Tag Archives: Murid Yesus

1 Kor. 1:1-3

「Dipanggil untuk menjadi rasul」, kita 「dipanggil untuk menjadi orang-orang kudus」!

Oleh Rev. Dr. Kiven Choy (蔡少琪)
Alliance Bible Seminary H.K.

(1 Kor. 1:1-3 [ITB])
1 Dari Paulus, yang oleh kehendak Allah dipanggil menjadi rasul Kristus Yesus, dan dari Sostenes, saudara kita, 2 kepada jemaat Allah di Korintus, yaitu mereka yang dikuduskan dalam Kristus Yesus dan yang dipanggil menjadi orang-orang kudus, dengan semua orang di segala tempat, yang berseru kepada nama Tuhan kita Yesus Kristus, yaitu Tuhan mereka dan Tuhan kita.
3 Kasih karunia dan damai sejahtera dari Allah, Bapa kita, dan dari Tuhan Yesus Kristus menyertai kamu.

【Referensi ayat】
(2Kor. 1:1) Dari Paulus, yang oleh kehendak Allah menjadi rasul Kristus Yesus, dan dari Timotius saudara kita, kepada jemaat Allah di Korintus dengan semua orang kudus di seluruh Akhaya.
(Roma 1:1) Dari Paulus, hamba Kristus Yesus, yang dipanggil menjadi rasul dan dikuduskan untuk memberitakan Injil Allah.
(Roma 1:7) Kepada kamu sekalian yang tinggal di Roma, yang dikasihi Allah, yang dipanggil dan dijadikan orang-orang kudus

Dalam salam di tiga surat pertama yang ditulis oleh Paulus (Galatia, 1 Tesalonika, dan 2 Tesalonika) , ia tidak menggunakan sebutan orang-orang kudus untuk menyapa saudara-saudari. Tapi mulai dari Surat 1 Korintus, Paulus sering menggunakan istilah orang-orang kudus untuk menyapa saudara-saudari (1 Koritus, 2 Korintus, Roma, Efesus, Filipi, Kolose) . Dalam Empat Injil dan Kisah Para Rasul, penulis Perjanjian Baru suka menggunakan istilah murid untuk menyebut orang percaya (dari Mat. 5:1 sampai Kis. 21:16) . Tetapi setelah Kitab Kisah Para Rasul, para penulis Perjanjian Baru lainnya (termasuk Paulus) tidak lagi menggunakan istilah murid. Paulus paling suka memakai sebutan orang-orang kudus; total muncul 41 kali. Dalam Empat Injil, kita melihat murid-murid yang setia, tetapi ada juga murid yang tiga kali menyangkal Tuhan, sebutan murid tidak berarti apa-apa dengan sendirinya! Kecuali jika kita menjalani hidup yang sepadan dengan sebutan itu. Murid dalam keempat Injil penuh dengan kelemahan, kurang iman, tersesat, suka membanding-bandingkan, dan jatuh. Orang-orang percaya yang berkenan kepada Tuhan Yesus harus mengikuti Tuhan sampai akhir dan menempuh jalan pengudusan sepanjang hidup mereka. Orang percaya yang mengejar pengudusan sepanjang hidupnya adalah murid yang berkenan kepada Kristus.

Di bagian kata pengantar dalam Surat 1 Korintus dan Surat Roma, Paulus menggunakan sebutan yang dipanggil menjadi orang-orang kudus (kletois hagiois) untuk menggambarkan saudara-saudari, dan sebutan yang dipanggil menjadi rasul (kletos apostolos) untuk menggambarkan dirinya. Paulus setelah pengalaman pastoral penggembalaan dan misi yang panjang, dia sangat merasakan, meskipun ia sudah berusaha keras membangun gereja namun kehidupan orang percaya masih sangat mudah berubah kualitas dan menyimpang; bukankah ini membuat orang sedih? Bukankah menjadi kehilangan kesaksian? Ketika saudara-saudari kehilangan kualitas orang-orang kudus, yang dikejar bukan lagi meneladani Kristus, tetapi cinta dunia, maka semua jenis sengketa, kesombongan, percabulan, perpecahan kelompok, dan kehilangan iman, akan muncul di dalam gereja. Tepat seperti di gereja Korintus muncul banyak masalah. Gereja tidak lagi seperti gereja Tuhan! Orang percaya sama sekali tidak seperti orang kudus! Dalam 1 Kor. 1:2, Paulus melalui sebutan dikuduskan dan dipanggil menjadi orang-orang kudus hendak mengingatkan kita: orang-orang yang percaya kepada Kristus, harus menapak di jalan kekudusan, harus menjalani hidup yang sepadan sebutan orang-orang kudus.

