Tag Archives: Teladan Iman

1 Kor. 4:16-17

Tujuan tunggal: kamu menjadi penurut teladan Kristus! Sama seperti saya!

Oleh Rev. Dr. Kiven Choy (蔡少琪)
Alliance Bible Seminary H.K.

(1 Kor. 4:16-17 [ITB])
16 Sebab itu aku menasihatkan kamu: turutilah teladanku!
17 Justru itulah sebabnya aku mengirimkan kepadamu Timotius, yang adalah anakku yang kekasih dan yang setia dalam Tuhan. Ia akan memperingatkan kamu akan hidup yang kuturuti dalam Kristus Yesus, seperti yang kuajarkan di mana-mana dalam setiap jemaat.
【Refrensi ayat dalam terjemahan literal】 1 Kor. 11:1 Jadilah peniruku, sama seperti aku peniru Kristus. (Be imitators of me, just as I also am of Christ.)

Dalam Surat 1 Korintus, Paulus menggunakan kata-kata nasihat, teguran, kata-kata tulus, dan teladannya sendiri untuk membimbing gereja Korintus yang dicintainya kembali ke jalan meniru teladan Kristus. Selama waktu ini, gereja Korintus telah memulai jalan yang salah dengan mengagumi kemuliaan sia-sia duniawi dan meremehkan salib Kristus. Karena itu, Paulus sangat sedih, dan hatinya terluka, ia menuliskan perasaan hati yang tulus dalam surat ini, walaupun ada berbagai ketegangan dengan gereja Korintus, tetapi gembala Paulus tidak mundur, bertekad untuk memulihkan gereja Korintus yang dia dirikan. Sebagai gembala pendiri gereja Korintus, keinginan dan tujuan penggembalaan Paulus adalah untuk membimbing mereka sepenuhnya di jalan mengasihi Kristus, meniru Kristus, dan memahami Injil salib Kristus. Dalam 1 Korintus 4:16 dan 11:1, Paulus mengatakan: aku menasihatkan kamu: turutilah teladanku, hendaklah kamu menurut teladanku, seperti aku menurut teladan Kristus. Rahasia pelayanan Paulus yaitu ia memberikan contoh teladan, memakai hidupnya untuk mengejar mengenal Kristus lebih dalam, untuk meniru Kristus lebih menyeluruh, dan untuk terus-menerus memupuk rekan kerja dan saudara-saudari yang bersedia untuk mencintai, mengenal dan meniru Kristus! Inilah pemuridan sejati dan juga teologi penggembalaan Paulus! Ini adalah mempraktikan Amanat Agung! Dalam 1 Korintus 4:16-17, dalam bentuk kalimat perintah Paulus tegas meminta jemaat Korintus untuk meniru dia! Dan Paulus menggunakan Timotius sebagai saksi, bagaimana dia melakukan ini di setiap gereja! Teologi pelayanan Paulus konsisten, dan tidak ada tipu muslihat (2 Korintus 12:16; 2 Korintus 1:18). Kata-kata, ajaran, dan perbuatan Paulus konsisten di mana-mana: mengajarkan ajaran Kristus, meniru teladan Kristus, menjadi teladan, dan memupuk pemuridan!

