Tag Archives: Kitab Nahum

Nahum 3:8-19

「Engkau Lebih Baik dari Kota Dewa Amon?」
Oleh 潘仕楷 (Pān Shì Kǎi)
Alliance Bible Seminary H.K.

(Nahum 3:8-19 [ITB])
8 Adakah engkau lebih baik dari Tebe, kota dewa Amon, yang letaknya di sungai Nil, dengan air sekelilingnya, yang tembok kotanya adalah laut, dan bentengnya adalah air? 9 Etiopia adalah kekuatannya, juga Mesir, dengan tidak terbatas; Put dan orang-orang Libia adalah pembantunya. 10 Tetapi dia sendiripun terpaksa pergi ke dalam pembuangan, terpaksa masuk ke dalam tawanan. Bayi-bayinyapun diremukkan di ujung segala jalan; tentang semua orangnya yang dihormati dibuang undi, dan semua pembesarnya dibelenggu dengan rantai.
11 Engkaupun akan menjadi mabuk, akan menjadi tidak berdaya; engkaupun akan mencari tempat perlindungan terhadap musuh. 12 Segala kubumu adalah seperti pohon ara dengan buah ara yang masak duluan; jika diayunkan, maka jatuhlah buahnya ke dalam mulut orang yang hendak memakannya.
13 Sesungguhnya, laskar yang di tengah-tengahmu itu adalah perempuan-perempuan; pintu-pintu gerbang negerimu terbuka lebar-lebar untuk musuhmu; api telah memakan habis palang pintumu. 14 Timbalah air menghadapi pengepungan, perkuatlah kubu-kubumu! Pijaklah lumpur, injaklah tanah liat, peganglah acuan batu bata!
15 Di sana api akan memakan engkau habis, pedang akan membabat engkau, akan memakan engkau seperti belalang pelompat. Sekalipun engkau berjumlah besar seperti belalang pelompat, berjumlah besar seperti belalang pindahan, 16 sekalipun kauperbanyak orang-orang dagangmu lebih dari bintang-bintang di langit, seperti belalang pelompat mereka mengembangkan sayap dan terbang menghilang. 17 Sekalipun para penjagamu seperti belalang pindahan dan para pegawaimu seperti kawanan belalang, yang hinggap pada tembok-tembok pada waktu dingin, namun jika matahari terbit, mereka lari menghilang, tidak ketahuan tempatnya.
18 Celaka! Alangkah terlelapnya para gembalamu, hai raja negeri Asyur! Para pemukamu tertidur, laskarmu berserak-serak di gunung-gunung, dan tidak ada yang mengumpulkan. 19 Tiada pengobatan untuk cederamu, lukamu tidak tersembuhkan. Semua orang yang mendengar tentang engkau bertepuk tangan karena engkau; sebab kepada siapakah tidak tertimpa perbuatan jahatmu terus-menerus?

Dalam paragraf terakhir ini, nabi Nahum menggunakan peristiwa yang mungkin terjadi tidak lama dalam sejarah untuk lebih jelas menunjukkan bahwa tidak ada kekuatan yang dapat melakukan perlawanan saat penghakiman Allah datang.

Kota dewa Amon, juga dikenal sebagai Tebe, adalah ibu kota kerajaan Mesir kuno di bagian selatan, yang terletak di hulu Sungai Nil. Dia terletak di kedua tepi Sungai Nil, dengan sebuah kanal dibangun mengalir melalui kota, jadi nabi Nahum menjelaskan bahwa ada air di sekeliling kota, membentuk perlindungan alami. Dalam versi CUV-R, laut digambarkan sebagai benteng dan tembok pertahanan kota, sebenarnya yang digambarkan itu adalah saluran Sungai Nil yang luas. Karena penghalang alami ini, sulit bagi musuh untuk menyerangnya walau menggunakan sejumlah besar tentara dan kuda.

Selain perlindungan alami Tebe kota dewa Amon ini, ayat 3:9 menunjukkan bahwa ia juga memiliki banyak bantuan dari aliansi diplomatik, memiliki hubungan baik dengan negara-negara di sekelingnya. Cush adalah orang Ethiopia modern, ia dan Mesir membentuk utara dan selatan kota dewa Amon. Identitas orang Put relatif tidak pasti, tetapi mereka mungkin orang-orang dari Somalia modern, berada di timur kota dewa Amon. Di sebelah barat kota dewa Amon terdapat orang-orang Lubim seharus menjadi Libya saat ini. Oleh karena itu, ditunjukkan bahwa kota dewa Amon memiliki kekuatan politik yang sangat kuat, dan negara-negara di sekitarnya bersekutu dengannya, sehingga, ia adalah kota yang sulit ditaklukkan.

Niniwe seharusnya mengetahui dengan jelas tentang kekalahan Tebe, kota dewa Amon. Karena pada tahun 663 SM, pasukan Banipal raja Asyur menyerang kota dewa Amon dan menggunakan cara yang sangat brutal untuk memperlakukan para pemimpin dan orang-orang di antara mereka. Dari deskripsi nabi Nahum, dapat dilihat bahwa bayi-bayinyapun diremukkan di jalan-jalan, orang-orang membuang undi untuk memiliki para bangsawannya, dan pembesarnya dibelenggu dengan rantai, menunjukkan kekalahan tragis pada waktu itu.

