mukjizat-mukjizat kecil, tetapi apa yang Allah berikan kepada dunia adalah tanda mukjizat yang satu-satunya unik tiada tandingan yakni Anak Domba Allah menggantikan manusia menerima hukuman, kematian, dan kebangkitan-Nya, yang mampu membuat dunia mendapatkan keselamatan melalui iman kepada Tuhan Yesus itulah mukjizat yang terbesar dan paling berharga.

Ayat 23 kami memberitakan Kristus yang disalibkan: untuk orang-orang Yahudi suatu batu sandungan, istilah batu sandungan (skandalon) memiliki arti membuat orang jijik, tersandung, dan dapat diterjemahkan sebagai perangkap, batu sandungan. Menariknya, bahasa Inggris scandal berasal dari kata ini. Dalam Gal. 5:11 Paulus berkata: saudara-saudara, jikalau aku masih memberitakan sunat, mengapakah aku masih dianiaya juga? Sebab kalau demikian, salib bukan lagi batu sandungan tempat menjijikkan (skandalon)』」. Orang-orang Yahudi melihat bahwa orang yang dipaku di atas salib adalah orang yang terkutuk, tetapi mereka tidak terpikir bahwa Kristus menanggung kutukan adalah demi menanggung dosa-dosa dunia, agar manusia dunia dapat lepas dari kutuk dan diselamatkan oleh kasih karunia karena menengadah memandang berharap kepada Anak Domba Allah, menjadi anak-anak Allah yang berharga.

Bagi orang Yahudi, doktrin penyaliban Kristus adalah kebodohan dan tidak dapat diterima. Mereka mengharapkan Tuhan datang dalam kemuliaan, tetapi mereka tidak terpikir bahwa yang akan datang adalah Hamba yang menderita, Anak Domba yang disalibkan; mereka tidak merenungkan secara mendalam, bahwa betapa dalam, kotor, serta betapa keji dosa-dosa mereka dan manusia dunia. Jika tidak ada Kristus yang disalibkan, hanya hukuman kekal dan murka Allah yang menunggu mereka serta manusia dunia. Injil salib mengingatkan kita bahwa kita orang-orang berdosa benar-benar tidak berdaya untuk membantu diri sendiri, kita aslinya adalah orang-orang yang harus dimurkai menanggung hukuman atas dosa (Ef. 2:3), tetapi karena iman bersandar percaya kepada Kristus yang disalibkan, maka menjadi anak-anak Allah yang berharga, sepanjang hidupnya mengalami hadirat dan anugerah Allah, dan memperoleh hidup yang kekal. Reformator agama Martin Luther mengatakan dengan baik: Siapa pun yang tidak mengenal Kristus tidak memahami Allah yang tersembunyi dalam penderitaan. Orang yang memahami prinsip salib Kristus tahu bahwa kita dapat diselamatkan oleh kasih karunia, adalah hanya karena Kristus saja, hanya karena kasih karunia saja, hanya karena iman saja, dan kemuliaan hanya milik Allah saja. Kristus yang disalibkan benar-benar kekuatan dan hikmat Allah!

Renungkan:
• Ketika Anda memberitakan Injil kepada orang lain, apakah Anda pernah seperti Paulus mengalami kebencian dari orang lain? Apakah orang-orang membenci Anda yang memberitakan Injil, apakah Anda yang antusias melayani Tuhan dipandang oleh orang lain sebagai kebodohan?
• Paulus kuat dan berani karena mengerti akan Injil salib Kristus, dan dengan iman mengatakan: Kristus yang disalibkan memang kekuatan dan hikmat Allah! Apakah Anda juga memiliki iman dan keberanian rohani seperti ini? Apakah Anda tidak malu karena Injil?


