Tag Archives: Mengeluh

Ratapan 1:13-17

「Keselarasan antara kesedihan dan sikap mempertanyakan」
Oleh Dr. Lawrence Ko
Alliance Bible Seminary H.K.

(Ratapan 1:13-17 [ITB])
13 Dari atas dikirim-Nya api masuk ke dalam tulang-tulangku; dihamparkan-Nya jaring di muka kakiku, didesak-Nya aku mundur; aku dibuat-Nya terkejut, kesakitan sepanjang hari.
14 Segala pelanggaranku adalah kuk yang berat, suatu jalinan yang dibuat tangan Tuhan, yang ditaruh di atas tengkukku, sehingga melumpuhkan kekuatanku; Tuhan telah menyerahkan aku ke tangan orang-orang, yang tidak dapat kutentangi. 15 Tuhan membuang semua pahlawanku yang ada dalam lingkunganku; Ia menyelenggarakan pesta menentang aku untuk membinasakan teruna-terunaku; Tuhan telah menginjak-injak puteri Yehuda, dara itu, seperti orang mengirik memeras anggur.
16 Karena inilah aku menangis, mataku mencucurkan air; karena jauh dari padaku penghibur yang dapat menyegarkan jiwaku; bingunglah anak-anakku, karena terlampau kuat si seteru.”
17 Sion mengulurkan tangannya, tetapi tak ada orang yang menghiburnya; terhadap Yakub dikerahkan TUHAN tetangga-tetangganya sebagai lawan. Yerusalem telah menjadi najis di tengah-tengah mereka.

Kemarin dua hari kita telah melihat bahwa penyair kitab Ratapan Yeremia mewarisi teologi Perjanjian dari kitab Ulangan, percaya bahwa kutukan penawanan ke pengasingan disebabkan oleh pelanggaran terhadap hukum TUHAN, dan juga percaya jika orang-orang dalam situasi pengasingan ini bertobat mengaku dosa maka Allah akan mengembalikan mereka ke Yerusalem dari penawanan mereka, mengubah kutukan menjadi berkat. Akan tetapi, meskipun penyair Ratapan memiliki iman yang pasti akan perjanjian ini, tidak berarti bahwa dia diam tidak bersuara kepada Allah atas hal ini, ia tidak menyangkal beratnya penderitaan dan kesulitan yang dihadapinya, sebaliknya mengungkapkannya dalam ratapan. Meskipun penyair Ratapan percaya bahwa penderitaan bangsa Israel diakibatkan oleh kejahatan mereka, namun ia tidak menekan kesedihan di dalam hatinya, ia bahkan mempertanyakan terhadap Allah. Di satu sisi, penyair Ratapan menyatakan bahwa TUHAN (Yahweh) adalah adil benar dan menunjukkan adalah masuk akal bahwa Allah menggunakan penawanan untuk menghukum umat-Nya (Ratapan 1:18), di sisi lain, itu juga menggambarkan kerasnya hukuman Allah (Ratapan 1:13-17), menanyakan mengapa Allah memperlakukan Sion dengan bencana yang begitu serius dan kejam bagi manusia. Oleh karena itu, penyair Ratapan di satu sisi mengakui iman atas perjanjian, dan pada saat yang sama di sisi lain ia mengeluarkan pertanyaan dan keluhan kepada Allah. Oleh karena itu, kita melihat bahwa keutuhan kedua aspek itu saat diletakkan bersama, ia tidak berusaha menyelaraskan satu sama lain, dan tidak membuat keduanya saling menjelaskan, ia menyajikan kedua aspek jati diri apa adanya dalam ratapan, bahkan memperkuat ketegangan di antara kedua aspek agar pembaca dapat melihat pergumulan orang-orang yang tawanan, dan menunjukkan bahwa kerangka teologis yang ada tidak dapat sepenuhnya menjelaskan semuanya, dan walau penuh dengan pertanyaan ia mengalami Allah yang sejati, dan seperti Ayub pengalaman ini menguji iman penyair Ratapan.