Dalam ayat 3:11-13, Nahum menunjukkan bahwa Niniwe akan mengalami nasib yang sama dengan Tebe, kota dewa Amon, dan perlindungan mereka akan menjadi sama sekali tidak berguna, seperti buah ara yang matang, yang dapat jatuh digoyang tanpa banyak usaha masuk ke mulut orang-orang yang ingin memakannya. Ayat 3:14-17 lebih lanjut menggambarkan kegagalan Niniwe, meskipun dia bekerja sangat keras untuk meningkatkan semua aspek kekuatan, dalam hal jumlah, fasilitas, perdagangan, dan militer, dia menyiapkan kekuatan yang sangat hebat. Tetapi ketika serangan itu datang, hal-hal ini sama sekali tidak efektif, seolah-olah segerombolan belalang tiba-tiba terbang pergi, yang tidak tahu di mana mereka mendarat.

Dalam dua ayat terakhir, nabi Nahum menghela nafas bagi kekalahan Niniwe. Pemimpinnya seperti tertidur, tanpa respons apa pun, rakyatnya terserak diusir dan tidak ada yang mengumpulkan. Nabi Nahum menunjukkan bahwa semua ini adalah konsekuensi dari akumulasi tindak kekejaman Niniwe.

Renungkan:
Ketika kita diintimidasi oleh kekerasan dan dihantam oleh tindakan brutal, kita harus menjaga iman kita kepada Tuhan, orang jahat pasti akan mendapatkan pembalasan dari-Nya pada waktu yang Ia tentukan. Melalui kitab Nahum, kita mendapatkan penghiburan dan tetap memiliki pengharapan dalam situasi yang sulit.


Renungan pemahaman Kitab Nahum

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Zefanya, Yoel, Mikha, Nahum ditulis oleh 潘仕楷 (Pān Shì Kǎi) yang dipublikasi pada bulan Juli 2020 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Iklan yang ada bukan milik blog ini, tetapi milik WordPress penyedia fasilitas blog tanpa biaya.

Nahum 3:1-7

「Celakalah Kota Penumpah Darah itu!」
Oleh 潘仕楷 (Pān Shì Kǎi)
Alliance Bible Seminary H.K.

(Nahum 3:1-7 [ITB])
1 Celakalah kota penumpah darah itu! Seluruhnya dusta belaka, penuh dengan perampasan, dan tidak henti-hentinya penerkaman! 2 Dengar, lecut cambuk dan derak-derik roda! Dengar, kuda lari menderap, dan kereta meloncat-loncat! 3 Pasukan berkuda menyerang, pedang bernyala-nyala dan tombak berkilat-kilat! Banyak yang mati terbunuh dan bangkai bertimbun-timbun! Tidak habis-habisnya mayat-mayat, orang tersandung jatuh pada mayat-mayat! 4 Semuanya karena banyaknya persundalan si perempuan sundal, yang cantik parasnya dan ahli dalam sihir, yang memperdayakan bangsa-bangsa dengan persundalannya dan kaum-kaum dengan sihirnya.

5 Lihat, Aku akan menjadi lawanmu, demikianlah firman TUHAN semesta alam; Aku akan mengangkat ujung kainmu sampai ke mukamu dan akan memperlihatkan auratmu kepada bangsa-bangsa dan kemaluanmu kepada kerajaan-kerajaan. 6 Aku akan melemparkan barang keji ke atasmu, akan menghina engkau dan akan membuat engkau menjadi tontonan. 7 Maka semua orang yang melihat engkau akan lari meninggalkan engkau serta berkata: Niniwe sudah rusak! Siapakah yang meratapi dia? Dari manakah aku akan mencari penghibur-penghibur untuk dia?

Paragraf ini adalah lagu ratapan yang ironis: pertama-tama adalah pengumuman yang bersifat helaan napas sedih, kemudian melanjutkan dengan menunjukkan objek helaan napas berkabung itu dan gugatan terhadapnya, ayat 2-3 menggambarkan bencana yang akan mereka alami, dan ayat 4 sekali lagi menunjukkan alasan hukuman. Terakhir, dalam ayat 5-7, penghakiman TUHAN (Yahweh) disampaikan dalam sebutan orang pertama (“Aku”).

Di sini Niniwe disebut kota penumpah darah, mencerminkan sejarah agresi brutalnya. Gugatan nabi Nahum terhadapnya bukan hanya sekadar tentang penindasan yang dilakukannya, perampasan dan penjarahan, tetapi terlebih menunjukkan bahwa hal-hal ini terus-menerus, membanjir, dan tak ada habisnya, menunjukkan bahwa kejahatan mereka bukan insiden satu peristiwa individual, tetapi tindakan mereka yang berulang. Kota pertumpahan darah, ketika dia sedang kuat, mungkin berpikir dirinya tidak terkalahkan dan semuanya berjalan lancar. Karena penipuan dan perampasan terhadap orang lain, ia bisa kaya untuk sementara waktu. Tetapi di bawah penghakiman yang adil dan benar dari Allah, dia akhirnya tidak bisa menghindari bencana yang akan datang ini.

