Tag Archives: Narasi Perjalanan

Lukas 19:11-27

「Sudahkah Setia atas Bagian yang Dititipkan?」
Oleh 陳偉迦 (Chén Wěi Jiā)
Alliance Bible Seminary H.K.

(Luk. 19:11-27 [ITB])
11 Untuk mereka yang mendengarkan Dia di situ, Yesus melanjutkan perkataan-Nya dengan suatu perumpamaan, sebab Ia sudah dekat Yerusalem dan mereka menyangka, bahwa Kerajaan Allah akan segera kelihatan.
12 Maka Ia berkata: Ada seorang bangsawan berangkat ke sebuah negeri yang jauh untuk dinobatkan menjadi raja di situ dan setelah itu baru kembali.
13 Ia memanggil sepuluh orang hambanya dan memberikan sepuluh mina kepada mereka, katanya: Pakailah ini untuk berdagang sampai aku datang kembali.
14 Akan tetapi orang-orang sebangsanya membenci dia, lalu mengirimkan utusan menyusul dia untuk mengatakan: Kami tidak mau orang ini menjadi raja atas kami. 15 Dan terjadilah, ketika ia kembali, setelah ia dinobatkan menjadi raja, ia menyuruh memanggil hamba-hambanya, yang telah diberinya uang itu, untuk mengetahui berapa hasil dagang mereka masing-masing.
16 Orang yang pertama datang dan berkata: Tuan, mina tuan yang satu itu telah menghasilkan sepuluh mina. 17 Katanya kepada orang itu: Baik sekali perbuatanmu itu, hai hamba yang baik; engkau telah setia dalam perkara kecil, karena itu terimalah kekuasaan atas sepuluh kota.
18 Datanglah yang kedua dan berkata: Tuan, mina tuan telah menghasilkan lima mina. 19 Katanya kepada orang itu: Dan engkau, kuasailah lima kota.
20 Dan hamba yang ketiga datang dan berkata: Tuan, inilah mina tuan, aku telah menyimpannya dalam sapu tangan. 21 Sebab aku takut akan tuan, karena tuan adalah manusia yang keras; tuan mengambil apa yang tidak pernah tuan taruh dan tuan menuai apa yang tidak tuan tabur. 22 Katanya kepada orang itu: Hai hamba yang jahat, aku akan menghakimi engkau menurut perkataanmu sendiri. Engkau sudah tahu bahwa aku adalah orang yang keras, yang mengambil apa yang tidak pernah aku taruh dan menuai apa yang tidak aku tabur. 23 Jika demikian, mengapa uangku itu tidak kauberikan kepada orang yang menjalankan uang? Maka sekembaliku aku dapat mengambilnya serta dengan bunganya.
24 Lalu katanya kepada orang-orang yang berdiri di situ: Ambillah mina yang satu itu dari padanya dan berikanlah kepada orang yang mempunyai sepuluh mina itu. 25 Kata mereka kepadanya: Tuan, ia sudah mempunyai sepuluh mina. 26 Jawabnya: Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang mempunyai, kepadanya akan diberi, tetapi siapa yang tidak mempunyai, dari padanya akan diambil, juga apa yang ada padanya. 27 Akan tetapi semua seteruku ini, yang tidak suka aku menjadi rajanya, bawalah mereka ke mari dan bunuhlah mereka di depan mataku.

Sampai di bagian terakhir dari narasi perjalanan (travel narrative), Lukas menutupnya dengan perumpamaan yang kita kenal baik (sepuluh uang mina). Kita kadang-kadang mengaitkan perumpamaan uang mina ini dengan perumpamaan lima ribu, dua ribu, seribu dalam Matius 25:14-30 (klik untuk baca), tentu berpikir bahwa perumpamaan sepuluh uang mina ini juga membahas tema karunia talenta. Tetapi ketika kita mempelajari dengan hati-hati perumpamaan ini merupakan ringkasan dari seluruh bagian terakhir dari narasi perjalanan, mungkin kita akan bisa menemukan di manakah Lukas meletakkan alur pikirannya.

Jika seluruh narasi perjalanan adalah perjalanan yang mempersiapkan para murid dan pengikut-Nya untuk menghadapi hal-hal yang akan terjadi setelah memasuki Yerusalem (kematian, kebangkitan, dan kenaikan Yesus Mesias), maka kita akan menemukan bahwa seluruh narasi perjalanan adalah agar para pemimpin Yahudi dan murid-murid dapat secara bertahap menjadi jelas bahwa pada zaman akhir ini, Mesias sudah datang, orang-orang Yahudi sepatutnya menanggapi panggilan Tuhan dengan pertobatan dan perubahan hidup, jangan membabi buta berpikir bahwa orang Yahudi pasti akan diselamatkan saat Mesias datang.

Mari kita sedikit mengingat kembali: dalam perumpamaan anak yang hilang, putra sulung bersikeras dan tidak mau sadar; dalam perumpamaan pesta besar, mereka yang berpikir bahwa pasti akan menghadiri pesta hari akhir, justru mereka itu semua gagal dan melewatkan pesta Mesianik; dan dalam perikop kemarin, catatan pertobatan dan keselamatan Zakheus pemungut pajak. Semuanya menyatakan satu hal — saat ketika Mesias datang, adalah untuk menyelamatkan yang mempersiapkan hati rohani dan bersedia untuk bertobat. Karena itu, perumpamaan hari ini juga didasarkan pada alur dan inti ini, yang dengan jelas menunjukkan hal ini dan sekali lagi membangunkan orang-orang Yahudi untuk mengenal siapa Mesias yang sebenarnya.

Dalam perumpamaan hari ini, mengandung pelajaran tentang penggunaan harta / materi, melalui gambaran bagaimana pemilik mempercayakan uang mina kepada hamba. Merupakan tanggapan tentang mengapa orang kaya tidak dapat memasuki kerajaan surga, yakni karena mereka tidak memandang kebenaran bahwa uang harta mereka adalah titipan yang dipercayakan oleh Tuhan. Adalah perlu untuk mengetahui bahwa semua hal di dunia ini diciptakan oleh Tuhan, dan karena itu semua yang dimiliki manusia adalah titipan yang dipercayakan oleh Tuhan. Jadi, bagian pembukaan perumpamaan ini hendak menjelaskan perkataan teks sebelumnya Alangkah sukarnya orang yang beruang masuk ke dalam Kerajaan Allah. Sebab lebih mudah seekor unta masuk melalui lobang jarum dari pada seorang kaya masuk ke dalam Kerajaan Allah. Dan mereka yang mendengar itu berkata: Jika demikian, siapakah yang dapat diselamatkan?(18:24-26). Namun, bukankah pertobatan Zakheus tepat merupakan contoh jalan keluar dan harapan keselamatan bagi orang kaya?

Dalam perumpamaan ini, orang yang menghasilkan sepuluh dan lima uang mina adalah dengan kebaikan dan kesetiaan melakukan apa yang telah dipercayakan Tuhan, mempersembahkan apa yang diperoleh ke hadapan Tuhan (mengakui Dia sebagai Raja), sampai ada perintah dan jawaban Tuhan barulah menerima sepuluh dan lima uang mina yang dipercayakan, serta dapat mengatur kota yang dipercayakan kepada mereka (ini adalah tugas titipan dari Bapa surgawi atas dunia), bukankah ini adalah satu-satunya kehendak Allah kepada manusia atas penciptaan, dalam kitab Kejadian.

Namun, mereka yang tidak memiliki konsep mengelola titipan yang dipercayakan ini, selain tidak paham cara sebaik-baiknya menggunakan satu mina itu, dosa yang lebih berat adalah ia bersama orang-orang sebangsanya membenci serta menolak bangsawan itu (Mesias) menjadi raja (lihat Lukas 19:14, 26-27), bersama-sama melawan Mesias menjadi rajanya, orang-orang ini menjadi seteru dan dibunuhlah mereka di hadapan raja.

