Tag Archives: Pra-Paskah

Matius 4:2 (2)-PraPaskah

「Rasa lapar」

Oleh Rev. Dr. Chén Wéi Ān (陳韋安)
Alliance Bible Seminary H.K.

(Matius 4:2 [TB2])
2 Setelah berpuasa empat puluh hari dan empat puluh malam, akhirnya laparlah Yesus
(Lukas 4:2 [TB2])
2 Empat puluh hari lamanya Ia dicobai Iblis. Selama hari-hari itu Ia tidak makan apa-apa dan setelah itu Ia lapar
.

Bagi sebagian orang-orang modern yang mampu, kelaparan merupakan hal yang bisa dihindari, tetapi malah menjadi pilihan yang populer, kita secara sengaja menciptakan rasa lapar untuk menurunkan berat badan atau berpuasa dalam upaya mencapai tujuan tertentu. Namun, rasa lapar Yesus adalah sesuatu yang sama sekali berbeda. Puasa-Nya bukan untuk membuktikan sesuatu atau mencapai tujuan duniawi, tetapi untuk memasuki hubungan yang lebih dekat dengan Bapa Surgawi-Nya. Rasa lapar-Nya menjadi kesaksian kepercayaan-Nya pada pemeliharaan Bapa.

Hakikat kebutuhan makan adalah mengingatkan kita akan sifat ketergantungan kita dalam kehidupan. Setiap kali kita makan, kita menyatakan fakta: kita tidak dapat mencukupi kebutuhan sendiri dan harus bergantung pada pasokan eksternal untuk bertahan hidup. Allah memberi makan orang Israel dengan manna di padang gurun, bukan hanya mengandalkan makanan saja, tetapi dengan kekuatan penciptaan Firman Allah. Rasa lapar Yesus di padang gurun menunjukkan kepada kita bahwa kehidupan sejati tidak hanya bergantung pada makanan materi, tetapi pada Allah yang menciptakan dan menyediakan segalanya.

Berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya. Doa ini mengingatkan kita bahwa penyediaan makanan datangnya dari Allah, bukan dari kemampuan kita sendiri. Pengalaman Yesus di padang gurun merupakan cerminan mendalam dari kebenaran ini. Melalui kehidupan-Nya di dunia, Ia menunjukkan kepada kita bahwa bahkan di saat-saat paling lapar sekalipun, Ia memilih untuk percaya kepada Bapa daripada menyerah pada pencobaan. Rasa lapar-Nya menjadi contoh bagi kita untuk belajar bagaimana mengandalkan Tuhan
.

Refleksi:
Rasa lapar, sebagai kondisi manusia yang paling mendasar, mengingatkan kita akan kerapuhan dan sifat ketergantungan dari hidup ini. Rasa lapar Yesus lebih lanjut mengungkapkan hakikat kehidupan rohani: kepuasan sejati kita tidak terletak pada kelimpahan materi, tetapi pada hubungan dekat kita dengan Tuhan. Rasa lapar Yesus menunjukkan kepada kita bahwa kekuatan hidup yang sesungguhnya berasal dari Allah yang menyediakan segalanya. Inilah kebenaran yang Dia jalani di padang gurun, dan ini adalah pelajaran yang perlu dipelajari oleh kita masing-masing.


Renungan Pra-Paskah (Er Dao)

Renungan pemahaman Injil Matius

Renungan Injil Matius Pra-Pasakah 2025 (Matius 4:1-11)

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Pra-Paskah Yesus ditulis oleh Rev. Dr. Chén Wéi Ān (陳韋安) yang dipublikasi pada bulan April 2025 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Matius 4:2 (1)-PraPaskah

「Empat puluh hari」

Oleh Rev. Dr. Chén Wéi Ān (陳韋安)
Alliance Bible Seminary H.K.

(Matius 4:2 [TB2])
2 Setelah berpuasa empat puluh hari dan empat puluh malam, akhirnya laparlah Yesus
(Lukas 4:1-2 [TB2])
2 Empat puluh hari lamanya Ia dicobai Iblis. Selama hari-hari itu Ia tidak makan apa-apa dan setelah itu Ia lapar
.

Apakah empat puluh hari panjang atau pendek? Jawaban atas pertanyaan ini mungkin tidak terletak pada lamanya waktu itu sendiri, tetapi pada bagaimana kita mengalami waktu tersebut. Bagi mereka yang sibuk dengan kehidupan, empat puluh hari mungkin berlalu dengan cepat; tetapi, bagi mereka yang berjuang melawan pencobaan, empat puluh hari mungkin terasa seperti perjalanan yang tidak ada habisnya.

Empat puluh hari Yesus Kristus merupakan pengalaman yang sangat mendalam. Alkitab mencatat bahwa Ia berpuasa di padang gurun selama empat puluh hari dalam menghadapi pencobaan. Ini bukan sekadar perjalanan waktu, tetapi ujian hakikat hidup. Bagi Yesus yang berinkarnasi, periode waktu ini bukan sekadar empat puluh hari dalam kalender, tetapi suatu proses dialog dengan waktu itu sendiri. Dia adalah Tuhan yang tidak terikat oleh waktu, tetapi Dia memilih untuk memasuki kerangka waktu, ke dalam pengalaman manusia, untuk merasakan beban setiap menit dan setiap detik.

Kita mungkin bertanya pada diri sendiri, apa arti empat puluh hari bagi kita? Apakah transisinya singkat atau penantian yang panjang? Seseorang pernah berkata, Dua puluh menit yang tampaknya biasa ini membuatku benar-benar mengalami kejutan yang biasa tetapi sakral. Lamanya waktu tidak terletak pada jumlahnya, tetapi pada bagaimana kita menemukan makna di dalamnya. Empat puluh hari yang Yesus jalani merupakan periode waktu yang sangat berarti. Periode ini bukan hanya merupakan ujian bagi kehidupan pribadi-Nya, tetapi juga merupakan penyingkapan dan pencerahan bagi kita masing-masing.

Barangkali, arti penting empat puluh hari adalah mengingatkan kita bahwa hakikat waktu bukanlah lamanya, melainkan bagaimana kita menghayati nilai kehidupan di dalamnya. Empat puluh hari Yesus di padang gurun menunjukkan kepada kita bahwa bahkan di saat-saat yang paling sulit, waktu dapat menjadi ruang untuk berjumpa dengan Allah. Bagi-Nya, empat puluh hari ini bukan saja hari-hari pencobaan, tetapi juga masa persekutuan erat dengan Bapa Surgawi.

Refleksi:
Mungkin kita masing-masing harus bertanya pada diri sendiri: Dalam hidup saya, apakah empat puluh hari ini hanya sekadar perjalanan waktu, ataukah kesempatan untuk bertemu Tuhan lagi dan lagi?


Renungan Pra-Paskah (Er Dao)

Renungan pemahaman Injil Matius

Renungan Injil Matius Pra-Pasakah 2025 (Matius 4:1-11)

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Pra-Paskah Yesus ditulis oleh Rev. Dr. Chén Wéi Ān (陳韋安) yang dipublikasi pada bulan April 2025 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Matius 4:1 (3)-PraPaskah

「Pencobaan」

Oleh Rev. Dr. Chén Wéi Ān (陳韋安)
Alliance Bible Seminary H.K.

(Matius 4:1 [TB2])
1 Lalu Yesus dibawa oleh Roh ke padang gurun untuk dicobai Iblis
(Lukas 4:1-2 [TB2])
2 Empat puluh hari lamanya Ia dicobai Iblis. Selama hari-hari itu Ia tidak makan apa-apa dan setelah itu Ia lapar
.