Dalam gerakan pemuridan beberapa tahun terakhir, banyak gembala menyukai dengan dikotomi pembagian orang percaya dan murid, untuk mengingatkan kita agar menjalankan pemuridan membimbing orang percaya menjadi murid-murid yang setia dan mengasihi Tuhan, jangan hanya sekadar hanya menjadi orang percaya yang diselamatkan saja. Pengingat dan upaya ini sangat berharga, tetapi sejauh menyangkut bahasa Perjanjian Baru, Alkitab tidak memiliki dikotomi pembagian dua macam kelas yang demikian ketat. Tegasnya, masing-masing orang percaya adalah murid (disciple) (mathetes) , masing-masing orang percaya adalah orang kudus (saint) (hagios) . Dalam surat-surat Paulus, ia tidak pernah menggunakan sebutan murid, Paulus suka menggunakan istilah orang-orang kudus untuk menyebutkan orang percaya.

Dalam 1 Kor. 1:2, Paulus menunjukkan definisi orang-orang kudus yaitu: semua orang yang berseru (call upon) kepada nama Tuhan kita Yesus Kristus adalah orang-orang kudus. Kita menerima pembenaran karena iman, karena berseru memanggil nama Kristus maka menerima keselamatan. Semua orang yang percaya berseru memanggil nama Kristus adalah orang-orang kudus! Setiap orang percaya, murid, orang kudus harus mengambil jalan pengudusan! Kita harus menjalani kehidupan yang sepadan dengan anugerah panggilan kita! (Efesus 4:1; Filipi 1:27; Gal. 3:8) Jadi, sebenarnya, setiap orang percaya harus menerima pemuridan dan menjadi orang-orang kudus yang setia mengasihi Tuhan, memiliki kesaksian hidup yang indah; secara tegasnya orang percaya,murid danorang-orang kudus tidak ada perbedaan sepenuhnya, tetapi penulis Alkitab yang berbeda suka menggunakan ekspresi yang berbeda, untuk mengingatkan kita untukpercaya sampai akhirnya, mengikuti Tuhan sampai akhirnya, dan seumur hidup berjalan di jalan pengudusan.

Kita dipanggil untuk menjadi orang-orang kudus! Gembala dipanggil untuk menyempurnakan orang-orang kudus, mengajar, mendisiplinkan, dan membina orang-orang kudus, membantu orang-orang kudus menghidupi jalan pengudusan, membantu orang-orang kudus saling mengasihi, antusias dalam pelayanan, bersatu hati, memasyhurkan Injil, dan membangun tubuh Kristus. Jadi, apakah kita yang dipanggil menjadi pelayan Tuhan? Apakah kita yang dipanggil menjadi orang-orang kudus?

Renungkan:
• Beberapa orang salah paham bahwa jika Anda bukan murid, maka Anda dapat menuruti kehendak diri sendiri dan cukup menjadi orang percaya yang diselamatkan! Apakah Anda mengenal orang yang memiliki ide yang salah seperti itu?
• Dalam arus sejarah, beberapa sastrawan menyesalkan dan bersedih atas zaman di mana negara tidak lagi seperti negara, dan rumah lagi tidak seperti rumah! Tetapi apakah kita meratapi zaman ketika gereja tidak lagi seperti gereja, dan orang-orang kudus lagi tidak seperti orang-orang kudus? Apakah Anda pernah mengalami rasa sedih seperti ini?
• Apakah Anda bersedia memiliki tekad seperti itu? Kita dipanggil untuk menjadi pelayan! Kita dipanggil untuk menjadi orang-orang kudus!


Renungan pemahaman Surat 1 Korintus

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Surat 1 Korintus 1-4 ditulis oleh Rev. Dr. Kiven Choy (蔡少琪) yang dipublikasi pada bulan Juli 2021 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Yohanes 1:43-44

「Ikutlah Aku!」
Oleh Dr. John Chan Wai-on
Alliance Bible Seminary H.K.

(Yohanes 1:43-44 [ITB])
43 Pada keesokan harinya Yesus memutuskan untuk berangkat ke Galilea. Ia bertemu dengan Filipus, dan berkata kepadanya: Ikutlah Aku! 44 Filipus itu berasal dari Betsaida, kota Andreas dan Petrus.