Renungan pemahaman Surat 1 Korintus

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Surat 1 Korintus 1-4 ditulis oleh Rev. Dr. Kiven Choy (蔡少琪) yang dipublikasi pada bulan Juli 2021 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


10 April 2019 ● Rabu Minggu Kelima Pra Paskah

Kemudian itu akan menghasilkan buah kebenaran

Ibrani 12:3-13
3Ingatlah selalu akan Dia, yang tekun menanggung bantahan yang sehebat itu terhadap diri-Nya dari pihak orang-orang berdosa, supaya jangan kamu menjadi lemah dan putus asa. 4 Dalam pergumulan kamu melawan dosa kamu belum sampai mencucurkan darah. 5 Dan sudah lupakah kamu akan nasihat yang berbicara kepada kamu seperti kepada anak-anak:
“Hai anakku, janganlah anggap enteng didikan Tuhan,
dan janganlah putus asa apabila engkau diperingatkan-Nya;
karena Tuhan menghajar orang yang dikasihi-Nya,
dan Ia menyesah orang yang diakui-Nya sebagai anak.”
7 Jika kamu harus menanggung ganjaran; Allah memperlakukan kamu seperti anak. Dimanakah terdapat anak yang tidak dihajar oleh ayahnya? 8Tetapi, jikalau kamu bebas dari ganjaran, yang harus diderita setiap orang, maka kamu bukanlah anak, tetapi anak-anak gampang. 9 Selanjutnya: dari ayah kita yang sebenarnya kita beroleh ganjaran, dan mereka kita hormati; kalua demikian bukankah kita harus lebih taat kepada Bapa segala roh, supaya kita boleh hidup? 10 Sebab mereka mendidik kita dalam waktu yang pendek sesuai dengan apa yang mereka anggap baik, tetapi Dia menghajar kita untuk kebaikan kita, supaya kita beroleh bagian dalam kekudusan-Nya. 11 Memang tiap-tiap ganjaran pada waktu ia diberikan tidak mendatangkan sukacita, tetapi dukacita. Tetapi kemudian ia menghasilkan buah kebenaran yang memberikan damai kepada mereka yang dilatih olehnya.
12 Sebab itu kuatkanlah tangan yang lemah dan lutut yang goyah; 13 dan luruskanlah jalan bagi kakimu, sehingga yang pincang jangan terpelecok, tetapi menjadi sembuh.

Renungan

Awalnya mereka tampak melakukannya dengan baik pada saat mereka mengalami penganiayaan. Orang-orang percaya mula-mula ini menderita dengan baik untuk kemuliaan Kristus. Seiring berjalannya waktu, jiwa mereka menjadi letih dan lelah.

Rasul mengingatkan orang-orang kudus ini tentang satu hal yang sangat berharga. Kebenaran ini, dipahami dengan benar, akan memberi mereka percikan cahaya yang mereka butuhkan untuk bertahan. Kebenaran yang satu ini akan mengubah segalanya.

Permusuhan orang berdosa yang dibicarakan oleh Rasul adalah cara kerja Allah. Kita sering tidak terpikir bahwa Allah menggunakan orang yang tidak saleh untuk mencapai tujuan-Nya.

Alam semesta ada atas perintah Tuhan. Tuhan menentukan jumlah bintang di langit dan jumlah butiran pasir di sepanjang lautan. Dia berdaulat atas semua orang … mereka yang menjadi milik-Nya dan mereka yang bukan milik-Nya. Dia dapat membangkitkan pasukan jahat untuk memberikan penghukuman pada umat-Nya sendiri untuk mempromosikan pertobatan. Dia dapat memberikan kesuksesan kepada orang jahat dalam bisnis sehingga mereka akan mencapai tujuan-Nya. Dalam hal ini, Tuhan menggunakan orang jahat untuk menantang dan meregang orang-orang yang Dia kasihi, agar mereka diperlengkapi dengan lebih baik untuk membawa kemuliaan bagi-Nya.

Pelari yang baik tahu bahwa ia hanya akan menjadi lebih baik karena ia menanggung rasa sakit dari pelatihan dan berlatih. Itu adalah hal yang sama dalam hal spiritual.

Suka atau tidak, kita tumbuh paling besar saat kita menderita melalui berbagai cobaan yang menghadang kita. Tuhan tahu persis pencobaan apa yang harus digunakan untuk membuat kita tumbuh.

