Tag Archives: Jemaat Allah

1 Korintus 5:9-13

Usirlah kejahatan besar dan pelaku kejahatan besar

Oleh Rev. Dr. Kiven Choy (蔡少琪)
Alliance Bible Seminary H.K.

(1 Kor. 5:9-13[ITB])
9 Dalam suratku telah kutuliskan kepadamu, supaya kamu jangan bergaul dengan orang-orang cabul.
10 Yang aku maksudkan bukanlah dengan semua orang cabul pada umumnya dari dunia ini atau dengan semua orang kikir dan penipu atau dengan semua penyembah berhala, karena jika demikian kamu harus meninggalkan dunia ini. 11 Tetapi yang kutuliskan kepada kamu ialah, supaya kamu jangan bergaul dengan orang, yang sekalipun menyebut dirinya saudara, adalah orang cabul, kikir, penyembah berhala, pemfitnah, pemabuk atau penipu; dengan orang yang demikian janganlah kamu sekali-kali makan bersama-sama. 12 Sebab dengan wewenang apakah aku menghakimi mereka, yang berada di luar jemaat? Bukankah kamu hanya menghakimi mereka yang berada di dalam jemaat? 13 Mereka yang berada di luar jemaat akan dihakimi Allah. Usirlah orang yang melakukan kejahatan dari tengah-tengah kamu.

【Referensi ayat】
Ayat 13 「Usirlah orang yang melakukan kejahatan dari tengah-tengah kamu」. Lihat Ul. 13:5b 「Demikianlah harus kauhapuskan yang jahat itu dari tengah-tengahmu」 (Lihat Ul. 17:7; 19:19; 21:21; 22:21; 24; frasa ini muncul tujuh kali dalam Kitab Ulangan)

Jangan bergaul dengan orang-orang cabul dan usirlah orang yang melakukan kejahatan dari tengah-tengah kamu adalah keputusan Paulus atas orang fasik yang hidup dengan istri ayahnya. Di satu sisi tindakan gereja adalah mendisiplinkan dan menghukum mereka yang melakukan dosa besar; di sisi lain adalah meminta saudara dan saudari lainnya untuk bekerja sama yakni jangan bergaul dengan mereka yang tidak bertobat dan terus melakukan percabulan. Ketika suatu perbuatan keji yang besar terjadi, maka gereja harus memiliki prinsip, dan harus memiliki tanggung jawab terhadap Allah, terhadap internal dan eksternal. Allah membenci dosa terang-terangan jelas-jelas terlihat, di depan umum, keras kepala, dan serius! Para pemimpin gereja harus mengusir dosa kejahatan besar dan mendisiplinkan pelaku kejahatan besar!

Ayat 13 Mereka yang berada di luar jemaat akan dihakimi Allah. Usirlah orang yang melakukan kejahatan dari tengah-tengah kamu, meskipun teks Yunani asli tidak mengandung frasa seperti ada tertulistetapi Paulus tampaknya mengutip frasa Perjanjian lama ini sebagai penanganan dosa besar mengambil istri ayah di pasal 5 ini. Dalam Kitab Ulangan, frasa harus kauhapuskan yang jahat itu dari tengah-tengahmu muncul sebanyak tujuh kali, ini adalah perintah yang akrab bagi orang Yahudi dan mereka yang akrab dengan Perjanjian Lama. Ini adalah keputusan hukuman berat bagi mereka yang telah melakukan kejahatan besar, yakni menghukum mati pelaku kejahatan besar agar menghapuskan dan membuang kejahatan besar dari antara umat Israel. Kejahatan besar tersebut antara lain:

  1. Mengajak murtad terhadap TUHAN, menjauh dari jalan dan Firman Allah (Ul. 13.5)
  2. Menggunakan kesaksian palsu untuk membunuh orang (Ul. 17 :7, 19:19)
  3. Anak yang sangat keras kepala dan durhaka, melakukan kejahatan yang mendatangkan hukuman mati pada waktu itu (Ul. 21 :21)
  4. Dosa percabulan sebelum menikah (Ulangan 22:21, 24)
  5. Menculik dan menjual sebagai budak (Ul. 24:7)

Mengapa harus menghukum sangat berat terhadap dosa yang nyata, di depan umum, keras kepala, dan serius ini? Musa berkata, Maka seluruh orang Israel akan mendengar dan menjadi takut, sehingga mereka tidak akan melakukan lagi perbuatan jahat seperti itu di tengah-tengahmu (Ul. 13:11) Maka orang-orang lain akan mendengar dan menjadi takut, sehingga mereka tidak akan melakukan lagi perbuatan jahat seperti itu di tengah-tengahmu (Ul. 19:20). (Mencegah sedikit ragi mengkhamiri seluruh adonan)

Jangan bergaul dengan orang-orang cabul (5:9) dan jangan bergaul dengan orang, yang sekalipun menyebut dirinya saudara, adalah orang cabul, kikir, penyembah berhala, pemfitnah, pemabuk atau penipu (5:11) diulang lagi dalam perikop pendek ini. Paulus menambahkan dalam 5:10 bahwa kita hidup di dunia yang telah jatuh dalam dosa, di zaman yang berdosa, baik dalam keluarga, dalam masyarakat, atau di tempat kerja, kita tidak dapat sepenuhnya menghindari pergaulan dengan orang-orang cabul, tetapi mereka hanya orang-orang luar dan tidak memiliki hubungan rohani dan tidak bersahabat di dalam Kristus dengan kita. Tetapi jika ada orang Kristen, atau mereka yang mengaku Kristen, yang bertindak semaunya dan terus berguling-guling dalam dosa percabulan perzinaan, kita harus mengikuti ajaran hukum Perjanjian Lama dan mengusir kejahatan ini dan orang-orang jahat ini, jangan biarkan orang-orang jahat dan dosa kejahatan ini menajiskan seluruh komunitas gereja (sedikit ragi mengkhamiri seluruh adonan). Gereja tidak memiliki otoritas hukum di bumi, kita tidak dapat menegakkan ketetapan hukum dari Hukum Musa, tetapi kita dapat menjalankan disiplin gereja pada mereka yang telah melakukan dosa-dosa besar dan membuang orang jahat keluar. Sama seperti Ketika Petrus sedang mengabarkan Injil di gereja mula-mula, ia bertemu Simon yang biasa mempraktikkan ilmu sihir. Simon bahkan menawarkan uang untuk membeli otoritas para rasul. Petrus segera menegakkan disiplin yang ketat dan berkata kepadanya: Binasalah kiranya uangmu itu bersama dengan engkau, karena engkau menyangka, bahwa engkau dapat membeli karunia Allah dengan uang. Tidak ada bagian atau hakmu dalam perkara ini, sebab hatimu tidak lurus di hadapan Allah. Jadi bertobatlah dari kejahatanmu ini dan berdoalah kepada Tuhan … (Kis. 8:20-22). Bapa gereja mula-mula Justin dan yang lainnya menunjukkan bahwa si penyihir Simon ini kemudian menjadi bapa bidat mula-mula. Syukurlah Petrus menegakkan disiplin! Gereja mengusir kejahatan besar dan pelaku kejahatan besar! (Jangan membiarkan.) Bagaimana dengan kita? Apakah kita membenci dosa? Apakah gereja kita merupakan gereja yang menghargai kemurnian dan kebenaran?

