Tag Archives: Musuh Allah

Ratapan 2:4-5

「TUHAN jadi seteru」
Oleh Dr. Lawrence Ko
Alliance Bible Seminary H.K.

(Ratapan 2:4-5 [ITB])
4 Ia membidikkan panah-Nya seperti seorang seteru dengan mengacungkan tangan kanan-Nya seperti seorang lawan; membunuh segala yang menyenangkan mata dalam kemah puteri Sion, memuntahkan geram-Nya seperti api.
5 Tuhan menjadi seperti seorang seteru; Ia menghancurkan Israel, meremukkan segala purinya, mempuingkan benteng-bentengnya, memperbanyak susah dan kesah pada puteri Yehuda.

Ratapan 2:4-5, kedua ayat ini masing-masing memiliki kata seperti seteru, ada orang berpendapat bahwa kata seperti berarti TUHAN bukanlah sungguh-sungguh musuh Sion, Dia hanya sekadar seperti musuh, tetapi jenis diskusi terlalu akademis yang seperti itu menggunakan analisa logika untuk membedah sebuah syair ratapan, sehingga mungkin mengabaikan keindahan puisi dan berharganya keindahan kata-kata yang dipakai, penyair Ratapan tidak membedakan itu adalah musuh atau seperti musuh. Dalam hal tata bahasa, kata seperti merupakan sejenis penyamaan afirmatif (asseverative Kaph), menyamakan TUHAN (Yahweh) dan musuh, menunjukkan bahwa TUHAN adalah musuh Sion.

Bagaimana TUHAN menjadi musuh Sion? Ayat 4 pertama-tama menggambarkan TUHAN sebagai pemanah, dan mencatat tiga langkah memanah: persiapan – membidik – peluncuran. TUHAN sebagai pemanah bukan pemanah yang biasa-biasa. Kalaupun seorang juara olimpiade juga tidak bisa tepat mengenai sasaran seratus persen. Tetapi TUHAN adalah musuh yang berbahaya, jika Ia memanah pasti akan seratus persen mengenai sasaran, artinya tidak ada cara bagi Sion melarikan diri menghindari TUHAN, hukuman pasti akan datang kepada Sion.

Kemudian, paruh kedua ayat 4 menjelaskan lebih lanjut bahwa murka Allah seperti api, mengulangi tema api di ayat 3. Ayat 5 menunjukkan bahwa api ini adalah datang dari TUHAN sebagai seorang musuh, tujuannya adalah menelan semua istana Israel dan Sion, dan menghancurkan semua benteng-benteng penjamin pelindung umat itu. Istana dan pelindung ini adalah kebanggaan bangsa Israel di masa lalu. Segala sesuatu sekarang rapuh terhadap amukan api TUHAN. Kebanggaan di masa lalu membuat orang Israel berpikir bahwa penyembahan berhala dan persekutuan dengan bangsa-bangsa lain untuk melakukan zina juga tidak berbahaya, berpikir bahwa yang terpenting adalah perlindungan yang kuat dan istana yang indah. Namun, ketika suatu bangsa tidak memiliki standar moral, menganggap remeh perjanjian dan hukum Allah sebagai bukan apa-apa, tidak bangga atas keadilan dan kebenaran, malah sebaliknya bangga atas kecantikan dan kekayaan lahiriah. Maka suatu hari Allah akan mengambil semua hal ini yang dia banggakan, Allah akan menganggap Sion sebagai musuh, karena dia menindas orang-orang, tidak mengikuti hukum Allah. Oleh karena itu, warga Sion menghadapi kesedihan dan tangisan, karena mereka semua menghadapi pembinasaan.

Renungkan:
TUHAN (Yahweh) adalah rekan perjanjian Sion, tetapi sekarang Dia telah menjadi musuh. Ini bukan karena TUHAN meninggalkan Sion, tetapi karena kejahatan Sion membuat TUHAN harus mencurahkan murka memperlakukan dia sebagai musuh, murka Allah bukanlah murka emosional, tapi sikap dasar terhadap dosa, jadi ketika kita masih menikmati istana dan keamanan dan bangga akan hal ini, kita harus memahami sebenarnya bukan kekayaan duniawi yang membuat sebuah kota menjadi kuat, tetapi adalah menaati hukum dan perintah TUHAN, menjalankan dengan keadilan dan keadilan seperti yang ditentukan dalam perjanjian, jika tidak, maka Allah akan mencurahkan murka-Nya dan memandang kita sebagai musuh.


Renungan pemahaman Kitab Ratapan

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Ratapan ditulis oleh Dr. Lawrence Ko (Gāo Míng Qiān 高銘謙) yang dipublikasi pada bulan Oktober 2020 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Iklan yang ada bukan milik blog ini, tetapi milik WordPress penyedia fasilitas blog tanpa biaya.

