Tag Archives: Surat 2 Timotius

2 Timotius 3:14-17

「Mendengar dan menjalankan」

Oleh Yè Sōng Mào (葉松茂)
Alliance Bible Seminary H.K.

(2 Tim. 3:14-17 [ITB])
14 Tetapi hendaklah engkau tetap berpegang pada kebenaran yang telah engkau terima dan engkau yakini, dengan selalu mengingat orang yang telah mengajarkannya kepadamu. 15 Ingatlah juga bahwa dari kecil engkau sudah mengenal Kitab Suci yang dapat memberi hikmat kepadamu dan menuntun engkau kepada keselamatan oleh iman kepada Kristus Yesus.
16 Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran. 17 Dengan demikian tiap-tiap manusia kepunyaan Allah diperlengkapi untuk setiap perbuatan baik.

Paulus tiba-tiba menyebutkan Kitab Suci, terutama untuk mengingatkan Timotius tentang warisan rohaninya. Ayat 3:14 selalu mengingat orang yang telah mengajarkannya kepadamu belajar dari siapa ini adalah dalam bentuk jamak, seharusnya merujuk pada neneknya, ibunya, dan rasul Paulus. Ayat 3:15 dari kecil engkau sudah mengenal Kitab Suci, mengacu pada keluarga Yahudi, orang tua mengajarkan Kitab Suci kepada setiap anak mulai sejak berusia lima tahun. Langkah pertama adalah mengajarkan lima kitab hukum (Pentateuch). Kitab Suci di sini tentu saja Perjanjian Lama. Namun, Paulus tidak keberatan bahwa Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru juga diinspirasikan oleh Allah.

Ayat 3:16-17 adalah ayat yang sangat terkenal, banyak dikutip, terutama membahas tentang Alkitab diilhamkan oleh Allah. Namun, kita harus berhati-hati, pertama-tama kita harus jelas pahami adalah pokok utama yang diungkapkan Paulus di sini. Bahasa asli dari kata diilhamkan adalah napas Allah (NIV menggunakan God-breathed). Paulus mengatakan bahwa Alkitab adalah dihembuskan Allah, terutama untuk menekankan bahwa sumber dari Alkitab adalah Allah, tetapi bukan menjelaskan secara detail bagaimana Allah menuliskan menjadi Kitab. Paulus hanya ingin mengatakan bahwa sumber dari Alkitab adalah Allah, sehingga bermanfaat dalam segala aspek.

Ayat 3:16 membicarakan empat fungsi Alkitab, dapat dibagi menjadi dua kelompok, keduanya diekspresikan dalam positif dan sebaliknya. Kelompok pertama adalah terkait pengajaran: mengajarkan pengajaran yang benar dan menyatakan kesalahan pengajaran yang salah; kelompok kedua adalah tentang moralitas dan perilaku: memperbaiki kelakuan membawa orang dari perilaku yang salah kepada kebenaran dan mengajar orang untuk belajar kebenaran, ini adalah mempelajari perilaku yang benar.

Sebelum kematiannya Paulus mendeskripsikan tentang Alkitab, terutama pada fokus sifat fungsional, menekankan fungsi Alkitab dalam tiga aspek:
(1) Membuat Anda memiliki hikmat keselamatan karena iman Anda kepada Kristus Yesus. Kita harus memberi perhatian khusus pada fakta bahwa yang menyelamatkan kita adalah Kristus Yesus. … Kitab Suci memberi hikmat kepadamu dan menuntun engkau kepada keselamatan oleh iman kepada Kristus Yesus
(2) Menolong kita menetapkan ajaran dan perilaku yang benar.
(3) Agar tiap-tiap orang kepunyaan Allah diperlengkapi untuk setiap perbuatan baik (diperlengkapkan) dan siap melakukan segala macam perbuatan yang baik. Segala jenis perbuatan baik tidak hanya mengacu pada perbuatan baik secara umum, karena pada kalimat berikutnya 4:1-2, Paulus secara khusus menekankan beritakanlah Firman, memberitakan Injil kabar baik adalah perbuatan baik yang paling penting.

Ketika Pendeta Dr. Leung Ka-Lun, mantan dekan Alliance Bible Seminary, berbicara tentang perikop ini, ia menyatakan dengan jelas bahwa menurut ajaran perikop ini, pembacaan Alkitab selalu bermanfaat utilitarian (tindakan yang patut yang membawakan keuntungan manfaat, kebahagiaan terbesar dan yang memaksimalkan mencegah terjadinya kerusakan, kejahatan atau ketidakbahagiaan). Merenungkan Alkitab bukanlah demi hiburan entertaintment, tetapi memegang iman tekun mencari kehendak Allah di dalam hidup kita, dan kemudian mendengarkan firman dan melaksanakan Firman, dan mempraktikkannya secara konkret.

Renungkan:
Orang Kristen untuk mempelajari Alkitab dengan kesungguhan hati dan memeriksa kebenaran yang diilhamkan oleh Allah ini adalah hal penting, terlebih lagi adalah mendengarkan firman dan melaksanakan firman, khususnya memberitakan Injil sehingga lebih banyak orang mengenal Tuhan Yesus Kristus. Apakah Anda pendengar firman dan pelaksana firman?


Renungan pemahaman Surat 2 Timotius

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Surat 2 Timotius ditulis oleh Yè Sōng Mào (葉松茂) yang dipublikasikan pada bulan Februari 2021 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


2 Timotius 3:10-11

「Permata di bawah kaki」

Oleh Yè Sōng Mào (葉松茂)
Alliance Bible Seminary H.K.

(2 Tim. 3:10-11 [ITB])
10 Tetapi engkau telah mengikuti ajaranku, cara hidupku, pendirianku, imanku, kesabaranku, kasihku dan ketekunanku. 11 Engkau telah ikut menderita penganiayaan dan sengsara seperti yang telah kuderita di Antiokhia dan di Ikonium dan di Listra. Semua penganiayaan itu kuderita dan Tuhan telah melepaskan aku dari padanya.

Dalam 3:10 disebutkan cara hidup, selain itu ada iman, pengharapan, dan kasih merupakan deskripsi atas cara hidup. Di tengah penderitaan dengan pengharapan menjalani pendirian hidup, dibutuhkan kesabaran (tetapi bukan memanjakan orang lain) dan ketekunan sampai akhir. Yang disebut orang yang memiliki iman adalah orang yang setia, dalam bahasa Inggris adalah faithful, setia pada Injil, juga setia kepada Paulus gurunya.

