Tag Archives: Perjanjian Daud

Yehezkiel 21:8-17

Pedang yang diasah dan digosok
Oleh Dr. Lawrence Ko Ming-him
Alliance Bible Seminary H.K.

(Yeh. 21:8-17 [ITB])
8 Kemudian datanglah firman TUHAN kepadaku: 9 Hai anak manusia, bernubuatlah dan katakan: Beginilah firman TUHAN: Pedang! Pedang! Yang sudah diasah dan juga digosok! 10 Diasah untuk menumpahkan darah dan digosok supaya mengkilap seperti petir.
Apakah kita akan bersukacita? Tongkat anakku menghina segala macam kayu.
11 Pedang itu diberikan supaya digosok, supaya sedia dipergunakan; pedang itu diasah dan digosok, supaya diberikan ke tangan si pembunuh.
12 Berserulah dan merataplah, hai anak manusia! Sebab pedang itu ditujukan melawan umat-Ku, ditujukan melawan semua pemimpin Israel; mereka dan umat-Ku sama-sama dibiarkan dimakan pedang. Oleh sebab itu tepuklah pinggangmu sebagai tanda perkabungan. 13 Sebab percobaan datang dan tidak suatupun yang dapat tahan, demikianlah firman Tuhan ALLAH.
14 Dan engkau anak manusia, bernubuatlah dan tepuklah tanganmu, biarlah pedang itu menjadi dua kali lipat, tiga kali lipat. Itu pedang pembunuh, pedang untuk pembunuhan besar-besaran, yang berkeliling menghabiskan mereka. 15 Supaya hati mereka hancur dan yang jatuh berebahan bertambah-tambah di tiap pintu gerbang mereka, Aku memerintahkan penumpahan darah dengan pedang itu.
Aduh, pedang itu dibuat menyamai petir dan digosok untuk menumpahkan darah. 16 Pancung yang di kanan dan di kiri, ke mana saja matamu menetak.
17 Dan Aku juga akan bertepuk tangan dan hati-Ku yang panas menjadi tenang kembali. Aku, TUHAN, yang mengatakannya.

Yehezkiel 21:8-17 melanjutkan tema metafora pedang, membawa keluar sisi lain dari pedang, yaitu diasah (ayat 8, 9, 10) dan digosok, mengkilap seperti petir (ayat 9, 10, 15), kata-kata ini semuanya menekankan kecepatan penghakiman. Ayat-ayat ini menggunakan dua sifat ilahi dalam bentuk pasif (divine passive) untuk menggambarkan pedang ini: diasah (hûḥaddâ) dan digosok (mərûṭâ) (ayat 9), bahwa Allah sendiri yang mengasah dan menggosok itu pedang, diasah (sharpen) untuk membunuh, dan digosok (polished) adalah membuat pedang ini cepat seperti kilat, menunjukkan bahwa penghakiman Allah terhadap Yerusalem adalah cepat dan keras.

Ayat 10 menyatakan bahwa Tongkat anakku menghina segala macam kayu (atau itu mencemooh tongkat anakku, seperti setiap pohon / it scorns the rod of my son, as every tree KJV), yang mengingatkan kita akan janji Allah kepada rumah Daud: Aku akan menjadi Bapa baginya dan ia akan menjadi anak-Ku. Apabila ia melakukan kesalahan, Aku akan menegur dan memukulnya dengan sebuah tongkat dan pukulan-pukulan oleh manusia (2 Sam. 7:14). Kata anak-Ku dan tongkat persis sama dengan kata tongkat anakku di ayat 10. Ini menunjukkan bahwa Allah telah sepenuhnya menolak perjanjian Daud karena dosa Yerusalem, yang berarti bahwa Yerusalem tidak dapat lagi memiliki keturunan Daud sebagai raja, dan dinasti Daud secara resmi akan binasa.