Dari sini kita dapat melihat bahwa Zakheus yang awalnya adalah musuh, tetapi malah diselamatkan; yang awalnya seharusnya umat Allah, anggota keluarga, tetapi mungkin dapat menjadi musuh dan dihancurkan. Kewaspadaan dan peringatan ini adalah fokus dari seluruh narasi perjalanan, dan dirangkum perikop sebagai ringkasan.

Renungkan:

Jika hamba Tuhan (termasuk kita semua) perlahan-lahan melepaskan diri dari konsep mengelola titipan, dengan sombong berpikir yang ada adalah dibangun oleh dirinya sendiri, demi diri sendiri, ia perlahan-lahan menyimpan uang mina itu di tangannya serta menyembunyikannya, ia bersekutu berjalan bersama mereka yang tidak ingin Tuhan menjadi Raja, konsekuensinya adalah ……


Renungan pemahaman Injil Lukas (klik untuk membuka)

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain (klik untuk membuka)


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Injil Lukas 19-24 ditulis oleh 陳偉迦 (Chén Wěi Jiā) yang dipublikasi pada bulan Juli 2019, merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Untuk Kalangan Kristen.

Lukas 19:1-10

「Hidup dalam iman yang hidup dan diperbaharui」
Oleh 陳偉迦 (Chén Wěi Jiā)
Alliance Bible Seminary H.K.

(Luk. 19:1-10 [ITB])
1 Yesus masuk ke kota Yerikho dan berjalan terus melintasi kota itu. 2 Di situ ada seorang bernama Zakheus, kepala pemungut cukai, dan ia seorang yang kaya.
3 Ia berusaha untuk melihat orang apakah Yesus itu, tetapi ia tidak berhasil karena orang banyak, sebab badannya pendek. 4 Maka berlarilah ia mendahului orang banyak, lalu memanjat pohon ara untuk melihat Yesus, yang akan lewat di situ.
5 Ketika Yesus sampai ke tempat itu, Ia melihat ke atas dan berkata: Zakheus, segeralah turun, sebab hari ini Aku harus menumpang di rumahmu.
6 Lalu Zakheus segera turun dan menerima Yesus dengan sukacita.
7 Tetapi semua orang yang melihat hal itu bersungut-sungut, katanya: Ia menumpang di rumah orang berdosa.
8 Tetapi Zakheus berdiri dan berkata kepada Tuhan: Tuhan, setengah dari milikku akan kuberikan kepada orang miskin dan sekiranya ada sesuatu yang kuperas dari seseorang akan kukembalikan empat kali lipat.
9 Kata Yesus kepadanya: Hari ini telah terjadi keselamatan kepada rumah ini, karena orang ini pun anak Abraham. 10 Sebab Anak Manusia datang untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang

Melanjutkan renungan Injil Lukas pasal 13 – 18 bulan Februari 2019, ini adalah bagian terakhir dari seri Injil Lukas. Mohon kepada Tuhan untuk memperdalam pemahaman dan praktik nyata kita akan Firman Tuhan setiap hari dan menjadikan gereja sebagai komunitas yang mempraktikkan Firman Tuhan.

Pada akhir narasi perjalanan Yesus menuju Yerusalem (travel narrative), Lukas mencatat bahwa ketika Yesus melewati Yerikho, ada seorang pemungut pajak (pejabat yang bekerja bagi orang Romawi saat itu) yang demi menanggapi panggilan Yesus, ia memberikan setengah dari hartanya kepada orang miskin (lihat juga catatan sastra Yahudi tentang memberikan setengah dari harta, 1 Makabe 3:34-37, Tobit 10:10), siapa pun yang diperasnya, kembalikan empat kali lipat (lihat Kel. 22:1, 2 Sam. 12:6).

Hal pertama yang harus kita tanyakan adalah apa yang menjadi fokus dari catatan ini? Mungkin kita akan meletakkannya di bagian terakhir dari perikop ini, karena ini adalah kesimpulan yang dibuat Yesus tentang peristiwa ini: Anak Manusia datang untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang. Ya, ini benar, tetapi kita mungkin terpaku padanya sehingga telah melewatkan pembalikan yang ada di belakang pernyataan ini.

Gambaran (imagery) tentang Mencari dan menyelamatkan yang terhilang berasal dari kitab Yehezkiel pasal 34, yang menyatakan bahwa pada era penawanan tidak ada yang bisa dijadikan teladan yang memimpin orang-orang Yahudi yang tersesat kembali kepada Allah. Karena itu, di masa yang tidak ada satupun teladan ini, Allah secara pribadi oleh diri-Nya sendiri mencari dan menemukan generasi yang terhilang ini. Bagi mereka, penerapan gambaran ini adalah untuk orang Yahudi yang ditawan — orang Yahudi yang telah ditindas selama ratusan tahun. Konsep mencari dan menyelamatkan hanya cocok diterapkan kepada mereka yang tertindas. Bagaimana itu dapat diterapkan pada kepala pemungut pajak yang membantu bangsa asing mengumpulkan pajak dari sesama orang Yahudi sendiri?

Karena itu, publik sangat terkejut (lihat ayat 7) dan berdebat membicarakan tentang mengapa Yesus pergi ke rumah orang berdosa, makan dan tinggal. Yang bisa diketahui adalah kemauan menjadi tamu di rumah orang adalah sama dengan mengakui identitas orang tersebut, dan bersedia memiliki relasi serta keterkaitan tertentu dengan pihak tersebut. Tindakan Yesus menunjukkan bahwa mencari dan menyelamatkan sama sekali berbeda dari apa yang diharapkan publik. Yesus jelas-jelas hendak pergi menyelamatkan mereka yang bukan termasuk golongan pemungut pajak, tetapi di antara kerumunan orang banyak, Ia hanya melihat Zakheus yang memanjat berada di atas pohon ara.

Mengapa Yesus melakukan ini? Tidak tahukah Dia bahwa ini akan menimbulkan pertanyaan curiga dari orang lain?

Dapat diketahui bahwa apa yang dipandang penting oleh Yesus adalah reaksi manusia terhadap keselamatan. Respons Zakheus terhadap keselamatan adalah perubahan 180 derajat atas apa yang ia jadikan sebagai target pengejaran seumur hidup, jelas-jelas orang yang serakah harta, ternyata berpikir memberikan uang kepada orang miskin, dan hati nuraninya berbicara sehingga ia menggantikan empat kali lipat kepada orang yang pernah ia peras. Dalam Lukas 18, Yesus menjelaskan bahwa tuan harta kekayaan sangat sulit untuk mendapatkan keselamatan. Tetapi yang mengenal akan keselamatan — yakni yang berjumpa dengan Yesus — memiliki perubahan arah yang besar. Oleh karena itu, dalam kitab Yehezkiel pasal 34, orang-orang yang hendak diselamatkan oleh Allah secara pribadi adalah umat Allah yang bersedia memiliki kehidupan yang diubah arahnya, tetapi karena jatuhnya para pemimpin agama, mereka tidak mempertahankan arah yang sepatutnya ada, dan tidak memberikan teladan yang seharusnya. Di bawah tradisi warisan masa Perjanjian Lama, dengan demikian orang-orang Yahudi masa Perjanjian Baru juga tidak dapat mempertahankan identitas mereka sendiri serta perubahan arah hidup yang seharusnya merupakan reaksi nyata dan tulus terhadap Injil.

Renungkan:

Ketika kita menjadi pemimpin, kita sering berpikir bahwa kita merupakan teladan, tetapi dalam atmosfer keagamaan, lambat laun seiring waktu, iman kita kehilangan daya hidup (daya gerak) serta daya memperbarui arah hidup. Dengan sikap memandang rendah, kita cenderung memandang bahwa memperdebatkan orang lain adalah tanggung jawab kita, sedangkan kita kurang memiliki kemampuan untuk meratapi kehidupan kita sendiri (melihat ada keburukan dalam kehidupan orang lain, namun tidak mampu melihat hidup sendiri terdapat keburukan). Apakah demikian?


Renungan pemahaman Injil Lukas (klik untuk membuka)

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain (klik untuk membuka)


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Injil Lukas 19-24 ditulis oleh 陳偉迦 (Chén Wěi Jiā) yang dipublikasi pada bulan Juli 2019, merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Untuk Kalangan Kristen.