1 Kor. 4:16 terjemahan literal adalah maka, saya menasihati kamu sekalian: Jadilah peniru saya (I encourage you, then, be imitators of me), terjemahan literal 11:1 adalah jadilah peniru saya, seperti saya menjadi peniru Kristus (Be imitators of me, as I also of Christ.) Di antaranya frasa 3 kata bahasa Yunani mimetai mou ginesthe (jadilah peniru saya) sama dalam 4:16 dan 11:1. Kata ginesthe adalah jadilah (be) adalah kata kerja imperatif, perintah dan permintaan! Kata mou adalah saya (my), mimetai menjadi peniru (imitators). Merangkum dua ayat ini, kita dengan jelas melihat pengejaran kehidupan iman Paulus sendiri adalah meniru teladan Kristus, menjadi peniru Kristus, memakai seumur hidup untuk pengejaran yang tiada henti untuk lebih mengenal Kristus, makin seperti Kristus! Cara meniru teladan semacam ini bukan sekadar mirip dalam aspek keinginan atau pikiran, tetapi juga tidak takut kemiripan berbagai pengalaman dalam hidup! Dalam ungkapan yang saya suka: Paulus bersedia mengalami semua pengalaman buruk yang diterima Kristus! Maka, Paulus berkata: Yang kukehendaki ialah mengenal Dia dan kuasa kebangkitan-Nya dan persekutuan dalam penderitaan-Nya, di mana aku menjadi serupa dengan Dia dalam kematian-Nya (Filipi 3:10). Betapa pahit apa yang dialami Kristus, bagaimana melewati kesulitan dan penderitaan, kesalahpahaman orang, penolakan, fitnah, pengkhianatan, dan kematian tragis di kayu salib, Paulus bersedia mengalami semua itu! Peniru Kristus yang sejati: bersedia mengalami pengalaman Kristus! Pengejaran ini, dalam kehidupan yang singkat di bumi, mungkin sangat sulit, kasar, penuh air mata, dan rasa sakit, tetapi ini adalah kehidupan yang paling indah, mulia, dan memiliki nilai berharga yang kekal. Mereka yang berusaha menjadi peniru Kristus akan mendapatkan kemuliaan kekal, sangat berharga, tiada banding dan mahkota kebenaran (2 Kor. 4:17; 2 Tim. 4:8)!

Ayat 4:17 hidup yang kuturuti dalam Kristus Yesus di antaranya kata hidup dalam bahasa Yunani adalah hodos (jalan), di sini juga dapat diterjemahkan sebagai kata-kata, tindakan dan cara hidup. Terjemahan literal dari frasa pendek ini adalah jalan saya di dalam Kristus (my ways in Christ). Ungkapan di dalam Kristus berarti bahwa Paulus sepanjang hidupnya terbenam di dalam Kristus, ia mengejar pemahaman yang lebih dalam dan meniru Kristus sepanjang hidupnya, dan kata-kata serta perbuatannya sepanjang hidupnya harus seperti Kristus! Ini adalah pengejaran Paulus dan teladan yang ia berikan, dan ini juga merupakan kesaksian yang hendak dibawakan oleh Timotius putra rohaninya yang terkasih untuk dibagikan kepada gereja Korintus! Paulus menggunakan segala macam hikmat, untuk menegur, menasihati, menyindir, membagikan perasaan yang sebenarnya dari dirinya, atau mengutip tulisan Kitab Suci, tujuan Paulus adalah untuk membimbing orang percaya agar menjadi peniru Kristus! Satu-satunya tujuan gembala: untuk menjadi peniru Kristus baik dirinya sendiri maupun orang percaya bimbingannya!

Renungkan:
• Pengejaran hidup Paulus jelas: Jadilah peniru Kristus! Pengejaran hidupnya adalah untuk mengenal Kristus lebih dalam, meniru Kristus lebih sepenuhnya, dan terus-menerus memupuk rekan kerja dan saudara-saudari yang bersedia untuk mencintai, mengenal dan meniru Kristus ! Apakah Anda juga memiliki tujuan hidup yang jelas? Apa pengejaran Anda?

• Ketika berpartisipasi dalam pelayanan, apakah tujuan Anda adalah untuk menyelesaikan apa yang ditugaskan? Ataukah, Anda memiliki tekad seperti Paulus: turutilah teladanku! Apakah Anda memiliki tekad seperti ini? Jika kita ingin memiliki tekad seperti ini, apa yang akan kita tuntut dari diri kita sendiri? Bagaimana memimpin orang dengan memberi contoh?


Renungan pemahaman Surat 1 Korintus

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Surat 1 Korintus 1-4 ditulis oleh Rev. Dr. Kiven Choy (蔡少琪) yang dipublikasi pada bulan Juli 2021 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Filipi 4:8-9

「Belajar yang Baik dan Indah」
Oleh 潘仕楷 (Pān Shì Kǎi)

Alliance Bible Seminary H.K.

(Fil. 4:8-9 [ITB])
8 Jadi akhirnya, saudara-saudara,
semua yang benar,
semua yang mulia,
semua yang adil,
semua yang suci,
semua yang manis,
semua yang sedap didengar,
semua yang disebut kebajikan
dan patut dipuji,
pikirkanlah semuanya itu.
9
Dan apa yang telah kamu pelajari
dan apa yang telah kamu terima,
dan apa yang telah kamu dengar
dan apa yang telah kamu lihat padaku,
lakukanlah itu.
Maka Allah sumber damai sejahtera akan menyertai kamu.