Keutuhan pertanyaan penyair Ratapan yang memilukan muncul di banyak tempat dalam kitab Ratapan Yeremia, ia pernah secara terus terang menunjukkan bahwa TUHAN (Yahweh) adalah Allah yang kejam, dan penderitaan yang diberikan-Nya tidak memiliki kemanusiaan, dan membawakan bencana yang belum pernah terjadi sebelumnya kepada umat Sion dan diri penyair Ratapan sendiri (Rat. 1:13-17; 3:1-18). Ia juga menunjukkan bahwa ketika Sion menderita, TUHAN tidak melihat Sion (Rat. 1:9, 11). Ia juga berkali-kali menunjukkan bahwa banyak ketidakadilan dan hal-hal yang merusak dalam saat pengasingan dan penghancuran Sion, termasuk ibu yang memakan anak sendiri, dll. (Rat. 2:20). Penyair Ratapan mempertanyakan mengapa Allah membiarkan hal-hal tersebut terjadi. Di manakah Allah yang menjaga Sion di masa lalu?

Ketika menghadapi penderitaan, Penyair Ratapan memilih untuk mempertanyakan kepada Allah, artinya dia masih memiliki pengharapan kepada Allah, orang yang benar-benar putus asa tidak akan melantunkan ratapan karena dia tidak percaya bahwa Allah akan mendengarkan dan menanggapi. Orang yang melantunkan ratapan bukan berarti telah kehilangan iman kepada Allah, sebaliknya ia penuh dengan iman kepada Allah maka dalam situasi yang tidak masuk akal ia mengungkapkan kesedihannya kepada Allah yang tidak bisa dimasukkan ke dalam akal, ia tidak peduli seberapa terus terang isinya, tetapi ia tidak akan karena penderitaan melepaskan imannya.

Renungkan:
Sangat mudah bagi kita untuk mengungkapkan rasa syukur kepada Allah di hari-hari cerah, tetapi sangat sulit bagi kita untuk bertahan dalam iman kita saat dalam penderitaan dan penyakit. Ketika dalam penderitaan kita mempertanyakan kasih dan kesetiaan Allah, kita bukan kehilangan iman, sebaliknya, dalam mempertanyakan, kita menunjukkan masih percaya kepada Allah ini, yaitu Dia terkadang tidak masuk di dalam akal kita, dan terkadang sulit bagi kita untuk memahami tindakan-Nya dengan pemikiran kita yang biasanya. Namun, munculnya penderitaan menyebabkan kita meninggalkan kerangka iman yang ada. Apakah Anda dengan terus terang mengajukan pertanyaan kepada Dia, meskipun pertanyaan-pertanyaan ini tajam, tetapi Anda tidak memilih untuk meninggalkan Dia, justru dalam realitas penderitaan ini, Anda masih dapat mengeluh dan mempertanyakannya kepada Allah seperti penyair Ratapan, dengan apa adanya diri Anda menyatakan sisi sesungguhnya dari iman Anda?


Renungan pemahaman Kitab Ratapan

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Ratapan ditulis oleh Dr. Lawrence Ko (Gāo Míng Qiān 高銘謙) yang dipublikasi pada bulan Oktober 2020 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Iklan yang ada bukan milik blog ini, tetapi milik WordPress penyedia fasilitas blog tanpa biaya.

Bilangan 14:5-10

「Populisme dan Demokrasi」
Oleh 賴建國 (Lài Jiàn Guó)

Alliance Bible Seminary H.K.

(Bil. 14:5-10 [ITB])
5 Lalu sujudlah Musa dan Harun di depan mata seluruh jemaah Israel yang berkumpul di situ.
6 Tetapi Yosua bin Nun dan Kaleb bin Yefune, yang termasuk orang-orang yang telah mengintai negeri itu, mengoyakkan pakaiannya, 7 dan berkata kepada segenap umat Israel: Negeri yang kami lalui untuk diintai itu adalah luar biasa baiknya. 8 Jika TUHAN berkenan kepada kita, maka Ia akan membawa kita masuk ke negeri itu dan akan memberikannya kepada kita, suatu negeri yang berlimpah-limpah susu dan madunya. 9 Hanya, janganlah memberontak kepada TUHAN, dan janganlah takut kepada bangsa negeri itu, sebab mereka akan kita telan habis. Yang melindungi mereka sudah meninggalkan mereka, sedang TUHAN menyertai kita; janganlah takut kepada mereka.
10 Lalu segenap umat itu mengancam hendak melontari kedua orang itu dengan batu. Tetapi tampaklah kemuliaan TUHAN di Kemah Pertemuan kepada semua orang Israel.

(Populisme arti kata populisme di KBBI adalah: paham yang mengakui dan menjunjung tinggi hak, kearifan, dan keutamaan rakyat kecil)

Mata-mata yang dikirim oleh orang-orang Israel untuk mengintai tanah Kanaan semuanya merupakan kepala-kepala di antara orang Israel, dan laporan mereka memiliki dampak besar pada umat itu. Karena itu, tanggapan umat itu secara total berat sebelah, semuanya negatif.

