Tag Archives: Berbuah

Yehezkiel 15:1-8

Ranting anggur dijadikan kayu bakar

Oleh Dr. Lawrence Ko (高銘謙)
Alliance Bible Seminary H.K.

(Yehezkiel 15:1-8 [ITB])
1 Lalu datanglah firman TUHAN kepadaku: 2 Hai anak manusia, apakah kelebihan kayu anggur dari semua kayu yang buahnya seperti anggur yang tumbuh di antara kayu-kayu di hutan? 3 Apakah orang mengambil kayunya untuk membuat sesuatu dari padanya ataukah membuat gantungan dari padanya untuk menggantungkan segala macam perkakas padanya? 4 Sungguh, kayu itu dilemparkan ke dalam api untuk dibakar; kedua ujungnya habis dimakan api dan tengah-tengahnya sedang menyala, bergunakah lagi itu untuk membuat sesuatu? 5 Lihat, sedangkan waktu ia masih utuh, tidak dipakai untuk sesuatu, apalagi sesudah dimakan api dan terbakar; apakah masih dapat lagi dipakai untuk sesuatu?
6 Oleh sebab itu beginilah firman Tuhan ALLAH: Seperti kayu anggur di antara kayu-kayu di hutan, yang Kulemparkan ke dalam api untuk dibakar, begitulah Aku lakukan terhadap penduduk Yerusalem. 7 Aku sendiri akan menentang mereka. Walaupun mereka luput dari api, tetapi api akan memakan mereka. Dan kamu akan mengetahui bahwa Akulah TUHAN, pada saat Aku menentang mereka 8 dan Aku menjadikan negeri itu sunyi sepi, oleh karena mereka berubah setia, demikianlah firman Tuhan ALLAH.

Perjanjian Lama sering menggunakan pohon anggur sebagai metafora untuk orang-orang Israel (misalnya, Yesaya 5:7), dan satu-satunya manfaat yang diharapkan dari pokok anggur adalah untuk berbuah, buah ini mewakili kebenaran dan keadilan (Yesaya 5:7). Kehendak Allah adalah menginginkan agar umat Israel menjalankan kebenaran keadilan dalam masyarakat, selain tujuan ini, pohon anggur tidak memiliki kegunaan lain.

Perikop Yeh. 15:1-8 ini menggunakan banyak pertanyaan retorik untuk membandingkan pohon anggur dengan pohon-pohon lain itu, menunjukkan bahwa ranting anggur tidak dapat seperti pohon lainnya dipakai sebagai bahan bangunan, bahkan jika dipakai untuk menggantung perkakas peralatan juga tidak cukup kuat (ayat 3). Ini karena ranting anggur lemah dan tidak bisa menjadi kayu solid, sehingga hanya dapat digunakan sebagai kayu bakar (ayat 4). Namun, bahkan jika ranting anggur digunakan untuk kayu bakar, tidak dapat membakar lemah, segala hal ini menunjukkan bahwa ranting anggur tidak memiliki kegunaan sama sekali (ayat 5). Metafora serupa juga diadopsi oleh Yesus Kristus, yang menunjukkan bahwa Yesus Kristus adalah pokok anggur yang benar dan Bapa surgawi adalah pengusahanya (Yoh. 15:1), ranting anggur adalah orang Kristen, dan fokus orang Kristen adalah berbuah (Yoh. 15:2-3), jika ranting anggur tidak menghasilkan buah maka akan dipotong dan dibuang ke dalam api (Yoh. 15:4-6 ), semua ini menunjukkan bahwa jika ranting anggur tidak berbuah, tidak ada gunanya dan hanya dapat digunakan sebagai kayu bakar.

Namun, perikop Yehezkiel ini lebih keras, ayat 7 menunjukkan, TUHAN akan menentang para ranting anggur yang akan dibakar ini, meskipun orang-orang ini luput dari api, api tetap akan melahap mereka, ayat 8 menunjukkan bahwa tanah mereka akan menjadi sunyi sepi, karena mereka semua adalah pelanggar Allah. Oleh karena itu, orang Israel sebagai cabang anggur hanya memiliki satu jalan yakni menghasilkan buah, penggunaan apa pun yang tidak menghasilkan buah bukanlah penggunaan yang berharga dari ranting anggur, bahkan jika itu dapat digunakan sebagai kayu bakar, juga tidak dapat menghindarkan hukuman dari Allah.