Dua ayat ini adalah nasihat terakhir setelah ucapan terima kasih dan sebelum salam sejahtera di akhir surat Filipi. Meskipun istilah akhirnya pernah digunakan di ayat 3:1, namun itu digunakan terutama untuk menunjukkan bahwa Paulus beralih dari satu topik ke topik lain, dan CUV menerjemahkan dengan benar sebagai Aku masih ada sesuatu untuk dikatakan (lihat juga ITL, YLT, sebagian terjemahan Inggris), sedangkan yang di sini, sesuai konteksnya menunjuk pada nasihat terakhir, di sini penggunaan kata akhirnya adalah pilihan yang tepat. Penerjemahan yang menyamakan 3:1 dan 4:8 kurang mengekspresikan fakta bahwa kata yang sama dapat digunakan secara berbeda dalam konteks yang berbeda memiliki makna yang berbeda. Ini mengingatkan bahwa kita harus dengan cermat mempertimbangkan konteks (teks sebelum dan sesudah) dari sebuah ayat ketika membaca Kitab Suci.

Nasihat Paulus di sini dibagi menjadi dua bagian. Bagian pertama berisi serangkaian kebajikan, yang pada dasarnya merupakan kebajikan yang diakui umum dalam budaya Yunani, walau tidak memiliki makna khusus yang berbeda di dalam kekristenan, tetapi orang percaya harus memikirkannya. Bukan merasa kebajikan moral orang Kristen lebih superior daripada kebajikan moral umum dan mengabaikannya, karena kebajikan yang diberikan oleh Allah dalam penciptaan manusia menurut gambar-Nya sendiri, meskipun manusia berdosa dan meninggalkan Allah, gambar Allah tetap ada dalam manusia (walau telah menjadi rusak), masih ada dalam hati orang. Manusia secara umum masih memiliki tingkat keinginan dan kerinduan tertentu untuk hal-hal yang nyata, terhormat, benar, bersih, indah, dan yang patut dipuji. Makna yang disampaikan di sini pada dasarnya sama dengan Roma 12:17, menunjukkan bahwa dalam pemikiran Paulus, kebajikan yang diakui umum harus dihargai oleh orang percaya. Ini bukan untuk mengatakan bahwa kita harus menaati pendapat mayoritas dan minoritas patuh terhadap mayoritas, tetapi untuk mengonfirmasikan bahwa masih ada beberapa kebajikan yang umum atau serupa di antara manusia, kita perlu memperhatikan dan menghargai nilai-nilai universal ini karena nilai-nilai ini mencerminkan kehendak Allah.

Pada bagian kedua, Paulus bergeser dari nilai kebajikan umum ke teladannya sendiri. Meskipun ia jelas tahu kelemahan dirinya dan hanya merupakan orang yang masih berlari menuju tujuan, ia menekankan bahwa ia adalah teladan bagi orang percaya, di dalam surat ia menggunakan nilai yang ia pegang dan tindakannya sendiri sebagai teladan nasihat bagi orang percaya. Kebajikan adalah sesuatu yang relatif abstrak, dan kita biasanya harus belajar dari contoh orang lain. Dalam surat, Paulus juga menyebutkan bahwa beberapa orang juga merupakan sebagai panutan. Paulus di sini mengingatkan bahwa di satu sisi kita perlu belajar dari teladannya dan mengikuti dia berjalan di jalan murid Yesus Kristus, di sisi lain, ketika kita mau mengikuti teladan Paulus dalam hidup kita, kita juga harus menjadi teladan bagi orang lain, agar orang melihat bagaimana mengikuti Yesus Kristus.

Terakhir, Paulus menunjukkan bahwa ketika kita melakukan ini, damai sejahtera Allah akan menyertai kita. Dalam ayat 4:7 sebelumnya kita sudah beri tahu kepada Tuhan melalui doa tentang kebutuhan kita dan kita dapat mengalami perlindungan damai sejahtera dari-Nya, dan di sini kita diberitahu bahwa jika kita memperhatikan kebajikan kehendak Allah dan belajar teladan para rasul, kita akan mengalami damai sejahtera, terlebih lagi kita akan mengalami kehadiran Tuhan.

Renungkan:

Berdoa Tuhan membuat kita memperhatikan kehendak-Nya, dan menjadi teladan bagi orang lain dalam hidup kita.


