Tag Archives: Tabur Tuai

2 Korintus 9:6-15

「Menabur banyak, akan menuai banyak」

Oleh Rev. Dr. Lam Lee Man-yiu (李文耀)
Alliance Bible Seminary H.K.

(2 Kor. 9:6-15 [ITB])
6 Camkanlah ini: Orang yang menabur sedikit, akan menuai sedikit juga, dan orang yang menabur banyak, akan menuai banyak juga.
7 Hendaklah masing-masing memberikan menurut kerelaan hatinya, jangan dengan sedih hati atau karena paksaan, sebab Allah mengasihi orang yang memberi dengan sukacita. 8 Dan Allah sanggup melimpahkan segala kasih karunia kepada kamu, supaya kamu senantiasa berkecukupan di dalam segala sesuatu dan malah berkelebihan di dalam pelbagai kebajikan. 9 Seperti ada tertulis: Ia membagi-bagikan, Ia memberikan kepada orang miskin, kebenaran-Nya tetap untuk selamanya.
10 Ia yang menyediakan benih bagi penabur, dan roti untuk dimakan, Ia juga yang akan menyediakan benih bagi kamu dan melipatgandakannya dan menumbuhkan buah-buah kebenaranmu; 11 kamu akan diperkaya dalam segala macam kemurahan hati, yang membangkitkan syukur kepada Allah oleh karena kami. 12 Sebab pelayanan kasih yang berisi pemberian ini bukan hanya mencukupkan keperluan-keperluan orang-orang kudus, tetapi juga melimpahkan ucapan syukur kepada Allah.
13 Dan oleh sebab kamu telah tahan uji dalam pelayanan itu, mereka memuliakan Allah karena ketaatan kamu dalam pengakuan akan Injil Kristus dan karena kemurahan hatimu dalam membagikan segala sesuatu dengan mereka dan dengan semua orang, 14 sedangkan di dalam doa mereka, mereka juga merindukan kamu oleh karena kasih karunia Allah yang melimpah di atas kamu. 15 Syukur kepada Allah karena karunia-Nya yang tak terkatakan itu!

Sebelum mengakhiri seluruh paragraf menasihati penerima surat agar menyelesaikan rencana memberikan pelayanan kasih, di ayat 9:6 Paulus menambahkan Camkanlah ini: … dalam bahasa aslinya berarti hendak menjabarkan lebih jelas pembicaraan sebelumnya ── saya ingin menjelaskan hal ini. Sebelumnya di ayat 9:5 Paulus menyebutkan bahwa tiga saudara yang diutus ke gereja Korintus bertanggung jawab untuk membantu mereka mempersiapkan sumbangan yang dijanjikan, agar jemaat Korintus dapat menunjukkan bahwa itu berasal dari kerelaan, bukan paksaan. Paulus masih ada sesuatu yang hendak dikatakan mengenai kerelaan dan bukan paksaan, ia mengingatkan mereka lagi: Hendaklah masing-masing memberikan menurut kerelaan hatinya, jangan dengan sedih hati atau karena paksaan (9:7). Dapat dilihat bahwa topik masih berlanjut. Maknanya sangat sederhana, apa yang ingin Paulus tambahkan? Ayat 9:6 merupakan pengantar Orang yang menabur sedikit, akan menuai sedikit juga, dan orang yang menabur banyak, akan menuai banyak juga. Di sini, Paulus menggunakan metafora tentang hasil panen, terutama untuk membawakan semangat menabur banyak, akan menuai banyak. Tentu saja, Paulus tidak mengatakan ada hubungan kepastian kausalitas bahwa menabur banyak pasti menuai banyak, karena semua orang mengerti kenyataannya, ada banyak faktor yang mempengaruhi banyak atau sedikitnya hasil panen. Namun, jumlah yang ditaburkan juga menjadi pertimbangan, kurang menabur tentu tidak bisa mengharapkan menuai banyak, seperti mahasiswa sedikit membaca dan belajar tidak bisa mengharapkan hasil yang baik. Tentu saja, ini mengacu pada kasus umum, pada kenyataannya, ada kasus khusus siswa yang sedikit membaca tetapi bisa mendapatkan hasil yang baik. Amsal, kata-kata bijak berbicara dalam kasus umum, dalam keadaan normal, menabur sedikit akan menuai sedikit, menabur banyak menuai banyak. Jadi, jika orang ingin panen banyak, hari ini harus bekerja lebih keras, menabur banyak. Apa yang Paulus ingin sampaikan dengan metafora ini? Dalam hal memberi sumbangan pelayan kasih, menuai apakah yang diharapkan oleh orang-orang percaya di Korintus?

