「Keselarasan antara kesedihan dan sikap mempertanyakan」
Oleh Dr. Lawrence Ko
Alliance Bible Seminary H.K.
(Ratapan 1:13-17 [ITB])
13 Dari atas dikirim-Nya api masuk ke dalam tulang-tulangku; dihamparkan-Nya jaring di muka kakiku, didesak-Nya aku mundur; aku dibuat-Nya terkejut, kesakitan sepanjang hari.
14 Segala pelanggaranku adalah kuk yang berat, suatu jalinan yang dibuat tangan Tuhan, yang ditaruh di atas tengkukku, sehingga melumpuhkan kekuatanku; Tuhan telah menyerahkan aku ke tangan orang-orang, yang tidak dapat kutentangi. 15 Tuhan membuang semua pahlawanku yang ada dalam lingkunganku; Ia menyelenggarakan pesta menentang aku untuk membinasakan teruna-terunaku; Tuhan telah menginjak-injak puteri Yehuda, dara itu, seperti orang mengirik memeras anggur.
16 Karena inilah aku menangis, mataku mencucurkan air; karena jauh dari padaku penghibur yang dapat menyegarkan jiwaku; bingunglah anak-anakku, karena terlampau kuat si seteru.”
17 Sion mengulurkan tangannya, tetapi tak ada orang yang menghiburnya; terhadap Yakub dikerahkan TUHAN tetangga-tetangganya sebagai lawan. Yerusalem telah menjadi najis di tengah-tengah mereka.
Kemarin dua hari kita telah melihat bahwa penyair kitab Ratapan Yeremia mewarisi teologi Perjanjian dari kitab Ulangan, percaya bahwa kutukan penawanan ke pengasingan disebabkan oleh pelanggaran terhadap hukum TUHAN, dan juga percaya jika orang-orang dalam situasi pengasingan ini bertobat mengaku dosa maka Allah akan mengembalikan mereka ke Yerusalem dari penawanan mereka, mengubah kutukan menjadi berkat. Akan tetapi, meskipun penyair Ratapan memiliki iman yang pasti akan perjanjian ini, tidak berarti bahwa dia diam tidak bersuara kepada Allah atas hal ini, ia tidak menyangkal beratnya penderitaan dan kesulitan yang dihadapinya, sebaliknya mengungkapkannya dalam ratapan. Meskipun penyair Ratapan percaya bahwa penderitaan bangsa Israel diakibatkan oleh kejahatan mereka, namun ia tidak menekan kesedihan di dalam hatinya, ia bahkan mempertanyakan terhadap Allah. Di satu sisi, penyair Ratapan menyatakan bahwa TUHAN (Yahweh) adalah adil benar dan menunjukkan adalah masuk akal bahwa Allah menggunakan penawanan untuk menghukum umat-Nya (Ratapan 1:18), di sisi lain, itu juga menggambarkan kerasnya hukuman Allah (Ratapan 1:13-17), menanyakan mengapa Allah memperlakukan Sion dengan bencana yang begitu serius dan kejam bagi manusia. Oleh karena itu, penyair Ratapan di satu sisi mengakui iman atas perjanjian, dan pada saat yang sama di sisi lain ia mengeluarkan pertanyaan dan keluhan kepada Allah. Oleh karena itu, kita melihat bahwa keutuhan kedua aspek itu saat diletakkan bersama, ia tidak berusaha menyelaraskan satu sama lain, dan tidak membuat keduanya saling menjelaskan, ia menyajikan kedua aspek jati diri apa adanya dalam ratapan, bahkan memperkuat ketegangan di antara kedua aspek agar pembaca dapat melihat pergumulan orang-orang yang tawanan, dan menunjukkan bahwa kerangka teologis yang ada tidak dapat sepenuhnya menjelaskan semuanya, dan walau penuh dengan pertanyaan ia mengalami Allah yang sejati, dan seperti Ayub pengalaman ini menguji iman penyair Ratapan.
Keutuhan pertanyaan penyair Ratapan yang memilukan muncul di banyak tempat dalam kitab Ratapan Yeremia, ia pernah secara terus terang menunjukkan bahwa TUHAN (Yahweh) adalah Allah yang kejam, dan penderitaan yang diberikan-Nya tidak memiliki kemanusiaan, dan membawakan bencana yang belum pernah terjadi sebelumnya kepada umat Sion dan diri penyair Ratapan sendiri (Rat. 1:13-17; 3:1-18). Ia juga menunjukkan bahwa ketika Sion menderita, TUHAN tidak 「melihat」 Sion (Rat. 1:9, 11). Ia juga berkali-kali menunjukkan bahwa banyak ketidakadilan dan hal-hal yang merusak dalam saat pengasingan dan penghancuran Sion, termasuk ibu yang memakan anak sendiri, dll. (Rat. 2:20). Penyair Ratapan mempertanyakan mengapa Allah membiarkan hal-hal tersebut terjadi. Di manakah Allah yang menjaga Sion di masa lalu?
Ketika menghadapi penderitaan, Penyair Ratapan memilih untuk mempertanyakan kepada Allah, artinya dia masih memiliki pengharapan kepada Allah, orang yang benar-benar putus asa tidak akan melantunkan ratapan karena dia tidak percaya bahwa Allah akan mendengarkan dan menanggapi. Orang yang melantunkan ratapan bukan berarti telah kehilangan iman kepada Allah, sebaliknya ia penuh dengan iman kepada Allah maka dalam situasi yang tidak masuk akal ia mengungkapkan kesedihannya kepada Allah yang tidak bisa dimasukkan ke dalam akal, ia tidak peduli seberapa terus terang isinya, tetapi ia tidak akan karena penderitaan melepaskan imannya.
Renungkan:
Sangat mudah bagi kita untuk mengungkapkan rasa syukur kepada Allah di hari-hari cerah, tetapi sangat sulit bagi kita untuk bertahan dalam iman kita saat dalam penderitaan dan penyakit. Ketika dalam penderitaan kita mempertanyakan kasih dan kesetiaan Allah, kita bukan kehilangan iman, sebaliknya, dalam mempertanyakan, kita menunjukkan masih percaya kepada Allah ini, yaitu Dia terkadang tidak masuk di dalam akal kita, dan terkadang sulit bagi kita untuk memahami tindakan-Nya dengan pemikiran kita yang biasanya. Namun, munculnya penderitaan menyebabkan kita meninggalkan kerangka iman yang ada. Apakah Anda dengan terus terang mengajukan pertanyaan kepada Dia, meskipun pertanyaan-pertanyaan ini tajam, tetapi Anda tidak memilih untuk meninggalkan Dia, justru dalam realitas penderitaan ini, Anda masih dapat mengeluh dan mempertanyakannya kepada Allah seperti penyair Ratapan, dengan apa adanya diri Anda menyatakan sisi sesungguhnya dari iman Anda?
Renungan pemahaman Kitab Ratapan
Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain
Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Ratapan ditulis oleh Dr. Lawrence Ko (Gāo Míng Qiān 高銘謙) yang dipublikasi pada bulan Oktober 2020 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).
Renungan untuk Kalangan Kristen.
Iklan yang ada bukan milik blog ini, tetapi milik WordPress penyedia fasilitas blog tanpa biaya.