Jika ada yang datang padaku, setelah Aku.
(Lukas 9:22-25)
Pemberitahuan pertama tentang penderitaan Yesus dan syarat-syarat mengikut Dia.
22 Dan Yesus berkata: “Anak Manusia harus menanggung banyak penderitaan dan ditolak oleh tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, lalu dibunuh dan dibangkitkan pada hari ketiga. ” 23 Kata-Nya kepada mereka semua: “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari dan mengikut Aku. Karena barangsiapa mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan menyelamatkannya. Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia, tetapi ia membinasakan atau merugikan dirinya sendiri?
Renungan
“Ketika Kristus memanggil seorang manusia, dia menawarkan diri dia datang dan mati.” Ini adalah kata-kata yang mengejutkan dari seorang pendeta-teolog Jerman, Dietrich Bonhoeffer. Apakah perkataannya itu melebih-lebihkan harga mengikut Yesus? Perikop kita hari ini menunjukkan bahwa itu jauh dari melebih-lebihkan, Bonhoeffer telah memahami esensi dari panggilan Kristus untuk murid-murid-Nya. Di dunia yang didominasi oleh kepentingan melayani diri sendiri, panggilan Yesus untuk menyangkal diri dan salib tidak populer, kontra-budaya, serta sulit untuk dirangkul.
Ambil contoh para murid misalnya. Setelah menyaksikan mujizat Yesus memberi makan orang banyak dengan lima roti dan dua ikan, Petrus cepat mengaku Yesus sebagai Kristus (ayat 20). Tetapi pengakuannya, meski benar dalam bentuk luar, cacat dalam isinya. Lukas mengungkapkan dalam ayat 45, pemahaman bahwa Kristus harus menderita mati belum membangunkan para murid, mungkin termasuk Petrus. Ini seharusnya tidak mengejutkan kita. Kematian karena penyaliban bertentangan dengan harapan manusia akan seorang Juruselamat dan Kristus. Kristus yang disalibkan adalah orang yang telah dipermalukan sebagai seorang kriminal dan dikutuk oleh Tuhan. Mengapa ada orang yang mau mengikuti Kristus seperti itu? Namun ini adalah jalan yang harus dijalani Yesus jika Ia ingin menjadi Mesias yang “akan dibangkitkan pada hari yang ketiga” (ayat 22).
Titik awal dimana kita harus memahami ke-Mesias-an Yesus bukanlah dari kemuliaan kebangkitan-Nya, tetapi pentingnya kematian-Nya. Demikian juga, panggilan untuk mengikuti Yesus dimulai dengan pentingnya akan kematian Yesus, baik itu kematian atas kemauan diri sendiri, atau dalam beberapa kasus penganiayaan, kematian fisik. Apapun kasusnya, inti dari doa kita sebagai pengikut Yesus adalah, “bukan kehendak saya, tetapi jadilah kehendak-Mu.” Penyangkalan diri demi Kristus adalah cara untuk menemukan jati diri kita (ku) dikosongkan. Biarkanku memiliki segalanya, biarkanku tidak memiliki apa-apa. Aku bebas dan sepenuhnya menyerahkan segala sesuatu untuk kesenangan Engkau dan menyangkal sebagaimana yang Allah maksudkan.
Doa
Ya Allah yang berdaulat, aku bukan lagi milikku, melainkan milik-Mu.
Tempatkan diriku pada apa yang Engkau inginkan,
tempatkanku pada siapa Engkau inginkan.
Tempatkanku untuk bekerja,
tempatkanku untuk menderita.
Biarkanku bekerja untuk-Mu atau dikesampingkan tersingkir untuk-Mu, ditinggikan untuk-Mu atau direndahkan untuk-Mu.
Biarkan ku dipenuhkan,
biarkan diriku tidak memiliki apapun.
Diriku secara bebas dan menyerahkan segalanya demi perkenan dari Mu.
Amin. (Kata-kata diadaptasi dari Layanan Perjanjian John Wesley)
Tindakan
Identifikasi satu atau dua bagian dari kehidupanmu yang engkau anggap paling sulit untuk “disalibkan” dan serahkan pada kuasa kedaulatan Tuhan. Berikan area itu kepada Tuhan saat engkau berdoa doa di atas. Tutup saat teduhmu dengan lagu, “t’lah kuputuskan mengikut Yesus … ku tak ingkar.”
Oleh
Rev Dr Edwin Tay
Wakil Kepala Sekolah
Trinity Theological College
(Diterjemahkan oleh team WMC)