Bilangan 14 pertama-tama menggunakan empat kata kerja untuk menggambarkan respons orang-orang: mengeluarkan suara nyaring, berteriak, menangis, dan bersungut-sungut. Pasal sebelas sudah mencatat orang Israel menangis lima kali, karena mereka meributkan menuntut daging. Bil. 14:1 mengatakan mereka meninggikan suara mereka untuk menjerit. Mereka bersungut-sungut (lûn) (mengomel dengan berbisik-bisik / murmur) terhadap Musa dan Harun (Bil. 14:2). Kata kerja ini muncul untuk pertama kalinya di ayat ini dalam Kitab Bilangan, tetapi telah digunakan berkali-kali dalam Keluaran (Kel. 15:24, 16:2, 7, 8), bisik-bisik mengomel ini menautkan paragraf ini dengan dari Kitab Keluaran (kata kerja lûn (bersungut-sungut) ini berbeda kata kerja Bil. 11:1 ‘anan (bersungut-sungut, mayoritas Inggris menerjemahkan sebagai complain mengeluh)). Ketakutan di dalam hati mereka terprovokasi, mereka dengan mudah mengunakan ancaman untuk mati, mengatakan, Ah, sekiranya kami mati di tanah Mesir, atau di padang gurun ini! (ayat 2), dan tidak hanya demikian bahkan seorang berkata kepada yang lainBaiklah kita mengangkat seorang pemimpin, lalu pulang ke Mesir (ayat 4).

Di pasal sebelumnya Kaleb telah mencoba menenteramkan hati bangsa itu  (Bil. 13:30), dan sekarang Yosua dan Kaleb bersama-sama berusaha meyakinkan bangsa itu dengan deskripsi rangkap tiga dari TUHAN tentang negeri itu (Kel. 3:8):

1) Gambaran secara Teologi: Tanah itu luar biasa baiknya, dan terjemahan harfiahnya adalah tanah yang sangat, sangat baik (ayat 7), sesuai dengan deskripsi asli dari TUHAN tentang tanah ini.

2) Geografi: Tanah ini memang merupakan negeri yang berlimpah-limpah susu dan madunya, sama dengan laporan mata-mata lainnya, tetapi terlebih menambahkan faktor Allah, mereka berdua percaya bahwa jika TUHAN berkenan kepada umat itu, Ia pasti akan menganugerahkan tanah itu kepada umat-Nya (ayat 8 jika TUHAN berkenan kepada kita, maka Ia akan membawa kita masuk ke negeri itu dan akan memberikannya kepada kita).

3) Ras: penduduk asli lokal di sana memang tinggi-tinggi perawakannya, tetapi mereka tidak memakan penduduknya  (13:32), sebaliknya mereka akan ditelan habis oleh umat itu. Mereka dua kali menganjurkan agar umat itu  jangan takut terhadap penduduk setempat, dan menekankan bahwa TUHAN menyertai kita inilah sebab mereka pasti menang (ayat 9). Tetapi orang-orang menolak untuk taat, dan sebaliknya mereka hendak melempari kedua orang itu dengan batu sampai mati.

Renungkan:

Populisme dan demokrasi terkadang sulit dibedakan, tetapi seperti populisme modern, seringkali memperalat nama demokrasi, sebenarnya adalah politisi yang dengan sengaja menggunakan bukti palsu dan ucapan berlebihan untuk manipulasi emosi massa, karena paling murah adalah menggunakan ketakutan massa. Namun, ketakutan yang salah sering menyebabkan respons yang tidak rasional dan menyebabkan tragedi yang tidak dapat diperbaiki.


Renungan pemahaman Kitab Bilangan (klik untuk membuka)

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain (klik untuk membuka)


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Bilangan 1-16 ditulis oleh 賴建國 (Lài Jiàn Guó) yang dipublikasi pada bulan Februari 2020 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Iklan yang ada bukan milik blog ini, tetapi milik WordPress penyedia fasilitas blog tanpa biaya.

Bilangan 13:25-29

「Pulang dan Melaporkan」
Oleh 賴建國 (Lài Jiàn Guó)

Alliance Bible Seminary H.K.