Hal lain yang berharga untuk kita renungkan: kedua Injil menggunakan dicobai sebagai awal dari seluruh pengalaman di padang gurun – sebagai sebuah cara penggambaran peristiwa. Kalimat pertama dari catatan tersebut dengan jelas menyatakan bahwa ini adalah kisah tentang dicobai. Pembaca memahami dan mengetahui bahwa pencobaan akan datang.

Itulah cara menceritakan peristiwa tersebut kepada pembaca. Bagi Yesus Kristus, Dia hadir secara pribadi, menghadapi pencobaan dari pengalaman langsung — siapa pun yang mengalami pencobaan tidak dapat mengetahui bahwa pencobaan tersebut telah dimulai. Pencobaan selalu datang tanpa peringatan atau tanda.

Pencobaan tidak akan mengumumkan dirinya terlebih dahulu, juga tidak akan memberi tahu Anda terlebih dahulu: Pencobaan akan datang ! Anda harus waspada ! Pencobaan selalu dimulai secara diam-diam. Pencobaan itu menyatu dengan kehidupan sehari-hari dan muncul dalam bentuk apa pun, benda, orang, dan detail dalam situasi kehidupan apa pun. Itu mungkin merupakan kebiasaan gaya hidup, itu mungkin merupakan rutinitas kerja sehari-hari, atau itu mungkin merupakan teman yang peduli terhadap kebutuhan Anda.

Singkatnya, pencobaan tidak memiliki awal yang formal, juga tidak memiliki akhir yang dapat diumumkan. Ia seperti udara, tidak seorang pun akan memperhatikannya, ia ada.

Bagi Yesus Kristus, Dia menghadapi pencobaan tanpa hak istimewa apa pun dibandingkan orang lain. Tentu saja, Allah Maha Tahu, tetapi kalau Allah menghendaki Yesus mengalami pencobaan, Ia harus mengalaminya dengan cara Anak Manusia – ini bukan berarti Yesus tidak dapat mengatasi pencobaan, tetapi karena Yesus akan mengalami pencobaan yang sesungguhnya, Ia harus mengalami awal pencobaan yang tanpa peringatan awal, awal yang tidak berwarna dan tidak berasa, ini seperti yang dialami orang biasa.

Yesus tidak mencari tahu bahwa pencobaan akan datang; Ia hanya tahu bahwa semua ini adalah bimbingan Roh Kudus.

Refleksi:
Apakah Anda menghadapi pencobaan? Harap pertimbangkan pertanyaan ini dengan cermat.


Renungan Pra-Paskah (Er Dao)

Renungan pemahaman Injil Matius

Renungan Injil Matius Pra-Pasakah 2025 (Matius 4:1-11)

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Pra-Paskah Yesus ditulis oleh Rev. Dr. Chén Wéi Ān (陳韋安) yang dipublikasi pada bulan April 2025 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Matius 4:1 (2)-PraPaskah

「Pimpinan Roh Kudus」

Oleh Rev. Dr. Chén Wéi Ān (陳韋安)
Alliance Bible Seminary H.K.

(Matius 4:1 [TB2])
1 Lalu Yesus dibawa oleh Roh ke padang gurun untuk dicobai Iblis
(Lukas 4:1 [TB2])
1 Yesus, yang penuh dengan Roh Kudus, kembali dari Sungai Yordan, lalu dibawa oleh Roh Kudus ke padang gurun

Mulai hari ini, kita akan menggunakan versi Matius dan Lukas untuk merenungkan bagian-bagian dari empat puluh hari Yesus di padang gurun, kalimat demi kalimat.
Kehidupan Yesus Kristus di dunia adalah contoh dan model bagi kita – Kehidupan-Nya di dunia bukan hanya proses kehidupan-Nya sendiri, tetapi juga akar, hakikat dan tujuan semua orang di dunia. Kehidupan Yesus memberi tahu kita bahwa hidup kita di dalam Tuhan memiliki semua kemungkinan.
Salah satu kemungkinannya adalah kehidupan Roh Kudus.
Ternyata ketika orang hidup, mereka tidak hanya hidup sendiri, tetapi mereka juga dapat hidup dalam Roh Kudus. Alkitab mempunyai banyak kata untuk menggambarkan keadaan seseorang di bawah Roh Kudus: pencurahan Roh Kudus, kepenuhan Roh Kudus, bimbingan Roh Kudus, kehadiran Roh Kudus, pengingat akan Roh Kudus, dst. Apapun kasusnya, kata-kata ini memberitahukan kita satu fakta penting: hidup kita bukan hanya sebuah keputusan yang dibuat atas kemauan kita sendiri, tetapi juga keterlibatan Roh Kudus dalam arti tertentu.
Kita menemukan bahwa Matius dan Lukas memiliki catatan yang sedikit berbeda tentang kondisi saat Yesus Kristus tiba di padang gurun. Matius memberi tahu kita bahwa Yesus dibawa (dipimpin) oleh Roh Kudus ke padang gurun; sedangkan Lukas mengatakan bahwa Yesus dipenuhi dengan Roh Kudus di Sungai Yordan dan kemudian dibawa (dipimpin) oleh Roh Kudus. Kita tidak tahu perbedaan antara keduanya. Bagaimana tepatnya Roh Kudus bekerja dalam kehidupan seseorang merupakan misteri Allah.
Namun, entah itu Matius atau Lukas, Alkitab menggunakan Roh Kudus sebagai awal dari seluruh pengalaman Yesus di padang gurun. Tidak ada penyebab lain.
Itu bukan keputusan Yesus sendiri, juga bukan hasil dari peristiwa apa pun di dunia manusia. Hanya Roh Kudus yang dapat menuntun kita ke dalam tujuan kedaulatan Allah – bahkan jika itu berarti perjalanan panjang melalui padang gurun atau lembah bayang-bayang kematian.

Refleksi:
Apakah Roh Kudus terlibat dalam kehidupan Anda? Mungkin Anda merasa sulit untuk memahaminya. Namun, kita mungkin tidak tahu bagaimana Roh Kudus bekerja dalam hidup kita. Kita hanya perlu tahu bahwa Dia benar-benar ada dalam hidup kita, membuka segala macam kemungkinan dalam hidup kita.


Renungan Pra-Paskah (Er Dao)

Renungan pemahaman Injil Matius

Renungan Injil Matius Pra-Pasakah 2025 (Matius 4:1-11)

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Pra-Paskah Yesus ditulis oleh Rev. Dr. Chén Wéi Ān (陳韋安) yang dipublikasi pada bulan April 2025 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Markus 1:12-13-PraPaskah

「Penderitaan, satu kalimat saja」

Oleh Rev. Dr. Chén Wéi Ān (陳韋安)
Alliance Bible Seminary H.K.

(Markus 1:12-13 [TB2])
12 Segera sesudah itu Roh mendesak Dia ke padang gurun. 13 Di padang gurun itu selama empat puluh hari Ia dicobai oleh Iblis. Ia tinggal bersama dengan binatang-binatang liar dan malaikat-malaikat melayani Dia.

Seperti yang dikatakan kemarin, bagian tentang Yesus yang dicobai di padang gurun dicatat dalam tiga Injil, Matius, Markus, dan Lukas. Di antara semuanya, Injil Markus merupakan yang terpendek, dengan hanya dua ayat yang tercatat. Injil Markus mengungkapkan seluruh pengalaman Yesus selama empat puluh hari hanya dalam satu atau dua ayat – ini adalah sesuatu yang layak untuk kita renungkan secara mendalam.