Ayat 14-16 secara rinci menjelaskan ke mana pedang pergi, menggunakan kata-kata seperti dua kali lipat, tiga kali lipat atau dilipatgandakan sebanyak tiga kali / the sword be doubled the third time (KJV), berkeliling, menumpahkan darah, dll., menunjukkan bahwa pedang akan membawa ketakutan dan kejatuhan, dan arahnya pancung yang di kanan dan di kiri (ayat 16), dua ekstrem kanan dan kiri digunakan untuk menggambarkan totalitas penghakiman ini (retorik merism: kombinasi sepasang kata kontras untuk mengungkapkan totalitas atau kelengkapan). Karena itu, pedang ini cepat, keras, dan menyeluruh. Dalam menghadapi serangan yang begitu cepat dan keras, ayat Alkitab menggambarkan Allah bertepuk tangan dan menjelaskan bahwa amarah-Nya akan segera reda (ayat 17). Murka Allah bukanlah hal yang emosional, tetapi sikap dasar terhadap dosa, dan sekarang ayat Alkitab menggambarkan murka Allah telah mencapai titik puncak yang sangat hebat, dan benar-benar membinasakan secara totalitas dengan pedang. Sikap Allah terhadap dosa, dan juga menunjukkan bahwa setiap dosa memancing murka Allah, pendosa harus mendapatkan pembalasan untuk meredakan murka Allah terhadap dosa ini. Namun, dalam Perjanjian Baru, kematian Yesus Kristus di kayu salib menghilangkan murka Allah.

Renungkan:
Ketika kita berdosa, kita berpikir bahwa penghakiman Allah akan ditunda dan bahwa semua pembalasan mungkin tidak akan datang. Namun, ayat Alkitab menunjukkan bahwa pedang Allah telah diasah dan digosok, dan penghakiman Allah lebih cepat dan lebih keras dari yang kita duga. Ketika kita hidup dalam kesenangan dosa, Alkitab memberi tahu kita bahwa penghakiman dari Allah akan datang dengan cepat, jadi kita harus bertobat sesegera mungkin.


Renungan pemahaman Kitab Yehezkiel

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Yehezkiel 21-28 ditulis oleh Dr. Lawrence Ko Ming-him (高銘謙) dipublikasikan pada bulan Januari 2022 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Yesaya 55:1-5

「Kasih Setia yang Teguh」
Oleh 高銘謙 (Gāo Míng Qiān)

Alliance Bible Seminary H.K.

(Yes. 55:1-5 [ITB])
1 Ayo, hai semua orang yang haus, marilah dan minumlah air, dan hai orang yang tidak mempunyai uang, marilah! Terimalah gandum tanpa uang pembeli dan makanlah, juga anggur dan susu tanpa bayaran! 2 Mengapakah kamu belanjakan uang untuk sesuatu yang bukan roti, dan upah jerih payahmu untuk sesuatu yang tidak mengenyangkan? Dengarkanlah Aku maka kamu akan memakan yang baik dan kamu akan menikmati sajian yang paling lezat. 3 Sendengkanlah telingamu dan datanglah kepada-Ku; dengarkanlah, maka kamu akan hidup! Aku hendak mengikat perjanjian abadi dengan kamu, menurut kasih setia yang teguh yang Kujanjikan kepada Daud.
4 Sesungguhnya, Aku telah menetapkan dia menjadi saksi bagi bangsa-bangsa, menjadi seorang raja dan pemerintah bagi suku-suku bangsa; 5 sesungguhnya, engkau akan memanggil bangsa yang tidak kaukenal, dan bangsa yang tidak mengenal engkau akan berlari kepadamu, oleh karena TUHAN, Allahmu, dan karena Yang Mahakudus, Allah Israel, yang mengagungkan engkau.

Kasih setia TUHAN yang dapat diandalkan terwujud dalam kemurahan hati TUHAN terhadap umat-Nya dan bangsa-bangsa. Ayat 1-2 menggunakan gambaran hikmat (wanita) yang mengundang orang lain untuk makan, gambaran ini dicatat dalam Amsal: “Siapa yang tak berpengalaman, singgahlah ke mari”; dan kepada yang tidak berakal budi katanya: “Marilah, makanlah rotiku, dan minumlah anggur yang telah kucampur; buanglah kebodohan, maka kamu akan hidup, dan ikutilah jalan pengertian” (Ams. 9:4-6). Seperti halnya hikmat berseru memanggil semua orang tak berpengalaman (bodoh) dan tidak berakal budi, sekarang Yesaya Kedua juga mengimbau semua orang (termasuk orang non Yahudi) yang haus dan tidak memiliki uang (ayat 1) untuk datang dan memperoleh anggur dan susu secara cuma-cuma. Penekanannya adalah pada kasih karunia cuma-cuma, tidak dibutuhkan jasa dan bayaran apa pun, cukup hanya membuka kedua tangan saja bisa secara cuma-cuma mendapatkan pemeliharaan dan kasih kemurahan.

