Tag Archives: Kitab Yunus

Yunus 1:1-2

「Panggilan Yunus」

Oleh Rev. Dr. Cheung Mi-mee
Alliance Bible Seminary H.K.

(Yunus 1:1-2 [TB2])
1 Datanglah firman TUHAN kepada Yunus bin Amitai, 2 Pergilah segera ke Niniwe, kota yang besar itu, serukanlah peringatan terhadap mereka, karena kejahatannya telah sampai kepada-Ku.

Kitab Yunus dimulai dengan pengutusan Yunus oleh TUHAN: Datanglah firman TUHAN kepada Yunus bin Amitai (Yunus 1:1). Ayat ini serupa dengan panggilan para nabi lainnya; misalnya, dalam Yeremia 1:4 Firman TUHAN datang … menjadi pola yang tipikal pada panggilan nabi. Panggilan di sini sangat spesifik: Yunus diutus ke Niniwe untuk mewartakan (mengumumkan) kepada penduduk kota itu, dengan jelas menjelaskan alasan misinya — dosa-dosa mereka telah sampai kepada-Ku (Yunus 1:2). Namun, penunjukan ini berbeda dari panggilan-panggilan dalam kitab-kitab nubuat Perjanjian Lama lainnya: dalam kitab-kitab nabi Perjanjian Lama, tidak pernah ada catatan tentang Allah yang menunjuk nabi-nabi Israel untuk memberitakan firman-Nya kepada bangsa-bangsa non-Yahudi.

Selain itu, khotbah di Niniwe juga patut diperhatikan. Pada saat itu, Niniwe bukanlah ibu kota Kekaisaran Asyur (baru pada masa Sanherib kota ini ditetapkan sebagai ibu kota antara tahun 705 dan 612 SM), jadi mengapa kota ini yang dipilih? Sekilas Kejadian 10:11 mengungkapkan bahwa Niniwe didirikan oleh Nimrod dan berkaitan erat dengan asal-usul Asyur, sehingga dapat melambangkan seluruh Kekaisaran Asyur.

2 Raja-raja 14:25 menyediakan konteks historis untuk Kitab Yunus: Yerobeam II dari Kerajaan Israel Utara telah merebut kembali wilayah yang luas, membentang dari pintu masuk Hamat hingga Araba di Laut Mati. Meskipun Kekaisaran Asyur tetap menjadi kekuatan yang kuat tetapi karena konflik internal dan faktor-faktor lainnya, Israel makmur dalam lingkungan yang relatif stabil. Yunus menjabat sebagai nabi pada masa pemerintahan Yerobeam II (786-746 SM), kira-kira sezaman dengan Amos dan Hosea. Dalam panggilan Allah kepada Yunus, idiom kejahatannya telah sampai kepada-Ku (Yunus 1:2) menunjukkan bahwa dosa-dosa Niniwe telah menumpuk hingga pada titik di mana TUHAN tidak dapat lagi menoleransi mereka. Ungkapan ini menekankan kekejaman dan kejahatan Kekaisaran Asyur yang terang-terangan dan tak tahu malu.

Di sini, Niniwe pertama kali disebut sebagai kota besar (Yunus 1:2), dan kata besar diulang dalam pasal 3 dan 4 untuk menggambarkan kota tersebut. Hal ini mungkin merujuk pada beratnya dosa-dosanya, populasinya yang besar (sekitar 120.000 jiwa, Yunus 4:11), atau menunjukkan ke masa depan betapa pentingnya kota itu kelak (kemudian menjadi ibu kota Asyur). Bagaimanapun, Niniwe adalah fokus kitab ini.

Dalam panggilan Allah kepada Yunus, kita melihat Allah tidak toleransi terhadap dosa: dosa memiliki konsekuensi, dan Allah tidak akan mengampuni orang yang bersalah. Dosa orang Niniwe memang sangat banyak, dan kejahatannya telah sampai kepada-Ku menunjukkan bahwa Allah mengawasi dan menanggapi dosa-dosa dunia. Namun, pada saat yang sama, panggilan ini juga menunjukkan kasih karunia Allah: Allah mengutus para nabi ke tempat orang berdosa berada agar mereka menyadari dosa mereka, sama seperti Allah mengutus nabi Natan kepada Raja Daud agar ia bertobat (2 Samuel 12).

Refleksi:
1. Allah mengetahui semua dosa yang dilakukan manusia. Manusia hendaknya tidak mengabaikan Allah dan harus sungguh-sungguh menangani dosa-dosa di dalam hati mereka, jika tidak, mereka pasti akan menghadapi konsekuensi dosa. Bagaimana sikap Anda terhadap dosa?

2. Catatan tentang Allah mengutus nabi di antara bangsa-bangsa non-Yahudi hanya ditemukan dalam Kitab Yunus. Mengutus nabi di antara mereka menunjukkan kasih karunia Allah dan memberi tahu kita bahwa Allah adalah Tuhan atas seluruh bumi, dan rahmat serta kasih karunia-Nya menjangkau semua bangsa. Kehendak Allah bagi dunia adalah agar semua orang diselamatkan. Dengan cara apa Anda telah berpartisipasi dalam kehendak Allah ini?


Renungan pemahaman Kitab Yunus

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Yunus ditulis oleh Rev. Dr. Cheung Mi-mee yang dipublikasi pada bulan Desember 2025 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


04 Maret – RABU MINGGU PERTAMA PRA-PASKAH. Berpaling dari Jalan Mereka yang Jahat

Oleh
Dr Philip Satterthwaite
Lecturer in OT and Biblical Interpretation
Biblical Graduate School of Theology
Penerjemah: Team WMC

