Tag Archives: Mengikut Yesus

Yohanes 1:38B

「Rabi, di manakah Engkau tinggal?」
Oleh Dr. John Chan Wai-on
Alliance Bible Seminary H.K.

(Yohanes 1:38B [ITB])
38A Tetapi Yesus menoleh ke belakang. Ia melihat, bahwa mereka mengikut Dia lalu berkata kepada mereka: Apakah yang kamu cari?
38B Kata mereka kepada-Nya: Rabi, di manakah Engkau tinggal? (Rabi artinya: Guru)

「Rabi, di manakah Engkau tinggal?」

Yesus mengajukan pertanyaan aneh kepada murid-murid-Nya, dan murid-murid itu menjawab lebih aneh lagi: Rabi, di manakah Engkau tinggal?

Para murid menyebut Yesus Rabi, yang artinya guru. Tentu saja, gelar ini tidak mengacu pada penyampaian ilmu pengetahuan murni seperti dalam sistem pendidikan modern. Rabi memiliki arti my great one, yaitu gelar kehormatan yang luhur, juga membawa unsur relasi secara pribadi.

Kita menemukan bahwa para murid tidak menjawab pertanyaan Yesus kepada mereka: Apakah yang kamu cari? (Apa yang kamu inginkan?). Mereka tidak langsung menjawab apa yang mereka inginkan, tetapi malah mengajukan pertanyaan yang tampaknya tidak relevan: di manakah Engkau tinggal?. Sepertinya merupakan dua pertanyaan yang tidak berhubungan.

Namun, seperti yang ditulis renungan kemarin, mengikut Yesus bukanlah sarana, tetapi tujuan. Kedua pengikut ini hanya demi mengikuti Yesus. Oleh karena itu, mereka sudah mengikuti, dan mereka tidak memiliki tujuan berikutnya (motif lain). Mengikuti Yesus, berjalan bersama dengan Yesus, dan hidup bersama Yesus adalah persis seperti yang mereka pikirkan dan inginkan. Oleh karena itu, jika kita memikirkannya dari perspektif ini, di manakah Engkau tinggal? menjadi pertanyaan yang dapat dimengerti — para murid ingin berjalan lebih dekat dengan Yesus — tidak hanya untuk mengikutinya pada siang hari, tetapi juga untuk tinggal bersamanya pada malam hari.

Ini adalah mengikuti yang mendalam. Tidak hanya belajar kata-kata dan perbuatan, tetapi juga kedekatan relasi.

Faktanya, Injil Yohanes mengulangi berkali-kali tinggal (μένω meno), 40 kali! Kata ini berarti tinggal, berhenti, dan menetap (untuk hidup):
Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia tinggal (abides, dwell) di dalam Aku dan Aku di dalam dia (6:56)
Tinggallah (abide) di dalam Aku dan Aku di dalam kamu … (15:4)

Oleh karena itu, mengikuti dan hidup bersama tidak bisa dipisahkan. Mengikuti adalah perjalanan kita bersama Yesus di dunia. Hidup bersama adalah hubungan intim kita dengan Yesus. Orang yang mengikuti Yesus juga haruslah orang yang ingin lebih dekat dengan Yesus di dalam hati mereka; seorang praktisi spiritual yang rindu dalam roh hidup bersama Yesus pasti mengikuti Yesus dalam perkataan dan perbuatan-Nya di dunia.

Renungkan:
Bagi Anda, apakah Anda cenderung menjadi pengikut ataukah hidup bersama? Apakah Anda menghargai tindakan di dunia, atau apakah Anda menghargai keintiman batin? Sebenarnya, keduanya sama pentingnya. Jika Anda memiliki kekurangan dalam salah satu aspek tersebut, mintalah Tuhan untuk memeriksa dan membantu.


Renungan pemahaman Injil Yohanes
Renungan pemahaman Injil Yohanes 1:19-51

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Injil Yohanes 1:19-51 ditulis oleh Chén Wéi Ān (陳韋安) yang dipublikasi pada bulan September 2020 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Iklan yang ada bukan milik blog ini, tetapi milik WordPress penyedia fasilitas blog tanpa biaya.

Yohanes 1:38A

「Apakah yang kamu cari?」
Oleh Dr. John Chan Wai-on
Alliance Bible Seminary H.K.