Penghakiman yang TUHAN akan bawakan kepada mereka adalah persis apa yang mereka lakukan kepada orang lain ketika mereka menjarah dan merampas bangsa-bangsa. Ini menunjukkan bahwa penghakiman Allah itu adil dan benar. Ayat 3:2-3 menggunakan serangkaian frasa kata benda untuk dengan beruntun dan cepat menyebutkan hal-hal yang akan terjadi pada Niniwe, sehingga pembaca dapat merasakan desakan dan urgensi kedatangan penghakiman itu, tidak dapat melarikan diri tidak dapat menghindar.

Ayat 3:5, TUHAN sekali lagi menggunakan ekspresi yang sama yang digunakan dalam ayat 2:13, dengan wibawa menyatakan bahwa Dia, TUHAN (Tuan) semesta alam, dan Dia akan menyingkapkan penghinaan mereka di depan semua orang, mereka akan dipandang buruk dan ditolak di antara bangsa-bangsa. Di sini kita melihat bahwa mereka yang tidak benar dan menindas tidak hanya telah melanggar manusia, terlebih artinya mereka menentang Allah dan memberontak terhadap hukum yang Allah tuntut di dunia ini. Konsekuensi utama adalah untuk menimbulkan permusuhan dengan Allah. Sampai tahap itu, tidak ada lagi kekuatan yang dapat menolong, tidak ada cara untuk menghindari konsekuensi untuk menerima penghakiman, dan tidak ada yang akan bersimpati kepadanya.

Dalam kalimat terakhir dari ayat 3:7, nabi Nahum berkeluh menyampaikan pertanyaan ironis: Dari manakah aku akan mencari penghibur-penghibur untuk dia? Penghiburan adalah arti nama Nahum. Dalam kitab Nahum, Yehuda yang diinvasi oleh Niniwe dapat melihat hari-hari penghiburan. Tetapi sang agresor tidak dapat menemukan siapa pun untuk menghiburnya ketika dia menerima penghakiman sendiri.

Renungkan:
Kerajaan Asyur dengan Niniwe sebagai ibukotanya adalah bagian dari masa lalu, tetapi sayangnya, insiden penjarahan, perampasan dan kekerasan ini terus berulang dalam sejarah. Ada yang terjadi di tingkat nasional dan suku bangsa, dan banyak terjadi pada individu atau kelompok. Di bawah tekanan-tekanan ini, apakah kita masih percaya pada keadilan Tuhan, percaya bahwa Dia adalah Tuhan yang anti kejahatan dan yang mengadakan pembalasan, dan bagaimana bisa dihiburkan di dalam Dia?


Renungan pemahaman Kitab Nahum

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Zefanya, Yoel, Mikha, Nahum ditulis oleh 潘仕楷 (Pān Shì Kǎi) yang dipublikasi pada bulan Juli 2020 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Iklan yang ada bukan milik blog ini, tetapi milik WordPress penyedia fasilitas blog tanpa biaya.

Nahum 2:3-13

「Akhir dari Melawan TUHAN」
Oleh 潘仕楷 (Pān Shì Kǎi)
Alliance Bible Seminary H.K.

(Nahum 2:3-13 [ITB])
3 Perisai para pahlawannya berwarna merah, prajuritnya berpakaian kirmizi; kereta berkilat-kilat seperti api suluh pada hari ia melengkapinya, dan kuda-kuda penuh gelisah. 4 Kereta melaju galak di jalan, kejar-mengejar di lapangan; kelihatannya seperti suluh, berpacu seperti kilat. 5 Pasukan-pasukan istimewa dikerahkan, mereka tersandung jatuh di waktu berjalan maju; mereka lari terburu-buru ke arah tembok kota, sedang alat pendobrak sudah ditegakkan. 6 Pintu-pintu di sungai-sungai telah dibuka, dan istana menjadi gempar. 7 Permaisuri dibawa ke luar dan ditelanjangi dan dayang-dayangnya mengerang, mengaduh seperti suara merpati sambil memukul-mukul dada. 8 Niniwe sendiri seperti kolam air yang airnya mengalir ke luar. 「Berhenti! Berhenti!」 teriak orang, tetapi tidak ada yang berpaling. 9 Jarahlah perak, jarahlah emas! Sebab tidak berkesudahan persediaan harta benda, kelimpahan segala barang yang indah-indah! 10 Ketandusan, penandusan dan penindasan! Hati menjadi tawar dan lutut goyah! Segenap pinggang gemetar, dan muka sekalian orang menjadi pucat pasi.

11 Di mana gerangan persembunyian singa dan gua singa-singa muda, tempat singa pulang pergi, tempat anak singa, di mana tidak ada yang mengganggunya? 12 Biasanya singa itu menerkam supaya cukup makan anak-anaknya, mencekik mangsa bagi betina-betinanya, dan memenuhi liangnya dengan mangsa dan persembunyiannya dengan terkaman. 13 Lihat, Aku akan menjadi lawanmu, demikianlah firman TUHAN semesta alam, Aku akan membakar keretamu menjadi asap, dan pedang akan memakan habis singa mudamu; Aku akan melenyapkan mangsamu dari atas bumi, dan suara utusan-utusanmu tidak akan terdengar lagi.