Lukas 18:35-43

「Menikmati Anugerah yang membuat orang gundah itu」
oleh 陳偉迦 (Chén Wěi Jiā) Alliance Bible Seminary H.K.

(Luk. 18:35-43 [ITB])
35 Waktu Yesus hampir tiba di Yerikho, ada seorang buta yang duduk di pinggir jalan dan mengemis. 36 Waktu orang itu mendengar orang banyak lewat, ia bertanya: 「Apa itu?」 37 Kata orang kepadanya: 「Yesus orang Nazaret lewat.」
38 Lalu ia berseru: 「Yesus, Anak Daud, kasihanilah aku!」 39 Maka mereka, yang berjalan di depan, menegor dia supaya ia diam. Namun semakin keras ia berseru: 「Anak Daud, kasihanilah aku!」
40 Lalu Yesus berhenti dan menyuruh membawa orang itu kepada-Nya. Dan ketika ia telah berada di dekat-Nya, Yesus bertanya kepadanya: 41 「Apa yang kaukehendaki supaya Aku perbuat bagimu?」 Jawab orang itu: 「Tuhan, supaya aku dapat melihat!」
42 Lalu kata Yesus kepadanya: 「Melihatlah engkau, imanmu telah menyelamatkan engkau!」 43 Dan seketika itu juga melihatlah ia, lalu mengikuti Dia sambil memuliakan Allah. Seluruh rakyat melihat hal itu dan memuji-muji Allah.

Setelah membahas topik uang kekayaan, kita akan menemukan bahwa Tuhan Yesus memang memahami kelemahan dan keterbatasan kodrat manusia, dan mengetahui kejatuhan dan keadaan ketika orang dicobai, oleh karena itu melepaskan segala sesuatu, hidup bersandar pada anugerah, itu adalah satu-satunya jalan keluar.

Perikop hari ini merupakan kontras antara kesulitan orang kaya masuk Kerajaan Surga, dengan seorang pengemis yang mengandalkan iman menyatakan bahwa Yesus yang didengarnya adalah Anak Daud yang dijanjikan akan datang itu. Pemimpin yang mencintai hartanya dibandingkan dengan pengemis Yerikho, semua kekayaan yang ia miliki tidak membawakan hikmat dan kemampuan untuk mengidentifikasi siapa Mesias yang sebenarnya. Sebaliknya, meskipun pengemis ini buta, karena di dalam hatinya terdapat kehausan dan kebutuhan akan anugerah Tuhan, ia dapat mengenali bahwa Yesus adalah Dia yang akan membawa keselamatan. Bukankah ini juga sama tidak mungkin seperti seekor unta melalui mata jarum?

Sebenarnya, terhadap iman pengemis buta Yerikho ini, kita menemukan kesulitan untuk menemukan petunjuk dari dalam teks untuk menjelaskan mengapa iman dia begitu tegas dan berinisiatif mengikuti Tuhan Yesus. Dia tidak bisa melihat apa-apa, hanya mendengar bahwa banyak orang melewati tempat ini lalu bertanya pada orang lain apa yang terjadi, lalu yang dia tahu adalah bahwa 「orang ini adalah Yesus dari Nazaret」. Karena nama sebutan ini, orang buta ini berteriak kepada Yesus agar berbelas kasihan atas keadaannya, dan bahkan menyatakan bahwa Yesus dari Nazaret ini adalah Anak Daud.

Dalam 〈Narasi Perjalanan〉 di Injil Lukas, nama 「Anak Daud」belum pernah muncul sebelumnya, justru yang sering kita temui dalam 〈Narasi Perjalanan〉 adalah penafsiran ulang atas hukum Taurat Musa yang akurat, atau pembalikan kehidupan yang hendak dibawakan di akhir zaman, diskusi tentang tema-tema ini juga banyak disebutkan dalam renungan Injil Lukas yang terdahulu, tetapi Anak Daud adalah untuk yang pertama kalinya.

Sebenarnya mengapa pengemis buta Yerikho ini menyamakan Yesus dari Nazareth dengan Anak Daud, dan sulit bagi kita untuk memberikan kesimpulan yang relevan. Tetapi kita dapat mengatakan dengan pasti bahwa bagi orang Yahudi antara dua perjanjian selain topik 「Musa Baru」 dan 「Nabi Elia akhir zaman」 yang baru saja disebutkan, saat membicarakan tentang Mesias yang dijanjikan maka Raja penerus takhta Daud juga merupakan topik umum lainnya (lihat Mazmur 17-28). Kita dapat mengatakan bahwa pada akhir 〈Narasi Perjalanan〉, ketika Yesus memasuki Yerusalem, Lukas menggunakan status Raja penerus takhta Daud untuk berbicara tentang apa yang akan dilakukan Yesus.

Pengemis buta yang mendapat pujian ini memberikan tanggapan kepada Yesus dengan iman, sehingga ia diselamatkan serta dapat melihat kembali. Iman ini adalah untuk percaya bahwa Yesus adalah Anak Daud, tetapi Dia bukan raja keturunan Daud yang disangka dan dipikirkan oleh dunia. Seperti yang dikatakan ayat-ayat kemarin, Yesus — Putra Daud ini tidak hendak menjadi Raja di Yerusalem, tetapi Ia tanpa disangka-sangka mati di kayu salib, ditolak manusia. Tidak tahu orang buta ini memahami seberapa banyak hal, tetapi keberaniannya untuk dengan segera mengikuti Tuhan Yesus berbeda dari keraguan muridnya (lih. Luk. 18:34), karena ia dahulu tidak memiliki apa-apa selain meminta makanan di pinggir jalan, jika pernah mengalami kehidupan anugerah, maka ingin terus mengalami kehidupan anugerah, bukankah demikian?

Renungan:

Ketika orang berada dalam kesulitan mereka sendiri, mereka akan dibatasi oleh pikiran mereka sendiri. Bagaimana seorang Raja bisa mati di Yerusalem, tetapi dapat menyatakan bahwa Ia berkuasa atas segalanya? Siapa sangka bahwa Tuhan kita disalibkan, bangkit, dan menghancurleburkan kuasa dosa dan maut.

Untuk memahami hal ini, bukan hanya persoalan pengetahuan dalam kepala, tetapi rasa pernah mengalami kasih karunia. Dan dengan sukacita dan gembira menyatakan bahwa hidup diri ini hendak terus di dalam anugerah, menikmati anugerah yang membuat gundah.

Dalam kitab Kisah Para Rasul, para murid akhirnya menikmati anugerah yang membuat gundah, mereka dipenjarakan serta dianiaya demi Tuhan. Hari ini orang-orang kudus tidakkah mengikuti teladan ini untuk menikmati anugerah yang membuat gundah tersebut.


Renungan pemahaman Injil Lukas (klik untuk membuka)

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain (klik untuk membuka)


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Injil Lukas 13 – 18 ditulis oleh 陳偉迦 (Chén Wěi Jiā) yang dipublikasi pada bulan Februari 2019, merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Untuk Kalangan Kristen.

Lukas 17:11-19

「Hanya mau mendapat anugerah saja?」
oleh 陳偉迦 (Chén Wěi Jiā) Alliance Bible Seminary H.K.

