Tag Archives: Kitab Keluaran

Keluaran 2:23-4:31 (3)

「Undangan yang mengejutkan (3) – Tuhan dengan penuh perhatian membersihkan keraguan kita」

Oleh Rev. Dr. Chén Chuán Huá (陳傳華)
Alliance Bible Seminary H.K.

(Keluaran 2:23-4:31 [TB2])
3:10 Jadi sekarang, pergilah, Aku mengutus engkau kepada Firaun untuk membawa umat-Ku, orang Israel, keluar dari Mesir. 11 Tetapi, Musa berkata kepada Allah, Siapakah aku ini, sehingga aku yang akan menghadap Firaun dan membawa orang Israel keluar dari Mesir? 12 Lalu firman-Nya, Aku akan menyertai engkau! Inilah tanda bagimu bahwa Aku yang mengutus engkau: Apabila engkau telah membawa bangsa itu keluar dari Mesir, kamu akan beribadah kepada Allah di gunung ini.
13 Lalu Musa menjawab kepada Allah, Namun, apabila aku mendatangi orang Israel dan berkata kepada mereka: Allah nenek moyangmu telah mengutus aku kepadamu, dan mereka bertanya kepadaku: Siapa nama-Nya? Apakah yang harus kujawab kepada mereka? 14 Firman Allah kepada Musa, AKU ADALAH AKU. Lagi firman-Nya, Beginilah kaukatakan kepada orang Israel itu, AKULAH AKU telah mengutus aku kepadamu.
15 Selanjutnya berfirmanlah Allah kepada Musa, Beginilah kaukatakan kepada orang Israel, TUHAN, Allah nenek moyangmu, Allah Abraham, Allah Ishak dan Allah Yakub, telah mengutus aku kepadamu. Itulah nama-Ku untuk selama-lamanya dan dengan itulah Aku dipanggil turun-temurun.
16 Pergilah, kumpulkan para tua-tua Israel dan katakan kepada mereka: TUHAN, Allah nenek moyangmu, Allah Abraham, Ishak, dan Yakub, telah menampakkan diri kepadaku, serta berfirman: Aku sungguh memperhatikan kamu, juga apa yang dilakukan kepadamu di Mesir. 17 Jadi Aku telah berfirman: Aku akan menuntun kamu keluar dari kesengsaraan di Mesir ke negeri orang Kanaan, orang Het, orang Amori, orang Feris, orang Hewi dan orang Yebus, ke suatu negeri yang berlimpah-limpah susu dan madunya. 18 Apabila mereka mendengarkan perkataanmu, engkau beserta tua-tua Israel harus pergi kepada raja Mesir dan berkata kepadanya: TUHAN, Allah orang Ibrani, telah menjumpai kami, Oleh sebab itu, izinkanlah kiranya kami pergi ke padang gurun tiga hari perjalanan jauhnya untuk mempersembahkan kurban kepada TUHAN, Allah kami. 19 Tetapi, Aku tahu bahwa raja Mesir tidak akan membiarkan kamu pergi, kecuali dipaksa oleh tangan yang kuat, 20 Aku akan melayangkan tangan-Ku untuk memukul Mesir dengan segala perbuatan yang ajaib, yang akan Kulakukan di tengahnya. Sesudah itu baru ia akan membiarkan kamu pergi, 21 Aku akan membuat orang Mesir berbaik hati terhadap bangsa ini, sehingga ketika kamu pergi, kamu tidak pergi dengan tangan hampa. 22 Tiap perempuan harus meminta dari tetangganya dan dari perempuan yang menumpang di rumah tetangganya, barang-barang perak dan emas serta kain-kain, yang akan kamu kenakan kepada anak-anakmu lelaki dan perempuan. Demikianlah kamu merampasi orang Mesir.

Bagian kitab suci ini mencatat proses Allah memanggil Musa. Sejak kemarin, kita telah dari berbagai perspektif merenungkan dan menjelajahi kasih abadi Allah, dan empat tanggapan dan keraguan tidak dari Musa terhadap panggilan Allah, yang terdapat dalam Keluaran 3:11, 4:1, 4:10, dan 4:13, terkait kegagalan di masa lalu, hilangnya iman, keraguan tentang kemampuan, dan ambiguitas tentang identitas dan panggilan.

Ketika manusia merasa terancam dan takut, maka manusia akan memilih fight (respon melawan) atau flight (respon melarikan diri), yaitu istilah psikologi yang menggambarkan dua mode respon utama manusia ketika menghadapi ancaman atau bahaya:
Fight (respon melawan): seseorang mungkin memilih untuk menghadapi situasi tersebut secara langsung. Reaksi ini sering kali disertai dengan perubahan fisik, seperti peningkatan denyut jantung dan otot yang tegang, sebagai persiapan menghadapi tantangan.
Flight (respon melarikan diri): seseorang mungkin memilih untuk melarikan diri dari sumber ancaman dan mencari tempat yang aman. Respons ini juga disertai dengan perubahan fisik, seperti peningkatan kewaspadaan dan gerakan cepat.

Selain respons melawan atau melarikan diri, ada mode respons umum lain yang disebut beku (freeze), seseorang memilih untuk tidak bergerak, seolah-olah membeku. Tujuan dari respons ini adalah mencegah agar tidak ketahuan atau diserang.

Di sini, kita punya satu pilihan lagi, yaitu mengikuti (follow), yang berarti mengikuti tuntunan Allah sebelum atau selama melawan, melarikan diri, atau membeku. Hari ini dan besok, kita merenungkan bagaimana Allah dengan penuh perhatian menjawab pertanyaan Musa, dan belajar darinya bersama-sama. Mengikuti tuntunan-Nya dan bertumbuh!

Keraguan Musa 1: Musa berkata kepada Allah, Siapakah aku ini, sehingga aku yang akan menghadap Firaun dan membawa orang Israel keluar dari Mesir? (Kel. 3:11)

Pelajaran 1: Allah akan selalu bersama kita – kita tidak berjuang sendirian
Allah berfirman, Aku akan menyertai engkau! Inilah tanda bagimu bahwa Aku yang mengutus engkau: Apabila engkau telah membawa bangsa itu keluar dari Mesir, kamu akan beribadah kepada Allah di gunung ini. (Kel. 3:12)

Jawaban Allah adalah Aku akan menyertai engkau! Ketika kita menghadapi tantangan dan ancaman dalam hidup saat ini, sering kali ketika takut, ketika membuat keputusan, kita merasa kesepian dan tidak berdaya, tetapi ini salah. Jika kita melakukan kehendak Allah, kita tidak akan berjalan sendiri, tetapi Allah akan berjalan bersama kita, apa yang perlu kita takutkan? Pada saat itu, Allah juga memberi tahu Musa bahwa misinya untuk memimpin orang Israel keluar dari Mesir adalah untuk menyembah Allah, jadi dia tidak melakukannya untuk dirinya sendiri, tetapi untuk Allah, jadi Allah akan bertanggung jawab! Apakah kita masih perlu khawatir?

Pelajaran 2: Allah mengutus orang – ia tidak mewakili dirinya sendiri
Lalu Musa menjawab kepada Allah, Namun, apabila aku mendatangi orang Israel dan berkata kepada mereka: Allah nenek moyangmu telah mengutus aku kepadamu, dan mereka bertanya kepadaku: Siapa nama-Nya? Apakah yang harus kujawab kepada mereka? Firman Allah kepada Musa, AKU ADALAH AKU. Lagi firman-Nya, Beginilah kaukatakan kepada orang Israel itu, AKULAH AKU telah mengutus aku kepadamu. Selanjutnya berfirmanlah Allah kepada Musa, Beginilah kaukatakan kepada orang Israel, TUHAN, Allah nenek moyangmu, Allah Abraham, Allah Ishak dan Allah Yakub, telah mengutus aku kepadamu. Itulah nama-Ku untuk selama-lamanya dan dengan itulah Aku dipanggil turun-temurun (Kel. 3:13-15)

Allah menyertai Musa, tetapi Musa perlu tahu Siapakah Allah? Musa terus bertanya kepada TUHAN siapakah Dia dan siapakah nama-Nya. Nama memiliki makna yang sangat penting, mewakili identitas, hakikat, dan keseluruhan pribadi! Pertanyaan ini menginginkan Allah untuk menyingkapkan keajaiban diri-Nya! Lihat bagaimana Allah memperkenalkan diri-Nya? AKU ADALAH AKU, I am who I am. Dan ayat 15 menjelaskan bahwa Allah adalah Allah yang kekal selamanya. Secara sederhana, di satu sisi, Allah mengemukakan makna tentang bagaimana nama-Nya terkait dengan misi Musa; di sisi lain, siapakah Dia berada di luar pemahaman manusia, Dia selalu ada dan akan ada selamanya! Sama seperti para ilmuwan memperkirakan bahwa alam semesta berusia 13,7 miliar tahun, kita tidak dapat memahami bagaimana alam semesta ada, apalagi Allah di balik penciptaan alam semesta ini? AKU ADALAH AKU sekarang mengutus Musa, jadi Musa tidak mewakili dirinya sendiri, tetapi mewakili Allah yang kekal ini. Apa yang perlu ia takutkan? Manusia hanya dapat hidup paling lama sekitar seratus tahun. Siapakah yang lebih berkuasa dari Allah yang kekal?

Mari kita pikirkan, perusahaan seperti apa yang akan membuat Anda sebagai karyawan akan merasa bangga, aman? Perusahaan Unicorn, perusahaan S&P 500, perusahaan teknologi AI, perusahaan mapan, toko kecil tradisional? Memegang kartu nama perusahaan ini untuk mewakilinya, apakah itu akan membuat Anda merasa berhasil dan memiliki rasa misi? Saat ini, kita semua adalah murid yang memegang kartu nama Kerajaan Allah. Kita seharusnya memiliki rasa aman dan misi yang lebih besar, bukan?

Kita bekerja, mengelola, mendidik anak, dan sebagainya setiap hari. Kita juga diutus oleh Allah dan mewakili Allah. Apakah saya menyadari hal ini? Ketika kita menghadapi kesulitan, kita hanya perlu mengikuti petunjuk Allah, dan kita pasti akan mampu melangkah maju dengan kekuatan.

Mari besok kita terus belajar dari karya perbuatan Allah yang penuh perhatian.

Refleksi:
1. Apa yang diajarkan perikop ini kepada saya?
2. Pertanyaan apa yang saya ingin dapatkan jawabannya dari Allah?
3. Apakah saya merasa tidak sendirian dalam perjuangan saya? Apa arti kehadiran Allah bagi saya?
4. Apakah saya menyadari bahwa saya diutus oleh Allah? Apa artinya ini bagi saya?


Renungan pemahaman Kitab Kejadian – Keluaran

Renungan pemahaman Kitab Kejadian

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain



Renungan untuk Kalangan Kristen.


Keluaran 2:23-4:31 (2)

「Undangan yang mengejutkan (2) – Jujurlah sampaikan kekhawatiran anda, mulailah dari titik tidak mengenal diri sendiri」

Oleh Rev. Dr. Chén Chuán Huá (陳傳華)
Alliance Bible Seminary H.K.