Renungkan:
• Allah sangat membenci dosa yang jelas, keras, di depan umum dan serius! Para pemimpin gereja hendaknya mengusir kejahatan besar dan pelaku kejahatan! Bagaimana dengan kita? Apakah kita membenci dosa? Apakah kita terus melakukan kejahatan yang melanggar terhadap Allah?
• Mengapa Paulus meminta kita untuk tidak bergaul dengan orang-orang cabul? Jika kita bertemu dengan Daud yang melakukan dosa besar terhadap Allah, apakah kita akan mengikuti teladan nabi Natan, mendatanginya, berbicara dengannya, membimbingnya untuk memahami dosanya, dan dengan sangat serius mengingatkan dia bahwa ia harus segera bertobat dan kembali ke jalan yang benar. Apakah kita akan melakukannya? Apakah Anda bersedia melakukannya?


Renungan pemahaman Surat 1 Korintus

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Surat 1 Korintus 5-10 ditulis oleh Rev. Dr. Kiven Choy (蔡少琪) yang dipublikasi pada bulan Februari 2022 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


1 Korintus 5:6-8

Gereja 「Allah」 harus menjadi 「kelompok baru」 dengan 「kemurnian dan kebenaran」! Ia tidak dapat membiarkan 「angin kerusakan moral dan kata-kata」!

Oleh Rev. Dr. Kiven Choy (蔡少琪)
Alliance Bible Seminary H.K.

(1 Kor. 5:6-8 [ITB])
6 Kemegahanmu tidak baik. Tidak tahukah kamu, bahwa sedikit ragi mengkhamiri seluruh adonan?
7 Buanglah ragi yang lama itu, supaya kamu menjadi adonan yang baru, sebab kamu memang tidak beragi. Sebab anak domba Paskah kita juga telah disembelih, yaitu Kristus. 8 Karena itu marilah kita berpesta, bukan dengan ragi yang lama, bukan pula dengan ragi keburukan dan kejahatan, tetapi dengan roti yang tidak beragi, yaitu kemurnian dan kebenaran.

Untuk mencegah kerusakan moral terus menerus menghancurkan gereja Allah, Paulus menggunakan perumpamaan Paskah untuk memperingatkan gereja: kita tidak boleh menyombongkan diri dan membiarkan ragi keburukan dan kejahatan menghancurkan gereja Kristus. Gereja Korintus, menyombongkan diri dan memegahkan diri adalah masalah besar mereka yang mematikan. Demi menghentikan kanker jahat ini, Paulus memperingatkan kita dengan perumpamaan Paskah, hari raya Yahudi yang paling penting: Gereja Allah harus merupakan adonan yang baru dengan kemurnian dan kebenaran! Kita tidak bisa membiarkan angin kerusakan moral dan kata-kata!

Para pemimpin pada saat itu mungkin memiliki teori pembenaran diri, yaitu, Rahmat Allah cukup, kita tidak perlu terburu-buru menangani beberapa perbuatan buruk! Biarkan mereka secara perlahan mengalami Allah, dan kemudian Allah dapat mengubah mereka! Ajaran yang terlalu keras hanya membuat orang meninggalkan gereja, malahan orang tidak bisa mendapatkan rahmat Allah! Ada masalah di gereja dan pemimpin, tidak perlu ribut-ribut bertindak! Santai saja, bersabarlah, waktunya akan datang sendiri, dan pada akhirnya akan berubah sendiri! Kebenaran separuh-paruh semacam ini sering dimiliki saudara, saudari dan pemimpin yang tidak memiliki studi tentang Allah yang komprehensif dan ketat. Orang perlu tumbuh! Pertumbuhan membutuhkan waktu! Orang Kristen juga mengalami Allah dengan berbagai keterbatasan, kelemahan, dan kesulitan untuk bertumbuh! Tetapi ini tidak berarti bahwa gereja menolerir dan pembiaran terhadap dosa yang jelas, nyata, diketahui umum dan serius, ketika kita melihat itu kita harus segera mengingatkan, menegur, dan mendisiplinkan. Jika tidak, maka keburukan dan kejahatan menjadi ragi yang mempengaruhi seluruh jemaat, sehingga gereja bukan lagi gereja, dan gereja menjadi tempat kediaman roh-roh jahat dan tempat bersembunyi semua roh najis dan tempat bersembunyi segala yang najis dan yang dibenci (Wahyu 18:2).