Paulus ingin mengungkapkan bahwa: mengikut Kristus, walaupun harus pendirian, tetapi bukan sekadar cita-cita besar dan bicara tinggi, semua iman, pengharapan, dan kasih dalam keyakinan iman tidak boleh hanya mimpi, tetapi harus setiap hari diterapkan secara praktis konkret dalam kehidupan kita, Paulus sendiri melalui setiap hari di Antiokhia, Ikonium, dan Listra dalam penganiayaan besar, tetapi dia terus bergerak maju setiap hari, bekerja keras untuk memberitakan Injil, dan menyelesaikan panggilan Allah atas pekerjaan kudus itu.

Ada sebuah kisah terkenal yang dapat membantu kita belajar menjadikan iman sebagai cara hidup setiap hari. Nama Seminari Gordon Cornwell, Cornwell adalah seorang pendeta Baptis, dan juga pendiri Universitas Temple yang terkenal. Cornwell memiliki sebuah pidato yang terkenal yang menceritakan kisah nyata yang diceritakan oleh seorang pemandu wisata ketika dia sedang melakukan perjalanan di Baghdad. Dikisahkan bahwa ada seorang petani di daerah tersebut, dan suatu ketika seorang pendeta datang mengunjunginya, dan dalam obrolan menyebutkan bahwa di dunia ada sejenis permata yang disebut berlian, yang sangat berharga, dan juga mengatakan bahwa jika Anda memiliki tambang berlian, Anda akan segera menjadi lebih kaya dari kerajaan, dan mengatakan kepadanya bahwa Anda hanya perlu menemukan sungai yang mengalir dari dua gunung tinggi, sekeliling sungai penuh pasir berkilauan, dia bisa menemukan tambang berlian.

Sejak saat itu, petani memimpikan berlian setiap malam dan merindukan kekayaannya sendiri melebihi kerajaan. Jadi dia menjual tanah pertaniannya, menitipkan istri dan anak-anaknya kepada kerabat dan teman, berkeliling berbagai kerajaan, mencari sungai tersebut, mencari berlian itu. Berangkat dari Timur Tengah, melewati Palestina, ke Eropa, dari timur ke barat, berkelana ke seluruh Eropa, tapi tidak menemukan apa-apa, tidak menemukan jejak tambang berlian. Setelah bertahun-tahun, dia pergi ke titik paling barat Eropa, Barcelona Spanyol, kelelahan dan sudah menghabiskan semua biaya perjalanan, jatuh miskin, kesepian dan meninggal di negara lain.

Orang yang membeli tanah pertanian milik petani ini bekerja keras setiap hari di ladang. Suatu ketika kebetulan melihat pasir berkilauan di tepi sungai bersinar terang, ia menemukan sebuah batu hitam di tumpukan pasir, yang dapat membiaskan sinar matahari dan berubah menjadi pelangi warna-warni. Dia membawanya pulang dan menaruhnya di dekat perapian. Suatu hari pendeta mendatangi pembeli tanah petani itu untuk mengobrol, dan terkejut menemukan ada berlian besar yang belum dipoles di rumahnya. Ternyata ada tambang berlian di bawah pertanian.

Pelajaran dari cerita ini sangat jelas, jangan bermimpi sepanjang hari memikirkan tentang mimpi yang tidak realistis. Iman adalah cara hidup, keluaran semua tenaga pikiran bertekun mengikuti Kristus setiap hari, dengan iman, pengharapan, dan kasih menjalani setiap detik kehidupan, Anda pasti menemukan harta kehidupan yang sejati, yakni Tuhan Kristus.

Renungkan:
Apakah iman sudah menjadi gaya hidup, cara hidup Anda sehari-hari?


Renungan pemahaman Surat 2 Timotius

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Surat 2 Timotius ditulis oleh Yè Sōng Mào (葉松茂) yang dipublikasikan pada bulan Februari 2021 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


2 Timotius 3:10-13

「Harga yang dibayar sebagai murid」

Oleh Yè Sōng Mào (葉松茂)
Alliance Bible Seminary H.K.

(2 Tim. 3:10-13 [ITB])
10 Tetapi engkau telah mengikuti ajaranku, cara hidupku, pendirianku, imanku, kesabaranku, kasihku dan ketekunanku. 11 Engkau telah ikut menderita penganiayaan dan sengsara seperti yang telah kuderita di Antiokhia dan di Ikonium dan di Listra. Semua penganiayaan itu kuderita dan Tuhan telah melepaskan aku dari padanya. 12 Memang setiap orang yang mau hidup beribadah di dalam Kristus Yesus akan menderita aniaya, 13 sedangkan orang jahat dan penipu akan bertambah jahat, mereka menyesatkan dan disesatkan.

Ayat 3:10 engkau telah mengikuti ajaranku, dalam bahasa aslinya menunjuk murid mengikuti guru dan mempelajari segala sesuatu dari guru dari jarak dekat. Pewarisan Paulus kepada Timotius sebagai guru kepada murid memiliki dua aspek: pengajaran dan perilaku. Perilaku tidak mengacu pada perilaku individual, tetapi mengacu pada keseluruhancara hidupataupola hidup.Yang ingin Paulus sampaikan kepada muridnya ini adalah seperangkat ajaran bersifat teologis ditambah pola hidup.

Timotius bergabung dengan tim Paulus dalam perjalanan misionaris Paulus yang kedua, tetapi di ayat 3:11 Paulus menyebutkan tentang hal di kampung halaman Timotius di Listra (Kis. 13:13-14:10), yang terjadi pada perjalanan misionaris pertama Paulus. Paulus pertama kali mengabarkan Injil di Antiokhia di Pisidia (bukan Antiokhia yang mengutus Paulus). Orang-orang Yahudi iri kepada dia karena ia memiliki banyak murid yang adalah orang percaya yang orang non-Yahudi, dan mereka menghasut perempuan-perempuan terkemuka yang takut akan Allah, dan pembesar-pembesar di kota itu, untuk menimbulkan penganiayaan terhadap Paulus, mengusirnya ke luar. Jadi Paulus berbalik untuk mengabarkan Injil di Ikonium, tetapi hal yang sama terjadi lagi, dan orang-orang Yahudi berkonspirasi dengan para pejabat untuk melempari Paulus dengan batu. Setelah Paulus mengetahui persekongkolan tersebut, dia harus melarikan diri, dan kemudian beralih pergi ke kampung halaman Timotius di Listra.