Tentu saja, secara teknis, Markus, sebagai Injil yang paling awal, secara singkat menangkap dan menggambarkan pengalaman Yesus. Dengan demikian, kita dapat menemukan bahwa penulis Injil Markus merangkum asal mula (dorongan Roh Kudus), proses (dicobai selama empat puluh hari dan hidup bersama binatang buas) dan akhir (para malaikat datang melayani) sebagai tahap-tahap dari pencobaan Yesus di padang gurun dalam satu ayat.

Perjalanan empat puluh hari, diringkas dalam satu kalimat.

Sebagai pembaca, mudah bagi kita untuk mengabaikan isi empat puluh hari ini, kita hanya membaca satu kalimat saja, dan melewatinya. Empat puluh hari adalah perjalanan yang panjang. Hari demi hari, hari demi hari, hari demi hari, hari demi hari berlalu … Mungkin, titik berat dari dicobai selama empat puluh hari itu adalah setiap hari dan setiap momen di mana Anda berada, yang Anda alami. Cobaan, latihan keras, dan tempaan pengalaman, kuncinya adalah proses. Kalau saja kita tahu akhir ceritanya sejak dari lebih awal, kalau saja kita lebih awal mengantisipasi saat penyelesaiannya, kalau saja kita melihat rantai kehidupan yang pahit itu dengan sudut pandang yang ringkas, saya kira penderitaan apa pun hanya akan menjadi beratnya sebuah kata.

Akan tetapi, titik berat padang gurun alam liar selalu pada prosesnya. Bila seseorang berada dalam proses, tidak peduli seberapa kecil kepahitannya, tidak peduli seberapa pendek jalan yang ditempuh, kita akan menemukan bobotnya yang semestinya – dengan demikian menemukan kasih karunia Allah dari dalamnya.

Ya, jika kita memandang kehidupan secara samar dan umum, kita hanya dapat mengalami kasih karunia Tuhan secara samar dan umum.

Oleh karena itu, saudara-saudari, marilah kita mempersiapkan diri sebaik-baiknya untuk memasuki pengalaman empat puluh hari di padang gurun bersama Yesus Kristus dan menyelaraskan diri dengan diri-Nya hari demi hari.

Refleksi:
Apakah hidup Anda terasa berjalan terlalu cepat akhir-akhir ini? Salah satu hal penting dalam apa yang disebut latihan spiritual adalah menikmati kehidupan Anda yang tampaknya biasa saja satu per satu. Anda akan menemukan bahwa itu bukanlah sesuatu yang dapat diringkas hanya dalam satu kalimat. (Di dalamnya akan ditemukan kasih Tuhan satu per satu)


Renungan Pra-Paskah (Er Dao)

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Pra-Paskah Yesus ditulis oleh Rev. Dr. Chén Wéi Ān (陳韋安) yang dipublikasi pada bulan April 2025 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Matius 4:1 (1)-PraPaskah

「Pra-Penderitaan」

Oleh Rev. Dr. Chén Wéi Ān (陳韋安)
Alliance Bible Seminary H.K.

(Matius 4:1 [TB2])
1 Lalu Yesus dibawa oleh Roh ke padang gurun untuk dicobai Iblis

Catatan tentang Yesus Kristus dicobai di padang gurun tidak diragukan lagi merupakan bab penting dalam perjalanan iman. Kisah ini bukan saja menjadi catatan sejarah, tetapi juga menjadi cermin bagi kita untuk senantiasa merenungkan diri dan bertumbuh dalam iman. Saat kita memasuki masa Prapaskah, masa ini menjadi kesempatan bagi kita untuk merenungkan secara mendalam penderitaan Kristus. Empat puluh hari Yesus di padang gurun sama seperti empat puluh hari orang percaya di masa Prapaskah. Periode waktu ini diisi oleh orang percaya dengan makna puasa, doa, dan pertobatan.

Tetapi, mari kita kembali ke pertanyaan yang lebih mendasar: mengapa orang Kristen harus bersusah payah (mencari kesulitan untuk diri mereka sendiri)? Apa pentingnya penderitaan bagi iman kita? Sesungguhnya, dalam tradisi spiritual Kristen, asketisme pernah menjadi tradisi spiritual yang penting. Penderitaan itu sendiri mungkin tidak memiliki makna fungsional langsung, tetapi merupakan persiapan bagi manusia untuk meninggalkan belitan dunia sekuler. Oleh karena itu, kata pra-penderitaan menangkap makna spiritual: bukan persiapan untuk penderitaan, tetapi penderitaan sebagai persiapan. Pengalaman Yesus Kristus di padang gurun adalah contoh terbaik dari pelatihan rohani semacam ini.

Empat puluh hari Yesus Kristus dicobai di padang gurun, dicatat dalam Matius, Markus, dan Lukas. Masing-masing dari ketiga Injil memiliki perspektif dan wawasan yang berbeda, yang akan kita nikmati perlahan-lahan. Pengalaman rohani yang istimewa ini bukan hanya merupakan ujian bagi kehidupan pribadi Yesus, tetapi juga merupakan refleksi iman kita masing-masing. Selama perjalanan di padang gurun ini, Yesus menghadapi cobaan-cobaan besar. Cobaan-cobaan ini bukan hanya tantangan terhadap tubuh daging-Nya, tetapi juga ujian bagi iman dan misi-Nya. Cobaan-cobaan tersebut sama halnya dengan berbagai tantangan dan kesulitan yang kita hadapi dalam hidup. Yesus memilih untuk menghadapi cobaan-cobaan ini di padang gurun dan mengatasinya dengan iman dan kebijaksanaan-Nya, yang memberi kita contoh bagaimana mengandalkan kekuatan iman untuk mengatasi pencobaan.

Masa Prapaskah merupakan waktu bagi kita untuk merenung dan melakukan introspeksi. Kita seharusnya tidak sekadar merenungkan pengalaman Yesus di padang gurun, tetapi juga mengubah pengalaman ini menjadi kekuatan dalam hidup kita. Waktu ini memberi kita kesempatan untuk memeriksa kembali iman kita dan menemukan makna hidup di tengah kesulitan atau pun penderitaan. Saya percaya bahwa apa yang disebut sebagai spiritualitas adalah perjalanan panjang yang di dalamnya terdapat kehidupan, iman, dan penderitaan yang saling teranyam berkaitan.

Oleh karena itu, marilah kita mempersiapkan diri dan merenungkan masa penderitaan ini. Masa penderitaan ini merupakan makin mempererat hubungan kita dengan Tuhan. Masa penderitaan ini memampukan kita untuk lebih teguh dan berani menghadapi dunia yang agak pahit ini.

Refleksi:
Apakah Anda merasa hidup Anda pahit akhir-akhir ini? Sebaliknya, anggaplah itu sebagai persiapan untuk hubungan yang lebih dalam dengan Tuhan.


Renungan Pra-Paskah (Er Dao)

Renungan pemahaman Injil Matius

Renungan Injil Matius Pra-Pasakah 2025 (Matius 4:1-11)

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Pra-Paskah Yesus ditulis oleh Rev. Dr. Chén Wéi Ān (陳韋安) yang dipublikasi pada bulan April 2025 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


1 Raja-raja 19:15-21-PraPaskah

「Maka Elia meninggalkan tempat itu dan pergi」

Oleh Rev. Leung Kwok Keung
Alliance Bible Seminary H.K.