Renungkan:
Sudahkah hidup kita menghasilkan buah kebenaran? Sering kali, kita didorong oleh banyak aktivitas, berpendapat jika di gereja kita terlibat berbagai pelayanan dan kegiatan besar dan kecil adalah orang Kristen yang baik, tetapi yang Allah ingin lihat, bukan sekadar apakah kita terlibat dalam kegiatan gereja dan studi Alkitab, tetapi apakah hidup kita bisa diubahkan oleh firman Allah dan berbuah, kalau tidak maka kita hanya bisa seperti ranting anggur di bakar dalam api, dan tidak akan ada tujuan lain.


Renungan pemahaman Kitab Yehezkiel

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Yehezkiel 12-20 ditulis oleh Dr. Lawrence Ko (高銘謙) dipublikasi pada bulan Oktober 2021 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Iklan yang ada bukan milik blog ini, tetapi milik WordPress penyedia fasilitas blog tanpa biaya.

Amos 8:1-14

「Penglihatan 4: (1) Bakul Buah-Buahan Musim Kemarau」
Oleh 張美薇 (Zhāng Měi Wēi)
Alliance Bible Seminary H.K.

(Amos 8:1-14 [ITB])
1 Inilah yang diperlihatkan Tuhan ALLAH kepadaku: Tampak sebuah bakul berisi buah-buahan musim kemarau. 2 Lalu berfirmanlah Ia: Apakah yang kaulihat, Amos? Jawabku: Sebuah bakul berisi buah-buahan musim kemarau. Berfirmanlah TUHAN kepadaku: Kesudahan telah datang bagi umat-Ku Israel. Aku tidak akan memaafkannya lagi. 3 Nyanyian-nyanyian di tempat suci akan menjadi ratapan pada hari itu, demikianlah firman Tuhan ALLAH. Ada banyak bangkai: ke mana-mana orang melemparkannya dengan diam-diam.

4 Dengarlah ini, kamu yang menginjak-injak orang miskin, dan yang membinasakan orang sengsara di negeri ini 5 dan berpikir: Bilakah bulan baru berlalu, supaya kita boleh menjual gandum dan bilakah hari Sabat berlalu, supaya kita boleh menawarkan terigu dengan mengecilkan efa, membesarkan syikal, berbuat curang dengan neraca palsu, 6 supaya kita membeli orang lemah karena uang dan orang yang miskin karena sepasang kasut; dan menjual terigu rosokan? 7 TUHAN telah bersumpah demi kebanggaan Yakub: Bahwasanya Aku tidak akan melupakan untuk seterusnya segala perbuatan mereka! 8 Tidakkah akan gemetar bumi karena hal itu, sehingga setiap penduduknya berkabung? Tidakkah itu seluruhnya akan naik seperti sungai Nil, diombang-ambingkan dan surut seperti sungai Mesir? 9 Pada hari itu akan terjadi, demikianlah firman Tuhan ALLAH, Aku akan membuat matahari terbenam di siang hari dan membuat bumi gelap pada hari cerah. 10 Aku akan mengubah perayaan-perayaanmu menjadi perkabungan, dan segala nyanyianmu menjadi ratapan. Aku akan mengenakan kain kabung pada setiap pinggang dan menjadikan gundul setiap kepala. Aku akan membuatnya sebagai perkabungan karena kematian anak tunggal, sehingga akhirnya menjadi seperti hari yang pahit pedih.

11 Sesungguhnya, waktu akan datang, demikianlah firman Tuhan ALLAH, Aku akan mengirimkan kelaparan ke negeri ini, bukan kelaparan akan makanan dan bukan kehausan akan air, melainkan akan mendengarkan firman TUHAN. 12 Mereka akan mengembara dari laut ke laut dan menjelajah dari utara ke timur untuk mencari firman TUHAN, tetapi tidak mendapatnya. 13 Pada hari itu akan rebah lesu anak-anak dara yang cantik dan anak-anak teruna karena haus; 14 mereka yang bersumpah demi Asima, dewi Samaria dan yang berkata: Demi allahmu yang hidup, hai Dan! serta: Demi dewa kekasihmu yang hidup, hai Bersyeba! mereka itu akan rebah dan tidak akan bangkit-bangkit lagi.