Di Listra, Paulus menyembuhkan seorang yang terlahir lumpuh, ia disalahpahami oleh orang-orang sebagai dewa Yunani. Tetapi datanglah orang-orang Yahudi dari Antiokhia dan Ikonium dan mereka membujuk orang banyak itu memihak mereka. Lalu mereka melempari Paulus dengan batu dan menyeretnya ke luar kota, karena mereka menyangka, bahwa ia telah mati. Akan tetapi ketika murid-murid itu berdiri mengelilingi dia, bangkitlah ia lalu masuk ke dalam kota. Keesokan harinya berangkatlah ia bersama-sama dengan Barnabas ke Derbe(Kis. 14:19-20), Timotius mungkin termasuk di antara murid-murid itu berdiri mengelilingi saat itu, dengan matanya sendiri melihat Paulus dilempari batu sampai pingsan, mengira dia sudah mati, dan kemudian menyaksikan dia tiba-tiba terbangun dan berdiri. Setidaknya Timotius pasti mendengar saksi yang menceritakan ulang peristiwa ini hari itu.

Adegan di Listra 20 tahun yang lalu ini mengejutkan Timotius, dan dia tidak akan pernah melupakannya seumur hidupnya. Ini adalah cara hidup Paulus, demi agar orang-orang non Yahudi dan Yahudi di setiap kota dapat mendengar Injil (Ah! Timotius adalah setengah Yunani dan setengah Yahudi), pergi ke segala penjuru sebagai rumah ia tidak mempunyai tempat yang tetap untuk meletakkan kepala, tanpa henti, dianiaya di tiga kota berturut-turut, dan hampir mati di Listra. Oleh karena itu, Timotius sangat memahami bahwa setiap orang yang mau hidup beribadah di dalam Kristus Yesus akan menderita aniaya (3:12). Hidup beribadah, secara harfiah diterjemahkan adalah kehidupan yang memiliki Allah Siapapun yang mengikuti Allah dengan sungguh-sungguh dan mengikuti Kristus harus seperti Paulus dan harus membayar harga.

Renungkan:
Setelah lama percaya kepada Tuhan, secara bertahap dan tidak sadar kita mengintegrasikan kehidupan iman kita ke dalam gaya hidup yang nyaman. Lambat laun, percaya kepada Yesus pun tidak perlu terlalu banyak membayar harga, dan kita tidak lagi memiliki api untuk mengabarkan kabar bahagia Injil. Bacalah ayat di atas sekali, cara hidup rasul Paulus di Antiokhia, Ikonium, Listra, seperti api yang berkobar, bagaimana hati Timotius terbakar di masa lalu, dan berharap itu masih dapat membakar hati kita, Anda dan saya hari ini.


Renungan pemahaman Surat 2 Timotius

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Surat 2 Timotius ditulis oleh Yè Sōng Mào (葉松茂) yang dipublikasikan pada bulan Februari 2021 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


2 Timotius 3:6-9

「Menolak tidak memiliki pengetahuan」

Oleh Yè Sōng Mào (葉松茂)
Alliance Bible Seminary H.K.

(2 Tim. 3:6-9 [ITB])
6 Sebab di antara mereka terdapat orang-orang yang menyelundup ke rumah orang lain dan menjerat perempuan-perempuan lemah yang sarat dengan dosa dan dikuasai oleh berbagai-bagai nafsu, 7 yang walaupun selalu ingin diajar, namun tidak pernah dapat mengenal kebenaran. 8 Sama seperti Yanes dan Yambres menentang Musa, demikian juga mereka menentang kebenaran. Akal mereka bobrok dan iman mereka tidak tahan uji. 9 Tetapi sudah pasti mereka tidak akan lebih maju, karena seperti dalam hal Yanes dan Yambres, kebodohan merekapun akan nyata bagi semua orang.

Pemimpin bidat Efesus, kebanyakan adalah kata-kata omong kosong, mengemas diri sebagai cendekiawan atau guru agama, di perikop 3:6-9 ini Paulus mengungkapkan wajah asli mereka, pada kenyataannya mereka adalah pembohong, praktisi sihir yang penuh muslihat akal-akalan! Tanpa diketahui orang bagaimana caranya mereka menyelinap masuk ke rumah perempuan-perempuan yang lemah, dimanipulasi dengan kata-kata kosong. Kata rumah dalam teks bahasa asli memakai kata tunjuk, jadi seharusnya Timotius tahu rumah perempuan-perempuan mana yang dimaksud Paulus. Para pemimpin bidat itu semuanya laki-laki, dan berdasarkan uraian mungkin bisa diperkirakan ada hubungan yang mencurigakan antara perempuan-perempuan tersebut dan para pemimpin bidat. Namun, Paulus tidak terlalu fokus pada hubungan antara laki-laki dan perempuan. Sebaliknya, ia menjelaskan secara rinci bahwa perempuan-perempuan itu mengira mereka bekerja keras untuk belajar. pengetahuan spiritual, tetapi karena bidat yang diajarkan adalah omong kosong tanpa akhir, para wanita tersebut tidak pernah bisa benar-benar mengenal kebenaran, dan mereka akan selalu menjadi orang awam yang dangkal.

Para penipu ini seperti ahli sihir dalam Keluaran 7:11-12 yang menentang Musa di depan Firaun. Mereka mengubah tongkat menjadi ular untuk menunjukkan bahwa kekuatan Musa tidak istimewa. Perjanjian Lama tidak mencatat nama-nama para ahli sihir ini. Namun, banyak tradisi Yahudi abad kedua SM, yang menyebutkan dua bersaudara, Yanes dan Yambres. Seperti dua bersaudara ini, para pemimpin sesat iman mereka tidak tahan uji (3:8), lebih jelas bisa diterjemahkan: dari segi iman, mereka ditolak. Lalu seperti dalam hal Yanes dan Yambres, kebodohan merekapun akan nyata bagi semua orang, kebodohan mereka nyata terungkap di depan semua orang (3:9), Ini mungkin merujuk pada orang yang mempraktikkan sihir, yang akhirnya diri mereka kena barah dalam sepuluh tulah (Keluaran 9:11).

Renungkan:
Marilah kita introspeksi memeriksa diri. Apakah Anda memiliki pemahaman yang serius tentang iman Anda sendiri? Apakah Anda seorang praktisi rohani yang telah memiliki kelengkapan pengetahuan yang cukup? Renungan ini dituliskan para dosen Alliance Bible Seminary ditujukan agar kita bisa dengan kesungguhan dan serius mempelajari Alkitab dalam perenungan saat teduh. Apakah Anda setiap hari melakukan saat teduh membaca renungan ini sekilas lewat saja, ataukah dengan kesungguhan untuk mempelajari Alkitab dan membacanya berulang kali?