Perikop ini dapat dibagi menjadi dua bagian, 2:3-10 mungkin merupakan bagian lain tentang Niniwe mengalami serangan, yang dengan sangat terperinci menggambarkan berbagai aspek pertempuran yang terjadi. Selanjutnya, 2:11-13 menggunakan singa sebagai metafora, yang merupakan refleksi atas kehancuran yang dialami Niniwe.

Meskipun Kitab Suci tidak secara jelas menunjukkan identitas penyerang, konten yang dijelaskan dalam 2:3-4 tampaknya menunjuk pada tentara yang sebenarnya, bukan prajurit spiritual, karena perlengkapannya terdiri dari perisai, senjata, dan kereta, juga pakaian merah kirmizi yang dikenakan oleh pasukan istimewa, sangat sesuai dengan kondisi para prajurit yang sesungguhnya. Dalam sejarah, apa yang dijelaskan di sini mungkin adalah pasukan Babel.

Dalam 2:5, raja Asyur tampaknya berusaha mengumpulkan pembesarnya untuk melawan pasukan penyerang, walaupun mereka mencoba untuk bertahan, mereka tersandung, pintu-pintu gerbang tembok pertahanan di sungai penghalang, dan fasilitas pertahanan lainnya awalnya merupakan kekuatan pertahanan yang sangat hebat, tetapi semuanya satu per satu tidak berguna. Beberapa sejarawan Yunani berpendapat bahwa Niniwe dibobol pertahanannya karena air sungai menghantam roboh tembok kota, tetapi arkeologi modern menemukan bahwa tembok kota Niniwe tidak rusak, dan pasukan penyerang terutama menyerang dan masuk melalui dua gerbang kota sehingga mengalahkan kekuatan pertahanan (sesuai ayat 5-6). Ayat 2:7 menggambarkan ini sebagai hal yang ditetapkan, menyiratkan bahwa ini adalah penghakiman yang dinubuatkan oleh TUHAN.

Ayat 2:8 adalah penyebutan pertama Niniwe setelah disebutkan di ayat 1:1, membandingkan kekuatannya dahulu dengan situasi kekalahan pada saat ini. Meskipun awalnya ia penuh dengan penduduk, mencerminkan kekuatan militer, tetapi dalam pertempuran ini mereka semua melarikan diri. Walaupun pemimpinnya terus mengeluarkan perintah untuk menghentikan mereka melarikan diri, tetapi tidak ada yang berbalik.

Di ayat 2:10, nabi Nahum menggambarkan akhir dari perang tersebut. Dari segi kota, kota itu menjadi ketandusan, penandusan, penindasan, sepi, dan benar-benar reruntuhan. Dari segi penduduk di dalamnya, hati orang-orang menjadi tawar ketakutan, lutut goyah, pinggang gemetar, dan muka sekalian orang berubah menjadi pucat pasi, mencerminkan kegagalan mereka, benar-benar tak berdaya di depan musuh.

Ayat 2:11-12 beralih dari deskripsi perang berpindah kepada gambaran metaforis. Persembunyian singa dan gua singa jelas merupakan metafora atas Niniwe, yang berpikir dirinya bisa tenang dan membiarkan anak-anaknya menikmati hasil pemburuannya. Ini adalah penggambaran yang sangat tepat atas Niniwe, karena kemakmuran kerajaan Asyur didasarkan pada invasinya terhadap kerajaan lain, mengalahkan banyak negara, membuat mereka menyerah pada kekuasaannya, dan menawarkan upeti harta yang menjadikan Niniwe tempat yang terkaya pada saat itu. Tetapi segera setelah gambaran ini, dalam ayat 2:13 TUHAN melalui nabi Nahum menunjukkan bahwa Dia akan menjadi musuh baginya, sehingga ia yang awalnya kuat itu akan ditelan hancur.

Penyebab utama kematian Niniwe adalah penghakiman TUHAN kepadanya. Dan Tuhan yang mengumumkan penghakiman ini adalah TUHAN semesta alam. Dia adalah penguasa seluruh bumi dan Allah yang mengendalikan segalanya. Di hadapan-Nya, tidak ada yang bisa berdiri, dan tidak ada kekuatan yang bisa membandingkan diri dengan Dia.

Renungkan:
Hasil melawan Tuhan adalah pasti gagal. Mohon Tuhan mengokohkan kita agar kita dapat berdiri teguh di depan kekuatan jahat.


Renungan pemahaman Kitab Nahum

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Zefanya, Yoel, Mikha, Nahum ditulis oleh 潘仕楷 (Pān Shì Kǎi) yang dipublikasi pada bulan Juli 2020 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Iklan yang ada bukan milik blog ini, tetapi milik WordPress penyedia fasilitas blog tanpa biaya.

Nahum 1:15-2:2

「Kabar Gembira Pemulihan」
Oleh 潘仕楷 (Pān Shì Kǎi)
Alliance Bible Seminary H.K.

