「Tuhan adalah Tuan, jangan rendahkan Tuhan jadi hamba」
oleh 陳偉迦 (Chén Wěi Jiā) Alliance Bible Seminary H.K.
(Luk. 17:7-10 [ITB])
7 「Siapa di antara kamu yang mempunyai seorang hamba yang membajak atau menggembalakan ternak baginya, akan berkata kepada hamba itu, setelah ia pulang dari ladang: 『Mari segera makan!』 8 Bukankah sebaliknya ia akan berkata kepada hamba itu: 『Sediakanlah makananku. Ikatlah pinggangmu dan layanilah aku sampai selesai aku makan dan minum. Dan sesudah itu engkau boleh makan dan minum.』 9 Adakah ia berterima kasih kepada hamba itu, karena hamba itu telah melakukan apa yang ditugaskan kepadanya? 10 Demikian jugalah kamu. Apabila kamu telah melakukan segala sesuatu yang ditugaskan kepadamu, hendaklah kamu berkata: 『Kami adalah hamba-hamba yang tidak berguna; kami hanya melakukan apa yang kami harus lakukan.』」
Dalam renungan kemarin, kita telah secara garis besar melacak hubungan antara dua perumpamaan kecil (Luk. 17:1-6) dengan perumpamaan-perumpamaan dalam Lukas 15 hingga 16, juga merangkum serangkaian perumpamaan-perumpamaan yang sebelumnya.
Kita perlu perhatikan bahwa dalam deskripsi seluruh Narasi Perjalanan, di bagian tengah ini adalah bagian yang paling banyak berisi perumpamaan. Dapat dibayangkan bahwa meskipun kata-kata kebenaran dipaparkan dengan jelas, orang tidak mendengarkannya. Para pemimpin agama Yahudi hanya terus mempertahankan apa yang diajarkan dan dipercaya tradisi mereka. Yesus melalui perumpamaan ini memberikan argumen secara halus, Yesus ingin pendengar merenungkan apakah yang ia percaya sebelumnya itu benar sempurna tidak ada lubang. Apakah tidak perlu lagi memperbarui dan menambahnya? Atau sudah menutup hati untuk mengejar kebenaran? Peran perumpamaan adalah menyediakan ruang imajiner bagi orang-orang untuk memikirkan kembali pemahaman yang lebih dalam dan lebih luas tentang kebenaran agar kehidupan kita dapat berubah. Apakah hari ini kita masih haus akan kebenaran? Berharap bahwa pembahasan seri perumpamaan dalam sepuluh hari terakhir akan menyalakan kembali antusiasme kita terhadap kata-kata Tuhan.
Bagaimana menerima saudara-saudara yang menurut kita tidak layak diterima? Orang-orang percaya abad pertama hidup dalam budaya pembenaran diri para pemimpin agama Yahudi, mereka perlu mengikuti teladan Yesus, yang juga berarti harus memperjuangkan iman Injil melawan ideologi yang melekat pada masa itu. Dapat dibayangkan bahwa itu benar-benar tidak sederhana.
Oleh karena itu, sampai pada perumpamaan kecil yang terakhir adalah perumpamaan 「hamba yang tidak berguna」 (lih. Luk. 17:10), kata tidak berguna dalam teks aslinya ἀχρεῖοί achreioi dapat diterjemahkan sebagai 「tidak layak」). Pertama-tama, kita akan memiliki perasaan, mengapa sang tuan meminta hamba untuk bekerja terus menerus? Hamba itu bukankah sudah seharian bekerja di ladang, mengapa begitu sampai di rumah tuannya dan masih harus terus melayani tuannya? Tampaknya sang tuan tidak tahu memahami perasaan orang, atau bahkan sudah keterlaluan.
Jika kita melihatnya dari sudut pandang kemarin, perasaan curiga kita ini akan segera hilang. Faktanya, fokus dari perumpamaan ini adalah bahwa tanpa instruksi dan arahan tuannya, sang hamba tidak dapat melakukan apa yang ia inginkan sendiri. Jika tidak, maka hamba ini adalah orang yang melayani dua tuan, dan sang tuan ini tidak mendapatkan kehormatan serta tempat yang layak di pusat hati sang hamba.
Titik berat ini hendak ditujukan kepada para pemimpin agama Yahudi. Mereka seharusnya menjaga ketat hukum Taurat adalah bagi Tuhan, agar bangsa Israel sebagai penumpang di antara bangsa-bangsa asing dapat menggunakannya sebagai tanda pengenal serta pengakuan atas status dan identitas (identity marker). Namun, ketika mereka berpikir bahwa mereka bisa pulang dan beristirahat, hati mereka bangga atas tindakan perbuatan mereka sendiri ─ mereka lupa status diri sebagai hamba, atau telah melayani tuan lain.
Yesus sebagai putra Tuan, Sang Firman datang ke dunia menjelma sebagai manusia, para hamba bukannya mengikat pinggang dan melayani Dia (lih. Luk. 17:8), malah mereka membunuh Dia. Apakah ini biasa dan masuk akal?
Ataukah, ketika para pemimpin yang bersedia bertobat melihat tindakan Tuhan atas orang-orang yang ditinggalkan dan terabaikan semuanya mendapat pembebasan, yakni para pemungut cukai, orang sakit, kerasukan setan, dan yang berdosa, bukankah para pemimpin ini perlu bekerja lagi yakni belajar lagi (lih. Luk. 17:8 pekerjaan mempersiapkan makanan bagi tuannya)? Patut dengan setia mengikuti instruksi dari sang tuan? Dapat dilihat apakah Sang Tuan masih perlu berterima kasih kepada mereka? (lih. Luk. 17:9)
Renungkan:
『Kami adalah hamba-hamba yang tidak berguna; kami hanya melakukan apa yang kami harus lakukan.』 Pernyataan ini menunjukkan bahwa identitas kami adalah hanya untuk menyaksikan tindakan dan kehendak hati Tuan. Perkataan ini menjelaskan bahwa apa yang kita lakukan hanyalah bagian tanggung jawab kita sendiri, dan tidak melakukan apa pun untuk merampok kemuliaan Tuan.
Hanya dengan demikian ini, kita akan setia pada satu Tuan. Tidak ada lagi yang bisa menggantikan Tuan kita. Dengan kegigihan ini, kita barulah bisa tahu bagaimana bertobat dan berbalik, menerima mereka yang diterima Tuan, bukan saja tidak akan marah, tetapi juga akan bersukacita bersama Tuan.
Dalam perjalanan mengikuti Tuhan, marilah kita berusaha untuk tidak berpuas diri tentang hasil pelayanan, seolah-olah Tuan kita tidak berpartisipasi di dalamnya. Hanya pelayanan yang meninggikan Kristus yang akan berkenan di dalam hati Tuhan.
Renungan pemahaman Injil Lukas (klik untuk membuka)
Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain (klik untuk membuka)
Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Injil Lukas 13 – 18 ditulis oleh 陳偉迦 (Chén Wěi Jiā) yang dipublikasi pada bulan Februari 2019, merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).
Untuk Kalangan Kristen.