Amos diberi lagi penglihatan, sekeranjang buah-buahan musim kemarau. Buah musim kemarau, adalah buah yang sudah matang atau terlalu matang di musim kemarau; buah sudah dipetik dari pohon dan diletakkan di keranjang, tidak bisa disimpan lama karena sudah akan rusak. Ketika Allah bertanya kepada Amos apa yang dilihatnya, Ia meminta Amos untuk melihat dengan jelas dan fokus yang tepat; kemudian Allah menjelaskan penglihatan, yakni akhirnya sudah tiba. Kata buah musim kemarau dan akhir serupa dalam bahasa Ibrani, yang berarti bahwa akhir Israel telah tiba. Dalam penglihatan tali sipat Allah telah menunjukkan bahwa Dia tidak akan lagi mengampuni Israel lagi, dan sekarang mengulangi lagi, Dia pasti tidak akan mengampuni mereka lagi, kasih Allah tidak akan berlanjut tanpa batas waktu, dan Allah tidak akan menunggu lagi Israel berputar kembali, palu penghakiman sudah diketuk, dan penghakiman Allah akhirnya datang kepada orang-orang Israel.

Ketika penghakiman datang, istana kerajaan seharusnya diisi dengan puisi dan musik yang menggembirakan, tetapi digantikan oleh lagu ratapan yang sangat menyedihkan, sepertinya sedang mengadakan pemakaman, karena ada begitu banyak orang mati sehingga mereka tidak dapat dimakamkan dalam prosedur yang biasa sehingga mayat pun tergeletak di mana-mana. Orang mati tidak dapat berbicara, dan mereka yang hidup sangat sedih sehingga mereka tidak dapat berbicara, yang ada hanya keheningan mati.

TUHAN sebelumnya telah bersumpah demi kekudusan-Nya sendiri (Amos 4:2) mengumumkan hukuman kepada perempuan-perempuan bangsawan Israel; Allah juga telah bersumpah demi diri-Nya (Amos 6:8) akan mengirim hukuman ke kota Samaria dan semua yang ada di dalamnya; di sini Allah bersumpah demi kebanggaan Yakub, tindakan Israel sudah sampai tahap sedemikian arogan sehingga TUHAN selama-lamanya tidak akan pernah melupakan perbuatan jahat mereka, sehingga Allah memakai gempa bumi (Amos 8:7-8), gerhana matahari (Amos 8:9), menarik kembali Firman-Nya sehingga jika orang mencari firman TUHAN, tetapi tidak mendapatnya (Amos 8:11-12), Israel dihukum menderita kehausan (Amos 8:13-14). Gempa bumi telah muncul empat kali dalam kitab Amos (Amos 2:13; 3:14-15; 8:8; 9:1), guncangan bumi gemetar, menjungkirbalikkan, membuat orang di seluruh bumi takut dan berkabung; pasang surut sungai Nil di Mesir yang sedemikian megah, tetapi ketika gempa bumi terjadi, tanah akan seperti air pasang naik dan turun, tidak peduli seberapa kaya atau sombongnya manusia, tidak ada tempat untuk melarikan diri. Ketika gerhana matahari terjadi, tiba-tiba akan menjadi gelap sepanjang siang hari, pada hari ketika orang-orang Israel akan meninggalkan Mesir, Allah juga menurunkan bencana kegelapan di Mesir, pada saat itu ada cahaya di tempat di mana orang Israel tinggal (Kel. 10:23), tetapi sekarang penghakiman tidak datang kepada musuh-musuh Israel, penghakiman adalah datang kepada orang-orang Israel. Setelah Allah menyatakan penghakiman gempa bumi dan gerhana itu, maka datanglah kelaparan, ini bukan kelaparan karena tidak ada makanan, tetapi karena tidak bisa mendengar firman TUHAN; ketika Allah menarik firman-Nya, umat Allah berkeliling mencari firman-Nya tetapi ada hasil, pulang tangan kosong, mencari, tidak mendapat.