(Keluaran 2:23-4:31 [TB2])
4:1 Lalu sahut Musa, Bagaimana jika mereka tidak percaya kepadaku dan tidak mendengarkan perkataanku, melainkan berkata: TUHAN tidak menampakkan diri kepadamu? 2 TUHAN bertanya kepadanya, Apa yang ada di tanganmu itu? Jawab Musa, Tongkat. 3 Firman TUHAN, Lemparkanlah tongkat itu ke tanah. Ketika Musa melemparkannya ke tanah, tongkat itu menjadi ular, sehingga Musa lari meninggalkannya. 4 Tetapi, firman TUHAN kepada Musa, Ulurkanlah tanganmu dan peganglah ekornya. Lalu Musa mengulurkan tangannya, menangkapnya, dan ular itu menjadi tongkat di tangannya 5 Lakukanlah itu supaya mereka percaya bahwa TUHAN, Allah nenek moyang mereka, Allah Abraham, Allah Ishak dan Allah Yakub telah menampakkan diri kepadamu.
6 Firman TUHAN kepadanya lagi, Masukkanlah tanganmu kembali ke dalam bajumu. Lalu Musa memasukkan tangannya ke dalam bajunya. Setelah menariknya keluar, tangannya kena penyakit kulit, putih seperti salju. 7 Sesudah itu Ia berfirman, Masukkanlah tanganmu kembali ke dalam bajumu. Lalu Musa memasukkan tangannya kembali ke dalam bajunya. Setelah ia menariknya keluar, tangan itu pulih seperti bagian badan yang lain. 8 Jika mereka tidak percaya kepadamu dan tidak menangkap pesan dari mukjizat yang pertama, mereka akan percaya kepada pesan mukjizat yang kedua. 9 Jika mereka tidak juga percaya kepada kedua mukjizat ini dan tidak mendengarkan perkataanmu, engkau harus mengambil air dari Sungai Nil dan mencurahkannya di tanah yang kering. Air yang kauambil itu akan menjadi darah di tanah yang kering itu.
10 Lalu Musa berkata kepada TUHAN, Maaf, Tuhan, dari dahulu, maupun sejak Engkau berfirman kepada hamba-Mu ini, aku bukan orang yang pandai bicara, sebab aku berat lidah, tidak lancar berbicara. 11 Tetapi, TUHAN berfirman kepadanya, Siapakah yang membuat lidah manusia, siapakah yang membuat orang bisu atau tuli, membuat orang melihat atau buta; bukankah Aku, yakni TUHAN? 12 Oleh sebab itu, pergilah, Aku akan menolong lidahmu berbicara dan mengajarkan apa yang harus kaukatakan.
13 Namun, Musa berkata, Maaf, Tuhan, utuslah kiranya siapa saja yang akan Kauutus.

Bagian kitab suci ini mencatat proses Allah memanggil Musa. Sejak kemarin, kita telah melihat dari berbagai perspektif untuk merenungkan kasih abadi Allah. Hari ini, mari kita menjelajahi respons Musa terhadap panggilan Allah dan dari antaranya kita belajar serta bertumbuh bersama!

Dua hari yang lalu telah disebutkan bahwa hidup tidak selalu mulus! Menang di garis start tidak berarti berkemenangan dalam hidup. Sebaliknya, kegagalan membawa pertumbuhan dan refleksi, yang tidak dapat dipelajari dari latar belakang keluarga terkemuka, universitas bergengsi, uang, atau keberuntungan. Kegagalan membuat orang menjadi orang yang lebih baik dan pemimpin yang lebih baik! Kesabaran dan kegagalan adalah elemen yang diperlukan untuk membekali seorang pemimpin!

Orang hanya tumbuh di luar zona nyaman mereka! (Rick Warren)

Setelah empat puluh tahun masa pengasingan, Allah menampakkan diri kepada Musa, sang pemimpin masa depan. Allah menegaskan kembali bahwa Ia tidak melupakan kesulitan dan penderitaan umat Allah, perjanjian dan janji-janji yang telah Ia buat, dan memberi manusia sebuah visi dan harapan, dan secara bertahap memberitahu rencana yang jelas kepada Musa. Allah hanya sedang menunggu orang yang tepat – orang yang matang, cakap, dan pemimpin, dan orang ini akhirnya muncul setelah ditempa! Jadi, Allah memanggil Musa untuk membebaskan orang Israel melalui sebuah penglihatan khusus dan mengutusnya untuk menemui Firaun dan tua-tua Israel. Bagaimana Musa, yang telah ditempa, menanggapi panggilan Allah?

Empat kali berturut-turut Musa menjawab tidak!
• Tetapi, Musa berkata kepada Allah, Siapakah aku ini, sehingga aku yang akan menghadap Firaun dan membawa orang Israel keluar dari Mesir? (Kel. 3:11)
• Lalu sahut Musa, Bagaimana jika mereka tidak percaya kepadaku dan tidak mendengarkan perkataanku, melainkan berkata: TUHAN tidak menampakkan diri kepadamu?』」 (Kel. 4:1)
• Lalu Musa berkata kepada TUHAN, Maaf, Tuhan, dari dahulu, maupun sejak Engkau berfirman kepada hamba-Mu ini, aku bukan orang yang pandai bicara, sebab aku berat lidah, tidak lancar berbicara. (Kel. 4:10)
• Namun, Musa berkata, Maaf, Tuhan, utuslah kiranya siapa saja yang akan Kauutus. (Kel. 4:13)

Pembentukan seorang pemimpin memerlukan sebuah proses. Jawaban Musa di sini mencakup dua aspek dan dua pelajaran:

Pelajaran 1: utarakan kekhawatiran dan rasa sakit Anda dengan jujur
Dua alasan dan kekhawatiran Musa yang pertama berkaitan erat dengan luka masa lalunya dan merupakan akibat dari pengalaman pahit. Saat itu dia membunuh seorang Mesir karena ketidakadilannya dan diburu oleh Firaun, lalu dia melarikan diri. Hari ini, dia kembali untuk berbicara dengan Firaun yang baru, atas dasar otoritas apa? Apakah dia akan dimintai pertanggungjawaban atas masa lalu? Bahkan jikalaupun dia tidak dimintai pertanggungjawaban, sebagai seorang gembala kecil, apa haknya untuk berbicara dengan kepala negara terbesar saat itu?

Pada hari itu Musa telah berusaha menegakkan keadilan bagi orang Israel, tetapi mereka menolaknya. Mereka tidak menerima bahwa Musa telah menyelesaikan masalah itu bagi mereka dan mempertanyakan atas dasar apa ia melakukannya. Sekarang tanpa malu ia mengajukan diri untuk berperan sebagai wakil mereka, bukankah itu sebuah lelucon bagi dirinya sendiri? Bagaimana orang Israel dapat percaya bahwa Musa mewakili Allah dan adalah pemimpin mereka?

Sebagai seorang pemimpin atau siapa pun, kita perlu melihat kembali ke masa lalu dan mengatasi masa lalu kita. Untuk memulai babak baru, kita tidak boleh terkungkung oleh masa lalu kita! Masa lalu yang menyakitkan sering kali tidak terlihat, dan kita mutlak perlu mengatasi dan dapat dilampaui!

Pelajaran 2: dari tidak mengenal diri sendiri hingga mulai mengenal diri sendiri
Dua alasan penolakan Musa berikutnya adalah karena kesalahpahaman dirinya terhadap telenta, karunia, identitas, dan panggilannya.

1. Apakah ia memang tidak pandai berbicara dan tidak dapat menyampaikan pesan Allah dengan jelas? Atau ia tidak mengenal dirinya sendiri dengan baik? Ataukah ia hanya alasan untuk mengelak? Tampaknya Musa kurang mengenal talenta, karunia, kemampuan, dan karakternya, dsb., atau ia telah melupakannya karena sudah lama tidak digunakan, atau ia tidak mau menggunakannya lagi atau mengambil risiko lagi. Puji Tuhan, Allah lebih mengenal diri kita daripada kita sendiri!

Bukankah kita sering mengalami hal ini? Kita tidak mengenal diri kita sendiri dengan baik! Marilah kita menemukan kembali diri kita melalui Tuhan!

2. Dia tidak begitu tahu siapa dirinya dan apa yang harus dia lakukan, tetapi kita melihat kelak Musa menjalankan panggilannya dengan trampil sepenuhnya! Jadi kita memahami bahwa pada saat itu dia juga tidak benar-benar tahu siapa dirinya.

Kita mungkin juga seperti ini. Terkadang kita harus dengan berani mengambil langkah pertama untuk mengetahui siapa diri kita! Faktanya, banyak orang perlu mengenal diri mereka sendiri selangkah demi selangkah, dan pada akhirnya mereka akan terkejut bahwa mereka dapat mencapai banyak hal yang tidak pernah mereka pikirkan.

Saudara-saudari, sesungguhnya kita memiliki banyak kemungkinan yang belum kita temukan. Marilah kita membuka diri dan selangkah demi selangkah mengenal diri kita sendiri!

Refleksi:
1. Apa yang diajarkan perikop ini kepada saya?
2. Apa saja luka di masa lalu yang menghambat saya? Bagaimana saya bisa melanjutkan hidup? Bagaimana Allah dapat menolong saya? Siapa yang dapat menolong saya?
3. Apakah saya tahu apa saja talenta, karunia, dan kemampuan yang saya miliki?
4. Apakah saya tahu siapa saya? Apakah saya tahu panggilan Tuhan kepada saya?


Renungan pemahaman Kitab Kejadian – Keluaran

Renungan pemahaman Kitab Kejadian

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain



Renungan untuk Kalangan Kristen.


Keluaran 2:23-4:31 (1)

「Undangan yang mengejutkan (1) – Kasih TUHAN tidak pernah berubah」

Oleh Rev. Dr. Chén Chuán Huá (陳傳華)
Alliance Bible Seminary H.K.

(Keluaran 2:23-4:31 [TB2])
23 Lama sesudah itu matilah raja Mesir, tetapi orang Israel masih mengeluh karena perbudakan. Mereka berseru-seru karena perbudakan itu dan teriakan mereka minta tolong sampai kepada Allah. 24 Allah mendengar rintihan mereka, lalu Ia mengingat perjanjian-Nya dengan Abraham, Ishak dan Yakub. 25 Lalu Allah memperhatikan orang Israel dan mempedulikan mereka.

Perikop 2:23 – 4:31 menggambarkan proses Allah memanggil Musa. Kita akan merenungkan terang yang ada di dalamnya dari berbagai perspektif di beberapa hari ke depan. Hari ini, mari kita menjelajahi kasih kekal Allah. Mari kita belajar dan bertumbuh bersama!