Kita sering tidak berpikir tentang Tuhan mengirim masa-masa sulit kepada kita. Untuk berbagai alasan, kita hanya berpikir Tuhan mengirimkan saat-saat yang menyenangkan.

Teks ini sangat jelas ketika penulis menunjukkan kepada kita bahwa hal-hal sulit yang dialami orang-orang percaya berasal dari Allah dalam bentuk disiplin yang disertai kasih.

Ketika kita berpikir tentang disiplin, kita paling sering ataupun jika tidak selalu, kita memiliki pikiran tentang penghukuman. Kita berpikir tentang melakukan dosa dan kemudian Tuhan menghukum kita seperti ayah duniawi menghukum seorang anak yang melanggar jam malam atau sesuatu seperti itu.

Disiplin berarti “untuk mengajar atau mendidik; untuk memberi tahu pikiran; mempersiapkan dengan menginstruksikan prinsip dan kebiasaan yang benar; untuk mendisiplinkan anak muda untuk suatu profesi; atau untuk tujuan di masa depan ”.

Kata disiplin ini berasal dari kata “murid”. Itu berarti memperkuat atau melatih dalam kebenaran; seperti pelari yang menjadi lebih kuat saat ia berlatih dengan ketahanan. Disiplin, meskipun menyakitkan menghasilkan harapan, kebenaran dan kedamaian di tengah kesengsaraan.

Doa

Tuhan, disiplinkan kami saat kami bergerak maju dalam kehidupan, sehingga kami mengalami sukacita kebenaran dan kedamaian. Amin.

Tindakan
Tanamkan disiplin di tempat kerja dan keluarga Anda.

Oleh
Rev Dr M.Mani Chacko
General Secretary
The Bible Society of India

9 April 2019 ● Selasa Minggu Kelima Pra Paskah

Paradoks dari Salib

Yohanes 8:21-30
21Maka Yesus berkata pula kepada orang banyak: “Aku akan pergi dan kamu akan mencari Aku tetapi kamu akan mati dalam dosamu. Ke tempat Aku pergi, tidak mungkin kamu datang.” 22Maka kata orang-orang Yahudi itu: “Apakah Ia mau bunuh diri dan karena itu dikatakan-Nya: “Ke tempat Aku pergi, tidak mungkin kamu datang?” 23Lalu Ia berkata kepada mereka: “Kamu berasal dari bawah, Aku dari atas; kamu dari dunia ini, Aku bukan dari dunia ini. 24Karena itu tadi Aku berkata kepadamu, bahwa kamu akan mati dalam dosamu; sebab jikalau kamu tidak percaya, bahwa Akulah Dia, kamu akan mati dalam dosamu.” 25Maka kata mereka kepada-Nya: “Siapakah Engkau?” Jawab Yesus kepada mereka: “Apakah gunanya lagi Aku berbicara dengan kamu?” 26 Banyak yang harus Kukatakan dan Kuhakimi tentang kamu; akan tetapi Dia, yang mengutus Aku, adalah benar, dan apa yang Kudengar dari pada-Nya, itu yang Kukatakan kepada dunia.” 27 Mereka tidak mengerti, bahwa Ia berbicara kepada mereka tentang Bapa. 28 Maka kata Yesus: “Apabila kamu telah meninggikan Anak Manusia, barulah kamu tahu, bahwa Akulah Dia, dan bahwa Aku tidak berbuat apa-apa dari diri-Ku sendiri, tetapi Aku berbicara tentang hal-hal, sebagaimana diajarkan Bapa kepada-Ku. 29 Dan Ia, yang telah mengutus Aku, Ia menyertai Aku. Ia tidak membiarkan Aku sendiri, sebab Aku senantiasa berbuat apa yang berkenan kepada-Nya.”

Renungan

“Apabila kamu telah meninggikan Anak Manusia, barulah kamu tahu, bahwa Akulah Dia ….” (8.28)
Lebih dari segalanya, salib melambangkan iman Kristen. Kita melihat itu ditampilkan pada bangunan, terpampang pada bendera, dikenakan pada tubuh, dan dicetak dalam setiap bentuk yang ada. Selama ribuan tahun sejarah, salib telah diperjuangkan dan dikutuk, dibangkitkan dalam kemuliaan dan diinjak dengan amarah. Kita seharusnya tidak terkejut karena itu telah dimulai sudah sejak awal.