(Bil. 13:25-29 [ITB])
25 Sesudah lewat empat puluh hari pulanglah mereka dari pengintaian negeri itu, 26 dan langsung datang kepada Musa, Harun dan segenap umat Israel di Kadesh, di padang gurun Paran. Mereka membawa pulang kabar kepada keduanya dan kepada segenap umat itu dan memperlihatkan kepada sekaliannya hasil negeri itu. 27 Mereka menceritakan kepadanya: Kami sudah masuk ke negeri, ke mana kausuruh kami, dan memang negeri itu berlimpah-limpah susu dan madunya, dan inilah hasilnya. 28 Hanya, bangsa yang diam di negeri itu kuat-kuat dan kota-kotanya berkubu dan sangat besar, juga keturunan Enak telah kami lihat di sana. 29 Orang Amalek diam di Tanah Negeb, orang Het, orang Yebus dan orang Amori diam di pegunungan, orang Kanaan diam sepanjang laut dan sepanjang tepi sungai Yordan.

30 Kemudian Kaleb mencoba menenteramkan hati bangsa itu di hadapan Musa, katanya: Tidak! Kita akan maju dan menduduki negeri itu, sebab kita pasti akan mengalahkannya! 31 Tetapi orang-orang yang pergi ke sana bersama-sama dengan dia berkata: Kita tidak dapat maju menyerang bangsa itu, karena mereka lebih kuat dari pada kita. 32 Juga mereka menyampaikan kepada orang Israel kabar busuk tentang negeri yang diintai mereka, dengan berkata: Negeri yang telah kami lalui untuk diintai adalah suatu negeri yang memakan penduduknya, dan semua orang yang kami lihat di sana adalah orang-orang yang tinggi-tinggi perawakannya. 33 Juga kami lihat di sana orang-orang raksasa, orang Enak yang berasal dari orang-orang raksasa, dan kami lihat diri kami seperti belalang, dan demikian juga mereka terhadap kami.

14:1 Lalu segenap umat itu mengeluarkan suara nyaring dan bangsa itu menangis pada malam itu. 2 Bersungut-sungutlah semua orang Israel kepada Musa dan Harun; dan segenap umat itu berkata kepada mereka: Ah, sekiranya kami mati di tanah Mesir, atau di padang gurun ini! 3 Mengapakah TUHAN membawa kami ke negeri ini, supaya kami tewas oleh pedang, dan isteri serta anak-anak kami menjadi tawanan? Bukankah lebih baik kami pulang ke Mesir?4 Dan mereka berkata seorang kepada yang lain: Baiklah kita mengangkat seorang pemimpin, lalu pulang ke Mesir.

Kedua belas pengintai telah melakukan perjalanan selama empat puluh hari, pulang kepada Musa dan rakyat, sampai kembali di Kadesh, dan melaporkan apa yang mereka lihat dan dengar. Ini dapat dibagi menjadi beberapa poin berikut:

1) Dua jenis laporan. Bagian laporan yang sama yang diberikan oleh semua mata-mata: memang negeri itu berlimpah-limpah susu dan madunya, tepat seperti yang dijanjikan TUHAN kepada mereka (Bil. 13:27). Ketika TUHAN pertama kali menampakkan diri kepada Musa dan menghendaki dia memimpin orang Israel keluar dari Mesir, untuk pergi ke Tanah Perjanjian, ia diberi tahu bahwa itu adalah tanah yang penuh dengan susu dan madu (Kel. 3: 8). Jika Yerusalem digunakan sebagai perbatasan, hutan belantara Yehuda di selatan Yerusalem adalah tanah yang mengalir dengan susu yang hanya cocok untuk penggembalaan, dan di utara Yerusalem adalah tanah madu dengan hutan dan pertanian yang subur. Para mata-mata ini mengatakan bahwa mereka melihat yang dianugerahkan TUHAN kepada mereka adalah negeri berlimpah-limpah susu dan madunya, membuktikan bahwa mereka benar-benar memenuhi tugas mereka dan sungguh telah melakukan perjalanan ke seluruh Tanah Perjanjian.

Namun, kemudian mereka berkata, hanya, bangsa yang diam di negeri itu kuat-kuat dan kota-kotanya berkubu dan sangat besar (Bil. 13:28), lalu mereka menambahkan pemikiran diri sendiri, dan tidak lagi menyebut tanah itu tempat susu dan madu, sebaliknya, dikatakan sebagai negeri yang memakan penduduknya (Bil. 13:32).