Nahum 2:3-13

「Akhir dari Melawan TUHAN」
Oleh 潘仕楷 (Pān Shì Kǎi)
Alliance Bible Seminary H.K.

(Nahum 2:3-13 [ITB])
3 Perisai para pahlawannya berwarna merah, prajuritnya berpakaian kirmizi; kereta berkilat-kilat seperti api suluh pada hari ia melengkapinya, dan kuda-kuda penuh gelisah. 4 Kereta melaju galak di jalan, kejar-mengejar di lapangan; kelihatannya seperti suluh, berpacu seperti kilat. 5 Pasukan-pasukan istimewa dikerahkan, mereka tersandung jatuh di waktu berjalan maju; mereka lari terburu-buru ke arah tembok kota, sedang alat pendobrak sudah ditegakkan. 6 Pintu-pintu di sungai-sungai telah dibuka, dan istana menjadi gempar. 7 Permaisuri dibawa ke luar dan ditelanjangi dan dayang-dayangnya mengerang, mengaduh seperti suara merpati sambil memukul-mukul dada. 8 Niniwe sendiri seperti kolam air yang airnya mengalir ke luar. 「Berhenti! Berhenti!」 teriak orang, tetapi tidak ada yang berpaling. 9 Jarahlah perak, jarahlah emas! Sebab tidak berkesudahan persediaan harta benda, kelimpahan segala barang yang indah-indah! 10 Ketandusan, penandusan dan penindasan! Hati menjadi tawar dan lutut goyah! Segenap pinggang gemetar, dan muka sekalian orang menjadi pucat pasi.

11 Di mana gerangan persembunyian singa dan gua singa-singa muda, tempat singa pulang pergi, tempat anak singa, di mana tidak ada yang mengganggunya? 12 Biasanya singa itu menerkam supaya cukup makan anak-anaknya, mencekik mangsa bagi betina-betinanya, dan memenuhi liangnya dengan mangsa dan persembunyiannya dengan terkaman. 13 Lihat, Aku akan menjadi lawanmu, demikianlah firman TUHAN semesta alam, Aku akan membakar keretamu menjadi asap, dan pedang akan memakan habis singa mudamu; Aku akan melenyapkan mangsamu dari atas bumi, dan suara utusan-utusanmu tidak akan terdengar lagi.

Perikop ini dapat dibagi menjadi dua bagian, 2:3-10 mungkin merupakan bagian lain tentang Niniwe mengalami serangan, yang dengan sangat terperinci menggambarkan berbagai aspek pertempuran yang terjadi. Selanjutnya, 2:11-13 menggunakan singa sebagai metafora, yang merupakan refleksi atas kehancuran yang dialami Niniwe.

Meskipun Kitab Suci tidak secara jelas menunjukkan identitas penyerang, konten yang dijelaskan dalam 2:3-4 tampaknya menunjuk pada tentara yang sebenarnya, bukan prajurit spiritual, karena perlengkapannya terdiri dari perisai, senjata, dan kereta, juga pakaian merah kirmizi yang dikenakan oleh pasukan istimewa, sangat sesuai dengan kondisi para prajurit yang sesungguhnya. Dalam sejarah, apa yang dijelaskan di sini mungkin adalah pasukan Babel.

Dalam 2:5, raja Asyur tampaknya berusaha mengumpulkan pembesarnya untuk melawan pasukan penyerang, walaupun mereka mencoba untuk bertahan, mereka tersandung, pintu-pintu gerbang tembok pertahanan di sungai penghalang, dan fasilitas pertahanan lainnya awalnya merupakan kekuatan pertahanan yang sangat hebat, tetapi semuanya satu per satu tidak berguna. Beberapa sejarawan Yunani berpendapat bahwa Niniwe dibobol pertahanannya karena air sungai menghantam roboh tembok kota, tetapi arkeologi modern menemukan bahwa tembok kota Niniwe tidak rusak, dan pasukan penyerang terutama menyerang dan masuk melalui dua gerbang kota sehingga mengalahkan kekuatan pertahanan (sesuai ayat 5-6). Ayat 2:7 menggambarkan ini sebagai hal yang ditetapkan, menyiratkan bahwa ini adalah penghakiman yang dinubuatkan oleh TUHAN.

Ayat 2:8 adalah penyebutan pertama Niniwe setelah disebutkan di ayat 1:1, membandingkan kekuatannya dahulu dengan situasi kekalahan pada saat ini. Meskipun awalnya ia penuh dengan penduduk, mencerminkan kekuatan militer, tetapi dalam pertempuran ini mereka semua melarikan diri. Walaupun pemimpinnya terus mengeluarkan perintah untuk menghentikan mereka melarikan diri, tetapi tidak ada yang berbalik.