(1 Raja-raja 19:15-21 [TB2])
15 Firman TUHAN kepadanya, Pergilah, kembalilah pada jalanmu ke padang gurun Damsyik. Sesampainya engkau di sana, engkau harus mengurapi Hazael menjadi raja atas Aram. 16 Engkau juga harus mengurapi Yehu, cucu Nimsi, menjadi raja atas Israel, dan Elisa bin Safat, dari Abel-Mehola menjadi nabi menggantikan engkau. 17 Siapa yang luput dari pedang Hazael akan dibunuh oleh Yehu. Siapa yang luput dari pedang Yehu akan dibunuh oleh Elisa. 18 Tetapi, Aku akan meninggalkan tujuh ribu orang di Israel, semua orang yang tidak berlutut menyembah Ba’al dan yang mulutnya tidak mencium dia.
19 Elia pergi dari sana dan mendapati Elisa bin Safat yang sedang membajak dengan dua belas pasang lembu. Elisa sendiri di belakang pasangan lembu yang kedua belas. Ketika Elia melintas di dekatnya, Elia melemparkan jubahnya kepadanya. 20 Elisa lalu meninggalkan lembu itu dan berlari mengikuti Elia, katanya, Izinkanlah aku mencium ayahku dan ibuku dahulu, lalu aku akan mengikuti engkau. Jawabnya kepadanya, Pergilah, lalu kembalilah, karena apa yang telah kuperbuat kepadamu. 21 Elisa pun berbalik meninggalkan Elia. Ia mengambil pasangan lembu itu, menyembelihnya, dan memasak dagingnya dengan bajak lembu itu sebagai kayu api. Ia memberikan daging itu kepada orang-orangnya, lalu mereka makan. Sesudah itu ia berangkat mengikuti Elia dan melayani dia.

Perkataan TUHAN kepada Elia terdiri dari dua bagian. Bagian pertama adalah sebuah perintah (18:15-17) yang melibatkan tiga tokoh. Lalu TUHAN memberi tahu Elia sebuah fakta mengenai 7.000 orang (18:18).

TUHAN memerintahkan Elia untuk kembali melalui rute yang sama yang telah diambilnya ke gurun Damsyik, yaitu kembali dari Gunung Horeb ke Bersyeba di Yehuda, lalu pergi ke utara, melewati perbatasan Israel, dan naik ke Damsyik. Kembali ke tempat di mana ia diancam akan dibunuh, Elia harus mengatasi ketakutan hatinya. Ketika tiba di padang gurun Damsyik, ia mengurapi Hazael sebagai raja Aram, Yehu sebagai raja Israel, dan Elisa sebagai nabi (lokasi pengurapan untuk dua orang terakhir tidak disebutkan). Artinya, Elia akan mengangkat dua orang menjadi raja dan satu orang menjadi nabi. Ada dua hal yang perlu diperhatikan mengenai perintah TUHAN. 1) Satu-satunya tugas yang Elia selesaikan oleh dirinya sendiri secara langsung adalah menjadikan Elisa seorang nabi. Dua tugas lainnya diselesaikan oleh Elisa (2 Raja-raja 8:7-15) dan seorang murid yang diutus oleh Elisa (2 Raja-raja 9:1-10). 2) Urapan tidak harus diartikan secara harfiah: menuang minyak urapan ke kepala. Dari ketiga tugas ini, hanya pengurapan Yehu yang diselesaikan secara harfiah; Alkitab tidak mencatat penuangan minyak urapan ke kepala untuk dua tugas lainnya.

TUHAN juga memberi tahu Elia tentang hubungan antara ketiga orang ini, dan kata-kata yang diulang adalah, Siapa yang luput dari pedang … akan dibunuh oleh … Aram adalah musuh Israel, dan Ahab terbunuh dalam perang dengan raja Aram (1 Raja-raja 22:29-36). Hazael adalah seorang hamba Benhadad, raja Aram. Ketika Elisa mengumumkan bahwa Hazael akan menjadi raja Aram, ia menubuatkan bahwa di masa depan Hazael … bagaimana malapetaka yang akan kaulakukan kepada orang Israel: kotanya yang berkubu akan kaucampakkan ke dalam api, terunanya akan kaubunuh dengan pedang, bayinya akan kauremukkan dan perempuannya yang mengandung akan kaubelah (2 Raja-raja 8:12). Yehu adalah seorang perwira Ahab dan pernah bekerja di bawah Ahab (2 Raja-raja 9:25). Setelah ia mengangkat dirinya sebagai raja, ia membunuh cucu Ahab, raja Yoram dari Israel, Izebel, dan tujuh puluh putra Ahab. Mengenai kejahatan yang dituduhkan Elia terhadap orang Israel: meninggalkan perjanjian-Mu, merobohkan mezbah-mezbah-Mu, dan membunuh nabi-nabi-Mu dengan pedang (1 Raja-raja 19:10, 14), kini TUHAN memberi tahu Elia bahwa mereka akan menghadapi penghakiman. Mengenai perkataan Elia, Hanya aku seorang diri yang masih hidup, TUHAN berfirman kepadanya, Aku meninggalkan tujuh ribu orang di Israel, lutut mereka tidak pernah berlutut menyembah Ba’al, mulut mereka tidak pernah mencium dia. (Terjemahan harfiah dari teks bahasa aslinya) Allah mengoreksi kesalahan nabi itu: melihat diri sendiri, dan merasa diri besar.

Elia meninggalkan tempat itu dan pergi. Dia bertemu atau dia mendapati Elisa. Pada waktu itu Elisa sedang membajak ladang, dua belas pasang lembu. Elisa sendiri di belakang pasangan lembu yang kedua belas. Informasi ini memberi tahu kita bahwa Elisa pasti berasal dari keluarga kaya. Dia sendiri yang mengendalikan pasangan kedua belas, jadi bagaimana dengan sebelas pasangan yang lain? Diperkirakan mungkin itu tanggung jawab para hambanya ? Elia melemparkan jubahnya ke atas dirinya. Tindakan yang tiba-tiba ini mungkin membuat Elisa berpikir sejenak tentang maknanya, karena ketika dia mengerti arti tindakan Elia, dia segera berlari mendekat, tetapi Elia sudah berjalan pergi. Elisa mencium ayah dan ibunya untuk mengucapkan selamat tinggal, menyembelih sapi, menggunakan kuk sebagai bahan bakar untuk memasak daging dan menghibur semua orang, suatu tindakan meninggalkan masa lalu sepenuhnya. Maka bangunlah ia, lalu mengikuti Elia dan melayaninya.

Refleksi:
Elia memiliki penerus. Orang itu dipilih oleh TUHAN sendiri. Elisa memiliki roh dua kali lipat dari Elia (2 Raja-raja 2:9) dan melakukan lebih banyak mukjizat daripada Elia, tetapi orang-orang masih lebih mengingat Elia. Dalam Perjanjian Baru, Elia muncul jauh lebih sering daripada Elisa. Mereka yang melayani Tuhan suatu hari nanti akan menyerahkan tongkat estafet. Memohon Tuhan mempersiapkan penerus untuk Anda dan saya!


Renungan Pra-Paskah (Er Dao)

Renungan Kitab 1 Raja-raja (01)

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Pra-Paskah Elia ditulis oleh Rev. Dr. Leung Kwok Keung (梁國權) yang dipublikasi pada bulan Maret 2025 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


1 Raja-raja 19:9-14-PraPaskah

「Apakah kerjamu di sini?」

Oleh Rev. Leung Kwok Keung
Alliance Bible Seminary H.K.