2) Dua jenis saran: Pada saat ini hanya Kaleb yang melangkah maju mencoba menenteramkan hati bangsa itu di hadapan Musa dan berkata, Tidak! Kita akan maju dan menduduki negeri itu, sebab kita pasti akan mengalahkannya! (Bil. 13:30). Kata-kata Kaleb mendapat tanggapan dari rekannya yang setia, Yosua, yang sangat percaya bahwa tanah yang dijanjikan oleh Tuhan adalah negeri yang luar biasa baiknya dan mendorong umat itu dengan berkata, TUHAN menyertai kita; janganlah takut kepada mereka (Bil. 14:9).

Namun, mereka kalah suara dibandingkan sepuluh mata-mata yang berkata, Kita tidak dapat maju menyerang bangsa itu, karena mereka lebih kuat dari pada kita (Bil. 13:31). Umat itu bersungut-sungut dan menyalahkan Tuhan karena membawa mereka ke padang belantara ini. Mereka berpikir Baiklah kita mengangkat seorang pemimpin, lalu pulang ke Mesir (Bil. 14:4). Mereka sama sekali tidak mendengarkan saran Kaleb, bahkan hendak melempari Kaleb dan Yosua dengan batu.

Orang-orang Israel ini, di satu sisi, mereka tidak memiliki iman atas janji-janji Allah, di sisi lain, secara mengejutkan mereka bisa penuh iman pada kata-kata yang membawa laporan buruk.

Renungkan:

Ketaatan pada mayoritas harus menjadi norma demokrasi, tetapi kebenaran tidak selalu berada di pihak mayoritas. Peristiwa umat Israel mengirim mata-mata untuk memeriksa negeri tersebut, ini adalah minoritas melawan mayoritas. Pertama-tama, Kaleb dan Yosua, 2 lawan 10; kemudian ditambah Musa dan Harun, 4 lawan 600.000 orang. Tetapi hanya dengan memilih untuk berdiri di sisi kebenaran barulah ada kemenangan terakhir.


Renungan pemahaman Kitab Bilangan (klik untuk membuka)

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain (klik untuk membuka)


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Bilangan 1-16 ditulis oleh 賴建國 (Lài Jiàn Guó) yang dipublikasi pada bulan Februari 2020 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Iklan yang ada bukan milik blog ini, tetapi milik WordPress penyedia fasilitas blog tanpa biaya.

Bilangan 21:4-9

20 Maret 2018 – Hari Selasa Minggu kelima, Pra Paskah

Memandang kepada ular tembaga

(Bilangan 21:4-9)
4Setelah mereka berangkat dari gunung Hor, fberjalan ke arah Laut Teberau untuk mengelilingi tanah Edom, maka bangsa itu tidak dapat lagi menahan hati di tengah jalan.
5 Lalu mereka berkata-kata melawan Allah dan Musa: “Mengapa kamu memimpin kami keluar dari Mesir? Supaya kami mati di padang gurun ini? Sebab di sini tidak ada roti dan tidak ada air, dan akan makanan hambar ini kami telah muak.”

6 Lalu TUHAN menyuruh ular-ular tedung ke antara bangsa itu, yang memagut mereka, sehingga banyak dari orang Israel yang mati.
7Kemudian datanglah bangsa itu mendapatkan Musa dan berkata: “Kami telah berdosa, sebab kami berkata-kata melawan TUHAN dan engkau; berdoalah kepada TUHAN, supaya dijauhkan-Nya ular-ular ini dari pada kami.” Lalu Musa berdoa untuk bangsa itu.

8 Maka berfirmanlah TUHAN kepada Musa: “Buatlah ular tedung dan taruhlah itu pada sebuah tiang; maka setiap orang yang terpagut, jika ia melihatnya, akan tetap hidup.”
9 Lalu Musa membuat ular tembaga dan menaruhnya pada sebuah tiang; maka jika seseorang dipagut ular, dan ia memandang kepada ular tembaga itu, tetaplah ia hidup.

Renungan
Saya berjumpa dengan seorang pendatang baru di gereja kami. Sebagai seorang pendeta, saya penasaran untuk bertanya siapa yang mengundangnya dan mengapa dia datang. Dia berkata salah satu dari jemaat kami adalah rekan kerjanya. Dia datang karena dia sangat terkesan dengan rekan kerjanya yang tidak pernah menggerutu dan mengeluh di tempat kerja!

