Tag Archives: Kitab Keluaran

Keluaran 33:1-6-PraPaskah

「Lepaskanlah semua perhiasan」

Oleh Lawrence Ko (高銘謙)
Alliance Bible Seminary H.K.

(Keluaran 33:1-6 [TB2])
1 Berfirmanlah TUHAN kepada Musa, Berangkatlah dari sini, engkau dan bangsa itu yang telah kaupimpin keluar dari tanah Mesir, ke negeri yang telah Kujanjikan dengan sumpah kepada Abraham, Ishak dan Yakub, demikian: Kepada keturunanmu akan Kuberikan negeri ini. 2 Aku akan mengutus seorang malaikat berjalan di depanmu, yang akan mengenyahkan orang Kanaan, orang Amori, orang Het, orang Feris, orang Hewi dan orang Yebus. 3 Kamu akan masuk ke negeri yang berlimpah-limpah susu dan madu. Namun, Aku tidak akan berjalan di antara kamu, supaya engkau tidak Kubinasakan di jalan, karena engkau bangsa yang tegar tengkuk.
4 Ketika bangsa itu mendengar firman yang keras itu, mereka meratap; tidak seorang pun memakai perhiasan. 5 Berfirmanlah TUHAN kepada Musa: Katakanlah kepada orang Israel: Kamu bangsa yang tegar tengkuk! Seandainya Aku berjalan di antara kamu meskipun sesaat, Aku pasti akan membinasakanmu. Sekarang, lepaskanlah perhiasanmu, dan Aku akan memutuskan apa yang akan Kulakukan terhadapmu.』」 6 Itulah sebabnya orang Israel tidak memakai perhiasan lagi sejak dari gunung Horeb.

Keluaran 32:34 menyebutkan bahwa TUHAN tidak mau lagi pergi menyertai bersama orang Israel. Dia hanya mengutus malaikat-Nya untuk berjalan di depan memimpin jalan umat itu. Pesan ini harus disampaikan kepada Musa untuk dijelaskan kepada orang-orang itu (ayat 2). Juga dijelaskan alasan mengapa TUHAN tidak berkenan pergi bersama mereka, karena mereka adalah orang-orang yang tegar tengkuk dan konsekuensinya Allah akan membinasakan mereka di jalan (Keluaran 32:3). Tidak diragukan lagi, pesan ini merupakan mimpi buruk bagi orang Israel, karena salah satu alasan penting mengapa mereka bersedia meninggalkan Mesir dan memasuki Kanaan adalah karena Allah beserta mereka dengan kehadiran-Nya di padang gurun. Tanpa penyertaan kehadiran Allah di jalan, mereka tidak akan mampu berhasil menyelesaikan perjalanan melalui padang gurun. Selain itu, selain kekurangan air dan makanan di padang gurun, ada juga perampok dan bangsa asing di padang gurun (seperti orang Amalek), tanpa kehadiran Allah, mereka tidak akan mampu memperoleh persediaan makanan dan mengalahkan musuh-musuh. Seperti yang dikatakan von Rad dalam bukunya Holy War in Ancient Israel, kehadiran Allah merupakan salah satu bentuk terpenting dalam perang suci. Penyertaan kehadiran Allah dapat memastikan kemenangan orang Israel dalam perang, serta membuat orang Israel kuat hatinya dan tak kenal takut. Namun, ayat 33:1-3 menunjukkan bahwa Allah tidak lagi menganugerahkan kehadiran-Nya, tetapi hanya mengirim malaikat untuk berjalan di depan orang Israel. Ini adalah berita buruk bagi umat Israel.
Memang benar bahwa orang-orang bersedih hati ketika mendengar kabar buruk itu, dan disebutkan dua kali bahwa orang-orang itu menanggalkan perhiasan mereka (ayat 4 dan 6). Mengapa demikian? Di satu sisi, hal itu terjadi karena Allah memerintahkan mereka untuk melakukannya (ayat 5); tetapi di sisi lain pihak, sebelumnya ketika mereka berencana untuk membuat anak lembu emas, Harun memerintahkan mereka untuk melepaskan anting-anting emas mereka dan menggunakan emas anting-anting tersebut untuk membuat patung anak lembu. Karena anting-anting merupakan bagian dari perhiasan tubuh, jadi perhiasan yang ada di tubuh mereka melambangkan bahan mentah untuk membuat anak lembu emas atau berhala. Sebenarnya, anting-anting emas ini merupakan bagian dari emas, perak, dan pakaian yang mereka minta dari orang Mesir ketika mereka meninggalkan Mesir (Keluaran 12:35). Alasan mereka dapat melakukan ini adalah karena TUHAN telah memberikan orang-orang itu kemurahan hati di mata orang Mesir (Keluaran 12:36). Oleh karena itu, anting-anting emas melambangkan kemurahan hati Allah. Akan tetapi, mereka justru menggunakan perhiasan dari Allah ini untuk membuat anak lembu emas, yang sungguh tidak tahu terima kasih. Karena makna simbolis dari perhiasan mereka telah berubah, mereka menanggalkannya saat mereka meratap untuk mengekspresikan kesedihan mereka. Oleh karena itu Allah memerintahkan mereka untuk menanggalkan perhiasan mereka, agar mereka mengerti bahwa karunia Allah telah mereka injak-injak dengan sia-sia.

Refleksi:
Kasih karunia apakah yang diberikan Allah kepada saya, yang dapat diibaratkan seperti perhiasan-perhiasan yang diterima orang Israel? Apakah saya pernah menyalahgunakan kasih karunia yang diberikan Tuhan kepada saya dengan mengubahnya menjadi unsur-unsur penyembahan berhala? Berkat-berkat ini bisa berupa perhiasan di tubuh, atau bisa juga berupa uang, ketenaran, pakaian, status, kualifikasi akademis, dan sebagainya. Apakah ada yang saya pergunakan dengan cara yang salah sehingga menjadi penyembahan berhala? Berdoa memohon belas kasihan dari Tuhan.


Renungan Pra-Paskah (Er Dao)

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Pra-Paskah Musa di Gunung Sinai ditulis oleh Rev. Dr. Lawrence Ko (高銘謙) yang dipublikasi pada bulan Maret 2025 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Keluaran 32:30-34-PraPaskah

「Penebusan dosa bagi umat」

Oleh Lawrence Ko (高銘謙)
Alliance Bible Seminary H.K.

(Keluaran 32:30-34 [TB2])
30 Keesokan harinya Musa berkata kepada bangsa itu: Kamu telah berbuat dosa besar! Sekarang aku akan naik menghadap TUHAN. Barangkali aku dapat mengadakan pendamaian bagi dosamu itu. 31 Lalu Musa kembali menghadap TUHAN dan berkata, Kumohon Tuhan! Bangsa ini telah berbuat dosa besar dengan membuat ilah dari emas bagi dirinya. 32 Tetapi, sekarang, kiranya Engkau mengampuni dosa mereka. Jika tidak, hapuskanlah kiranya namaku dari kitab yang telah Kautulis. 33 Berfirmanlah TUHAN kepada Musa: Siapa yang berdosa terhadap Aku, namanya akan Kuhapuskan dari kitab-Ku. 34 Pergilah sekarang dan pimpinlah bangsa itu ke tempat yang telah Kuberitahukan kepadamu. Malaikat-Ku akan berjalan di depanmu. Tetapi, pada hari pembalasan-Ku dosa mereka akan Kubalaskan kepada mereka.