(Nahum 1:15-2:2 [ITB])
1:15 Lihatlah! Di atas gunung-gunung berjalan orang yang membawa berita, yang mengabarkan berita damai sejahtera. Rayakanlah hari rayamu, hai Yehuda, bayarlah nazarmu! Sebab tidak akan datang lagi orang dursila menyerang engkau; ia telah dilenyapkan sama sekali!

2:1 Pembongkar maju terhadap engkau; adakan penjagaan di benteng, mengintailah di jalan, ikatlah pinggangmu teguh-teguh, kumpulkanlah segala kekuatan!

2 Sungguh, TUHAN memulihkan kebanggaan Yakub, seperti kebanggaan Israel; sebab perusak telah merusakkannya dan telah membinasakan carang-carangnya.

Referensi ayat 2:2 Hai Niniwe, dengarkanlah! Yang mau merusak engkau telah datang! Jagalah benteng-benteng pertahanan! Awasilah jalan! Bersiaplah untuk berperang (BIMK)

Meskipun pesan utama kitab Nahum adalah menyatakan kekalahan dan kehancuran Niniwe, tetapi paragraf ini dengan jelas menunjukkan fungsi dari pesan kitab ini, yaitu untuk menghibur Yehuda, menunjukkan bahwa orang jahat yang menindas mereka akan dihancurkan. Pesan dalam paragraf ini sangat mirip dengan Yes. 40:9 dan Yes. 52:7 di mana kabar baik yang diberitakan itu adalah terkait mengenai jatuhnya Babel dan pemulihan Yehuda, dan di sini pesan Nahum adalah terkait dihancurkannya Niniwe. Dalam tiga ayat pendek ini, sepenuhnya mengungkapkan kegembiraan yang ingin disampaikan oleh nabi Nahum, dan itu juga mencerminkan harapan yang sangat besar dari orang-orang tertindas terhadap keselamatan .

Ayat 1:15 membentuk peralihan yang sangat kuat. Ayat-ayat sebelumnya diarahkan pada musuh, mengumumkan penghakiman dari TUHAN yang penuh kuasa, dan dalam ayat ini tiba-tiba dan secara langsung berseru kepada Yehuda, ini adalah yang pertama kali sebuah nama tempat muncul setelah muncul di 1:1, mungkin karena alasan ini sehingga tradisi manuskrip Alkitab Ibrani menyusun ayat ini sebagai ayat 1 dari pasal 2, yang mencerminkan penekanan atas peralihan ini.

Di situasi tertekan dalam jangka panjang, kabar baik damai sejahtera membawakan terobosan yang mengejutkan, ini patut menjadi perhatian. Maka nabi Nahum membawakan pengumumannya dengan Lihatlah, dan menunjukkan bahwa berita itu harus disebarkan di gunung, di jalan, dan secara luas disebarkan ke seluruh wilayah. Ini adalah berita yang membuat orang penuh keceriaan. Dalam pesan yang berseru secara langsung kepada Yehuda, secara khusus ditekankan bahwa mereka harus merayakan hari raya mereka, dan membayar nazar mereka. Ini adalah perintah yang mereka terima ketika mereka mengadakan perjanjian dengan TUHAN (Yahweh) dan menjadi umat milik-Nya. Ini mencerminkan tata nilai yang harus dimiliki umat Allah, setelah mengalami kebangunan rohani, itu bukan merayakan hidup diri sendiri, tetapi di hadapan Tuhan merasakan terima kasih dan penyembahan.

Kalimat terakhir dari ayat 1:15 menunjukkan bahwa Sebab tidak akan datang lagi orang dursila menyerang engkau; ia telah dilenyapkan sama sekali, orang jahat tidak akan lagi menyerang, ia sudah binasa. Dalam situasinya pada saat itu, orang dursila jahat itu dengan jelas merujuk ke kekaisaran Asyur, sehingga beberapa terjemahan menerjemahkan kata itu sebagai Asyur yang jahat. Tetapi kata ini juga bisa merujuk pada kekuatan jahat apa pun. Dalam Perjanjian Baru 2 Korintus 6:15, rasul Paulus mengatakan Persamaan apakah yang terdapat antara Kristus dan Belial? … Nama Belial yang disebutkan rasul Paulus itu adalah bunyi transliterasi dari kata dursila (beliyya’al) di ayat 1:15 ini. Karena itu, apa yang diumumkan di sini dapat menubuatkan pengampunan dan pembebasan dosa dalam Injil Yesus Kristus.

Ayat 2:1-2 membentuk kontras yang kuat. Ayat 2:1 tampaknya menunjuk pada Niniwe yang akan mengalami pukulan kuat. Bahkan mungkin ada maksud sindiran ironis di sini, karena Asyur telah menjadi agresor untuk waktu yang lama, tetapi di sini ada perubahan peran, mereka akan diserang, perlu mempersiapkan pertahanan, dan akhirnya akan dihancurkan.