「Ikutlah Aku!」

Kita sampai pada catatan berikutnya tentang Yesus memanggil murid-murid-Nya. Sekilas, tidak ada yang istimewa dari kalimat ini: Yesus memutuskan untuk berangkat ke Galilea. Ia bertemu dengan Filipus, dan berkata kepadanya: Ikutlah Aku! Di permukaan, Yesus bertemu Filipus secara kebetulan — Dia pergi ke Galilea, bertemu Filipus dalam perjalanan. Namun, seperti yang disebutkan sebelumnya, bertemu yang dilakukan oleh Yesus tidak pernah terjadi secara kebetulan atau acak. Dia telah memilih Filipus sebagai murid-Nya. (Kata bertemu dalam bahasa Mandarin ataupun Indonesia bisa memiliki makna bersua atau berjumpa tanpa membawa makna mencari dan mendapatkan, bandingkan bahasa Inggris kata find, The next day Jesus decided to go to Galilee. He found Philip and said to him, 『Follow me.』 Now Philip was from Bethsaida, the city of Andrew and Peter. Philip found Nathanael and said to him, 『We have found him of whom Moses in the Law and also the prophets wrote, Jesus of Nazareth, the son of Joseph.』)

Namun, sebelum membahas Filipus, mari kita ulas murid-murid yang dipanggil oleh Yesus dalam Injil Yohanes pasal 1:
– Murid pertama dan kedua adalah murid Yohanes Pembaptis, setelah mendengar kesaksian Yohanes Pembaptis, mereka berinisiatif untuk mengikuti Yesus.
– Murid ketiga adalah Simon Petrus. Dia dibawa kepada Yesus oleh Andreas, saudaranya.

Di sini, Filipus adalah murid keempat. Namun, cara murid ini mengikuti Yesus berbeda dari tiga sebelumnya – dia dipanggil oleh Yesus sendiri! Tentu saja, setiap murid pertama-tama dan mula-mula dipilih dan dicari oleh Yesus Kristus, tetapi hanya Filipus yang dipanggil secara langsung oleh Yesus sendiri! Yesus ingin memanggil Filipus sendiri, mungkin karena alasan praktis: Filipus tidak mengenal siapa pun. Murid pertama dan kedua diperkenalkan oleh Yohanes Pembaptis, murid ketiga Petrus diperkenalkan oleh Andreas. Namun, Filipus bertemu di jalan. Karena itu, Yesus merealisasikan panggilan-Nya.

Faktanya, setiap murid dipanggil oleh Yesus — tidak ada murid yang tanpa dipanggil Yesus. Apakah itu murid yang tidak disebutkan namanya, atau Andreas, atau Petrus, mereka semua dipanggil oleh Yesus (Injil Matius mencatat panggilan Yesus atas Andreas dan Petrus, lihat Mat. 4:19, Markus 1:17). Hal yang istimewa tentang Filipus adalah dia mendengar panggilan Yesus kepadanya secara konkret langsung dari-Nya.

Di sisi lain, kita menemukan bahwa panggilan Yesus kepada Filipus tidak memiliki konten khusus. Panggilan ini bukanlah untuk ikut pelajaran kursus, juga bukan bentuk pelatihan terencana, juga bukan sesuatu yang dapat dikendalikan Filipus. Yesus hanya memanggil — murni hanya memanggil untuk Ikutlah Aku!. Perintah Ikutlah Aku! sederhana dan spesifik, tetapi tanpa referensi apa pun, bahkan dapat menjadi ambigu. Orang yang dipanggil hanya memiliki satu tindakan, yaitu mengikuti. Bagaimana cara mengikutinya? Apa yang Anda ikuti? Filipus tidak tahu pertanyaan-pertanyaan ini. Filipus hanya mengetahui dua hal:
– Dia dipanggil.
– Dia hendak mengikuti Yesus.

Renungkan:
Saudara dan saudari, bagaimana dengan Anda? Mungkin Anda belum secara khusus mendengar panggilan Tuhan kepada Anda untuk mengikuti, tetapi kenyataannya, panggilan ini pasti terjadi. Anda mungkin tidak tahu persis apa yang harus dilakukan — dan tidak ada jawaban pasti yang terencana. Tetapi Anda harus mengikuti, terus mengikuti, dan menemukan cara mengikuti.