Renungkan:
Buah yang sudah dipetik mudah busuk, hanya buah yang tinggal pada pokok yang bisa bertahan hidup. Buah tidak hanya perlu bertahan hidup, terlebih menghasilkan buah yang baik. Yesus Kristus menggunakan perumpamaan tentang buah untuk menggambarkan bahwa para pengikut dapat dikenali dari buah yang dihasilkan adalah kebaikan atau keburukan (Mat. 7:17, 20) Bagaimana orang bisa mengenali pohon yang baik? Adalah zaitun liar yang telah dicangkokkan pada akar pohon zaitun asli: … kamu sebagai tunas liar telah dicangkokkan di antaranya dan turut mendapat bagian dalam akar pohon zaitun yang penuh getah (Roma 11:17b), bukan hanya sekadar dicangkokkan, tetapi harus senantiasa menempel terikat erat sehingga bisa senantiasa menghasilkan buah kebaikan. Tinggallah di dalam Aku dan Aku di dalam kamu. Sama seperti ranting tidak dapat berbuah dari dirinya sendiri, kalau ia tidak tinggal pada pokok anggur, demikian juga kamu tidak berbuah, jikalau kamu tidak tinggal di dalam Aku. Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya. Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak, sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa(Yohanes 15:4-5) Kita pada awalnya bukan umat Allah, tetapi karena anugerah Tuhan, sehingga dapat dicangkokkan pada pokok anggur yang benar, yang awalnya liar ini sifatnya buruk, tetapi kini dapat menjadi cabang anggur dengan buah yang baik, dan ketika kita terus senantiasa tersambung menempel dengan pokok anggur, ranting ini tidak akan mengering, akan sering berbuah. Berdasarkan buahnya, para pengikut Tuhan bisa dikenali. Kiranya perumpamaan tentang buah musim kemarau ini mengingatkan kita bahwa kita harus senantiasa di dalam Tuhan sehingga terus menerus menghasilkan buah kebaikan, jika tidak maka penghakiman Allah akan menunggu umat-Nya.


Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain

Renungan pemahaman Kitab Amos


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Amos ditulis oleh 張美薇 (Zhāng Měi Wēi) yang dipublikasi pada bulan April 2020 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Iklan yang ada bukan milik blog ini, tetapi milik WordPress penyedia fasilitas blog tanpa biaya.

Lukas 13:10-17

「Pembebas kehidupan」
oleh 陳偉迦 (Chén Wěi Jiā) Alliance Bible Seminary H.K.

(Luk. 13:10-17 [ITB])
10 Pada suatu kali Yesus sedang mengajar dalam salah satu rumah ibadat pada hari Sabat. 11 Di situ ada seorang perempuan yang telah delapan belas tahun dirasuk roh sehingga ia sakit sampai bungkuk punggungnya dan tidak dapat berdiri lagi dengan tegak.
12 Ketika Yesus melihat perempuan itu, Ia memanggil dia dan berkata kepadanya: 「Hai ibu, penyakitmu telah sembuh.」 13 Lalu Ia meletakkan tangan-Nya atas perempuan itu, dan seketika itu juga berdirilah perempuan itu, dan memuliakan Allah.
14 Tetapi kepala rumah ibadat gusar karena Yesus menyembuhkan orang pada hari Sabat, lalu ia berkata kepada orang banyak: 「Ada enam hari untuk bekerja. Karena itu datanglah pada salah satu hari itu untuk disembuhkan dan jangan pada hari Sabat.」 15 Tetapi Tuhan menjawab dia, kata-Nya: 「Hai orang-orang munafik, bukankah setiap orang di antaramu melepaskan lembunya atau keledainya pada hari Sabat dari kandangnya dan membawanya ke tempat minuman? 16 Bukankah perempuan ini, yang sudah delapan belas tahun diikat oleh Iblis, harus dilepaskan dari ikatannya itu, karena ia adalah keturunan Abraham?」
17 Dan waktu Ia berkata demikian, semua lawan-Nya merasa malu dan semua orang banyak bersukacita karena segala perkara mulia, yang telah dilakukan-Nya.