Ayat 2: 2 jelas lebih terkait dengan 1:15, menyatakan alasan seruan kepada Yehuda adalah bahwa TUHAN (Yahweh) akan mengembalikan kemuliaan Yakub dan Israel sehingga mereka dapat kembali ke kemegahan yang dijanjikan Tuhan kepada mereka. Ini juga dapat menyiratkan bahwa dalam proses kebangkitan dan pemulihan, kedua kerajaan Utara dan Selatan yang terpecah itu sama-sama akan menerima rahmat dari TUHAN. Demikian pula, ketika orang percaya hari ini mengalami keselamatan Tuhan, mereka juga akan menerima rahmat Tuhan bersama dengan seluruh komunitas orang percaya dan menjadi umat Allah yang bersatu.

Renungkan:
Bagaimana kita bereaksi terhadap Injil yang membebaskan kita dari kuasa kegelapan? Apakah kita dengan senang hati berbagi dengan orang lain dan memberitakan Injil perdamaian ini?


Renungan pemahaman Kitab Nahum

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Zefanya, Yoel, Mikha, Nahum ditulis oleh 潘仕楷 (Pān Shì Kǎi) yang dipublikasi pada bulan Juli 2020 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Iklan yang ada bukan milik blog ini, tetapi milik WordPress penyedia fasilitas blog tanpa biaya.

Nahum 1:9-14

「Musuh Tidak Bangkit Lagi」
Oleh 潘仕楷 (Pān Shì Kǎi)
Alliance Bible Seminary H.K.

(Nahum 1:9-14 [ITB])
9 Apakah maksudmu menentang TUHAN? Ia akan menghabisi sama sekali; kesengsaraan tidak akan timbul dua kali! 10 Sebab merekapun akan lenyap seperti duri yang berjalin-jalin, dimakan habis seperti jerami kering. 11 Bukankah dari padamu muncul orang yang merancang kejahatan terhadap TUHAN, orang yang memberi nasihat dursila?

12 Beginilah firman TUHAN: Sekalipun mereka utuh dan begitu banyak jumlahnya, tetapi mereka akan hilang terbabat dan mati binasa; sekalipun Aku telah merendahkan engkau, tetapi Aku tidak akan merendahkan engkau lagi. 13 Sekarang, Aku akan mematahkan gandarnya yang memberati engkau, dan akan memutuskan belenggu-belenggu yang mengikat engkau.

14 Terhadap engkau, inilah perintah TUHAN: Tidak akan ada lagi keturunan dengan namamu. Dari rumah allahmu Aku akan melenyapkan patung pahatan dan patung tuangan; kuburmu akan Kusediakan, sebab engkau hina.

Dalam perikop ini, nabi Nahum dengan cepat mengalihkan pihak tertuju dari pemberitaannya, namun ia tidak secara jelas menunjukkan siapa pihak yang menjadi objek pengumuman itu. Karena itu, kita hanya dapat memutuskan berdasarkan perkiraan, dan melihat apakah pihak itu baik atau buruk sesuai dengan isi tulisan Kitab Suci. Terjemahan mandarin CUV-R secara ketat mengikuti cara ekspresi teks bahasa asli untuk menghindari penerjemahan yang mengandung perkiraan kepada siapa objek tertuju dari pengumuman ini (juga ITB Apakah maksudmu menentang TUHAN? …) . Namun, CUV melampirkan penjelasan ini pada terjemahannya (Apakah yang sedang kaupikirkan untuk melawan TUHAN, hai Niniwe? …), menandai ayat 9-12a sebagai pernyataan kepada Niniwe, ayat 12b dan 13 adalah pesan menghibur tertuju kepada Yehuda, dan ayat 14 beralih kembali sebagai pengumuman penghakiman tertuju kepada Niniwe. Meskipun penjelasan ini tidak tertulis secara langsung dalam teks bahasa aslinya, namun merupakan perkiraan yang cukup akurat berdasarkan makna seluruh konten dan layak menjadi referensi.

Ada sarjana peneliti Alkitab yang berpendapat bahwa karena tidak tertulis secara jelas adanya perubahan dalam objek pihak sehingga mereka menafsirkan bahwa seluruh paragraf sebagai pernyataan kepada Niniwe, dan melihat kalimat terakhir dari ayat 12 sebagai ringkasan dari penghakiman tersebut. Serta menunjukkan bahwa ini adalah penghukuman yang bersifat satu kali yang membuat Niniwe tidak bisa bangkit lagi, jadi di ayat 9 … Ia akan menghabisi sama sekali; kesengsaraan tidak akan timbul dua kali … , bahwa musuh tidak akan bangkit lagi dipakai sebagai konsep untuk memahami kesengsaraan tidak akan timbul dua kali, berarti satu pukulan hukuman telah menyelesaikan tujuannya, dan tidak perlu menderita sengsara untuk kedua kalinya (bandingkan pemahaman dalam terjemahan FAYH Apakah yang sedang kaupikirkan untuk melawan TUHAN, hai Niniwe? Ia akan mencegah kamu hanya dengan satu pukulan saja; Ia tidak perlu memukulmu dua kali). Tetapi frasa kesengsaraan tidak akan timbul dua kali lebih merupakan pesan yang menghibur, sehingga lebih tepat ditujukan kepada Yehuda seperti pemahaman dalam terjemahan CUV.