Menggerutu adalah penyakit yang umum di dunia kita yang jatuh dalam dosa. Hampir tidak mungkin menemukan dua orang bercakap-cakap tanpa mengeluh. Anak-anak selalu mengeluh pada orang tua mereka. Murid-murid menjelekkan guru mereka. Para karyawan mengerutu tentang bos mereka. Kita mengoceh mengenai makanan, teman-teman dan keluarga. Kalau kita tidak tahu apa yang kita keluhkan, selalu ada cuaca dan pemerintahan yang menjadi bahan ocehan kita.

Menggerutu adalah gejala penyakit rohani kronis – ketidakbersyukuran kita kepada Tuhan. Ini mengalir dari pemberontakan kita pada Tuhan. Berakar dari otonomi kita yang menyombongkan diri mengetahui lebih baik daripada Tuhan. Ini persis seperti dilema generasi Musa. Mereka sudah secara ajaib dan oleh belas kasihan diselamatkan oleh Yahweh. Namun, mereka berani mempertanyakan atau bertindak bodoh dengan memberitahukan bagaimana seharusnya Allah yang perkasa ini membawa sekelompok budak Ibrani ini masuk ke Tanah Perjanjian untuk menyembah-Nya!

Bilangan 12:5-6 adalah catatan terakhir dari bangsa Israel yang selalu menggerutu akan makanan mereka (cf. 11:44ff; Kel. 16) dan merindukan makanan di Mesir. Mereka bilang manna “tidak ada artinya“. Ini jelas sebuah penghinaan terhadap pemberian Tuhan yang sangat bermurah hati telah memberi roti surgawi (Mazmur 78:24-25). Kesombongan dan gerutuan yang tidak berterima kasih ini menyulut amarah Tuhan (Bil. 11:33).

Kali ini, kemarahan Tuhan datang dalam bentuk gigitan ular beracun. Sebagai penawar racun dari gigitan ular tersebut, Musa diperintahkan untuk membuat seekor ular! Seorang komentator Alkitab mengatakan bahwa ini sebuah simbol “pembalikan.“ Di dalam konteks ritual, sebuah tindakan atau substanti yang tercemar mungkin mempunyai efek yang terbalik dan menyediakan penyucian. Di sini, korban yang mengalami peradangan dan sekarat dipulihkan menjadi hidup melalui ular tedung yang mematikan itu.

Yang paling penting adalah perintah Tuhan meletakkan ular itu di atas tongkat (ayat 8-9) dan komentar yang diulang dua kali “Semua orang yang melihatnya akan hidup“.

Ditinggikannya Kristus dibandingkan dengan insiden di padang gurun ini. Siapa yang melihat Anak Allah akan hidup (Yoh 3:14-15). Pelajarannya jelas pada kedua kasus ini. Cara Tuhan menyelamatkan seringkali tak terduga oleh pikiran manusia. Ini untuk memastikan kita menghentikan kesombongan kita dan kebodohan akan sikap hidup “Aku lebih tahu“ yang melahirkan sebuah siklus tanpa akhir menggerutu sebagai cara untuk mengatasi kehidupan – mulai dari makanan yang kita makan sampai ke cara kita hidup dari waktu ke waktu.

Seperti halnya ular tembaga bagi generasi Musa, demikian juga sekarang penggenapan rencana penyelamatan Tuhan bagi semua generasi. Percaya pada seorang pria yang mati tak berdaya di kayu salib nampaknya sangat tak masuk akal, bijak atau meyakinkan. Tapi ini cara keselamatan yang dipastikan Tuhan yaitu “dengan percaya pada Anak Manusia” (Yoh 3:15).

Doa
O, Tuhan, selamatkan kami dari kehidupan menggerutu yang tanpa akhir. Tolong kami untuk dapat melihat betapa salahnya sikap yang tidak bersyukur dan tidak bersukacita akan kehidupan ini. Ini mengungkapkan kebodohan yang sombong dalam berpikir bahwa kami lebih tahu, padahal tidak. Anugerahkan kami untuk menerima dengan kerendahan hati cara-Mu yang tak terselami dalam menyelamatkan kami di dalam Kristus Yesus Tuhan kami. Beri kami kekuatan untuk melakukannya dengan kuasa Roh Kudus-Mu saja.

Tindakan
Bertobatlah dari menggerutu dan tetap percaya pada Tuhan sebagai pola hidup kita yang baru.

Rev. Christopher Chia
Senior Pastor
Adam Road Presbyterian Church

Copyright The Bible Society of Singapore

(Diterjemahkan oleh WMC)