Yunus 3:1-10

1 Datanglah firman TUHAN kepada Yunus untuk kedua kalinya, demikian: 2 “Bangunlah, pergilah ke Niniwe, kota yang besar itu, dan sampaikanlah kepadanya seruan yang Kufirmankan kepadamu.”
3 Bersiaplah Yunus, lalu pergi ke Niniwe, sesuai dengan firman Allah. Niniwe adalah sebuah kota yang mengagumkan besarnya, tiga hari perjalanan luasnya. 4 Mulailah Yunus masuk ke dalam kota itu sehari perjalanan jauhnya, lalu berseru: “Empat puluh hari lagi, maka Niniwe akan ditunggangbalikkan.”
5 Orang Niniwe percaya kepada Allah, lalu mereka mengumumkan puasa dan mereka, baik orang dewasa maupun anak-anak, mengenakan kain kabung. 6 Setelah sampai kabar itu kepada raja kota Niniwe, turunlah ia dari singgasananya, ditanggalkannya jubahnya, diselubungkannya kain kabung, lalu duduklah ia di abu.
7 Lalu atas perintah raja dan para pembesarnya orang memaklumkan dan mengatakan di Niniwe demikian: “Manusia dan ternak, lembu sapi dan kambing domba tidak boleh makan apa-apa, tidak boleh makan rumput dan tidak boleh minum air. 8 Haruslah semuanya, manusia dan ternak, berselubung kain kabung dan berseru dengan keras kepada Allah serta haruslah masing-masing berbalik dari tingkah lakunya yang jahat dan dari kekerasan yang dilakukannya. 9 Siapa tahu, mungkin Allah akan berbalik dan menyesal serta berpaling dari murka-Nya yang bernyala-nyala itu, sehingga kita tidak binasa.”
10 Ketika Allah melihat perbuatan mereka itu, yakni bagaimana mereka berbalik dari tingkah lakunya yang jahat, maka menyesallah Allah karena malapetaka yang telah dirancangkan-Nya terhadap mereka, dan Iapun tidak jadi melakukannya.

Renungan

Yunus adalah nabi paling sukses yang pernah ada! Dia menyatakan satu pesan singkat “Empat puluh hari lagi, maka Niniwe akan ditunggangbalikkan” dan rakyat Niniwe percaya apa yang ia katakan. Terlebih lagi, sang raja menyatakan sebuah puasa massal, mendesak seluruh warga untuk mencari Allah dengan penuh penyesalan. Bahkan hewan sekalipun mengenakan pakaian kabung! Bangsa Niniwe berpaling dari perilaku mereka yang jahat. Allah memperhatikan pertobatan mereka dan penghakiman yang diancamkan tidak terjadi. Jika saja bangsa Israel mendengarkan nabi Allah dengan cara yang sama, dan bukannya malah mengacuhkan atau tidak mempercayai kata-kata mereka! Yunus adalah seorang nabi yang sukses secara spektakuler.

Tetapi anda harus membaca keseluruhan sisa kitab Yunus untuk mengerti teks hari ini. Yunus membenci fakta akan keberhasilannya. Warga Niniwe adalah bangsa Asyur, musuh Israel yang paling mematikan. Yunus tidak pernah menginginkan Niniwe untuk mengalami anugerah Allah (4:2). Dia melarikan diri ketika panggilan Allah pertama kali menghampirinya (1:1-3), dan Allah harus mengirimkan sebuah badai lalu seekor ikan untuk membawanya kembali (1:4, 17; 2:10). Dia hanya melaksanakan panggilan Allah ketika ia melihat bahwa tidak tersedia lagi alternatif (3:1-3). Yunus adalah seorang nabi yang sukses, tetapi pada saat yang sama juga adalah seorang yang paling enggan dan penuh kemarahan!
Bahkan ketika bangsa Niniwe telah bertobat, Yunus berkemah dekat kota (4:5), sepertinya berharap bahwa Allah masih akan menjalankan ancaman penghakiman. Catatannya berakhir dengan Allah mengonfrontasi Yunus (4:9-11): siapa engkau, Yunus, yang memutuskan siapa yang harus Aku ampuni? Jika Aku memilih untuk menunjukkan belas kasihan bahkan kepada musuh-musuh Israel, pantaskah engkau menghalangi? Di akhir kitab, seluruh rakyat Niniwe bertobat, tetapi masih tersisa satu pria yang harus meninggalkan sikap kekerasan hatinya dan berpaling dari jalannya yang jahat. Ironisnya, orang itu adalah nabi Yunus sendiri.

Doa
Tuhan, ampuni kami ketika kami melayani-Mu dengan enggan, hanya karena sebuah perasaan keterpaksaan, dan bukan karena kami merindukan apa yang Engkau rindukan. Di mana kami menolak kehendak-Mu dan menggerutu di dalam sikap-sikap kami terhadap mereka yang Engkau panggil untuk kami layani, di dalam belas kasih-Mu mohon sembuhkan dan transformasikan hati-hati kami. Kami memohonkannya di dalam nama Yesus. Amen.

Tindakan

Apakah ada orang atau kelompok masyarakat yang engkau sisihkan secara mental di dalam pemikiranmu tentang kerajaan Allah? Mereka yang secara pribadi anda anggap sebagai orang-orang yang tidak dapat dijangkau oleh injil, mungkin bahkan tidak pantas untuk menerima Kristus? Apa yang dapat anda ubah dari sikap anda ini? Apakah Allah memanggil anda untuk menjangkau orang-orang ini?

Diterjemahkan dari terbitan: Singapore Bible Society (2020).
Untuk Kalangan Kristen

(Iklan yang ada adalah milik WordPress penyedia sarana gratis WEB ini)

Yunus 4:5-11

「Babak 6.2: Yunus Kesal, Berargumentasi dengan Allah」
Oleh 謝慧兒 (Xiè Huì Ér)

Alliance Bible Seminary H.K.

(Yun. 4:5-11 [ITB])
5 Yunus telah keluar meninggalkan kota itu dan tinggal di sebelah timurnya. Ia mendirikan di situ sebuah pondok dan ia duduk di bawah naungannya menantikan apa yang akan terjadi atas kota itu.
6 Lalu atas penentuan TUHAN Allah tumbuhlah sebatang pohon jarak melampaui kepala Yunus untuk menaunginya, agar ia terhibur dari pada kekesalan hatinya. Yunus sangat bersukacita karena pohon jarak itu. 7 Tetapi keesokan harinya, ketika fajar menyingsing, atas penentuan Allah datanglah seekor ulat, yang menggerek pohon jarak itu, sehingga layu. 8 Segera sesudah matahari terbit, maka atas penentuan Allah bertiuplah angin timur yang panas terik, sehingga sinar matahari menyakiti kepala Yunus, lalu rebahlah ia lesu dan berharap supaya mati, katanya: Lebih baiklah aku mati dari pada hidup.
9 Tetapi berfirmanlah Allah kepada Yunus: Layakkah engkau marah karena pohon jarak itu? Jawabnya: Selayaknyalah aku marah sampai mati. 10 Lalu Allah berfirman: Engkau sayang kepada pohon jarak itu, yang untuknya sedikit pun engkau tidak berjerih payah dan yang tidak engkau tumbuhkan, yang tumbuh dalam satu malam dan binasa dalam satu malam pula. 11 Bagaimana tidak Aku akan sayang kepada Niniwe, kota yang besar itu, yang berpenduduk lebih dari seratus dua puluh ribu orang, yang semuanya tak tahu membedakan tangan kanan dari tangan kiri, dengan ternaknya yang banyak?