Ayat 2 menunjukkan bahwa orang-orang tidak perlu lagi menghabiskan uang untuk sesuatu yang bukan makanan dan sesuatu yang tidak mengenyangkan, ini agak sulit untuk dipahami bagi orang yang berpikir bahwa apa yang dibeli dengan uang adalah yang paling memiliki nilai dan paling bisa membuat orang kenyang. Tetapi penjelasan yang baik adalah bahwa jikalaupun orang menghabiskan uang untuk membeli makanan, mereka hanya bisa kenyang untuk waktu yang sementara, namun juga tidak akan bisa kenyang untuk jangka panjang, ini mengacu pada kebutuhan fisik. Satu-satunya yang bisa membuat orang kenyang adalah dengarkanlah Aku (perhatikan kata-kata-Ku), maka akan memakan yang baik dan akan menikmati sajian yang paling lezat, dan akhirnya membawa sukacita dalam hati, ini mengacu pada kepuasan jiwa rohani. Karena itu, makanan yang material tidak dapat membuat orang puas, hanya mematuhi Firman Tuhan saja barulah bisa. Tidak mengherankan, kata-kata kitab Ulangan bahwa … manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi manusia hidup dari segala yang diucapkan TUHAN (Ul. 8:3).

Ayat 3 menunjukkan bahwa mereka yang mendengarkan firman TUHAN dapat membuat perjanjian kekal dengan Allah, dasar dari perjanjian kekal ini adalah kasih yang dapat dipercaya yang dijanjikan TUHAN kepada Daud. Isi dari perjanjian Daud adalah bahwa keturunan Daud akan tiada berkesudahan duduk di atas takhta Daud, walau jika keturunan Daud melanggar perintah Allah dan Ia menggunakan tongkat-Nya untuk menghukumnya, tetapi kasih Allah tidak akan pernah meninggalkan keturunan Daud (2 Sam. 7). Dan kasih kemurahan yang demikian ini menunjuk kepada kesetiaan Allah terhadap perjanjian, Ia tidak akan pernah menyerah serta meninggalkan keturunan Daud dan umat-Nya. Selanjutnya, ayat 4-5 memperlihatkan isi perjanjian Daud, menjadikan keturunan Daud sebagai kesaksian bagi semua bangsa-bangsa, sehingga bangsa-bangsa yang tidak mengenalnya akan dikumpulkan dipanggil demi umat Israel. Perjanjian Daud mencakup adanya kesaksian umat Allah di antara bangsa-bangsa, membuat bangsa-bangsa melihat kemuliaan Allah melalui diri umat Allah itu.

Renungkan:

Kemuliaan Allah bukan dalam kekayaan dan status, tetapi dalam menaati perintah-perintah TUHAN, sehingga dapat benar-benar memuaskan ladang hati orang, pada saat yang sama dengan cuma-cuma menerima perjamuan dan anugerah yang datang dari Allah. Di satu sisi, perjanjian Daud tidak bersyarat, Allah tidak akan pernah menyerah meninggalkan umat Israel, dan mereka tidak perlu membayar emas atau perak untuk memperoleh makanan. Di sisi lain, perjanjian Daud adalah bersyarat, yaitu ketaatan, jika tidak maka mereka akan menerima pukulan displin. Dalam kesejajaran antara tanpa syarat dan bersyarat ini, umat Allah mengetahui anugerah cuma-cuma dan jalan menuju pengudusan, keduanya harus diterima sepenuhnya untuk dapat melihat kasih kemurahan TUHAN dan memahami bahwa kasih setia ini adalah yang paling dapat diandalkan.


Renungan pemahaman Kitab Yesaya (klik untuk membuka)

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain (klik untuk membuka)


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Yesaya Pasal 40-55 ditulis oleh 高銘謙 (Gāo Míng Qiān) yang dipublikasi pada bulan Desember 2019, merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Iklan yang ada bukan milik blog ini, tetapi milik WordPress penyedia fasilitas blog tanpa biaya.

Kejadian 22:16-18

「Mengadakan perjanjian dan menyelesaikan」

Oleh Lài Jiàn Guó (賴建國)
Alliance Bible Seminary H.K.