(1 Raja-raja 19:9-14 [TB2])
9 Di sana ia masuk ke dalam sebuah gua dan bermalam di situ. Lalu datanglah firman TUHAN kepadanya, demikian: Apa kerjamu di sini, hai Elia?
10 Jawabnya, Aku sangat giat bekerja bagi TUHAN, Allah semesta alam, karena orang Israel meninggalkan perjanjian-Mu, merobohkan mezbah-mezbah-Mu, dan membunuh nabi-nabi-Mu dengan pedang. Hanya aku seorang diri yang masih hidup dan mereka berusaha mencabut nyawaku. 11 Lalu firman-Nya, Keluarlah dan berdiri di atas gunung itu di hadapan TUHAN!
Lalu melintaslah TUHAN! Angin besar dan kuat membelah gunung-gunung dan memecahkan bukit-bukit batu, mendahului TUHAN. Tetapi, TUHAN tidak ada dalam angin itu. Sesudah angin datanglah gempa. Tetapi, TUHAN tidak ada dalam gempa itu. 12 Sesudah gempa itu datanglah api. Tetapi, TUHAN tidak ada dalam api itu. Sesudah api itu, datanglah suara embusan yang lembut. 13 Ketika Elia mendengarnya, ia menyelubungi mukanya dengan jubahnya, lalu pergi ke luar dan berdiri di pintu gua itu.
Datanglah suara kepadanya demikian, Apakah kerjamu di sini, hai Elia? 14 Jawabnya, Aku sangat giat bekerja bagi TUHAN, Allah semesta alam, karena orang Israel meninggalkan perjanjian-Mu, merobohkan mezbah-mezbah-Mu dan membunuh nabi-nabi-Mu dengan pedang. Hanya aku sendiri yang masih hidup, dan mereka berusaha mencabut nyawaku.

Malaikat TUHAN berkata, Bangunlah, makanlah! Sebab perjalanan itu nanti terlalu jauh bagimu (ayat 7) Seberapa jauh Elia akan pergi? Jawabannya adalah dia berjalan selama empat puluh hari dan empat puluh malam sampai dia tiba di Gunung Horeb. Bagaimana dia bisa sampai sejauh ini? Jawabannya adalah makanan dan minuman yang diberikan kepadanya oleh malaikat TUHAN. Burung gagak telah memberinya makan, sang janda telah memberinya makan, dan kini Malaikat TUHAN memberinya makanan dan memberinya kekuatan untuk melanjutkan hidup. Sebenarnya, TUHAN-lah yang menyediakan segalanya baginya. Tetapi nabi yang putus asa ini, dalam kesepian perjalanannya melarikan diri, tampaknya tidak menyadari bahwa ia tidak sendirian (karena utusan Allah bersamanya), ia juga tidak menyadari betapa berharganya penyertaan kehadiran Allah bersamanya.

Ketika dia tiba di Gunung Horeb, dia memasuki sebuah gua, bermalam di situ (19:9a). Separuh ayat ini menjelaskan adegan dari perikop 19:9-18.

Adegan Elia di dalam gua mengingatkan kita bahwa Obaja juga menyembunyikan seratus nabi TUHAN di dalam gua untuk menghindari kejaran Izebel dan memberitahukan hal itu kepada Elia (18:13). Tetapi di Gunung Karmel, Elia berkata kepada orang banyak: Hanya aku seorang diri yang tinggal sebagai nabi TUHAN (18:22). Mengapa dia mengatakan hal itu sementara dia mengetahui keberadaan para nabi yang disembunyikan Obaja tersebut? Lupa? Atau mungkin dia hanya memandang rendah mereka dalam hatinya. Sekarang dia sendiri ada di dalam gua!

Setelah satu malam, firman TUHAN datang kepada Elia. Dua kali Ia bertanya kepadanya, Apa kerjamu di sini, hai Elia? (19:9b-10, 19:13b). Dalam tiga pasal 17-19, hanya dua kali ini TUHAN memanggil nama Elia. Itu adalah sikap yang menghangatkan hati bagi orang yang sedang patah semangat. Allah tahu suasana hatinya. Apa arti sebenarnya dari pertanyaan ini adalah: Mengapa kamu ada di sini (lihat jawaban Elia)? Kamu seharusnya tidak berada di sini (lihat perintah TUHAN kepadanya 19:15-17)!

Terhadap pertanyaan TUHAN yang sama dua kali, Elia memberikan jawaban yang sama dua kali. Dalam tiga pasal 17-19, di antara banyak doa Elia, hanya dua kali ini Elia tidak berseru kepada nama Allah. Isi jawabannya adalah mengemukakan antusias semangat dirinya sendiri bagi TUHAN dibandingkan dengan kejahatan orang Israel (yang telah meninggalkan perjanjian-Mu, meruntuhkan mezbah-mezbah-Mu, dan membunuh nabi-nabi-Mu dengan pedang). Implikasinya adalah bahwa dia tidak pantas diperlakukan seperti itu: Mereka pun berusaha mencari nyawaku hendak mengambilnya (terjemahan harfiah)! Perkataan Elia sangat terfokus pada dirinya sendiri. Dalam kalimat Hanya aku seorang diri yang tinggal …, aku adalah kata ganti yang berdiri sendiri dan memiliki penekanan. Jika digabungkan dengan kata seorang diri, Elia hanya melihat dirinya sendiri. Sekali lagi, ia mengabaikan fakta bahwa ada nabi-nabi lain. Hal lain yang perlu diperhatikan adalah bahwa penulis telah memberitahu kita di atas bahwa Izebel-lah yang ingin membunuhnya (19:2), tetapi sekarang Elia berkata bahwa orang Israel-lah yang ingin membunuhnya, sehingga sangat memperbesar informasi yang tidak menguntungkan tersebut. Ini merupakan kondisi umum di antara orang yang mengalami depresi.

Perintah TUHAN adalah, Keluarlah dan berdiri di atas gunung itu di hadapan TUHAN! (19:11a) Di gunung adalah lokasi geografis, tidak ada yang khusus. Hal yang penting adalah di hadapan TUHAN, yang disebutkan Elia dua kali sebelumnya di atas, ayat 17:1, 18:15 TUHAN yang hidup, Allah Israel, yang kulayani, … diterjemahkan harfiah adalah Dia yang di hadapan-Nya aku berdiri … Sekarang, Allah memerintahkan Elia untuk berdiri di hadapan-Nya, yang sebenarnya menegaskan kembali identitas Elia sebagai hamba dan identitas Allah adalah Tuannya. Hubungan ini tidak berubah!

Jadi, di ayat manakah Elia barulah menanggapi perintah TUHAN untuk keluar dari gua? Ayat 13. Di antara perintah TUHAN (19:11a) dan ketaatan Elia (19:13), TUHAN lewat, dan di hadapan TUHAN muncul angin kencang, gempa bumi, dan api yang cukup kuat untuk menghancurkan gunung dan batu. Setiap hal yang muncul secara berurutan ini menunjukkan kuasa Allah yang besar. Di bawah kekuatan yang begitu dahsyat dan mengerikan, mustahil bagi Elia untuk keluar dari gua itu. Sampai kekuatan yang mengejutkan itu menghilang dan Elia mendengar suara embusan yang lembut (suara mengecil), barulah ia menutupi mukanya dengan jubah, keluar dan berdiri di pintu gua. Tindakan menutupi mukanya mencerminkan bahwa kejadian tadi sungguh membuat Elia takut. TUHAN bertanya lagi, Apakah kerjamu di sini, hai Elia? Elia menjawab dengan cara yang sama seperti sebelumnya. Namun, para pembaca mungkin dapat memahami bahwa meskipun jawaban Elia sama persis seperti sebelumnya, mustahil bagi siapa pun yang mengalami kejadian yang sangat mengejutkan seperti angin kencang, gempa bumi, dan api untuk tidak menyadari betapa tidak berartinya dirinya dan betapa besarnya Allah TUHAN. Elia menyerah.

