Tag Archives: Kitab 1 Raja-raja

1 Raja-raja 17:17-24

「Ibu yang tidak disebutkan namanya」

Oleh Rev. Chén Shū Yú(陳淑愉)
Alliance Bible Seminary H.K.

(1 Raj. 17:17-24 [ITB])
17 Sesudah itu anak dari perempuan pemilik rumah itu jatuh sakit dan sakitnya itu sangat keras sampai tidak ada nafasnya lagi. 18 Kata perempuan itu kepada Elia: Apakah maksudmu datang ke mari, ya abdi Allah? Singgahkah engkau kepadaku untuk mengingatkan kesalahanku dan untuk menyebabkan anakku mati? 19 Kata Elia kepadanya: Berikanlah anakmu itu kepadaku.
Elia mengambilnya dari pangkuan perempuan itu dan membawanya naik ke kamarnya di atas, dan membaringkan anak itu di tempat tidurnya.
20 Sesudah itu ia berseru kepada TUHAN, katanya: Ya TUHAN, Allahku! Apakah Engkau menimpakan kemalangan ini atas janda ini juga, yang menerima aku sebagai penumpang, dengan membunuh anaknya? 21 Lalu ia mengunjurkan badannya di atas anak itu tiga kali, dan berseru kepada TUHAN, katanya: Ya TUHAN, Allahku! Pulangkanlah kiranya nyawa anak ini ke dalam tubuhnya. 22 TUHAN mendengarkan permintaan Elia itu, dan nyawa anak itu pulang ke dalam tubuhnya, sehingga ia hidup kembali.
23 Elia mengambil anak itu; ia membawanya turun dari kamar atas ke dalam rumah dan memberikannya kepada ibunya. Kata Elia: Ini anakmu, ia sudah hidup! 24 Kemudian kata perempuan itu kepada Elia: Sekarang aku tahu, bahwa engkau abdi Allah dan firman TUHAN yang kauucapkan itu adalah benar.

(2 Raj. 4:27-28; 32-37 [ITB])
27 Dan sesudah ia sampai ke gunung itu, dipegangnyalah kaki abdi Allah itu, tetapi Gehazi mendekat hendak mengusir dia. Lalu berkatalah abdi Allah: Biarkanlah dia, hatinya pedih! TUHAN menyembunyikan hal ini dari padaku, tidak memberitahukannya kepadaku. 28 Lalu berkatalah perempuan itu: Adakah kuminta seorang anak laki-laki dari pada tuanku? Bukankah telah kukatakan: Jangan aku diberi harapan kosong?

32 Dan ketika Elisa masuk ke rumah, ternyata anak itu sudah mati dan terbaring di atas tempat tidurnya. 33 Sesudah ia masuk, ditutupnyalah pintu, sehingga ia sendiri dengan anak itu di dalam kamar, kemudian berdoalah ia kepada TUHAN.
34 Lalu ia membaringkan dirinya di atas anak itu dengan mulutnya di atas mulut anak itu, dan matanya di atas mata anak itu, serta telapak tangannya di atas telapak tangan anak itu; dan karena ia meniarap di atas anak itu, maka menjadi panaslah badan anak itu. 35 Sesudah itu ia berdiri kembali dan berjalan dalam rumah itu sekali ke sana dan sekali ke sini, kemudian meniarap pulalah ia di atas anak itu. Maka bersinlah anak itu sampai tujuh kali, lalu membuka matanya.
36 Kemudian Elisa memanggil Gehazi dan berkata: Panggillah perempuan Sunem itu! Dipanggilnyalah dia, lalu datanglah ia kepadanya, maka berkatalah Elisa: Angkatlah anakmu ini! 37 Masuklah perempuan itu, lalu tersungkur di depan kaki Elisa dan sujud menyembah dengan mukanya sampai ke tanah. Kemudian diangkatnyalah anaknya, lalu keluar.

Untuk lengkapnya bacalah 1 Raj. 17:8-24; 2 Raj. 4:8-37

Janda dari Sarfat dan perempuan Sunem, yang tampaknya merupakan peran pendamping dalam Alkitab, tetapi menjadi teladan iman yang penting dalam rencana Allah. Janda dari Sarfat sangat miskin, hanya memiliki sedikit minyak dan segenggam tepung. Secara logis, ia seharusnya terlebih dahulu memberi makan dirinya dan anaknya, tetapi ia memilih untuk mempersembahkan roti terakhir kepada Elia. Ini adalah iman yang mengorbankan diri, kesediaan untuk mempercayakan kebutuhan yang paling mendesak kepada Allah. Perempuan Sunem, meskipun berkecukupan, juga menunjukkan sikap tanpa pamrih, mempersembahkan tempat dan sumber daya keluarganya, dan bahkan setelah kehilangan anaknya, ia berpegang teguh pada janji-janji Allah, menolak untuk menyerah dalam mencari pertolongan Allah. Kedua ibu ini, satu miskin, satu berkecukupan, satu bukan Yahudi, satu orang Israel, satu membantu nabi Elia, dan yang lainnya menyambut Elisa, penerus Elia, keduanya terhubung dengan rencana Allah melalui pengorbanan diri, mengalami kebangkitan anak mereka dan kasih karunia Allah. Para ibu tanpa nama ini, melalui pengorbanan diri mereka, menjadi bejana di tangan Allah yang menggerakkan sejarah keselamatan, di dalam rencana Allah yang terlaksana selangkah demi selangkah.

Ketika masih muda, saya bekerja sebagai penulis naskah iklan di sebuah perusahaan periklanan. Saya ingat suatu kali makan siang dengan rekan-rekan setelah bertemu klien di sebuah restoran. Selama makan, bos besar, yang sepengetahuan saya seorang Kristen, mengangkat topik persepuluhan. Saat itu, mereka tidak bermaksud menantang iman saya, melainkan terlibat dalam diskusi yang mempertanyakan kepercayaan Kristen. Mereka akhirnya menyimpulkan bahwa semakin miskin seseorang, semakin dermawan mereka, sementara semakin kaya seseorang, semakin pelit mereka. Mengapa demikian? Mereka menjelaskan: jika penghasilan orang miskin hanya sepuluh dolar, persepuluhannya adalah satu dolar; tetapi jika penghasilan orang kaya adalah satu juta dolar, persepuluhannya adalah seratus ribu dolar. Kebanyakan orang, setelah mendengar bahwa seratus ribu dolar harus diberikan sebagai persembahan persepuluhan, menganggap angka itu sangat besar. Oleh karena itu, mereka percaya bahwa orang miskin lebih cenderung dermawan, seperti janda dari Sarfat yang berkata, … setelah kami memakannya, maka kami akan mati! Karena toh mereka tidak pernah memilikinya, bagaimana mungkin mereka merasa enggan untuk kehilangannya? Sebaliknya, meskipun seratus ribu dolar mungkin hanya setetes air di lautan bagi orang kaya, tetapi ketika tiba saatnya untuk benar-benar memberikan uang itu, mereka seringkali memiliki banyak kekhawatiran dan ragu-ragu.