Setelah Musa ditempa selama 40 tahun di pengasingan, panggilan Allah datang kembali. Kasih Allah terus berlanjut! Hari ini, mari kita pikirkan isi dari perhatian dan pemeliharaan-Nya dalam bagian ini dan menjelajahi karakteristik Allah:

Lama sesudah itu matilah raja Mesir, tetapi orang Israel masih mengeluh karena perbudakan. Mereka berseru-seru karena perbudakan itu dan teriakan mereka minta tolong sampai kepada Allah. Allah mendengar rintihan mereka, lalu Ia mengingat perjanjian-Nya dengan Abraham, Ishak dan Yakub. Lalu Allah memperhatikan orang Israel dan mempedulikan mereka (Kel. 2:23-25)

Pelajaran 1: Allah tidak melupakan penderitaan manusia
TUHAN mendengar jeritan manusia! Bangsa Israel telah menderita selama puluhan tahun, dan Ia tidak pernah melupakan atau mengabaikan mereka. Ketika Musa sudah dewasa, Allah bertindak. Intinya, ketika kita menderita, jangan berpikir bahwa Allah tidak dapat melihat atau mengabaikan kita, hanya saja waktunya belum tiba!

Pelajaran 2: Allah tidak melupakan perjanjian dan janji-Nya
TUHAN tidak melupakan perjanjian dan janji yang dibuat-Nya dengan para leluhur Israel ratusan tahun yang lalu. Di sini, Dia menegaskan kembali bahwa kasih-Nya akan bertahan selamanya. Bangsa Israel dipenjara dalam perbudakan dan tidak mampu menyelamatkan diri mereka sendiri. Mereka membutuhkan campur tangan TUHAN secara supranatural untuk menyelamatkan dan membebaskan mereka sehingga mereka dapat memiliki kehidupan baru.

Saat ini, manusia juga dipenjara dalam perbudakan dan ikatan dosa, tidak mampu menyelamatkan diri sendiri dan menjalani hidup baru. Dalam menghadapi perbudakan dosa, Allah tidak melupakan kita. Ia telah campur tangan secara supranatural untuk menyelamatkan kita, dan telah memberikan kita kasih karunia dan keselamatan melalui Anak-Nya Yesus. Seperti yang dijelaskan Karl Barth, Allah menyatakan kemuliaan-Nya sendiri dalam inkarnasi Anak-Nya, Firman menjelma menjadi manusia, menanggung kebutuhan dunia yang sangat mendesak, menanggung apa yang tidak dapat dilakukan dunia, Ia menghentikan manusia berjalan menuju jurang dan membalikkan lintasan jatuhnya manusia ke dalam jurang. Keselamatan dari Yesus mendatangkan bagi kita perjanjian dan janji baru, dan kita dapat memperoleh hidup yang berkelimpahan. Itu benar-benar terjadi secara nyata!

Musa menggembalakan kambing domba Yitro, mertuanya, imam di Midian. Ketika ia menggiring kambing domba itu ke seberang padang gurun, sampailah ia ke Horeb, gunung Allah. Lalu Malaikat TUHAN menampakkan diri kepadanya di dalam nyala api yang keluar dari semak duri. Ketika ia melihatnya, tampaklah semak duri itu menyala, tetapi tidak terbakar. Musa berkata, Baiklah aku membelok ke sana untuk memeriksa penglihatan yang hebat itu. Mengapa semak duri itu tidak terbakar? Ketika TUHAN melihat Musa membelok untuk memeriksanya, berserulah Allah dari tengah semak duri itu kepadanya, Musa, Musa! dan ia menjawab: Ya, ini aku. Lalu Ia berfirman, Jangan mendekat: Lepaskanlah kasutmu, sebab tempat engkau berdiri itu adalah tanah yang kudus.』」 (Kel. 3:1-5)

Pelajaran 3: Allah menggunakan metode khusus untuk membuat orang mengerti
Adegan yang menakjubkan ini terjadi di tengah-tengah pekerjaan Musa sehari-hari. Ini adalah tanda penting dari campur tangan transenden Allah di dunia manusia yang tidak dapat diabaikan. Allah bukan saja tidak melupakan kasih-Nya bagi kita, tetapi Dia juga memberi kita tanda kasih karunia yang tidak akan pernah kita lupakan. Apakah saya pernah mengalami tanda dari Allah yang tidak akan pernah saya lupakan?

TUHAN berfirman lagi, Akulah Allah bapa leluhurmu, Allah Abraham, Allah Ishak dan Allah Yakub. Lalu Musa menutupi mukanya, sebab ia takut memandang Allah. TUHAN berfirman, Sungguh Aku telah memperhatikan kesengsaraan umat-Ku di tanah Mesir. Aku telah mendengar teriakan mereka yang disebabkan oleh pengawas kerja paksa mereka. Sesungguhnya Aku mengetahui penderitaan mereka. Sebab itu, Aku turun untuk melepaskan mereka dari tangan orang Mesir dan menuntun mereka keluar dari negeri itu ke suatu negeri yang baik dan luas, suatu negeri yang berlimpah-limpah susu dan madunya, ke tempat orang Kanaan, orang Het, orang Amori, orang Feris, orang Hewi dan orang Yebus. Sekarang teriakan orang Israel sampai kepada-Ku. Aku melihat juga betapa kerasnya orang Mesir menindas mereka. Jadi sekarang, pergilah, Aku mengutus engkau kepada Firaun untuk membawa umat-Ku, orang Israel, keluar dari Mesir.』」 (Kel. 3:6-10)

Pelajaran 4: Allah memberikan visi dan pengharapan
TUHAN memanggil Musa untuk membebaskan orang Israel, dan sebelum mengutusnya untuk menemui Firaun, Dia memberinya keyakinan, visi, dan harapan yang cukup. Ini adalah pertama kalinya Allah menyebutkan tempat seperti apa yang akan dituju orang Israel, tanah yang berlimpah susu dan madu, yang memungkinkan Musa untuk maju dengan kekuatan, sehingga Musa tahu bahwa dia memiliki bagian, karena Musa adalah bagian dari orang Israel!

Pergilah, kumpulkan para tua-tua Israel dan katakan kepada mereka: TUHAN, Allah nenek moyangmu, Allah Abraham, Ishak, dan Yakub, telah menampakkan diri kepadaku, serta berfirman: Aku sungguh memperhatikan kamu, juga apa yang dilakukan kepadamu di Mesir. Jadi Aku telah berfirman: Aku akan menuntun kamu keluar dari kesengsaraan di Mesir ke negeri orang Kanaan, orang Het, orang Amori, orang Feris, orang Hewi dan orang Yebus, ke suatu negeri yang berlimpah-limpah susu dan madunya』」 (Kel. 3:16-17)

Pelajaran 5: Allah memberikan rencana yang jelas langkah demi langkah
TUHAN memberikan langkah-langkah kepada Musa tentang cara menyampaikan pesan ini kepada para pemimpin Israel, dan mengulangi bahwa Ia mendengar seruan umat itu dan akan menyelamatkan mereka, serta menyebutkan lagi bahwa tempat yang akan mereka tuju adalah suatu negeri yang berlimpah susu dan madu, memberi waktu kepada umat untuk memahami dan mencernanya. Tahukah Anda? Negeri yang berlimpah susu dan madu yang dijanjikan lebih dari 3.000 tahun yang lalu itu juga sedang terwujud saat ini, yaitu Israel saat ini! Menakjubkan, bukan? Siapakah yang dapat menubuatkan suatu peristiwa dan mewujudkannya lebih dari 3.000 tahun kemudian? Apa yang Anda tunggu untuk digenapi Tuhan? Jangan buru-buru, perlu sabar, rencana itu akan terungkap selangkah demi selangkah!

Refleksi:
1. Apa yang diajarkan perikop ini kepada saya?
2. Bagaimana Tuhan menampakkan diri kepada manusia saat ini?
3. Tuhan seperti apa yang saya pahami dan saya kenal?
4. Bagi saya, apakah Tuhan adalah Tuhan yang penuh kasih sayang, yang menepati perjanjian?
5. Bagaimana saya mengalami campur tangan supranatural Tuhan untuk menyelamatkan hidup saya?


Renungan pemahaman Kitab Kejadian – Keluaran

Renungan pemahaman Kitab Kejadian

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain



Renungan untuk Kalangan Kristen.


Keluaran 2:11-22

「Kegagalan adalah jalan menuju pertumbuhan dan keberhasilan」

Oleh Rev. Dr. Chén Chuán Huá (陳傳華)
Alliance Bible Seminary H.K.

(Keluaran 2:11-22 [TB2])
11 Suatu hari ketika Musa telah dewasa, ia keluar menjumpai saudara-saudaranya untuk melihat kerja paksa mereka. Lalu ia melihat seorang Mesir memukul seorang Ibrani, seorang dari saudara-saudaranya itu. 12 Ia menoleh ke sana sini dan ketika ia melihat tidak ada orang, ia membunuh orang Mesir itu dan menyembunyikan mayatnya dalam pasir. 13 Ketika keesokan harinya ia keluar lagi, ia mendapati dua orang Ibrani tengah berkelahi. Ia bertanya kepada yang bersalah, Mengapa engkau memukul temanmu? 14 Tetapi, ia menjawab, Siapakah yang mengangkat engkau menjadi pemimpin dan hakim atas kami? Apakah engkau bermaksud membunuh aku, sama seperti engkau telah membunuh orang Mesir itu? Musa menjadi takut, sebab pikirnya, Kejadian itu tentu telah ketahuan. 15 Ketika Firaun mendengar tentang kejadian itu, ia berupaya untuk membunuh Musa. Tetapi, Musa melarikan diri dari Firaun dan tiba di tanah Midian, lalu ia duduk-duduk di tepi sebuah sumur. 16 Imam di Midian itu mempunyai tujuh anak perempuan. Mereka datang menimba air dan mengisi palungan-palungan untuk memberi minum kambing domba ayah mereka. 17 Lalu datanglah gembala-gembala yang mengusir mereka, tetapi Musa bangkit menolong mereka dan memberi minum kambing domba mereka. 18 Ketika mereka sampai kepada Rehuel, ayah mereka, berkatalah ia, Mengapa sesegera itu kamu pulang hari ini? 19 Jawab mereka, Seorang Mesir menolong kami terhadap gembala-gembala, bahkan menimba banyak air untuk kami dan memberi minum kambing domba. 20 Ia berkata kepada anak-anaknya, Di manakah dia? Mengapakah kamu meninggalkan orang itu? Undanglah dia makan. 21 Musa bersedia tinggal di rumah itu, lalu Rehuel menikahkan Zipora, anaknya, dengan Musa. 22 Perempuan itu melahirkan seorang anak laki-laki, lalu Musa menamainya Gersom, sebab katanya, Aku telah menjadi seorang pendatang di negeri asing.

Kemarin kita berbicara tentang bagaimana Allah menggunakan orang-orang yang berstatus rendah untuk menghancurkan rencana kekuatan jahat, dan menggunakan anggota dari keluarga yang memiliki kekuatan jahat untuk melawan kekuatan jahat. Setelah Musa disusui oleh ibunya sampai disapih, ia bertumbuh dewasa di istana Mesir. Dengan darah dan rasa kebangsaan orang Israel, ia memasuki negara terbesar pada waktu itu untuk menerima berbagai pendidikan, hidup dalam budaya dan kepercayaan mereka, mempelajari metode kepemimpinan dan manajemen terbaik. Pada waktu itu, kekuatan nasional Mesir, bangunan-bangunan, dan manajemen nasional semuanya berkelas dunia. Bayangkan hidup dan tumbuh di pemerintahan teratas negara terbesar saat ini, dan belajar di universitas-universitas terbaik dunia! Beginilah cara Musa menjadi seorang pemimpin dengan pengetahuan, kekuasaan, kemampuan merencanakan, dll. Apa yang terjadi selanjutnya? Dengan latar belakang dan pelatihan seperti itu, apakah ia memiliki perjalanan yang mulus? Mari kita lihat.