Nabi Yunus marah dan berkeras hati berargumentasi dengan Allah, telah memasuki babak kedua. Terhadap pertanyaan Allah di ayat 4 Layakkah engkau marah?, narator tidak mencatat tanggapan secara lisan dari nabi Yunus; tampaknya nabi ini sengaja mengabaikan Allah, hanya menggunakan tindakan untuk mengekspresikan protesnya terhadap Allah. Seluruh ayat 5 penuh dengan pola satu tindakan demi satu: Yunus ─ keluar kota, duduk di …. (sebelah timur kota), mendirikan …. pondok, duduk di bawah naungannya, menantikan …., mencerminkan Yunus perlahan tidak terburu-buru; ataukah dia tidak yakin apa yang harus dilakukan selanjutnya.

Ayat 6-9 menjelaskan bagaimana Allah menggunakan buku pelajaran dari alam untuk mencoba membantu Yunus menghadapi masalah pribadinya. Pohon jarak bahasa asli adalah qiqayon, persisnya menunjuk pada tanaman apa, tidak pasti, tetapi menurut deskripsi kitab Yunus, tanaman itu tumbuh cepat, juga cepat layu; dan daun tanaman cukup lebar untuk berteduh. Yunus sedang duduk di bawah bayangan pondok, tidak cukup untuk menahan sinar matahari yang keras daerah Timur Dekat; Allah kemudian mengatur baginya naungan yang lebih baik dan menyelamatkannya dari matahari. Kata penderitaan (ITB sebagai kekesalan), teks aslinya adalah ra ̔ah (jahat) merupakan kata kunci yang sangat penting dalam kitab Yunus seperti yang disebutkan sebelumnya, muncul di ayat 6 ini, yang mungkin merupakan permainan kata-kata. Pohon jarak menyediakan tempat berteduh, dapat meringankan rasa sakit daging bagi Yunus, tetapi kenyamanan fisik juga dapat mengurangi kepahitan hatinya. Atau, ra ̔ah merujuk pada sakitnya paparan sinar matahari, di sisi lain juga merujuk pada jahat yang ada di hati nabi itu.

Dalam ayat 7 Allah mengatur seekor ulat untuk menggerek pohon jarak, di sini kata menggerek (menggigit), dan sinar matahari menyakiti (menggigit) di ayat 8b dalam bahasa aslinya adalah kata yang sama: karena ulat menggigit pohon jarak, pohon itu mati mengering, menyebabkan matahari menggigit Yunus ─ permainan kata yang digunakan oleh narator ini menyoroti betapa tidak berdayanya sang nabi dalam kuasa kendali kedaulatan Allah terhadap alam. Ayat 8b: ia meminta kematian bagi dirinya, terjemahan literalnya adalah: ia menyuruh jiwanya untuk pergi mati. Dalam ayat 3, Yunus meminta Allah untuk mengambil nyawanya; sekarang ia menyuruh jiwanya untuk pergi mati! Ayat 9a: berfirmanlah Allah kepada Yunus: Layakkah engkau marah karena pohon jarak itu?(atau engkau marah karena pohon jarak itu, betulkah begitu itu? Ketika pertama kali Allah bertanya apakah kemarahan Yunus itu wajar, nabi itu tidak menjawab, kali ini, ia menjawab pertanyaan Allah dengan amarah. Ayat 9b: ia berkata, Selayaknyalah aku marah sampai mati (aku sangat marah sampai mati, itu benar / tidak bersalah). Ini juga merupakan kalimat terakhir yang dikatakan nabi ini dalam kitab Yunus. Pada awal catatan, nabi ini melawan Allah dengan tindakan, di akhir cerita, nabi dengan perkataan melawan Allah.

Namun, kata-kata Yunus bukanlah akhir dari kitab ini; seluruh kitab Yunus berakhir dengan pertanyaan balik dari Allah. Pertanyaan Allah di ayat 11: Bagaimana tidak Aku akan sayang kepada Niniwe dengan ayat 10 engkau sayang kepada pohon jarak itu, yang ditekankan adalah Yunus ── engkau) sengaja membentuk kontras. Sebenarnya, apa yang dicatat dalam pasal 4 adalah bagaimana Allah seperti seorang Bapa, mencoba menjelaskan pekerjaan-Nya kepada seorang nabi yang tidak memahami pikiran-Nya. Apakah Yunus akhirnya bertobat dari ra ̔ah jahat (ITB kekesalan hati) dirinya? Ini diserahkan kepada pembaca untuk merenungkannya. Namun, yang pasti adalah bahwa demikian besar toleransi dan kasih Allah bagi manusia, tidak hanya bagi orang Niniwe non Yahudi, tetapi juga bagi hamba-Nya ─ nabi Yunus.

Renungkan:

Apakah Anda berpikir bahwa Allah perlu menjelaskan semua tindakan-Nya kepada manusia?

Apakah Anda percaya bahwa Allah memiliki kehendak dan rencana-Nya yang indah dalam segala hal yang terjadi?


Renungan pemahaman Kitab Yunus (klik untuk membuka)

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain (klik untuk membuka)


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Yunus, Obaja, Habakuk ditulis oleh 謝慧兒 (Xiè Huì Ér) yang dipublikasi pada bulan Oktober 2019, merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Iklan yang ada bukan milik blog ini, tetapi milik WordPress penyedia fasilitas blog tanpa biaya.

Yunus 4:1-4

「Babak 6.1: Yunus Kesal, Berargumentasi dengan Allah (1)」
Oleh 謝慧兒 (Xiè Huì Ér)

Alliance Bible Seminary H.K.

(Yun. 4:1-4 [ITB])
1 Tetapi hal itu sangat mengesalkan hati Yunus, lalu marahlah ia. 2 Dan berdoalah ia kepada TUHAN, katanya: Ya TUHAN, bukankah telah kukatakan itu, ketika aku masih di negeriku? Itulah sebabnya, maka aku dahulu melarikan diri ke Tarsis, sebab aku tahu, bahwa Engkaulah Allah yang pengasih dan penyayang, yang panjang sabar dan berlimpah kasih setia serta yang menyesal karena malapetaka yang hendak didatangkan-Nya. 3 Jadi sekarang, ya TUHAN, cabutlah kiranya nyawaku, karena lebih baik aku mati dari pada hidup.
4 Tetapi firman TUHAN: Layakkah engkau marah?