Sebagai orang Kristen, kita semua cenderung memiliki lebih banyak belas kasihan terhadap orang miskin, dan kita sangat terharu ketika mendengar bahwa orang miskin dengan iman bersedia melepaskan harta benda mereka. Secara tradisional, kita sering merasa bahwa kontribusi dari mereka yang lahir dalam keluarga kaya, terutama dalam hal uang, adalah hal yang diharapkan dan bukan sesuatu yang perlu dibanggakan. Tetapi mari kita pertimbangkan ini: jika kita lahir dalam keluarga kaya, apakah akan sulit atau mudah untuk memberikan persepuluhan? Jika kita berasal dari keluarga miskin, apakah akan mudah atau sulit untuk memberikan persepuluhan? Kenyataannya, tanpa ketaatan, baik kaya maupun miskin memberikan persembahan uang jumlah berapa pun sama sulitnya.

Janda dari Sarfat dan perempuan Sunem berasal dari latar belakang yang sangat berbeda, tantangan yang mereka hadapi adalah rasa sakit kehilangan putra mereka, bukan keuntungan atau kerugian kekayaan. Janda dari Sarfat berkata kepada Elia, Apakah maksudmu datang ke mari, ya abdi Allah? Singgahkah engkau kepadaku untuk mengingatkan kesalahanku dan untuk menyebabkan anakku mati? (1 Raj. 17:17-18) Selanjutnya, perempuan dari Sunem datang kepada Elisa, memegang kakinya … dan berkata, Adakah kuminta seorang anak laki-laki dari pada tuanku? Bukankah telah kukatakan: Jangan aku diberi harapan kosong? (2 Raj. 4:27-28) Kedua bagian ini menunjukkan kepada kita bahwa kehidupan mereka memiliki tantangan yang sama, terlepas dari kaya atau miskin.

Refleksi:
Janda dari Sarfat dan perempuan Sunem memberikan persembahan dalam penyangkalan diri, tidak seorang pun memberi tahu mereka bahwa setelah mereka menerima Elia dan Elisa, kedua nabi itu masing-masing akan menyelamatkan nyawa putra-putra mereka di masa depan. Namun, mereka dengan iman tetap melakukan apa yang seharusnya mereka lakukan, dan Allah memberkati mereka dengan berlimpah. Ibu yang tidak disebutkan namanya itu memberi tahu kita bahwa penyangkalan diri itu sulit bagi setiap orang, tetapi kasih karunia Allah yang besar membantu kita belajar selangkah demi selangkah.


Renungan Pra-Paskah (Er Dao)

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Pra-Paskah 2026 ditulis oleh Rev. Dr. Chén Shū Yú(陳淑愉) yang dipublikasi pada bulan Februari 2026 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


1 Raja-raja 18:7-14

「Siapakah Tuanmu?」

Oleh Rev. Dr. Lawrence Ko (高銘謙)
Alliance Bible Seminary H.K.

(1 Raja-raja 18:7-14 [TB2])
7 Ketika Obaja dalam perjalanan, ia bertemu dengan Elia. Ia mengenali Elia, lalu sujud serta bertanya, Engkaukah ini, tuanku Elia? 8 Jawab Elia kepadanya, Benar! Pergilah, katakan kepada tuanmu: Elia ada di sini. 9 Tetapi, jawab Obaja, Apakah dosa yang telah kuperbuat, sehingga engkau hendak menyerahkan hambamu ini kepada Ahab untuk dibunuh? 10 Demi TUHAN, Allahmu, yang hidup, sesungguhnya tidak ada bangsa atau kerajaan, yang tidak didatangi suruhan tuanku Ahab untuk mencari engkau. Apabila mereka berkata: Ia tidak ada, maka ia menuntut kerajaan atau bangsa itu bersumpah bahwa mereka tidak menemukan engkau di sana. 11 Lalu sekarang engkau berkata: Pergilah, katakan kepada tuanmu: Elia ada di sini. 12 Mungkin saja terjadi, ketika aku pergi darimu, Roh TUHAN mengangkat engkau ke tempat yang tidak kuketahui. Kalau aku sampai kepada Ahab untuk memberitahukannya dan engkau tidak didapatinya, tentulah ia akan membunuh aku, padahal hambamu ini dari sejak kecil takut akan TUHAN. 13 Tidakkah diberitahukan kepada tuanku apa yang telah kulakukan pada waktu Izebel membunuh nabi-nabi TUHAN, bagaimana aku menyembunyikan seratus orang nabi TUHAN dalam gua, lima puluh orang satu kelompok dan menyediakan makanan dan minuman mereka? 14 Sekarang, mengapa engkau berkata: Pergilah, katakan kepada tuanmu: Elia ada di sini! Ia pasti akan membunuh aku. 15 Jawab Elia, Demi TUHAN Semesta Alam yang hidup, yang kulayani, sesungguhnya hari ini juga aku akan memperlihatkan diri kepadanya.

Ayat 7, mencatat bahwa Obaja bertemu Elia di jalan, ia mengenali Elia dan tersungkur di hadapannya. Teks tersebut tidak menggambarkan emosi Obaja saat bertemu Elia, tetapi hanya mencatat kata-kata pertamanya saat bertemu dengannya: Engkaukah ini, tuanku Elia? (ayat 7). Elia menjawab, Benar! Pergilah, katakan kepada tuanmu: Elia ada di sini. (ayat 8). Obaja menyapa Elia sebagai tuanku (אדני ’ă·ḏō·nî), tetapi Elia secara terus terang menyebutkan tuanmu (אדניך a·ḏō·ne·ḵā), yang menunjukkan bahwa Obaja memiliki tuan lain, yang dengan jelas menunjukkan bahwa tuannya yang sebenarnya bukanlah Elia melainkan Ahab. Hidup dalam ketidakpastian, Obaja tetap berada dalam sistem Ahab, mengelola istana Ahab. Namun, karena takut akan Allah, ia diam-diam mendukung para nabi TUHAN. Elia, yang berada di luar, sama sekali tidak menyadari semua ini. Obaja memanggil Elia tuanku berharap Elia mengerti bahwa ia berada di pihak yang sama dengan sang nabi. Namun, sebagai balasan, Elia menjawab dengan dingin, tuanmu, dan Elia pun menarik garis pembeda dengan Obaja.
Kita melihat kesamaan antara Obaja dan janda dari Sarfat:

Obaja, sama seperti janda dari Sarfat, melayani sebagai penyedia kebutuhan bagi nabi TUHAN. Bagian-bagian berkorespondensi menyebutkan janda dan Obaja menyediakan roti dan air bagi nabi TUHAN; kedua bagian tersebut membahas tema kehidupan dan kematian. Di permukaan, imam Ba’al, yang diwakili oleh Ahab dan Izebel, mengumumkan kematian para nabi TUHAN sementara para nabi Ba’al harus hidup. Namun, TUHAN adalah Tuhan kehidupan. Ba’al sama sekali tidak berdaya di hadapan TUHAN dan kekeringan, di masa-masa sulit, TUHAN yang hiduplah yang benar-benar membawa kehidupan bagi mereka yang menghadapi kematian. Dengan demikian, penulis Kitab Raja-raja menggunakan karakter janda Sarfat dan Obaja untuk menggambarkan kedaulatan TUHAN atas kehidupan dan ketidakberdayaan Ba’al.