Sedikit ragi mengkhamiri seluruh adonan (a little leaven leavens the whole lump), ragi sekecil satu butir garam sudah dapat merusak seluruh adonan. Lalat yang mati menyebabkan urapan dari pembuat urapan berbau busuk; demikian juga sedikit kebodohan lebih berpengaruh dari pada hikmat dan kehormatan (Pkh. 10:1). Dalam Perjanjian Lama, Musa memerintahkan orang-orang Yahudi: Kamu makanlah roti yang tidak beragi tujuh hari lamanya; pada hari pertamapun kamu buanglah segala ragi dari rumahmu, … (Kel. 12:15) Paskah memakai roti tidak beragi! Ketika membuat roti tidak beragi, harus sangat berhati-hati tidak bisa menoleransi sebutir ragi kecil mencemari adonan. Demi kehati-hatian, maka setiap rumah tidak boleh ada segala ragi! Yesus Anak Domba Allah juga harus tidak bercacat. Orang Kristen adalah manusia baru, gereja adalah adonan baru, dan harus memiliki rupa yang baru yakni keluar dari kegelapan masuk di dalam terang! Kita tidak bisa lagi mengambil jalan lama, jalan yang penuh ragi lama penuh dengan keburukan dan kejahatan, jalan kerusakan moral, kata-kata dan perbuatan buruk. Orang Kristen memelihara hari raya (memelihara kekudusan) harus menggunakan roti tidak beragi yakni kemurnian dan kebenaran. Terjemahan dari kata aletheia; truth adalah kebenaran. Gereja yang berkenan disenangi Allah pastilah gereja yang menghargai kemurnian, menghargai kebenaran, dan menghidupi kesaksian yang benar dan indah!

Mempelajari sejarah Perjanjian Lama dan dua ribu tahun sejarah gereja, yang paling menyedihkan, adalah musuh-musuh TUHAN mendapat kesempatan menghujat adalah bahwa pada waktu-waktu tertentu para pemimpin gereja setengah terbuka menyembunyikan kotoran mereka dan membiarkan segala macam kerusakan. Di era Hakim, banyak pemimpin hakim-hakim yang bertindak sewenang-wenang dan menghina nama Allah; di era raja Saul, dia secara bertahap menyimpang dari kehendak Allah, menyerahkan diri kepada Iblis, dan akhirnya adalah kehancuran. … Dalam menghadapi skandal mengerikan, seorang Pastor berkata : Gereja tidak memiliki kredibilitas, tidak memiliki pendirian dan tidak memiliki otoritas moral di negara ini. Hari ini, masalahnya adalah kredibilitas, dan sebagai pelayan kudus dibutuhkan seluruh hidup saya untuk membangun kembali kredibilitas karena kredibilitas dan keyakinan dalam gereja telah hancur pada tingkat yang paling dasar. Ketika gereja menghadapi dosa yang jelas, keras, terbuka dan serius, kita hanya memiliki dua pilihan! Pertama adalah mengalami sakitnya disiplin! Pilihan lainnya adalah mengalami penghinaan dan kesedihan yang mengerikan dari korupsi yang berkepanjangan. Amsal mengatakan dengan baik: Hajarlah anakmu selama ada harapan, tetapi jangan engkau menginginkan kematiannya (Amsal 19:18)

Renungkan:
Sedikit ragi mengkhamiri seluruh adonan! Pernahkah Anda melihat beberapa keluarga, beberapa lembaga, beberapa gereja menyebabkan bencana serius karena membiarkan kerusakan moral? Jika Anda pernah mengalaminya, pernahkah Anda merasa berduka hati pada waktu itu?
Hajarlah anakmu selama ada harapan, tetapi jangan engkau menginginkan kematiannya (Amsal 19:18) Gereja yang berkenan disenangi Allah haruslah yang menghargai kemurnian, menghargai kebenaran, serta hidup benar dan kesaksian yang indah. Dua kalimat ini membawakan pengingatan kepada Anda?


Renungan pemahaman Surat 1 Korintus

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Surat 1 Korintus 5-10 ditulis oleh Rev. Dr. Kiven Choy (蔡少琪) yang dipublikasi pada bulan Februari 2022 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


1 Korintus 5:1-5

Patut 「sedih」 atas 「kerusakan beberapa orang dalam gereja」!

Oleh Rev. Dr. Kiven Choy (蔡少琪)
Alliance Bible Seminary H.K.

(1 Kor. 5:1-5 [ITB])
1 Memang orang mendengar, bahwa ada percabulan di antara kamu, dan percabulan yang begitu rupa, seperti yang tidak terdapat sekalipun di antara bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah, yaitu bahwa ada orang yang hidup dengan isteri ayahnya. 2 Sekalipun demikian kamu sombong. Tidakkah lebih patut kamu berdukacita dan menjauhkan orang yang melakukan hal itu dari tengah-tengah kamu? 3 Sebab aku, sekalipun secara badani tidak hadir, tetapi secara rohani hadir, aku – sama seperti aku hadir – telah menjatuhkan hukuman atas dia, yang telah melakukan hal yang semacam itu. 4 Bilamana kita berkumpul dalam roh, kamu bersama-sama dengan aku, dengan kuasa Yesus, Tuhan kita, 5 orang itu harus kita serahkan dalam nama Tuhan Yesus kepada Iblis, sehingga binasa tubuhnya, agar rohnya diselamatkan pada hari Tuhan.

【Referensi ayat】
【Terjemahan Literal】 4-5 Saat kalian atas nama Tuhan kita Yesus berkumpul, rohku dalam kuasa Tuhan kita Yesus bersama dengan kalian. Menyerahkan orang ini kepada Setan, biarlah korup tubuh dagingnya, agar rohnya dapat diselamatkan pada hari Tuhan.
【NET】 5 turn this man over to Satan for the destruction of the flesh, so that his spirit may be saved in the day of the Lord.

Hamba Tuhan yang setia yang mencintai Tuhan, saudara-saudari yang mencintai Allah pasti akan sangat berdukacita atas suasana kerusakan dan kegagalan dalam moral, perkataan, dan perbuatan yang terjadi dalam gereja! Memohon Tuhan membangunkan lebih banyak orang-orang dan hamba Tuhan yang peduli pada gereja! Berani berdiri, memperbaiki lubang kerusakan, mendisiplinkan orang-orang yang gagal dalam moral, perkataan, dan perbuatan, dan mengoreksi kegagalan yang terjadi dalam gereja! Agar gereja benar-benar menjadi gereja Allah, dan dapat benar-benar bersinar dan menjadi seperti garam di hadapan dunia!