Di ayat 2:10, nabi Nahum menggambarkan akhir dari perang tersebut. Dari segi kota, kota itu menjadi ketandusan, penandusan, penindasan, sepi, dan benar-benar reruntuhan. Dari segi penduduk di dalamnya, hati orang-orang menjadi tawar ketakutan, lutut goyah, pinggang gemetar, dan muka sekalian orang berubah menjadi pucat pasi, mencerminkan kegagalan mereka, benar-benar tak berdaya di depan musuh.

Ayat 2:11-12 beralih dari deskripsi perang berpindah kepada gambaran metaforis. Persembunyian singa dan gua singa jelas merupakan metafora atas Niniwe, yang berpikir dirinya bisa tenang dan membiarkan anak-anaknya menikmati hasil pemburuannya. Ini adalah penggambaran yang sangat tepat atas Niniwe, karena kemakmuran kerajaan Asyur didasarkan pada invasinya terhadap kerajaan lain, mengalahkan banyak negara, membuat mereka menyerah pada kekuasaannya, dan menawarkan upeti harta yang menjadikan Niniwe tempat yang terkaya pada saat itu. Tetapi segera setelah gambaran ini, dalam ayat 2:13 TUHAN melalui nabi Nahum menunjukkan bahwa Dia akan menjadi musuh baginya, sehingga ia yang awalnya kuat itu akan ditelan hancur.

Penyebab utama kematian Niniwe adalah penghakiman TUHAN kepadanya. Dan Tuhan yang mengumumkan penghakiman ini adalah TUHAN semesta alam. Dia adalah penguasa seluruh bumi dan Allah yang mengendalikan segalanya. Di hadapan-Nya, tidak ada yang bisa berdiri, dan tidak ada kekuatan yang bisa membandingkan diri dengan Dia.

Renungkan:
Hasil melawan Tuhan adalah pasti gagal. Mohon Tuhan mengokohkan kita agar kita dapat berdiri teguh di depan kekuatan jahat.


Renungan pemahaman Kitab Nahum

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Zefanya, Yoel, Mikha, Nahum ditulis oleh 潘仕楷 (Pān Shì Kǎi) yang dipublikasi pada bulan Juli 2020 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Iklan yang ada bukan milik blog ini, tetapi milik WordPress penyedia fasilitas blog tanpa biaya.

Nahum 1:9-14

「Musuh Tidak Bangkit Lagi」
Oleh 潘仕楷 (Pān Shì Kǎi)
Alliance Bible Seminary H.K.

(Nahum 1:9-14 [ITB])
9 Apakah maksudmu menentang TUHAN? Ia akan menghabisi sama sekali; kesengsaraan tidak akan timbul dua kali! 10 Sebab merekapun akan lenyap seperti duri yang berjalin-jalin, dimakan habis seperti jerami kering. 11 Bukankah dari padamu muncul orang yang merancang kejahatan terhadap TUHAN, orang yang memberi nasihat dursila?

12 Beginilah firman TUHAN: Sekalipun mereka utuh dan begitu banyak jumlahnya, tetapi mereka akan hilang terbabat dan mati binasa; sekalipun Aku telah merendahkan engkau, tetapi Aku tidak akan merendahkan engkau lagi. 13 Sekarang, Aku akan mematahkan gandarnya yang memberati engkau, dan akan memutuskan belenggu-belenggu yang mengikat engkau.

14 Terhadap engkau, inilah perintah TUHAN: Tidak akan ada lagi keturunan dengan namamu. Dari rumah allahmu Aku akan melenyapkan patung pahatan dan patung tuangan; kuburmu akan Kusediakan, sebab engkau hina.

Dalam perikop ini, nabi Nahum dengan cepat mengalihkan pihak tertuju dari pemberitaannya, namun ia tidak secara jelas menunjukkan siapa pihak yang menjadi objek pengumuman itu. Karena itu, kita hanya dapat memutuskan berdasarkan perkiraan, dan melihat apakah pihak itu baik atau buruk sesuai dengan isi tulisan Kitab Suci. Terjemahan mandarin CUV-R secara ketat mengikuti cara ekspresi teks bahasa asli untuk menghindari penerjemahan yang mengandung perkiraan kepada siapa objek tertuju dari pengumuman ini (juga ITB Apakah maksudmu menentang TUHAN? …) . Namun, CUV melampirkan penjelasan ini pada terjemahannya (Apakah yang sedang kaupikirkan untuk melawan TUHAN, hai Niniwe? …), menandai ayat 9-12a sebagai pernyataan kepada Niniwe, ayat 12b dan 13 adalah pesan menghibur tertuju kepada Yehuda, dan ayat 14 beralih kembali sebagai pengumuman penghakiman tertuju kepada Niniwe. Meskipun penjelasan ini tidak tertulis secara langsung dalam teks bahasa aslinya, namun merupakan perkiraan yang cukup akurat berdasarkan makna seluruh konten dan layak menjadi referensi.