Refleksi:
Obaja dan janda itu sama-sama mendukung nabi TUHAN, tetapi keduanya bukanlah gambaran tipikal seorang yang melayani Allah, janda itu adalah seorang non-Yahudi, dan Obaja adalah hamba memiliki dua tuan. Namun, Allah memakai mereka. Ketika kita menantang Obaja dengan pertanyaan, Siapakah tuanmu? kita juga dapat melihat gambaran lengkap tentang cara Allah memakai manusia.


Renungan pemahaman Kitab 1 Raja-raja 13-18

Renungan pemahaman Kitab 1 Raja-raja

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema 1 Raja-raja 13-18 ditulis oleh Rev. Dr. Lawrence Ko (高銘謙) yang dipublikasi pada bulan Agustus 2025 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


1 Raja-raja 18:1-6

「Siapa yang dibantai?」

Oleh Rev. Dr. Lawrence Ko (高銘謙)
Alliance Bible Seminary H.K.

(1 Raja-raja 18:1-6 [TB2])
1 Lama sesudah itu, datanglah firman TUHAN kepada Elia dalam tahun yang ketiga, Pergilah, perlihatkanlah dirimu kepada Ahab, sebab Aku hendak memberi hujan ke atas muka bumi. 2 Lalu Elia pergi memperlihatkan diri kepada Ahab. Adapun kelaparan itu juga dahsyat di Samaria. 3 Ahab telah memanggil Obaja yang menjadi kepala istana. Obaja itu seorang yang sungguh-sungguh takut akan TUHAN. 4 Pada waktu Izebel membantai nabi-nabi TUHAN, Obaja mengambil seratus orang nabi, lalu menyembunyikan mereka dalam gua, lima puluh orang satu kelompok, serta menyediakan makanan dan minuman mereka. 5 Kata Ahab kepada Obaja, Jelajahilah negeri ini hingga ke semua mata air dan sungai; barangkali kita menemukan rumput, sehingga kita dapat menyelamatkan kuda dan bagal, dan tidak perlu memotong seekor hewan pun. 6 Lalu mereka membagi tanah itu di antara mereka untuk dijelajahi. Ahab pergi seorang diri ke arah yang satu dan Obaja pergi ke arah yang lain.

Ayat 2, mencatat kelaparan hebat di Samaria, kelaparan itu dahsyat (הרעב חזק ḥā·zāq hā·rā·‘āḇ). Pada saat itu di seluruh kerajaan Israel utara terdapat kelaparan, tetapi ironisnya, di Samaria, ibu kota kerajaan utara, kelaparan itu dahsyat. Bahkan Ahab dan Izebel, yang mempersembahkan korban kepada Ba’al dan Asyera, tidak mampu meringankan kelaparan tersebut. Ayat-ayat ini menggambarkan ketidakberdayaan Ba’al dan realitas nyata penghakiman TUHAN. Ayat 3 memperkenalkan Obaja. Pertama, nama Obaja berarti hamba TUHAN, yang menunjukkan iman dan identitasnya sebagai hamba TUHAN, seorang yang hormat takut akan TUHAN (1 Raja-raja 18:3, 12, Obaja itu seorang yang sungguh-sungguh takut akan TUHAN). Namun, posisinya sebagai kepala istana Ahab membuat Obaja terjepit, hidup dalam dilema antara melayani Ahab atau melayani TUHAN. Namanya adalah hamba TUHAN, tetapi dia juga adalah hamba Ahab.
Ayat 4-5 mencatat dua ironi krusial. Ironi pertama, Ahab tidak mampu mendatangkan hujan dan makanan bagi bangsanya, tetapi Obaja mampu menyediakan air dan makanan bagi para nabi TUHAN (ayat 4). Kita melihat bagaimana Obaja menggunakan sumber dayanya untuk menyediakan kebutuhan para nabi TUHAN. Ia melakukannya secara pribadi, dalam situasi yang terjepit, tanpa mencari imbalan atau pujian. Hal ini, pada gilirannya, menempatkannya dalam posisi yang berbahaya. Seandainya Izebel menemukan hal ini, nyawanya pasti akan terancam. Obaja sangat hormat takut akan TUHAN, jadi ia memutuskan untuk menggunakan posisinya untuk melayani Allah. Di permukaan, ia melayani Ahab, tetapi kenyataannya, ia melayani TUHAN dan para nabi-Nya. Ironi kedua, kata dibantai (כרת bə·haḵ·rîṯ) digunakan dua kali dalam teks tersebut, yang pertama muncul dalam ayat 4, menggambarkan tindakan Izebel membantai para nabi TUHAN, yang kedua muncul di ayat 5, yang menggambarkan perintah Ahab kepada Obaja, yang menyatakan bahwa keputusan Ahab dimaksudkan untuk mencegah ternak memotong (נכרית naḵ·rîṯ). Kedua rujukan tentang membantai ini merupakan ironi sastra. Izebel berharap untuk membantai para nabi TUHAN, tetapi ternak Ahab justru dipotong oleh TUHAN. Dengan demikian, Allah menyediakan kebutuhan para nabi TUHAN melalui Obaja, sama seperti burung gagak dan janda menyediakan kebutuhan Elia, tetapi Obaja tidak menyediakan kebutuhan bagi keluarga Ahab. Sementara itu, Izebel berharap untuk membantai para nabi TUHAN, tetapi ia dan ternak Ahab dimusnahkan oleh Allah. Kedua poin ini menggambarkan pekerjaan Allah di tengah dilema, dan perjuangan Obaja untuk bertahan hidup dalam dilema ini dan hidup dalam hormat takut akan Allah, sehingga menyelamatkan para nabi TUHAN.

Refleksi:
Obaja hidup dalam ketidakpastian, bimbang antara kesetiaan kepada Ahab dan kesetiaan kepada TUHAN. Namun, Allah bekerja dengan luar biasa melalui situasi ini. Melalui Obaja, Dia menyediakan kebutuhan para nabi TUHAN, di sisi lain memotong ternak di rumah Ahab. Meskipun para nabi TUHAN tampak dibantai, Allah sebenarnya sedang bekerja. Pelajaran apa yang dapat Anda dan saya petik dari hal ini?


Renungan pemahaman Kitab 1 Raja-raja 13-18

Renungan pemahaman Kitab 1 Raja-raja

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema 1 Raja-raja 13-18 ditulis oleh Rev. Dr. Lawrence Ko (高銘謙) yang dipublikasi pada bulan Agustus 2025 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


1 Raja-raja 17:19-24

「Kebangkitan dari kematian」

Oleh Rev. Dr. Lawrence Ko (高銘謙)
Alliance Bible Seminary H.K.

(1 Raja-raja 17:19-24 [TB2])
19 Kata Elia kepadanya, Berikanlah anakmu itu kepadaku. Elia mengambilnya dari dekapan perempuan itu dan membawanya naik ke kamar atas tempat ia menumpang, lalu membaringkan anak itu di tempat tidurnya. 20 Kemudian ia berseru kepada TUHAN, katanya, Ya TUHAN, Allahku! Apakah Engkau menimpakan kemalangan bahkan atas janda ini, yang memberiku tumpangan, dengan membunuh anak ini? 21 Lalu ia menelungkupkan badannya di atas anak itu tiga kali, dan berseru kepada TUHAN, katanya, Ya TUHAN, Allahku! Kembalikanlah kiranya napas hidup anak ini ke dalam tubuhnya. 22 TUHAN mendengarkan permintaan Elia itu, dan napas hidup anak itu kembali ke dalam tubuhnya, sehingga ia hidup kembali. 23 Elia mengambil anak itu dan membawanya turun dari kamar atas ke dalam rumah. Lalu Elia memberikannya kepada ibunya sambil berkata, Lihatlah, anakmu hidup! 24 Kemudian kata perempuan itu kepada Elia, Sekarang aku tahu bahwa engkau abdi Allah dan firman TUHAN yang kauucapkan itu benar.