Paulus yang telah meninggalkan Korintus, masih sangat prihatin dengan gereja yang ia dirikan ketika ia merintis di Efesus. Ia diberitahukan oleh orang-orang dari keluarga Kloe (1:11); kedengaranlah kabar / aku mendengar (5:1; 11:18), yang kamu tuliskan kepadaku surat-surat dari gereja (7:1) dan kunjungan Stefanus, Fortunatus dan Akhaikus (16:17), Paulus terus menerima semua berita tentang gereja Korintus, dan banyak berita yang membuat ia sedih. Dalam 5:1, Paulus menyebutkan bahwa ada percabulan di antara mereka, perbuatan kerusakan moral yang bahkan merupakan suatu hal yang sangat memalukan di antara bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah, yaitu, ada orang yang hidup dengan isteri ayahnya ! Tetapi gereja tidak menegakkan disiplin, dan terus memaafkan hal ini dan orang ini. Perbuatan yang korup moral ini tidak hanya secara serius merusak reputasi gereja, tetapi juga meninggalkan nama buruk di antara bangsa-bangsa lain, dan sangat merusak keadaan rohani gereja! Sangat mungkin bahwa orang yang melakukan perbuatan yang memalukan ini adalah seorang yang memegang kuasa setempat, atau bahkan seorang pemimpin atau kerabat yang akrab dengan pemimpin gereja. Ketidakdisiplinan kerusakan moral yang serius dari telah menjadi kegagalan besar! Apakah pemimpin yang karena keegoisan atau kepentingan duniawi sehingga gereja yang membiarkan amoralitas yang serius seperti itu masih merupakan gereja Allah? Apakah gereja dan kelompok pemimpin seperti itu tidak membuat orang-orang yang mengasihi Tuhan merasa sedih?

Kata percabulan (porneia; fornication) diterjemahkan dalam Alkitab AS sebagai zinah, percabulan. Kata ini pertama kali muncul dalam Perjanjian Lama dalam bahasa Yunani digunakan dalam tuduhan terhadap Tamar, menantu Yehuda (Kej. 38:24). Istilah ini juga membangkitkan pembahasan atas 1 Korintus 5-7. Terjemahan literal dari frasa ada orang yang hidup dengan isteri ayahnya adalah ada orang memiliki istri ayahnya; ini mungkin bukan sekadar hanya hidup bersama, tetapi juga menikahi ibu tirinya atau selir ayahnya. Budaya Kekaisaran Romawi saat itu sangat bebas, banyak kaisar dan bangsawan Romawi juga melakukan percabulan dengan istri dan selir ayah mereka, tetapi mereka sangat jarang terang-terangan menikahi istri ayah dan selir! Berada di Korintus, yang dikenal sebagai percabulan dan nama jelek, gembala dan orang percaya pasti telah membuat berbagai kritik terhadap fenomena percabulan ini, tapi ternyata ada orang Kristen yang terang-terangan memiliki, menikah istri ayah dan selir! Betapa ini merupakan kerusakan yang parah, hal yang sangat buruk! Yang paling menyedihkan adalah para pemimpin tampaknya tidak merasa sakit hati dan terus memaafkan angin kerusakan ini. Sayang sekali, gereja tidak memiliki disiplin sehingga jatuh sampai sejauh ini!

Teguran Paulus kepada mereka sangat langsung dan keras: Kamu sombong! Kamu tidak berdukacita! Keputusan Paulus sangat tegas dan jelas: 『jauhkan』 orang-orang yang melakukan hal itu dari tengah-tengah kamu! Paulus tidak berada lagi di Korintus, juga tidak diketahui apakah saudara-saudari di gereja Korintus akan mendengarkan hukuman yang diputuskan Paulus! Tetapi Paulus teguh berpegang pada otoritas sebagai gembala! Harus tegur, harus peringatkan, tanpa ragu- ragu tunjukkan prinsip kebenaran Allah, tanpa goyah! Paulus berkata: tubuhku tidak ada di antara kamu, tetapi dalam roh bersamamu! Paulus memperingatkan gereja Korintus bahwa mereka bukan komunitas sekuler, bukan kelompok yang bisa berbuat semaunya keinginan diri sendiri, tetapi mereka adalah sebuah gereja berkumpul dalam nama Tuhan kita Yesus. Jika kita tidak mendisiplinkan! Maka Allah yang akan mendisiplinkan secara langsung diri-Nya sendiri! Gereja adalah gereja milik Allah!

orang itu harus kita serahkan dalam nama Tuhan Yesus kepada Iblis adalah ayat yang sulit, dan para sarjana yang berbeda memiliki pendapat yang berbeda. Ada dua ajaran dasar dalam ayat ini: pertama, orang yang tidak bertobat diusir dari gereja! Maka ia lepas dari perlindungan Kerajaan Kristus sehingga jatuh ke dalam kuasa kegelapan (Kolose 1:13 … mendapat bagian dalam apa yang ditentukan untuk orang-orang kudus di dalam kerajaan terang. Ia telah melepaskan kita dari kuasa kegelapan dan memindahkan kita ke dalam Kerajaan Anak-Nya yang kekasih); kedua, binasa tubuhnya, agar rohnya diselamatkan pada hari Tuhan adalah harapan terakhir gembala ketika dia menjalankan disiplin; gembala berharap bahwa hukuman berat ini akan memberikan kesempatan bagi mereka yang tidak mau bertobat agar merenung dan bertobat karena berat dan sakitnya hukuman tersebut. Dalam prosesnya, mereka akan mengalami hukuman Allah dan dijauhkan dari gereja, tetapi setelah merenungkan dalam rasa sakit ini, diharapkan ada pertobatan dalam penyesalan, dengan demikian rohnya hanya bisa diselamatkan dengan kasih karunia pada hari Tuhan. Sama seperti pengalaman Daud, ketika nabi Natan mengutuk dia secara terbuka di depan umum, Daud juga mengalami derita rasa sakit kematian keempat putranya, tetapi pengalaman ini membuat Daud menyesal dan bertobat. Hati yang berdukacita dan sakit pada akhirnya menghasilkan buah indah pertobatan sejati dan keselamatan oleh kasih karunia. Kita harus berani menerapkan disiplin terhadap moral yang rusak dan perilaku yang korup! Dengan berani mendisiplinkan yang rusak moral, rusak perkataan, rusak perilaku dan rusak budaya, itu adalah pelayan Tuhan yang setia dan hati yang mengasihi!