Suatu hari ketika Musa telah dewasa, ia keluar menjumpai saudara-saudaranya untuk melihat kerja paksa mereka. Lalu ia melihat seorang Mesir memukul seorang Ibrani, seorang dari saudara-saudaranya itu. Ia menoleh ke sana sini dan ketika ia melihat tidak ada orang, ia membunuh orang Mesir itu dan menyembunyikan mayatnya dalam pasir (Kel. 2:11-12)

Apa yang kita lihat? Meskipun Musa tumbuh di Mesir dan menjadi pangeran Mesir, ia kembali ke saudara-saudaranya untuk melihat situasi mereka, yang menunjukkan bahwa ia masih memiliki akar Israel. Ketika ia melihat bangsanya sendiri ditindas, ia menegakkan keadilan, melaksanakan penghakimannya sendiri, dan membunuh orang Mesir itu.

Itulah hasratnya untuk menegakkan keadilan, dan itu juga merupakan penegakkan atas ketidakadilan yang telah ia sembunyikan di dalam hatinya selama bertahun-tahun. Ia melihat rakyatnya menderita selama empat puluh tahun, dan banyak bayi yang tidak berdaya dibunuh tanpa alasan. Ketika ia menjalankan keputusannya sendiri, ia menoleh ke kiri dan ke kanan, kita mengerti bahwa ia juga berjuang dalam ketakutan!

Di satu sisi, ia menunjukkan semangat dan keadilannya dengan menjalankan penilaiannya sendiri dengan cara ini. Di sisi lain, ia harus berpikir hati-hati tentang apakah motif yang benar ini identik sama dengan waktu yang tepat. Apakah itu pendekatan yang matang saat ini? Otoritas apa yang ia miliki untuk melakukannya?

Apa hasilnya?
Ketika keesokan harinya ia keluar lagi, ia mendapati dua orang Ibrani tengah berkelahi. Ia bertanya kepada yang bersalah, Mengapa engkau memukul temanmu? Tetapi, ia menjawab, Siapakah yang mengangkat engkau menjadi pemimpin dan hakim atas kami? Apakah engkau bermaksud membunuh aku, sama seperti engkau telah membunuh orang Mesir itu? Musa menjadi takut, sebab pikirnya, Kejadian itu tentu telah ketahuan. Ketika Firaun mendengar tentang kejadian itu, ia berupaya untuk membunuh Musa. Tetapi, Musa melarikan diri dari Firaun dan tiba di tanah Midian, lalu ia duduk-duduk di tepi sebuah sumur (Kel. 2:13-15)

Pelajaran 1: Bersiap untuk kegagalan
Akibatnya, ia bukanlah orang yang diterima dengan baik di kedua pihak tersebut! Ia pikir ia tidak akan terlihat orang, tetapi ia terlihat, tidak diterima oleh orang-orangnya sendiri, dan diburu oleh istana di mana ia dibesarkan! Hal ini membuatnya frustrasi, takut, dan terluka, dan ia tidak punya pilihan selain pergi melarikan diri! Kegagalan adalah bagian dari kehidupan dan bagian dari elemen kesuksesan, kegagalan memungkinkan kita untuk belajar mengenal diri sendiri, belajar menerima diri sendiri, belajar untuk maju, dan belajar untuk menunggu terobosan.

Kemudian?
Imam di Midian itu mempunyai tujuh anak perempuan. Mereka datang menimba air dan mengisi palungan-palungan untuk memberi minum kambing domba ayah mereka. Lalu datanglah gembala-gembala yang mengusir mereka, tetapi Musa bangkit menolong mereka dan memberi minum kambing domba mereka (Kel. 2:16-17)

Di mana pun Musa berada, rasa keadilannya ada di sana. Para gembala sering menindas para wanita. Ketika mereka bekerja keras untuk mengambil air, para gembala akan datang dan mengambil air serta menikmati hasil kerja keras mereka. Namun, Musa melakukan hal yang sebaliknya, membela wanita yang belum pernah ditemuinya. Itulah diri Musa.

Keadaan mungkin mengecewakan kita, tetapi sifat baik dan antusiasme kita tidak boleh padam! Setiap orang harus ingat bahwa kita mungkin telah melakukan sesuatu yang tidak matang atau prematur pada tahap kehidupan tertentu, yang mungkin telah membawa kita pada pukulan berat, tetapi jangan kehilangan antusiasme dan arah Anda!

Ketika mereka sampai kepada Rehuel, ayah mereka, berkatalah ia, Mengapa sesegera itu kamu pulang hari ini? Jawab mereka, Seorang Mesir menolong kami terhadap gembala-gembala, bahkan menimba banyak air untuk kami dan memberi minum kambing domba. Ia berkata kepada anak-anaknya, Di manakah dia? Mengapakah kamu meninggalkan orang itu? Undanglah dia makan. Musa bersedia tinggal di rumah itu, lalu Rehuel menikahkan Zipora, anaknya, dengan Musa. Perempuan itu melahirkan seorang anak laki-laki, lalu Musa menamainya Gersom, sebab katanya, Aku telah menjadi seorang pendatang di negeri asing. (Kel. 2:18-22)

Pelajaran 2: Sadar akan manfaat dari kegagalan
Hasilnya, tindakannya yang benar memberinya rumah saat dia diasingkan! Jika dia tidak melanjutkan semangat untuk menegakkan keadilan bagi orang lain, dia tidak akan mendapatkan dukungan ini. Bagaimana menurut Anda? Hidup tidak selalu berjalan mulus! Menang di garis mulai tidak berarti kemenangan dalam hidup. Sebaliknya, kegagalan membawa pertumbuhan, refleksi, dan kerendahan hati! Pengalaman semacam ini yang membentuk pemimpin tidak dapat dipelajari dari latar belakang keluarga terkemuka, universitas bergengsi, uang, atau keberuntungan. Kegagalan akan membuat orang menjadi pemimpin yang lebih baik! Tempaan dan kegagalan adalah elemen yang tidak dapat dihindari dalam memperlengkapi seorang pemimpin! Apakah kita melihatnya? Apakah kita memahaminya?

Semua ini ada dalam perhitungan Allah!

Kegagalan, kegagalan yang berulang, adalah rambu jalan menuju prestasi. Kegagalan seseorang adalah langkah menuju kesuksesan. (Lewis)

Refleksi:
1. Apa yang diajarkan perikop ini kepada saya?
2. Apakah saya mengenal diri saya sendiri? Apa gairah hidup saya? Semangat seperti apa yang ada di hati saya?
3. Kemunduran dan luka ekstrem apa yang pernah saya hadapi? Apa yang telah saya pelajari dan bertumbuh?


Renungan pemahaman Kitab Kejadian – Keluaran

Renungan pemahaman Kitab Kejadian

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain



Renungan untuk Kalangan Kristen.


Keluaran 1:22-2:10

「Dalam kegelapan melihat perlindungan Allah (2) – Jejak tangan Allah」

Oleh Rev. Dr. Chén Chuán Huá (陳傳華)
Alliance Bible Seminary H.K.

(Keluaran 1:22-2:10 [TB2])
1:22 Lalu Firaun memberi perintah kepada seluruh rakyatnya, Lemparkanlah semua anak laki-laki yang lahir bagi orang Ibrani ke dalam Sungai Nil; tetapi semua anak perempuan biarkanlah hidup.
2:1 Seorang laki-laki dari keluarga Lewi memperistri dengan seorang perempuan Lewi. 2 Lalu perempuan itu mengandung dan melahirkan seorang bayi laki-laki. Ketika ia melihat betapa eloknya bayi itu, disembunyikannya tiga bulan lamanya. 3 Tetapi, ketika ia tidak dapat menyembunyikannya lebih lama lagi, ia mengambil sebuah peti pandan dan merekatkannya dengan gala-gala dan tér, lalu meletakkan bayi itu di dalamnya dan menaruh peti itu di tengah-tengah gelagah di tepi Sungai Nil. 4 Kakaknya berdiri di tempat yang agak jauh untuk melihat apa yang akan terjadi dengan dia.
5 Lalu datanglah putri Firaun untuk mandi di sungai Nil, sementara dayang-dayangnya berjalan-jalan di tepi sungai itu. Ia melihat peti yang di tengah-tengah gelagah itu dan menyuruh hambanya perempuan untuk mengambilnya. 6 Ketika ia membukanya dan melihat bayi itu, tampaklah bayi laki-laki yang sedang menangis. Ia merasa kasihan kepadanya dan berkata, Tentulah ini salah satu bayi orang Ibrani.
7 Lalu bertanyalah kakak anak itu kepada putri Firaun, Perlukah aku pergi memanggil seorang ibu penyusu dari antara orang Ibrani untuk menyusukan bayi itu bagi tuan putri? 8 Sahut putri Firaun kepadanya, Pergilah. Lalu gadis itu pergi memanggil ibu bayi itu. 9 Berkatalah putri Firaun kepada ibu itu, Bawalah bayi ini dan susuilah dia bagiku. Aku akan memberi upah kepadamu. Kemudian perempuan itu mengambil bayi itu dan menyusuinya. 10 Ketika anak itu telah besar, ia membawanya kepada putri Firaun, yang mengangkatnya menjadi anaknya. Ia menamainya Musa, katanya, Karena aku telah menariknya dari air.

Kemarin kita telah melihat bahwa raja Mesir menggunakan dua taktik pertama dari dekrit kerajaan: membuat orang Israel menderita dan memerintahkan para bidan untuk membunuh bayi laki-laki, tetapi metode-metode untuk menekan orang Israel ini tidak efektif, dan mereka justru semakin berkembang pesat.

Kemarin, kita belajar:
Pelajaran 1: Melihat bahwa penderitaan manusia tidak sebesar perlindungan Allah
Pelajaran 2: Ada orang-orang Allah di zaman kegelapan
Pelajaran 3: Tahu kapan harus mengatakan apa

Hari ini kita akan melihat dekrit ketiga raja Mesir: seluruh rakyat Mesir turun tangan, yang memerintahkan seluruh bangsa Mesir untuk membunuh bayi laki-laki Israel, dan membunuh mereka jika mereka melihatnya! Anda dapat membayangkan betapa sedihnya para orang tua Israel! Firaun memberi perintah kepada seluruh rakyatnya, Lemparkanlah semua anak laki-laki yang lahir bagi orang Ibrani ke dalam Sungai Nil; tetapi semua anak perempuan biarkanlah hidup. (Kel. 1:22)

Apakah Anda melihat betapa takutnya Firaun? Orang-orang yang berkuasa bukankah seharusnya tidak perlu takut, tetapi mereka takut pada sekelompok orang yang tidak berdaya! Namun, keselamatan Allah tidak akan hancur karena kejahatan manusia.

