Yesaya 4:2-6

「Roh yang Mengadili dan yang Membakar」

Renungan ini merupakan terjemahan 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Yesaya 1-8 ditulis oleh 高銘謙 (Gāo Míng Qiān) yang dipublikasi pada bulan Maret 2018 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).

(Yes. 4:2-6 [ITB])
2Pada waktu itu tunas yang ditumbuhkan TUHAN akan menjadi kepermaian dan kemuliaan, dan hasil tanah menjadi kebanggaan dan kehormatan bagi orang-orang Israel yang terluput.
3Dan orang yang tertinggal di Sion dan yang tersisa di Yerusalem akan disebut kudus, yakni setiap orang di Yerusalem yang tercatat untuk beroleh hidup, 4apabila TUHAN telah membersihkan kekotoran puteri Sion dan menghapuskan segala noda darah Yerusalem dari tengah-tengahnya dengan roh yang mengadili dan yang membakar.
5Maka TUHAN akan menjadikan di atas seluruh wilayah gunung Sion dan di atas setiap pertemuan yang diadakan di situ segumpal awan pada waktu siang dan segumpal asap serta sinar api yang menyala-nyala pada waktu malam, sebab di atas semuanya itu akan ada kemuliaan TUHAN sebagai tudung 6dan sebagai pondok tempat bernaung pada waktu siang terhadap panas terik dan sebagai perlindungan dan persembunyian terhadap angin ribut dan hujan.

Perikop ini memakai 「pada waktu itu」 sebagai pembukaan, melanjutkan topik dari teks sebelumnya 「pada hari itu」 (Yes. 2:12, 17; 3:7, 18), frasa 「pada hari itu」 yang disebutkan dalam teks-teks sebelumnya ini semuanya adalah hari penghakiman orang fasik juga penghancuran mereka, tetapi frasa 「pada hari itu」 yang disebutkan Yes. 4:2 justru adalah sebuah hari pembaharuan, ini membuat kita memahami: jika tidak ada penghancuran, maka tidak ada pembangunan.

Yes. 4:3-4 sekali lagi menyebutkan 「Putri Sion」, teks sebelumnya (Yes. 3:16-4:1) menunjukkan 「Putri Sion」 menjalani kehidupan yang bersifat 「permukaan kulit luar」, hanya memiliki penampilan luar yang indah dan mewah namun tidak memiliki hukum Taurat dan moral yang sungguh, Yes. 4:3-4 berbalik menjelaskan Tuhan dengan roh yang mengadili dan yang membakar mencuci bersih noda penduduk Sion. Keadaannya adalah seperti nabi Yesaya sendiri saat mendapatkan panggilan, sama sebagaimana Allah membuang noda Yesaya (Yes. 6:7), saat itu Serafim mengambil bara dari mezbah diletakkan di mulut Yesaya, ini adalah simbol mulutnya dibersihkan, bara merah ini adalah semacam bara yang sedang terbakar, maka sama dengan roh yang membakar di dalam perumpamaan di atas, roh yang membakar juga bukan menunjuk makna kerohanian yang panas membara atau roh api, tetapi menunjuk semacam kekuatan memurnikan yang datang dari Allah, ciri khusus kekuatan ini adalah menerima penderitaan dengan kesabaran, karena api ini akan membawakan penderitaan kesulitan kepada Yesaya, tetapi buah hasil dari penderitaan dan kesulitan justru mampu membawakan pembersihan, dengan demikian, saat Yes. 4:3-4 menunjukkan roh yang mengadili dan roh yang membakar akan mencuci bersih noda Putri Sion, sebenarnya menjelaskan Putri Sion harus mendapatkan didikan Allah dan penderitaan kesulitan, barulah bisa membuang noda dirinya.

Sebenarnya apakah yang ditunjuk penderitaan kesulitan ini? Berdasarkan ayat 3-4, kita dapat memahami bahwa penderitaan kesulitan ini adalah menunjuk penawanan (pembuangan) : 「orang yang tertinggal di Sion dan yang tersisa di Yerusalem akan disebut kudus, yakni setiap orang di Yerusalem yang tercatat untuk beroleh hidup」. Perikop ini menjelaskan setelah pemurnian di dalam penderitaan kesulitan maka ada sisa umat menetap di Yerusalem, rakyat yang lain sudah terbunuh, hanya ada mereka yang menjadi sisa umat, yang telah mengalami penderitaan yang bukan biasa-biasa, maka memiliki kebahagiaan tercatat namanya di dalam kitab kehidupan, oleh karenanya menjadi kudus. Ternyata, pemurnian Allah bukanlah hendak membunuh habis, Dia menyimpan sisa umat, agar karena pengalaman penderitaan kesulitan membuat mereka jadi kudus.

Berdasarkan Yes. 4:5 ditunjukkan, gunung Sion pasti sekali lagi memiliki kemuliaan Allah, unsur penyertaan Allah yang digambarkan di antaranya juga sama-sama muncul dahulu saat TUHAN datang ke gunung Sinai, saat itu ada awan asap, api dan kemuliaan, ketiga macam unsur ini semua simbol adalah penyertaan Allah, tidak hanya muncul saat Yesaya mendapat panggilan (Yes. 6:4), juga muncul di saat upacara penahbisan bait Suci Solomon (2 Taw. 7:1-7), dengan demikian dapat dilihat, penyertaan Allah bukan penyertaan lemah gemulai, tetapi adalah semacam penyertaan yang menguncang langit menggetarkan bumi, menekankan Allah tidak bisa dikendalikan manusia, karena Dia sendiri adalah angin besar badai hujan.

Renungkan: 「pada hari itu」 adalah hari penyertaan Allah, tetapi sebelum hari ini datang, penderitaan kesulitan dan pengalaman yang membakar semuanya bersifat menumbangkan, datangnya tempaan ini, ternyata adalah demi membersihkan sisa umat yang sudah mengalami penderitaan kesulitan, membuat mereka bisa langsung mengalami penyertaan Allah yang tidak bisa dikendalikan manusia. Ternyata, manusia selalu senang menyederhanakan Allah menjadi permainan diri sendiri, saat kita mempersempit area kerja Allah di zona aman diri kita sendiri, mungkin kita akan mengalami didikan Dia yang keras, di dalam prosesnya, ada penderitaan kesulitan yang seperti api. Tetapi tidak membuat kecewa, karena munculnya penderitaan kesulitan barulah mampu membersihkan kita, membuat kita sekali lagi bersaksi penyertaan Allah yang nyata. Bagi pandangan manusia adalah penyertaan zona berbahaya, tetapi justru adalah penyertaan yang sesungguhnya. Apakah engkau bersedia?