Perikop ini menjelaskan Musa mengambil peran sebagai mediator dan penebus, membawakan fokus bagaimana Musa sebagai prafigur atau bayangan dari Yesus Kristus. Perikop ini cocok untuk kita renungkan bersama di masa Prapaskah.

Pertama, Musa menjelaskan bahwa umat Israel telah melakukan dosa yang berat, dan ia berharap untuk menghadap TUHAN guna menebus dosa umat Israel (ayat 30). Penekanan pada kontras antara kamu dan aku dengan jelas menunjukkan bahwa tanggung jawab atas dosa itu ada pada umat Israel, bukan karena diri Musa yang berbuat suatu dosa. Ayat 30 menggunakan kata pendamaian (כפר kaphar), yang dapat diartikan sebagai penahiran atau penebusan dosa. Jika konteks penggunaan kata ini melibatkan murka Allah, penafsirannya adalah penebusan dosa (TB menerjemahkan sebagai pendamaian) Karena peristiwa anak lembu emas memicu murka Allah (Keluaran 32:10), kata dalam ayat 30 seharusnya diterjemahkan sebagai penebusan dosa. Arti dari penebusan dosa adalah bahwa orang lain menggantikan penjahat untuk menerima hukuman, dengan demikian menebus penjahat dari hukuman Allah. Sekarang Musa berharap untuk menebus dosa umat. Bagaimana tepatnya ia berharap untuk menebus dosa umat itu?

Ayat 31-32 mencatat metode penebusan dosa Musa. Pertama, ia menunjukkan bahwa orang-orang telah melakukan dosa serius. Ia tidak mengelak dari tanggung jawab atau menutup-nutupinya, tetapi menyatakannya dengan jujur kepada TUHAN (ayat 31). Kejahatan orang-orang itu adalah bahwa mereka telah membuat bagi diri mereka sendiri sebuah ilah dari emas (אלהי זהב zā·hāḇ ĕ·lō·hê), yang menunjukkan bahwa ilah ini bukanlah TUHAN, tetapi ilah patung yang terbuat dari emas. Kemudian, ayat 32 menyebutkan bahwa Musa berdoa kepada Allah agar dosa-dosa umat itu diampuni dan sebagai ganti nama dirinya dihapus dari kitab. Ini adalah metode penebusan dosa yang diusulkan oleh Musa, namanya sendiri yang tertulis di kitab tersebut sebagai ganti umat itu dapat diampuni. Musa rela dihukum dan dosa-dosa umat itu ditebus. Musa mengemukakan penggantian dan penebusan ini serupa dengan karya penebusan Yesus Kristus yang menderita karena dosa-dosa kita. Selama masa Prapaskah kita dapat melihat bayangan Yesus Kristus melalui Musa.

Akan tetapi, TUHAN adalah Allah yang adil. Ia tidak akan pernah menganggap orang yang tidak bersalah sebagai bersalah. Ia menunjukkan bahwa hanya orang-orang yang berdosa terhadap-Nya yang akan dihapus dari kitab Allah (ayat 33). Ini menunjukkan bahwa Allah adalah Allah yang adil. Akan tetapi, ayat 33 tidak menjelaskan lebih lanjut apakah Allah mengampuni dosa-dosa umat. Sebaliknya, ayat 34 menunjukkan bahwa TUHAN tidak lagi memimpin umat secara pribadi, tetapi mengutus malaikat-Nya dan Musa untuk memimpin umat itu. Dijelaskan juga bahwa TUHAN telah menetapkan suatu hari untuk menghukum umat itu atas dosa-dosa mereka. Tentu saja, kita juga mengetahui kemudian bahwa Musa sekali lagi memohon kepada TUHAN untuk pergi menyertai bersama orang-orang itu, dan baru pada saat itulah TUHAN setuju untuk menyertai bersama orang-orang itu (Keluaran 34).

Refleksi:
Dalam diri Musa, kita melihat bayangan penggantian dan penebusan dosa oleh Yesus Kristus bagi umat manusia. Apa artinya ini bagi Anda? Selama masa Prapaskah ini, marilah kita semua melihat keseriusan dosa manusia dan memperoleh pemahaman yang lebih dalam tentang anugerah kasih karunia dan keselamatan Allah.


Renungan Pra-Paskah (Er Dao)

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Pra-Paskah Musa di Gunung Sinai ditulis oleh Rev. Dr. Lawrence Ko (高銘謙) yang dipublikasi pada bulan Maret 2025 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Keluaran 32:15-24-PraPaskah

「Berkelit menghindari tanggung jawab」

Oleh Lawrence Ko (高銘謙)
Alliance Bible Seminary H.K.

(Keluaran 32:15-24 [TB2])
15 Setelah itu Musa berpaling dan turun dari gunung dengan kedua loh hukum itu di tangannya, loh-loh yang kedua sisinya bertulisan, pada sisi depan dan belakang. 16 Loh-loh itu buatan Allah dan tulisan yang diukir pada loh-loh itu tulisan Allah. 17 Ketika Yosua mendengar suara bangsa itu, ia berkata kepada Musa: Ada teriakan peperangan di perkemahan. 18 Tetapi, Musa menjawab:
……Bukan teriak kemenangan,
……bukan pula teriak kekalahan
…………tetapi suara nyanyian berbalas-balasan, itulah yang kudengar.
19 Ketika Musa mendekati perkemahan, ia melihat anak lembu itu dan melihat orang menari-nari, sehingga bangkitlah amarahnya. Ia melemparkan loh-loh itu dari tangannya dan menghancurkannya pada kaki gunung itu. 20 Sesudah itu, ia mengambil anak lembu yang dibuat mereka, membakarnya, dan menggilingnya sampai halus. Lalu ia menaburkannya ke atas air dan menyuruh orang Israel meminumnya.
21 Tanya Musa kepada Harun: Apa yang telah dilakukan bangsa ini kepadamu, sampai-sampai engkau menimbulkan dosa yang sebesar itu kepada mereka? 22 Jawab Harun: Janganlah bangkit amarahmu, tuanku! Tuan sendiri mengetahui bangsa ini cenderung jahat! 23 Mereka berkata kepadaku: Mari, buatlah untuk kami allah, yang akan berjalan di depan kami. Sebab si Musa, orang yang telah memimpin kami keluar dari tanah Mesir, kami tidak tahu apa yang telah terjadi padanya. 24 Lalu aku berkata kepada mereka: Siapa yang mempunyai emas haruslah melepaskannya. Mereka memberikannya kepadaku, lalu aku melemparkannya ke dalam api dan keluarlah anak lembu ini.

Keluaran 32:15 dimulai dengan Musa turun dari gunung, ia membawa dua loh batu dan ia bertemu dua orang. Salah satunya adalah Yosua (ayat 17), dan yang lainnya adalah Harun (ayat 22-24), yang pertama berdiri dengan setia di pihak Musa, sedangkan yang kedua harus menghadapi pertanyaan dari Musa. Dalam renungan hari ini, kita akan fokus pada reaksi Harun.