Dalam konfrontasinya dengan para pemimpin agama, Yesus menunjuk kepada salib. Orang-orang Farisi memulai dengan menantang apa yang Yesus telah katakan, “Kamu memberikan kesaksian tentang dirimu sendiri; kesaksian Anda tidak benar. ” (8.13) Mereka kemudian mempertanyakan apa yang Dia lakukan, “Apakah Ia mau bunuh diri dan karena itu dikatakan-Nya: “Ke tempat Aku pergi, tidak mungkin kamu datang?’” (8.22). Mereka akhirnya bertanya kepada-Nya siapa Dia, “Siapa Engkau?” (8.25)

Yesus menjawab mereka dengan menghubungkannya dengan otoritas, misi dan identitas-Nya. Tetapi mereka gagal untuk memahami semua ini. Yesus memberikan alasan: “Kamu berasal dari bawah, Aku dari atas; kamu dari dunia ini, Aku bukan dari dunia ini.” (8.23). Akhirnya, Yesus memberi tahu mereka, “Apabila kamu telah meninggikan Anak Manusia, barulah kamu tahu, bahwa Akulah Dia…. ” (8.28)

Yesus berbicara lagi tentang “peninggian” setelah Ia memasuki Yerusalem dan dicari oleh delegasi Yunani: “Dan aku, ketika aku diangkat dari bumi, akan menarik semua orang untuk diri-Ku sendiri.” (12.32). Keduanya adalah referensi untuk penyaliban-Nya. Salib di mana Yesus akan dihukum mati menghadirkan sebuah paradoks. Di satu sisi, Ia diangkat oleh manusia untuk mempermalukan-Nya dan membunuh-Nya. Di sisi lain, Ia diangkat oleh Tuhan untuk menghormati-Nya, dan membangkitkan-Nya kembali. Melalui kematian-Nya Ia akan membayar harga dosa-dosa kita, dan dengan kebangkitan-Nya, Dia akan menjamin pengampunan dan kehidupan baru kita.

Kita tidak dapat memahami siapa Yesus dengan memisahkan Dia dari salib. Itu mewakili misi-Nya, bersama dengan otoritas dan identitas-Nya. Kita yang mengikuti Yesus adalah orang-orang salib, disalahpahami dan ditolak oleh dunia, tetapi diterima dan dipeluk oleh Allah, membawa paradoks rasa malu dan hormat, kematian dan kehidupan baru.

Doa

“Tuhan Yesus, terima kasih telah mati di salib untuk saya. Ketika saya melihat Engkau mengangkatnya, saya mengerti apa yang Engkau katakan, saya tahu mengapa Engkau datang, dan saya tunduk pada siapa Engkau, Tuhanku dan Allahku.”

Tindakan
Masa Pra-paskah mengingatkan kita untuk fokus pada salib. Luangkan waktu untuk melakukan itu. Dalam kesakitan kita, mari kita ingat bahwa Kristus juga menderita. Di kayu salib Dia ditinggikan. Tapi mari kita lihat lebih jauh dari salib ke dalam kubur yang kosong. Dari situ, Kristus telah dibangkitkan! Semoga kita memiliki sukacita ketika kita merenungkan salib.

Oleh
Rev Dr David W F Wong
Mentoring Pastor
Zion Bishan Bible-Presbyterian Church

07 Maret 2019 ● Kamis Setelah Rabu Abu

Jika ada yang datang padaku, setelah Aku.

(Lukas 9:22-25)
Pemberitahuan pertama tentang penderitaan Yesus dan syarat-syarat mengikut Dia.
22 Dan Yesus berkata: “Anak Manusia harus menanggung banyak penderitaan dan ditolak oleh tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, lalu dibunuh dan dibangkitkan pada hari ketiga. ” 23 Kata-Nya kepada mereka semua: “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari dan mengikut Aku. Karena barangsiapa mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan menyelamatkannya. Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia, tetapi ia membinasakan atau merugikan dirinya sendiri?