Kekesalan hati nabi Yunus, menghantar kita masuk paragraf terakhir dari kitab Yunus ─ Yun. 4:1-11. Catatan tentang argumen dan konfrontasi nabi ini dengan Allah, juga merupakan klimaks dari kisah Yunus. Kita akan membagi perikop ini menjadi dua kali perenungan. Hari ini kita merenungkan 4:1-4, bagian pertama dari konfrontasi Yunus dengan Allah.

Ayat 1 Tetapi hal itu sangat mengesalkan hati Yunus, lalu marahlah ia, terjemahan literalnya: Ini, Yunus menganggapnya adalah jahat (jahat, ra ̔a ̔ , “be evil, bad”), adalah kejahatan besar (ra ̔ah, “evil, misery”); maka ia marah. Hal ini jelas merujuk pada ayat di atas, 3:10 Allah tidak jadi menurunkan malapetaka terhadap mereka. Dengan kata lain: Yunus merasa bahwa Allah mengampuni orang-orang Niniwe adalah hal yan jahat dan bahkan jahat besar. Kata jahat atau akar kata yang terkait adalah salah satu kata kunci yang sangat penting dalam kitab Yunus. Selain yang ada di ayat 4:1, Alkitab ITB menerjemahkan ra ̔ah sebagai: jahat (Yun. 1:2; 3:8, 10), malapetaka (Yun. 1:7, 8; 3:10; 4:2), dan penderitaan (Yun. 4:6, secara fungsional ITB kekesalan hati). Di antaranya, narator tampaknya sengaja menggunakan kata ra ̔ah untuk memperlihatkan ironi yang terbesar dari catatan peristiwa tersebut. Semua kejahatan (ra ̔ah) yang terjadi dalam seluruh peristiwa Yunus, sampai pasal 4 semua sudah tidak ada lagi: malapetaka badai di laut telah berlalu. Niniwe juga telah berpaling dari jalan hidup jahat, Allah juga memutuskan untuk tidak menurunkan malapetaka kepada Niniwe. Satu-satunya yang tersisa kejahatan (ra ̔ah) ada dalam hati pikiran nabi Yunus yang masih harus diselesaikan. Sebagai seorang nabi Allah, setelah memberitakan pesan Allah, dengan cepat menerima respon tanggapan yang positif, dan dia sepatutnya bahagia; tetapi Yunus sebaliknya marah dengan pengampunan Allah yang datang kepada bangsa asing, bukankah itu ironis? Terlebih lagi, bukankah tidak lama baru-baru ini oleh diri Yunus sendiri mengalami pengampunan Allah, menyelamatkannya terlepas dari ambang kematian!

Ayat 2 – 3 mencatat doa yang kedua kali dari nabi Yunus. Dalam doa ini, Yunus mengungkapkan untuk pertama kalinya alasan mengapa ia pertama kali melarikan diri ke Tarsis, ayat 2b menggambarkan sifat Allah yang berasal dari Keluaran 34:6 TUHAN, TUHAN, Allah penyayang dan pengasih, panjang sabar, berlimpah kasih-Nya dan setia-Nya, dan Keluaran 32:14 menyesallah TUHAN karena malapetaka yang dirancangkan-Nya atas umat-Nya. Dan doa pemohonan Yunus di ayat 3a, dalam teks bahasa aslinya dimulai dengan kesegeraan yang memiliki makna sekarang segera, mendesak, Jadi sekarang, ya TUHAN, cabutlah kiranya nyawaku, karena lebih baik aku mati dari pada hidup, mirip dengan doa nabi Elia di masa lalu; tetapi Elia karena menerima penganiayaan sehingga demikian memohon, tetapi Yunus adalah karena ia tidak ingin melihat hasil akhir maka memohon diberi kematian. Bahkan perkataan cabutlah kiranya nyawaku, karena lebih baik aku mati dari pada hidup yang secara literalnya ambil kembali hidupku dari aku, karena kematianku lebih baik dari hidupku kalimat yang sama, diulangi lagi di ayat 8; nabi ini dalam waktu singkat, dua kali begitu mendesak meminta kematian dalam doanya.

Allah tidak meninjau kembali masa lalu dan hanya tertuju menanggapi keadaan nabi saat ini. Dalam tanggapan Allah, Dia tidak secara langsung menegur Yunus, tetapi hanya mengajukan pertanyaan kepadanya:Engkau marah seperti ini, benarkah itu? (ayat 4). Terjemahan ITB Layakkah engkau marah? Lihat juga terjemahan Today’s Chinese Version lebih ekspresif: Atas dasar apa engkau marah? Pertanyaan Allah ini jelas merupakan pertanyaan tandingan, yang jawabannya jelas: kemarahan Yunus sama sekali tidak masuk akal, tidak ada alasan yang relevan. Perlu ditunjukkan bahwa Allah tidak menganggapi permintaan Yunus untuk mengambil nyawanya, ini pada dasarnya permintaan yang tidak perlu.

Renungkan:

Karena Allah melakukan sesuatu yang menurut nabi ini tidak masuk akal dan tidak boleh dilakukan, nabi ini kemudian meminta kematian dua kali. Bagaimana dengan kita? Apakah kita begitu marah kepada Tuhan karena Tuhan membiarkan terjadinya sesuatu yang menurut pendapat kita tidak masuk akal?


Renungan pemahaman Kitab Yunus (klik untuk membuka)

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain (klik untuk membuka)


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Yunus, Obaja, Habakuk ditulis oleh 謝慧兒 (Xiè Huì Ér) yang dipublikasi pada bulan Oktober 2019, merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Iklan yang ada bukan milik blog ini, tetapi milik WordPress penyedia fasilitas blog tanpa biaya.

Yunus 3:3b-10 (2)

「Babak 5: Yunus Memberitakan, Niniwe Bertobat (2)」
Oleh 謝慧兒 (Xiè Huì Ér)

Alliance Bible Seminary H.K.

