「Hari-hari tanpa bencana apakah artinya mendapat nilai bagus dari Tuhan?」
oleh 陳偉迦 (Chén Wěi Jiā) Alliance Bible Seminary H.K.
(Luk. 13:1-9 [ITB])
1 Pada waktu itu datanglah kepada Yesus beberapa orang membawa kabar tentang orang-orang Galilea, yang darahnya dicampurkan Pilatus dengan darah korban yang mereka persembahkan.
2 Yesus menjawab mereka: 「Sangkamu orang-orang Galilea ini lebih besar dosanya dari pada dosa semua orang Galilea yang lain, karena mereka mengalami nasib itu? 3 Tidak! kata-Ku kepadamu. Tetapi jikalau kamu tidak bertobat, kamu semua akan binasa atas cara demikian. 4 Atau sangkamu kedelapan belas orang, yang mati ditimpa menara dekat Siloam, lebih besar kesalahannya dari pada kesalahan semua orang lain yang diam di Yerusalem? 5 Tidak! kata-Ku kepadamu. Tetapi jikalau kamu tidak bertobat, kamu semua akan binasa atas cara demikian.」
6 Lalu Yesus mengatakan perumpamaan ini: 「Seorang mempunyai pohon ara yang tumbuh di kebun anggurnya, dan ia datang untuk mencari buah pada pohon itu, tetapi ia tidak menemukannya. 7 Lalu ia berkata kepada pengurus kebun anggur itu: :『Sudah tiga tahun aku datang mencari buah pada pohon ara ini dan aku tidak menemukannya. Tebanglah pohon ini! Untuk apa ia hidup di tanah ini dengan percuma!』 8 Jawab orang itu: :『Tuan, biarkanlah dia tumbuh tahun ini lagi, aku akan mencangkul tanah sekelilingnya dan memberi pupuk kepadanya, 9 mungkin tahun depan ia berbuah; jika tidak, tebanglah dia!』」
Lukas 9:51-19:44 disebut sebagai 「Narasi Perjalanan」 (Travel Narrative). Pada bulan Oktober tahun 2018, kita telah memulai renungan dari beberapa pasal bagian awal 「Narasi Perjalanan」 ini. Mungkin kita telah memahami bahwa narasi dalam Injil bukanlah kumpulan sepotong-sepotong cerita yang berbeda-beda. Sebaliknya, Lukas dengan terampil menerapkan penafsiran sejarah keselamatan Perjanjian Lama pada diri Yesus, menunjukkan bahwa Yesus adalah Mesias yang dijanjikan oleh Perjanjian Lama. Agar kita perlahan-lahan menyadari bahwa ketika berbagai perbuatan dan khotbah Yesus saling dikoneksikan dipelajari bersama akan membentuk pesan berita yang selaras dengan situasi dan niat para penulis Perjanjian Baru.
Hari ini kita memperhatikan Lukas 13: 1-9, yang mencatat insiden Pilatus membunuh orang-orang Galilea dan kemungkinan runtuhnya bangunan yang mungkin terjadi di Yerusalem. Menurut <Catatan sejarah Yahudi 18.3.1-2> yang ditulis Josephus, kita dapat melihat petunjuk bahwa Pilatus menganiaya dan membunuh orang-orang Yahudi. Namun, dalam literatur yang kita temukan hari ini, tidak ada yang mencatat alasan mengapa Pilatus ingin membunuh orang-orang Galilea. Kita hanya dapat memperkirakan bahwa itu karena orang-orang Galilea terlibat dalam pemberontakan revolusioner militer, sehingga menyebabkan tindakan kekerasan meredam dan pembunuhan oleh Pilatus dan pasukannya. Namun, fokus dari teks adalah mengapa orang-orang yang hadir bersama Yesus ingin menyebutkan hal ini, apa tujuan mereka yang sebenarnya?
Untuk memahami apa motivasi mereka, kita dapat mempertimbangkannya dari dua aspek.
- Motivasi yang Baik: Orang-orang yang hadir khawatir tentang Yesus, sang Mesias yang penuh dengan kekuatan ajaib, penyembuhan, dan mengusir setan, dan akan berakhir seperti orang-orang Galilea yang dibunuh oleh Pilatus. Karena itu, mereka mengingatkan Yesus untuk baik-baik menangani dan menghadapi penganiayaan dan pembunuhan dari Pilatus dan rezim Romawi terhadap diri-Nya.
- Motivasi sindiran: Orang yang hadir mungkin tidak puas dengan ucapan Yesus dan tindakan-Nya, dan menggunakan ironi untuk mengejek Yesus, bahwa akhir masa depan-Nya mungkin sama dengan orang-orang Galilea yang terbunuh. Jika melihat jawaban Yesus, mungkin motivasi untuk sindiran lebih masuk akal.
Dalam jawaban Yesus, Ia tidak memberikan kepedulian atas kemungkinan Pilatus menganiaya Dia, alih-alih berfokus pada pertobatan yang tulus.
Manusia sering takut akan datangnya penghakiman, tetapi selama hari penghakiman Tuhan atas diri sendiri belum tiba, kita mungkin masih meletakkan fokus atas penghakiman yang dialami orang lain — berbicara tentang apakah orang lain benar-benar telah mendapat penghakiman dari Tuhan, sama seperti mereka memperbincangkan tentang orang-orang Galilea yang terbunuh oleh Pilatus, atau 18 orang yang tewas dalam kecelakaan ambruknya menara Siloam, dan merasa diri mereka sendiri beruntung karena tidak kena bencana.
Dalam menghadapi penghakiman yang diterima oleh orang lain, kita hanya peduli apakah orang lain lebih berdosa daripada kita, sehingga mendapat celaka ini (lih. Luk. 13: 2)? Apakah keadaan kita paling baik dibanding orang-orang lain? Merasa selama kita tidak menerima penghakiman, itu sudah cukup, dan keinginan hati sudah terpuaskan.
Di sini, Yesus mengajar bagaimana kita bersikap saat orang lain mengalami aniaya dan penghakiman. Fokusnya adalah kita harus berbalik dan kembali ke jalan yang lurus, bertobat dengan sungguh-sungguh, bukannya berpikir di hati bahwa kita lebih 「beruntung」 dan mendapat lebih banyak 「anugerah」 daripada orang lain. Besok kita akan mengeksplorasi kisah penyembuhan yang dilakukan oleh Yesus pada hari Sabat, dan pesan dari kisah tersebut akan menjadi contoh yang baik.
Renungkan:
Gambaran pohon ara (lih. ayat 6-9) menunjukkan bahwa mereka yang penuh dengan pemikiran bahwa keberuntungan mereka adalah identik dengan buah yang berlimpah-limpah, tetapi tuannya tidak menemukan bahwa mereka bahkan memiliki sedikitpun buah. Namun, pemiliknya terus-menerus menunggu dan mengamati, dan mengharapkan mereka berbuah. Ini terlebih menunjukkan kemurahan Tuhan dan keinginan-Nya agar kita bertobat secara menyeluruh.
Mana yang kita pilih, bahwa semua yang kita miliki sebelum kita mengalami bencana adalah 「buah」 , atau kita memilih bahwa 「pertobatan」 adalah buah yang ingin kita hasilkan?
Renungan pemahaman Injil Lukas (klik untuk membuka)
Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain (klik untuk membuka)
Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Injil Lukas 13 – 18 ditulis oleh 陳偉迦 (Chén Wěi Jiā) yang dipublikasi pada bulan Februari 2019, merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).
Untuk Kalangan Kristen.