(Luk. 17:11-19 [ITB])
11 Dalam perjalanan-Nya ke Yerusalem Yesus menyusur perbatasan Samaria dan Galilea. 12 Ketika Ia memasuki suatu desa datanglah sepuluh orang kusta menemui Dia. Mereka tinggal berdiri agak jauh 13 dan berteriak: 「Yesus, Guru, kasihanilah kami!」
14 Lalu Ia memandang mereka dan berkata: 「Pergilah, perlihatkanlah dirimu kepada imam-imam.」
Dan sementara mereka di tengah jalan mereka menjadi tahir. 15 Seorang dari mereka, ketika melihat bahwa ia telah sembuh, kembali sambil memuliakan Allah dengan suara nyaring, 16 lalu tersungkur di depan kaki Yesus dan mengucap syukur kepada-Nya. Orang itu adalah seorang Samaria.
17 Lalu Yesus berkata: 「Bukankah kesepuluh orang tadi semuanya telah menjadi tahir? Di manakah yang sembilan orang itu? 18 Tidak adakah di antara mereka yang kembali untuk memuliakan Allah selain dari pada orang asing ini?」
19 Lalu Ia berkata kepada orang itu: 「Berdirilah dan pergilah, imanmu telah menyelamatkan engkau.」

Perikop hari ini adalah deskripsi terakhir dari paragraf besar tentang 「perjalanan Yesus ke Yerusalem」 〈Narasi Perjalanan〉. Melanjutkan renungan lebih dari sepuluh hari ini, apa yang Yesus lakukan adalah memahami esensi hukum Taurat, janganlah memandang tindakan menaati Taurat sebagai ukuran kesempurnaan, tetapi adalah membuat orang yang membutuhkan bisa mendapat pembebasan dan kesembuhan dalam Taurat. Dan di bagian awal perikop besar hari ini, Yesus seperti menanggapi catatan pembukaan 〈Narasi Perjalanan〉 di mana Ia melarang murid-murid untuk menurunkan api dari surga atas orang-orang Samaria (Luk. 9:51-56), dan dengan sempurna melengkapi perkataan 「Sebab Anak Manusia datang tidak untuk membinasakan jiwa manusia, tetapi untuk menyelamatkannya.」 (Luk. 9:56)

Mungkin kita akan bertanya mengapa Lukas menggunakan kisah 「tidak mengizinkan menurunkan api dari surga atas orang-orang Samaria」 sebagai pembukaan 〈Narasi Perjalanan〉. Jelas orang Samaria tidak mau menerima Injil yang dikhotbahkan oleh para murid dan layak mendapat penghakiman. Namun, jika kita mengingat, dua hari yang lalu, Yesus mengajar kita untuk mengampuni saudara-saudara kita tujuh kali sehari. Bukankah yang disebut saudara di sini adalah keturunan dari anak-anak Yakub dan saudara-saudara dari dua belas suku? Mungkin orang Samaria membiarkan perkawinan dengan non Yahudi, dan membuat garis keturunan mereka berantakan. Tetapi melalui perikop hari ini, kita dapat melihat bahwa orang Samaria yang disembuhkan dari kusta adalah yang berbalik, saudara yang bertobat, dan hanya dia satu-satunya dari mereka yang mengenal dengan jelas siapa yang merupakan Juruselamat sejati. Karena itu, kita hendaknya memberikan kesabaran dan penantian kepada 「orang bangsa asing」 agar dapat menyaksikan bagaimana orang-orang yang ditinggalkan benar-benar diselamatkan hidupnya oleh Anak Manusia.

Perikop hari ini mencatat Yesus melewati Samaria dan Galilea, mungkin Ia melalui perbatasan wilayah itu. Galilea adalah tempat tinggal orang Yahudi, dan Samaria tentu saja didominasi oleh orang Samaria, sehingga perbatasan kedua tempat itu bercampur orang-orang Yahudi dan Samaria yang ditinggalkan terpinggirkan. Orang sakit kusta yang tidak diterima, tidak diijinkan tinggal di kota, tentu saja mereka terpaksa hidup di sana.

Kisah penyembuhan ini mirip seperti kisah dahulu Elisa menyembuhkan Naaman. Yesus sedang menyatakan ulang sejarah keselamatan (Re-enactment of salvation history). Tetapi perbedaannya adalah bahwa pada zaman Elisa hanya Naaman yang disembuhkan (orang non Yahudi), dan tidak melakukan penyembuhan bagi orang Israel berpenyakit kusta (lih. 2 Raja 5:1-19). Kali ini, baik orang Yahudi maupun orang Samaria disembuhkan oleh Yesus. Ini menunjukkan betapa dalamnya belas kasihan Yesus, dan kuasa-Nya melampaui nabi Elisa yang dahulu, karena kesembuhan dari-Nya datang kepada orang banyak.

Di antara sepuluh orang yang disembuhkan, tidak tahu ada berapa yang adalah orang Yahudi yang melihat dirinya telah disembuhkan, secepatnya pergi memeriksakan diri kepada para imam. Dalam perjalanan ke Yerusalem, mereka segenap hati bertekad diterima kembali oleh masyarakat umum, dan dapat hidup lagi dalam kelompok yang tidak berpenyakit. Tetapi orang Samaria tidak berharap untuk pergi ke Bait Suci di Yerusalem, karena mereka di sana tergolong sebagai orang-orang yang tidak diterima. Karena itu ia kembali dan berterima kasih kepada Yesus, memuliakan Bapa.

Renungkan:

Mengapa Yesus mengajukan tiga pertanyaan ini dalam ayat 17-18: bukankah sepuluh orang yang ditahirkan? Di mana sembilan lainnya? Tidak adakah di antara mereka yang kembali untuk memuliakan Allah selain dari pada orang asing ini?

Sebenarnya, sembilan orang lainnya bukankah pergi ke Yerusalem untuk 「mempersembahkan korban berterima kasih dan memuliakan Allah」?

Apakah orang setelah mengalami rahmat anugerah, apa yang diharapkan hanya penyelesaian masalah, dan bukan segenap hati kembali kepada Tuhan yang sejati? Ada berapa banyak orang yang demikian? Di gereja, apakah 9 banding 1? Apakah ini merupakan penggambaran gereja kita hari ini bahwa sekelompok orang yang hanya tahu bagaimana menerima rahmat tetapi tidak pernah memberikan iman dan komitmen penyerahan diri?


Renungan pemahaman Injil Lukas (klik untuk membuka)

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain (klik untuk membuka)


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Injil Lukas 13 – 18 ditulis oleh 陳偉迦 (Chén Wěi Jiā) yang dipublikasi pada bulan Februari 2019, merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Untuk Kalangan Kristen.

Lukas 17:7-10

「Tuhan adalah Tuan, jangan rendahkan Tuhan jadi hamba」
oleh 陳偉迦 (Chén Wěi Jiā) Alliance Bible Seminary H.K.

(Luk. 17:7-10 [ITB])
7 「Siapa di antara kamu yang mempunyai seorang hamba yang membajak atau menggembalakan ternak baginya, akan berkata kepada hamba itu, setelah ia pulang dari ladang: 『Mari segera makan!』 8 Bukankah sebaliknya ia akan berkata kepada hamba itu: 『Sediakanlah makananku. Ikatlah pinggangmu dan layanilah aku sampai selesai aku makan dan minum. Dan sesudah itu engkau boleh makan dan minum.』 9 Adakah ia berterima kasih kepada hamba itu, karena hamba itu telah melakukan apa yang ditugaskan kepadanya? 10 Demikian jugalah kamu. Apabila kamu telah melakukan segala sesuatu yang ditugaskan kepadamu, hendaklah kamu berkata: 『Kami adalah hamba-hamba yang tidak berguna; kami hanya melakukan apa yang kami harus lakukan.』」

Dalam renungan kemarin, kita telah secara garis besar melacak hubungan antara dua perumpamaan kecil (Luk. 17:1-6) dengan perumpamaan-perumpamaan dalam Lukas 15 hingga 16, juga merangkum serangkaian perumpamaan-perumpamaan yang sebelumnya.

Kita perlu perhatikan bahwa dalam deskripsi seluruh Narasi Perjalanan, di bagian tengah ini adalah bagian yang paling banyak berisi perumpamaan. Dapat dibayangkan bahwa meskipun kata-kata kebenaran dipaparkan dengan jelas, orang tidak mendengarkannya. Para pemimpin agama Yahudi hanya terus mempertahankan apa yang diajarkan dan dipercaya tradisi mereka. Yesus melalui perumpamaan ini memberikan argumen secara halus, Yesus ingin pendengar merenungkan apakah yang ia percaya sebelumnya itu benar sempurna tidak ada lubang. Apakah tidak perlu lagi memperbarui dan menambahnya? Atau sudah menutup hati untuk mengejar kebenaran? Peran perumpamaan adalah menyediakan ruang imajiner bagi orang-orang untuk memikirkan kembali pemahaman yang lebih dalam dan lebih luas tentang kebenaran agar kehidupan kita dapat berubah. Apakah hari ini kita masih haus akan kebenaran? Berharap bahwa pembahasan seri perumpamaan dalam sepuluh hari terakhir akan menyalakan kembali antusiasme kita terhadap kata-kata Tuhan.