Hal pertama yang dilakukan Musa adalah memecahkan kedua loh hukum (ayat 19), yang melambangkan bahwa perjanjian antara Allah dan umat Israel telah rusak karena umat Israel membuat anak lembu emas. Lalu Musa membakar anak lembu buatan mereka itu, menggilingnya menjadi bubuk, menaburkannya ke dalam air, dan memerintahkan orang Israel untuk meminumnya (ayat 20). Di sini kita melihat konsep minum lagi di bagian sebelumnya menyebutkan bahwa orang-orang makan dan minum di hadapan anak lembu emas (Kel. 32:6), dan kemudian disebutkan bahwa Musa tidak makan atau minum di Gunung Sinai (Kel. 34:27-28). Bangsa itu minum dan Musa tidak minum membentuk suatu kontras. TUHAN sangat marah, tetapi umat itu ketika berbuat dosa, makan dan minum, mereka tidak peduli. Mereka bebal tidak tahu bahwa bencana akan segera terjadi. Untungnya, berkat doa syafaat Musa, umat itu dapat bertahan hidup. Umat itu tidak peduli dengan semua anugerah dan krisis ini, mereka hanya peduli tentang makan dan minum serta menikmati kesenangan dalam dosa. Namun, ketika Musa menghadapi dosa-dosa umat, ia sangat memahami keseriusan kejahatan tersebut, sehingga ia mengungkapkan kesedihan dan pertobatannya atas dosa-dosanya dengan tidak minum di hadapan Allah. Faktanya, Musa tidak melakukan kesalahan apa pun, tetapi karena ia tetap mengasihi umat itu dan berdoa bagi mereka, itu merupakan peran seorang pengantara.

Lalu Musa menanyai Harun, dan dari jawaban Harun kita tahu bahwa ia berusaha mencari alasan untuk menghindari tanggung jawab. Harun mula-mula menyalahkan sifat jahat umat (ayat 22), lalu menuding bahwa umatlah yang berinisiatif meminta pembuatan berhala (ayat 23), lalu secara sepihak mengatakan bahwa Harun meminta mereka untuk melepaskan semua emas dan melemparkannya ke dalam api, maka keluarlah anak lembu emas itu dengan sendirinya (ayat 24). Pernyataan dalam ayat 23 bahwa orang-orang berinisiatif meminta pembuatan berhala adalah pernyataan yang dibuat-buat; orang-orang tidak pernah mengatakannya (Kel. 32:1). Pernyataan Harus bahwa anak lembu emas muncul dengan sendirinya (ayat 24) menunjukkan bahwa anak lembu emas itu tidak dibuat oleh tangan manusia, yang menunjukkan bahwa itu mungkin telah disetujui oleh TUHAN, atau bahkan bahwa munculnya anak lembu emas itu adalah sebuah mukjizat! Dengan cara ini, Harun mengalihkan tanggung jawab kepada umat itu dan bahkan kepada Allah.

Refleksi:
Harun berkelit menghindari tanggung jawab setelah melakukan dosa hendaknya menjadi peringatan bagi kita selama masa Prapaskah, yang mengingatkan kita apakah kita akan menggeser tanggung jawab atas beberapa tindakan dosa atau hal-hal yang seharusnya menjadi tanggung jawab kita, dan melemparkan semua tanggung jawab kita kepada orang lain, sambil berpikir bahwa kita tidak bersalah? Yesus Kristus dipaku di kayu salib bukan untuk “menyelamatkan muka” kita, tetapi untuk memampukan kita mengubah cara hidup kita dari lubuk hati kita dan menjadi pribadi baru. Apakah saya sudah siap?


Renungan Pra-Paskah (Er Dao)

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Pra-Paskah Musa di Gunung Sinai ditulis oleh Rev. Dr. Lawrence Ko (高銘謙) yang dipublikasi pada bulan Maret 2025 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Keluaran 32:7-14-PraPaskah

「Permohonan syafaat dari Musa」

Oleh Lawrence Ko (高銘謙)
Alliance Bible Seminary H.K.

(Keluaran 32:7-14 [TB2])
7 Berfirmanlah TUHAN kepada Musa: Turunlah segera, sebab bangsamu yang kaupimpin keluar dari tanah Mesir telah rusak kelakuannya. 8 Alangkah cepatnya mereka menyimpang dari jalan yang Kuperintahkan kepada mereka. Mereka telah membuat anak lembu tuangan bagi dirinya dan sujud menyembahnya. Mereka mempersembahkan kurban kepadanya, sambil berkata: Hai Israel, inilah Allahmu yang telah menuntun engkau keluar dari tanah Mesir. 9 Lalu TUHAN berfirman kepada Musa: Aku telah melihat bangsa ini. Sungguh, mereka bangsa yang tegar tengkuk. 10 Sekarang, biarkanlah Aku bertindak! Biarlah murka-Ku menyala-nyala terhadap mereka dan Aku akan membinasakan mereka. Tetapi, engkau akan Kujadikan bangsa yang besar.
11 Namun, Musa mencoba melunakkan hati TUHAN, Allahnya, dengan berkata, TUHAN, mengapa murka-Mu menyala-nyala terhadap umat-Mu, yang telah Kaubawa keluar dari tanah Mesir dengan kuasa yang besar dan dengan tangan yang kuat? 12 Mengapa orang Mesir harus berkata: Dengan niat jahat Ia membawa mereka keluar untuk membunuh mereka di pegunungan dan melenyapkan mereka dari muka bumi? Berbaliklah dari murka-Mu yang bernyala-nyala itu dan ubahlah niat-Mu mendatangkan malapetaka atas umat-Mu! 13 Ingatlah pada Abraham, Ishak, dan Israel, hamba-hamba-Mu itu. Kepada mereka Engkau telah bersumpah demi diri-Mu sendiri dengan berfirman: Aku akan membuat keturunanmu sebanyak bintang di langit dan seluruh negeri yang telah Kujanjikan ini akan Kuberikan kepada keturunanmu, supaya mereka memilikinya untuk selama-lamanya.』」
14 Lalu TUHAN mengubah niat-Nya mendatangkan malapetaka yang dirancangkan-Nya atas umat-Nya.

Umat itu membuat anak lembu emas, membuat murka TUHAN menyala-nyala.

Keluaran 32:7-14 dapat dibagi menjadi dua bagian. Bagian pertama (ayat 7-10) mencatat murka TUHAN menyala-nyala, menjelaskan dosa-dosa yang dilakukan oleh orang Israel dan konsekuensi yang harus mereka tanggung. Bagian kedua (ayat 11-14) mencatat Musa demi umat itu menaikkan permohonan syafaat kepada TUHAN, memohon kepada Allah agar tidak membinasakan orang Israel. Akhirnya, TUHAN mengubah niat-Nya dan tidak mendatangkan malapetaka yang hendak Ia turunkan menimpa umat itu.

Pertama, ayat 7-10 menunjukkan bahwa tindakan bangsa Israel membuat anak lembu emas merupakan penyimpangan dari cara yang diperintahkan TUHAN (ayat 8), dan bahwa bangsa itu disebut tegar tengkuk (ayat 9). Karena itu, TUHAN bermaksud untuk membinasakan umat itu dan menjadikan keturunan Musa sebagai bangsa yang besar (ayat 10). Kata tegar dari frasa tegar tengkuk dalam bahasa aslinya berarti keras, sulit, keras kepala. Dalam Yehezkiel kata itu digunakan untuk menggambarkan kekerasan hati seluruh kaum Israel (Yeh. 3:7), tetapi di sini kata tersebut digunakan untuk menggambarkan keras kakunya leher. Ini adalah sebuah simbol, kepala seseorang disamakan dengan TUHAN, leher seseorang disamakan dengan umat Israel. Umat Israel tidak mau mengikuti dan menaati TUHAN, sama seperti leher seseorang tidak mau bergerak sesuai dengan perintah kepala. Inilah arti dari keras kepala dan keras hati. Pentateuk (lima kitab Musa) sering menggunakan kata tegar tengkuk untuk menggambarkan orang Israel, yang menunjukkan bahwa mereka keras hati dan tidak mau menaati semua perintah Allah. Karena upah dosa adalah maut, maka manusia secara alami akan menghadapi murka Allah. Mereka akan menghadapi hukuman serius, kehancuran (ayat 10).

