「Engkau Lebih Baik dari Kota Dewa Amon?」
Oleh 潘仕楷 (Pān Shì Kǎi)
Alliance Bible Seminary H.K.
(Nahum 3:8-19 [ITB])
8 Adakah engkau lebih baik dari Tebe, kota dewa Amon, yang letaknya di sungai Nil, dengan air sekelilingnya, yang tembok kotanya adalah laut, dan bentengnya adalah air? 9 Etiopia adalah kekuatannya, juga Mesir, dengan tidak terbatas; Put dan orang-orang Libia adalah pembantunya. 10 Tetapi dia sendiripun terpaksa pergi ke dalam pembuangan, terpaksa masuk ke dalam tawanan. Bayi-bayinyapun diremukkan di ujung segala jalan; tentang semua orangnya yang dihormati dibuang undi, dan semua pembesarnya dibelenggu dengan rantai.
11 Engkaupun akan menjadi mabuk, akan menjadi tidak berdaya; engkaupun akan mencari tempat perlindungan terhadap musuh. 12 Segala kubumu adalah seperti pohon ara dengan buah ara yang masak duluan; jika diayunkan, maka jatuhlah buahnya ke dalam mulut orang yang hendak memakannya.
13 Sesungguhnya, laskar yang di tengah-tengahmu itu adalah perempuan-perempuan; pintu-pintu gerbang negerimu terbuka lebar-lebar untuk musuhmu; api telah memakan habis palang pintumu. 14 Timbalah air menghadapi pengepungan, perkuatlah kubu-kubumu! Pijaklah lumpur, injaklah tanah liat, peganglah acuan batu bata!
15 Di sana api akan memakan engkau habis, pedang akan membabat engkau, akan memakan engkau seperti belalang pelompat. Sekalipun engkau berjumlah besar seperti belalang pelompat, berjumlah besar seperti belalang pindahan, 16 sekalipun kauperbanyak orang-orang dagangmu lebih dari bintang-bintang di langit, seperti belalang pelompat mereka mengembangkan sayap dan terbang menghilang. 17 Sekalipun para penjagamu seperti belalang pindahan dan para pegawaimu seperti kawanan belalang, yang hinggap pada tembok-tembok pada waktu dingin, namun jika matahari terbit, mereka lari menghilang, tidak ketahuan tempatnya.
18 Celaka! Alangkah terlelapnya para gembalamu, hai raja negeri Asyur! Para pemukamu tertidur, laskarmu berserak-serak di gunung-gunung, dan tidak ada yang mengumpulkan. 19 Tiada pengobatan untuk cederamu, lukamu tidak tersembuhkan. Semua orang yang mendengar tentang engkau bertepuk tangan karena engkau; sebab kepada siapakah tidak tertimpa perbuatan jahatmu terus-menerus?
Dalam paragraf terakhir ini, nabi Nahum menggunakan peristiwa yang mungkin terjadi tidak lama dalam sejarah untuk lebih jelas menunjukkan bahwa tidak ada kekuatan yang dapat melakukan perlawanan saat penghakiman Allah datang.
Kota dewa Amon, juga dikenal sebagai Tebe, adalah ibu kota kerajaan Mesir kuno di bagian selatan, yang terletak di hulu Sungai Nil. Dia terletak di kedua tepi Sungai Nil, dengan sebuah kanal dibangun mengalir melalui kota, jadi nabi Nahum menjelaskan bahwa ada air di sekeliling kota, membentuk perlindungan alami. Dalam versi CUV-R, laut digambarkan sebagai benteng dan tembok pertahanan kota, sebenarnya yang digambarkan itu adalah saluran Sungai Nil yang luas. Karena penghalang alami ini, sulit bagi musuh untuk menyerangnya walau menggunakan sejumlah besar tentara dan kuda.
Selain perlindungan alami Tebe kota dewa Amon ini, ayat 3:9 menunjukkan bahwa ia juga memiliki banyak bantuan dari aliansi diplomatik, memiliki hubungan baik dengan negara-negara di sekelingnya. Cush adalah orang Ethiopia modern, ia dan Mesir membentuk utara dan selatan kota dewa Amon. Identitas orang Put relatif tidak pasti, tetapi mereka mungkin orang-orang dari Somalia modern, berada di timur kota dewa Amon. Di sebelah barat kota dewa Amon terdapat orang-orang Lubim seharus menjadi Libya saat ini. Oleh karena itu, ditunjukkan bahwa kota dewa Amon memiliki kekuatan politik yang sangat kuat, dan negara-negara di sekitarnya bersekutu dengannya, sehingga, ia adalah kota yang sulit ditaklukkan.
Niniwe seharusnya mengetahui dengan jelas tentang kekalahan Tebe, kota dewa Amon. Karena pada tahun 663 SM, pasukan Banipal raja Asyur menyerang kota dewa Amon dan menggunakan cara yang sangat brutal untuk memperlakukan para pemimpin dan orang-orang di antara mereka. Dari deskripsi nabi Nahum, dapat dilihat bahwa bayi-bayinyapun diremukkan di jalan-jalan, orang-orang membuang undi untuk memiliki para bangsawannya, dan pembesarnya dibelenggu dengan rantai, menunjukkan kekalahan tragis pada waktu itu.
Dalam ayat 3:11-13, Nahum menunjukkan bahwa Niniwe akan mengalami nasib yang sama dengan Tebe, kota dewa Amon, dan perlindungan mereka akan menjadi sama sekali tidak berguna, seperti buah ara yang matang, yang dapat jatuh digoyang tanpa banyak usaha masuk ke mulut orang-orang yang ingin memakannya. Ayat 3:14-17 lebih lanjut menggambarkan kegagalan Niniwe, meskipun dia bekerja sangat keras untuk meningkatkan semua aspek kekuatan, dalam hal jumlah, fasilitas, perdagangan, dan militer, dia menyiapkan kekuatan yang sangat hebat. Tetapi ketika serangan itu datang, hal-hal ini sama sekali tidak efektif, seolah-olah segerombolan belalang tiba-tiba terbang pergi, yang tidak tahu di mana mereka mendarat.
Dalam dua ayat terakhir, nabi Nahum menghela nafas bagi kekalahan Niniwe. Pemimpinnya seperti tertidur, tanpa respons apa pun, rakyatnya terserak diusir dan tidak ada yang mengumpulkan. Nabi Nahum menunjukkan bahwa semua ini adalah konsekuensi dari akumulasi tindak kekejaman Niniwe.
Renungkan:
Ketika kita diintimidasi oleh kekerasan dan dihantam oleh tindakan brutal, kita harus menjaga iman kita kepada Tuhan, orang jahat pasti akan mendapatkan pembalasan dari-Nya pada waktu yang Ia tentukan. Melalui kitab Nahum, kita mendapatkan penghiburan dan tetap memiliki pengharapan dalam situasi yang sulit.
Renungan pemahaman Kitab Nahum
Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain
Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Zefanya, Yoel, Mikha, Nahum ditulis oleh 潘仕楷 (Pān Shì Kǎi) yang dipublikasi pada bulan Juli 2020 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).
Renungan untuk Kalangan Kristen.
Iklan yang ada bukan milik blog ini, tetapi milik WordPress penyedia fasilitas blog tanpa biaya.