Seorang laki-laki dari keluarga Lewi memperistri dengan seorang perempuan Lewi. Lalu perempuan itu mengandung dan melahirkan seorang bayi laki-laki. Ketika ia melihat betapa eloknya bayi itu, disembunyikannya tiga bulan lamanya. Tetapi, ketika ia tidak dapat menyembunyikannya lebih lama lagi, ia mengambil sebuah peti pandan dan merekatkannya dengan gala-gala dan tér, lalu meletakkan bayi itu di dalamnya dan menaruh peti itu di tengah-tengah gelagah di tepi Sungai Nil. Kakaknya berdiri di tempat yang agak jauh untuk melihat apa yang akan terjadi dengan dia (Kel. 2:1-4)

Pelajaran 4: Lakukan apa yang bisa dilakukan sebagai manusia
Ketika orang menghadapi dilema ini, mereka seharusnya tidak panik, tetapi menghadapinya dengan tenang dan melihat apa yang dapat mereka lakukan. Sekalipun mereka tidak dapat berbuat banyak, mereka harus melakukannya. Wanita itu melahirkan seorang anak laki-laki dan enggan meninggalkannya. Namun, menghadapi perintah raja, sang ibu hanya bisa menyembunyikannya selama yang dia bisa dan melakukan sebanyak yang dia bisa. Bayi itu akan menangis, jadi dia tidak bisa menyembunyikannya lama-lama, jadi dia mengambil sebuah peti yang terbuat dari rumput gelagah, meletakkan anak itu di dalamnya, dan meletakkan kotak itu di Sungai Nil. Apakah peti rumput gelagah ini aman? Kata asli untuk peti itu sama dengan kata Bahtera Nuh (תֵּבָה). Saat itu, Nuh menghabiskan 100 tahun membangun bahtera, yang menjadi keselamatan keluarga dan hewan-hewan untuk menghindari banjir 150 hari. Bahtera Musa mungkin tampak seperti lelucon bagi orang-orang, tetapi bahtera itu juga dilindungi oleh Allah. Setelah melakukan tugasnya, ia melepaskan tangan darinya, bahtera itu dilepaskan di air, ibu Musa hendak melepaskan tangannya, jadi dia meminta saudara perempuan Musa untuk memperhatikan dari kejauhan.

Lalu datanglah putri Firaun untuk mandi di sungai Nil, sementara dayang-dayangnya berjalan-jalan di tepi sungai itu. Ia melihat peti yang di tengah-tengah gelagah itu dan menyuruh hambanya perempuan untuk mengambilnya. Ketika ia membukanya dan melihat bayi itu, tampaklah bayi laki-laki yang sedang menangis. Ia merasa kasihan kepadanya dan berkata, Tentulah ini salah satu bayi orang Ibrani. Lalu bertanyalah kakak anak itu kepada putri Firaun, Perlukah aku pergi memanggil seorang ibu penyusu dari antara orang Ibrani untuk menyusukan bayi itu bagi tuan putri? Sahut putri Firaun kepadanya, Pergilah. Lalu gadis itu pergi memanggil ibu bayi itu. Berkatalah putri Firaun kepada ibu itu, Bawalah bayi ini dan susuilah dia bagiku. Aku akan memberi upah kepadamu. Kemudian perempuan itu mengambil bayi itu dan menyusuinya. Ketika anak itu telah besar, ia membawanya kepada putri Firaun, yang mengangkatnya menjadi anaknya. Ia menamainya Musa, katanya, Karena aku telah menariknya dari air.』」

Pelajaran 5: Menunggu Allah melakukan apa yang tidak dapat dilakukan manusia
Pada saat itu, putri Firaun datang ke sungai untuk mandi. Ia melihat kotak itu, jadi ia membukanya dan melihat anak itu. Anak itu menangis, dan ia merasa kasihan kepadanya. Kapan putri Firaun datang ke sungai untuk mandi? Di mana ia mandi? Dengan siapa ia mandi? Ketika ia melihat anak itu, apakah ia akan membunuhnya karena kebencian atau menyelamatkannya karena belas kasihan? Ini bukanlah sesuatu yang dapat dikendalikan atau diprediksi oleh manusia. Hanya Allah yang tahu dan dapat melakukannya. Allah melakukan apa yang tidak dapat dilakukan oleh manusia. Namun jika manusia tidak melakukan bagian yang sepatutnya dilakukan oleh manusia, peristiwa bahwa putri Firaun mandi dan melihat bayi itu tidak akan terjadi. Kakak perempuan anak itu sangat cerdas. Ia segera memanfaatkan kesempatan itu dan juga memperjuangkan kesempatan bagi ibunya untuk menyusui anaknya sendiri!

Pelajaran 6: Kagumi keajaiban Allah
• Allah memilih orang-orang yang lemah: Negara yang begitu kuat dan Firaun, di Mesir, Firaun seolah-olah setara dengan Allah, tetapi semua rencana itu dihancurkan oleh wanita-wanita yang paling tidak berdaya dan lemah saat itu: dua bidan, ibu Ibrani yang melahirkan, ibu Musa, saudara perempuan Musa dan putri Firaun. Semua wanita diam-diam tidak menaati perintah raja, dan putri Firaun tidak menaatinya dengan lebih terang-terangan! Ironi!

• Rencana Allah sungguh luar biasa: Allah memilih seorang bayi yang lemah dan tidak berdaya bernama Musa untuk dilahirkan. Kemudian, Musa akan tumbuh besar melalui sistem dan lembaga yang awalnya merugikan manusia, dan kemudian ia akan menghancurkan sistem dan lembaga ini: Dan Musa dididik dalam segala hikmat orang Mesir, dan ia berkuasa dalam perkataan dan perbuatannya (Kisah Para Rasul 7:22)

• Bukan dengan senjata super, tetapi dengan alat yang rapuh untuk melancarkan serangan balik yang dahsyat: menggunakan tanaman alang-alang, kotak, bayi, sungai, tangisan … untuk lolos dari pembantaian Mesir.

• Masalahnya tidak terpecahkan di medan perang, tetapi di tempat mandi besar, tempat masalah terpecahkan bukanlah medan perang, tetapi Sungai Nil!

• Alih-alih menggunakan prajurit untuk merebut kemenangan, gadis-gadis dan pembantu yang sederhana digunakan untuk menyampaikan pesan: saudara perempuan bayi laki-laki dan pembantunya adalah saluran penting untuk membawa bayi laki-laki itu kepada sang putri.

• Mendapatkan upah untuk merawat putranya sendiri: Sang putri benar-benar membayar ibu Musa untuk merawat putranya, sehingga ia dapat membenarkan pelanggaran perintah raja. Sungguh ironis! Ini adalah keajaiban Allah!

Allah dengan terampil membuat segala sesuatu bekerja sama dan bekerja sama satu sama lain. Ini adalah jejak tangan Allah dan pekerjaan Allah, dan semuanya dapat dilihat di mana-mana!

Refleksi:
1. Apa yang diajarkan perikop ini kepada saya?
2. Jangan berpikir bahwa manusia tidak dapat berbuat banyak dalam situasi sulit. Lakukan tugas kita sendiri dan serahkan pada Allah. Apakah saya bersedia melakukannya?
3. Sulitkah untuk menunggu Allah melakukan apa yang Dia ingin lakukan? Apakah saya bersedia melakukannya?
4. Bisakah saya melacak jejak tangan Allah dalam hidup saya?
5. Apakah saya melihat bahwa segala sesuatu bekerja sama untuk kebaikan dan harmonis satu sama lain?


Renungan pemahaman Kitab Kejadian – Keluaran

Renungan pemahaman Kitab Kejadian

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain



Renungan untuk Kalangan Kristen.


Keluaran 1:1-21

「Dalam kegelapan melihat perlindungan Allah (1) – Menghancurkan perintah raja」

Oleh Rev. Dr. Chén Chuán Huá (陳傳華)
Alliance Bible Seminary H.K.

(Keluaran 1:1-21 [TB2])
1 Inilah nama anak-anak Israel yang datang ke Mesir bersama Yakub; mereka datang dengan keluarganya masing-masing: 2 Ruben, Simeon, Lewi dan Yehuda; 3 Isakhar, Zebulon dan Benyamin; 4 Dan, Naftali, Gad dan Asyer. 5 Jumlah seluruhnya tujuh puluh jiwa, yang dilahirkan bagi Yakub, sedangkan Yusuf telah berada di Mesir. 6 Kemudian meninggallah Yusuf, serta semua saudaranya dan seluruh generasi itu. 7 Orang-orang Israel beranak cucu dan tak terbilang jumlahnya. Mereka bertambah banyak dan dengan dahsyat berlipat ganda sehingga negeri itu dipenuhi mereka. 8 Kemudian muncullah seorang raja baru memerintah tanah Mesir, yang tidak mengenal Yusuf. 9 Raja itu berkata kepada rakyatnya, Bangsa Israel itu lebih banyak dan lebih kuat daripada kita. 10 Marilah kita bertindak cerdik terhadap mereka, supaya mereka jangan bertambah banyak lagi, dan apabila terjadi peperangan, jangan-jangan mereka bersekutu dengan musuh kita dan memerangi kita, lalu pergi dari negeri ini. 11 Sebab itu, pengawas-pengawas kerja paksa diangkat untuk menindas mereka dengan kerja paksa. Mereka harus mendirikan bagi Firaun kota-kota perbekalan, yakni Pitom dan Ra’amses. 12 Tetapi, semakin ditindas, mereka semakin bertambah banyak dan berkembang pesat, sehingga orang merasa takut kepada orang Israel itu. 13 Lalu dengan kejam orang Mesir memaksa orang Israel bekerja, 14 dan membuat hidup mereka pahit oleh pekerjaan yang berat, yaitu mengerjakan tanah liat dan batu bata, dan berbagai pekerjaan di padang. Segala pekerjaan itu dengan kejam dipaksakan orang Mesir kepada mereka. 15 Raja Mesir juga memerintahkan kepada bidan-bidan Ibrani, seorang bernama Sifra dan yang lain bernama Pua, katanya: 16 Apabila kamu menolong perempuan Ibrani pada waktu bersalin, kamu harus memperhatikan jenis kelamin anak itu: Jika anak laki-laki, kamu harus membunuhnya, tetapi jika anak perempuan, biarkan ia hidup. 17 Tetapi, bidan-bidan itu takut akan Allah dan tidak melakukan seperti yang dikatakan raja Mesir kepada mereka, sehingga membiarkan bayi-bayi itu hidup. 18 Lalu raja Mesir memanggil bidan-bidan itu dan bertanya kepada mereka, Mengapakah kamu berbuat demikian, membiarkan hidup bayi-bayi itu? 19 Jawab bidan-bidan itu kepada Firaun, Sebab perempuan Ibrani tidak sama dengan perempuan Mesir; mereka itu kuat-kuat. Sebelum bidan datang, mereka telah bersalin. 20 Allah berbuat baik kepada bidan-bidan itu; bangsa itu bertambah banyaklah dan menjadi sangat kuat. 21 Karena bidan-bidan itu takut akan Allah, Ia membuat mereka berumah tangga.

Hari ini kita akan mulai merenungkan tentang tokoh penting lainnya, Musa, dan belajar darinya. Hari ini dan besok kita akan melihat situasi seperti apa yang dialami Musa.