Ayat 19 menggambarkan Elia memerintahkan perempuan itu untuk memberikan anaknya kepadanya, kemudian ia membawanya ke atas. Ayat 20 mencatat doa Elia kepada TUHAN, menanyakan kepada Allah apakah karena Elia menumpang di sana sehingga telah menyebabkan bencana yang menimpa anak perempuan itu. Namun, ayat-ayat berikut tidak mencatat tanggapan TUHAN, Dia tidak menjelaskan penyebab kematian anak itu. TUHAN sama sekali tidak menanggapi pertanyaan Elia tentang apakah karena ia menumpang di sana telah berkontribusi pada kematian anak itu, Dia sama sekali tidak perlu menjelaskan keberadaan kematian kepada siapa pun. Namun, ketika kita membandingkannya dengan mitos Ba’al, kita memahami bahwa bagi Ba’al, dewa kematian mengancam keberadaan Ba’al, tetapi bagi TUHAN, kematian tidak dapat menantang kuasa-Nya; sebaliknya, itu menjadi alat-Nya untuk menunjukkan kehendak-Nya dan membuktikan kedaulatan-Nya sebagai Tuhan atas kehidupan.

Ayat 21 menyebutkan bahwa Elia menelungkupkan badannya di atas anak itu tiga kali. Teks bahasa aslinya secara harafiah, Ia mengukur dirinya di atas anak kecil itu(al-hay·ye·leḏ way·yiṯ·mō·ḏêḏ ויתמדד על־הילד). Kata mengukur (מדד madad) muncul dalam Yesaya 65:7 (Aku akan menakar ke dalam jubah mereka upah untuk perbuatan-perbuatan mereka yang dahulu!), yang menunjukkan bahwa Allah akan membalas dosa para leluhur kepada keturunan mereka, yang memunculkan makna mata ganti mata, gigi ganti gigi (ukuran ganti ukuran). Oleh karena itu, kita dapat menyimpulkan bahwa Elia menggunakan anak yang mati itu untuk mengukur (מדד madad) dirinya sendiri, dan menggunakan tindakan “drama kenabian” (prophetic drama) untuk mempertanyakan kepada Allah: Apakah kematian anak itu disebabkan oleh Elia sendiri? (lihat ayat 20, Ya TUHAN, Allahku! Apakah Engkau menimpakan kemalangan bahkan atas janda ini, yang memberiku tumpangan, dengan membunuh anak ini?)

Elia kemudian mengalihkan nada doanya, dan langsung meminta kepada TUHAN: Kembalikanlah kiranya napas hidup anak ini ke dalam tubuhnya (haz·zeh ne·p̄eš-hay·ye·leḏ nā tā·šāḇ תשב נא נפש־הילד הזה על־קרבו) (ayat 21). Kata napas hidup/jiwa (נפש ne·p̄eš) mengingatkan kita pada Kejadian 2:7, yang menyatakan bahwa setelah TUHAN menghembuskan napas kehidupan ke dalam lubang hidung manusia itu, manusia itu menjadi makhluk yang hidup (לנפש חיה ḥay·yāh lə·ne·p̄eš). Ini mengungkapkan identitas TUHAN adalah Tuhan atas kehidupan. Akhirnya, anak itu dibangkitkan.

Terakhir, ayat 24 mencatat apa yang dikatakan perempuan itu kepada Elia. Ia menunjukkan bahwa Elia adalah abdi Allah. Pemahaman ini telah dijelaskan sejak ayat 18. Saat itu, perempuan itu melihat anaknya telah mati, dan ia berpikir bahwa karena abdi Allah, Elia, tinggal di rumahnya, menyebabkan anaknya mati; tetapi kini perspektif perempuan itu telah berubah, dan ia memiliki pemahaman yang lebih mendalam tentang peran Elia sebagai abdi Allah. Peran ini awalnya menyebabkan kematian anaknya (ayat 18), tetapi kini karena perannya sebagai abdi Allah ini, anaknya dibangkitkan. Pada saat yang sama, ia mengungkapkan pemahamannya tentang peran seorang abdi Allah.

Refleksi:
TUHAN tidak menanggapi tentang dosa perempuan itu atau menjelaskan kematian anak itu. Sebaliknya, Ia membangkitkan anak perempuan itu melalui Elia. Kematian adalah takdir umat manusia yang berdosa dan akhir dari umat manusia di seluruh dunia. Namun, TUHAN adalah Pemberi kehidupan. Kebangkitan anak itu merupakan gambaran dari keselamatan Yesus Kristus, yang menang atas kematian dan membawakan kehidupan.


Renungan pemahaman Kitab 1 Raja-raja 13-18

Renungan pemahaman Kitab 1 Raja-raja

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema 1 Raja-raja 13-18 ditulis oleh Rev. Dr. Lawrence Ko (高銘謙) yang dipublikasi pada bulan Agustus 2025 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


1 Raja-raja 17:17-18

「Apa dosa perempuan itu?」

Oleh Rev. Dr. Lawrence Ko (高銘謙)
Alliance Bible Seminary H.K.

(1 Raja-raja 17:17-18 [TB2])
17 Beberapa waktu kemudian anak dari perempuan pemilik rumah itu jatuh sakit. Sakitnya sangat parah sampai napasnya tidak ada lagi. 18 Kata perempuan itu kepada Elia, Apa persoalanmu terhadap aku, ya Abdi Allah? Apakah engkau datang kepadaku untuk mengingatkan kesalahanku dan menyebabkan anakku mati?

Ayat 17 menyebutkan bahwa anak perempuan itu sakit dan napasnya tidak ada lagi. Penulis Kitab Raja-raja bermaksud mempertahankan penggunaan kata napas (נשמה nə·šā·māh) agar pembaca mengingat Kejadian 2:7, di mana TUHAN menghembuskan napas (נשמה nə·šā·māh) kehidupan ke dalam lubang hidung manusia itu, sehingga merupakan manusia yang memiliki hidup. Dengan demikian, kita memahami bahwa napas (נשמה nə·šā·māh) merupakan pemberian TUHAN. Jika penulis Kitab Raja-Raja menyatakan bahwa anak itu tidak memiliki napas (נשמה nə·šā·māh) , itu akan menekankan bahwa TUHAN adalah sumber kehidupan (karena napas merupakan pemberian Allah). Dia dapat memberikan napas (נשמה nə·šā·māh) atau mengambil napas (נשמה nə·šā·māh), Dialah Tuhan kehidupan. Ini juga menjadi latar bagi bagian selanjutnya, yang memperkenalkan bahwa TUHAN membangkitkan anak ini dan menunjukkan Ba’al sama sekali tidak memiliki kemampuan untuk menaklukkan kematian dan memberikan kehidupan.