Jelas, Paulus tidak menganjurkan sikap utilitarian untung rugi ── Saya menyumbang dengan murah hati, adalah demi mendapatkan laba di masa depan. Paulus sangat menentang pikiran utilitarian menghitung untung rugi dalam melayani Tuhan: kami tidak sama dengan banyak orang lain yang mencari keuntungan dari firman Allah. Sebaliknya dalam Kristus kami berbicara sebagaimana mestinya dengan maksud-maksud murni atas perintah Allah dan di hadapan-Nya(2 Kor. 2:17). Orang Kristen melakukan apapun dalam memberitakan Injil (memberitakan Firman atau memberi sumbangan kasih merupakan bagian dari memberitakan Injil), bukan untuk keuntungan pribadi, tetapi untuk menjawab merespons perintah Tuhan dengan niat yang tulus. Ketaatan lebih baik dari pengorbanan (1 Sam. 15:22), ini adalah semangat dan sikap yang paling penting bagi seorang pelayanan Allah. Oleh karena itu, menabur banyak, akan menuai banyak bukan demi kepentingan sang pelayan mendapat keuntungan lebih, tetapi karena kontribusi donasi dari orang maka Injil dapat diberitakan lebih luas, nama Allah juga dimuliakan dan dipuji oleh banyak orang. Pemahaman ini konsisten dengan penjelasan Paulus di ayat 9:12-13 Sebab pelayanan kasih yang berisi pemberian ini bukan hanya mencukupkan keperluan-keperluan orang-orang kudus, tetapi juga melimpahkan ucapan syukur kepada Allah … mereka memuliakan Allah karena ketaatan kamu dalam pengakuan akan Injil Kristus dan karena kemurahan hatimu dalam membagikan segala sesuatu dengan mereka dan dengan semua orang. Dapat dilihat bahwa manfaat dari menabur banyak menuai banyak adalah tentang Allah makin dimuliakan. Paulus mengingatkan penerima surat, juga mengingatkan kita, kerelaan memberi adalah hal yang baik, karena orang yang menerima bantuan mengetahui iman kita, sehingga mengenal Allah yang kita taati dan yang kita sembah. Kemudian pada gilirannya, memperkuat iman kerelaan kita memberi, kerelaan dan sukacita saling terkait, dan keduanya muncul di hati orang-orang karena melihat perbuatan Allah dan kemuliaan Allah. Orang-orang memiliki sukacita dan tentu saja dengan sukarela memberikan donasi.

Dalam pengenalan ini, Paulus menyebutkan makna menuai banyak pada diri orang percaya ── Allah sanggup melimpahkan segala kasih karunia kepada kamu, supaya kamu senantiasa berkecukupan di dalam segala sesuatu dan malah berkelebihan di dalam pelbagai kebajikan (9:8). Titik berat ayat ini adalah mampu melakukan pelbagai kebajikan. Allah menambahkan berbagai kasih karunia secara berlimpah kepada orang percaya, bukan dengan tujuan untuk menikmati hidup kaya raya di dunia, tetapi menambahkan kemampuan mereka untuk terus melakukan segala macam perbuatan kebajikan, jadi menabur banyak, akan menuai banyak berarti bahwa di bawah kasih karunia Tuhan, orang Kristen dapat melakukan lebih banyak dan lebih banyak lagi perbuatan baik.