Bagaimana menerima saudara-saudara yang menurut kita tidak layak diterima? Orang-orang percaya abad pertama hidup dalam budaya pembenaran diri para pemimpin agama Yahudi, mereka perlu mengikuti teladan Yesus, yang juga berarti harus memperjuangkan iman Injil melawan ideologi yang melekat pada masa itu. Dapat dibayangkan bahwa itu benar-benar tidak sederhana.

Oleh karena itu, sampai pada perumpamaan kecil yang terakhir adalah perumpamaan 「hamba yang tidak berguna」 (lih. Luk. 17:10), kata tidak berguna dalam teks aslinya ἀχρεῖοί achreioi dapat diterjemahkan sebagai 「tidak layak」). Pertama-tama, kita akan memiliki perasaan, mengapa sang tuan meminta hamba untuk bekerja terus menerus? Hamba itu bukankah sudah seharian bekerja di ladang, mengapa begitu sampai di rumah tuannya dan masih harus terus melayani tuannya? Tampaknya sang tuan tidak tahu memahami perasaan orang, atau bahkan sudah keterlaluan.

Jika kita melihatnya dari sudut pandang kemarin, perasaan curiga kita ini akan segera hilang. Faktanya, fokus dari perumpamaan ini adalah bahwa tanpa instruksi dan arahan tuannya, sang hamba tidak dapat melakukan apa yang ia inginkan sendiri. Jika tidak, maka hamba ini adalah orang yang melayani dua tuan, dan sang tuan ini tidak mendapatkan kehormatan serta tempat yang layak di pusat hati sang hamba.

Titik berat ini hendak ditujukan kepada para pemimpin agama Yahudi. Mereka seharusnya menjaga ketat hukum Taurat adalah bagi Tuhan, agar bangsa Israel sebagai penumpang di antara bangsa-bangsa asing dapat menggunakannya sebagai tanda pengenal serta pengakuan atas status dan identitas (identity marker). Namun, ketika mereka berpikir bahwa mereka bisa pulang dan beristirahat, hati mereka bangga atas tindakan perbuatan mereka sendiri ─ mereka lupa status diri sebagai hamba, atau telah melayani tuan lain.

Yesus sebagai putra Tuan, Sang Firman datang ke dunia menjelma sebagai manusia, para hamba bukannya mengikat pinggang dan melayani Dia (lih. Luk. 17:8), malah mereka membunuh Dia. Apakah ini biasa dan masuk akal?

Ataukah, ketika para pemimpin yang bersedia bertobat melihat tindakan Tuhan atas orang-orang yang ditinggalkan dan terabaikan semuanya mendapat pembebasan, yakni para pemungut cukai, orang sakit, kerasukan setan, dan yang berdosa, bukankah para pemimpin ini perlu bekerja lagi yakni belajar lagi (lih. Luk. 17:8 pekerjaan mempersiapkan makanan bagi tuannya)? Patut dengan setia mengikuti instruksi dari sang tuan? Dapat dilihat apakah Sang Tuan masih perlu berterima kasih kepada mereka? (lih. Luk. 17:9)

Renungkan:

『Kami adalah hamba-hamba yang tidak berguna; kami hanya melakukan apa yang kami harus lakukan.』 Pernyataan ini menunjukkan bahwa identitas kami adalah hanya untuk menyaksikan tindakan dan kehendak hati Tuan. Perkataan ini menjelaskan bahwa apa yang kita lakukan hanyalah bagian tanggung jawab kita sendiri, dan tidak melakukan apa pun untuk merampok kemuliaan Tuan.

Hanya dengan demikian ini, kita akan setia pada satu Tuan. Tidak ada lagi yang bisa menggantikan Tuan kita. Dengan kegigihan ini, kita barulah bisa tahu bagaimana bertobat dan berbalik, menerima mereka yang diterima Tuan, bukan saja tidak akan marah, tetapi juga akan bersukacita bersama Tuan.

Dalam perjalanan mengikuti Tuhan, marilah kita berusaha untuk tidak berpuas diri tentang hasil pelayanan, seolah-olah Tuan kita tidak berpartisipasi di dalamnya. Hanya pelayanan yang meninggikan Kristus yang akan berkenan di dalam hati Tuhan.


Renungan pemahaman Injil Lukas (klik untuk membuka)

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain (klik untuk membuka)


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Injil Lukas 13 – 18 ditulis oleh 陳偉迦 (Chén Wěi Jiā) yang dipublikasi pada bulan Februari 2019, merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Untuk Kalangan Kristen.

Lukas 17:1-6

「Pengampunan perlu memakai iman」
oleh 陳偉迦 (Chén Wěi Jiā) Alliance Bible Seminary H.K.

(Luk. 17:1-6 [ITB])
1 Yesus berkata kepada murid-murid-Nya: 「Tidak mungkin tidak akan ada penyesatan, tetapi celakalah orang yang mengadakannya. 2 Adalah lebih baik baginya jika sebuah batu kilangan diikatkan pada lehernya, lalu ia dilemparkan ke dalam laut, dari pada menyesatkan salah satu dari orang-orang yang lemah ini. 3 Jagalah dirimu! Jikalau saudaramu berbuat dosa, tegorlah dia, dan jikalau ia menyesal, ampunilah dia. 4 Bahkan jikalau ia berbuat dosa terhadap engkau tujuh kali sehari dan tujuh kali ia kembali kepadamu dan berkata: 『Aku menyesal』, engkau harus mengampuni dia.」
5 Lalu kata rasul-rasul itu kepada Tuhan: 「Tambahkanlah iman kami!」
6 Jawab Tuhan: 「Kalau sekiranya kamu mempunyai iman sebesar biji sesawi saja, kamu dapat berkata kepada pohon ara ini: 『Terbantunlah engkau dan tertanamlah di dalam laut』, dan ia akan taat kepadamu.」

Ayat-ayat dalam Lukas 17:1-10 merupakan tiga perumpamaan kecil tentang pengampunan, iman seperti biji sesawi, dan hamba yang tidak berguna. Pertama-tama, mengapa Lukas mengumpulkan tiga perumpamaan pendek, dan apa arti dan tujuannya? Kita dapat melihat bahwa dalam Luk. 17:11, Lukas menggunakan teknik penulisan seperti biasanya, yakni menuliskan perjalanan Yesus ke Yerusalem sebagai pembukaan dari sebuah paragraf, menunjukkan bahwa ketiga perumpamaan pendek ini adalah sebuah ringkasan bagi Luk. 13:21 (Yesus ke Yerusalem) sampai pasal 16. Karena itu, untuk memahami ketiga perumpamaan pendek ini, hendaknya tidak mengabaikan apa yang dibahas sebelumnya, dan menggunakannya untuk memahami sepenuhnya keterkaitan dengan tiga perumpamaan kecil ini.

Hari ini, pertama-tama kita akan membahas bahwa orang yang mengadakan penyesatan adalah berdosa dan tentang mengampuni satu hari tujuh kali (ayat 1-4) dan mengapa memiliki iman seperti biji sesawi dapat memerintahkan pohon ara jatuh ke laut (ayat 5-6).