Ayat 18 mencatat respons perempuan itu atas kematian anaknya. Ia mengawali dengan berkata kepada Elia, Apa persoalanmu terhadap aku, ya Abdi Allah? Teks aslinya tampaknya berbunyi Apa halku? (מה־לי mah-lî), yang berarti, apa kaitannya dengan aku? Sebenarnya, apa yang dirujuk oleh kata apa (מה mah) ini? Di permukaan, kata apa (מה mah) ini merujuk pada kematian anaknya, tetapi secara teologis, perempuan itu menafsirkan kunjungan Elia terkait bahwa Allah mengingat dosa dirinya, yang menyebabkan kematian putranya. Kata apa (מה mah) merujuk pada kehadiran Elia yang datang bersama Allahnya (Elia disertai oleh Allahnya, sehingga datangnya Elia pada saat yang sama juga menghadirkan Allah). Kemudian, perempuan itu berkata, Apakah engkau datang kepadaku untuk mengingatkan kesalahanku dan menyebabkan anakku mati? Ia menggunakan kata dosa kejahatan (עון ‘ă·wōn, TB menerjemahkan sebagai kesalahan), ini adalah kata yang lebih serius, merujuk pada dosa yang disengaja, yang mengemukakan dosa itu sendiri dan hukuman yang ditimbulkannya. Kata dosa kejahatan ini tentu saja dapat dipahami sebagai keberdosaan seseorang yang menjadi tampak nyata karena berada di hadapan TUHAN (Lukas 5:8 Simon Petrus melihat hal itu ia pun sujud di depan Yesus dan berkata, Tuhan, pergilah dari hadapanku, karena aku ini seorang berdosa.』」, Markus 1:24 Apa urusan-Mu dengan kami, hai Yesus orang Nazaret? Apakah Engkau datang untuk membinasakan kami? Aku tahu siapa Engkau: Yang Kudus dari Allah). Dalam konteks Perjanjian Lama, kata ini juga dapat merujuk pada dosa konkret tertentu, misalnya, di Ulangan 5:9 kata ini merujuk pada dosa kejahatan penyembahan berhala (ITL tepat menggunakan kata yang lebih serius kejahatan). Oleh karena itu, kita dapat menyimpulkan bahwa perempuan ini adalah penyembah Ba’al atau dewa lainnya. Ini juga selaras dengan penafsiran kata perempuan pemilik (בעלה ba·‘ă·laṯ) rumahdalam ayat 17, yang berhubungan dengan Ba’al (בעל). Oleh karena itu, perempuan ini bukan sekadar keberdosaannya menjadi tampak nyata karena berada di hadapan TUHAN (yang hadir menyertai Elia), tetapi lebih khusus lagi, penyembahannya kepada Ba’al membentuk dosa kejahatannya (עון ‘ă·wōn).

Refleksi:
Memang, tema kematian merupakan benang merah dalam bagian ini, walau perempuan ini adalah penyembah Ba’al, ia tidak mampu menangani urusan kematiannya sendiri. Ba’al adalah dewa yang tak berdaya. Ia bukanlah Tuhan kehidupan dan tidak memiliki kemampuan untuk mengalahkan kematian. Hanya TUHAN sajalah yang merupakan Tuhan kehidupan.


Renungan pemahaman Kitab 1 Raja-raja 13-18

Renungan pemahaman Kitab 1 Raja-raja

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema 1 Raja-raja 13-18 ditulis oleh Rev. Dr. Lawrence Ko (高銘謙) yang dipublikasi pada bulan Agustus 2025 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


1 Raja-raja 17:10-16

「Kebenaran kebutuhan sehari-hari」

Oleh Rev. Dr. Lawrence Ko (高銘謙)
Alliance Bible Seminary H.K.

(1 Raja-raja 17:10-16 [TB2])
10 Lalu berangkatlah ia ke Sarfat. Sesampainya ia di pintu gerbang kota itu, tampaklah di sana seorang janda sedang mengumpulkan kayu api. Ia berseru kepada perempuan itu, katanya, Ambillah bagiku sedikit air dalam kendi, supaya aku minum. 11 Ketika perempuan itu pergi mengambilnya, ia berseru lagi, Ambillah juga bagiku sepotong roti. 12 Sahut perempuan itu, Demi TUHAN, Allahmu, yang hidup, sesungguhnya tidak ada roti sedikit pun padaku, kecuali segenggam tepung dalam tempayan dan sedikit minyak dalam buli-buli. Sekarang aku sedang mengumpulkan dua tiga potong kayu api, lalu aku mau pulang untuk mengolahnya bagiku dan anakku. Kami akan memakannya, laku kami mati. 13 Tetapi, kata Elia kepadanya, Jangan takut. Pulanglah, lakukanlah seperti yang kaukatakan. Hanya saja, buatlah lebih dulu bagiku sepotong roti bundar kecil dari tepung itu dan bawalah kepadaku. Sesudah itu barulah kaubuat bagimu dan anakmu. 14 Sebab beginilah firman TUHAN, Allah Israel: Tepung dalam tempayan itu tidak akan habis dan minyak dalam buli-buli itu pun tidak akan berkurang sampai pada waktu TUHAN memberi hujan ke atas muka bumi. 15 Perempuan itu pun pergi dan melakukan seperti yang dikatakan Elia. Perempuan itu dan seisi rumahnya serta Elia mendapat makan hari demi hari. 16 Tepung dalam tempayan itu tidak habis dan minyak dalam buli-buli itu tidak berkurang, seperti firman TUHAN yang disampaikan-Nya dengan perantaraan Elia.

Teks ini berulang kali menggunakan kata berjalan (הלך halak) untuk menggambarkan serangkaian tindakan oleh berbagai tokoh. Awalnya, TUHAN memerintahkan Elia untuk berjalan (pergi ke Sarfat di wilayah Sidon) (1 Raja-raja 17:9), kemudian Elia berjalan (berangkatlah) (1 Raja-raja 17:10), dan kemudian, Elia meminta janda itu untuk mengambil air, yang menyebabkan janda itu berjalan (pergi) (1 Raja-raja 17:11). Tiga kali berjalan ini menggambarkan bahwa ketaatan itu sendiri merupakan tindakan berjalan, dan melalui berjalan ini, baik Elia maupun janda itu menerima pemeliharaan dari Allah. Sementara janda itu berjalan untuk mengambil air, Elia secara bersamaan memanggilnya untuk membawakannya roti. Dengan demikian, unsur air dan roti menjadi lengkap, sama seperti sebelumnya, di sungai Kerit, air dan roti yang dibawa oleh burung gagak. Kemudian, kita mengetahui bahwa tema air dan roti muncul kembali selama pelarian Elia ke Gunung Horeb (1 Raja-raja 19:6).