Renungan pemahaman Surat Filipi (klik untuk membuka)

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain (klik untuk membuka)


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Surat Filipi ditulis oleh 潘仕楷 (Pān Shì Kǎi) yang dipublikasi pada bulan January 2020 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Iklan yang ada bukan milik blog ini, tetapi milik WordPress penyedia fasilitas blog tanpa biaya.

24 Maret 2019 ● Minggu Ketiga Pra Paskah

Hal-hal ini terjadi sebagai contoh bagi kita

1 Korintus 10:1-13
1Aku mau, supaya kamu mengetahui, saudara-saudara, bahwa nenek moyang kita semua berada di bawah perlindungan awan dan bahwa mereka semua telah melintasi laut. 2Untuk menjadi pengikut Musa mereka semua telah dibaptis dalam awan dan dalam laut. 3Mereka semua makan makanan rohani yang sama 4dan mereka semua minum minuman rohani yang sama, sebab mereka minum dari batu karang rohani yang mengikuti mereka, dan batu karang itu ialah Kristus.
5Tetapi sungguhpun demikian Allah tidak berkenan kepada bagian yang terbesar dari mereka, karena mereka ditewaskan di padang gurun.
6Semuanya ini telah terjadi sebagai contoh bagi kita untuk memperingatkan kita, supaya jangan kita menginginkan hal-hal yang jahat seperti yang telah mereka perbuat, 7dan supaya jangan kita menjadi penyembah-penyembah berhala, sama seperti beberapa orang dari mereka, seperti ada tertulis: “Maka duduklah bangsa itu untuk makan dan minum; kemudian bangunlah mereka dan bersukaria.”
8Janganlah kita melakukan percabulan, seperti yang dilakukan oleh beberapa orang dari mereka, sehingga pada satu hari telah tewas dua puluh tiga ribu orang.
9Dan janganlah kita mencobai Tuhan, seperti yang dilakukan oleh beberapa orang dari mereka, sehingga mereka mati dipagut ular.
10Dan janganlah bersungut-sungut, seperti yang dilakukan oleh beberapa orang dari mereka, sehingga mereka dibinasakan oleh malaikat maut.
11Semuanya ini telah menimpa mereka sebagai contoh dan dituliskan untuk menjadi peringatan bagi kita yang hidup pada waktu, di mana zaman akhir telah tiba. 12Sebab itu siapa yang menyangka, bahwa ia teguh berdiri, hati-hatilah supaya ia jangan jatuh!
13Pencobaan-pencobaan yang kamu alami ialah pencobaan-pencobaan biasa, yang tidak melebihi kekuatan manusia. Sebab Allah setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu. Pada waktu kamu dicobai Ia akan memberikan kepadamu jalan ke luar, sehingga kamu dapat menanggungnya.

Renungan
Ada yang mengatakan, “kita bisa belajar pelajaran dari sejarah”. Namun beberapa juga mengatakan, “satu-satunya pelajaran yang dapat kita pelajari dari sejarah adalah bahwa kita tidak pernah belajar pelajaran dari sejarah”.
Saat kita menyurvei sejarah, apa yang dikatakan orang-orang ini tampaknya sangat benar. Orang sepertinya tidak pernah menganggap serius pelajaran di masa lalu, dan kita sering berulang kali membuat kesalahan yang sama berulang kali. Paulus bahkan memberi tahu kita bahwa tidak peduli berapa banyak “pengalaman spiritual” yang dimiliki seseorang, dia mungkin masih tersandung oleh pengalaman-pengalaman ini. Bahkan jika dia telah melewati Laut Merah, dibaptis di awan atau di laut, dan mengambil makanan rohani dan air rohani, dia mungkin masih tetap sebagai orang yang tidak berkenan kepada Allah, dan masih jatuh di hutan belantara.

Paulus juga memberi kita alasan mengapa kita masih mengulangi kesalahan kita: hasrat untuk kejahatan, penyembahan berhala, percabulan, pengaduan, dan menguji Tuhan. Hal-hal ini terkenal bahkan bagi mereka yang memiliki pengetahuan sepintas tentang Alkitab. Namun, dari zaman orang Israel di padang belantara hingga zaman Paulus, dan sejak saat itu hingga saat ini, bukankah kita telah mengulangi dosa yang sama berulang kali?