Yesus menjelaskan bahwa celakalah orang yang mengadakan penyesatan membuat orang tersandung. Berdasarkan renungan tentang enam celaka yang diucapkan terhadap orang-orang Farisi (Lukas 11:37-54) dan Lukas pasal 13 – 16 adalah tentang orang-orang Farisi, para pengacara, ahli-ahli Taurat, para pemimpin agama yang mengadakan penyesatan membuat orang tersandung. Penyebab mereka mengadakan penyesatan adalah karena mereka secara kaku mati menjaga hukum, sehingga mereka tidak membuat kehidupan orang menjadi merdeka dan kembali menjadi anak-anak Abraham di hari Sabat, sebaliknya mereka menggunakan aturan hukum Taurat untuk membuat semua orang terlantar seperti Lazarus yang meminta-minta makanan, tidak mendapatkan perhatian yang patut mereka dapatkan itu. Di dalam hati, mereka melayani Mammon, mengabaikan kebutuhan saudara-saudara mereka, yang demikian ini tidak perlu dikatakan lagi. Karena itu, kata-kata kebenaran Yesus dengan jelas menunjukkan bahwa hendaknya tidak mengabaikan orang-orang yang terpinggirkan, karena sama dengan mengikat batu kilang pada orang dan melemparkannya ke laut. Dapat dilihat bahwa dalam perikop yang bersifat ringkasan ini, Yesus pertama-tama bersuara bagi orang-orang yang dipaksa untuk datang hadir dalam perumpamaan tentang perjamuan besar (lih. Luk. 14:23 「Lalu kata tuan itu kepada hambanya: Pergilah ke semua jalan dan lintasan dan paksalah orang-orang, yang ada di situ, masuk, karena rumahku harus penuh.」)

Tetapi bukan berarti Yesus asal-asalan memihak orang tertentu, karena Yesus kemudian menambahkan sebuah elemen penting yang dibahas dalam pasal berikutnya Luk. 15, yakni pertobatan. Orang-orang itu harus mengakui ketersesatan (keterhilangan) diri mereka sendiri dan memutuskan untuk kembali kepada Tuhan. Dalam perumpamaan tentang domba dan dirham yang hilang di Luk. 15, kita telah melihat urgensi dan inisiatif Tuhan untuk menemukan yang terhilang. Lalu perumpamaan berikutnya, tetap masih ada masalah apakah putra sulung bersedia untuk memaafkan dan menerima mereka.

Karena itu, dalam ayat 4 dari perikop hari ini, disebutkan bahwa harus mengampuni saudara tujuh kali sehari. Tentu saja, ini adalah gaya penulisan retoris, yang artinya bagaimanapun tetap harus mengampuni, bahkan jika dia telah bersalah kepada Anda tujuh kali sehari (lih. Mat. 18:22 menyebutkan mengampuni tujuh puluh kali tujuh). Dapat dilihat bahwa fokus dari ayat-ayat hari ini adalah untuk menerima saudara-saudara seperti pemungut cukai dan orang berdosa.

Apakah benar-benar harus melakukan demikian? Ini benar-benar suatu hal yang sangat bertentangan dengan budaya dan atmosfir religius pada zaman itu, itu adalah seperti membawa 10.000 tentara untuk melawan 20.000 tentara; seperti dalam keadaan tidak adanya sumber daya yang cukup untuk mempersiapkan pembangunan sebuah bangunan, itu adalah seperti orang bodoh berbicara konyol, sungguh hal yang di luar jangkauan pikiran.

Renungkan:

Tidak heran kita membutuhkan iman. Mintalah Tuhan untuk memberikan iman, dan kita dapat membuat hal-hal yang tidak mungkin! Dengan iman, kita tidak lagi melihat berdasarkan mata, tetapi bersandar Tuhan yang memberi iman dan mengambil Yesus sebagai teladan. Mari kita umumkan pohon ara tercabut dan tertanam ke laut


Renungan pemahaman Injil Lukas (klik untuk membuka)

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain (klik untuk membuka)


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Injil Lukas 13 – 18 ditulis oleh 陳偉迦 (Chén Wěi Jiā) yang dipublikasi pada bulan Februari 2019, merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Untuk Kalangan Kristen.

Lukas 13:18-21

「Menapak jalan yang dilalui Yesus」
oleh 陳偉迦 (Chén Wěi Jiā) Alliance Bible Seminary H.K.

(Luk. 13:18-21 [ITB])
18 Maka kata Yesus: 「Seumpama apakah hal Kerajaan Allah dan dengan apakah Aku akan mengumpamakannya? 19 Ia seumpama biji sesawi, yang diambil dan ditaburkan orang di kebunnya; biji itu tumbuh dan menjadi pohon dan burung-burung di udara bersarang pada cabang-cabangnya.」
20 Dan Ia berkata lagi: 「Dengan apakah Aku akan mengumpamakan Kerajaan Allah? 21 Ia seumpama ragi yang diambil seorang perempuan dan diadukkan ke dalam tepung terigu tiga sukat sampai khamir seluruhnya.」

Perikop hari ini adalah ringkasan kecil yang pertama dari <Narasi Perjalanan>, dan Lukas menggunakan dua perumpamaan pendek sebagai kesimpulannya. Bandingkan dengan Injil Lukas, perumpamaan biji sesawi dan ragi dalam Injil Matius dan Injil Markus meletakkan di bagian akhir kumpulan perumpamaan (Injil Markus hanya ada perumpamaan biji sesawi), dan melanjutkan perumpamaan menabur benih (lihat Mat. 13; Mar. 4). Ini memaksa kita untuk bertanya, pesan seperti apa yang dirangkum oleh kedua perumpamaan ini?

Untuk memahami pemikiran kesimpulan ini, kita harus meninjau kembali pesan dari pasal-pasal sebelumnya (Luk. 9:51-13:17). Namun karena batasan ruang, kita hanya dapat menggunakan ayat-ayat dari dua hari sebelumnya sebagai titik masuk sederhana untuk memahami arti sebenarnya dari perumpamaan biji sesawi dan ragi.

Hubungan antara dua perumpamaan Kerajaan Allah ini dengan ayat-ayat dua hari kemarin —— terletak pada mereka berpikir bahwa apa yang mereka percayai adalah iman yang nyata dan seluruh kebenaran, namun sebenarnya mereka hanya menyia-yiakan tempat keberadaannya tetapi tidak menghasilkan buah. Sebaliknya, pekerjaan Yesus adalah menafsirkan ulang makna sebenarnya dari Hukum Musa (Reinterpretation of Mosaic Laws). Makna sejati ini bukan merupakan pemikiran arus utama dari orang-orang, juga tidak diterima oleh para pemimpin agama arus utama (seperti kepala rumah ibadat), melainkan seperti biji sesawi yang bagi orang-orang tampaknya paling tidak mencolok dan tidak memiliki pengaruh. Siapa sangka itu bisa tumbuh menjadi pohon dan membuat burung-burung hidup tinggal di antaranya, dan tampaknya itu adalah ragi yang tersembunyi dalam tepung terigu tiga sukat (total 22.6 kg), awal pandangan pertama, tidak ada sesuatu yang besar, tetapi begitu saatnya tiba akan membuat 22.6 kg tepung mengembang dan dapat menyediakan makan kepada banyak orang.

Mungkin kita berpikir bahwa Yesus telah menyebabkan banyak kontroversi dalam perjalanan ke Yerusalem ini, dan menarik perhatian banyak orang tentang apa yang akan Dia lakukan di Bait Suci Yerusalem. Namun, bagi Lukas, ia percaya bahwa bagian dari <Narasi Perjalanan> Yesus ini adalah perjalanan yang tidak mencolok dan tersembunyi. Masa waktu sesungguhnya bertumbuh menjadi pohon dan seluruh adonan mengembang bukanlah ketika Yesus hidup, atau bahkan ketika Yesus menggenapkan keselamatan di kayu salib, tetapi ketika para murid dianiaya di Yerusalem yang tercatat dalam Kisah Para Rasul, Injil barulah perlahan-lahan menyebar, sampai ke tempat orang-orang non Yahudi. Ini telah memberikan kesaksian fakta bahwa biji sesawi benar-benar telah tumbuh menjadi sebuah pohon, dan seluruh adonan benar-benar telah khamir mengembang.