Ayat 12 mencatat tanggapan janda itu kepada Elia, ia menjelaskan bahwa ia hanya memiliki segenggam tepung dan sedikit minyak, dan bahwa ia mengumpulkan kayu untuk membuat potongan roti terakhir bagi dirinya dan anaknya, berniat memakannya lalu mati. Namun, TUHAN memerintahkan janda dari Sarfat untuk memberi makan (לכלכלך lə·ḵal·kel·ḵā, memelihara) Elia (1 Raja-raja 17:9), sama seperti Allah telah memerintahkan burung gagak untuk memberi makan (לכלכלך lə·ḵal·kel·ḵā, memelihara) Elia (1 Raja-raja 17:4). Kedua ayat tersebut meneguhkan TUHAN sebagai Pemberi Kehidupan, yang menjungkirbalikkan mitos Ba’al sebagai pemberi makanan. Menghargai TUHAN sebagai Tuhan atas kehidupan sangatlah penting. Meskipun manusia mungkin secara dangkal mengandalkan tepung, minyak, air, dan kayu untuk bertahan hidup, sumber dari semua penyediaan ini bukanlah Ba’al, melainkan TUHAN.

Ayat 14 mencatat firman Allah melalui Elia, yang menyatakan, Tepung dalam tempayan itu tidak akan habis dan minyak dalam buli-buli itu pun tidak akan berkurang sampai pada waktu TUHAN memberi hujan ke atas muka bumi. Awalnya bejana dan buli-buli sang janda kosong, tetapi Allah mendatangkan persediaan yang tak terbatas ke dalam kekosongan yang menyedihkan ini. Inilah kebenaran tentang TUHAN yang ditunjukkan melalui Elia. Kebenaran TUHAN tidak terletak pada manifestasi mukjizat itu sendiri, melainkan pada kebutuhan hidup sehari-hari, yang menyingkapkan bahwa TUHAN adalah satu-satunya Allah yang benar. Hal ini menjungkirbalikkan janji-janji mitologi Ba’al dan menunjukkan bahwa TUHAN adalah sumber kehidupan yang sejati.

Refleksi:
Janda ini adalah seorang wanita yang taat. Pada akhirnya, ia tidak hanya mendengar janji pemeliharaan Allah, tetapi ia dan Elia juga menerimanya. Dengan iman, ia makan dari pemeliharaan Allah, dan tindakan imannya juga memelihara nabi Elia. Iman memungkinkan orang untuk melihat realitas nyata dari Allah.


Renungan pemahaman Kitab 1 Raja-raja 13-18

Renungan pemahaman Kitab 1 Raja-raja

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema 1 Raja-raja 13-18 ditulis oleh Rev. Dr. Lawrence Ko (高銘謙) yang dipublikasi pada bulan Agustus 2025 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


1 Raja-raja 17:7-9

「Janda Sarfat」

Oleh Rev. Dr. Lawrence Ko (高銘謙)
Alliance Bible Seminary H.K.

(1 Raja-raja 17:7-9 [TB2])
7 Akan tetapi, sesudah beberapa waktu, wadi itu mengering, sebab hujan tidak turun di negeri itu. 8 Lalu datanglah firman TUHAN kepada Elia, 9 Pergilah sekarang ke Sarfat di wilayah Sidon, dan tinggallah di sana. Ketahuilah, Aku telah memerintahkan seorang janda di sana untuk memberi engkau makan.

Janda Sarfat yang dicatat dalam 1 Raja-raja 17:7-16 serupa sifatnya dengan perikop tentang pemeliharaan Allah melalui burung gagak, keduanya menggambarkan bahwa TUHAN adalah pemberi kehidupan. Namun, perikop ini juga menggambarkan ketidakberdayaan Ba’al.
Ayat 8 menjelaskan bahwa firman TUHAN datang kepada Elia, sama seperti yang sebelumnya telah datang kepada Elia, memerintahkan dia untuk pergi ke sungai Kerit (1 Raja-raja 17:2). Bagian ini menjelaskan bahwa TUHAN memerintahkan Elia untuk pergi ke Sarfat di Sidon. Mengapa tempat itu? Sidon adalah kampung halaman Izebel (1 Raja-raja 16:31), tempat yang lazim penuh dengan penyembahan Ba’al. Perintah Elia untuk pergi ke sana adalah ironis, menunjukkan bahwa bahkan jika Elia memasuki lingkup pengaruh Ba’al, TUHAN penuh kuasa akan dapat menyediakan pemeliharaan bagi Elia. Secara tradisional, Sarfat di Sidon dianggap sebagai wilayah non-Yahudi, yang terletak di pusat perdagangan Fenisia di Sidon. Injil Lukas menunjukkan bahwa Sarfat di Sidon sebagai daerah orang-orang asing non-Israel (Lukas 4: 25-26). Jadi, meskipun Sarfat adalah tempat asal Izebel, tempat lazim penuh penyembahan Ba’al, Ba’al tidak berdaya mencegah kekeringan dan tidak dapat memberi makan penduduk kota, termasuk para janda. Namun, TUHAN dapat menggunakan seorang janda untuk menyediakan kebutuhan Elia di tempat yang marak dengan penyembahan Ba’al. Hal ini jelas menyiratkan konfrontasi dengan Ba’al dan menunjukkan bahwa TUHAN adalah Tuhan atas seluruh bumi, tidak terbatas oleh wilayah mana pun.
Ayat 9 menunjukkan bahwa TUHAN telah memerintahkan seorang janda untuk memberikan pemeliharaan kebutuhan sehari-hari Elia, tetapi janda itu mungkin tidak menyadari bahwa ia telah diatur oleh Allah untuk menyediakan pemeliharaan bagi sang nabi Elia. Janda ini adalah representasi dari mereka yang kurang beruntung, di saat yang sama, para janda adalah yang terlemah di antara yang lemah. Hal ini semakin menunjukkan bahwa TUHAN berkenan kepada bangsa-bangsa lain dan membuat orang Israel mengerti bahwa kasih Allah bukan hanya monopoli mereka. Fakta bahwa Allah dapat memberikan pemeliharaan bagi Elia melalui seorang janda non-Yahudi di Sarfat, Sidon, sungguh di luar imajinasi orang Israel. Hal ini juga menunjukkan bahwa TUHAN adalah Tuhan atas seluruh bumi, yang menumbangkan anggapan tentang dewa-dewa regional di Timur Dekat kuno (pandangan mereka bahwa masing-masing dewa berkuasa atas regional tertentu, tidak berkuasa atas regional lain)

Refleksi:
TUHAN adalah Tuhan atas seluruh bumi, dan bahkan dominasi Ba’al pun tak dapat menolak teologi fundamental ini. Allah menyediakan kebutuhan Elia melalui orang-orang yang paling lemah di tempat penyembahan Ba’al merajalela. Meskipun ironis, hal ini juga menyoroti kuasa transenden TUHAN, menunjukkan bahwa Dia adalah Tuhan kehidupan yang sejati. Apa yang diingatkan hal ini kepada Anda dan saya?


Renungan pemahaman Kitab 1 Raja-raja 13-18

Renungan pemahaman Kitab 1 Raja-raja

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema 1 Raja-raja 13-18 ditulis oleh Rev. Dr. Lawrence Ko (高銘謙) yang dipublikasi pada bulan Agustus 2025 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


1 Raja-raja 17:3-6

「Burung-burung gagak menyediakan makanan bagi Elia」

Oleh Rev. Dr. Lawrence Ko (高銘謙)
Alliance Bible Seminary H.K.