Renungan pemahaman Injil Yohanes
Renungan pemahaman Injil Yohanes 1:19-51

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Injil Yohanes 1:19-51 ditulis oleh Chén Wéi Ān (陳韋安) yang dipublikasi pada bulan September 2020 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Iklan yang ada bukan milik blog ini, tetapi milik WordPress penyedia fasilitas blog tanpa biaya.

Yohanes 1:38A

「Apakah yang kamu cari?」
Oleh Dr. John Chan Wai-on
Alliance Bible Seminary H.K.

(Yohanes 1:38A [ITB])
38A Tetapi Yesus menoleh ke belakang. Ia melihat, bahwa mereka mengikut Dia lalu berkata kepada mereka: Apakah yang kamu cari?

Murid Yohanes mengikuti Yesus, mereka sudah mengikuti. Maksud saya adalah: Yesus berjalan di depan, mereka mengikuti di belakang, dan mengikuti dengan diam. Apa yang akan mereka lakukan? Apa rencananya? Apa yang ingin mereka ikuti? Tidak. Mereka hanya mengikuti tanpa suara. Tidak berbicara, terus mengikuti.

Yesus akhirnya berbicara. Yesus berbalik, melihat bahwa mereka mengikuti, dan bertanya kepada mereka, Apakah yang kamu cari? Ini adalah kalimat pertama Yesus yang tercatat dalam Injil Yohanes. Tentu saja, sebagai jalan Allah, Dia adalah Sang Firman Allah.

Tentu saja, Yesus tahu mereka mengikuti, selalu tahu. Bahkan, Dia sudah mempersiapkannya sejak dini. Hari ini — tepat hari ini, Dia akan memilih murid-murid-Nya. Yesus berjalan di depan mereka berdua — ini bukan kebetulan. Tidak ada orang yang mengikuti Yesus yang kebetulan. Mereka pertama kali dikenal Yesus, diketahui, dicintai, dipilih, dan dipimpin oleh Yesus. Bukan karena mereka memilih untuk mengikuti Yesus terlebih dahulu, tetapi Yesus memilih mereka terlebih dahulu.

Namun, Yesus mengajukan pertanyaan aneh kepada mereka: Apakah yang kamu cari? Apa yang kamu inginkan?

Tentu saja, pertanyaan ini bukanlah pertanyaan yang biasa Saya tidak tahu jadi saya harus bertanya. Karena Yesus memilih mereka dan mengenal mereka, Yesus tahu segalanya tentang mereka. Oleh karena itu, Apakah yang kamu cari? Apa yang kamu inginkan? Pertanyaan ini bukan untuk Yesus, tetapi untuk para murid — Anda mengikuti Saya, apakah Anda tahu apa yang Anda inginkan? Apa motifnya? Apa tujuan dan harapanmu?

Apa yang kamu cari? Pertanyaan ini menggugah pikiran. Itu adalah tantangan dan refleksi untuk direnungkan bagi setiap pengikut.

Renungkan:
Saudara dan saudari, motivasi apa yang Anda miliki untuk mengikuti Yesus? Apa harapan dan tujuan Anda? Apakah motivasi, harapan, dan tujuan ini benar? Apakah mengikuti Yesus adalah alat sarana (means) bagi Anda atau tujuan akhir (end)?


Renungan pemahaman Injil Yohanes
Renungan pemahaman Injil Yohanes 1:19-51

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Injil Yohanes 1:19-51 ditulis oleh Chén Wéi Ān (陳韋安) yang dipublikasi pada bulan September 2020 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Iklan yang ada bukan milik blog ini, tetapi milik WordPress penyedia fasilitas blog tanpa biaya.

Yohanes 8:31-42

21 Maret 2018 – Hari Rabu Minggu kelima, Pra Paskah

Jikalau kamu tetap dalam firman-Ku, kamu benar-benar adalah murid-Ku

(Yohanes 8:31-42)
31Maka kata-Nya kepada orang-orang Yahudi yang percaya kepada-Nya: “Jikalau kamu tetap dalam firman-Ku, kamu benar-benar adalah murid-Ku 32dan kamu akan mengetahui kebenaran, dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu.”
33Jawab mereka: “Kami adalah keturunan Abraham dan tidak pernah menjadi hamba siapapun. Bagaimana Engkau dapat berkata: Kamu akan merdeka?”