Karena itu, apa yang dicatat dalam <Narasi Perjalanan> membawakan konsep surga yang ingin Yesus nyatakan, tidak sama dengan apa yang diharapkan publik agar bisa segera terkenal. Sebaliknya, Kerajaan Surga adalah tersembunyi, hanya ketika waktunya tiba barulah akan muncul luar biasa. Yesus menggenapkan keselamatan di Yerusalem adalah mati secara diam-diam di kayu salib ── yang merupakan hinaan dalam pandangan manusia, bahkan diejek dan ditinggalkan. Bukankah ini seperti biji sesawi yang kecil? Pada masa awal gereja, Kerajaan Surga telah tumbuh menjadi pohon, dan sudah saatnya seluruh adonan mengembang khamir!

Renungkan:

Di setiap zaman, iman mungkin perlahan berubah sifat. Jika hari ini Yesus sekali lagi menunjukkan makna sebenarnya dari Hukum Musa, kita seharusnya bagaimana membawa iman yang rusak itu kembali ke jalurnya?

Kepada para sahabat terkasih:
Jika Anda mendapati bahwa apa yang Anda tekunkan tampaknya kecil, tidak ada yang peduli, atau bahkan ditolak orang, tolong jangan pedulikan dan putus asa, Anda tinggal melangkah pada langkah Yesus. Suatu hari, biji sesawi yang ditanam dan adonan beragi akan memiliki perubahan yang berbeda di tangan Tuhan, sehingga kegigihan Anda akan menjadi berkat bagi banyak orang.


Renungan (klik untuk membuka)

Renungan pemahaman (klik untuk membuka)


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Injil Lukas 13 – 18 ditulis oleh 陳偉迦 (Chén Wěi Jiā) yang dipublikasi pada bulan Februari 2019, merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Untuk Kalangan Kristen.

Lukas 13:10-17

「Pembebas kehidupan」
oleh 陳偉迦 (Chén Wěi Jiā) Alliance Bible Seminary H.K.

(Luk. 13:10-17 [ITB])
10 Pada suatu kali Yesus sedang mengajar dalam salah satu rumah ibadat pada hari Sabat. 11 Di situ ada seorang perempuan yang telah delapan belas tahun dirasuk roh sehingga ia sakit sampai bungkuk punggungnya dan tidak dapat berdiri lagi dengan tegak.
12 Ketika Yesus melihat perempuan itu, Ia memanggil dia dan berkata kepadanya: 「Hai ibu, penyakitmu telah sembuh.」 13 Lalu Ia meletakkan tangan-Nya atas perempuan itu, dan seketika itu juga berdirilah perempuan itu, dan memuliakan Allah.
14 Tetapi kepala rumah ibadat gusar karena Yesus menyembuhkan orang pada hari Sabat, lalu ia berkata kepada orang banyak: 「Ada enam hari untuk bekerja. Karena itu datanglah pada salah satu hari itu untuk disembuhkan dan jangan pada hari Sabat.」 15 Tetapi Tuhan menjawab dia, kata-Nya: 「Hai orang-orang munafik, bukankah setiap orang di antaramu melepaskan lembunya atau keledainya pada hari Sabat dari kandangnya dan membawanya ke tempat minuman? 16 Bukankah perempuan ini, yang sudah delapan belas tahun diikat oleh Iblis, harus dilepaskan dari ikatannya itu, karena ia adalah keturunan Abraham?」
17 Dan waktu Ia berkata demikian, semua lawan-Nya merasa malu dan semua orang banyak bersukacita karena segala perkara mulia, yang telah dilakukan-Nya.

Kemarin, kita merenungkan tentang hubungan antara dua kisah dalam ayat 1-9, Tuhan Yesus menjelaskan sendiri apa artinya 「menjadi korban bencana, penghakiman」 ── mereka yang merasa beruntung bahwa mereka tidak 「menjadi korban bencana」, tetapi mereka justru adalah yang tidak berbuah apa-apa; mereka oleh diri sendiri berpikir dirinyalah「yang diberkati」, dan berpikir telah menghasilkan banyak buah, tetapi dia tidak tahu bahwa sama sekali tidak berbuah sedikitpun. Ternyata hanya kehidupan pertobatan yang dapat menghasilkan buah yang sejati.

Melanjutkan renungan sebelumnya, perikop hari ini menjelaskan apa yang dimaksud dengan 「pertobatan.」

Pada abad pertama, masa Tuhan Yesus, orang-orang percaya Yahudi, dan bahkan kepala rumah ibadat, jatuh ke dalam perangkap rohani ——mereka mengira bahwa merekalah yang memiliki iman dan menyalahkan orang lain (Yesus) atas kebodohan iman, tetapi justru tidak tahu bahwa dirinya yang tidak paham atas iman mereka. Justru orang lain itulah yang memiliki pemahaman iman yang benar.

Penyembuhan oleh Yesus pada hari Sabat adalah tanda yang sangat penting dari <Narasi Perjalanan> dalam Injil Lukas. Selain perikop ini, dalam Luk. 14:1–6 Yesus sekali lagi menantang aturan Sabat para pemimpin agama Yahudi — apa sebenarnya nilai inti dari Sabat? Apa makna yang hendak dibawakan oleh hari Sabat? Dari kata-kata dan perbuatan para pemimpin agama yang tidak mengalami aniaya dari Pilatus, mereka bangga dengan aturan agama Yahudi yang mereka pegang. Mereka berpikir bahwa memiliki aturan-aturan ini sama dengan buah yang berkenan dan dicintai Allah.

Ketika orang-orang Yahudi dibawa ke Babel dan Bait Suci dihancurkan, salah satu penanda identitas penting orang Yahudi adalah paradigma dan ketetapan agama mereka. Ketentuan agama ini digunakan untuk membedakan antara kelompok kepercayaan mereka sendiri dan kelompok pagan untuk menjaga keunikan bangsanya, sehingga mereka tidak berasimilasi dengan budaya asing selama periode ditawan di pembuangan dan pengasingan. Singkatnya, apa yang mereka hargai serta pentingkan adalah semua hukum dan peraturan agama, termasuk Torah Lisan (Oral Torah).

Dalam literatur Rabi, Mishna tentang <Aturan hari Sabat 2.1-4> mengijinkan orang Yahudi untuk melepaskan sapi, keledai dan ternak lainnya pada hari Sabat untuk membiarkan mereka makan dan minum. Namun, saat Yesus ingin menggunakan esensi dari peraturan ini untuk membebaskan seorang putri keturunan Abraham dari sakit, kepala rumah ibadat yang menilai diri berbuah lebat itu keluar dan berteriak, menyalahkan Yesus atas tindakan Dia, bahwa Ia sangat perlu bertobat ─ yakni jangan menyembuhkan pada hari Sabat.

Di antara mereka yang berpikir diri adalah penjaga kebenaran, mungkin sulit bagi kita untuk membedakan apakah yang mereka lakukan adalah apa yang Yesus minta kita lakukan. Mereka mungkin hanya mengikuti aturan atau ketentuan agama, seperti kepala rumah ibadat. Hari ini, kita tampaknya tidak memiliki satu standar kriteria untuk menilai, tetapi kita memiliki prinsip Tuhan Yesus Kristus melakukan pembedaan. Karena itu, ketika setiap orang mengatakan bahwa yang dipegang adalah kebenaran, semua orang berpikir bahwa pengalaman mereka adalah nyata, tetapi Yesus memberikan prinsip cara membedakan yang sangat penting ── membebaskan kehidupan manusia dan membawa orang kembali kepada identitas mulia yang dianugerahkan Tuhan, itu adalah dasar kebenaran yang sebenarnya.

Renungkan:

Kita mungkin berpikir bahwa hanya aturan dan dogma yang dapat membuat orang mengenal kebenaran. Ya, ini adalah cara termudah dan tercepat untuk menyampaikan kebenaran dalam waktu singkat dan membuat orang mengerti. Tetapi pada kenyataannya, kita semua tahu bahwa untuk membuat kebenaran berakar dalam hati orang dan membuat orang mendapatkan pembebasan nyata, tidak pernah dicapai dengan satu cara tunggal.