Sekarang, TUHAN dapat sekali lagi memberikan perintah-Nya kepada hamba yang berdiri di hadapan-Nya.

Refleksi:
Setiap orang punya saat-saat lemah; bahkan orang sekuat Elia pun punya saat-saat frustrasi dan keinginan untuk mati. TUHAN ingin sang nabi mengetahui bahwa ia tetap hamba Allah dan TUHAN tetap Tuannya. Hubungan ini tidak berubah.

Cara Allah memberi semangat membangkitkan nabi bukanlah dengan menegurnya, tetapi dengan memanggil namanya dan membiarkan dia secara pribadi mengalami kuasa Allah.

Berharap kiranya setiap rekan pelayanan yang sedang frustrasi dapat mendengar Allah memanggil nama Anda dan mengalami kuasa Allah lagi.


Renungan Pra-Paskah (Er Dao)

Renungan Kitab 1 Raja-raja (01)

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Pra-Paskah Elia ditulis oleh Rev. Dr. Leung Kwok Keung (梁國權) yang dipublikasi pada bulan Maret 2025 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


1 Raja-raja 19:1-8-PraPaskah

「Bangun dan makan! Kamu masih punya jalan panjang untuk ditempuh」

Oleh Rev. Leung Kwok Keung
Alliance Bible Seminary H.K.

(1 Raja-raja 19:1-8 [TB2])
1 Ahab memberitahukan kepada Izebel semua yang dilakukan Elia dan bagaimana ia membunuh semua nabi dengan pedang. 2 Izebel lalu mengirim utusan kepada Elia dengan pesan, Kiranya para ilah menghukum aku dengan berat, bahkan lebih lagi, jika besok sekitar waktu ini aku tidak menghabisi nyawamu sama seperti salah seorang dari mereka itu.
3 Elia pun ketakutan, lalu pergi menyelamatkan dirinya. Setelah sampai ke Bersyeba, di wilayah Yehuda, ia meninggalkan hambanya di sana. 4 Tetapi, ia sendiri pergi ke padang gurun sejauh satu hari perjalanan.
Ia tiba dan duduk di bawah sebuah pohon arar. Ia memohon supaya ia mati, katanya, Cukuplah sudah! Sekarang, ya TUHAN, ambillah nyawaku, sebab aku ini tidak lebih baik daripada nenek moyangku.
5 Ia lalu berbaring dan tidur di bawah pohon arar itu.
Tiba-tiba seorang malaikat menyentuh dia serta berkata kepadanya, Bangunlah, makanlah! 6 Ketika ia melihat sekitarnya, tampaklah di dekat kepalanya ada roti bakar, dan kendi berisi air. Ia makan dan minum, lalu berbaring lagi.
7 Tetapi, malaikat TUHAN datang untuk kedua kalinya dan menyentuh dia serta berkata, Bangunlah, makanlah! Sebab perjalanan itu nanti terlalu jauh bagimu. 8 Ia pun bangun, lalu makan dan minum. Karena makanan itu ia kuat berjalan selama empat puluh hari empat puluh malam sampai ke Horeb, gunung Allah.

Kekeringan berakhir saat hujan lebat turun. Pasal 19 membuka babak baru, kisah kekeringan berakhir di kota Yizre’el (kata terakhir dalam pasal 18 adalah Yizre’el), tempat istana Ahab dan Izebel berada (1 Raja-raja 21:1-2). Ahab datang ke Yizre’el, dan Elia juga datang ke Yizre’el (18:45-46).

Yang menghubungkan kisah kekeringan (pasal 17-18) dengan kisah baru adalah ayat 1, 2, dan 3. Subjek kalimat pada ayat 1 adalah Ahab, subjek kalimat pada ayat 2 adalah Izebel, dan subjek kalimat pada ayat 3 adalah Elia. Karena Ahab memberi tahu Izebel tentang Elia, Izebel mengirim utusan untuk memberi tahu Elia bahwa ia hendak membunuh Elia. Dalam konteks ayat 1 dan 2, Elia melarikan diri untuk menyelamatkan nyawanya. Mulai ayat 3 dan seterusnya, kisah ini tidak lagi menyebutkan Ahab dan Izebel, dan fokusnya hanya pada Elia.

Ayat 1 Ahab memberitahukan kepada Izebel semua yang dilakukan Elia dan bagaimana ia membunuh semua nabi dengan pedang. Kata semua muncul dua kali, menjabarkan dua poin utama yang Ahab ceritakan kepada Izebel tentang Elia. Karena Ahab menceritakan kepada Izebel semua yang dilakukan Elia, maka semua yang dimaksudkannya tentu saja mencakup tentang semua hal bagaimana ia membunuh semua nabi dengan pedang (dalam bahasa aslinya kata semua muncul tiga kali.) Akan tetapi, penulis masih menggunakan kalimat yang lain lagi untuk mengemukakan bahwa Elia membunuh semua nabi, karena Elia membunuh para nabi itulah yang menjadi alasan mengapa ia harus melarikan diri demi keselamatannya dalam teks berikut. Semua yang dilakukan Elia pasti mencakup konfrontasinya dengan para nabi, bagaimana api turun, dan bagaimana hujan turun karena doanya. Izebel tidak bereaksi terhadap laporan lain kecuali bahwa Elia telah membunuh para nabi yang ia dukung (18:19).

Jadi, Izebel berbicara. Ini adalah pertama kalinya ia berbicara dalam kisah tersebut, dan penulis mencatatnya dalam kutipan langsung. Ia mengirim seorang utusan kepada Elia dan berkata kepadanya, Kiranya para ilah menghukum aku dengan berat, bahkan lebih lagi, jika besok sekitar waktu ini aku tidak menghabisi nyawamu sama seperti salah seorang dari mereka itu. Ke mana utusan itu pergi untuk menemui Elia? Kali ini tidak perlu lagi mencari jauh-jauh menjelajahi berbagai tempat (18:10) karena Elia juga ada di Yizre’el (18:46). Sumpah Izebel tidak hanya mengungkapkan niatnya untuk membunuh Elia, tetapi juga tekad hati untuk melakukannya. Tetapi, ada peneliti yang berpendapat bahwa Izebel sebenarnya tidak ingin membunuh Elia. Jika ia benar-benar ingin membunuh Elia, mengapa ia mengumumkannya terlebih dahulu dan memberi Elia cukup waktu (besok sekitar waktu ini) untuk melarikan diri?! Tujuan sebenarnya adalah untuk mengintimidasi Elia dan membuatnya meninggalkan Israel. Penjelasan ini mungkin bisa dipertimbangkan.

Elia menjadi takut, lalu ia bangkit dan membawa serta hambanya (18:43) dan melarikan diri menyelamatkan nyawanya, dari Yizre’el di utara sampai ke Bersyeba di Yehuda di selatan. Ini adalah ujung selatan Kerajaan selatan Yehuda. Setelah dia meninggalkan hambanya di sana, kisah itu hanya ia sendirian. ia sendiri pergi ke padang gurun sejauh satu hari perjalanan, yang berarti bahwa ia meninggalkan hambanya dan meneruskan perjalanannya sendirian, meninggalkan Bersyeba dan pergi jauh ke padang gurun, ke suatu tempat yang jarang dikunjungi orang.