Renungan pemahaman Surat 2 Timotius

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Surat 2 Timotius ditulis oleh Yè Sōng Mào (葉松茂) yang dipublikasikan pada bulan Februari 2021 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


2 Timotius 3:1-5

「Dekat menjadi tertular」

Oleh Yè Sōng Mào (葉松茂)
Alliance Bible Seminary H.K.

(2 Tim. 3:1-5 [ITB])
1 Ketahuilah bahwa pada hari-hari terakhir akan datang masa yang sukar. 2 Manusia akan mencintai dirinya sendiri dan menjadi hamba uang. Mereka akan membual dan menyombongkan diri, mereka akan menjadi pemfitnah, mereka akan berontak terhadap orang tua dan tidak tahu berterima kasih, tidak mempedulikan agama, 3 tidak tahu mengasihi, tidak mau berdamai, suka menjelekkan orang, tidak dapat mengekang diri, garang, tidak suka yang baik, 4 suka mengkhianat, tidak berpikir panjang, berlagak tahu, lebih menuruti hawa nafsu dari pada menuruti Allah. 5 Secara lahiriah mereka menjalankan ibadah mereka, tetapi pada hakekatnya mereka memungkiri kekuatannya. Jauhilah mereka itu!

Ayat 3:1-5 mencantumkan daftar dosa kejahatan dan mengatakan bahwa ini adalah keadaan akhir zaman, tetapi Paulus bukanlah sedang bernubuat tentang apa yang akan terjadi di akhir zaman. Sebaliknya, dia mengatakan bahwa akhir zaman telah datang dan telah dimulai, dan buktinya ada pada bidat pemimpin Efesus, sudah bisa melihat kejahatan eskatologis ini, seperti menjadi hamba uang, membual, menyombongkan diri, fitnah, dll. Jadi sekarang adalah awal dari masa yang sukar (3:1).

Ada delapan belas dosa dalam daftar ini, dan tampaknya tidak ada urutan tertentu. Beberapa adalah sikap pribadi yang salah (membual, arogan, tidak mengekang diri, tidak suka kebaikan, perilaku sewenang-wenang, kesombongan), beberapa adalah hubungan yang buruk dengan orang lain (pencemaran nama baik, berontak terhadap orang tua, tidak tahu berterima kasih, tidak tahu mengasihi, tidak mau berdamai, suka menjelekkan orang, berkhianat). Tetapi sumber dari semua kejahatan adalah bagian awal dan akhir dari daftar: mencintai diri sendiri dan tidak mencintai Allah. Ini adalah pengenalan Alkitab paling mendasar tentang sifat manusia, setiap orang harus mengakarkan hidup mereka di dalam Allah, hanya dengan menjalin hubungan kasih dengan Allah yang sejati, baik dan indah, orang dapat menjadi manusia yang sejati. Semua dosa berasal dari orang meninggalkan Allah dan fokus hanya mencintai diri mereka sendiri. Berpusat pada diri sendiri pada akhirnya melahirkan berbagai sikap pribadi yang buruk, dan orang yang tidak mengasihi Allah pada akhirnya tidak akan mengasihi orang lain sehingga menyebabkan rusaknya hubungan.

Ayat 3:5 Secara lahiriah mereka menjalankan ibadah mereka, tetapi pada hakekatnya mereka memungkiri kekuatannya, menyangkal kekuatan kesalehan, orang-orang ini yang hanya berpenampilan saleh, tentu saja merujuk pada pemimpin bidat, hal yang paling sering mereka lakukan adalah berbicara berbagai topik agama, tanpa henti dengan semaunya, membuat banyak kontroversi perdebatan bodoh. Di permukaan mereka tampaknya sangat saleh, tetapi mereka tidak memiliki kuasa melakukan pekerjaan rohani yang benar-benar penting untuk membangun orang.

Bagaimana kita akan menghadapi orang-orang demikian dan hal-hal jahat ini? Perintah Paulus sangat sederhana dan lugas: Jauhilah mereka itu! Mereka yang dekat dengan pewarna merah akan ternoda menjadi berwarna merah, dan mereka yang dekat dengan tinta hitam akan ikut menjadi hitam. Orang yang dekat dengan kita akan secara langsung mempengaruhi mentalitas dan nilai-nilai kita. Dalam masyarakat yang modern dan beragam, tidak mungkin bagi kita untuk sepenuhnya menghindari orang-orang dengan nilai-nilai yang berbeda, tetapi kita harus memiliki relasi dekat dengan saudara-saudari gereja dan memiliki hubungan yang mendalam dengan satu sama lain untuk memperkuat nilai inti dari iman kita, dan melawan berbagai sikap yang berpusat pada diri sendiri dari hari-hari terakhir ini. Banyak orang percaya secara bertahap menghentikan persekutuan gereja dan pertemuan kelompok karena berbagai tekanan dari pekerjaan dan keluarga, dan hanya mempertahankan ibadah hari Minggu. Akibatnya, mereka berasimilasi secara bertahap oleh kerabat dan teman sekuler, nilai-nilai mereka menjadi semakin mementingkan diri sendiri, dan semuanya hanya bergantung pada diri sendiri dan keluarga saja.

Renungkan:
Apakah Anda memiliki persekutuan atau kehidupan kelompok kecil yang stabil? Siapa yang paling memengaruhi nilai-nilai Anda? Apakah Anda bersedia bekerja keras untuk membangun kembali kehidupan persekutuan Anda?


Renungan pemahaman Surat 2 Timotius

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Surat 2 Timotius ditulis oleh Yè Sōng Mào (葉松茂) yang dipublikasikan pada bulan Februari 2021 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


2 Timotius 2:22-26

「Letakkan dendam, saling mengasihi」

Oleh Yè Sōng Mào (葉松茂)
Alliance Bible Seminary H.K.

(2 Tim. 2:22-26 [ITB])
22 Sebab itu jauhilah nafsu orang muda, kejarlah keadilan, kesetiaan, kasih dan damai bersama-sama dengan mereka yang berseru kepada Tuhan dengan hati yang murni. 23 Hindarilah soal-soal yang dicari-cari, yang bodoh dan tidak layak. Engkau tahu bahwa soal-soal itu menimbulkan pertengkaran, 24 sedangkan seorang hamba Tuhan tidak boleh bertengkar, tetapi harus ramah terhadap semua orang. Ia harus cakap mengajar, sabar 25 dan dengan lemah lembut dapat menuntun orang yang suka melawan, sebab mungkin Tuhan memberikan kesempatan kepada mereka untuk bertobat dan memimpin mereka sehingga mereka mengenal kebenaran, 26 dan dengan demikian mereka menjadi sadar kembali, karena terlepas dari jerat Iblis yang telah mengikat mereka pada kehendaknya.

