「Tantangan atas Iman」
Daniel bersama tiga teman menghadapi pemaksaan cuci otak, ganti identitas, ganti iman. Apakah terdapat tantangan yang sama di hadapan kita?
Renungan ini merupakan terjemahan versi bahasa Mandarin 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Daniel ditulis oleh 吳劍麗 (Wú Jiàn Lì) yang dipublikasi pada bulan November 2017 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).
(Daniel 1:3-7 [ITB])
3Lalu raja bertitah kepada Aspenas, kepala istananya, untuk membawa beberapa orang Israel, yang berasal dari keturunan raja dan dari kaum bangsawan,
4yakni orang-orang muda yang tidak ada sesuatu cela, yang berperawakan baik, yang memahami berbagai-bagai hikmat, berpengetahuan banyak dan yang mempunyai pengertian tentang ilmu, yakni orang-orang yang cakap untuk bekerja dalam istana raja, supaya mereka diajarkan tulisan dan bahasa orang Kasdim.
5Dan raja menetapkan bagi mereka pelabur setiap hari dari santapan raja dan dari anggur yang biasa diminumnya. Mereka harus dididik selama tiga tahun, dan sesudah itu mereka harus bekerja pada raja.
6Di antara mereka itu ada juga beberapa orang Yehuda, yakni Daniel, Hananya, Misael dan Azarya.
7Pemimpin pegawai istana itu memberi nama lain kepada mereka: Daniel dinamainya Beltsazar, Hananya dinamainya Sadrakh, Misael dinamainya Mesakh dan Azarya dinamainya Abednego.
Mulai dari 1:3, titik berat kitab ini mulai berfokus pada diri Daniel. Nebukadnezar memerintahkan kepala kasim, harus memilih dengan teliti beberapa pemuda terbaik dari dalam kelompok orang Israel yang ditawan, untuk dididik, diajari menguasai dengan benar-benar berbagai macam ilmu pengetahuan Babel, agar kelak dapat bekerja kepada raja di istana. Daniel dan tiga teman yang lain memenuhi seluruh tuntutan Nebukadnezar: dari keturunan raja dan dari kaum bangsawan, berusia muda, tidak ada cacat, berperawakan baik, memahami berbagai hikmat, berpengetahuan banyak, maka mereka terpilih untuk dididik secara khusus. Pada kenyataannya, pendidikan khusus tiga tahun ini selain memperlengkapi beberapa pemuda unggulan ini menjadi orang elite berkemampuan tinggi di istana Babel, sepertinya juga tersembunyi tujuan lain.
Terlebih dahulu, empat orang harus sepenuhnya menerima pencucian kebudayaan Babel. Mereka belajar semua bahasa Kasdim, tulisan pengetahuan (juga termasuk ilmu tenung dan meramal).
Kemudian, mereka 「diberi makan minum」. Selama masa pelatihan, keempat orang setiap hari harus makan santapan raja, minum anggur raja. Santapan raja dapat dibayangkan pasti jauh melimpah lebih sedap dibandingkan santapan biasa. Tetapi, orang Israel selalu sangat menjaga aturan minum makan Yahudi (Kosher), santapan serta anggur raja Babel sangat besar kemungkinan adalah makanan yang telah dipakai menyembah berhala; maka bagi keempat pemuda ini, makan santapan raja menjadi sebuah ujian atas iman.
Paling akhir, 「diganti nama」. Dalam kebudayaan saat itu, nama menandakan iman dan identitas seseorang. Ganti nama, adalah pemaksaan mengenakan agama dan identitas yang lain dengan kekerasan kepada orang. Daniel (berarti: Allah adalah Hakim ku) oleh kepala kasim diganti nama menjadi Beltsazar (kiranya dewi melindungi), Hananya (kasih kemurahan TUHAN) diganti nama menjadi Sadrakh (saya menghormati dewa), Misael (siapa seperti Allah) diganti nama menjadi Mesakh (saya sama sekali tidak berharga), Azarya (TUHAN adalah Penolong ku) diganti nama menjadi Abednego (hamba dewa「Nebo」). Nama asli Daniel dan ketiga teman mencerminkan hubungan mereka dengan TUHAN; dengan 「ganti」 nama baru, adalah tindakan merengut putus mereka seketika dari TUHAN, dialihkan terhubung bersama para dewa Babel, untuk mengingatkan mereka bahwa iman yang selama ini menjadi tumpuan hidup mereka telah diganti dengan paksa.
Dari sini dapat dilihat, pendidikan khusus di istana Babel, tujuannya tidak hanya membina kelompok pemuda yang ditawan ini agar menjadi orang-orang elite berkemampuan tinggi di istana, tetapi secara tersembunyi adalah hendak merombak mereka secara total, sengaja memotong putus identitas bangsa dan iman mereka yang asli, dicuci otak dan diasimilasi secara paksa, memaksa mereka secara total setia kepada raja Babel.
Renungkan: Daniel bersama tiga teman sebagai tawanan, diperintahkan belajar huruf tulisan Babel, bahasa, kebudayaan, dipasangkan nama Babel, bahkan ditentukan makanan minuman yang merupakan kebutuhan sehari-hari. Melihat keadaan saat itu, keempat orang ini sepertinya tidak ada pilihan lain, hanya dapat diam-diam menerima semua pengaturan dari 「tuhan」 yang baru. Berapa sering kita menghadapi perubahan situasi, terjangan arus dunia, kita merasa tanpa pertolongan, sepertinya mau tidak mau harus menerima kenyataan. Tetapi dengan teliti renungkan: apakah kita pernah lupa identitas diri kita sendiri? Siapa yang adalah 「Tuhan」? Apakah benar-benar tidak ada pilihan lagi?
Tambahan Penerjemah:
Apakah hal serupa dengan apa yang dialami Daniel dan ketiga teman juga kita alami walau bukan secara harafiah? Bagaimanakah sepatutnya sikap dan tindakan kerohanian kita menghadapi abrasi asimilasi yang menerjang iman kita dan anak-anak kita?
Perlukah kita waspada dan bertindak atas apa yang mungkin dihadapi oleh anak-anak kita baik di lingkungan pergaulan ataupun pedidikan di sekolah? Materialisme, atheisme, skeptisme, individualisme, evolusionisme, dan berbagai isme-isme ataupun ajaran-ajaran sesat yang bertentangan dengan iman kita?