Kita harus bertobat, mungkin bukan dari tindakan jahat besar, atau dari tindakan moral yang jelas baik atau jahat. Tetapi sebaliknya, kita benar-benar perlu bertanya pada diri sendiri: apakah iman yang kita bagikan dan hidupi sekarang benar-benar membuat orang-orang di sekitar kita mengalami pembebasan kehidupan dan kembali ke identitas mulia yang diberikan oleh Tuhan?


Renungan (klik untuk membuka)

Renungan pemahaman (klik untuk membuka)


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Injil Lukas 13 – 18 ditulis oleh 陳偉迦 (Chén Wěi Jiā) yang dipublikasi pada bulan Februari 2019, merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Untuk Kalangan Kristen.

Lukas 13:1-9

「Hari-hari tanpa bencana apakah artinya mendapat nilai bagus dari Tuhan?」
oleh 陳偉迦 (Chén Wěi Jiā) Alliance Bible Seminary H.K.

(Luk. 13:1-9 [ITB])
1 Pada waktu itu datanglah kepada Yesus beberapa orang membawa kabar tentang orang-orang Galilea, yang darahnya dicampurkan Pilatus dengan darah korban yang mereka persembahkan.
2 Yesus menjawab mereka: 「Sangkamu orang-orang Galilea ini lebih besar dosanya dari pada dosa semua orang Galilea yang lain, karena mereka mengalami nasib itu? 3 Tidak! kata-Ku kepadamu. Tetapi jikalau kamu tidak bertobat, kamu semua akan binasa atas cara demikian. 4 Atau sangkamu kedelapan belas orang, yang mati ditimpa menara dekat Siloam, lebih besar kesalahannya dari pada kesalahan semua orang lain yang diam di Yerusalem? 5 Tidak! kata-Ku kepadamu. Tetapi jikalau kamu tidak bertobat, kamu semua akan binasa atas cara demikian.」
6 Lalu Yesus mengatakan perumpamaan ini: 「Seorang mempunyai pohon ara yang tumbuh di kebun anggurnya, dan ia datang untuk mencari buah pada pohon itu, tetapi ia tidak menemukannya. 7 Lalu ia berkata kepada pengurus kebun anggur itu: :『Sudah tiga tahun aku datang mencari buah pada pohon ara ini dan aku tidak menemukannya. Tebanglah pohon ini! Untuk apa ia hidup di tanah ini dengan percuma!』 8 Jawab orang itu: :『Tuan, biarkanlah dia tumbuh tahun ini lagi, aku akan mencangkul tanah sekelilingnya dan memberi pupuk kepadanya, 9 mungkin tahun depan ia berbuah; jika tidak, tebanglah dia!』」

Lukas 9:51-19:44 disebut sebagai 「Narasi Perjalanan」 (Travel Narrative). Pada bulan Oktober tahun 2018, kita telah memulai renungan dari beberapa pasal bagian awal 「Narasi Perjalanan」 ini. Mungkin kita telah memahami bahwa narasi dalam Injil bukanlah kumpulan sepotong-sepotong cerita yang berbeda-beda. Sebaliknya, Lukas dengan terampil menerapkan penafsiran sejarah keselamatan Perjanjian Lama pada diri Yesus, menunjukkan bahwa Yesus adalah Mesias yang dijanjikan oleh Perjanjian Lama. Agar kita perlahan-lahan menyadari bahwa ketika berbagai perbuatan dan khotbah Yesus saling dikoneksikan dipelajari bersama akan membentuk pesan berita yang selaras dengan situasi dan niat para penulis Perjanjian Baru.

Hari ini kita memperhatikan Lukas 13: 1-9, yang mencatat insiden Pilatus membunuh orang-orang Galilea dan kemungkinan runtuhnya bangunan yang mungkin terjadi di Yerusalem. Menurut <Catatan sejarah Yahudi 18.3.1-2> yang ditulis Josephus, kita dapat melihat petunjuk bahwa Pilatus menganiaya dan membunuh orang-orang Yahudi. Namun, dalam literatur yang kita temukan hari ini, tidak ada yang mencatat alasan mengapa Pilatus ingin membunuh orang-orang Galilea. Kita hanya dapat memperkirakan bahwa itu karena orang-orang Galilea terlibat dalam pemberontakan revolusioner militer, sehingga menyebabkan tindakan kekerasan meredam dan pembunuhan oleh Pilatus dan pasukannya. Namun, fokus dari teks adalah mengapa orang-orang yang hadir bersama Yesus ingin menyebutkan hal ini, apa tujuan mereka yang sebenarnya?

Untuk memahami apa motivasi mereka, kita dapat mempertimbangkannya dari dua aspek.

  1. Motivasi yang Baik: Orang-orang yang hadir khawatir tentang Yesus, sang Mesias yang penuh dengan kekuatan ajaib, penyembuhan, dan mengusir setan, dan akan berakhir seperti orang-orang Galilea yang dibunuh oleh Pilatus. Karena itu, mereka mengingatkan Yesus untuk baik-baik menangani dan menghadapi penganiayaan dan pembunuhan dari Pilatus dan rezim Romawi terhadap diri-Nya.
  2. Motivasi sindiran: Orang yang hadir mungkin tidak puas dengan ucapan Yesus dan tindakan-Nya, dan menggunakan ironi untuk mengejek Yesus, bahwa akhir masa depan-Nya mungkin sama dengan orang-orang Galilea yang terbunuh. Jika melihat jawaban Yesus, mungkin motivasi untuk sindiran lebih masuk akal.

Dalam jawaban Yesus, Ia tidak memberikan kepedulian atas kemungkinan Pilatus menganiaya Dia, alih-alih berfokus pada pertobatan yang tulus.

Manusia sering takut akan datangnya penghakiman, tetapi selama hari penghakiman Tuhan atas diri sendiri belum tiba, kita mungkin masih meletakkan fokus atas penghakiman yang dialami orang lain — berbicara tentang apakah orang lain benar-benar telah mendapat penghakiman dari Tuhan, sama seperti mereka memperbincangkan tentang orang-orang Galilea yang terbunuh oleh Pilatus, atau 18 orang yang tewas dalam kecelakaan ambruknya menara Siloam, dan merasa diri mereka sendiri beruntung karena tidak kena bencana.

Dalam menghadapi penghakiman yang diterima oleh orang lain, kita hanya peduli apakah orang lain lebih berdosa daripada kita, sehingga mendapat celaka ini (lih. Luk. 13: 2)? Apakah keadaan kita paling baik dibanding orang-orang lain? Merasa selama kita tidak menerima penghakiman, itu sudah cukup, dan keinginan hati sudah terpuaskan.

Di sini, Yesus mengajar bagaimana kita bersikap saat orang lain mengalami aniaya dan penghakiman. Fokusnya adalah kita harus berbalik dan kembali ke jalan yang lurus, bertobat dengan sungguh-sungguh, bukannya berpikir di hati bahwa kita lebih 「beruntung」 dan mendapat lebih banyak 「anugerah」 daripada orang lain. Besok kita akan mengeksplorasi kisah penyembuhan yang dilakukan oleh Yesus pada hari Sabat, dan pesan dari kisah tersebut akan menjadi contoh yang baik.

Renungkan:

Gambaran pohon ara (lih. ayat 6-9) menunjukkan bahwa mereka yang penuh dengan pemikiran bahwa keberuntungan mereka adalah identik dengan buah yang berlimpah-limpah, tetapi tuannya tidak menemukan bahwa mereka bahkan memiliki sedikitpun buah. Namun, pemiliknya terus-menerus menunggu dan mengamati, dan mengharapkan mereka berbuah. Ini terlebih menunjukkan kemurahan Tuhan dan keinginan-Nya agar kita bertobat secara menyeluruh.

Mana yang kita pilih, bahwa semua yang kita miliki sebelum kita mengalami bencana adalah 「buah」 , atau kita memilih bahwa 「pertobatan」 adalah buah yang ingin kita hasilkan?


Renungan (klik untuk membuka)

Renungan pemahaman (klik untuk membuka)


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Injil Lukas 13 – 18 ditulis oleh 陳偉迦 (Chén Wěi Jiā) yang dipublikasi pada bulan Februari 2019, merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Untuk Kalangan Kristen.