Inilah nama anak-anak Israel yang datang ke Mesir bersama Yakub; mereka datang dengan keluarganya masing-masing… Jumlah seluruhnya tujuh puluh jiwa, yang dilahirkan bagi Yakub, sedangkan Yusuf telah berada di Mesir. Kemudian meninggallah Yusuf, serta semua saudaranya dan seluruh generasi itu. Orang-orang Israel beranak cucu dan tak terbilang jumlahnya. Mereka bertambah banyak dan dengan dahsyat berlipat ganda sehingga negeri itu dipenuhi mereka (Kel. 1:1, 5-7)

Kitab Keluaran dalam bahasa Ibrani dimulai (וְ vav) secara literal berarti selanjutnya, yang merupakan kelanjutan dari akhir Kitab Kejadian: Kemudian matilah Yusuf, berumur seratus sepuluh tahun. Mayatnya dirempah-rempahi, dan ditaruh dalam peti mati di Mesir. Dengan demikian, kita dapat melihat dengan jelas hubungan antara masa lalu dan masa depan. Dimulai dengan Yusuf, orang Israel tinggal di Mesir selama sekitar empat ratus tahun. Allah memberkati mereka dengan sangat dan membuat mereka berbuah dan berkembang biak, diperkirakan jumlah orang melebihi dua juta!

Kemudian muncullah seorang raja baru memerintah tanah Mesir, yang tidak mengenal Yusuf. Raja itu berkata kepada rakyatnya, Bangsa Israel itu lebih banyak dan lebih kuat daripada kita. Marilah kita bertindak cerdik terhadap mereka, supaya mereka jangan bertambah banyak lagi, dan apabila terjadi peperangan, jangan-jangan mereka bersekutu dengan musuh kita dan memerangi kita, lalu pergi dari negeri ini.』」 (Kel. 1:8-10)

Karena mendapatkan berkat dari Allah, orang Israel beranak cucu dan bertambah banyak jumlahnya, dan menjadi sangat kuat, dan memenuhi negeri itu, dan orang Mesir mulai takut kepada mereka. Firaun yang telah mengenal Yusuf dan mendapat manfaat darinya telah pergi, dan Firaun yang baru tidak mau mengingat kontribusi Yusuf di masa lalu, tetapi malah menganggap teman sebagai musuh.

Jika kita menilik kembali sejarah 100 tahun terakhir, kita menemukan bahwa banyak negara mengecualikan kelompok etnis asing. Misalnya, banyak negara mendiskriminasi orang Tionghoa dan memberlakukan undang-undang yang menentang orang Tionghoa; orang Serbia menjadi sasaran pembersihan etnis; Nazi Jerman menerapkan kebijakan pembersihan orang Yahudi; dan selama Perang Yugoslavia, genosida terjadi di Bosnia dan Kosovo! Tindakan brutal yang dilakukan manusia demi tujuan diri mereka sendiri sungguh mengejutkan dan menyedihkan.

Pada waktu itu, raja Mesir menggunakan tiga dekrit kerajaan, yang mewakili tiga strategi, untuk menindas orang Israel.

Sebab itu, pengawas-pengawas kerja paksa diangkat untuk menindas mereka dengan kerja paksa. Mereka harus mendirikan bagi Firaun kota-kota perbekalan, yakni Pitom dan Ra’amses. Tetapi, semakin ditindas, mereka semakin bertambah banyak dan berkembang pesat, sehingga orang merasa takut kepada orang Israel itu. Lalu dengan kejam orang Mesir memaksa orang Israel bekerja, dan membuat hidup mereka pahit oleh pekerjaan yang berat, yaitu mengerjakan tanah liat dan batu bata, dan berbagai pekerjaan di padang. Segala pekerjaan itu dengan kejam dipaksakan orang Mesir kepada mereka (Kel. 1:11-14)

Pelajaran 1: penderitaan manusia tidak sebesar perlindungan Allah
Keputusan raja yang pertama adalah menindas orang Israel dengan perbudakan. Orang Israel yang dulu membantu orang Mesir kini menjadi budak. Di satu sisi, orang Mesir membutuhkan orang Israel sebagai pekerja budak; di sisi lain, mereka takut orang Israel akan menjadi lebih kuat, sehingga mereka semakin menindas orang Israel. Namun, penindasan yang dilakukan orang-orang tidak sebesar perlindungan Allah, tetapi malah membuat mereka semakin berkembang pesat.

Strategi pertama tidak efektif, sehingga raja Mesir menggunakan dekrit kerajaan kedua Pembunuhan Bayi: Raja Mesir juga memerintahkan kepada bidan-bidan Ibrani, seorang bernama Sifra dan yang lain bernama Pua, katanya: Apabila kamu menolong perempuan Ibrani pada waktu bersalin, kamu harus memperhatikan jenis kelamin anak itu: Jika anak laki-laki, kamu harus membunuhnya, tetapi jika anak perempuan, biarkan ia hidup.』」 (Kel. 1:15-16)

Raja Mesir memerintahkan dua kepala bidan untuk membunuh bayi orang Israel. Bayi laki-laki dibunuh, sedangkan bayi perempuan dibiarkan hidup untuk dijadikan selir atau budak orang Mesir. Tujuannya adalah untuk menyingkirkan keturunan Israel dan mencapai tujuan pembersihan etnis kronis.

Tetapi, bidan-bidan itu takut akan Allah dan tidak melakukan seperti yang dikatakan raja Mesir kepada mereka, sehingga membiarkan bayi-bayi itu hidup (Kel. 1:17)

Pelajaran 2: Ada orang-orang kepunyaan Allah di zaman kegelapan
Bahkan di zaman kegelapan, Allah tetap menunjukkan kehendak-Nya melalui mereka yang takut kepada-Nya — kedua bidan yang takut kepada Allah ini. Mereka lebih takut kepada Allah daripada kepada manusia, dan dengan berani menentang perintah raja, mempertaruhkan nyawa mereka untuk melindungi nyawa bayi laki-laki Israel. Semangat takut kepada Allah dan keberanian ini patut dipelajari! Ketika kita menghadapi perintah yang tidak adil, kita harus memilih untuk mengikuti Allah atau mengikuti manusia. Siapakah raja kita?

Lalu raja Mesir memanggil bidan-bidan itu dan bertanya kepada mereka, Mengapakah kamu berbuat demikian, membiarkan hidup bayi-bayi itu? Jawab bidan-bidan itu kepada Firaun, Sebab perempuan Ibrani tidak sama dengan perempuan Mesir; mereka itu kuat-kuat. Sebelum bidan datang, mereka telah bersalin.』」 (Kel. 1:18-19)

Pelajaran 3: Tahu kapan harus mengatakan apa
Raja Mesir menemukan sesuatu yang aneh dan memanggil bidan untuk mencari tahu apa yang sedang terjadi. Sebagai orang Kristen, kita tentu tidak boleh berbohong, tetapi bagaimana seharusnya kita menanggapi ketika berhadapan dengan seorang pembunuh yang sangat jahat? Apakah raja Mesir yang sangat menentang kebenaran ini pantas mendapatkan tanggapan yang benar? Haruskah bidan itu setia kepada Allah dan menyelamatkan nyawa, atau setia kepada raja Mesir dan membunuh nyawa? Bidan itu memilih untuk setia kepada Allah. Jika itu Anda, bagaimana Anda akan menanggapinya? Oleh karena itu, dalam keadaan khusus tertentu, tahu kapan harus mengatakan apa.

Allah berkenan dengan tindakan para bidan tersebut, Allah berbuat baik kepada bidan-bidan itu; bangsa itu bertambah banyaklah dan menjadi sangat kuat. Karena bidan-bidan itu takut akan Allah, Ia membuat mereka berumah tangga (Kel. 1:20-21)

Strategi kedua nyata tidak efektif! Besok kita akan melanjutkan dengan dekrit ketiga raja Mesir.

Apakah raja Mesir telah mengambil jalan yang salah? Bukankah ia akan menerima lebih banyak berkat dari Allah jika ia menunjukkan kebaikan kepada orang Israel?

Refleksi:
1. Apa yang diajarkan perikop ini kepada saya?
2. Ketika saya melihat orang saling menyakiti, apakah saya melihat perlindungan Allah di balik itu?
3. Ketika saya melihat kegelapan dan ketidakadilan, seperti di tempat kerja, di masyarakat, atau dalam keluarga saya, apakah saya berdiri sebagai seorang hamba Allah?
4. Bagaimana saya tahu kapan harus mengatakan sesuatu? Dalam situasi khusus tahu sebaiknya mengatakan apa?


Renungan pemahaman Kitab Kejadian – Keluaran

Renungan pemahaman Kitab Kejadian

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain



Renungan untuk Kalangan Kristen.


Keluaran 34:1-10-PraPaskah

「Pembaharuan Perjanjian」

Oleh Lawrence Ko (高銘謙)
Alliance Bible Seminary H.K.

(Keluaran 34:1-10 [TB2])
1 Berfirmanlah TUHAN kepada Musa: Pahatlah dua loh batu, sama dengan yang semula. Aku akan menulis pada loh-loh itu segala firman yang ada pada loh-loh yang semula, yang telah engkau hancurkan. 2 Bersiaplah menjelang pagi dan naiklah ke Gunung Sinai pada waktu pagi. Berdirilah di sana menghadap Aku di puncak gunung itu. 3 Jangan ada seorang pun naik bersamamu. Seorang pun juga tidak boleh terlihat di seluruh gunung itu, bahkan kambing domba dan lembu tidak boleh merumput di sekitar gunung itu.

4 Lalu Musa memahat kedua loh batu itu sama seperti yang semula. Ia bangun pagi-pagi dan naik ke Gunung Sinai seperti yang diperintahkan TUHAN kepadanya. Kedua loh batu ia bawa di tangannya. 5 TUHAN turun dalam awan, lalu berdiri bersama Musa di sana dan menyerukan nama TUHAN. 6 Kemudian TUHAN berlalu di hadapannya sambil berseru: TUHAN, TUHAN, Allah penyayang dan pengasih, panjang sabar, berlimpah kasih dan kesetiaan-Nya, 7 yang meneguhkan kasih setia-Nya kepada beribu-ribu orang, yang mengampuni kesalahan, pelanggaran, dan dosa tetapi sekali-kali tidak membebaskan orang yang bersalah dari hukuman, yang membalaskan kesalahan bapa kepada anak cucunya, sampai kepada keturunan yang ketiga dan keempat.

8 Musa langsung berlutut sampai ke tanah dan sujud menyembah. 9 Ia berkata, Jika aku mendapat kemurahan hati-Mu, ya Tuhan, berjalanlah beserta kami, ya Tuhan. Memang bangsa ini tegar tengkuk, tetapi ampunilah kesalahan dan dosa kami, dan jadikan kami milik-Mu.

10 Lalu TUHAN berfirman, Sungguh, Aku mengikat perjanjian. Di hadapan seluruh bangsamu akan Kulakukan perbuatan-perbuatan ajaib yang belum pernah dijadikan di seluruh bumi di antara segala bangsa. Seluruh bangsa yang besertamu akan melihat perbuatan TUHAN, sebab sungguh dahsyat apa yang akan Kulakukan bersama engkau.