(Yun. 3:3b-10 [ITB])
3b Niniwe adalah sebuah kota yang mengagumkan besarnya, tiga hari perjalanan luasnya. 4 Mulailah Yunus masuk ke dalam kota itu sehari perjalanan jauhnya, lalu berseru: Empat puluh hari lagi, maka Niniwe akan ditunggangbalikkan.
5 Orang Niniwe percaya kepada Allah, lalu mereka mengumumkan puasa dan mereka, baik orang dewasa maupun anak-anak, mengenakan kain kabung. 6 Setelah sampai kabar itu kepada raja kota Niniwe, turunlah ia dari singgasananya, ditanggalkannya jubahnya, diselubungkannya kain kabung, lalu duduklah ia di abu. 7 Lalu atas perintah raja dan para pembesarnya orang memaklumkan dan mengatakan di Niniwe demikian: Manusia dan ternak, lembu sapi dan kambing domba tidak boleh makan apa-apa, tidak boleh makan rumput dan tidak boleh minum air. 8 Haruslah semuanya, manusia dan ternak, berselubung kain kabung dan berseru dengan keras kepada Allah serta haruslah masing-masing berbalik dari tingkah lakunya yang jahat dan dari kekerasan yang dilakukannya. 9 Siapa tahu, mungkin Allah akan berbalik dan menyesal serta berpaling dari murka-Nya yang bernyala-nyala itu, sehingga kita tidak binasa.
10 Ketika Allah melihat perbuatan mereka itu, yakni bagaimana mereka berbalik dari tingkah lakunya yang jahat, maka menyesallah Allah karena malapetaka yang telah dirancangkan-Nya terhadap mereka, dan Ia pun tidak jadi melakukannya.

Kisah Yunus babak 5: Yunus memberitakan, Niniwe bertobat; Allah tidak menurunkan malapetaka (2)

Ayat 5 menyatakan bahwa yang pertama-tama memberi respons terhadap pengumuman Yunus adalah orang-orang Niniwe, dan respons mereka ini sangat cepat. Yunus dapat dianggap sebagai nabi yang paling sukses, karena para pendengarnya menanggapi positif pesannya dalam sehari! Ayat 5b, puasa, ditambah mengenakan kain kabung, adalah manifestasi dari berduka, merendahkan diri, dan pertobatan di hadapan Allah. Adapun ayat 6 mencatat respons raja dalam bentuk kontras perbandingan: bangkit turun dan duduk; singgasana dan abu; jubah dan kain kabung; terlebih menyoroti bahwa dalam aspek tempat keberadaan, pakaian, ataupun wibawa martabat, raja Niniwe benar-benar dijungkirbalikkan, atau kata lain diubahkan. Di antaranya, kata bangkit (KJV memakai kata “arose“, ITB “turun”) adalah salah satu kata kunci kitab Yunus muncul dalam Yun. 1:2, 3, 6; 3:2, 3, 6 (klik untuk membuka). Pertama-tama, Allah memanggil Yunus untuk bangkit, dan Yunus memang bangkit, tetapi dia bangkit untuk menghindari Allah. Kemudian, adalah nakhoda kapal memanggil Yunus untuk bangkit agar ia memohon pada Allahnya. Alkitab tidak mencatat bahwa Yunus ada memberi respons. Kemudian untuk yang kedua kalinya Allah memerintahkan Yunus untuk bangkit, kali ini nabi ini akhirnya menaati dan pergi ke Niniwe (Yun. 3:2-3). Pada akhirnya, yang bangun bangkit malahan adalah raja Niniwe, raja dari bangsa asing, dan lagi ia adalah sukarela dari diri sendiri bangkit dari takhta. Mengenakan kain kabung, duduk di abu, sama seperti puasa dan mengenakan kain kabung di ayat sebelumnya, ini menunjukkan bahwa raja Niniwe memiliki hati yang merendahkan diri di hadapan Allah, serta mengaku berdosa dan bertobat. Setelah secara individu memberi teladan, raja Niniwe selanjutnya mengeluarkan perintah untuk diumumkan ke seluruh negeri.

Perintah raja dicatat di 3:7b-9. Bagian pertama dari perintah raja: Manusia dan ternak, lembu sapi dan kambing domba tidak boleh makan apa-apa, tidak boleh makan rumput dan tidak boleh minum air (ayat 7b), terdiri dari tiga larangan negatif, yakni: tidak boleh makan apa-apa, tidak boleh makan rumput dan tidak boleh minum air. Kelihatannya di luar pikiran bahwa hewan-hewan juga terlibat dalam puasa dan diselubungi dengan kain kabung (Yun. 3: 8), namun, Perjanjian Lama juga menyebutkan beberapa kali partisipasi ternak dalam semua aspek masyarakat manusia. Bagian kedua dari perintah raja terdiri dari tiga perintah positif, yakni: berselubung kain kabung, berseru memohon, serta berbalik. Kata berbalik dapat juga diterjemahkan sebagai: berputar balik atau berpaling (untuk meninggalkan) adalah salah satu kata berulang muncul di kitab Yunus, kata yang sama muncul dua kali lagi di ayat 9.

Ayat 9 merupakan harapan di balik perintah yang diberikan oleh raja Niniwe. Frasa Siapa tahu, mungkin Allah akan … dalam ayat 9 menyatakan bahwa raja Niniwe, seperti nakhoda kapal di pasal 1, mengakui kedaulatan Allah dan tidak menganggap bahwa semua tindakan puasa dan pertobatan pasti akan memenangkan pengampunan Allah.

Selain muncul lagi di ayat 9, juga di ayat 10, kata raʻ (yang buruk, yang jahat, malapetaka) sebagaimana disebutkan di perikop sebelumnya, adalah kunci terpenting dalam kitab Yunus. Ayat 10 secara literal: Allah melihat apa yang telah mereka lakukan, melihat mereka meninggalkan jalan yang jahat (raʻ), dan Allah mengubah pikiran yang pernah dikatakan-Nya tentang malapetaka (raʻ) yang hendak Ia lakukan pada mereka; Ia tidak lakukan. Terlihat bahwa kata lakukan ʻsh (do, make), muncul tiga kali dalam ayat ini, sepenuhnya mencerminkan apa yang dilakukan orang Niniwe, berkaitan erat dengan apa yang Allah akan lakukan. Selain itu, kata meninggalkan jalan jahat dan mengubah pikiran (menyesal), adalah kata-kata yang pernah muncul di ayat 8 dan 9 diulangi di ayat 10, narator tampak dengan sengaja menekankan bahwa tindakan pertobatan tulus orang-orang Niniwe telah sangat menyentuh hati Allah, sehingga hasil dari masalah tersebut adalah harapan raja Niniwe Siapa tahu, mungkin Allah akan berbalik dan menyesal serta berpaling dari murka-Nya yang bernyala-nyala itu, sehingga kita tidak binasa telah sepenuhnya dipenuhi.

Renungkan:

Allah adalah Tuhan yang tidak marah selamanya, Tuhan yang mencintai belas kasihan, asalkan orang mau meninggalkan jalan jahat dan berbalik kepada-Nya, Dia akan mengampuni mereka.

Apakah ada pikiran atau tindakan yang Anda ingin bawa dalam pengakuan dosa kepada Allah dan meminta pengampunan-Nya?