Tema 2:22-26 sangat jelas, yaitu mendorong Timotius dengan sikap lembut untuk merespons kepada orang-orang percaya yang terjerat di lingkaran sesat di gereja Efesus. Ayat 2:22 agar jauhilah nafsu orang muda dapat diterjemahkan sebagai menghindari keinginan yang tidak patut dari anak muda, meskipun keinginan tersebut dapat berupa nafsu fisik, tetapi yang Paulus minta agar dihindari Timotius terutama adalah sikap agresif ingin menang dari anak muda, jika tidak maka mudah terjadi konflik kata-kata. Para bidat mengajarkan pembicaraan kosong, jadi Timotius harus sangat berhati-hati untuk tidak konflik agresif, bergabunglah dalam pertempuran, berdebat hal-hal yang tidak bermanfaat, yang dicari-cari, yang bodoh dan tidak layak.

Ayat 2:22-26 Paulus menyarankan untuk memperlakukan saudara-saudari di lingkaran sesat dengan sikap kasih dan lembut, dan berusaha membawa mereka untuk memulihkan mereka, berharap mereka dapat kembali ke kebenaran yang murni. Namun, dalam 1 Tim. 1:19-20 Paulus telah menghentikan keanggotaan para pemimpin sesat dari gereja, ini harus mencakup setidaknya menghentikan mereka mengikuti sakramen Perjamuan Kudus dan melarang orang lain untuk bersekutu dengan mereka. Secara permukaan tampaknya kontradiksi antara mengucilkan mereka dari lingkungan gereja dan membawa mereka kembali secara damai, para sarjana memiliki dua teori berbeda untuk menjelaskan kontradiksi ini.

Teori pertama adalah bahwa mereka yang ingin dipulihkan seperti yang dijelaskan dalam 2 Tim. 2:22-26 tidak termasuk pemimpin sesat, tetapi hanya merujuk pada orang percaya lain yang mengikuti dan terbawa ajaran mereka. Sebagian peneliti menunjukkan bahwa orang yang suka melawan dalam 2:25 dalam bahasa aslinya bisa memiliki arti kedua yaitu orang yang terpengaruh. Paulus bermaksud untuk mengusir para pemimpin sesat, tetapi dengan sikap lembut untuk mencoba memulihkan orang percaya yang tersesat. Teori kedua adalah bahwa meskipun Paulus mengusir para pemimpin sesat dari gereja, ia tetap berharap untuk membawa kembali mereka dengan nasihat penuh kasih, berharap suatu saat mereka dapat bertobat dan menerima mereka kembali. Bahkan dapat dikatakan bahwa tujuan pendisiplinan gereja pada akhirnya adalah untuk membawa kembali.

Teori kedua lebih sejalan dengan tata bahasa ayat 2:22-26, dan diadopsi oleh banyak sarjana. Namun, secara pribadi saya berdasarkan akal sehat menggembalakan gereja selama bertahun-tahun, dan menganggap teori pertama lebih masuk akal.

Ada banyak orang percaya di lingkaran sesat di Efesus. Timotius membutuhkan empat elemen ketika berhadapan dengan mereka (2:24-25): hendaknya dengan sikap lembut, mengajar dengan cakap, dengan lemah lembut menuntun, dan kesabaran di hati. Menuntun dalam bahasa asli memiliki arti positif dan negatif, yang positif berarti pengajaran atau pendidikan, sedangkan arti negatif berarti koreksi atau disiplin, di sini semestinya dengan sengaja membawakan kedua arti bersamaan. Sabar aslinya mengacu pada makna bertahan dalam kesulitan jangka panjang tidak menyimpan dendam dan gerutu. Ini sangat penting, menghadapi serangan jangka panjang dan tajam dari banyak musuh, secara permukaan masih sopan, namun tidak banyak gembala bisa melakukannya, tetapi jika tidak ada dendam dan gerutu di hati, hendaknya membiarkan kasih Tuhan berakar di hati kita.

Renungkan:
Pernahkah Anda berselisih paham atau bahkan konflik dengan orang lain di gereja? Apakah Anda masih merasa kesal dan penuh kebencian di dalam hati? Apakah Anda rela melepaskan kebencian tersebut dan benar-benar belajar untuk saling mencintai?


Renungan pemahaman Surat 2 Timotius

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Surat 2 Timotius ditulis oleh Yè Sōng Mào (葉松茂) yang dipublikasikan pada bulan Februari 2021 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


2 Timotius 2:20-21

「Mulia dan tidak terhormat」

Oleh Yè Sōng Mào (葉松茂)
Alliance Bible Seminary H.K.

(2 Tim. 2:20-21 [ITB])
20 Dalam rumah yang besar bukan hanya terdapat perabot dari emas dan perak, melainkan juga dari kayu dan tanah; yang pertama dipakai untuk maksud yang mulia dan yang terakhir untuk maksud yang kurang mulia.
21 Jika seorang menyucikan dirinya dari hal-hal yang jahat, ia akan menjadi perabot rumah untuk maksud yang mulia, ia dikuduskan, dipandang layak untuk dipakai tuannya dan disediakan untuk setiap pekerjaan yang mulia.

Ayat 2:20 rumah yang besar dalam bahasa aslinya adalah rumah besar yang mungkin merupakan rumah orang kaya dan bangsawan, dan lebih mungkin rumah bangsawan (orang yang mulia). Kata perabot yang dipakai ITB mungkin kurang jelas sebab dalam bahasa Indonesia lebih cenderung untuk lemari, kursi (KJV vessel mungkin kata bejana lebih sesuai; bandingkan Roma 9:21 「Apakah tukang periuk tidak mempunyai hak atas tanah liatnya, untuk membuat dari gumpal yang sama suatu benda untuk dipakai guna tujuan yang mulia dan suatu benda lain untuk dipakai guna tujuan yang biasa?」). Metafora bejana dari Paulus ini dibagi menjadi dua kategori sesuai dengan tujuannya: mulia dan kurang mulia (ITL 「yang hina」). Alasan mengapa emas dan perak berharga bukan sekadar karena harganya mahal, tetapi juga karena ada dipakai untuk maksud yang mulia di rumah besar itu, yaitu kegunaan yang mulia dan terhormat, seperti dalam perjamuan berskala besar, menyajikan makanan terbaik dan lezat, dan menjamu tamu-tamu terhormat. Barangkali Paulus ingat masa lalu, ketika Bait Suci dibangun kembali, apa yang raja Persia mengembalikan kepada orang-orang Yahudi, termasuk 30 bokor emas dan 1.000 bokor perak (Ezra 1:9). Di sisi lain, alasan mengapa perabot kayu dan tanah itu kurang mulia bukan sekadar karena bahannya yang murah, tetapi lebih karena tujuan maksud yang kurang mulia yang secara harfiah diterjemahkan adalah tujuan yang tidak terhormat dan rendah (ITL 「yang hina」), yang mungkin termasuk menempatkan sampah atau bahkan kotoran manusia (lihat terjemahan NET “ignoble“, KJV “dishonour“, arti kata “ignoble” sangat kuat “completely lacking nobility in character or quality or purpose“)