(1 Raja-raja 17:3-6 [TB2])
3 Pergilah dari sini, berjalanlah ke timur dan bersembunyilah di tepi Wadi Kerit di sebelah timur Sungai Yordan. 4 Engkau dapat minum dari wadi itu, dan burung-burung gagak telah Kuperintahkan untuk memberi engkau makan di sana. 5 Lalu ia pergi melakukannya sesuai dengan firman TUHAN. Ia pergi dan tinggal di tepi Wadi Kerit di sebelah timur Sungai Yordan. 6 Pada waktu pagi dan petang burung-burung gagak membawa roti dan daging kepadanya, dan ia minum dari wadi itu.

Selama masa kekeringan, TUHAN berencana menggunakan Sungai Kerit dan burung-burung gagak untuk menyediakan kebutuhan bagi nabi-Nya, Elia.
Ayat 4 menyebutkan bahwa TUHAN akan memakai air sungai Kerit dan burung-burung gagak memberi engkau makan (לכלכלך lə·ḵal·kel·ḵā), beberapa orang berpendapat bahwa penggunaan kata ini lebih bermakna memelihara/menopang (כול kuwl, lihat juga ITL menerjemahkan sebagai memelihara) alih-alih hanya memberi makan (אכל), menunjukkan bahwa kuasa TUHAN bukan hanya sekadar memberi makan Elia, melainkan untuk menopang hidup Elia, yang menunjukkan bahwa Allah adalah Allah yang memberi hidup (lihat ayat 1 Demi TUHAN yang hidup, Allah Israel, yang kulayani, …). Kata ini juga digunakan di ayat 9, menjelaskan bahwa Allah akan memerintahkan seorang janda dari Sarfat di Sidon untuk memberi makan kamu (לכלכלך lə·ḵal·kel·ḵā, ITL menerjemahkan sebagai memelihara), ini menunjukkan bahwa burung gagak dan sungai Kerit memiliki tujuan yang sama dengan janda itu: keduanya digunakan oleh Allah untuk memberi makan/memelihara (כול kuwl) Elia, dan ini juga menunjukkan bahwa kedua narasi ini memiliki sumber yang sama. Namun, kata memelihara/menopang (כול kuwl) menjadi kata yang sering digunakan dalam narasi Elia (1 Raja-raja 17:4, 9; 18:4, 13). Kata ini tidak hanya digunakan untuk menggambarkan perintah Allah kepada burung gagak dan janda untuk menyediakan kebutuhan Elia (1 Raja-raja 17:4, 9), tetapi juga untuk menggambarkan bagaimana Obaja, bendahara Ahab, yang menyediakan makanan dan minuman seratus orang nabi dengan memberi mereka roti dan air (1 Raja-raja 18:4, 13). Ini menunjukkan bagaimana selama masa kekeringan dan kesulitan TUHAN senantiasa memelihara/menopang (כול kuwl) para nabi TUHAN (termasuk Elia) melalui burung gagak, janda, dan Obaja. Dalam mitos Ba’al, dikatakan bahwa orang Kanaan diberi makan/diperlihara (כול kuwl) karena kebaikan Ba’al dan kematian dewa kematian. Namun, penulis Kitab Raja-Raja dalam narasi Elia menggunakan kata memberi makan/memelihara/menopang (כול kuwl) untuk memberi tahu pembaca bahwa hanya TUHAN sendiri, bukan Ba’al, yang benar-benar memberi makan/memelihara (כול kuwl) para nabi TUHAN di masa-masa sulit. Dan para nabi TUHAN diberi makan/dipelihara (כול kuwl) untuk melaksanakan misi melawan Ba’al. Mereka semua adalah nabi yang tidak tunduk kepada Ba’al.
Ayat 4 menyebutkan bahwa TUHAN memerintahkan burung gagak untuk memberi makan Elia. Burung gagak akan membawakan roti dan daging di pagi dan sore hari. Burung gagak adalah burung pemakan daging, bukan burung yang memberi makan orang lain. Di saat yang sama, janda miskin itu sendiri tidak mampu memberi makan orang lain, tetapi membutuhkan orang lain untuk memberinya makan. Namun, TUHAN justru menyediakan kebutuhan Elia melalui kedua ini yang sebenarnya tidak mau atau tidak mampu menyediakan kebutuhan Elia, ini menunjukkan pemeliharaan Allah yang luar biasa.

Refleksi:
Pemeliharaan Allah bagi hamba-hamba-Nya tidak terbatas pada pemahaman kita. Seringkali, kita berasumsi bahwa jika semuanya berjalan lancar dan sesuai dengan rencana serta keinginan kita barulah dapat dikatakan Tuhan memelihara kita. Namun, kemunculan burung gagak membalikkan pemahaman kita tentang pemeliharaan Tuhan. Tuhan dapat memelihara kita melalui cara yang tampaknya mustahil. Apa yang diajarkan hal ini kepada Anda dan saya?


Renungan pemahaman Kitab 1 Raja-raja 13-18

Renungan pemahaman Kitab 1 Raja-raja

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema 1 Raja-raja 13-18 ditulis oleh Rev. Dr. Lawrence Ko (高銘謙) yang dipublikasi pada bulan Agustus 2025 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


1 Raja-raja 17:1-2

「Melayani Allah Sang pemberi kehidupan」

Oleh Rev. Dr. Lawrence Ko (高銘謙)
Alliance Bible Seminary H.K.

(1 Raja-raja 17:1-2 [TB2])
1 Elia, orang Tisbe, dari Tisbe-Gilead, berkata kepada Ahab, Demi TUHAN yang hidup, Allah Israel, yang kulayani, tidak akan ada embun atau hujan pada tahun-tahun ini, kecuali kalau aku mengatakannya. 2 Kemudian datanglah firman TUHAN kepadanya,

1 Raja-raja 17-19 mencatat tentang Elia, yang berhubungan dengan pemerintahan Ahab, dan 17:1 memperkenalkan Elia.
Ayat 1 menyebutkan sumpah Elia kepada Allah, menyebut TUHAN sebagai TUHAN yang hidup, Allah Israel, yang kulayani. Di sini kita melihat dua unsur dalam gelar ini. Yang pertama adalah TUHAN yang hidup, Allah Israel, yang menunjukkan bahwa sumpah Elia adalah demi TUHAN kehidupan. Karena TUHAN adalah Allah yang memberi hidup, Dia sendiri adalah sumber hidup dan pemilik hidup yang kekal. Oleh karena itu, sumpah ini kekal selamanya, sama seperti Allah kehidupan. TUHAN adalah sumber hidup; hanya TUHAN yang hidup, Selama TUHAN hidup, sumpah ini menunjukkan bahwa kekeringan akan terjadi. Mitologi Ba’al menyatakan bahwa selama Baal hidup, ia dapat mendatangkan hujan dan mencegah kekeringan. Namun, kenyataannya adalah TUHAN-lah yang benar-benar hidup. Ba’al tidak menunjukkan tanda-tanda kehidupan di hadirat hadapan TUHAN. Fakta bahwa tanah tetap kering membuktikan bahwa Ba’al adalah mati dan tidak memiliki tempat berdiri di hadapan TUHAN. Unsur kedua adalah yang kulayani dapat memiliki arti di hadapan-Nya aku berdiri (lihat KJV, ESV, ISV). Berdiri di hadapan-Nya berarti melayani TUHAN, karena tindakan berdiri menunjukkan bahwa Elia berada dalam keadaan siap sedia, seorang hamba TUHAN. Ungkapan berdiri di hadapan-Nya ini muncul kembali dalam 19:11, menggambarkan perintah Tuhan kepada Elia di Horeb untuk keluar dan berdiri di hadapan TUHAN. Ini menunjukkan bahwa Allah memerintahkan Elia untuk kembali ke pelayanannya yang semula, yaitu berdiri melayani di hadapan TUHAN.
Ayat 2 menyatakan, datanglah firman TUHAN kepadanya. Pernyataan sederhana ini dengan jelas mendefinisikan identitas Elia: ia adalah seorang nabi TUHAN yang tak diragukan lagi, yang seluruh hidupnya didedikasikan untuk melayani Sang Pemberi Hidup yang sejati. Berdasarkan premis ini, seluruh hidup Elia adalah pergumulan melawan Ba’al, melawan anggapan bahwa Ba’al memiliki hidup. Sepanjang hidupnya, Elia hanya melayani satu-satunya Sumber hidup yang sejati — TUHAN.