Renungkan:
• Pernahkah Anda merasa berduka hati atas kerusakan moral dan perbuatan yang terjadi di gereja? Apakah gereja bisa terdapat bias kepada seseorang yang membiarkan moral yang rusak, perkataan buruk dan perbuatan buruk karena egois, status kekuasaan atau kepentingan duniawi?
• Apakah Anda seorang pelayan Tuhan yang mencintai gereja seperti Paulus? Apakah Anda bersedia untuk menjaga agar tidak terjadi lubang kerusakan dan mengoreksi segala macam moral buruk, kata-kata buruk, perbuatan buruk bagi Tuhan?
• Apakah Anda bersedia diperlengkapi untuk memahami kebenaran Allah secara utuh, mendengarkan nasihat sesama pelayan Tuhan, dan menjadi orang yang dapat menjaga pelanggaran, mengajarkan kebenaran secara utuh, dan meneguhkan orang lain dalam perkataan dan perbuatan?


Renungan pemahaman Surat 1 Korintus

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Surat 1 Korintus 5-10 ditulis oleh Rev. Dr. Kiven Choy (蔡少琪) yang dipublikasi pada bulan Februari 2022 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


1 Korintus 5:1-11:1

Kita adalah 「Gereja Allah」! Jangan menyalahgunakan 「Doktrin rohani」! Hendaknya 「segala sesuatu membangun orang」!

Oleh Rev. Dr. Kiven Choy (蔡少琪)
Alliance Bible Seminary H.K.

(1 Kor. 5:1; 6:12; 10:23; 11:1 [ITB])
5:1 Memang orang mendengar, bahwa ada percabulan di antara kamu, dan percabulan yang begitu rupa, seperti yang tidak terdapat sekalipun di antara bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah, yaitu bahwa ada orang yang hidup dengan isteri ayahnya.
6:12 Segala sesuatu halal bagiku, tetapi bukan semuanya berguna. Segala sesuatu halal bagiku, tetapi aku tidak membiarkan diriku diperhamba oleh suatu apapun.
10:23 Segala sesuatu diperbolehkan. Benar, tetapi bukan segala sesuatu berguna. Segala sesuatu diperbolehkan. Benar, tetapi bukan segala sesuatu membangun.
11:1 Jadilah pengikutku, sama seperti aku juga menjadi pengikut Kristus.

Gereja Allah sering mengalami berbagai perselisihan internal dan eksternal. Gereja Korintus disebut Korintus dengan banyak masalah; Paulus sebagai gembala pendiri gereja Korintus, ketika ia bekerja keras di Efesus membuka jalan untuk pekerjaan misionaris, masih harus memberikan banyak keprihatinan atas gereja Korintus. Orang-orang percaya di Korintus terus menerus menyampaikan secara langsung atau lewat surat kepada Paulus bahwa ada berbagai masalah di gereja, perpecahan, kerusakan moral, kesesatan dan kesombongan. Ketika kita melihat banyak masalah dan perselisihan di gereja, kita merasa kesal, dan bahkan ingin untuk menghindarinya, tidak bersedia untuk menghadapinya! Tetapi dari Surat Korintus, kita melihat seorang gembala yang tidak meninggalkan gereja, dan kita juga melihat Allah yang tidak menyerah pada kita. Membaca Surat 1 dan 2 Korintus, kita melihat kegigihan seorang gembala, kegigihan melaksanakan disiplin, dan ketekunan dalam mengajarkan kebenaran yang sepenuhnya. Ketika ada masalah di gereja, yang paling gagal, yang paling disesalkan, yang paling menyedihkan bukanlah bahwa gereja memiliki masalah, tetapi tidak ada orang dan tidak ada pemimpin, yang mau berdiri dan menahan melebarnya pelanggaran, mengoreksi dan memperbaiki masalah berdasarkan Firman dan segala macam kebenaran yang sempurna dari Allah! Kiranya kita mengikuti teladan rasul Paulus: tekun menjadikan gereja benar-benar gereja Allah, dan tekun agar saudara dan saudari benar-benar menjalani kehidupan yang berpadanan sebagai orang- orang kudus!

Surat 1 Korintus dapat dibagi menjadi tujuh bagian besar: pertama, Salam dan Syukur (1:1-9); dua, menangani dengan perpecahan gereja dan sektarianisme (1:10 – 4:21); tiga, menangani masalah moral seperti percabulan, tuntutan hukum, dan pernikahan (5:1 – 7:40); empat, menangani masalah pengorbanan kepada berhala (8:1 – 11:1); kelima, menangani kekacauan dalam pertemuan gereja dan sikap terhadap satu sama lain (11:2 – 14:40); keenam, menangani masalah kebangkitan dan sumbangan (15:1 – 16:4); ketujuh, kata-kata penutup (16:5-24).

Melanjutkan renungan yang sebelumnya 1 Korintus 1 – 4 (bagian 1 dan 2 dari 1 Korintus), maka di bulan ini, kita akan merenungkan isi Korintus 5:1-11:1 yakni bagian ketiga dan keempat dari 1 Korintus.

Masalah yang sering terjadi di gereja adalah bahwa beberapa orang menyalahgunakan doktrin rohani tertentu untuk menyimpang ke jalan mereka sendiri melakukan segala macam kata-kata dan perbuatan yang melanggar Allah dan orang lain, yang lebih tragis adalah di antaranya ada juga beberapa pemimpin gereja dan orang-orang yang pernah belajar teologi. Mereka tidak menggunakan kedudukan, pengalaman, pengetahuan rohani dan teologi untuk merendahkan diri dan membangun gereja, tetapi menyalahgunakan pengetahuan dan doktrin hasil pemikiran sendiri yang semaunya sendiri, meninggikan diri, menyebabkan segala macam perpecahan, kebingungan dan kerusakan. Paulus berkali-kali mengoreksi dan mengkritik mereka yang menyalahgunakan kata-kata rohani. Ada orang yang salah mengajarkan kebenaran bahwa orang Kristen dibebaskan setelah mereka percaya kepada Tuhan, menyalahgunakan frasa spiritual segala sesuatu halal bagiku, lalu semau-maunya melakukan kata-kata dan perbuatan buruk. Paulus dengan tegas mengoreksi dan mencela mereka: orang Kristen memiliki kemerdekaan sejati setelah dibebaskan, tetapi kebebasan sejati ini tidak membuat kita meninggikan diri! Kebebasan sejati adalah bagi kita untuk membangun orang dalam segala hal dan memuliakan Allah dalam segala hal!