Namun, di sini Musa menjadi perantara antara Allah dan umat, dan ia memohon kepada TUHAN bagi umat itu (ayat 11-14). Bagaimana Musa memohon syafaat bagi umat itu? Pertama, Musa menunjukkan bahwa orang-orang ini tidak dipimpin oleh Musa, bukan seperti yang dikatakan TUHAN (ayat 7), tetapi dipimpin keluar dari Mesir oleh TUHAN sendiri dengan kuasa besar dan tangan yang kuat (ayat 11). Oleh karena itu, jika TUHAN membinasakan orang-orang ini di pegunungan, orang Mesir akan mengatai TUHAN (ayat 12). Ini adalah pertanyaan tentang reputasi TUHAN. Kedua, Musa berdoa agar Allah mengingat sumpah yang telah Dia buat kepada Abraham, Ishak, dan Yakub, berjanji untuk memberi mereka tanah Kanaan dan membiarkan mereka memilikinya (ayat 13). Oleh karena itu, TUHAN harus memimpin orang Israel ke tanah Kanaan. Ini adalah tentang janji dan komitmen TUHAN. Dengan cara ini, Musa memohon berdasarkan aspek nama dan janji TUHAN, menggunakan kedua aspek ini untuk berdoa agar Allah mengubah niat-Nya dan tidak mendatangkan malapetaka atas orang Israel.

TUHAN mengubah niat-Nya bukanlah penyesalan yang tidak konsisten atau emosional, tetapi merupakan respons terhadap perubahan hati manusia, respons yang menuntut respons (response seeking). TUHAN bukanlah besi yang kaku tidak punya perasaan, Ia tidak ingin umat manusia binasa. Sebaliknya, Ia ingin semua orang bertobat dan Ia akan menghentikan bencana serta hukuman yang telah Ia bicarakan. Inilah yang dimaksud dengan mengubah niat-Nya TUHAN (ITB menerjemahkan sebagai TUHAN menyesal). Mengapa TUHAN mengubah niat-Nya dan tidak mendatangkan bencana? Karena Musa berdoa bagi umat, memohon kepada Allah agar menunjukkan belas kasihan kepada umat itu sesuai dengan janji-Nya, maka kita melihat Musa menjadi perantara antara Allah dan manusia, di satu sisi bersyafaat bagi umat, dan di pihak yang lain sebagai pengantara melalui doa syafaat memadamkan murka Allah.

Refleksi:
Musa, sebagai prafigur Yesus Kristus, menunjuk ke depan peran Yesus Kristus sebagai pengantara yang melalui karya penebusan-Nya mati di kayu salib demi umat dan menghapus murka Allah. Selama masa Prapaskah, ketika kita merenungkan Musa sebagai perantara Allah dan umat Israel, kita juga mengingat bahwa karya keselamatan Yesus Kristus telah mengubah hati Allah dan bahwa Ia tidak melaksanakan hukuman yang seharusnya diturunkan kepada umat-Nya. Apa makna dan pengingat yang Anda dapatkan dari hal ini?


Renungan Pra-Paskah (Er Dao)

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Pra-Paskah Musa di Gunung Sinai ditulis oleh Rev. Dr. Lawrence Ko (高銘謙) yang dipublikasi pada bulan Maret 2025 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Keluaran 32:1-6-PraPaskah

「Tidak tahu berterima kasih. Lupa budi, mencurangi kebenaran」

Oleh Lawrence Ko (高銘謙)
Alliance Bible Seminary H.K.

(Keluaran 32:1-6 [TB2])
1Ketika bangsa itu melihat bahwa Musa berlama-lama turun dari gunung itu, mereka berkumpul mengerumuni Harun dan berkata kepadanya: Mari, buatlah untuk kami allah, yang akan berjalan di depan kami. Sebab Musa, orang yang telah memimpin kita keluar dari tanah Mesir, kami tidak tahu apa yang telah terjadi padanya. 2 Harun berkata kepada mereka: Lepaskanlah anting-anting emas yang ada pada telinga isterimu, anakmu laki-laki, dan perempuan, laku bawalah semuanya itu kepadaku. 3 Seluruh bangsa itu pun melepaskan anting-anting emas yang ada pada telinga mereka dan membawanya kepada Harun. 4 Ia menerimanya dari tangan mereka, merancang bentuknya dengan alat, dan membuat anak lembu tuangan. Lalu kata mereka: Hai Israel, inilah Allahmu, yang telah menuntun engkau keluar dari tanah Mesir! 5 Ketika Harun melihat hal itu, ia mendirikan mezbah di depan anak lembu itu. Lalu ia berseru, Besok hari raya bagi TUHAN! 6 Keesokan harinya pagi-pagi mereka mempersembahkan kurban bakaran dan kurban keselamatan. Kemudian bangsa itu duduk makan dan minum, lalu bangkit dan bersenang-senang.

Seperti yang disebutkan dalam beberapa hari renungan sebelumnya, Musa naik ke Gunung Sinai selama empat puluh hari empat puluh malam tanpa makan atau minum di hadapan Allah untuk menerima hukum dan peraturan dari Allah (Keluaran 34:27-28). Namun, kelanjutan dari kisah ini adalah bahwa orang Israel membuat anak lembu emas dan berdosa terhadap TUHAN (Keluaran 32-33). Mari kita mulai merenungkan perkembangan masalah ini.

Keluaran 32:1-6 mencatat asal mula peristiwa anak lembu emas. Ayat 1 menyebutkan bahwa ketika orang-orang melihat bahwa Musa belum juga turun dari Gunung Sinai, mereka mulai membuat patung. Kita harus memberi perhatian khusus pada tujuan pembuatan patung itu, yaitu untuk menuntun jalan umat itu, dan pada saat yang sama karena mereka tidak tahu bagaimana nasib Musa di gunung itu. Di sini, kita melihat bahwa umat itu ragu-ragu dan tidak yakin tentang jalan di depan, jadi mereka meniru kebiasaan bangsa-bangsa lain di Timur Dekat kuno dan membuat berhala untuk menuntun jalan mereka. Pada saat yang sama, karena kehadiran TUHAN merupakan kehadiran yang tidak dapat mereka kendalikan, mereka tidak dapat benar-benar melihat Allah setiap saat. Sebagai perbandingan, penampakan oatung berhala akan jauh lebih praktis. Ciri-ciri patung adalah bahwa itu sebenarnya memiliki eksistensi material, dapat dengan mudah dilihat dan bahkan dipegang oleh mereka, memiliki kepastian yang ada dalam genggaman kendali mereka. Namun, esensinya adalah materi mati, juga merupakan produk buatan manusia. Bagaimana benda bikinan dapat menuntun dan menunjukkan jalan di hadapan umat itu? Demikianlah kita melihat orang-orang terjerumus dalam kebodohan bebal.

