Mazmur 53:1-6

「Takut karena Allah adalah musuh mereka」

Oleh Rev. Paul Cheung Wan-hoi (張雲開)
Alliance Bible Seminary H.K.


(Mazmur 53:1-6 [TB2])
1 Untuk pemimpin biduan. Menurut lagu: Mahalat. Nyanyian pengajaran Daud.

Orang bebal berkata dalam hatinya,
………Tidak ada Allah!
Busuk dan jijik kecurangan mereka,
………tidak ada yang berbuat baik.

2 Allah memandang ke bawah dari surga
………kepada anak-anak manusia,
untuk melihat apakah ada yang berakal budi
………dan yang mencari Allah.
3 Tetapi, semua telah menyimpang, sekaliannya telah bejat;
………tidak ada yang berbuat baik, seorang pun tidak.
4 Sudah tidak sadar lagikah orang-orang yang melakukan kejahatan,
………yang memakan habis umat-Ku?
Mereka memakan roti,
………tetapi tidak berseru kepada Allah?

5 Di sanalah mereka pasti akan ditimpa kegentaran,
………padahal tidak ada yang mengejutkan;
sebab Allah menghamburkan tulang-tulang para pengepungmu;
………engkau akan mempermalukan mereka,
sebab Allah telah menolak mereka.

6 Ya, datanglah kiranya dari Sion keselamatan bagi Israel!
………Apabila Allah memulihkan keadaan umat-Nya,
………Yakub akan bersorak-sorai,
………Israel akan bersukacita.


Mazmur 53 secara struktural dapat dipandang sebagai berikut, ayat 1 menggambarkan mentalitas orang-orang bodoh (nāḇāl); ayat 2-4 mengungkapkan sudut pandang Allah; ayat 5 menggambarkan akhir dari orang-orang seperti itu; dan ayat terakhir mengungkapkan harapan Israel.

Mazmur 53 dan Mazmur 14 sangat mirip. Perbedaan utama di antara keduanya adalah: (1) Mazmur 14 menyebut TUHAN kepada Allah, sementara Mazmur 53 menyebut Allah (ʾęlōhîm); (2) Mazmur 14 memiliki ayat tambahan setelah ayat 5, yang menunjukkan bahwa Allah memiliki perhatian khusus bagi yang tertindas dan miskin; (3) Ada juga perbedaan dalam ayat 5 antara kedua mazmur tersebut; Mazmur 14:5 hanya menyebutkan bahwa orang fasik takut karena kehadiran Allah, sementara Mazmur 53:5 memberikan lebih banyak rincian, menunjukkan bahwa kehadiran Allah menyebabkan tulang-tulang para pengepungmu menjadi dihamburkan berserakan, yang berarti bahwa musuh-musuh ini akan mati di padang gurun tanpa dikubur, menanggung ketakutan dan kutukan terbesar dari orang-orang zaman dahulu.

Berdasarkan isi ayat 5, para peneliti berpendapat bahwa Mazmur 53 ini merupakan cuplikan penyunting berikutnya untuk menyesuaikan dengan lingkungan baru yang dihadapi Israel dan untuk digunakan untuk mengajar orang Israel. Latar belakang yang dirujuk dalam ayat 5 adalah pengepungan Yerusalem oleh Sanherib, raja Asyur, pada masa pemerintahan raja Hizkia (2 Raj. 18-19). Di bawah serangan TUHAN, Sanherib dikalahkan dan melarikan diri. Namun 53:5c mengatakan bahwa Allah telah menolak mereka, dan kata menolak tidak tepat diterapkan untuk bangsa Asyur.

Dari segi judul dan keterkaitan dari kata-kata yang dipakai, konteks utama Mazmur 53 tetaplah peristiwa-peristiwa dalam kehidupan Daud: berkemahlah Saul melawan Daud (ḥōnâ; 1 Sam. 26:3, 5; bdk. Mzm. 53:5b para pengepung), Allah menolak Saul (māʾas; 1 Sam. 15:23, 26; 16:1; bdk. Mzm. 53:5c), dan kejahatan Saul (ʾāwęn; 1 Sam. 15:23b, kata ini hanya muncul di ayat tersebut dalam Kitab 1 & 2 Samuel; bdk. Mzm. 53:4a), Saul mengakui bahwa ia takut kepada rakyat (1 Sam. 15:24; ia takut kepada mereka meskipun tidak ada yang perlu ditakuti, bdk. Mzm. 53:5a kegentaran), dan Saul ketakutan ketika seorang perempuan pemanggil arwah memberitahu dia bahwa TUHAN telah meninggalkannya (1 Sam. 28:20-21), dan akhirnya Saul mati di medan perang, dengan kepala terpancung dari tubuhnya, terhamburkan tulang-tulang.

Entah itu Sanherib atau Saul, kesamaan mereka adalah bahwa mereka menyerang umat Allah saat mereka berada dalam posisi yang kuat: Sanherib menyerang Yehuda dan kemudian mengepung Yerusalem; sedangkan Saul memburu Daud, yang telah dipilih Allah. Mereka masing-masing mengabaikan Allah dengan cara mereka sendiri dan mengalami ketakutan dan kehancuran karena penghakiman Allah.

Jika kita membaca ayat 1-3 secara terpisah, kita akan melihat bahwa seluruh dunia ini dihuni oleh orang-orang bebal, tidak ada seorang pun yang berbuat baik (ayat 1c), dan tidak ada seorang pun yang berakal budi (ayat 2a). Namun, jika kita membaca bersama ayat 4-6, kita akan menemukan bahwa masih ada dua jenis manusia dalam dunia pemazmur: anak-anak manusia (benê-ʾāḏām; ayat 2a) dan umat Allah (ʿamî; 4b dan ʿamô; ayat 6b). Perbedaan mendasar di antara keduanya tidak terletak pada perilaku luar mereka, karena itu hanyalah sebuah hasil. Perbedaan mereka bermula dari pilihan Allah, yang menjadikan sebagian orang menjadi umat Allah.

Sebagai umat Allah, mereka telah menerima hukum ketetapan dari Allah dan telah disucikan oleh firman Allah yang kudus. Dalam tindakan mereka menjadi saksi pemilihan Allah, mencari Allah (ayat 2b), dan berseru kepada Allah (ayat 4b) dalam hidup mereka. Sekalipun keadaan objektif membuat mereka takut, sekalipun mereka ditawan musuh, keselamatan Allah tidak akan meninggalkan mereka, dan mereka tetap akan mengalami sukacita dan kebahagiaan karena kembali kepada Allah (ayat 6c). Sebaliknya mereka yang tidak memiliki Allah di dalam hatinya sangat takut bahkan di tempat yang sebenarnya tidak ada sesuatu pun yang perlu ditakutkan (ayat 5a), karena Allah adalah musuh mereka, Di sanalah mereka pasti akan ditimpa kegentaran, padahal tidak ada yang mengejutkan; sebab Allah menghamburkan tulang-tulang para pengepungmu; engkau akan mempermalukan mereka, sebab Allah telah menolak mereka

Doa:
Bapa Surgawi yang penuh belas kasih, sekalipun semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan-Mu, kasih-Mu tidak akan pernah meninggalkan umat-Mu. Engkau bukan sekadar menyelamatkan mereka di dunia ini, tetapi Engkau juga menebus mereka di dalam Kristus Yesus, sehingga mereka dapat mengenal-Mu dan berdamai dengan-Mu. Kasih karunia ini tidak terukur. kiranya kami di dalam Kristus Yesus dengan tepat menanggapi keselamatan-Mu, ya Allah, dan menjadi saksi setia Firman-Mu dan Kristus. Amin.