Renungan pemahaman Kitab Yunus (klik untuk membuka)

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain (klik untuk membuka)


Diterjemahkan dari 爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Yunus, Obaja, Habakuk ditulis oleh 謝慧兒 (Xiè Huì Ér) yang dipublikasi pada bulan Oktober 2019, merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Iklan yang ada bukan milik blog ini, tetapi milik WordPress penyedia fasilitas blog tanpa biaya.

Yunus 3:3b-10

「Babak 5: Yunus Memberitakan, Niniweh Bertobat」
Oleh 謝慧兒 (Xiè Huì Ér)

Alliance Bible Seminary H.K.

(Yun. 3:3b-10 [ITB])
3b Niniwe adalah sebuah kota yang mengagumkan besarnya, tiga hari perjalanan luasnya. 4 Mulailah Yunus masuk ke dalam kota itu sehari perjalanan jauhnya, lalu berseru: Empat puluh hari lagi, maka Niniwe akan ditunggangbalikkan.
5 Orang Niniwe percaya kepada Allah, lalu mereka mengumumkan puasa dan mereka, baik orang dewasa maupun anak-anak, mengenakan kain kabung. 6 Setelah sampai kabar itu kepada raja kota Niniwe, turunlah ia dari singgasananya, ditanggalkannya jubahnya, diselubungkannya kain kabung, lalu duduklah ia di abu. 7 Lalu atas perintah raja dan para pembesarnya orang memaklumkan dan mengatakan di Niniwe demikian: Manusia dan ternak, lembu sapi dan kambing domba tidak boleh makan apa-apa, tidak boleh makan rumput dan tidak boleh minum air. 8 Haruslah semuanya, manusia dan ternak, berselubung kain kabung dan berseru dengan keras kepada Allah serta haruslah masing-masing berbalik dari tingkah lakunya yang jahat dan dari kekerasan yang dilakukannya. 9 Siapa tahu, mungkin Allah akan berbalik dan menyesal serta berpaling dari murka-Nya yang bernyala-nyala itu, sehingga kita tidak binasa.
10 Ketika Allah melihat perbuatan mereka itu, yakni bagaimana mereka berbalik dari tingkah lakunya yang jahat, maka menyesallah Allah karena malapetaka yang telah dirancangkan-Nya terhadap mereka, dan Ia pun tidak jadi melakukannya.

Kisah Yunus babak 5: Yunus memberitakan, Niniwe bertobat; Allah tidak menurunkan malapetaka (1)

Ayat 3b menyatakan bahwa Niniwe besarnya tiga hari perjalanan luasnya, kira-kira sama dengan 48 hingga 64 kilometer; tetapi pada masa kejayaan Niniwe, panjang keliling kota bagian dalam hanya 12.5 kilometer. Narator mungkin merujuk pada Niniwe dan wilayah di sekitarnya. Luasnya tiga hari perjalanan, jelas hendak membandingkannya dengan ayat 4 bahwa sehari jauhnya perjalanan Yunus di kota itu. Berjalan sehari, mengapa itu satu hari saja? Mungkin Yunus agak ragu-ragu, juga tidak menuruti panggilan perintah Allah, jadi dia hanya memberitakan satu hari saja; mungkin juga orang Niniwe cepat memberi tanggapan, nabi Yunus hanya berbicara tentang berita itu satu hari saja, mereka segera merespons, maka Yunus tidak perlu lagi melanjutkan.

Bagaimanapun itu, berita yang disampaikan oleh nabi Yunus cukup sederhana: Empat puluh hari lagi, maka Niniwe akan ditunggangbalikkan (ayat 4). Seluruh kalimat total hanya memiliki lima kata, dan merupakan satu-satunya nubuat dalam seluruh kitab Yunus. Perlu diperhatikan bahwa isi berita Yunus benar-benar negatif: tidak ada penjelaskan mengapa Niniwe bakal binasa, dan tidak ada kata apapun yang menyebutkan kemungkinan pertobatan. Apakah Yunus sudah benar-benar mengumumkan pesan yang Allah inginkan agar ia sampaikan? Salah satu pandangan adalah bahwa Yunus sudah dengan setia menyampaikan Firman Allah. Adapun kemungkinan pertobatan, itu jelas, dan tidak perlu dikatakan sudah mengerti sendiri. Ataukah, pesan yang diberitakan Yunus bukan hanya satu kalimat sederhana saja, tetapi narator kitab Yunus memilih untuk mengabaikan detilnya. Pandangan lain adalah bahwa pesan yang Allah ingin Yunus sampaikan sebenarnya mencakup berita kemungkinan pertobatan, namun Yunus tidak mengatakan lengkap semua perkataan yang Allah ingin dia utarakan. Dia sewenang-wenang menghapus kemungkinan pertobatan, sehingga pesan Allah menjadi murni penghakiman, dan tidak ada ruang untuk pemulihan. Mentalitas dasar Yunus adalah: asal dia sudah memenuhi perintah dasar Allah, dan hatinya tidak ingin Niniwe mengalami kebangunan rohani. Namun, terlepas dari apapun mentalitas Yunus, berita yang ia beritakan sebenarnya sudah mengandung kemungkinan pertobatan. Alasan utamanya adalah karena dalam kalimat pengumuman Yunus: Niniwe akan ditunggangbalikkan secara menakjubkan / cerdik mengadopsi kata tunggangbalik (hapak, atau diterjemahkan digulingkan, dirobohkan), Perjanjian Lama menggunakan kata yang sama untuk menggambarkan kebinasaan kota Sodom. Namun, hapak dapat memiliki makna lain: diubahkan, termasuk perubahan dalam hati pikiran, atau perubahan keadaan. Perlu dicatat bahwa dalam ayat-ayat lain dari kitab Yunus yang berkenaan dengan kehancuran, narator menggunakan kata yang dengan jelas menunjuk pada kebinasaan: ’abad (perish), yakni Yun. 1:6, 14; 3:9 (binasa), Yun. 4:10 (binasa / mati); hanya 3:4b yang menggunakan kata hapak, sebuah kata ambigu yang memiliki dua arti ini. Dengan kata lain, kalimat Niniwe akan ditunggangbalikkan ini merupakan permainan kata-kata. Menurut pemahaman atau harapan Yunus, kata hapak berarti ditunggangbalikkan (atau dibinasakan); namun, menurut pikiran kehendak Allah, hapak berarti diubah, dan itu perubahan ke arah yang baik. Hasilnya, hal-hal terjadi sesuai kehendak Allah: Niniwe telah mengalami perubahan yang mengejutkan tanpa perlu menunggu empat puluh hari, Niniwe diputarbalikkan dalam perubahan.