Di zaman yang penuh dengan kesulitan, angin sakal, depresi, dan air mata, kita tidak hanya harus menghadapi berbagai tantangan dari dunia luar, tetapi juga menghadapi berbagai ketegangan, perbedaan pandangan, prasangka dan kekerasan hati rohani. Banyak hamba Tuhan dan orang percaya memiliki perasaan yang sama bahwa ini adalah waktu yang sangat sulit. Mereka yang melayani di gereja lebih putus asa, lebih terluka, dan kurang bersukacita, lebih banyak kritik, lebih banyak perbedaan pendapat, dan sedikit dukungan. Di masa lalu, ketegangannya seringkali tidak ada cukup pekerja yang baik! Tapi zaman sekarang adalah gunung berapi ada di mana-mana, hati orang tampaknya seperti gudang mesiu! Dengan pendapat yang sedikit berbeda dan kata-kata yang sedikit berbeda, hubungan antar keluarga serta gereja dapat robek dan meledak kapan saja. Kita berada dalam situasi masa-masa sulit internal dan eksternal yang penuh masalah, celah antar generasi yang terpisah, teman bisa menjadi musuh, dan orang kepercayaan bisa menjadi orang asing. Semakin banyak sulit, semakin kita perlu seperti Paulus membangkitkan lebih banyak kasih kepada Allah, mengasihi orang lain dan mengasihi gereja, bertekun mengajarkan kebenaran yang lengkap, bertekun membimbing gereja dan saudara-saudara di jalan yang benar, dan bertekun menjadi hamba setia yang membangun orang dalam segala hal. Kita juga waspada dengan hati dan mulut, jangan menuruti nafsu dalam berkata-kata dan perbuatan, dan berpegang pada jalan yang benar membangun orang dalam segala hal, meniru Kristus dalam segala hal, memuliakan Allah dalam segala hal.

Renungkan:
• Pernahkah Anda bertemu saudara, saudari, dan pemimpin yang menyalahgunakan kata-kata rohani dan doktrin rohani? Bagaimana dengan Anda? Apakah Anda pernah menerima pelatihan teologi secara penuh? Apakah kata-kata dan sikap Anda segala sesuatu membangun orang?
• Masyarakat dan gereja saat ini penuh dengan tantangan! Menurut Anda apakah ada hal-hal di gereja yang perlu diperbaiki, atau ada hal-hal yang menyimpang dari kehendak Allah? Apakah Anda berdoa untuk kesulitan, kelemahan, penyimpangan dan kesenjangan di gereja yang Anda lihat? Memohon Allah untuk membangkitkan Anda dan para pelayan lainnya untuk berjaga-jaga bagi Gereja Allah agar kesalahan tidak makin membesar!


Renungan pemahaman Surat 1 Korintus

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Surat 1 Korintus 5-10 ditulis oleh Rev. Dr. Kiven Choy (蔡少琪) yang dipublikasi pada bulan Februari 2022 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


1 Kor. 1:1-3

「Dipanggil untuk menjadi rasul」, kita 「dipanggil untuk menjadi orang-orang kudus」!

Oleh Rev. Dr. Kiven Choy (蔡少琪)
Alliance Bible Seminary H.K.

(1 Kor. 1:1-3 [ITB])
1 Dari Paulus, yang oleh kehendak Allah dipanggil menjadi rasul Kristus Yesus, dan dari Sostenes, saudara kita, 2 kepada jemaat Allah di Korintus, yaitu mereka yang dikuduskan dalam Kristus Yesus dan yang dipanggil menjadi orang-orang kudus, dengan semua orang di segala tempat, yang berseru kepada nama Tuhan kita Yesus Kristus, yaitu Tuhan mereka dan Tuhan kita.
3 Kasih karunia dan damai sejahtera dari Allah, Bapa kita, dan dari Tuhan Yesus Kristus menyertai kamu.

【Referensi ayat】
(2Kor. 1:1) Dari Paulus, yang oleh kehendak Allah menjadi rasul Kristus Yesus, dan dari Timotius saudara kita, kepada jemaat Allah di Korintus dengan semua orang kudus di seluruh Akhaya.
(Roma 1:1) Dari Paulus, hamba Kristus Yesus, yang dipanggil menjadi rasul dan dikuduskan untuk memberitakan Injil Allah.
(Roma 1:7) Kepada kamu sekalian yang tinggal di Roma, yang dikasihi Allah, yang dipanggil dan dijadikan orang-orang kudus

Dalam salam di tiga surat pertama yang ditulis oleh Paulus (Galatia, 1 Tesalonika, dan 2 Tesalonika) , ia tidak menggunakan sebutan orang-orang kudus untuk menyapa saudara-saudari. Tapi mulai dari Surat 1 Korintus, Paulus sering menggunakan istilah orang-orang kudus untuk menyapa saudara-saudari (1 Koritus, 2 Korintus, Roma, Efesus, Filipi, Kolose) . Dalam Empat Injil dan Kisah Para Rasul, penulis Perjanjian Baru suka menggunakan istilah murid untuk menyebut orang percaya (dari Mat. 5:1 sampai Kis. 21:16) . Tetapi setelah Kitab Kisah Para Rasul, para penulis Perjanjian Baru lainnya (termasuk Paulus) tidak lagi menggunakan istilah murid. Paulus paling suka memakai sebutan orang-orang kudus; total muncul 41 kali. Dalam Empat Injil, kita melihat murid-murid yang setia, tetapi ada juga murid yang tiga kali menyangkal Tuhan, sebutan murid tidak berarti apa-apa dengan sendirinya! Kecuali jika kita menjalani hidup yang sepadan dengan sebutan itu. Murid dalam keempat Injil penuh dengan kelemahan, kurang iman, tersesat, suka membanding-bandingkan, dan jatuh. Orang-orang percaya yang berkenan kepada Tuhan Yesus harus mengikuti Tuhan sampai akhir dan menempuh jalan pengudusan sepanjang hidup mereka. Orang percaya yang mengejar pengudusan sepanjang hidupnya adalah murid yang berkenan kepada Kristus.