Perbudakan dosa atas kita manusia sangat mengerikan. Dosa kita melahirkan keinginan jahat dalam diri kita. Keinginan-keinginan ini membuat kita kehilangan kendali dan melakukan apa yang tidak menyenangkan Allah, yang pada gilirannya membuat kita menjadi orang-orang yang tidak berkenan kepada Allah, dengan akhir kejatuhan di padang belantara. Yang lebih buruk adalah bahwa hari ini, tidak lagi mengejutkan melihat orang-orang dengan reputasi baik menginginkan para pemimpin jahat dan spiritual melakukan perzinaan dan percabulan.

Paulus memperingatkan kita untuk tidak terlalu percaya diri dalam berpikir bahwa kita berdiri teguh, jangan sampai kita jatuh. Alasan Anda belum jatuh adalah karena anugerah, bukan kemampuan Anda. Satu-satunya harapan kita adalah Tuhan Yesus. Hanya dengan memercayai-Nya kita dapat tahan terhadap pencobaan, dan hanya Dia yang akan memberi jalan kepada kita ketika kita sampai di ujung jalan.

Doa
Ya Allah Abba yang setia, di dunia ini yang dipenuhi dengan godaan, semoga Engkau melindungi anak-anak-Mu, dan memungkinkan mereka untuk hidup setiap hari dengan damai dengan berpegang teguh pada-Mu. Tanpa rahmat dan perlindungan-Mu, kami hanya akan menjadi orang-orang yang tidak Engkau sukai, karena kami dapat melakukan hal-hal yang tidak menyenangkan-Mu.

Engkau sendirilah harapan kami, dan hanya Engkau yang akan memberi jalan bagi kami karena Engkau mencintai kami; kami hanya bisa berpegang teguh pada-Mu, tidak pernah menyingkir bahkan untuk sesaat. Dalam nama Tuhan Yesus, amin.

Tindakan
Renungkan setiap hari yang telah Anda lalui — apakah Anda mengandalkan upaya Anda sendiri, atau pada anugerah Tuhan? Bersyukurlah atas karunia Tuhan yang berlimpah, dan minta ampun atas pelanggaranmu sendiri.

Oleh
Rt Rev Teo Yew Tiong
Presbytery Moderator
Senior Minister of Providence Presbyterian Church

Kej. 48:15-16, 21-22

「Bersaksi dan memberkati」

(Kej. 48:15-16, 21-22 [ITB])
15Sesudah itu diberkatinyalah Yusuf, katanya: 「Nenekku dan ayahku, Abraham dan Ishak, telah hidup di hadapan Allah; Allah itu, sebagai Allah yang telah menjadi gembalaku selama hidupku sampai sekarang, 16dan sebagai Malaikat yang telah melepaskan aku dari segala bahaya, Dialah kiranya yang memberkati orang-orang muda ini, sehingga namaku serta nama nenek dan bapaku, Abraham dan Ishak, termasyhur oleh karena mereka dan sehingga mereka bertambah-tambah menjadi jumlah yang besar di bumi.」
21Kemudian berkatalah Israel kepada Yusuf: 「Tidak lama lagi aku akan mati, tetapi Allah akan menyertai kamu dan membawa kamu kembali ke negeri nenek moyangmu. 22Dan sekarang aku memberikan kepadamu sebagai kelebihanmu dari pada saudara-saudaramu, suatu punggung gunung yang kurebut dengan pedang dan panahku dari tangan orang Amori.」

(Bacalah Kej. 48, silahkan klik di sini untuk membuka.) Yakub sebelum meninggal memberkati Yusuf, di antaranya mencakup kesaksian dirinya sendiri. Yakub berbicara tentang:

Pertama, iman yang diwariskan dari nenek moyang. Allah adalah Allah yang dilayani 「Abraham, Ishak」. Iman kepercayaan yang diwariskan generasi ke generasi, merupakan fondasi yang membuat kokoh iman Yakub. Tidak peduli Abraham, Ishak atau Yakub, seperti yang sudah sudah di masa lampau saat berada di lembah yang rendah dalam kehidupan, lebih lagi mengalami berkat Allah, dan rohaninya melompat makin tinggi. Ini bukan disebabkan kerja keras manusia, tetapi adalah anugerah kasih kemurahan Allah. Dalam catatan kehidupan nenek moyang, di setiap generasi adalah TUHAN yang berinisiatif memperbarui perjanjian, menunjukkan kasih kemurahan-Nya kepada para nenek moyang. (Mendapatkan warisan kesaksian Iman)