(Tambahan dari penerjemah renungan: terjemahan harfiah bentuknya lebih mirip ekspresi bahasa asli namun lebih sulit dipahami, sedangkan terjemahan fungsional lebih mudah dipahami namun tidak selalu bisa sepenuhnya mencakup makna yang terkandung dan membawa tafsiran tim penerjemah. Masing-masing memberikan referensi dan memperkaya pemahaman kita.)

Dalam pengumuman menentang Niniwe, nabi Nahum menunjukkan bahwa rancangan yang ingin menyerang TUHAN (Yahweh) akan dikalahkan. Ada dua kemungkinan untuk situasi yang dijelaskan dalam ayat 9 dan 11: pertama adalah pada masa pemerintahan Hizkia, ketika raja Sanherib dari Asyur melancarkan serangan terhadap Yehuda pada tahun 701 SM. Meskipun ia memiliki strategi serta kekuatan yang baik dan cukup, tetapi di mata TUHAN, mereka pasti akan kalah. Jika ini adalah pemahaman yang benar, kita dapat melihat dari 2 Raj. 19:35 bahwa TUHAN secara ajaib dalam sekejap memusnahkan pasukan Asyur dalam semalam. Pada waktu itu, malaikat TUHAN keluar dan membunuh 185.000 orang di kamp Asyur. Ada orang bangun pagi-pagi dan melihat dalam satu pandangan bahwa semuanya mati. Karena kekalahan ini, invasi Sanherib yang menghancurkan 46 kota di Yehuda, tidak hanya pulang dengan tangan hampa, tetapi bahkan menderita banyak kerugian, menyebabkan kekuatan Asyur yang berada dalam masa kejayaannya sejak itu memasuki proses kehancuran.

Kemungkinan lain adalah secara lebih samar menunjukkan pada periode ketika Asyur menguasai wilayah Timur Dekat Kuno, yakni dari akhir abad 8 SM hingga akhir abad 7 SM. Selama periode ini, meskipun Yehuda adalah negara merdeka, tetapi ia berada di bawah kendali Asyur, dan pada masa pemerintahan Yosia barulah ia dapat melepaskan diri dari kendali Asyur.

Dalam ayat 12b dan 13 memperlihatkan bahwa pesan ini adalah bagi Yehuda. TUHAN (Yahweh) akan mematahkan kuk yang dikenakan Niniwe pada mereka, membuka tali yang mengikat mereka, dan membuat mereka bebas kembali. Manapun yang dimaksudkan nabi Nahum apakah merujuk pada peristiwa di tahun-tahun Hizkia atau pengalaman Yosia, namun kita bisa melihat keselamatan TUHAN (Yahweh) kepada umat-Nya.

Renungkan:
Apa pun situasi yang kita hadapi, kita harus percaya bahwa Tuhan adalah pemegang kekuasaan tertinggi, mohon Tuhan memberi kita iman dan mendapatkan penghiburan di dalam Dia.


Renungan pemahaman Kitab Nahum

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Zefanya, Yoel, Mikha, Nahum ditulis oleh 潘仕楷 (Pān Shì Kǎi) yang dipublikasi pada bulan Juli 2020 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Iklan yang ada bukan milik blog ini, tetapi milik WordPress penyedia fasilitas blog tanpa biaya.

Nahum 1:1-8

「Allah yang Cemburu dan Pembalas kepada Musuh-Nya」
Oleh 潘仕楷 (Pān Shì Kǎi)
Alliance Bible Seminary H.K.

(Nahum 1:1-8 [ITB])
1 Ucapan ilahi tentang Niniwe. Kitab penglihatan Nahum, orang Elkosh.

2 TUHAN itu Allah yang cemburu dan pembalas, TUHAN itu pembalas dan penuh kehangatan amarah. TUHAN itu pembalas kepada para lawan-Nya dan pendendam kepada para musuh-Nya. 3 TUHAN itu panjang sabar dan besar kuasa, tetapi Ia tidak sekali-kali membebaskan dari hukuman orang yang bersalah. Ia berjalan dalam puting beliung dan badai, dan awan adalah debu kaki-Nya. 4 Ia menghardik laut dan mengeringkannya, dan segala sungai dijadikan-Nya kering. Basan dan Karmel menjadi merana dan kembang Libanon menjadi layu. 5 Gunung-gunung gemetar terhadap Dia, dan bukit-bukit mencair. Bumi menjadi sunyi sepi di hadapan-Nya, dunia serta seluruh penduduknya. 6 Siapakah yang tahan berdiri menghadapi geram-Nya? Dan siapakah yang tahan tegak terhadap murka-Nya yang bernyala-nyala? Kehangatan amarah-Nya tercurah seperti api, dan gunung-gunung batu menjadi roboh di hadapan-Nya.

7 TUHAN itu baik; Ia adalah tempat pengungsian pada waktu kesusahan; Ia mengenal orang-orang yang berlindung kepada-Nya 8 dan menyeberangkan mereka pada waktu banjir. Ia menghabisi sama sekali orang-orang yang bangkit melawan Dia, dan musuh-Nya dihalau-Nya ke dalam gelap.