Kemarin, kita merenungkan tentang hubungan antara dua kisah dalam ayat 1-9, Tuhan Yesus menjelaskan sendiri apa artinya 「menjadi korban bencana, penghakiman」 ── mereka yang merasa beruntung bahwa mereka tidak 「menjadi korban bencana」, tetapi mereka justru adalah yang tidak berbuah apa-apa; mereka oleh diri sendiri berpikir dirinyalah「yang diberkati」, dan berpikir telah menghasilkan banyak buah, tetapi dia tidak tahu bahwa sama sekali tidak berbuah sedikitpun. Ternyata hanya kehidupan pertobatan yang dapat menghasilkan buah yang sejati.

Melanjutkan renungan sebelumnya, perikop hari ini menjelaskan apa yang dimaksud dengan 「pertobatan.」

Pada abad pertama, masa Tuhan Yesus, orang-orang percaya Yahudi, dan bahkan kepala rumah ibadat, jatuh ke dalam perangkap rohani ——mereka mengira bahwa merekalah yang memiliki iman dan menyalahkan orang lain (Yesus) atas kebodohan iman, tetapi justru tidak tahu bahwa dirinya yang tidak paham atas iman mereka. Justru orang lain itulah yang memiliki pemahaman iman yang benar.

Penyembuhan oleh Yesus pada hari Sabat adalah tanda yang sangat penting dari <Narasi Perjalanan> dalam Injil Lukas. Selain perikop ini, dalam Luk. 14:1–6 Yesus sekali lagi menantang aturan Sabat para pemimpin agama Yahudi — apa sebenarnya nilai inti dari Sabat? Apa makna yang hendak dibawakan oleh hari Sabat? Dari kata-kata dan perbuatan para pemimpin agama yang tidak mengalami aniaya dari Pilatus, mereka bangga dengan aturan agama Yahudi yang mereka pegang. Mereka berpikir bahwa memiliki aturan-aturan ini sama dengan buah yang berkenan dan dicintai Allah.

Ketika orang-orang Yahudi dibawa ke Babel dan Bait Suci dihancurkan, salah satu penanda identitas penting orang Yahudi adalah paradigma dan ketetapan agama mereka. Ketentuan agama ini digunakan untuk membedakan antara kelompok kepercayaan mereka sendiri dan kelompok pagan untuk menjaga keunikan bangsanya, sehingga mereka tidak berasimilasi dengan budaya asing selama periode ditawan di pembuangan dan pengasingan. Singkatnya, apa yang mereka hargai serta pentingkan adalah semua hukum dan peraturan agama, termasuk Torah Lisan (Oral Torah).

Dalam literatur Rabi, Mishna tentang <Aturan hari Sabat 2.1-4> mengijinkan orang Yahudi untuk melepaskan sapi, keledai dan ternak lainnya pada hari Sabat untuk membiarkan mereka makan dan minum. Namun, saat Yesus ingin menggunakan esensi dari peraturan ini untuk membebaskan seorang putri keturunan Abraham dari sakit, kepala rumah ibadat yang menilai diri berbuah lebat itu keluar dan berteriak, menyalahkan Yesus atas tindakan Dia, bahwa Ia sangat perlu bertobat ─ yakni jangan menyembuhkan pada hari Sabat.

Di antara mereka yang berpikir diri adalah penjaga kebenaran, mungkin sulit bagi kita untuk membedakan apakah yang mereka lakukan adalah apa yang Yesus minta kita lakukan. Mereka mungkin hanya mengikuti aturan atau ketentuan agama, seperti kepala rumah ibadat. Hari ini, kita tampaknya tidak memiliki satu standar kriteria untuk menilai, tetapi kita memiliki prinsip Tuhan Yesus Kristus melakukan pembedaan. Karena itu, ketika setiap orang mengatakan bahwa yang dipegang adalah kebenaran, semua orang berpikir bahwa pengalaman mereka adalah nyata, tetapi Yesus memberikan prinsip cara membedakan yang sangat penting ── membebaskan kehidupan manusia dan membawa orang kembali kepada identitas mulia yang dianugerahkan Tuhan, itu adalah dasar kebenaran yang sebenarnya.

Renungkan:

Kita mungkin berpikir bahwa hanya aturan dan dogma yang dapat membuat orang mengenal kebenaran. Ya, ini adalah cara termudah dan tercepat untuk menyampaikan kebenaran dalam waktu singkat dan membuat orang mengerti. Tetapi pada kenyataannya, kita semua tahu bahwa untuk membuat kebenaran berakar dalam hati orang dan membuat orang mendapatkan pembebasan nyata, tidak pernah dicapai dengan satu cara tunggal.