Di bagian kata pengantar dalam Surat 1 Korintus dan Surat Roma, Paulus menggunakan sebutan yang dipanggil menjadi orang-orang kudus (kletois hagiois) untuk menggambarkan saudara-saudari, dan sebutan yang dipanggil menjadi rasul (kletos apostolos) untuk menggambarkan dirinya. Paulus setelah pengalaman pastoral penggembalaan dan misi yang panjang, dia sangat merasakan, meskipun ia sudah berusaha keras membangun gereja namun kehidupan orang percaya masih sangat mudah berubah kualitas dan menyimpang; bukankah ini membuat orang sedih? Bukankah menjadi kehilangan kesaksian? Ketika saudara-saudari kehilangan kualitas orang-orang kudus, yang dikejar bukan lagi meneladani Kristus, tetapi cinta dunia, maka semua jenis sengketa, kesombongan, percabulan, perpecahan kelompok, dan kehilangan iman, akan muncul di dalam gereja. Tepat seperti di gereja Korintus muncul banyak masalah. Gereja tidak lagi seperti gereja Tuhan! Orang percaya sama sekali tidak seperti orang kudus! Dalam 1 Kor. 1:2, Paulus melalui sebutan dikuduskan dan dipanggil menjadi orang-orang kudus hendak mengingatkan kita: orang-orang yang percaya kepada Kristus, harus menapak di jalan kekudusan, harus menjalani hidup yang sepadan sebutan orang-orang kudus.

Dalam gerakan pemuridan beberapa tahun terakhir, banyak gembala menyukai dengan dikotomi pembagian orang percaya dan murid, untuk mengingatkan kita agar menjalankan pemuridan membimbing orang percaya menjadi murid-murid yang setia dan mengasihi Tuhan, jangan hanya sekadar hanya menjadi orang percaya yang diselamatkan saja. Pengingat dan upaya ini sangat berharga, tetapi sejauh menyangkut bahasa Perjanjian Baru, Alkitab tidak memiliki dikotomi pembagian dua macam kelas yang demikian ketat. Tegasnya, masing-masing orang percaya adalah murid (disciple) (mathetes) , masing-masing orang percaya adalah orang kudus (saint) (hagios) . Dalam surat-surat Paulus, ia tidak pernah menggunakan sebutan murid, Paulus suka menggunakan istilah orang-orang kudus untuk menyebutkan orang percaya.

Dalam 1 Kor. 1:2, Paulus menunjukkan definisi orang-orang kudus yaitu: semua orang yang berseru (call upon) kepada nama Tuhan kita Yesus Kristus adalah orang-orang kudus. Kita menerima pembenaran karena iman, karena berseru memanggil nama Kristus maka menerima keselamatan. Semua orang yang percaya berseru memanggil nama Kristus adalah orang-orang kudus! Setiap orang percaya, murid, orang kudus harus mengambil jalan pengudusan! Kita harus menjalani kehidupan yang sepadan dengan anugerah panggilan kita! (Efesus 4:1; Filipi 1:27; Gal. 3:8) Jadi, sebenarnya, setiap orang percaya harus menerima pemuridan dan menjadi orang-orang kudus yang setia mengasihi Tuhan, memiliki kesaksian hidup yang indah; secara tegasnya orang percaya,murid danorang-orang kudus tidak ada perbedaan sepenuhnya, tetapi penulis Alkitab yang berbeda suka menggunakan ekspresi yang berbeda, untuk mengingatkan kita untukpercaya sampai akhirnya, mengikuti Tuhan sampai akhirnya, dan seumur hidup berjalan di jalan pengudusan.

Kita dipanggil untuk menjadi orang-orang kudus! Gembala dipanggil untuk menyempurnakan orang-orang kudus, mengajar, mendisiplinkan, dan membina orang-orang kudus, membantu orang-orang kudus menghidupi jalan pengudusan, membantu orang-orang kudus saling mengasihi, antusias dalam pelayanan, bersatu hati, memasyhurkan Injil, dan membangun tubuh Kristus. Jadi, apakah kita yang dipanggil menjadi pelayan Tuhan? Apakah kita yang dipanggil menjadi orang-orang kudus?

Renungkan:
• Beberapa orang salah paham bahwa jika Anda bukan murid, maka Anda dapat menuruti kehendak diri sendiri dan cukup menjadi orang percaya yang diselamatkan! Apakah Anda mengenal orang yang memiliki ide yang salah seperti itu?
• Dalam arus sejarah, beberapa sastrawan menyesalkan dan bersedih atas zaman di mana negara tidak lagi seperti negara, dan rumah lagi tidak seperti rumah! Tetapi apakah kita meratapi zaman ketika gereja tidak lagi seperti gereja, dan orang-orang kudus lagi tidak seperti orang-orang kudus? Apakah Anda pernah mengalami rasa sedih seperti ini?
• Apakah Anda bersedia memiliki tekad seperti itu? Kita dipanggil untuk menjadi pelayan! Kita dipanggil untuk menjadi orang-orang kudus!


Renungan pemahaman Surat 1 Korintus

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Surat 1 Korintus 1-4 ditulis oleh Rev. Dr. Kiven Choy (蔡少琪) yang dipublikasi pada bulan Juli 2021 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


1 Kor. 1:1-2

Kita adalah jemaat Allah

Oleh Rev. Dr. Kiven Choy (蔡少琪)
Alliance Bible Seminary H.K.

(1 Kor. 1:1-2 [ITB])
1 Dari Paulus, yang oleh kehendak Allah dipanggil menjadi rasul Kristus Yesus, dan dari Sostenes, saudara kita, 2 kepada jemaat Allah di Korintus, yaitu mereka yang dikuduskan dalam Kristus Yesus dan yang dipanggil menjadi orang-orang kudus, dengan semua orang di segala tempat, yang berseru kepada nama Tuhan kita Yesus Kristus, yaitu Tuhan mereka dan Tuhan kita.

【Referensi ayat】
(2Kor. 1:1 [ITB]) Dari Paulus, yang oleh kehendak Allah menjadi rasul Kristus Yesus, dan dari Timotius saudara kita, kepada jemaat Allah di Korintus dengan semua orang kudus di seluruh Akhaya.