34Kata Yesus kepada mereka: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya setiap orang yang berbuat dosa, adalah hamba dosa. 35 Dan hamba tidak tetap tinggal di dalam rumah, tetapi anak tetap tinggal dalam rumah. 36Jadi apabila Anak itu memerdekakan kamu, kamupun benar-benar merdeka.”
37″Aku tahu, bahwa kamu adalah keturunan Abraham, tetapi kamu berusaha untuk membunuh Aku karena firman-Ku tidak beroleh tempat di dalam kamu.
38 Apa yang Kulihat pada Bapa, itulah yang Kukatakan, dan demikian juga kamu perbuat tentang apa yang kamu dengar dari bapamu.

39Jawab mereka kepada-Nya: “Bapa kami ialah Abraham.”
Kata Yesus kepada mereka: “Jikalau sekiranya kamu anak-anak Abraham, tentulah kamu mengerjakan pekerjaan yang dikerjakan oleh Abraham. 40Tetapi yang kamu kerjakan ialah berusaha membunuh Aku; Aku, seorang yang mengatakan kebenaran kepadamu, yaitu kebenaran yang Kudengar dari Allah; pekerjaan yang demikian tidak dikerjakan oleh Abraham. 41 Kamu mengerjakan pekerjaan bapamu sendiri.”
Jawab mereka: “Kami tidak dilahirkan dari zinah. Bapa kami satu, yaitu Allah. ”

42 Kata Yesus kepada mereka: “Jikalau Allah adalah Bapamu, kamu akan mengasihi Aku, sebab Aku keluar dan datang dari Allah. Dan Aku datang bukan atas kehendak-Ku sendiri, melainkan Dialah yang mengutus Aku. ”

Renungan
Di dalam budaya relativisme dan berita-berita bohong, pencarian akan kebenaran lebih relevan dari apapun juga. Pertanyaan sinis Pontius Pilatus “Apakah kebenaran itu?“ menyiratkan kebenaran itu tidak ada. Kita tidak hanya dapat mengetahui kebenaran, Yesus menyatakan kita akan tahu kebenaran dan kebenaran itu akan memerdekakan kita.

Tapi kita tidak berpikir kita berbelenggu dan oleh karena itu tidak perlu dimerdekakan. Ini adalah sebuah bahaya dua kali lipat. Kita memiliki kebenaran yang relatif dan kita berpikir kita bebas.

Dalam Yohanes 14:6 Yesus berkata “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku.“ Ini adalah pernyataan yang menakjubkan. Kebenaran bukan fakta statis tapi seorang pirbadi yang hidup, dan mengenal-Nya adalah sumber kebebasan sejati.

Mengapa kita harus mempercayai Firman-Nya ini?

Ini membawa kita pada pernyataan Injil yang lain, “Pada mulanya adalah Firman, Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah“. Yang dimaksud di sini adalah Tuhan itu ada, dan Tuhan telah berkomunikasi dalam dan melalui Firman yang berinkarnasi – alat komunikasi di dalam pribadi Yesus yang adalah Allah yang berinkarnasi.

Jika Tuhan ada, Dia selalu mengasihi dunia, tidakkah ini masuk akal kalau Dia mau menjangkau kepada kita?

Inilah sumber masalahnya. Terlalu berat bagi pikiran kita untuk menerimanya, selogis apapun itu. Bahkan mereka yang percaya akan keberadaan Tuhan menemukan ini adalah suatu yang sulit untuk dipercayai kalau Yesus berasal dari Allah dan membiarkan Tuhan sendiri berinkarnasi. Mengapa? Kita boleh bertanya.

Jawabannya ditemukan di dalam konsep dosa, suatu konsep asing bagi pikiran yang “dicerahkan“. Tapi hal yang kita sangkal membelenggu kita di dalam ketidakpercayaan.

Kehilangan kebebasan untuk percaya, kita kehilangan kemampuan untuk mengetahui kebenaran itu.

Doa
Terima kasih Tuhan yang telah memampukanku melihat kebenaran itu. Tolong aku hidup dalam kerendahan hati di dalam kebenaran dengan mengikuti teladan Kristus saat menaiki keledai, dalam persiapan kita meyambut Minggu Palma.

Tindakan
Catatlah daftar singkat dosa-dosa kita, dan akuilah dengan segala kerendahan hati supaya kita dibebaskan dari kesombongan rohani dan belenggu dosa.

Rev. Dr. William Wan, JP., PhD.
General Secretary
Singapore Kindness Movement

Copyright The Bible Society of Singapore

(Diterjemahkan oleh WMC)