Kita harus bertobat, mungkin bukan dari tindakan jahat besar, atau dari tindakan moral yang jelas baik atau jahat. Tetapi sebaliknya, kita benar-benar perlu bertanya pada diri sendiri: apakah iman yang kita bagikan dan hidupi sekarang benar-benar membuat orang-orang di sekitar kita mengalami pembebasan kehidupan dan kembali ke identitas mulia yang diberikan oleh Tuhan?


Renungan (klik untuk membuka)

Renungan pemahaman (klik untuk membuka)


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Injil Lukas 13 – 18 ditulis oleh 陳偉迦 (Chén Wěi Jiā) yang dipublikasi pada bulan Februari 2019, merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Untuk Kalangan Kristen.

Lukas 13:1-9

「Hari-hari tanpa bencana apakah artinya mendapat nilai bagus dari Tuhan?」
oleh 陳偉迦 (Chén Wěi Jiā) Alliance Bible Seminary H.K.

(Luk. 13:1-9 [ITB])
1 Pada waktu itu datanglah kepada Yesus beberapa orang membawa kabar tentang orang-orang Galilea, yang darahnya dicampurkan Pilatus dengan darah korban yang mereka persembahkan.
2 Yesus menjawab mereka: 「Sangkamu orang-orang Galilea ini lebih besar dosanya dari pada dosa semua orang Galilea yang lain, karena mereka mengalami nasib itu? 3 Tidak! kata-Ku kepadamu. Tetapi jikalau kamu tidak bertobat, kamu semua akan binasa atas cara demikian. 4 Atau sangkamu kedelapan belas orang, yang mati ditimpa menara dekat Siloam, lebih besar kesalahannya dari pada kesalahan semua orang lain yang diam di Yerusalem? 5 Tidak! kata-Ku kepadamu. Tetapi jikalau kamu tidak bertobat, kamu semua akan binasa atas cara demikian.」
6 Lalu Yesus mengatakan perumpamaan ini: 「Seorang mempunyai pohon ara yang tumbuh di kebun anggurnya, dan ia datang untuk mencari buah pada pohon itu, tetapi ia tidak menemukannya. 7 Lalu ia berkata kepada pengurus kebun anggur itu: :『Sudah tiga tahun aku datang mencari buah pada pohon ara ini dan aku tidak menemukannya. Tebanglah pohon ini! Untuk apa ia hidup di tanah ini dengan percuma!』 8 Jawab orang itu: :『Tuan, biarkanlah dia tumbuh tahun ini lagi, aku akan mencangkul tanah sekelilingnya dan memberi pupuk kepadanya, 9 mungkin tahun depan ia berbuah; jika tidak, tebanglah dia!』」

Lukas 9:51-19:44 disebut sebagai 「Narasi Perjalanan」 (Travel Narrative). Pada bulan Oktober tahun 2018, kita telah memulai renungan dari beberapa pasal bagian awal 「Narasi Perjalanan」 ini. Mungkin kita telah memahami bahwa narasi dalam Injil bukanlah kumpulan sepotong-sepotong cerita yang berbeda-beda. Sebaliknya, Lukas dengan terampil menerapkan penafsiran sejarah keselamatan Perjanjian Lama pada diri Yesus, menunjukkan bahwa Yesus adalah Mesias yang dijanjikan oleh Perjanjian Lama. Agar kita perlahan-lahan menyadari bahwa ketika berbagai perbuatan dan khotbah Yesus saling dikoneksikan dipelajari bersama akan membentuk pesan berita yang selaras dengan situasi dan niat para penulis Perjanjian Baru.

Hari ini kita memperhatikan Lukas 13: 1-9, yang mencatat insiden Pilatus membunuh orang-orang Galilea dan kemungkinan runtuhnya bangunan yang mungkin terjadi di Yerusalem. Menurut <Catatan sejarah Yahudi 18.3.1-2> yang ditulis Josephus, kita dapat melihat petunjuk bahwa Pilatus menganiaya dan membunuh orang-orang Yahudi. Namun, dalam literatur yang kita temukan hari ini, tidak ada yang mencatat alasan mengapa Pilatus ingin membunuh orang-orang Galilea. Kita hanya dapat memperkirakan bahwa itu karena orang-orang Galilea terlibat dalam pemberontakan revolusioner militer, sehingga menyebabkan tindakan kekerasan meredam dan pembunuhan oleh Pilatus dan pasukannya. Namun, fokus dari teks adalah mengapa orang-orang yang hadir bersama Yesus ingin menyebutkan hal ini, apa tujuan mereka yang sebenarnya?