Dalam enam hari ke depan, kita akan merenungkan pesan dari kitab Nahum. Meskipun dalam kitab Nahum tidak secara jelas diungkapkan waktu penulisan kitab ini, tetapi karena ada dua tanda sejarah dalam kitab ini, sehingga kita dapat secara kasar menentukan kapan kitab ini ditulis. Di satu sisi, ayat 1:1 menunjukkan bahwa kitab ini adalah ucapan ilahi tentang Niniwe, dan juga menubuatkan kehancuran Niniwe, jadi kitab ini seharusnya ditulis sebelum Niniwe jatuh pada tahun 612 SM. Di sisi lain, dalam 3:8-10 mengambil kehancuran No-Ammon kota dewa Amon sebagai contoh, jadi kitab ini seharusnya ditulis setelah kehancuran kota No-Ammon pada 663 SM. Karena itu, Nahum dituliskan kira-kira paruh kedua abad ketujuh SM, yang menubuatkan kehancuran kerajaan Asyur yang pemerintahannya mencakup Niniwe.

Di antara ke-12 kitab Nabi-nabi, kitab Nahum terkait erat dengan kitab Yunus, kedua kitab itu terkait dengan masa depan Niniwe. Dalam kitab Yunus, Niniwe mengalami kasih karunia Allah yang penuh kasih karena pertobatannya, tetapi dalam kitab Nahum, Niniwe menghadapi penghakiman TUHAN (Yahweh). Kitab Yunus dan Nahum dalam terjemahan Yunani kuno ditempatkan di posisi tengah ke-12 kitab Nabi-nabi yakni keenam dan ketujuh, tidak hanya menghubungkan dua kitab, bahkan menjadikan mereka sebagai pusat dari ke-12 kitab Nabi-nabi.

Dalam beberapa ayat di pembukaan kitab ini, penulis kitab menggunakan bentuk puisi untuk menggambarkan penghakiman TUHAN (Yahweh) yang berkuasa besar. Puisi ini adalah pengantar teologis dari kitab ini, menunjukkan bahwa kuasa TUHAN lebih dari kekuatan alam atau politik apapun, Dia pasti akan membalas musuh, dan agar mereka yang percaya bersandar pada-Nya mendapatkan penghiburan. Dalam ayat 2, nabi Nahum tiga kali mengulangi kata pembalas pemberian hukuman yang setimpal, kata ini biasanya digunakan dalam bahasa terkait tentang perjanjian, menunjukkan bahwa TUHAN dan umat milik-Nya berada di pihak yang sama, musuh umat-Nya adalah musuh-Nya, jadi Dia akan mengadakan pembalasan kepada musuh umat-Nya. Dalam ayat 3, Nahum mengutip bagian kedua dari Keluaran 34:6-7 (… TUHAN, TUHAN, Allah penyayang dan pengasih, panjang sabar, berlimpah kasih-Nya dan setia-Nya, yang meneguhkan kasih setia-Nya kepada beribu-ribu orang, yang mengampuni kesalahan, pelanggaran dan dosa; tetapi tidaklah sekali-kali membebaskan orang yang bersalah dari hukuman, yang membalaskan kesalahan bapa kepada anak-anaknya dan cucunya, kepada keturunan yang ketiga dan keempat), dengan penuh kekuatan menunjukkan bahwa walaupun TUHAN panjang sabar tetapi Dia pasti akan dengan kuasa besar menghukum kejahatan.

Dari ayat 3-5, Nahum menggambarkan manifestasi dari kuasa TUHAN dalam bahasa yang mirip dengan Baal penunggang awan mitologi Kanaan. Nabi Nahum menggunakan cara ini secara khusus untuk menekankan bahwa kuasa TUHAN tidak hanya melampaui kekuatan alam, yang melampaui apa yang dibayangkan manusia. Sehingga dalam ayat 6 menuliskan kesimpulan: Siapakah yang tahan berdiri menghadapi geram-Nya? Dan siapakah yang tahan tegak terhadap murka-Nya yang bernyala-nyala?

Ayat 7 adalah inti dari pesan ini dan merupakan pengingat utama kepada pembaca. Meskipun tema nubuat Nahum adalah terhadap kekuatan orang-orang asing, tetapi tujuan perhatian mendasarnya tetap adalah umat Allah. Ketika kita menghadapi desakan atau penindasan dari sekitar, kita harus tahu bahwa Allah adalah perlindungan dan jaminan kita, dan Ia juga akan menggunakan kuasa besar-Nya melakukan penghakiman kepada mereka yang menganiaya kita, sehingga kita mendapatkan penghiburan. Nama Nahum juga mengungkapkan makna penghiburan, dan mungkin mencerminkan peran kitab ini terhadap tema Penghakiman Niniwe.

Renungkan:
Di tengah segala macam desakan dan kesengsaraan, apakah kita yakin akan kebaikan Tuhan kita? Apakah kita menganggap kesetiaan Dia sebagai perlindungan dan jaminan kita?


Renungan pemahaman Kitab Nahum

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Zefanya, Yoel, Mikha, Nahum ditulis oleh 潘仕楷 (Pān Shì Kǎi) yang dipublikasi pada bulan Juli 2020 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Iklan yang ada bukan milik blog ini, tetapi milik WordPress penyedia fasilitas blog tanpa biaya.