Kemudian, ayat 2-4 menjelaskan secara terperinci proses pembuatan anak lembu emas: pertama, Harun memerintahkan bangsa itu untuk melepaskan anting-anting emas dari telinga istri dan anak-anak mereka. Anting-anting emas ini mungkin merupakan bagian dari emas, perak, dan pakaian yang mereka minta dari orang Mesir ketika mereka meninggalkan Mesir (Keluaran 12:35). Alasan mereka pada waktu itu bisa mendapatkan semua ini adalah karena TUHAN membuat bangsa itu memperoleh kasih karunia di mata orang Mesir (Keluaran 12:36). Sekarang mereka benar-benar menyerahkan anting-anting emas yang diperoleh melalui kasih karunia Allah ini dan menggunakannya untuk membuat anak lembu emas, dan pada saat yang sama menunjukkan bahwa anak lembu ini adalah dewa yang membawa mereka keluar dari Mesir (Keluaran 32:4, Hai Israel, inilah Allahmu, yang telah menuntun engkau keluar dari tanah Mesir!), yang berarti bahwa mereka sepenuhnya menggantikan TUHAN dengan anak lembu emas ini, dan juga menghubungkan berbagai tindakan penyelamatan yang TUHAN lakukan untuk membawa orang Israel keluar dari Mesir di masa lalu dengan anak lembu emas ini. Praktik memutarbalikkan kebenaran ini menunjukkan bahwa orang Israel tidak tahu berterima kasih, lupa budi, mencurangi kebenaran.

Terakhir, ayat 5-6 Harus mendirikan mezbah di depan anak lembu itu. Lalu ia berseru, Besok hari raya bagi TUHAN! Keesokan harinya pagi-pagi mereka mempersembahkan kurban bakaran dan kurban keselamatan. Kemudian bangsa itu duduk makan dan minum, lalu bangkit dan bersenang-senang. Awalnya, perintah untuk merayakan hari raya bagi TUHAN dicatat dalam Keluaran 12, di mana TUHAN memerintahkan orang Israel untuk merayakan Paskah dari generasi ke generasi untuk memperingati keselamatan dari Allah dalam memimpin orang Israel keluar dari Mesir. Namun, orang Israel sama sekali melupakan hal ini dan mengganti Paskah dengan hari raya lain. Fokus hari raya yang disebutkan di sini adalah pada makan, minum, dan bersenang-senang, yaitu, kesadaran menikmati hidup saat ini, yang sangat kontras dengan penyebutan kemudian bahwa Musa tidak makan atau minum selama empat puluh hari empat puluh malam di Gunung Sinai (Keluaran 34:27-28). Dengan demikian, cara makan dan minum umat itu sekali lagi menunjukkan bahwa mereka telah melupakan hakikat kasih karunia Allah.

Refleksi:
Dalam meditasi masa Prapaskah, kita diingatkan untuk tidak melupakan segala kasih karunia Allah, kalau tidak, kita akan menjadi seperti bangsa Israel yang membangun anak lembu emas mereka sendiri untuk menggantikan Allah. Tujuan puasa dan penyangkalan diri kita selama masa Prapaskah adalah untuk mengingat bahwa kenikmatan materi yang kita nikmati sekarang tidak berasal dari berbagai berhala, tetapi dari kasih karunia TUHAN. Ini mengingatkan kita agar tidak bersikap tidak tahu berterima kasih. Lupa budi, mencurangi kebenaran.


Renungan Pra-Paskah (Er Dao)

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Pra-Paskah Musa di Gunung Sinai ditulis oleh Rev. Dr. Lawrence Ko (高銘謙) yang dipublikasi pada bulan Maret 2025 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Keluaran 34:29-35 (3) – PraPaskah

「Transfigurasi di atas gunung」

Oleh Lawrence Ko (高銘謙)
Alliance Bible Seminary H.K.

(Keluaran 34:29-35 [TB2])
29 Lalu Musa turun dari gunung Sinai dengan kedua loh hukum di tangannya. Ketika turun dari gunung itu, ia tidak menyadari bahwa kulit wajahnya bercahaya oleh karena ia telah berbicara dengan TUHAN.
30 Ketika Harun dan segala orang Israel melihat Musa, tampaklah kulit wajahnya bercahaya sehingga mereka takut mendekati dia. 31 Tetapi, ketika Musa memanggil mereka, Harun dan semua pemimpin jemaah berbalik kepadanya dan Musa berbicara kepada mereka. 32 Sesudah itu seluruh orang Israel datang mendekat, lalu menyampaikan segala perintah yang difirmankan TUHAN kepadanya di atas gunung Sinai.
33 Setelah Musa selesai berbicara dengan mereka, ia mengenakan selubung pada wajahnya. 34 Tetapi, setiap kali Musa masuk menghadap TUHAN untuk berbicara dengan Dia, ia menanggalkan selubung itu sampai ia keluar. Ketika ia keluar dan menyampaikan kepada orang Israel apa yang diperintahkan kepadanya, 35 orang Israel melihat wajah Musa dengan kulit wajahnya yang bercahaya. Lalu ia kembali mengenakan selubung pada wajahnya sampai ia masuk menghadap TUHAN untuk berbicara dengan Dia.


(Matius 17:1-8 [TB2])
1 Enam hari kemudian Yesus membawa Petrus, Yakobus dan Yohanes saudaranya, dan bersama mereka Ia naik ke sebuah gunung yang tinggi. Di situ mereka sendirian saja. 2 Yesus berubah rupa di depan mata mereka; wajah-Nya bercahaya seperti matahari dan jubah-Nya menjadi putih berkilauan. 3 Tampaklah kepada mereka Musa dan Elia sedang berbicara dengan Dia. 4 Kata Petrus kepada Yesus, Tuhan, sungguh baik kita berada di tempat ini. Jika Engkau mau, biarlah kudirikan di sini tiga kemah, satu untuk Engkau, satu untuk Musa. dan satu untuk Elia. 5 Sementara ia berkata-kata, tiba-tiba awan yang terang menaungi mereka dan dari dalam awan itu terdengar suara yang berkata, Inilah Anak-Ku yang terkasih, kepada-Nyalah Aku berkenan, dengarkanlah Dia. 6 Mendengar itu sujudlah murid-murid-Nya dan mereka sangat ketakutan. 7 Yesus datang kepada mereka dan menyentuh mereka sambil berkata, Berdirilah, jangan takut! 8 Ketika mereka menengadah, mereka tidak melihat seorang pun kecuali Yesus seorang diri.

Musa pergi ke Gunung Sinai selama empat puluh hari empat puluh malam tanpa makan dan minum, dan ia bertemu dengan Allah, serta menerima hukum dan peraturan dari Allah. Kulit wajahnya mulai bercahaya, tetapi cahaya ini bukan berasal dari dirinya sendiri, melainkan dari kemuliaan TUHAN. Kemudian, karena orang-orang takut kepada sinar cahaya tersebut, Musa harus menutupi wajahnya dengan selubung ketika dia berbicara kepada orang-orang, tetapi ketika dia kembali untuk berbicara kepada Allah, dia akan menyingkirkan selubung itu. Dengan cara ini, Musa menjadi perantara dan nabi antara Allah dengan umat-Nya, dan ia juga menjadi bayangan atau prafigur dari Yesus Kristus.