Dengan pemahaman ini, ayat 2:21 akan menjadi lebih jelas. Syarat pertama sebagai bejana yang berharga bagi pemilik rumah yang besar ── mungkin raja ── untuk menampung anggur tua untuk dinikmati banyak tamu terhormat adalah menghindari bercampur bersama dengan bejana kurang mulia yang berisi sampah dan kotoran manusia. Ayat 2:22-26 akan menjelaskan lebih lanjut bagaimana Timotius bisa menjadi kudus, menjadi bejana yang mulia.

Metafora ini sangat mengesankan. Ini mengingatkan kita bahwa meskipun orang Kristen tidak mengejar ketenaran dan keuntungan, tetapi harus berusaha dan mengejar menjadi perabot untuk tujuan mulia, karena dengan demikian dapat digunakan oleh Tuan kita, Yesus Kristus, dan bersiap untuk melakukan semua jenis kebaikan. Kita tidak mengejar harta emas dan perak dalam hidup, tetapi berusaha di tangan Kristus menjadi emas dan perak, dan dalam perjamuan kasih Tuhan, menyiarkan kasih Tuhan kepada dunia. Kita tidak boleh putus asa menyerah atas diri kita sendiri, mencampakkan diri sendiri, menjadi perabot tidak mulia dan tidak terhormat, sehingga terbuang.

Renungkan:
Analogi ini menekankan bahwa kita tidak boleh lalai, dan kita harus mempersiapkan diri dengan kesungguhan dan hati-hati, menjadi bejana yang dipakai Tuhan. Apakah Anda ingin menjadi bejana emas yang penuh dengan anggur dan makanan, atau tembikar tanah untuk membuang sampah dan kotoran?

(Mari kita perhatikan ayat 21, “Jika seorang menyucikan dirinya dari hal-hal yang jahat, ia akan menjadi perabot rumah untuk maksud yang mulia, ia dikuduskan, dipandang layak untuk dipakai tuannya dan disediakan untuk setiap pekerjaan yang mulia.”
Ayat 19, “… Setiap orang yang menyebut nama Tuhan hendaklah meninggalkan kejahatan“)


Renungan pemahaman Surat 2 Timotius

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Surat 2 Timotius ditulis oleh Yè Sōng Mào (葉松茂) yang dipublikasikan pada bulan Februari 2021 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


2 Timotius 2:18

「Bersyukur atas materi yang ada」

Oleh Yè Sōng Mào (葉松茂)
Alliance Bible Seminary H.K.

(2 Tim. 2:18 [ITB])
18 yang telah menyimpang dari kebenaran dengan mengajarkan bahwa kebangkitan kita telah berlangsung dan dengan demikian merusak iman sebagian orang.

(1 Tim. 4:3 [ITB])
3 Mereka itu melarang orang kawin, melarang orang makan makanan yang diciptakan Allah supaya dengan pengucapan syukur dimakan oleh orang yang percaya dan yang telah mengenal kebenaran

Surat 1 dan 2 Timotius menggunakan banyak ruang untuk mengkritik omong kosong bidat Efesus, tetapi jarang berbicara tentang isi dari ajaran sesat itu. Hanya ada dua ayat yang lebih spesifik. 1 Tim. 4:3 tampaknya semacam asketisme, yang melarang pernikahan dan makanan tertentu, agak mirip dengan aturan biksu; 2 Tim. 2:18 mengatakan kebangkitan kita telah berlangsung. Bidat yang dicatat 1 Kor. 15:12 sepenuhnya menyangkal kebangkitan, dan di sini mungkin spiritualisasi kebangkitan. Ajaran sesat mengajarkan bahwa ketika setiap orang percaya bertobat dan dibaptis, dia telah mengalami mati dan hidup dengan Tuhan Kristus dalam arti spiritual saja, sehingga kebangkitan telah berlalu tidak ada lagi, jiwa yang bangkit ini bisa juga bersama Tuhan dalam kekekalan, tetapi di masa depan tidak akan ada kebangkitan tubuh orang mati.

Kebangkitan tubuh orang mati adalah inti doktrin agama Kristen dan tidak dapat dikompromikan. Paulus mengatakan bahwa jika tidak ada kebangkitan, apa yang kita beritakan adalah sia-sia (1 Kor. 15:15, Sebab jika benar orang mati tidak dibangkitkan, maka Kristus juga tidak dibangkitkan), dan orang Kristen lebih menyedihkan dari segala manusia (1 Kor. 15:19). Pengakuan Iman Rasuli juga menekankan Saya percaya pada kebangkitan tubuh. Itu melawan budaya utama zaman itu, yaitu, sikap negatif terhadap materi dan daging dalam budaya Yunani. Secara garis besar, filsafat Yunani memperlakukan dunia semuanya dibagi menjadi dua tingkat. Yang pertama adalah materi dan fisik, dan yang kedua adalah spiritual, mental, dan metafisik. Filsafat Yunani kebanyakan mengambil sikap negatif terhadap materi dan fisik, materi itu tidak penting, bahkan jahat. Ini menjelaskan mengapa bidat Efesus melarang pernikahan dan makanan tertentu, dan menentang adanya kebangkitan tubuh di masa depan.

Ada satu bagian filsafat Yunani yang terkenal adalah sikap Socrates ketika menghadapi kematiannya sendiri. Dia percaya bahwa kematian adalah hal yang baik dan harus disambut dengan gembira dengan kematian, karena jiwa itu abadi, dan kematian memungkinkan jiwa untuk dilepaskan dari tubuh. Tetapi pandangan teologi Paulus adalah berakar pada Perjanjian Lama, dia jelas menentang sikap filsafat Yunani ini. Paulus menyatakan bahwa dunia dalam bentuk materi dan tubuh itu penting, orang makan makanan yang diciptakan Allah supaya dengan pengucapan syukur dimakan oleh orang yang percaya dan yang telah mengenal kebenaran. Karena semua yang diciptakan Allah itu baik dan suatupun tidak ada yang haram, jika diterima dengan ucapan syukur(1 Tim. 4:3-4). Ini menggemakan pandangan teologis Kejadian pasal 1, setelah Allah menciptakan dunia material, Alkitab berkata, Allah melihat segala yang dijadikan-Nya itu, sungguh amat baik.