Ini menjelaskan mengapa gereja Makedonia selagi dicobai dengan berat dalam pelbagai penderitaan dan meskipun mereka sangat miskin, namun mereka bisa memberikan melampaui kemampuan mereka (8:2-3), karena fokus mereka bukan pada harta mereka sendiri, tetapi berdasarkan iman melihat Tuhan memiliki kasih karunia yang berkelimpahan. Ia yang menyediakan benih bagi penabur, dan roti untuk dimakan, Ia juga yang akan menyediakan benih bagi kamu dan melipatgandakannya dan menumbuhkan buah-buah kebenaranmu (9:10), maka menabur banyak, akan menuai banyak juga berarti bahwa orang-orang beriman dapat memperoleh lebih banyak kekuatan dalam membantu orang-orang kudus yang dalam kemiskinan, sehingga dapat menerima lebih banyak buah kebenaran. Dengan demikian kalian akan serba cukup dalam segala hal sehingga kalian selalu dapat memberi dengan murah hati(9:11 BIMK) ini adalah keyakinan Paulus, ini berasal dari pengalaman mendalam tentang Allah ── Syukur kepada Allah karena karunia-Nya yang tak terkatakan itu! (9:15)

Semua ini dari kasih karunia Allah, anugerah dan karunia (dalam bahasa aslinya adalah kata yang sama, χάρις charis). Ayat 8:1 dan 9:15 menyebutkan kasih karunia Allah adalah pembuka dan penutup yang saling berkorespondensi, membungkus seluruh paragraf. Memberikan bantuan pelayanan kasih adalah tindakan menyatakan kasih karunia Allah yang besar. Bukan hanya penerima yang melihat kasih karunia Tuhan, tetapi pada saat yang sama pemberi juga mengalami kasih karunia Tuhan. Di bawah kasih karunia Tuhan, kemiskinan dan kesengsaraan tidak menjadi halangan untuk memiliki kerelaan memberi, karena Tuhan akan membuat berkelimpahan dalam segala hal untuk orang yang percaya bersandar kepada Dia, sehingga bisa banyak memberi. Menabur sedikit, akan menuai sedikit; menabur banyak, akan menuai banyak dalam hal memberi sumbangan pelayan kasih, pada akhirnya lebih banyak orang mengucapkan syukur kepada Allah, dan orang-orang yang memberi mendapatkan lebih banyak berkat dari Allah agar dapat melakukan lebih banyak kebajikan. Ayat 8:13 berbicara tentang prinsip keseimbangan (equality), di sini berbicara tentang kelimpahan (affluent), semua sangat berbeda dengan apa yang dibicarakan dalam ilmu ekonomi. Ekonomi berbicara keseimbangan dalam kekurangan; Kekristenan berbicara tindakan saling melengkapi di tengah-tengah kelimpahan yang bukan hanya dari perspektif material dan praktis. Orang Kristen telah melihat kasih karunia Allah dan meresponsnya.

Renungkan:
Dalam hal donasi, sebenarnya Tuhan banyak menuai apa? Apa yang akan orang tuai? Apakah saya memiliki iman dalam kasih karunia Tuhan dan percaya bahwa orang Kristen berkelimpahan dalam segala hal dan dapat memberi banyak? Bagaimana orang bisa sukarela memberi?


Renungan pemahaman Surat 2 Korintus

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema 2 Korintus ditulis oleh Rev. Dr. Lam Lee Man-yiu (李文耀) yang dipublikasi pada bulan September 2021 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Amsal 11:16-31

Menabur menuai
Oleh Rev. Dr. Joshua Mak
Alliance Bible Seminary H.K.