Ada sarjana peneliti Alkitab yang berpendapat bahwa karena tidak tertulis secara jelas adanya perubahan dalam objek pihak sehingga mereka menafsirkan bahwa seluruh paragraf sebagai pernyataan kepada Niniwe, dan melihat kalimat terakhir dari ayat 12 sebagai ringkasan dari penghakiman tersebut. Serta menunjukkan bahwa ini adalah penghukuman yang bersifat satu kali yang membuat Niniwe tidak bisa bangkit lagi, jadi di ayat 9 … Ia akan menghabisi sama sekali; kesengsaraan tidak akan timbul dua kali … , bahwa musuh tidak akan bangkit lagi dipakai sebagai konsep untuk memahami kesengsaraan tidak akan timbul dua kali, berarti satu pukulan hukuman telah menyelesaikan tujuannya, dan tidak perlu menderita sengsara untuk kedua kalinya (bandingkan pemahaman dalam terjemahan FAYH Apakah yang sedang kaupikirkan untuk melawan TUHAN, hai Niniwe? Ia akan mencegah kamu hanya dengan satu pukulan saja; Ia tidak perlu memukulmu dua kali). Tetapi frasa kesengsaraan tidak akan timbul dua kali lebih merupakan pesan yang menghibur, sehingga lebih tepat ditujukan kepada Yehuda seperti pemahaman dalam terjemahan CUV.

(Tambahan dari penerjemah renungan: terjemahan harfiah bentuknya lebih mirip ekspresi bahasa asli namun lebih sulit dipahami, sedangkan terjemahan fungsional lebih mudah dipahami namun tidak selalu bisa sepenuhnya mencakup makna yang terkandung dan membawa tafsiran tim penerjemah. Masing-masing memberikan referensi dan memperkaya pemahaman kita.)

Dalam pengumuman menentang Niniwe, nabi Nahum menunjukkan bahwa rancangan yang ingin menyerang TUHAN (Yahweh) akan dikalahkan. Ada dua kemungkinan untuk situasi yang dijelaskan dalam ayat 9 dan 11: pertama adalah pada masa pemerintahan Hizkia, ketika raja Sanherib dari Asyur melancarkan serangan terhadap Yehuda pada tahun 701 SM. Meskipun ia memiliki strategi serta kekuatan yang baik dan cukup, tetapi di mata TUHAN, mereka pasti akan kalah. Jika ini adalah pemahaman yang benar, kita dapat melihat dari 2 Raj. 19:35 bahwa TUHAN secara ajaib dalam sekejap memusnahkan pasukan Asyur dalam semalam. Pada waktu itu, malaikat TUHAN keluar dan membunuh 185.000 orang di kamp Asyur. Ada orang bangun pagi-pagi dan melihat dalam satu pandangan bahwa semuanya mati. Karena kekalahan ini, invasi Sanherib yang menghancurkan 46 kota di Yehuda, tidak hanya pulang dengan tangan hampa, tetapi bahkan menderita banyak kerugian, menyebabkan kekuatan Asyur yang berada dalam masa kejayaannya sejak itu memasuki proses kehancuran.

Kemungkinan lain adalah secara lebih samar menunjukkan pada periode ketika Asyur menguasai wilayah Timur Dekat Kuno, yakni dari akhir abad 8 SM hingga akhir abad 7 SM. Selama periode ini, meskipun Yehuda adalah negara merdeka, tetapi ia berada di bawah kendali Asyur, dan pada masa pemerintahan Yosia barulah ia dapat melepaskan diri dari kendali Asyur.

Dalam ayat 12b dan 13 memperlihatkan bahwa pesan ini adalah bagi Yehuda. TUHAN (Yahweh) akan mematahkan kuk yang dikenakan Niniwe pada mereka, membuka tali yang mengikat mereka, dan membuat mereka bebas kembali. Manapun yang dimaksudkan nabi Nahum apakah merujuk pada peristiwa di tahun-tahun Hizkia atau pengalaman Yosia, namun kita bisa melihat keselamatan TUHAN (Yahweh) kepada umat-Nya.

Renungkan:
Apa pun situasi yang kita hadapi, kita harus percaya bahwa Tuhan adalah pemegang kekuasaan tertinggi, mohon Tuhan memberi kita iman dan mendapatkan penghiburan di dalam Dia.


Renungan pemahaman Kitab Nahum

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Zefanya, Yoel, Mikha, Nahum ditulis oleh 潘仕楷 (Pān Shì Kǎi) yang dipublikasi pada bulan Juli 2020 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Iklan yang ada bukan milik blog ini, tetapi milik WordPress penyedia fasilitas blog tanpa biaya.