Penyangkalan budaya Yunani terhadap materi dan tubuh telah mengganggu Gereja selama dua ribu tahun, termasuk Gnostisisme di masa awal dan asketisme abad pertengahan. Gereja-gereja di China masih bermasalah dengan budaya Yunani sampai hari ini, dan mudah untuk menyangkal kebutuhan adanya materi dalam hidup.

Renungkan:
Ayat 4 Karena semua yang diciptakan Allah itu baik dan suatupun tidak ada yang haram, jika diterima dengan ucapan syukur, mungkin hari ini kita berhenti sejenak dan hitung semua yang Allah berikan kepada kita, makanan, sandang, papan, dan transportasi, itu baik, Anda bisa mengucapkan syukur untuk satu per satu hal itu!

(Tentu kita tidak berkata bahwa materi adalah prioritas utama dan tujuan hidup kita adalah untuk mengejar materi, namun kita tidak menyangkal butuh adanya pemeliharaan Allah kepada kita dalam bentuk materi agar kita bisa bertahan hidup dengan tujuan hidup untuk melayani Tuhan, dan kita mengucapkan syukur atas berkat pemeliharaan ini.)


Renungan pemahaman Surat 2 Timotius

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Surat 2 Timotius ditulis oleh Yè Sōng Mào (葉松茂) yang dipublikasikan pada bulan Februari 2021 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


2 Timotius 2:14-19

「Tuhan mengenal siapa kepunyaan-Nya」

Oleh Yè Sōng Mào (葉松茂)
Alliance Bible Seminary H.K.

(2 Tim. 2:14-19 [ITB])
14 Ingatkanlah dan pesankanlah semuanya itu dengan sungguh-sungguh kepada mereka di hadapan Allah, agar jangan mereka bersilat kata, karena hal itu sama sekali tidak berguna, malah mengacaukan orang yang mendengarnya.
15 Usahakanlah supaya engkau layak di hadapan Allah sebagai seorang pekerja yang tidak usah malu, yang berterus terang memberitakan perkataan kebenaran itu.
16 Tetapi hindarilah omongan yang kosong dan yang tak suci yang hanya menambah kefasikan. 17 Perkataan mereka menjalar seperti penyakit kanker. Di antara mereka termasuk Himeneus dan Filetus, 18 yang telah menyimpang dari kebenaran dengan mengajarkan bahwa kebangkitan kita telah berlangsung dan dengan demikian merusak iman sebagian orang.
19 Tetapi dasar yang diletakkan Allah itu teguh dan meterainya ialah: Tuhan mengenal siapa kepunyaan-Nya dan Setiap orang yang menyebut nama Tuhan hendaklah meninggalkan kejahatan.

Salah satu alasan mengapa ajaran sesat di Efesus merepotkan, selalu melanda gereja, salah satu alasannya adalah bahwa bidat menganjurkan omong kosong (2:16). Paulus di Surat 1dan 2 Timotius menggambarkan mengerikannya omong kosong ini dalam berbagai bentuk: (1) omongan yang kosong dan yang tak suci (2:16), (2) soal-soal yang dicari-cari, yang bodoh dan tidak layak, menimbulkan pertengkaran (2:23), dan (3) memalingkan telinganya dari kebenaran (4:4). Karena pembicaraan kosong ini hanya fokus pada bentuk omong-omong diskusi, tidak memiliki konten konkret, jadi Paulus meski memiliki pengetahuan yang mendalam namun berdebat dengan mereka juga tidak ada gunanya, Paulus sepertinya merasa tidak mudah untuk mengatasinya.

Bidat telah mengganggu di gereja Efesus untuk waktu yang lama, karena berasal dari dalam, dan memiliki pengaruh yang sangat kuat di antara kelompok saudara di gereja. Pemimpin bidat ini semuanya laki-laki, 1. Tim. 1:19-20 ada dua orang Himeneus dan Aleksander; di 2 Tim. 2:17 adaHimeneus dan Filetus. Dalam 1. Tim. 1:19-20 Paulus menyebutkan bahwa dia sendiri telah menghentikan dan mengusir dua pemimpin sesat pada saat itu dari gereja, telah kuserahkan kepada Iblis, supaya jera mereka menghujat. Ketika di Surat 2 Timotius, Himeneus masih berada di gereja Efesus. Ini menunjukkan seberapa jauh pengaruh bidat itu, dan betapa sulitnya bagi Timotius untuk menggembalakan gereja di Efesus. Ayat 2:17 dikatakan menjalar seperti penyakit kanker untuk menggambarkan melebar berkembangnya bidat ini, dan itu juga mengikis fondasi gereja.

Di ayat 2:14 semuanya itu mengacu pada pujian 2:11-13. Paulus di sini memperluas tema di atas, yaitu bahwa kita yang setia kepada Kristus akan memerintah bersama-Nya di masa depan. Namun demikian, Paulus menekankan dalam paragraf ini bahwa setia kepada Kristus, seseorang harus menghindari (2:16) ajaran sesat dan ajaran yang menyimpang dari kebenaran; pada gilirannya, dia mendorong Timotius di gereja Efesus hendaknya berterus terang memberitakan perkataan kebenaran itu (2:15), agar layak di hadapan Allah sebagai seorang pekerja yang tidak usah malu.

Maka Paulus meminta Timotius untuk mengingatkan gereja Efesus bahwa setia kepada Kristus berarti menjauhi ajaran bidat. Ayat 2:19 menggunakan metafora untuk menekankan hal ini, mengatakan bahwa Allah telah meletakkan dasar fondasi (di zaman adalah batu besar), dengan dua baris tulisan terukir di atasnya, yang menyatakan (1) Tuhan mengenal siapa kepunyaan-Nya, mengenali siapa orang percaya yang setia kepada-Nya. (2) Setiap orang yang menyebut nama Tuhan hendaklah meninggalkan kejahatan, orang percaya yang setia kepada-Nya harus meninggalkan ajaran bidat. Perhatikan bahwa ia menggunakan meninggalkan untuk berseru kepada orang beriman yang telah bergabung dengan ajaran sesat untuk berbalik kembali.

Renungkan:
Tuhan mengenali umat-Nya sendiri. Apakah hidup Anda berjalan di jalan kebenaran Allah? Apakah Anda kepunyaan-Nya yang dikenali oleh Tuhan?