Kedua, kesaksian pengalaman dirinya sendiri. Allah adalah 「Allah itu, sebagai Allah yang telah menjadi gembalaku seumur hidupku sampai sekarang」. Yakub aslinya adalah penggembala, juga adalah hamba yang setia (Kej. 31). Ia dari pekerjaan diri sendiri merefleksikan Allah 「gembala」 (rō’eh) yang perhatian-Nya kepada dirinya tanpa ada satu detil pun yang terlewatkan, membimbing, menyediakan, melindungi, membuat ia dan seluruh rumah tidak kekurangan (Maz. 23:1). Kasih Allah adalah kasih yang sampai kepada kesudahannya (Yoh. 13:1), tidak karena dipengaruhi waktu lalu berhenti, lebih lagi tidak karena hal-hal tertentu lalu berubah sifat kasih-Nya. (Melanjutkan pewarisan Iman melalui kesaksian diri)

Ketiga, penebusan yang akan datang (ga’al, Kej. 48:16. Sesuai KJV, CUVT. Oleh ITB diterjemahkan sebagai 「melepaskan」). Allah adalah Malaikat yang menebus ia, melepaskan dirinya dari semua bencana kesulitan. 「Penebus」 (haggō’ēl) adalah berkata tentang identitas yang dimiliki Allah, memiliki kuasa tetapi juga memiliki kerelaan datang mengulurkan tangan pertolongan kepada dia. 「Bahaya」 (ra’) makna aslinya adalah 「dosa kejahatan」 manusia dan 「bencana」 yang dihasilkan, namun tidak peduli akibat dari diri sendiri atau bencana yang diakibatkan oleh orang lain, tidak peduli masa lalu atau kelak kemudian hari, Yakub di sini menyatakan percaya dan bersandar secara keseluruhan kepada Allah.

Di atas dasar ini, ia memberkati Yusuf dan kedua anak laki-laki, mencakup nama dirinya sendiri, nama Abraham kakeknya dan Ishak ayahnya, semuanya bisa diwariskan hanya karena melalui mereka adanya. Bertahun-tahun kemudian, nabi Yesaya juga berbicara: 「Sebab sama seperti langit yang baru dan bumi yang baru yang akan Kujadikan itu, tinggal tetap di hadapan-Ku, demikianlah firman TUHAN, demikianlah keturunanmu dan namamu akan tinggal tetap.」 (Yes. 66:22) (Nama yang diwariskan)

Yusuf mendapatkan lebih banyak satu bagian warisan dibandingkan para saudaranya, nama kedua anak laki-laki menjadi suku Israel. Kej. 48:22 「memberikan kepadamu sebagai kelebihanmu (šǝkem ’aḥad) dari pada saudara-saudaramu」, atau dapat diterjemahkan sebagai 「membuat engkau memiliki kota Sikhem (šǝkem), melampaui saudara laki-laki」, memberikan petunjuk suku Efraim mendapatkan kota Sikhem sebagai warisan (lihat Yosua 20:7 「… sebagai kota perlindungan:… Sikhem, di pegunungan Efraim…」).

Renungkan: Alkitab menilai Yakub: 「Karena iman maka Yakub, ketika hampir waktunya akan mati, memberkati kedua anak Yusuf, lalu menyembah sambil bersandar pada kepala tongkatnya.」 (Ibrani 11:21) Apakah pengalaman dari diri anda sendiri boleh menjadi dasar iman kepercayaan yang diwariskan?

(Bukan hanya mewariskan materi, tetapi kesaksian kehidupan iman kepada Allah yang penuh kasih kemurahan boleh menjadi teladan yang diwariskan bagi anak cucu kita. Teladan iman yang diwariskan dapat mengokohkan iman generasi berikutnya, menjadi berkat turun temurun.)
「Kenangan kepada orang benar mendatangkan berkat, tetapi nama orang fasik menjadi busuk.」(Amsal 10:7)

Renungan ini merupakan terjemahan 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Kejadian 27-50 ditulis oleh 賴建國 (Lài Jiàn Guó) yang dipublikasi pada bulan Januari 2018 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).