Renungkan:

Maukah Anda mengkhotbahkan Injil kepada orang-orang yang tidak Anda sukai? Apakah Anda benar-benar mengharapkan mereka bisa memiliki satu hari pertobatan?


Renungan pemahaman Kitab Yunus (klik untuk membuka)

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain (klik untuk membuka)


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Yunus, Obaja, Habakuk ditulis oleh 謝慧兒 (Xiè Huì Ér) yang dipublikasi pada bulan Oktober 2019, merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Iklan yang ada bukan milik blog ini, tetapi milik WordPress penyedia fasilitas blog tanpa biaya.

Yunus 3:1-3a

「Babak 4: Firman Allah Datang Kedua Kali, Yunus Taat」
Oleh 謝慧兒 (Xiè Huì Ér)

Alliance Bible Seminary H.K.

(Yun. 3:1-3a [ITB])
1 Datanglah firman TUHAN kepada Yunus untuk kedua kalinya, demikian: 2 Bangunlah, pergilah ke Niniwe, kota yang besar itu, dan sampaikanlah kepadanya seruan yang Kufirmankan kepadamu.
3a Bersiaplah Yunus, lalu pergi ke Niniwe, sesuai dengan firman Allah.

Kisah Yunus babak 4: Firman Allah kedua kali datang kepada Yunus, dan Yunus taat.

Menurut pengaturan teks bahasa aslinya, frasa firman TUHAN diletakkan di awal ayat 1 dan akhir dari ayat 3a, dan memiliki efek depan belakang saling berkoresponden berkaitan. Lalu Yun. 3:1 dan Yun. 1:1 (klik untuk buka) teks aslinya menggunakan kata-kata yang hampir persis sama, hanya saja 3:1 memiliki tambahan kata untuk kedua kalinya, dengan jelas mencerminkan bahwa TUHAN adalah Allah yang bersedia memberikan kesempatan yang kedua kali. Ketika kata-kata TUHAN datang pertama kali kepada Yunus, ia melawan dan melarikan diri; hasilnya ditangkap kembali oleh Allah. Kemudian Allah memberinya kesempatan lain untuk memberitakan berita dari Allah. Ayat 2a: Bangunlah, pergilah ke Niniwe, kota yang besar itu, persis sama dengan kalimat pertama. Namun, perkataan berikut yang mengikutinya setelah itu tidak sama. Di Yun. 1:1, Allah memerintahkan Yunus untuk berserulah terhadap mereka, karena kejahatannya telah sampai kepada-Ku kata memperingatkan lebih sesuai bahasa aslinya yang menunjukkan keseriusan yang keras, dan jelas bahwa orang-orang Niniwe itu jahat di hadapan Allah. Sebaliknya, Yun. 3:2b sampaikanlah kepadanya seruan yang Kufirmankan kepadamu, menggunakan kata yang lebih netral sampaikanlah / umumkan. Kalimat lengkapnya secara harfiah berarti: kepadanya (penduduk) nyatakan apa yang Aku pesankan kepada mu untuk umumkan 《Terjemahan LeeZhenzhong》 Namun, apa isi spesifik dari pesan Allah untuk diumumkan Yunus tidak disebutkan di perikop ini. Salah satu kemungkinan adalah bahwa ketika Allah pertama kali memanggil Yunus ke Niniwe, Dia sudah menyebutkan poin-poin penting dari pengumuman itu, dan tidak perlu mengulanginya lagi di pasal 3. Bagaimanapun, kali ini Yunus taat. Ayat 3 menggunakan kata-kata yang sama seperti dalam ayat 2 untuk menyoroti ketaatan kepatuhan yang menyeluruh dari nabi Yunus, jika di ayat 2 mencatat bahwa Allah memerintahkan Yunus untuk bangun! Pergi ke kota besar Niniwe; maka dalam ayat 3 ditunjukkan bahwa Yunus sesuai perintah Allah, ia bangkit dan pergi ke Niniwe.

Kota besar Niniwe, kata besar (gadol, ”great”) dapat memiliki makna pentingbesar dari sudut pandang pentingnya (great in importance) Ayat 3b lebih lanjut menunjukkan: Niniwe adalah sebuah kota yang mengagumkan besarnya, tiga hari perjalanan luasnya, Yun. 1:2 dan 3:2 menyebut Niniwe sebagai kota besar, secara literal ayat 3b lebih jauh menekankan Niniwe di hadapan Allah adalah kota yang besar (lih. terjemahan Indonesia Literal 3, Green’s Literal, Young’s Literal), beberapa sarjana menunjukkan bahwa di hadapan Allah adalah teknik sastra yang mengekspresikan sesuatu yang ekstrim … yang berarti bahwa Niniwe adalah kota yang sangat besar (lih. ITB … Niniwe adalah sebuah kota yang mengagumkan besarnya, tiga hari perjalanan luasnya); atau sebagian menerjemahkan Niniwe adalah sebuah kota yang sangat penting (lih. NIV Nineveh was a very important city).

Renungkan:

Orang Cina memiliki sesuatu pepatah: satu kali saja tidak setia, seratus kali tetap tidak berguna (tidak bisa dipakai lagi). Pertama kali Allah memerintahkan Yunus untuk membawakan pesan kepada Niniwe, dan nabi itu melarikan diri. Namun, Allah memberi Yunus kesempatan kedua, berpesan kepada dia agar mengumumkan berita bagi Allah. Apakah Anda bersedia memberikan kesempatan kedua kepada seseorang yang bersalah Anda?

Selain itu, jika Anda tahu bahwa suatu pelayanan adalah apa yang Tuhan ingin Anda tanggung, apakah Anda mau untuk melakukannya tanpa banyak penolakan?


Renungan pemahaman Kitab Yunus (klik untuk membuka)

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain (klik untuk membuka)


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Yunus, Obaja, Habakuk ditulis oleh 謝慧兒 (Xiè Huì Ér) yang dipublikasi pada bulan Oktober 2019, merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Iklan yang ada bukan milik blog ini, tetapi milik WordPress penyedia fasilitas blog tanpa biaya.

Yunus 2:1-10 (4)

「Babak 3: Doa Yunus di Perut Ikan (4)」
Oleh 謝慧兒 (Xiè Huì Ér)

Alliance Bible Seminary H.K.