Bangsa itu berbuat dosa dan menyembah anak lembu emas, dan seharusnya dimusnahkan oleh Allah, tetapi Musa menerima kemurahan hati kasih karunia Allah dan menjadi perantara bagi bangsa itu, sehingga TUHAN bersedia menyertai bangsa itu lagi. Berdasarkan premis inilah TUHAN memerintahkan Musa untuk naik ke Gunung Sinai lagi dan agar ia mewakili umat itu menerima anugerah Allah menegakkan kembali perjanjian.

Pertama, Musa diperintahkan untuk memahat dua loh batu, sama seperti loh-loh batu sebelumnya. Pernyataan yang sama seperti loh-loh batu sebelumnya ini muncul dua kali (Keluaran 34:1, 4), yang menunjukkan bahwa pembaruan perjanjian ini bukanlah penetapan perjanjian lain, tetapi penetapan perjanjian yang sama seperti yang sebelumnya, karena perjanjian ini melibatkan dua loh batu yang sama seperti yang sebelumnya. Dengan cara ini, umat memperbarui perjanjian, bukan perjanjian baru, melainkan perjanjian yang telah dibuat Musa saat ia pertama kali naik Gunung Sinai untuk mendapatkan dua loh batu sebelumnya.

Kedua, ketika TUHAN memperbarui perjanjian, Ia menjelaskan karakter-Nya sendiri. Ia berkata, TUHAN, TUHAN, Allah penyayang dan pengasih, panjang sabar, berlimpah kasih dan kesetiaan-Nya, 7 yang meneguhkan kasih setia-Nya kepada beribu-ribu orang, yang mengampuni kesalahan, pelanggaran, dan dosa tetapi sekali-kali tidak membebaskan orang yang bersalah dari hukuman, yang membalaskan kesalahan bapa kepada anak cucunya, sampai kepada keturunan yang ketiga dan keempat (Keluaran 34:6-7). Kedua ayat ini menjadi fokus Perjanjian Lama mengenai TUHAN. Kita sering kali memiliki ilusi bahwa Allah Perjanjian Lama berbeda dengan Tuhan Perjanjian Baru. Bahwa Allah Perjanjian Lama itu keras, sedangkan Allah Perjanjian Baru itu penyayang; bahwa Allah Perjanjian Lama sering marah, sedangkan Allah Perjanjian Baru penuh belas kasihan. Namun, ini hanyalah ilusi. Padahal, jika kita perhatikan Allah dalam kisah Keluaran dari Mesir dan perjalanan di padang gurun, kita akan memahami bahwa Allah adalah Tuhan yang selalu panjang sabar. Allah telah berkali-kali menyelamatkan orang Israel dari hukuman, dan berkali-kali pula ketika orang Israel berbuat dosa dan menyinggung-Nya, Dia tetap menunjukkan belas kasihan dan menyelamatkan nyawa orang Israel sesuai dengan kasih setia-Nya. Kita harus melihat belas kasihan Allah dari catatan sejarah yang lebih panjang dan lebih luas, dan melihat bahwa Ia tetap campur tangan di panggung sejarah dan bersabar menanggung dosa orang Israel. Terutama dalam peristiwa anak lembu emas ini, Allah tidak menghancurkan orang Israel, malahan berjalan bersama mereka.

Namun, kemurahan dan kasih karunia Allah tidak berarti bahwa Ia menyatakan orang yang bersalah tidak bersalah. Ia justru akan bertindak sesuai dengan keadilan kebenaran-Nya. Akan tetapi, Kitab Suci menjelaskan antara belas kasihan Allah dan penghakiman Allah yang adil, bahwa keduanya memiliki proporsi yang berbeda. Belas kasihan yang Allah tunjukkan kepada manusia adalah ribuan generasi, sedangkan hukuman yang Allah tunjukkan kepada manusia hanya tiga atau empat generasi. Kontras antara ribuan generasi dan tiga atau empat generasi ini tidak boleh dipahami benar-benar secara harfiah sebagai ribuan generasi dan tiga atau empat generasi, tetapi lebih sebagai gambaran bahwa ada perbedaan yang tidak proporsional antara keduanya. Perbedaan yang tidak proporsional ini menunjukkan bahwa Allah lebih bersedia menunjukkan kasih karunia dan belas kasihan daripada mengungkapkan kemarahan dan hukuman, dan bahwa kasih Allah datang lebih cepat dan lebih besar daripada murka-Nya.

Refleksi:
Selama masa Prapaskah, kita merenungkan fakta bahwa kita telah berdosa dan mendatangkan hukuman atas diri kita sendiri dari Allah. Murka Allah adalah sikap dasar dan adil benar terhadap dosa, tetapi Allah senantiasa memiliki sifat penyayang, yang dinyatakan melalui pengorbanan dan kasih Yesus Kristus, yang memungkinkan kita untuk memperbarui perjanjian kita dengan Allah seperti sebelumnya. Bagaimana Anda memandang anugerah ini? Apa artinya ini bagi Anda?


Renungan Pra-Paskah (Er Dao)

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Pra-Paskah Musa di Gunung Sinai ditulis oleh Rev. Dr. Lawrence Ko (高銘謙) yang dipublikasi pada bulan Maret 2025 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Keluaran 33:18-23-PraPaskah

「Kemuliaan Allah melewati」

Oleh Lawrence Ko (高銘謙)
Alliance Bible Seminary H.K.

(Keluaran 33:18-23 [TB2])
18 Jawab Musa: Perlihatkanlah kiranya kemuliaan-Mu kepadaku. 19 Lalu TUHAN berfirman, Aku akan membuat seluruh kegemilangan-Ku lewat di hadapanmu, dan akan menyerukan nama TUHAN di hadapanmu. Aku akan memberi kasih karunia kepada orang yang Kuberi kasih karunia dan Aku mengasihani orang yang Kukasihani. 20 Firman-Nya lagi, Engkau tidak dapat melihat wajah-Ku, sebab tidak mungkin manusia melihat Aku dan tetap hidup. 21 Lalu TUHAN berfirmanlah, Ada suatu tempat dekat-Ku, di atas gunung batu itu engkau dapat berdiri. 22 Ketika kemuliaan-Ku lewat, Aku akan menempatkan engkau dalam celah gunung itu, dan Aku akan menudungi engkau dengan tangan-Ku sampai Aku lewat. 23 Kemudian Aku akan menarik tangan-Ku dan engkau akan melihat punggung-Ku, tetapi wajah-Ku tidak akan kelihatan.

Musa menerima kasih karunia Allah, Allah menerima doanya (Keluaran 33:17) dan bersedia menyertai pergi bersama orang Israel. Kemudian, Kitab Suci menyelipkan bagian tentang peristiwa kemuliaan Allah yang melewati Musa (Keluaran 33:18-23). Pesan apakah yang disampaikan peristiwa ini kepada kita selama masa Prapaskah?

Lewat/melewati (עבר) muncul berkali-kali dalam seluruh perikop ini (Keluaran 33:19, 22 x2). Kata ini adalah kata yang persis digunakan dalam peristiwa Paskah (Passover)
(Keluaran 12:12, 23 Aku akan menjalani tanah Mesir … TUHAN akan melewati pintu itu). Pada waktu itu, TUHAN hendak mendatangkan tulah kesepuluh untuk membunuh semua anak sulung di Mesir. Ketika TUHAN melihat darah anak domba di ambang pintu, Ia melewatinya dan tidak masuk untuk membunuh anak sulung orang Israel. Kisah tentang asal-usul Paskah (Passover) ini memiliki kemiripan dengan kisah Musa yang mengalami kemuliaan Allah saat itu. Keduanya menggambarkan bahwa TUHAN akan melewatinya, dan keduanya tidak akan terbunuh karena peristiwa itu. Akan tetapi, dalam peristiwa Musa, kemuliaan TUHAN akan melewatinya, sehingga ia tidak dapat berhadapan wajah Allah secara langsung.

Musa berdoa syafaat demi orang Israel, dan Allah menjawab doanya dan bersedia menyertai pergi bersama sekelompok orang yang keras kepala. Ini karena Musa mendapat kasih karunia di mata TUHAN. Dengan demikian, ketika kemuliaan TUHAN melewati Musa, kita jadi teringat bahwa dahulu TUHAN juga pernah melewati darah anak domba pada tiang pintu dan tidak masuk untuk membunuh anak sulung orang Israel. Sama halnya sekarang, karena doa syafaat perantaraan Musa dan ia mendapat kasih karunia, Allah tidak membunuh semua orang Israel yang berbuat dosa menyembah anak lembu emas. Oleh karena itu, peran Musa menjadi darah anak domba pada ambang pintu, dan TUHAN melewatinya sehingga Allah tidak akan membunuh semua orang Israel yang berdosa.

Paskah (Passover) memperingati keselamatan orang Israel ketika TUHAN melewati rumah-rumah Israel dan membawa mereka keluar dari Mesir. Teologi Paskah ini juga diterapkan pada Musa. Karena perantaraannya berdoa syafaat, TUHAN melewatinya dan tidak membunuh orang Israel. Pada saat yang sama, Paskah (Passover) Israel juga merupakan prafigur gambaran keselamatan Yesus Kristus. Darah yang ditumpahkan-Nya ketika Ia disalibkan bagaikan darah anak domba pada ambang pintu, sehingga murka dan hukuman kebinasaan tidak akan menimpa kita. Jadi, jika Musa adalah perwujudan darah anak domba, dan terlebih lagi Yesus Kristus.

Refleksi:
Selama masa Prapaskah, kita bersama-sama merenungkan apa yang telah dilakukan darah Yesus Kristus yang tertumpah bagi kita.


Renungan Pra-Paskah (Er Dao)

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Pra-Paskah Musa di Gunung Sinai ditulis oleh Rev. Dr. Lawrence Ko (高銘謙) yang dipublikasi pada bulan Maret 2025 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Keluaran 33:12-17-PraPaskah

「Mendapat kemurahan hati di hadapan Allah」

Oleh Lawrence Ko (高銘謙)
Alliance Bible Seminary H.K.

(Keluaran 33:12-17 [TB2])
12 Berkatalah Musa kepada TUHAN: Engkaulah yang berfirman kepadaku: Bawalah bangsa ini pergi! Tetapi, Engkau tidak memberitahu kepadaku siapa yang akan Kauutus bersamaku. Padahal, Engkau sendiri berfirman: Aku mengenalmu dengan namamu, juga engkau mendapat kemurahan hati-Ku. 13 Sekarang, sekiranya aku mendapat kemurahan hati-Mu, beritahukanlah kepadaku jalan-Mu, sehingga aku mengenal Engkau, supaya aku tetap mendapat kemurahan hati-Mu. Lagi pula, bangsa ini umat-Mu sendiri. 14 Lalu TUHAN berfirman: Aku sendiri akan berjalan besertamu, dan memberikan ketenteraman kepadamu.
15 Berkatalah Musa kepada-Nya: Jika bukan Engkau sendiri yang berjalan beserta kami, jangan bawa kami pergi dari sini. 16 Lalu bagaimana orang akan tahu bahwa aku telah mendapat kemurahan hati-Mu, aku dan umat-Mu ini? Bukankah karena Engkau berjalan berserta kami, sehingga kami, aku dan umat-Mu ini, dikhususkan dari segala bangsa yang ada di muka bumi ini? 17 Berfirmanlah TUHAN kepada Musa: Hal yang kaukatakan ini pun akan Kulakukan, karena engkau telah mendapat kemurahan hati-Ku dan Aku mengenal dirimu dengan namamu.