(Yohanes 1:38A [ITB])
38A Tetapi Yesus menoleh ke belakang. Ia melihat, bahwa mereka mengikut Dia lalu berkata kepada mereka: Apakah yang kamu cari?

Murid Yohanes mengikuti Yesus, mereka sudah mengikuti. Maksud saya adalah: Yesus berjalan di depan, mereka mengikuti di belakang, dan mengikuti dengan diam. Apa yang akan mereka lakukan? Apa rencananya? Apa yang ingin mereka ikuti? Tidak. Mereka hanya mengikuti tanpa suara. Tidak berbicara, terus mengikuti.

Yesus akhirnya berbicara. Yesus berbalik, melihat bahwa mereka mengikuti, dan bertanya kepada mereka, Apakah yang kamu cari? Ini adalah kalimat pertama Yesus yang tercatat dalam Injil Yohanes. Tentu saja, sebagai jalan Allah, Dia adalah Sang Firman Allah.

Tentu saja, Yesus tahu mereka mengikuti, selalu tahu. Bahkan, Dia sudah mempersiapkannya sejak dini. Hari ini — tepat hari ini, Dia akan memilih murid-murid-Nya. Yesus berjalan di depan mereka berdua — ini bukan kebetulan. Tidak ada orang yang mengikuti Yesus yang kebetulan. Mereka pertama kali dikenal Yesus, diketahui, dicintai, dipilih, dan dipimpin oleh Yesus. Bukan karena mereka memilih untuk mengikuti Yesus terlebih dahulu, tetapi Yesus memilih mereka terlebih dahulu.

Namun, Yesus mengajukan pertanyaan aneh kepada mereka: Apakah yang kamu cari? Apa yang kamu inginkan?

Tentu saja, pertanyaan ini bukanlah pertanyaan yang biasa Saya tidak tahu jadi saya harus bertanya. Karena Yesus memilih mereka dan mengenal mereka, Yesus tahu segalanya tentang mereka. Oleh karena itu, Apakah yang kamu cari? Apa yang kamu inginkan? Pertanyaan ini bukan untuk Yesus, tetapi untuk para murid — Anda mengikuti Saya, apakah Anda tahu apa yang Anda inginkan? Apa motifnya? Apa tujuan dan harapanmu?

Apa yang kamu cari? Pertanyaan ini menggugah pikiran. Itu adalah tantangan dan refleksi untuk direnungkan bagi setiap pengikut.

Renungkan:
Saudara dan saudari, motivasi apa yang Anda miliki untuk mengikuti Yesus? Apa harapan dan tujuan Anda? Apakah motivasi, harapan, dan tujuan ini benar? Apakah mengikuti Yesus adalah alat sarana (means) bagi Anda atau tujuan akhir (end)?


Renungan pemahaman Injil Yohanes
Renungan pemahaman Injil Yohanes 1:19-51

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Injil Yohanes 1:19-51 ditulis oleh Chén Wéi Ān (陳韋安) yang dipublikasi pada bulan September 2020 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Iklan yang ada bukan milik blog ini, tetapi milik WordPress penyedia fasilitas blog tanpa biaya.