Refleksi:
TUHAN adalah Tuhan atas kehidupan. Semua kehidupan diberikan oleh-Nya. Ba’al tidak memiliki dasar keberadaan di hadapan-Nya. Ketika Ba’al mencoba mengambil peran sebagai Tuhan atas kehidupan, Allah yang dilayani Elia akan menyingkapkan bahwa hanya TUHAN sajalah yang adalah Allah sejati. Apa pengingat dan makna yang terkandung dalam hal ini bagi Anda? Bagaimana Anda memandang kehidupan yang Anda miliki?


Renungan pemahaman Kitab 1 Raja-raja 13-18

Renungan pemahaman Kitab 1 Raja-raja

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema 1 Raja-raja 13-18 ditulis oleh Rev. Dr. Lawrence Ko (高銘謙) yang dipublikasi pada bulan Agustus 2025 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


1 Raja-raja 16:31-34

「Mengambil Izebel menjadi istrinya」

Oleh Rev. Dr. Lawrence Ko (高銘謙)
Alliance Bible Seminary H.K.

(1 Raja-raja 16:31-34 [TB2])
31 Belum cukup baginya hidup dalam dosa-dosa Yerobeam bin Nebat, ia mengambil pula Izebel, anak Etba’al, raja orang Sidon, menjadi istrinya, sehingga ia pergi beribadah kepada Ba’al dan sujud menyembahnya. 32 Ia mendirikan mezbah untuk Ba’al itu di kuil Ba’al yang dibangunnya di Samaria. 33 Sesudah itu Ahab membuat patung Asyera dan bertindak lebih dari itu sehingga ia membangkitkan murka TUHAN, Allah Israel, lebih dari semua raja Israel yang mendahuluinya. 34 Pada zamannya itu Hiel, orang Betel, membangun kembali Yerikho. Ia meletakkan dasar kota itu dengan mengorbankan nyawa Abiram, anaknya yang sulung. Ia memasang pintu gerbangnya dengan mengorbankan nyawa Segub, anaknya yang bungsu, sesuai dengan firman TUHAN yang diucapkan-Nya dengan perantaraan Yosua bin Nun.

Ayat 31 menyebutkan bahwa Ahab mengambil pula Izebel, anak Etba’al, raja orang Sidon, menjadi istrinya. Bagaimana seharusnya kita memahami hubungan antara Izebel dan ayahnya, Etba’al?

Pertama, nama Izebel kemungkinan diartikan sebagai Di mana pangeran itu? (’îzĕbūl). Namun, kata Ibrani îzebel diubah menyerupai kotoran (zebel, dung), dengan cara tersebut secara ironis merujuk wanita tersebut sebagai kotoran manusia, yang pada akhirnya akan mati seperti itu (2 Raj. 9:37 mayat Izebel akan terhampar di kebun di luar Yizreel seperti pupuk di ladang). Lebih lanjut, nama Izebel dapat berarti Zebul ada (Zebul exists), Zebul adalah menunjuk kepada Baal, sehingga nama Izebel menandakan perpanjangan dari Baal. Singkatnya, nama itu berbicara tentang semua kejahatan. Izebel adalah putri Etba’al, raja Sidon, mengapa Ahab menikahinya? Ini kemungkinan karena ide Omri, ayahnya, yang berharap untuk menjalin aliansi antara kedua bangsa melalui pernikahan politik dengan raja Sidon, mengulangi praktik raja Salomo menikahi putri-putri Mesir (1 Raja-raja 3:1) dan pernikahannya dengan banyak wanita asing, memperkenalkan penyembahan dewa-dewa asing (1 Raja-raja 11). Ayah Izebel adalah raja Sidon, namanya Etba’al, yang berarti Baal itu ada, jelas sebuah nama yang mengandung unsur dewa Ba’al. Dengan demikian, agar Omri bersekutu dengan Etba’al, maka Ahab menikahi putri Etba’al, Izebel.

Ayat 31-32 ia pergi beribadah kepada Ba’al dan sujud menyembahnya. Ia mendirikan mezbah untuk Ba’al itu di kuil Ba’al yang dibangunnya di Samaria, menjelaskan bahwa pernikahan Ahab dengan Izebel secara resmi memperkenalkan penyembahan Ba’al, ayat 32 lebih lanjut menunjukkan bahwa ia mendirikan sebuah kuil Ba’al di Samaria. Seperti disebutkan di atas, Omri menetapkan Samaria sebagai ibukota dinasti tersebut, sama seperti Daud menetapkan Yerusalem sebagai ibukota. Namun, di sini kita melihat kesamaan tambahan: setelah Daud menetapkan Yerusalem sebagai ibu kota, putranya, Salomo, membangun sebuah Bait Suci dalam nama TUHAN. Demikian pula, setelah Omri menetapkan Samaria sebagai ibukota, putranya, Ahab, membangun sebuah kuil Ba’al. Keduanya memiliki pola yang sama, tetapi hasilnya sama sekali berbeda: Yerusalem memiliki Bait Suci TUHAN, sementara Samaria memiliki kuil Ba’al, dua pendekatan yang sama sekali berbeda. Di sini, kita melihat Ahab sepenuhnya memperkenalkan penyembahan Ba’al, menjadi sangat berasimilasi ke dalam dunia dewa-dewa Kanaan. Dia mungkin juga mempraktikkan penyembahan campuran TUHAN dan Asyera. Ayat 33 menunjukkan bahwa hal ini memicu murka TUHAN, lebih dari semua raja Israel yang mendahuluinya.

Refleksi:
Demi menjaga stabilitas diplomatik dan saling menguntungkan, Ahab menikahi Izebel, tetapi pernikahan ini secara resmi memperkenalkan penyembahan Ba’al, yang melanggar inti kepercayaan kepada TUHAN sebagai satu-satunya Allah. Kebijakan luar negeri Ahab memengaruhi kebijakan keagamaannya, yang mendatangkan murka TUHAN atas dirinya. Apa pelajaran yang dapat Anda dan saya petik dari hal ini?


Renungan pemahaman Kitab 1 Raja-raja 13-18

Renungan pemahaman Kitab 1 Raja-raja

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema 1 Raja-raja 13-18 ditulis oleh Rev. Dr. Lawrence Ko (高銘謙) yang dipublikasi pada bulan Agustus 2025 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.