Ada dua kata yang sering digunakan dalam Keluaran 33:12-17, yang pertama adalah mengenal/tahu/memberitahu (ידע yaw-dah’) (ayat 12 x2, 13 x2, 16, 17), dan yang kedua adalah kemurahan hati (kasih karunia) (חן ḥên) (ayat 12, 13 x2, 16, 17). Perikop ini dimulai dengan Aku mengenalmu dengan namamu (ידעתיך בשם ḇə·šêm yə·ḏa‘·tî·ḵā) (ayat 12) dan diakhiri dengan Aku mengenal dirimu dengan namamu (ואדעך בשם bə·šêm wā·’ê·ḏā·‘ă·ḵā) (ayat 17), yang saling menghubungkan awal dan akhir. Pada saat yang sama, perikop ini dimulai dengan engkau mendapat kemurahan hati-Ku (חן בעיני bə·‘ê·nāy ḥên / grace in my sight) (ayat 12) dan berakhir dengan mendapat kemurahan hati-Ku (חן בעיני bə·‘ê·nay ḥên) (ayat 17). Dengan demikian, kita melihat bahwa dua kata mengenal dan menerima kemurahan hati merupakan salah satu poin utama dari seluruh perikop, yang menjelaskan hubungan antara mengenal dan menerima kemurahan hati (mendapat kasih karunia).

Mengapa Musa mendapat kasih karunia dari Allah? Karena TUHAN mengenal Musa dengan nama (TB2 menerjemahkan sebagai Aku mengenalmu dengan namamu, sedangkan KJV menerjemahkan sebagai I know thee by name). Teks bahasa asli tidak secara jelas menyatakan nama siapa ini, jadi ada dua kemungkinan pemahaman: pertama adalah memahami nama ini sebagai nama Musa, yaitu, Allah sangat mengenal Musa melalui namanya, yang berarti bahwa Allah mengenal Musa dan memahami kelahirannya, penciptaannya, karakternya, kepribadiannya, dll. Pemahaman Allah tentang seseorang lebih jelas daripada pemahaman orang itu tentang dirinya sendiri. Allah memahami potensi orang ini, memahami pergumulan orang ini, dan bahkan melihat masa depannya. Karena pemahaman TUHAN yang mengenal mendalam tentang Musa, Musa mendapat kasih karunia di mata Allah.

Penafsiran yang kedua adalah memahami nama ini sebagai nama TUHAN. TUHAN pernah memberi tahu Musa bahwa nama-Nya adalah TUHAN, dan nama ini tidak pernah disebutkan di antara para leluhur. Hanya Musa yang merupakan orang pertama yang menerima nama ini (Keluaran 6:2-3). Dengan demikian, ketika teks mengatakan bahwa TUHAN mengenal Musa melalui nama, itu mungkin berarti bahwa TUHAN mengenal Musa berdasarkan dimensi Ia pertama kali menyingkapkan nama-Nya sebagai TUHAN, dan menganggap Musa sebagai orang pertama yang menerima nama ini. Oleh karena itu, TUHAN mengenal Musa sebagai orang yang menerima nama yang diwahyukan oleh Allah. Berdasarkan fakta ini, Musa sudah merupakan orang yang berkenan di hadapan Allah untuk menerima kasih karunia.

Terlepas dari nama siapa ini apakah adalah nama Musa atau nama TUHAN, TUHAN telah mengenal Musa dengan sangat baik. Hal ini tidak hanya menjadi dasar bagi Musa untuk menerima perkenan dari Allah, tetapi juga menjadi dasar bagi kita untuk menerima kasih karunia Allah. Seringkali kita merasa sudah memahami diri sendiri dengan baik. Ada orang yang merasa hebat, ada yang merasa tidak kompeten. Namun, seberapa pun banyaknya pengetahuan kita tentang diri sendiri, pemahaman itu tidak akan pernah sedalam pengenalan Allah atas diri kita. Pemahaman Allah tentang diri kita selalu lebih jelas daripada pemahaman kita tentang diri sendiri. Hal ini karena Dia adalah Sang Pencipta dan Tuhan yang mengenal kita dengan sangat mendalam, dengan demikian, kita telah mendapatkan kasih karunia di mata Allah.

Refleksi:
Musa berdoa syafaat di hadapan Allah, memohon agar Tuhan menyertai orang Israel, pergi bersama mereka, ini didasarkan pada fakta bahwa Allah sudah mengenal Musa, dan bahwa Musa telah mendapatkan perkenan kasih karunia dari Allah. Karena Allah mengenal Musa, maka Musa pun tahu jalan Allah. Apa makna saling mengenal ini bagi Anda?


Renungan Pra-Paskah (Er Dao)

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Pra-Paskah Musa di Gunung Sinai ditulis oleh Rev. Dr. Lawrence Ko (高銘謙) yang dipublikasi pada bulan Maret 2025 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Keluaran 33:7-11-PraPaskah

「xxx」

Oleh Lawrence Ko (高銘謙)
Alliance Bible Seminary H.K.

(Keluaran 33:7-11 [TB2])
7 Musa biasanya mengambil kemah dan memasangnya di luar perkemahan, jauh dari perkemahan itu. Ia menamainya Kemah Pertemuan. Setiap orang yang mencari TUHAN akan pergi ke Kemah Pertemuan yang berada di luar perkemahan itu. 8 Setiap kali Musa pergi ke Kemah Pertemuan itu, seluruh bangsa bangkit, masing-masing berdiri di pintu kemahnya. Mereka mengamati Musa sampai ia masuk ke dalam Kemah itu. 9 Ketika Musa masuk ke dalam kemah itu, turunlah tiang awan dan berhenti di pintu Kemah itu, lalu TUHAN berbicara dengan Musa. 10 Setiap kali seluruh bangsa itu melihat tiang awan berhenti di pintu Kemah itu, mereka bangkit dan sujud menyembah, masing-masing di pintu kemahnya. 11 TUHAN berbicara dengan Musa berhadapan muka seperti seorang berbicara kepada temannya. Kemudian Musa kembali ke perkemahan, tetapi, Yosua bin Nun, abdinya yang masih muda, tidak meninggalkan Kemah itu.

Perikop 33:7-11 menyisipkan bagian tentang TUHAN yang berbicara kepada Musa. Bagian ini dapat dibagi menjadi dua poin utama. Poin pertama adalah bahwa ketika Musa memasuki Kemah Pertemuan untuk berbicara kepada TUHAN, umat Allah berdiri atau berlutut menyembah di luar perkemahan. Poin kedua adalah bahwa Musa berbicara kepada TUHAN secara langsung berhadapan muka. Kedua poin ini mencerminkan peran Musa sebagai perantara atau nabi antara Allah dengan orang Israel.
Pertama, ayat 7 menyatakan bahwa Kemah Pertemuan terletak di luar perkemahan, agak jauh dari perkemahan. Anehnya, Kemah Pertemuan tidak berada di tengah perkemahan orang Israel, tetapi agak jauh dari perkemahan. Apa yang diungkapkan di sini? Ini menanggapi situasi sebelumnya (Keluaran 33:1-3), yang menunjukkan bahwa kehadiran Allah tidak berada di perkemahan, tetapi di luar perkemahan. Ketika Musa mencari Allah atas nama orang Israel, ia harus meninggalkan perkemahan dan berjalan ke padang gurun. Kemah Pertemuan terletak di tempat yang menjauh dari perkemahan. Musa dapat memasuki Kemah Pertemuan dan berbicara dengan TUHAN. Ini menunjukkan sebuah perjalanan ziarah: meninggalkan rumah dan pergi ke tempat suci, memulai perjalanan ziarah, di tengah perjalanan harus melewati padang gurun.
Kedua, ada beberapa deskripsi tentang ritual yang dilakukan umat itu, terlibat dalam perjalanan Musa keluar dari perkemahan menuju ke Kemah Pertemuan. Saat umat itu melihat Musa pergi ke Kemah Pertemuan, masing-masing berdiri di pintu kemahnya dan mengamati (melihat) Musa (ayat 8), dan ketika umat melihat tiang awan berdiri di pintu Kemah Pertemuan, mereka masing-masing sujud di pintu kemahnya (ayat 10). Di sini, kita menemukan dua kata melihat. Melihat pertama adalah tentang Musa, dan melihat kedua adalah tentang tiang awan. Respons yang pertama adalah berdiri, sedangkan respon yang kedua adalah berlutut menyembah, yang dengan jelas menggambarkan status keduanya: Musa, sebagai juru bicara antara Allah dengan umat, ia menghadap Allah atas nama umat, sehingga umat menunjukkan rasa hormat dengan berdiri, dan tiang awan melambangkan kehadiran Allah, sehingga umat memberikan respons berlutut menyembah, untuk menghormati Allah.
Terakhir, ayat 11 menjelaskan bahwa Allah berbicara kepada Musa secara langsung berhadapan muka seperti seorang berbicara kepada temannya. Menurut bahasa aslinya, kata teman seharusnya adalah tetangga, yang berarti bahwa TUHAN berbicara kepada Musa secara berhadapan muka, seperti halnya seseorang berbicara kepada tetangganya. Inilah arti dari berhadapan muka. Karena teks berikutnya menyebutkan bahwa Musa tidak dapat melihat wajah TUHAN (Keluaran 33:20), kita tidak memahami berhadapan muka di ayat 11 sebagai Musa melihat wajah TUHAN dengan matanya sendiri. Sebaliknya, sebagaimana dikatakan teks tersebut, artinya seperti seseorang berbicara kepada tetangganya. Oleh karena itu, berhadapan muka dipahami berarti bahwa hubungan antara Musa dan TUHAN adalah seperti kedekatan antara seseorang dengan tetangganya. Dengan cara ini, Musa menjadi perantara antara Allah dengan manusia. Di satu sisi, ia mengidentifikasi diri dengan umat, dan di sisi lain, ia bisa dekat dengan Allah berhadapan muka.

Refleksi:
Selama masa Prapaskah, kita merenungkan bagaimana Yesus Kristus menjadi pengantara antara Allah dan manusia. Musa adalah prafigur/gambaran Yesus Kristus, yang membantu kita memahami peran Yesus Kristus sebagai pengantara. Pada saat yang sama, Yesus Kristus melampaui Musa. Dia tidak hanya dapat melihat berhadapan muka, Dia adalah Allah sendiri. Jadi bagaimana seharusnya kita memberikan respons?


Renungan Pra-Paskah (Er Dao)

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Pra-Paskah Musa di Gunung Sinai ditulis oleh Rev. Dr. Lawrence Ko (高銘謙) yang dipublikasi pada bulan Maret 2025 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.