(Amsal 11:16-31 [ITB])
16 Perempuan yang baik hati beroleh hormat;
………sedangkan seorang penindas beroleh kekayaan.
17 Orang yang murah hati berbuat baik kepada diri sendiri,
………tetapi orang yang kejam menyiksa badannya sendiri.
18 Orang fasik membuat laba yang sia-sia,
………tetapi siapa menabur kebenaran, mendapat pahala yang tetap.
19 Siapa berpegang pada kebenaran yang sejati, menuju hidup,
………tetapi siapa mengejar kejahatan, menuju kematian.
20 Orang yang serong hatinya adalah kekejian bagi TUHAN,
………tetapi orang yang tak bercela, jalannya dikenan-Nya.
21 Sungguh, orang jahat tidak akan luput dari hukuman,
………tetapi keturunan orang benar akan diselamatkan.
22 Seperti anting-anting emas di jungur babi, demikianlah perempuan cantik yang tidak susila.
23 Keinginan orang benar mendatangkan bahagia semata-mata,
………harapan orang fasik mendatangkan murka.
24 Ada yang menyebar harta, tetapi bertambah kaya,
………ada yang menghemat secara luar biasa, namun selalu berkekurangan.
25 Siapa banyak memberi berkat, diberi kelimpahan,
………siapa memberi minum, ia sendiri akan diberi minum.
26 Siapa menahan gandum, ia dikutuki orang,
………tetapi berkat turun di atas kepala orang yang menjual gandum.
27 Siapa mengejar kebaikan, berusaha untuk dikenan orang,
………tetapi siapa mengejar kejahatan akan ditimpa kejahatan.
28 Siapa mempercayakan diri kepada kekayaannya akan jatuh;
………tetapi orang benar akan tumbuh seperti daun muda.
29 Siapa yang mengacaukan rumah tangganya akan menangkap angin;
………orang bodoh akan menjadi budak orang bijak.
30 Hasil orang benar adalah pohon kehidupan, dan siapa bijak, mengambil hati orang.
31 Kalau orang benar menerima balasan di atas bumi,
………lebih-lebih orang fasik dan orang berdosa!

Dalam perikop 11:16-31, orang bijak dengan jelas mengingatkan kepada pembaca tentang sebuah tema penting yakni hubungan antara tindakan dan konsekuensi (Action-Consequences), percaya bahwa kontras yang paling utama hidup … kematian adalah pusat perikop ini. Dalam ayat 16-21 membicarakan tentang pekerjaan dan upah, upah dan pahala (ayat 18), dan hidup dan mati (ayat 19), menunjukkan konsekuensi yang harus ditanggung dari setiap tindakan, setiap orang harus menuai apa yang ditaburnya. Bagi orang benar, perbuatan benar mereka mendatangkan kepuasan hati, kehidupan, dan keamanan; sedangkan orang fasik mengalami kekecewaan, kematian, dan hukuman. Orang bijak meminta pembaca untuk memikirkan logika yang menarik: murah hati dan kejam (ayat 17), hal ini dilakukan kepada orang lain, dapat membawa manfaat bagi orang lain, atau akan membawa dampak mencelakakan. Namun, orang bijak menunjukkan bahwa pada akhirnya, orang yang murah hati berbuat baik kepada diri sendiri, tetapi orang yang kejam menyiksa badannya sendiri. Karakter, motif, tindakan seseorang, konsekuensi yang diterimanya, saling berkaitan tidak dapat dipisahkan.

Dalam ayat 23-27, orang bijak terus mengajukan logika lain, yaitu subjek kemurahan hati. Dalam ayat 24, ada yang menyebar harta, tetapi bertambah kaya, ada yang menghemat secara luar biasa, namun selalu berkekurangan, pemikirannya sama dengan di ayat 17. Jika seseorang berbagi uang dengan orang lain, memang kekayaannya pasti berkurang; dan mereka yang tahu cara berhemat, kekayaan seharusnya menumpuk. Tetapi mengapa orang bijak sampai pada kesimpulan yang berlawanan? Pemikiran paradoks ini karena ekonomi Allah berbeda dengan ekonomi kita. Ayat 25 menggunakan kalimat paralel sinonim: siapa banyak memberi berkat, diberi kelimpahan, siapa memberi minum, ia sendiri akan diberi minum, mereka yang memperlakukan orang lain dengan murah hati memberi manfaat kepada orang lain, membuat orang lain mendapat kelimpahan / disegarkan (refresh, NIV); pada saat yang sama, bahkan diri sendiri akan mendapat kelimpahan / disegarkan (will be refreshed, NIV). Ternyata, perbuatan baik yang benar, akan diingat Allah, seperti disebutkan 19:17 siapa menaruh belas kasihan kepada orang yang lemah, memiutangi TUHAN, yang akan membalas perbuatannya itu. Perjanjian Baru juga menuliskan pengajaran serupa: Orang yang menabur sedikit, akan menuai sedikit juga, dan orang yang menabur banyak, akan menuai banyak juga. (2 Korintus 9:6). Tindakan dengan motif tulus ingin membawakan kesejahteraan bagi orang lain, akan diberkati.