Renungan
“Ketika Kristus memanggil seorang manusia, dia menawarkan diri dia datang dan mati.” Ini adalah kata-kata yang mengejutkan dari seorang pendeta-teolog Jerman, Dietrich Bonhoeffer. Apakah perkataannya itu melebih-lebihkan harga mengikut Yesus? Perikop kita hari ini menunjukkan bahwa itu jauh dari melebih-lebihkan, Bonhoeffer telah memahami esensi dari panggilan Kristus untuk murid-murid-Nya. Di dunia yang didominasi oleh kepentingan melayani diri sendiri, panggilan Yesus untuk menyangkal diri dan salib tidak populer, kontra-budaya, serta sulit untuk dirangkul.

Ambil contoh para murid misalnya. Setelah menyaksikan mujizat Yesus memberi makan orang banyak dengan lima roti dan dua ikan, Petrus cepat mengaku Yesus sebagai Kristus (ayat 20). Tetapi pengakuannya, meski benar dalam bentuk luar, cacat dalam isinya. Lukas mengungkapkan dalam ayat 45, pemahaman bahwa Kristus harus menderita mati belum membangunkan para murid, mungkin termasuk Petrus. Ini seharusnya tidak mengejutkan kita. Kematian karena penyaliban bertentangan dengan harapan manusia akan seorang Juruselamat dan Kristus. Kristus yang disalibkan adalah orang yang telah dipermalukan sebagai seorang kriminal dan dikutuk oleh Tuhan. Mengapa ada orang yang mau mengikuti Kristus seperti itu? Namun ini adalah jalan yang harus dijalani Yesus jika Ia ingin menjadi Mesias yang “akan dibangkitkan pada hari yang ketiga” (ayat 22).

Titik awal dimana kita harus memahami ke-Mesias-an Yesus bukanlah dari kemuliaan kebangkitan-Nya, tetapi pentingnya kematian-Nya. Demikian juga, panggilan untuk mengikuti Yesus dimulai dengan pentingnya akan kematian Yesus, baik itu kematian atas kemauan diri sendiri, atau dalam beberapa kasus penganiayaan, kematian fisik. Apapun kasusnya, inti dari doa kita sebagai pengikut Yesus adalah, “bukan kehendak saya, tetapi jadilah kehendak-Mu.” Penyangkalan diri demi Kristus adalah cara untuk menemukan jati diri kita (ku) dikosongkan. Biarkanku memiliki segalanya, biarkanku tidak memiliki apa-apa. Aku bebas dan sepenuhnya menyerahkan segala sesuatu untuk kesenangan Engkau dan menyangkal sebagaimana yang Allah maksudkan.

Doa
Ya Allah yang berdaulat, aku bukan lagi milikku, melainkan milik-Mu.
Tempatkan diriku pada apa yang Engkau inginkan,
tempatkanku pada siapa Engkau inginkan.
Tempatkanku untuk bekerja,
tempatkanku untuk menderita.

Biarkanku bekerja untuk-Mu atau dikesampingkan tersingkir untuk-Mu, ditinggikan untuk-Mu atau direndahkan untuk-Mu.
Biarkan ku dipenuhkan,
biarkan diriku tidak memiliki apapun.

Diriku secara bebas dan menyerahkan segalanya demi perkenan dari Mu.

Amin. (Kata-kata diadaptasi dari Layanan Perjanjian John Wesley)

Tindakan
Identifikasi satu atau dua bagian dari kehidupanmu yang engkau anggap paling sulit untuk “disalibkan” dan serahkan pada kuasa kedaulatan Tuhan. Berikan area itu kepada Tuhan saat engkau berdoa doa di atas. Tutup saat teduhmu dengan lagu, “t’lah kuputuskan mengikut Yesus … ku tak ingkar.”

Oleh
Rev Dr Edwin Tay
Wakil Kepala Sekolah
Trinity Theological College

(Diterjemahkan oleh team WMC)