Paragraf pendek berikutnya menyebutkan di bawah pohon arar dua kali. Dia tiba dan duduk di bawah sebuah pohon arar, ini sebenarnya bukan pohon; melainkan semak dengan daun konifer (daun yang berbentuk seperti sisik atau jarum) dan bunga kuning. Mengingat lingkungan alam liar, naungan yang dapat diberikannya untuk Elia sebenarnya sangat terbatas. Elia meminta untuk mati ambillah nyawaku (ayat 4). Namun, di ayat sebelumnya dia melarikan diri demi hidupnya! Sekarang Elia meminta kematian, katanya, Cukuplah sudah! Sekarang, ya TUHAN, ambillah nyawaku, sebab aku ini tidak lebih baik daripada nenek moyangku. Kemudian ia berbaring dan tidur di bawah pohon arar.

Dari kata tiba dan duduk dan berbaring dan tidur kita dapat merasakan bahwa Elia, yang datang ke padang gurun dari utara, benar-benar lelah. Dia tidak hanya kelelahan secara fisik, tetapi dia juga sangat tertekan, karena di antara dua rangkaian kata kerja ini, dia meminta agar TUHAN mengambil nyawanya. Cukuplah sudah! Sekarang … seru Elia. Sekarang tidak diragukan lagi merujuk pada saat ia mengatakan hal ini, tetapi apa sebenarnya arti Cukuplah sudah? Apa yang terlalu banyak (too much) sehingga membuat ia menjadi cukup sudah (enough) sampai taraf tidak tahan lagi sehingga ia meminta TUHAN untuk mengambil nyawanya? (Dalam bahasa aslinya cukup memiliki arti lain yaitu banyak) Apakah TUHAN telah meminta terlalu banyak dari dia, sehingga sudah cukup, dan jangan meminta dia melakukan sesuatu lebih banyak lagi? Apakah karena ia sudah memberi terlalu banyak untuk melayani Allah tetapi tidak mencapai hasil apa pun, sehingga ia merasa cukup dan tidak ingin meneruskannya? Apa arti cukuplah sudah sungguh sulit untuk ditentukan. Tetapi penjelasan terakhir lebih disukai, mengingat apa yang dikatakannya kepada TUHAN dalam bagian berikutnya (ayat 10 Aku sangat giat bekerja bagi TUHAN, Allah semesta alam, karena orang Israel meninggalkan perjanjian-Mu, merobohkan mezbah-mezbah-Mu, dan membunuh nabi-nabi-Mu dengan pedang … )

(Kata cukup hanya muncul sekali lagi dalam pasal ini, dalam perkataan kedua malaikat TUHAN: Bangunlah, makanlah! Sebab perjalanan itu nanti terlalu jauh bagimu, kata terlalu jauh dalam bahasa aslinya adalah kata yang sama dengan cukup. Berdasarkan hal ini, penafsiran lain yang mungkin adalah bahwa ia jangan berjalan lebih jauh lagi, itu sudah cukup. Namun, malaikat TUHAN mengatakan kepadanya bahwa ia masih harus menempuh perjalanan yang panjang.)

Elia meminta Allah untuk mengambil nyawanya karena dia tidak lebih baik dari nenek moyangnya. Lebih baik ini tidak merujuk pada kebaikan dalam moralitas atau karakter. Terjemahan CUV Mandarin sebagai tidak lebih unggul daripada nenek moyangku.」 Baik berarti bahwa dia tidak memiliki kemampuan seperti para leluhurnya. Artinya: mereka bisa menangani berbagai hal, tetapi aku tidak. Itu mencerminkan frustrasi batin Elia.

Setelah ia berbaring untuk tidur, malaikat itu menyentuhnya dua kali dan berbicara kepadanya (ayat 5b-8). Lihatlah, malaikat menyentuh dia … Kata asli untuk malaikat adalah utusan, dan tidak ada yang salah dengan menerjemahkannya sebagai malaikat, karena ketika penulis menggambarkannya untuk kedua kalinya, ia berkata malaikat TUHAN (ayat 7). Perlu diperhatikan bahwa kata utusan dalam kalimat sebelumnya Izebel mengirim utusan kepada Elia adalah kata yang sama dengan utusan di sini. Lihat adalah apa yang dikatakan penulis kepada para pembaca. Penulis ingin para pembaca terkejut melihat bahwa di alam liar yang tak berpenghuni ini, sebenarnya ada seorang utusan yang muncul. Elia tidak sendirian! Kata-kata pertama yang diucapkan utusan itu kepada Elia hanyalah perintah ini: Bangunlah, makanlah! Tidak ada penjelasan.

Elia memandang, melihat sekitarnya, tampaklah di dekat kepalanya ada roti bakar, dan kendi berisi air. Di sini melihat adalah dari sudut pandang Elia, dan ia terkejut menemukan roti dan air. Kali ini bukan burung gagak atau janda yang memberikan makanan kepada Elia, melainkan malaikat TUHAN. Setelah Elia makan dan minum, ia berbaring lagi (kali ini tidak dikatakan ia tidur). Terhadap Elia yang berbaring lagi, malaikat TUHAN datang untuk kedua kalinya dan menyentuh dia. Kali ini, perkataan utusan itu kepada Elia bukan hanya sekadar perintah: Bangunlah! Makanlah! Tetapi ada penjelasannya: Sebab perjalanan itu nanti terlalu jauh bagimu.. Jadi dia bangun! Makan! Minum! Setelah berjalan selama empat puluh hari dan empat puluh malam, sampai di Gunung Horeb. Membawa kisah ke tingkat yang lain.

Refleksi:
Izebel tidak bereaksi terhadap tindakan Elia lainnya di Gunung Karmel kecuali pembunuhannya terhadap para nabi Izebel. Ini memberi tahu kita bahwa mukjizat tidak ada gunanya bagi mereka yang hatinya keras dan tidak dapat mengubah hatinya.

Elia berdoa di Gunung Karmel dan api pun turun. Ia berdoa lagi dan hujan pun turun. Betapa besar perbuatannya, namun ia berkata, aku tidak lebih baik daripada nenek moyangku. Ini memberi tahu kita bahwa pencapaian masa lalu tidak berguna bagi orang yang depresi dan tidak dapat menghiburnya.


Renungan Pra-Paskah (Er Dao)

Renungan Kitab 1 Raja-raja (01)

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Pra-Paskah Elia ditulis oleh Rev. Dr. Leung Kwok Keung (梁國權) yang dipublikasi pada bulan Maret 2025 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


1 Raja-raja 18:41-46-PraPaskah

「Langit kelam oleh awan dan badai, turunlah hujan yang lebat」

Oleh Rev. Leung Kwok Keung
Alliance Bible Seminary H.K.

(1 Raja-raja 18:41-46 [TB2])
41 Kemudian berkatalah Elia kepada Ahab, Pergilah, makanlah dan minumlah, sebab bunyi derau hujan sudah kedengaran. 42 Lalu Ahab pergi untuk makan dan minum, sedangkan, Elia naik ke puncak Gunung Karmel. Lalu ia membungkuk ke tanah dengan mukanya di antara kedua lututnya. 43 Setelah itu ia berkata kepada hambanya, Naiklah, lihatlah ke arah laut. Hamba itu pun naik dan melihat, lalu berkata, Tidak ada apa-apa. Kata Elia, Pergilah sekali lagi. Tujuh kali Elia berkata demikian. 44 Pada ketujuh kalinya hamba itu berkata, Lihat, awan kecil setelapak tangan timbul dari laut. Lalu kata Elia, Pergilah, katakan kepada Ahab: Pasanglah keretamu dan turunlah, jangan sampai engkau terhalang oleh hujan. 45 Dalam sekejap mata langit menjadi kelam oleh awan dan badai, lalu turunlah hujan yang lebat. Ahab naik ke keretanya dan pergi ke Yizre’el. 46 Tetapi, tangan TUHAN berlaku Elia. Ia mengikat pinggangnya dan berlari mendahului Ahab sampai ke jalan yang menuju Yizre’el.