Orang bijak mengakhiri pasal ini dengan sebuah pertanyaan: Kalau orang benar menerima balasan di atas bumi, lebih-lebih orang fasik dan orang berdosa? (ayat 31). Para ahli menunjukkan bahwa ayat ini mengandung beberapa karakteristik. Pertama-tama, kata-kata bijak jarang diekspresikan dalam bentuk pertanyaan, ini sengaja untuk membuat pembaca memikirkan pertanyaan ini. Selain itu, penggunaan kata lebih-lebih / apalagi (15:11; 17:7; 19:7, 10; 21:27) tidak hanya memunculkan makna perbandingan, tetapi juga menunjukkan keseriusannya. Akhirnya, para peneliti menunjukkan bahwa pembalasan setimpal (retribution) dapat terjadi selama hidup, yaitu tidak ada yang melakukan kejahatan tanpa dihukum. Dari Perjanjian Lama, kita melihat bahwa Musa dan Daud tidak terkecuali, konsep ini telah berlanjut sampai masa kini dan bahkan generasi masa depan. Seperti yang dikatakan Petrus: jika orang benar hampir-hampir tidak diselamatkan, apakah yang akan terjadi dengan orang fasik dan orang berdosa? Karena itu baiklah juga mereka yang harus menderita karena kehendak Allah, menyerahkan jiwanya, dengan selalu berbuat baik, kepada Pencipta yang setia (1 Petrus 4:18-19).

Renungkan:
(1) Marilah merenungkan: … Setiap orang yang mempunyai, kepadanya akan diberi, tetapi siapa yang tidak mempunyai, dari padanya akan diambil, juga apa yang ada padanya (Lukas 19:26). Apa pengertian yang ditunjukkan kepada saya?
(2) Jika Roh Kudus menyentuh hatiku: Jangan sesat! Allah tidak membiarkan diri-Nya dipermainkan. Karena apa yang ditabur orang, itu juga yang akan dituainya (Gal. 6:7), berdoa agar Tuhan membantu saya untuk merenungkan hidup dengan serius dan iman percaya yang sungguh-sungguh.


Renungan pemahaman Kitab Amsal

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Amsal 10-22 ditulis oleh Rev. Dr. Joshua Mak (麥耀光 Mài Yào Guāng) dipublikasi pada bulan Juni 2021 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Iklan yang ada bukan milik blog ini, tetapi milik WordPress penyedia fasilitas blog tanpa biaya.

Kej. 29:25-28

「Menikah dan Membohongi Pernikahan」

Mendapatkan ganjaran terkejar dosa yang belum dibereskan.

(Kej. 29:25-28 [ITB])
25Tetapi pada waktu pagi tampaklah bahwa itu Lea! Lalu berkatalah Yakub kepada Laban: “Apakah yang kauperbuat terhadap aku ini? Bukankah untuk mendapat Rahel aku bekerja padamu? Mengapa engkau menipu aku?”
26Jawab Laban: “Tidak biasa orang berbuat demikian di tempat kami ini, mengawinkan adiknya lebih dahulu dari pada kakaknya.
27Genapilah dahulu tujuh hari perkawinanmu dengan anakku ini; kemudian anakku yang lainpun akan diberikan kepadamu sebagai upah, asal engkau bekerja pula padaku tujuh tahun lagi.”
28Maka Yakub berbuat demikian; ia menggenapi ketujuh hari perkawinannya dengan Lea, kemudian Laban memberikan kepadanya Rahel, anaknya itu, menjadi isterinya.

Menikah adalah peristiwa bahagia, tidak diduga-duga malam pengantin Yakub justru merupakan dimulainya serangkaian mimpi buruk.

Kisah dimulai dengan Yakub di tepi sumur bertemu Rahel yang kemudian hari merupakan orang yang paling ia cintai seumur hidup, semuanya terlihat demikian indah dan baik. Ini membuat orang teringat akan Abraham mengutus hamba mencarikan istri bagi anaknya (Kej. 24), sumur air adalah tanda Allah memberkati (lihat Kej. 26). Dan Laban dengan meriah menyambut Yakub, menyebut ia adalah 「sedarah sedaging dengan aku」 (Kej. 29:14) (‘aṣmî ûbǝśārî, secara harafiah adalah 「tulang milik saya, daging milik saya」), juga membuat orang teringat akan Adam awal bertemu Hawa, menyebut dia adalah 「tulang dari tulangku dan daging dari dagingku」 (Kej. 2:23), menyatakan sukacita pernikahan.