(Kej. 22:16-18 [ITB])
16 kata-Nya: Aku bersumpah demi diri-Ku sendiri, demikianlah firman TUHAN: Karena engkau telah berbuat demikian, dan engkau tidak segan-segan untuk menyerahkan anakmu yang tunggal kepada-Ku, 17 maka Aku akan memberkati engkau berlimpah-limpah dan membuat keturunanmu sangat banyak seperti bintang di langit dan seperti pasir di tepi laut, dan keturunanmu itu akan menduduki kota-kota musuhnya. 18 Oleh keturunanmulah semua bangsa di bumi akan mendapat berkat, karena engkau mendengarkan firman-Ku.

Beberapa peneliti menyebutkan bahwa Perjanjian Abraham dan Perjanjian Daud sebagai Perjanjian yang dijanjikan, menekankan janji dan jaminan sepihak dari Allah. Perjanjian Sinai adalah perjanjian perilaku, yang menekankan kesetiaan dan kepatuhan manusia. Tetapi setelah mempelajari Alkitab dengan seksama, kita menemukan bahwa Allah membuat perjanjian dengan Abraham, setidaknya butuh empat puluh tahun dari saat Abraham dipanggil untuk pergi ke tanah perjanjian sampai dia mematuhi perintah untuk mempersembahkan Ishak dan mencapai puncaknya. Ini dapat dibagi menjadi empat tahap berikut, setiap tahap memiliki progres baru, serta memiliki kondisi dan janji baru. Pemilihan Allah dan ketaatan manusia berhubungan satu sama lain serta saling melengkapi. Ringkasannya adalah sebagai berikut:

1. Pendahuluan perjanjian: panggilan iman dan janji dari Allah (Kejadian 12:1-3)
Kondisi: meninggalkan negeri dan dari sanak saudara dan dari rumah bapanya
Janji: bangsa yang besar, nama besar, berkat besar

2. Realisasi perjanjian: dibenarkan karena iman dan persembahan korban (Kejadian 15)
Syarat: selalu percaya pada firman Allah (Kejadian 13 dan Kejadian 14). Dibenarkan karena iman, mempersembahkan korban seperti yang diperintahkan.
Janji: memiliki keturunan yang banyak seperti bintang di langit, dan kembali setelah 400 tahun menumpang tinggal di tempat bangsa asing.

3. Pembaruan perjanjian: iman yang lemah dan dikuatkan (Kejadian 16 dan Kejadian 17)
Syarat: hidup dengan tidak bercela, disunat
Janji: perubahan nama (mewakili perubahan kepribadian, berpadan dengan anugerah Allah), janji Raja (nubuat Mesias)

4. Penyelesaian perjanjian: puncak iman dan hadiah (Kejadian 22) untuk menunjukkan betapa berharganya iman, kesetiaan dan kebaikan
Kondisi: mempersembahkan putra tunggal, yang terkasih, Ishak
Janji: tanah, keturunan, raja

Renungkan:
1. Allah membuat perjanjian dengan orang tidak satu kali sekaligus selesai, tetapi menurut tingkat pertumbuhan iman orang, dibuat setelah banyak pengujian. TUHAN telah berkali-kali membentuk Abraham dengan memanggil dan memilih, memberkati dan menjaga, berjanji dan memperbarui perjanjian, akhirnya menjadikannya bapak iman.

2. Allah tidak hanya membuat perjanjian dengan Abraham, tetapi kemudian mengambil inisiatif untuk memperbarui perjanjian ini dengan keturunannya Ishak dan Yakub, mengulangi janji yang ada dalam perjanjian, dan menjamin untuk menyertai mereka (Kej. 26:3-4, 28:13-14, 35:11-12). Ishak dan Yakub juga memberkati putra mereka dengan perjanjian Abraham (Kej. 28:3-4, pasal 49). Perjanjian Abraham menjadi dasar Perjanjian Sinai (Kel. 2:24; Maz. 105:7-11, 42). Bahkan ketika Perjanjian Sinai sedang dalam krisis besar, hamba Allah tetap memakai Perjanjian Abraham untuk memohon kepada Allah (Kel. 32:13).


Renungan pemahaman Kitab Kejadian 12-26

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Kejadian 12-26 ditulis oleh Lài Jiàn Guó (賴建國) dipublikasi pada bulan Maret 2017 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.