Matius 17:1-8 terutama mencatat transfigurasi Yesus, Ia memimpin murid-murid-Nya naik gunung. Peristiwa ini sebenarnya adalah pembawa (typos, prafigur/bayangan), yang menunjukkan Yesus sebagai Musa yang baru. Kita dapat menjelaskan hal ini melalui tabel ini:

Dari daftar di atas, kita dapat melihat kitab suci menunjukkan bahwa Yesus sebagai Musa yang baru, karena Yesus, seperti Musa, adalah nabi terbesar dan pemberi hukum, keduanya naik ke gunung, dan keduanya bersinar. Namun, Yesus lebih besar dari Musa, karena kulit wajah Musa yang bercahaya yang dilihat oleh orang Israel hanyalah cahaya yang dangkal (Keluaran 34:35), ia hanya memantulkan kemuliaan TUHAN. Tetapi, Yesus menyatakan diri dalam keberadaan yang total berbeda (transfigurasi), suatu perubahan yang datang dari hakikat diri-Nya, dan cahaya ini seperti matahari, pakaian-Nya putih berkilauan seperti cahaya, sama sekali berbeda dari gambaran manusia sempurna yang telah Ia nyatakan sebelumnya. Ternyata cahaya pada kulit wajah Musa bagaikan bulan, sedangkan cahaya yang dipancarkan oleh Yesus Kristus adalah matahari. Cahaya pada kulit wajah Musa adalah memantulkan cahaya Allah, sedangkan Yesus adalah Allah sendiri. Dengan demikian, Yesus yang tadinya tampak biasa saja bagi para murid-murid-Nya, kini mereka melihat gambaran ilahi Yesus yang berbeda dengan Yesus yang selama ini mereka kenal.

Kalau kita tahu jati diri Yesus yang sebenarnya, Ia adalah Allah, apakah kita sepenuh hati percaya kepadaNya?

Refleksi:
Yesus adalah penerus Musa dan merupakan seorang nabi besar. Namun, Yesus lebih besar dari Musa. Dia adalah Anak Allah. Musa naik gunung untuk bertemu dengan Allah, tetapi Yesus sendiri adalah Allah. Pancaran cahaya di wajah-Nya membuat kita memahami bahwa Yesus sendiri adalah pribadi yang tidak dapat kita bayangkan, pribadi penuh dengan kemuliaan Allah. Bilamana kita memahami jati diri Tuhan yang kita percayai, maka kita akan dengan sepenuh hati percaya kepada-Nya, tanpa ada kebingungan.

Alasan mengapa kita belum sepenuhnya percaya kepada-Nya adalah karena kita tidak yakin akan jati diri-Nya yang sejati. Jika kita tahu bahwa Dia adalah Tuhan yang sejati, maka betapa pun besarnya kesulitan dan kegelapan yang kita hadapi, kita tidak akan dapat menyangkal kemuliaan dan jati diri-Nya. Seberapa yakin Anda akan identitas Yesus?


Renungan Pra-Paskah (Er Dao)

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Pra-Paskah Musa di Gunung Sinai ditulis oleh Rev. Dr. Lawrence Ko (高銘謙) yang dipublikasi pada bulan Maret 2025 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Keluaran 34:29-35 (2) – PraPaskah

「Nabi Musa」

Oleh Lawrence Ko (高銘謙)
Alliance Bible Seminary H.K.

(Keluaran 34:29-35 [TB2])
29 Lalu Musa turun dari gunung Sinai dengan kedua loh hukum di tangannya. Ketika turun dari gunung itu, ia tidak menyadari bahwa kulit wajahnya bercahaya oleh karena ia telah berbicara dengan TUHAN.
30 Ketika Harun dan segala orang Israel melihat Musa, tampaklah kulit wajahnya bercahaya sehingga mereka takut mendekati dia. 31 Tetapi, ketika Musa memanggil mereka, Harun dan semua pemimpin jemaah berbalik kepadanya dan Musa berbicara kepada mereka. 32 Sesudah itu seluruh orang Israel datang mendekat, lalu menyampaikan segala perintah yang difirmankan TUHAN kepadanya di atas gunung Sinai.
33 Setelah Musa selesai berbicara dengan mereka, ia mengenakan selubung pada wajahnya. 34 Tetapi, setiap kali Musa masuk menghadap TUHAN untuk berbicara dengan Dia, ia menanggalkan selubung itu sampai ia keluar. Ketika ia keluar dan menyampaikan kepada orang Israel apa yang diperintahkan kepadanya, 35 orang Israel melihat wajah Musa dengan kulit wajahnya yang bercahaya. Lalu ia kembali mengenakan selubung pada wajahnya sampai ia masuk menghadap TUHAN untuk berbicara dengan Dia.

Sebagai seorang pengantara, Musa membuka selubung wajahnya di hadapan Allah dan menyelubungi kembali wajahnya di hadapan umat, tujuannya adalah agar ia dapat menerima firman Allah di hadapan Allah dan pada saat yang bersamaan ia bertanggung jawab menyampaikan firman Allah kepada umat itu. Oleh karena itu, Musa menjadi seorang utusan yang berbicara mewakili Allah, yang merupakan makna dari seorang nabi.

Nabi bukan berarti seseorang yang dapat meramal masa depan, melainkan lebih berarti seorang utusan. Banyak sekali gambaran dalam kitab suci yang menunjukkan tindakan Musa sebagai seorang nabi (juru bicara). Pertama, ayat 31 menyatakan bahwa Musa memanggil Harun serta para pemimpin jemaah dan berbicara kepada mereka. Kemudian ayat 32 menyatakan bahwa Musa selanjutnya memanggil semua orang Israel untuk datang dan ia berbicara kepada jemaah itu. Dengan demikian, kita melihat dua tingkatan audiensi, pertama Harun dan para pemimpin jemaah (ayat 31), dan kemudian seluruh jemaah Israel (ayat 32). Dalam hal tingkatan, Musa menjadi juru bicara Allah dan paling dekat dengan Allah, dengan cara ini, dari Allah kepada Musa, dari Musa kepada Harun dan para pemimpin, dan kemudian kepada seluruh jemaat, tingkatan kepemimpinan dipaparkan, menjelaskan bahwa perintah dan firman Allah harus terlebih dahulu diterima oleh para pemimpin, harus terlebih dahulu dipraktikkan dan dipatuhi oleh para pemimpin, barulah kemudian diperluas kepada seluruh jemaat. Hal ini tidak hanya menekankan hak istimewa prioritas para pemimpin untuk menerima perintah Allah, tetapi juga menekankan kewajiban dan tanggung jawab para pemimpin untuk mempraktikkan dan menaati perintah Allah.

Kemudian ayat 34-35 mencatat bahwa Musa yang terus-menerus menerima perintah-perintah Allah di masa mendatang. Pertama-tama, Musa harus menghadap TUHAN dan berbicara kepada-Nya (ayat 34), mendengarkan dengan saksama semua perintah TUHAN, membuka selubung dan menghadap Allah, serta memahami kehendak Allah dengan tepat dan tanpa keraguan. Setelah itu, ia harus keluar dan menyampaikan kepada orang Israel apa yang diperintahkan TUHAN. Maka kita melihat urutan mendengarkan dahulu, baru berbicara, ini hal yang sangat penting untuk memahami pelayanan kenabian. Ternyata fokus pelayanan kenabian bukanlah berbicara, tetapi mendengarkan, dan pergi ke hadapan TUHAN untuk berbicara kepada Allah. Ini mengingatkan kita betapa pentingnya mendengarkan dengan pikiran terbuka dan bertemu Tuhan secara langsung. Mengapa Musa bisa terbiasa bertemu Allah dengan cara ini? Hal ini mungkin terjadi karena ia berpuasa selama empat puluh hari ketika menerima Sepuluh Perintah Allah dari TUHAN di Gunung Sinai, puasa menunjukkan bahwa ia sangat fokus, melepaskan segala keinginan, dan bahkan meratapi dosa-dosa orang Israel, sehingga membangun kehidupan yang terbiasa bertemu Allah.

Refleksi:
Bagaimana pelayanan Musa sebagai perantara yang berfungsi sebagai prafigur peran Yesus Kristus sebagai mediator? Dan bagaimana Anda bisa menjadi saksi antara Tuhan dan dunia, serta menjalani kehidupan di mana semua orang percaya adalah imam?