Dalam peristiwa di Gunung Karmel, kita hanya melihat Elia berbicara kepada seluruh orang Israel dan konfrontasi Elia dengan para nabi Ba’al. Penulis tidak menyebutkan Ahab. Sekarang, berkatalah Elia kepada Ahab, membawa Ahab kembali ke dalam kisah. Sebaliknya, penulis tidak pernah lagi menyebutkan nabi-nabi Ba’al atau orang-orang Israel. Akan tetapi, Ahab bukanlah tokoh utama dalam bagian ini; ia hanya orang yang diperintah dan mengalami turunnya hujan. Kita dapat mengatakan bahwa Ahab benar-benar hadir di Gunung Karmel. Ia menyaksikan adegan konfrontasi antara para nabi di gunung itu, dan ia juga menemani Elia menuruni gunung dan melihat para nabi Ba’al dibunuh.

Perkataan Elia kepada Ahab terdiri dari dua bagian: perintah dan penjelasan. Perintah tersebut diucapkan dengan tiga kata kerja dalam bentuk imperatif, yang dapat diterjemahkan sebagai: Naiklah! Makan! Minum! Raja tidak memiliki ruang untuk campur tangan dalam seluruh konfrontasi para nabi, ia juga tidak memiliki kemampuan untuk memengaruhi situasi secara keseluruhan. Apa yang dapat ia lakukan hanyalah makan dan minum. Elia kini memerintahkan Ahab untuk pergi makan dan minum, artinya: Pergilah dan teruskan makan dan minummu, dan jangan khawatir tentang kekeringan, karena bunyi derau hujan sudah kedengaran. Apa yang disebut bunyi derau hujan mungkin merujuk pada gemuruh guntur. Langit tampaknya belum menjadi gelap oleh awan dan angin (ayat 45), tetapi guntur yang mendahului hujan sudah dapat terdengar di kejauhan. Dalam kalimat Ahab pergi untuk makan dan minum, pergi adalah kata kerja. Makan dan minum adalah dua kata infinitif yang mengungkapkan tujuan pergi (seperti halnya Elia pergi memperlihatkan diri kepada Ahab (18:2), pergi adalah kata kerja, memperlihatkan dirinya kepada adalah bentuk infinitif yang mengungkapkan tujuan pergi. Elia telah pergi, tetapi dalam kalimat ini, apakah Elia sudah memperlihatkan dirinya kepada Ahab? Tentu saja belum.) Atas perintah Elia, Ahab pergi untuk makan dan minum.

Ketika Ahab pergi, penulis memberi tahu kita bahwa Elia juga pergi (ayat 42). Semua orang mendaki Gunung Karmel, tetapi ke lokasi yang berbeda-beda. Elia naik ke puncak Gunung Karmel lalu membungkuk ke tanah dengan mukanya di antara kedua lututnya, suatu sikap berdoa. Penulis tidak memberi tahu kita apa isi doa Elia; fokus narasinya adalah pada proses turunnya hujan.

Ayat 43-44 mencatat percakapan antara Elia dan hambanya. Elia hanya memberikan instruksi kepada hambanya tanpa menjelaskannya. Naiklah, lihatlah ke arah laut terdiri dari dua kalimat perintah. Kalimat pertama sama dengan perintahnya kepada Ahab, tetapi perintah Elia kepada hambanya jauh lebih sopan karena teks aslinya memiliki kata seru tambahan (yang tidak diterjemahkan dalam banyak terjemahan), dan kalimatnya dapat diterjemahkan sebagai Silakan naik. Kalimat kedua dapat diterjemahkan sebagai memandang ke arah laut, Gunung Karmel berada tepat di tepi laut, dan Laut Mediterania berada di sebelah barat gunung. Hamba itu naik ke atas (ini adalah kelima kalinya kata naik ke atas muncul dalam ayat 41-44, dan dua kali dalam ayat 44) dan kemudian melihat seperti yang diperintahkan kepadanya, tetapi ia tidak melihat sesuatu yang aneh. Elia sebanyak tujuh kali berulang menyuruhnya pergi, hingga pada kali ketujuh, hamba itu melaporkan bahwa ia melihat awan sebesar tangan manusia naik dari laut (kata naik muncul yang keenam kali). Kata telapak tangan juga muncul dalam kisah sang janda: ia hanya memiliki tepung sebanyak yang dapat diganggam telapak tangannya (17:12). Kemudian, sedikit tepung ini menjadi persediaan bagi Elia, sang janda, dan keluarganya selama hari-hari yang panjang. Tampaknya ini hanya awan hujan sebesar telapak tangan, tetapi ternyata membawa hujan lebat berikutnya. Hujannya begitu deras bahkan dapat menghalangi laju kereta (ayat 44).

Elia memerintahkan hambanya: 「Pergilah (kata naik muncul yang ketujuh kali) dan beritahu Ahab untuk memasang kereta perang dan turun…」 Di awal paragraf ini, Ahab naik dan Elia juga naik (kata עָלָה aw-law’ dalam KJV konsisten diterjemahkan sebagai go up/arise). Sekarang kisah berakhir, Ahab dan Elia turun, kata kerja turun tidak diulang; tetapi kata Yizre’el yang diulang. Ahab naik ke keretanya dan pergi ke Yizre’el, sedangkan Elia, mengandalkan kuasa Allah (dalam bahasa aslinya adalah tangan), Elia berlari mendahului Ahab sampai ke jalan yang menuju Yizre’el. Kota Yizre’el terletak di Dataran Yizre’el di tenggara Gunung Karmel. Salah satu istana Ahab terletak di sini (1 Raja-raja 21:1-2), dan tempat ini menjadi lokasi kisah selanjutnya tentang perampasan yang dilakukan Ahab atas kebun anggur milik Nabot, orang Yizreel (1 Raja-raja 21).

Refleksi:
Bencana kekeringan berakhir. Seluruh peristiwa dimulai dengan Elia yang mengumumkan kekeringan kepada Ahab (17:1) dan sekarang berakhir dengan Ahab yang mengalami hujan. Dalam mitologi Kanaan, Ba’al adalah dewa yang mengendalikan angin dan hujan. Tetapi penulis Kitab Raja-raja memberi tahu kita bahwa bukan Ba’al, melainkan TUHAN yang mengendalikan angin dan hujan. Ba’al bukanlah Allah, tetapi TUHAN-lah Allah. Alangkah kelirunya jika secara salah menganggap Ba’al sebagai dewa angin dan hujan lalu sujud kepadanya! Saudara-saudari, TUHAN-lah Allah yang menganugerahkan segala macam berkat kepada kita. Benar-benar tidak boleh salah mengenai hal ini.


Renungan Pra-Paskah (Er Dao)

Renungan Kitab 1 Raja-raja (01)

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Pra-Paskah Elia ditulis oleh Rev. Dr. Leung Kwok Keung (梁國權) yang dipublikasi pada bulan Maret 2025 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.