Renungan bulan ini, kita akan fokus mempelajari Surat 1 Korintus pasal 1-4. Dalam tiga hari pertama kita akan menggunakan sebagian konten untuk memperkenalkan latar belakang, karakteristik, garis besar, dan materi terkait lainnya dari surat-surat Korintus. Dalam ayat 1-3 Paulus sudah membawakan tiga perhatian penting terhadap gereja tercinta: kita adalah jemaat Allah, kita dipanggil untuk menjadi orang-orang kudus, saya dipanggil untuk menjadi rasul Kristus Yesus.

Gereja Korintus adalah gereja yang sangat dicintai Paulus. Surat 1 dan 2 Korintus dituliskan oleh Paulus terkait masalah jemaat Korintus dan konflik serta kesalahpahaman mereka dengan Paulus, dari dalamnya kita belajar bagaimana dalam situasi gereja yang sulit dapat mempertahankan kebenaran, mempertahankan didikan disiplin, dan menghidupi kasih Kristus yang besar. Perasaan Paulus mengalirkan dengan jujur dalam surat 1 dan 2 Korintus, ada kekhawatiran, air mata, ada kasih dan benci, mari kita kenali gereja Korintus yang memiliki banyak masalah, kita juga mengenal secara mendalam perasaan hamba yang setia, bagaimana dalam waktu yang panjang bekerja keras dan berada di dalam tarikan ketegangan tetap bertekad untuk mengikuti teladan Kristus, bersumpah untuk membuat gereja benar-benar menghidupi model rupa jemaat Allah, agar orang-orang kudusmenjalani hidup yang sepadan dengan identitas, ini adalah surat-surat yang sangat berharga yang mengajari kita bagaimana menggembalakan gereja.

Gereja Korintus adalah gereja yang didirikan Paulus selama perjalanan misinya yang kedua. Di antara gereja-gereja yang didirikan oleh Paulus sendiri, selain gereja Efesus, Paulus tinggal paling lama di gereja Korintus (delapan belas bulan). Jika berdasarkan teori Galatia Selatan, maka surat-surat Paulus yang paling awal adalah Galatia, 1 dan 2 Tesalonika, dan tiga surat berikutnya adalah 1 dan 2 Korintus, dan Surat Roma. Sekitar tahun 54-57 AD saat menuliskan Surat 1 dan 2 Korintus, dan Surat Roma, usia Paulus sekitar lima puluh tahun, ini adalah surat-surat berharga yang ia tuliskan di masa emas pelayanannya, ditulis sebelum dipenjarakan di Kaisarea dan Roma (tahun 57-62 AD).

Sejak gereja Korintus didirikan (Kis. 18:1-18) sekitar tahun 50-52 AD, hingga sekitar tahun 57 AD ia datang ke Korintus (Kis. 20:2-3; Korintus termasuk tanah Yunani), dalam periode waktu ini dituliskan Surat-surat Korintus yang berharga. Selama tujuh tahun yang panjang ini, Paulus mengalami berat dan sulitnya merintis serta membangun gereja. Selama periode merintis gereja Efesus, dia masih harus menghadapi banyak masalah gereja Korintus, kesalahpahaman dan fitnah, ia mengalami proses yang sangat berat. Beberapa peneliti mengatakan bahwa perjalanan singkatnya ke Korintus adalah perjalanan dukacita (painful visit) (2 Kor. 2:1, Aku telah mengambil keputusan di dalam hatiku, bahwa aku tidak akan datang lagi kepadamu dalam dukacita) . Akhirnya, di bawah berbagai kekhawatiran dan kelemahan, ia secara langsung mengalami cukupnya kasih karunia Tuhan Yesus. Dalam Kis. 20:2-3 , Lukas mencatat Paulus ketiga kali datang ke Korintus menyelesaikan banyak masalah dan kesalahpahaman gereja, dan di sana ia menuliskan Surat Roma yang tak lekang waktu. Dari Surat-surat Korintus berharga yang dituliskan dalam tujuh tahun yang sulit ini, kita tidak hanya sekadar mengenal bahwa berbagai masalah dapat muncul di gereja, tetapi juga bahwa berbagai kesalahpahaman, kontradiksi dan konflik dapat muncul antara gembala dan gereja, tetapi juga membuat kita menyadari bahwa cukuplah kasih karunia Tuhan Yesus.

Dalam Surat 1 dan 2 Korintus, Paulus secara khusus memakai frasa kepada jemaat Allah di Korintus (to the church of God in Corinth) untuk memulai suratnya. Dengan mengingatkan identitas jemaat Allah, ia mengungkapkan kesedihan sebagai seorang gembala bahwa gereja yang ia dirikan telah menjauh dari banyak pengajaran Kristus, dan telah menjadi gereja banyak masalah, banyak perselisihan, dan banyak perpecahan kelompok, bahkan perjamuan kasih berkembang menjadi yang seorang lapar dan yang lain mabuk (1 Kor. 11:21), sungguh-sungguh membuat Paulus sangat sedih. Tetapi Paulus tidak meninggalkan tanggung jawab dan otoritas rasulnya, dia bersikeras pada kebenaran, bersikeras pada disiplin didikan, terus menegur gereja, harus meneladani Kristus, dan meninggalkan kalimat yang terkenal: Hendaklah kamu menurut teladanku, seperti aku pun menurut teladan Kristus[ITL] (1 Kor. 11:1)

Merenungkan gereja kita hari ini, apakah kita adalah jemaat Allah yang berkenan kepada Tuhan? Ataukah kita berjalan menurut kehendak masing-masing, sombong, perpecahan berkelompok, kesalahpahaman, menghakimi yang terus-menerus, perselisihan berlanjut, jemaat Allah yang mempermalukan?

Renungkan:
• Atas apa yang Anda tahu tentang latar belakang Surat 1 Korintus, hal apa yang paling menyedihkan Anda?
• Apakah gereja Anda, atau gereja lain yang Anda kenal, memiliki masalah serupa? Bagaimana hal ini menjadi permasalahan bagi Anda?
• Paulus bertekad untuk membangun sebuah jemaat Allah. Apa pengingat dan dorongan yang Anda dapatkan? Jika ada, dapatkah diubah menjadi doa dan tekad?


Renungan pemahaman Surat 1 Korintus

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Surat 1 Korintus 1-4 ditulis oleh Rev. Dr. Kiven Choy (蔡少琪) yang dipublikasi pada bulan Juli 2021 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.