Renungan Pra-Paskah (Er Dao)

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Pra-Paskah Musa di Gunung Sinai ditulis oleh Rev. Dr. Lawrence Ko (高銘謙) yang dipublikasi pada bulan Maret 2025 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Keluaran 34:29-35 (1) – PraPaskah

「Kulit wajahnya bercahaya」

Oleh Lawrence Ko (高銘謙)
Alliance Bible Seminary H.K.

(Keluaran 34:29-35 [TB2])
29 Lalu Musa turun dari gunung Sinai dengan kedua loh hukum di tangannya. Ketika turun dari gunung itu, ia tidak menyadari bahwa kulit wajahnya bercahaya oleh karena ia telah berbicara dengan TUHAN.
30 Ketika Harun dan segala orang Israel melihat Musa, tampaklah kulit wajahnya bercahaya sehingga mereka takut mendekati dia. 31 Tetapi, ketika Musa memanggil mereka, Harun dan semua pemimpin jemaah berbalik kepadanya dan Musa berbicara kepada mereka. 32 Sesudah itu seluruh orang Israel datang mendekat, lalu menyampaikan segala perintah yang difirmankan TUHAN kepadanya di atas gunung Sinai.
33 Setelah Musa selesai berbicara dengan mereka, ia mengenakan selubung pada wajahnya. 34 Tetapi, setiap kali Musa masuk menghadap TUHAN untuk berbicara dengan Dia, ia menanggalkan selubung itu sampai ia keluar. Ketika ia keluar dan menyampaikan kepada orang Israel apa yang diperintahkan kepadanya, 35 orang Israel melihat wajah Musa dengan kulit wajahnya yang bercahaya. Lalu ia kembali mengenakan selubung pada wajahnya sampai ia masuk menghadap TUHAN untuk berbicara dengan Dia.

Musa setelah tidak makan dan minum selama empat puluh hari, ia turun dari Gunung Sinai, tanpa mengetahui bahwa kulit wajahnya bercahaya. Perikop ini dimulai dengan pengalaman wajah Musa yang bercahaya, dalam perikop 34:29-35, diperkenalkan peran Musa adalah sebagai nabi, perantara antara Allah dan umat Allah. Peran ini memunculkan dua poin utama: (1) wajahnya bercahaya; (2) perkataannya. Kita akan memakai dua hari untuk merenungkan dua poin ini.
Pertama-tama, Alkitab berkali-kali menjelaskan bahwa kulit muka Musa bercahaya (ayat 29, 30, dan 35). Ketika umat itu melihat kulit muka Musa, mereka takut untuk mendekatinya. Hal ini mungkin karena Musa telah lama bersama TUHAN dan telah sepenuhnya masuk ke dalam alam kudus, sehingga ia memantulkan kemuliaan Allah. Oleh karena itu, kulit mukanya yang bercahaya melambangkan bahwa ia termasuk dalam alam kudus dan berbicara mewakili kemuliaan Allah (hadirat Allah). Karena umat itu bukan bagian dari alam kudus, maka ketika mereka melihat wajah Musa bercahaya wajar saja mereka takut, karena tidak ada ruang untuk kompromi dalam kemuliaan yang kudus, dan sebagai umat yang najis (terutama mereka baru saja melakukan dosa membuat anak lembu emas), mereka tidak punya kaulifikasi untuk mendekati yang kudus. Oleh karena itu, Musa menjadi perantara antara Allah dan umat. Ia mewakili umat Allah dalam memasuki kekudusan dan berpartisipasi dalam kemuliaan Allah. Pada saat yang sama, ia turun dari Gunung Sinai dan kembali kepada umat, dengan kemuliaan di wajahnya, untuk menyampaikan firman Allah kepada umat itu, agar mereka dapat melalui Musa memahami pesan Allah, dan bahkan membuat perjanjian dengan Allah.
Kedua, teks tersebut menyebutkan bahwa Musa harus menutupi wajahnya dengan selubung setelah berbicara kepada umat (ayat 33 dan 35). Ketika Musa kembali kepada Allah dan berbicara kepada-Nya, ia menanggalkan selubung (ayat 34). Dengan demikian, kita melihat pengaturan menanggalkan selubung di hadapan Allah dan menutupi wajah dengan selubung di hadapan umat. Ini sekali lagi menunjukkan bahwa Musa adalah perantara antara Allah dan manusia. Ia adalah seorang nabi yang berbicara mewakili nama Allah, dan juga mewakili umat untuk bertemu dengan Allah. Antara Allah dan manusia, ia harus berurusan dengan kulit wajahnya yang bercahaya. Ketika ia berhadapan muka dengan Allah, ia melepaskan selubung, melambangkan kontak tanpa halangan dengan Allah, dan ketika ia selesai berbicara kepada umat, ia menutupi wajahnya dengan selubung, melambangkan bahwa ia menyembunyikan kemuliaan Allah, di satu sisi untuk mencegah umat agar tidak takut, dan di sisi lain untuk berintegrasi dengan dunia. Sebagai hamba Allah, Musa memiliki kesalehan untuk masuk ke dalam kemuliaan Allah, tetapi pada saat yang sama ia hidup di antara manusia.

Refleksi:
Bagaimana pelayanan Musa sebagai perantara yang berfungsi sebagai prafigur peran Yesus Kristus sebagai mediator? Dan bagaimana Anda bisa menjadi saksi antara Tuhan dan dunia, serta menjalani kehidupan di mana semua orang percaya adalah imam?


Renungan Pra-Paskah (Er Dao)

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Pra-Paskah Musa di Gunung Sinai ditulis oleh Rev. Dr. Lawrence Ko (高銘謙) yang dipublikasi pada bulan Maret 2025 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Keluaran 34:27-28 – PraPaskah

「Musa bersama TUHAN selama empat puluh hari dan empat puluh malam」

Oleh Lawrence Ko (高銘謙)
Alliance Bible Seminary H.K.

(Keluaran 34:27-28 [TB2])
27 Berfirmanlah TUHAN kepada Musa: Tuliskanlah segala firman ini, sebab berdasarkan firman ini Aku mengikat perjanjian dengan engkau dan Israel. 28 Musa berada di sana bersama dengan TUHAN empat puluh hari empat puluh malam lamanya. Ia tidak makan roti maupun minum air. Ia menulis pada loh-loh itu kata-kata perjanjian, Kesepuluh Firman.

Kedua ayat ini menjadi tema renungan kita selama dua minggu pertama Masa Prapaskah, yaitu tentang Musa yang berpuasa selama empat puluh hari empat puluh malam di Gunung Sinai dan menerima hukum Taurat dari Allah.

Ayat 27 menekankan bahwa Musa di hadapan TUHAN menuliskan firman ini (kata-kata) (הדברים האלה êl·leh had·də·ḇā·rîm), firman ini muncul dua kali dalam ayat 27, dan kata kata-kata (דבר diḇ·rê) juga muncul dua kali dalam ayat 28, totalnya empat kali (ayat 27-28), yang menunjukkan bahwa inilah titik beratnya. Apa sebenarnya kata-kata ini? Ayat 27 menjelaskan bahwa segala firman ini (kata-kata) harus ditulis oleh Musa, dan bahwa TUHAN akan membuat perjanjian dengan Musa dan orang Israel berdasarkan segala firman ini (kata-kata). Dapat dilihat bahwa firman perkataan-perkataan ini berhubungan dengan perjanjian dan harus dipahami sebagai syarat-syarat perjanjian. Sama seperti sepasang suami istri membutuhkan kata-kata sumpah untuk menandai ikrar pernikahan mereka, demikian pula ketika TUHAN membuat perjanjian dengan umat- Nya, Ia menyatakan kata-kata ini untuk menjadi syarat dan janji dalam perjanjian tersebut. Dengan demikian, Musa menjadi pengantara antara TUHAN dan orang Israel.