7 April 2019 ● Minggu Kelima Pra Paskah

Agar Saya Dapat Mengenal-Nya, dan Dapat Merasakan Penderitaan-Nya

Filipi 3:4b-14
4b Jika ada orang lain menyangka dapat menaruh percaya pada hal-hal lahiriah, aku lebih lagi: 5disunat pada hari kedelapan, dari bangsa Israel, dari suku Benyamin, orang Ibrani asli, tentang pendirian terhadap hukum Taurat aku orang Farisi, 6tentang kegiatan aku penganiaya jemaat, tentang kebenaran dalam mentaati hukum Taurat aku tidak bercacat. 7Tetapi apa yang dahulu merupakan keuntungan bagiku, sekarang kuanggap rugi karena Kristus. 8Malahan segala sesuatu kuanggap rugi, karena pengenalan akan Kristus Yesus, Tuhanku, lebih mulia dari pada semuanya. Oleh karena Dialah aku telah melepaskan semuanya itu dan menganggapnya sampah, supaya aku memperoleh Kristus, 9dan berada dalam Dia bukan dengan kebenaranku sendiri karena mentaati hukum Taurat, melainkan dengan kebenaran karena kepercayaan kepada Kristus, yaitu kebenaran yang Allah anugerahkan berdasarkan kepercayaan. 10Yang kukehendaki ialah mengenal Dia dan kuasa kebangkitan-Nya dan persekutuan dalam penderitaan-Nya, di mana aku menjadi serupa dengan Dia dalam kematian-Nya, 11supaya aku akhirnya beroleh kebangkitan dari antara orang mati.
12Bukan seolah-olah aku telah memperoleh hal ini atau telah sempurna, melainkan aku mengejarnya, kalau-kalau aku dapat juga menangkapnya, karena aku pun telah ditangkap oleh Kristus Yesus. 13Saudara-saudara, aku sendiri tidak menganggap, bahwa aku telah menangkapnya, tetapi ini yang kulakukan: aku melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku, 14dan berlari-lari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah, yaitu panggilan sorgawi dari Allah dalam Kristus Yesus.

Renungan

Saya tidak suka dengan penderitaan. Jika diberi pilihan, saya lebih memilih untuk tidak menderita. Faktanya, saya mengikuti Yesus karena, dibandingkan semua hal, saya percaya bahwa mengikuti Yesus akan membuat hidupku semakin baik. Pernyataan terakhir ini memang benar, dimana Yesus yang merupakan sumber kehidupan dan hubungan dengan Tuhan adalah kehidupan yang sebenarnya (Yoh 17:3). Apa yang tidak dijelaskan kepada saya sebagai seorang Kristen baru saat itu, adalah bahwa mengikuti Yesus akan juga menghadapi penderitaan. Paulus tahu bahwa tujuan akhirnya bukanlah penderitaan. Tujuan akhirnya adalah untuk mengenal Yesus (dan dalam pengenalan itu, mengalami kehidupan yang sebenarnya). Itulah “hadiah” yang ia terima. Saya percaya bahwa banyak dari kita juga memiliki keinginan yang sama. Kita mau “mengenal” Kristus kita. Akan tetapi, Paulus berkata: ”… Yang kukehendaki ialah mengenal Dia dan kuasa kebangkitan-Nya dan persekutuan dalam penderitaan-Nya, di mana aku menjadi serupa dengan Dia dalam kematian-Nya, supaya aku akhirnya beroleh kebangkitan dari antara orang mati.” (Filipi 3: 10-11)

Sebagian besar dari kita tidak pernah bermasalah dengan ingin mengetahui “kuasa kebangkitan-Nya”. Tetapi bagaimana dengan “merasakan penderitaan-Nya, menjadi seperti Ia saat Ia menghadapi kematian-Nya?” Paulus tidak meminta kita untuk pergi dan mencari masalah. Yang ingin ia sampaikan adalah jika kita memang mau mengenal Tuhan kita, kita akan juga mengalami penderitaan. Ajaran Kristen yang kita tawarkan kepada dunia seringkali hanya manis diluarnya. Kehidupan kristiani yang tidak mengalami permasalahan dan penderitaan adalah sebuah ilusi dan melecehkan Injil. Untuk sorga dan bumi yang baru, penderitaan merupakan satu hal yang wajib. Dalam ajaran kita, kita seharusnya menghadapi penderitaan tersebut, bukannya kabur. Semoga kita dapat melakukan hal tersebut, dan dalam proses itu, mengenal Yesus lebih dalam lagi.

Doa
Bapa kami yang bertahta dalam kerajaan sorga, terima kasih karena Engkau tidak menyayangkan Anak-Mu untuk menderita bagiku. Tolonglah berikan kepada anakmu ini, karunia daripada Engkau, agar kudapat mengenal Yesus lebih dalam lagi. Dalam nama Yesus, Amin.

Tindakan
Apakah “penderitaan” yang ku hindari secara sadar? Bagaimanakah caranya agar saya berhenti melarikan diri daripada hal tersebut dan percaya kepada Tuhan untuk menyembuhkanku dan membuatku mengenal Tuhan Allahku?

Oleh
Rev Dr Chua Chung Kai
Chairman
Evangelical Free Church of Singapore