Renungan pemahaman Surat 2 Timotius

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Surat 2 Timotius ditulis oleh Yè Sōng Mào (葉松茂) yang dipublikasikan pada bulan Februari 2021 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


2 Timotius 2:11-13

「Aku menghormati mereka yang menghormati Aku」

Oleh Yè Sōng Mào (葉松茂)
Alliance Bible Seminary H.K.

(2 Tim. 2:11-13 [ITB])
11 Benarlah perkataan ini:
Jika kita mati dengan Dia,
. . . . . kitapun akan hidup dengan Dia;
12 jika kita bertekun,
. . . . . . kitapun akan ikut memerintah dengan Dia;
jika kita menyangkal Dia,
. . . . Diapun akan menyangkal kita;
13 jika kita tidak setia,
. . . . . . Dia tetap setia,
karena Dia tidak dapat menyangkal diri-Nya.

Hari ini kita akan merenungkan tentang struktur puisi empat baris ini, kemarin kita telah menyebutkan bahwa dalam tiga kalimat pertama, paruh pertama dari setiap kalimat adalah tindakan atau sikap orang percaya, dan paruh kedua adalah respons yang menggemakan relasi dengan Kristus.

Bagian pertama dari kalimat pertama Jika kita mati dengan Dia (bersama Kristus) adalah bentuk lampau, dan paruh kedua kitapun akan hidup dengan Dia adalah kalimat masa depan. Kalimat ini berarti bahwa orang percaya mati bersama Kristus ketika mereka bertobat dan dibaptis, yakni pengalaman rohani mati bersama Kristus dan bangkit bersama Kristus. Ini adalah deskripsi yang mirip dengan Roma 6:8 Jadi jika kita telah mati dengan Kristus, kita percaya, bahwa kita akan hidup juga dengan Dia.

Paruh pertama dari kalimat kedua jika kita bertekun (tabah bertahan sampai akhir) adalah bentuk sekarang, dan paruh kedua kalimat kitapun akan ikut memerintah dengan Dia adalah kalimat masa depan. Kalimat inilah yang menjadi alasan Paulus memakai pujian ini untuk membawakan keseluruhan tema: Anda tabah dan bertekun dalam kesengsaraan sekarang, dan Anda akan memerintah bersama Tuhan di masa depan.

Keseluruhan kalimat pada kalimat ketiga adalah kalimat masa depan, yang memiliki arti yang sama dengan kalimat kedua namun memakai sudut pandang dari arah negatif. Jika seseorang murtad, maka ketika Kristus kembali untuk menghakimi, Dia tidak akan mengakui mengenal orang itu. Menyangkal adalah putus hubungan, menarik garis batas yang jelas. Jika engkau menarik garis yang jelas dengan Kristus, Kristus juga akan menarik garis yang jelas dengan engkau di masa depan.

Struktur interaksi positif, negatif, interaksi antara manusia dan Allah dalam puisi ini mengingatkan kita pada salah satu perkataan dalam 1 Sam. 2:30 … Aku akan menghormati mereka yang menghormati Aku, tetapi mereka yang merendahkan Aku, akan dipandang hina Allah membawakan nubuat: Dia akan menghukum dua putra imam Eli yang tidak menghormati Allah. Kalimat ini muncul dalam film Oscar terbaik Chariots of Fire

Film ini menceritakan kisah nyata. Pria Skotlandia Eric Liddell awalnya diunggulkan untuk memenangkan Olimpiade 100 meter tahun itu. Namun, karena acara tersebut dijadwalkan diadakan pada hari Minggu, itu bertentangan dengan prinsip iman kepercayaannya, ia memutuskan untuk meninggalkan pertandingan, memicu respons masyarakat yang sangat besar, kritik di surat kabar ditempatkan di halaman paling depan. Pangeran raja juga mencoba melobi dia, tetapi gagal. Eric Liddell akhirnya berubah untuk ikut pertandingan 400 meter yang bukan keahlian dia. Di final, dia hampir tidak terpilih dan mendapatkan jalur paling luar. Sebelum perlombaan dimulai seseorang memberinya secarik kertas, yang berbunyi: Aku akan menghormati mereka yang menghormati Aku. Termotivasi, dia mengeluarkan segala usaha kemampuannya untuk berlari. Karena dia berada di jalur luar maka posisi mulainya di bagian terdepan, dia tidak bisa melihat satupun lawannya sehingga ia tidak bisa menyesuaikan kekuatannya relatif terhadap kecepatan lari orang lain, jadi dia memutuskan bahwa dia tidak akan menyimpan energinya dan menyelesaikan seluruh jarak 400 meter seperti berlari 100 meter. Dia berlari dengan kecepatan penuh sejak awal. Saat 200 meter, dia sudah jauh di depan, penonton mengira bahwa dengan kecepatan seperti ini dia pasti tidak memiliki kekuatan fisik untuk menyelesaikan pertandingan. Namun, dengan postur larinya yang unik, dia menatap ke langit dan terus berlari dengan sekuat-kuatnya, ia menang sebagai juara (memperoleh mahkota) dan memecahkan rekor dunia.

Film diakhiri dengan sorak-sorai, tetapi Eric Liddell tidak menempatkan tepuk tangan dunia sebagai tujuan hidupnya. Pada tahun kedua setelah memenangkan medali emas, dia melepaskan karirnya sebagai atlet dan pergi ke China sebagai misionaris. Ketika Jepang menyerbu Tiongkok, situasinya kritis, dia mengirim pergi istri dan anak-anaknya, tinggal sendirian di Tiongkok untuk mengajar, dan akhirnya dikurung di kamp konsentrasi Jepang. Selama dua tahun di kamp konsentrasi, dia masih berusaha keras untuk membuat nyata iman, membuka kelas ilmu pengetahuan dan kelas pembelajaran Alkitab untuk anak-anak di kamp, juga mengajari mereka bermain sepak bola. Pada akhirnya, Eric Liddell meninggal karena sakit di kamp konsentrasi, tidak ada tepuk tangan dunia, dan tidak ada kemuliaan medali emas Olimpiade.

Tetapi ketika dia bertemu Tuhan, pasti akan mendapatkan mahkota yang sebenarnya, yang di atasnya tertulis: Aku akan menghormati mereka yang menghormati Aku.

Renungkan:
Apakah Anda menghormati Allah dalam segala hal? Apakah Anda mengejar medali emas Olimpiade, atau mahkota Allah?


Renungan pemahaman Surat 2 Timotius

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Surat 2 Timotius ditulis oleh Yè Sōng Mào (葉松茂) yang dipublikasikan pada bulan Februari 2021 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.