Kedua, ayat 28 menjelaskan bahwa kata-kata ini adalah kata-kata perjanjian (דברי הברית hab·bə·rîṯ diḇ·rê), dan juga menjelaskan bahwa ini adalah Sepuluh Firman (עשרת הדברים had·də·ḇā·rîm ‘ă·śe·reṯ). Kesepuluh Firman ini adalah Sepuluh Perintah yang kita kenal. Dari sini kita memahami bahwa hakikat dari Sepuluh Perintah adalah perkataan-perkataan perjanjian, yang merupakan sepuluh kalimat yang diterima atas dasar perjanjian antara Allah dan umat. Kesepuluh kalimat ini tidak semuanya adalah perintah, banyak yang merupakan pesan positif, yang mengharuskan orang Israel atas dasar perjanjian ini untuk tidak memiliki ilah lain, juga tidak boleh berhala patung, dll.. Semua ini adalah tanggapan wajar sebagai komitmen dan janji dari kedua belah pihak terhadap perjanjian tersebut.

Di sini, demi di hadapan Allah menerima kata-kata perjanjian dan Sepuluh Perintah Allah, Musa tidak makan dan minum selama empat puluh hari empat puluh malam di hadapan TUHAN. Itu adalah pengalaman getir dan puasa, ini mungkin karena peristiwa anak lembu emas yang terjadi sebelumnya, yang menyebabkan Musa berpuasa dengan getir dan puasa di hadapan Allah untuk mewakili umat Allah memperbarui perjanjian dengan TUHAN. Pengalaman Musa untuk hidup bagi orang lain, menjadi contoh kita selama masa Prapaskah (masa sebelum penderitaan Kristus). Musa (salah satu prafigur Yesus Kristus) menderita menggantikan umat Allah, sehingga umat Allah dapat memasuki hubungan perjanjian dengan TUHAN.

Refleksi:
Kita terikat perjanjian dengan Tuhan. Apa makna perjanjian ini bagi saya? Bagaimana cara mengamalkan menghidupi firman perjanjian tersebut? Sebuah perjanjian membutuhkan komitmen dan kesetiaan. Dapatkah saya menemukan kedua unsur ini dalam diri saya?


Renungan Pra-Paskah (Er Dao)

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Pra-Paskah Musa di Gunung Sinai ditulis oleh Rev. Dr. Lawrence Ko (高銘謙) yang dipublikasi pada bulan Maret 2025 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Kejadian 2:7; 3:19 – Rabu Abu

「Rabu Abu」

Oleh Lawrence Ko (高銘謙)
Alliance Bible Seminary H.K.

(Kejadian 2:7; 3:19 [TB2])
2:7 Kemudian TUHAN Allah membentuk manusia dari debu tanah, dan menghembuskan napas hidup ke dalam hidungnya. Demikianlah manusia itu menjadi makhluk hidup.

3:19 dengan cucuran keringat engkau akan mencari makan, sampai engkau kembali lagi menjadi tanah, karena dari situlah engkau diambil; sebab engkau debu, engkau akan kembali menjadi debu.

Mulai hari ini, kita secara resmi memasuki masa Prapaskah, memperingati penderitaan Yesus Kristus. Selama periode ini, kita akan memakai total enam minggu (dengan 3 topik yang masing-masing dua minggu) untuk melakukan renungan Pra-Paskah:
• 5 Maret – 18 Maret 2025: Musa selama 40 hari menerima hukum Allah di Gunung Sinai (Rev. Dr. Lawrence Ko)
• 19 Maret – 1 April 2025: Perjalanan Elia selama 40 hari dari Gunung Karmel ke Gunung Horeb (Rev. Dr. Leung Kwok Keung)
• 2 April – 17 April 2025: Yesus selama 40 dicobai (Rev. Dr. Chén Wéi Ān)

Hari ini adalah hari pertama Prapaskah, yang secara tradisional dikenal sebagai Rabu Abu. Selama ibadah Rabu Abu, pendeta akan menggambar salib di dahi kita dengan abu untuk mengingatkan kita bahwa kita adalah debu dan akan kembali menjadi debu.

TUHAN Allah membentuk manusia dari debu tanah, dan menghembuskan napas hidup ke dalam hidungnya. Demikianlah manusia itu menjadi makhluk hidup (Kejadian 2:7).

Manusia sebagai makhluk hidup berarti bahwa manusia diciptakan sama seperti hewan lainnya, bahwa mereka semua adalah makhluk hidup. Itu juga berarti bahwa ketika TUHAN menghembuskan napas ke dalam manusia itu, Ia tidak menghembuskan napas ke dalam jiwa manusia itu, karena napas yang disebutkan bukanlah jiwa, tetapi digunakan untuk mengaktifkan hidup manusia itu. Ternyata debu adalah keadaan manusia sebelum mereka diciptakan. Itu adalah kehampaan dan tidak berharga disebutkan. Sekarang setelah kita memiliki nafas kehidupan, kita seharusnya lebih menyadari hakikat sejati kita sebagai debu. Tanpa pembentukan dan pengaktifan dari Allah, kita adalah hampa, tidak akan menjadi apa-apa. Manusia diciptakan dari debu, yang membuat kita paham bahwa manusia hanyalah salah satu makhluk hidup dan tidak ada perbedaan dalam penciptaan-Nya. Hal ini membuat manusia tidak boleh menyombongkan diri karena kita juga akan kembali menjadi debu seperti makhluk hidup lainnya.

Dengan cucuran keringat engkau akan mencari makan, sampai engkau kembali lagi menjadi tanah, karena dari situlah engkau diambil; sebab engkau debu, engkau akan kembali menjadi debu (Kejadian 3:19).

Ketika manusia berbuat dosa, TUHAN ingin mereka mengingat bahwa mereka hanyalah debu: sebab engkau debu, engkau akan kembali menjadi debu. Mengapa manusia berbuat dosa? Karena manusia ingin menjadi seperti Allah, mengetahui yang baik dan yang jahat (Kejadian 3:4). Dorongan untuk menjadi seperti Allah inilah yang menjadi akar penyebab dosa manusia. Kita sombong dan menganggap diri kita sekuat Allah. Kita berharap dapat mengendalikan segalanya serta mendefinisikan baik dan buruk menurut pilihan kita sendiri. Namun, kita tidak sadar bahwa kita hanyalah debu yang tidak berarti. Semakin banyak orang berbuat dosa, semakin mereka harus mengingat bahwa mereka adalah debu dan mengingat kembali esensi asali mereka. Pada saat yang sama, mereka juga harus tahu bahwa manusia akan selalu kembali menjadi debu. Sederhananya, debu adalah titik awal dan titik akhir kehidupan seseorang. Ini adalah hidup yang hampa, spa yang bisa dibanggakan?

Refleksi:
Rabu Abu menyerukan kita untuk rendah hati, bersyukur, dan takut kepada TUHAN yang membentuk kita.


Renungan Pra-Paskah (Er Dao)

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Pra-Paskah Musa di Gunung Sinai ditulis oleh Rev. Dr. Lawrence Ko (高銘謙) yang dipublikasi pada bulan Maret 2025 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.