Yakub berinisiatif mengajukan ide berkata kepada Laban: 「Aku mau bekerja padamu tujuh tahun lamanya untuk mendapat Rahel, anakmu yang lebih muda itu」(Kej. 29:14), Laban juga dengan gembira setuju, maka Yakub demi Rahel bekerja 7 tahun. Karena dirinya mencintai Rahel, maka ia memandang 7 tahun ini seperti beberapa hari. Kemudian urusan justru terjadi perubahan di tengah pernikahan. Yakub penuh sukacita menikah, menikmati malam pengantin. Tidak diduga-duga tibalah di pagi hari baru menemukan yang dinikahi bukanlah Rahel yang ia cintai, tetapi adalah Lea.

Perikop ini ada tiga buah kata yang saling terhubung dengan kisah dalam Kej. 27.

  1. Ayat 25, Yakub menuntut Laban: 「Mengapa engkau menipu aku? (rimmîtānî)」. Kata kerja 「menipu」 yang diucapkan Yakub memiliki akar kata yang sama dengan kata benda 「tipu daya」 (mirmâ) Yakub dalam Kej. 27:35 「Jawab ayahnya: “Adikmu telah datang dengan tipu daya dan telah merampas berkat yang untukmu itu”」.
  2. Penjelasan Laban (ayat 26), memakai kata 「anak sulung perempuan」 (bǝkîrâ) untuk menyebut anak perempuan yang paling besar, membuat orang teringat akan topik Kej. 27 「anak sulung」 (bǝkôr) dan 「berkat」 (bǝrākâ). Sebenarnya dalam bahasa Ibrani terdapat cara penyampaian yang lain untuk 「anak sulung perempuan」, yaitu 「anak perempuan yang tertua」 (bat haggǝdôlâ), misal dalam 1 Sam. 18:17, Merab anak perempuan yang tertua dari Saul.
  3. Topik bekerja. Demi Rahel maka Yakub rela bekerja (‘ābad / melayani) kepada Laban selama 7 tahun, dan berkat yang didapatkan Yakub dari membohongi ayah serta kakaknya, di antaranya juga termasuk saudaranya harus takluk (‘ābad) kepada dia (Kej. 27:29) (Lihat juga perkataan Ishak kepada Esau 「… Engkau akan hidup dari pedangmu dan engkau akan menjadi hamba (‘ābad / melayani) adikmu…」 Kej. 27:40).

Pencatatan kisah sengaja menonjolkan Yakub yang licik bertemu lawan yang sama hebatnya, dibohongi oleh Laban. Laban tentu saja tidak menyenangkan. Dan Lea bekerja sama dengan ayahnya, membohongi Yakub, walaupun mendapatkan pernikahan, justru tidak mendapatkan hati Yakub, malah membuat kakak adik perempuan menjadi musuh. Coba pikirkan saat Yakub dan Lea menikmati malam pernikahan, Rahel justru sedang menangis di tempat gelap yang tidak jauh. Yakub meninggalkan satu keluarga yang membohongi, masuk ke dalam satu keluarga yang lain yang membohongi.

Renungkan: Anda percaya 「apa yang ditabur orang, itu juga yang akan dituainya」 (Gal. 6:7)?  Yakub menikahi anak perempuan Laban sebagai istri, di satu aspek adalah menaati perintah ayah, langkah pertama dari realisasi berkat dari Allah; tetapi di aspek yang lain, juga membuat ia merasakan pahitnya rasa ayah serta saudara laki dibohongi. Seorang yang mencari berkat Allah, jika lupa atas dosa dirinya sendiri yang belum dibereskan, akan dengan cepat terkejar oleh dosa itu.

Renungan ini merupakan terjemahan versi bahasa Mandarin 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Kejadian 27-50 ditulis oleh 賴建國 (Lài Jiàn Guó) yang dipublikasi pada bulan Januari 2018 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).