Untuk memahami apa motivasi mereka, kita dapat mempertimbangkannya dari dua aspek.

  1. Motivasi yang Baik: Orang-orang yang hadir khawatir tentang Yesus, sang Mesias yang penuh dengan kekuatan ajaib, penyembuhan, dan mengusir setan, dan akan berakhir seperti orang-orang Galilea yang dibunuh oleh Pilatus. Karena itu, mereka mengingatkan Yesus untuk baik-baik menangani dan menghadapi penganiayaan dan pembunuhan dari Pilatus dan rezim Romawi terhadap diri-Nya.
  2. Motivasi sindiran: Orang yang hadir mungkin tidak puas dengan ucapan Yesus dan tindakan-Nya, dan menggunakan ironi untuk mengejek Yesus, bahwa akhir masa depan-Nya mungkin sama dengan orang-orang Galilea yang terbunuh. Jika melihat jawaban Yesus, mungkin motivasi untuk sindiran lebih masuk akal.

Dalam jawaban Yesus, Ia tidak memberikan kepedulian atas kemungkinan Pilatus menganiaya Dia, alih-alih berfokus pada pertobatan yang tulus.

Manusia sering takut akan datangnya penghakiman, tetapi selama hari penghakiman Tuhan atas diri sendiri belum tiba, kita mungkin masih meletakkan fokus atas penghakiman yang dialami orang lain — berbicara tentang apakah orang lain benar-benar telah mendapat penghakiman dari Tuhan, sama seperti mereka memperbincangkan tentang orang-orang Galilea yang terbunuh oleh Pilatus, atau 18 orang yang tewas dalam kecelakaan ambruknya menara Siloam, dan merasa diri mereka sendiri beruntung karena tidak kena bencana.

Dalam menghadapi penghakiman yang diterima oleh orang lain, kita hanya peduli apakah orang lain lebih berdosa daripada kita, sehingga mendapat celaka ini (lih. Luk. 13: 2)? Apakah keadaan kita paling baik dibanding orang-orang lain? Merasa selama kita tidak menerima penghakiman, itu sudah cukup, dan keinginan hati sudah terpuaskan.

Di sini, Yesus mengajar bagaimana kita bersikap saat orang lain mengalami aniaya dan penghakiman. Fokusnya adalah kita harus berbalik dan kembali ke jalan yang lurus, bertobat dengan sungguh-sungguh, bukannya berpikir di hati bahwa kita lebih 「beruntung」 dan mendapat lebih banyak 「anugerah」 daripada orang lain. Besok kita akan mengeksplorasi kisah penyembuhan yang dilakukan oleh Yesus pada hari Sabat, dan pesan dari kisah tersebut akan menjadi contoh yang baik.

Renungkan:

Gambaran pohon ara (lih. ayat 6-9) menunjukkan bahwa mereka yang penuh dengan pemikiran bahwa keberuntungan mereka adalah identik dengan buah yang berlimpah-limpah, tetapi tuannya tidak menemukan bahwa mereka bahkan memiliki sedikitpun buah. Namun, pemiliknya terus-menerus menunggu dan mengamati, dan mengharapkan mereka berbuah. Ini terlebih menunjukkan kemurahan Tuhan dan keinginan-Nya agar kita bertobat secara menyeluruh.

Mana yang kita pilih, bahwa semua yang kita miliki sebelum kita mengalami bencana adalah 「buah」 , atau kita memilih bahwa 「pertobatan」 adalah buah yang ingin kita hasilkan?


Renungan (klik untuk membuka)

Renungan pemahaman (klik untuk membuka)


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Injil Lukas 13 – 18 ditulis oleh 陳偉迦 (Chén Wěi Jiā) yang dipublikasi pada bulan Februari 2019, merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Untuk Kalangan Kristen.