(Yun. 2:1-10 [ITB])
Bahasa asli 2:2-11
1 Berdoalah Yunus kepada TUHAN, Allahnya, dari dalam perut ikan itu, 2 katanya: Dalam kesusahanku aku berseru kepada TUHAN, dan Ia menjawab aku, dari tengah-tengah dunia orang mati aku berteriak, dan Kaudengarkan suaraku. 3 Telah Kaulemparkan aku ke tempat yang dalam, ke pusat lautan, lalu aku terangkum oleh arus air; segala gelora dan gelombang-Mu melingkupi aku.
4 Dan aku berkata: telah terusir aku dari hadapan mata-Mu. Mungkinkah aku memandang lagi bait-Mu yang kudus?
5 Segala air telah mengepung aku, mengancam nyawaku; samudera raya merangkum aku; lumut lautan membelit kepalaku 6 di dasar gunung-gunung. Aku tenggelam ke dasar bumi; pintunya terpalang di belakangku untuk selama-lamanya. Ketika itulah Engkau naikkan nyawaku dari dalam liang kubur, ya TUHAN, Allahku.
7 Ketika jiwaku letih lesu di dalam aku, teringatlah aku kepada TUHAN, dan sampailah doaku kepada-Mu, ke dalam bait-Mu yang kudus. 8 Mereka yang berpegang teguh pada berhala kesia-siaan, merekalah yang meninggalkan Dia, yang mengasihi mereka dengan setia. 9 Tetapi aku, dengan ucapan syukur akan kupersembahkan korban kepada-Mu; apa yang kunazarkan akan kubayar. Keselamatan adalah dari TUHAN!
10 Lalu berfirmanlah TUHAN kepada ikan itu, dan ikan itu pun memuntahkan Yunus ke darat.

Ayat 8a menyebutkan: Mereka yang berpegang teguh pada berhala kesia-siaan, di antaranya kata berhala dalam bahasa asli adalah hebel, artinya adalah: asap, uap menunjuk kesementaraan, tidak berharga, sia-sia; teks bahasa aslinya hable-šaw’ secara harfiah dapat diterjemahkan sebagai: sia-sia yang kosong, yang berarti sia-sia yang amat sangat. Menurut Ul. 32:21 dan Yer. 8:19, kata hebel setara dengan dewa atau berhala palsu. Oleh karena itu, hable-šaw’ dapat diterjemahkan sebagai berhala kesia-siaan. Adapun mereka yang percaya pada berhala kesia-siaan, apakah itu merujuk pada orang Israel atau non Yahudi, teks perikop tidak menjabarkan dengan jelas. Bagaimanapun, karena orang-orang ini percaya pada berhala, mereka secara alami membuang kasih diri mereka (ayat 8b). Frasa membuang kasih diri mereka, sebenarnya adalah satu kata: ḥasdam (their goodness, their kindness / kebaikan mereka), kata yang merupakan bagian yang paling kontroversial dalam seluruh doa. Terjemahan harfiahnya adalah: kesetiaan mereka atau belas kasihan mereka. Secara harfiah kalimat lengkapnya adalah membuang belas kasih / kesetiaan mereka yakni mereka yang berpegang teguh pada berhala kesia-siaan, mereka membuang kasih kesetiaan mereka kepada-Mu. Penjelasan kedua yang mungkin adalah bahwa mereka adalah pasif, yaitu bahwa belas kasih / kesetiaan mereka mengacu pada kasih kesetiaan yang Allah berikan kepada mereka. Terjemahan ITB mencerminkan pengertian ini, merekalah yang meninggalkan Dia, yang mengasihi mereka dengan setia

Ayat 9a: Tetapi aku, dengan ucapan syukur akan kupersembahkan korban kepada-Mu; apa yang kunazarkan akan kubayar. Kata-kata persembahkan korban dan bernazar menggemakan ayat 1:16, para awak kapal yang non Yahudi juga mempersembahkan korban dan bernazar setelah mengalami karya perbuatan Allah. Mungkin narator dengan sengaja mencoba membandingkan pengalaman Yunus dengan para awak kapal, mereka yang bukan Yahudi sudah melakukannya sejak dini, tetapi nabi Allah, Yunus, sekarang baru tahu bagaimana menerapkannya secara nyata, bukankah ini ironis? Ayat 9b: Keselamatan adalah dari TUHAN!, pernyataan akhir dari suara ucapan terima kasih, adalah klimaks dari seluruh doa: TUHAN sendirilah yang bisa menyelamatkan, dan hanya Dia sajalah yang memiliki kekuatan untuk menyelamatkan.

Ayat 10b: ikan itu pun memuntahkan Yunus ke darat, kata darat juga ditemukan dalam Yun. 1:13: orang-orang itu berusaha keras mendayung untuk membawa kembali ke daratan, tetapi mereka tidak mampu … Sekarang, di bawah perintah TUHAN, ikan itu memuntahkan Yunus ke daratan tanpa usaha keras apa pun. Memang, seperti yang pernah ditunjukkan Yunus kepada orang-orang itu: lautan dan daratan memang diciptakan oleh TUHAN; segala sesuatu di alam, termasuk: ikan menelan dan memuntahkan, dan kapan Yunus bisa kembali ke darat, semua berada di bawah kendali Allah.

Renungkan:

Tuhan yang menciptakan samudera raya dan darat, Ia masih berkuasa di hari ini yang bergelombang badai dan penuh angin ribut, dan apakah Anda berpegang teguh percaya dengan sungguh?


Renungan pemahaman Kitab Yunus (klik untuk membuka)

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain (klik untuk membuka)


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Yunus, Obaja, Habakuk ditulis oleh 謝慧兒 (Xiè Huì Ér) yang dipublikasi pada bulan Oktober 2019, merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Iklan yang ada bukan milik blog ini, tetapi milik WordPress penyedia fasilitas blog tanpa biaya.

Yunus 2:1-10 (3)

「Babak 3: Doa Yunus di Perut Ikan (3)」
Oleh 謝慧兒 (Xiè Huì Ér)

Alliance Bible Seminary H.K.

(Yun. 2:1-10 [ITB])
Bahasa asli 2:2-11
1 Berdoalah Yunus kepada TUHAN, Allahnya, dari dalam perut ikan itu, 2 katanya: Dalam kesusahanku aku berseru kepada TUHAN, dan Ia menjawab aku, dari tengah-tengah dunia orang mati aku berteriak, dan Kaudengarkan suaraku. 3 Telah Kaulemparkan aku ke tempat yang dalam, ke pusat lautan, lalu aku terangkum oleh arus air; segala gelora dan gelombang-Mu melingkupi aku.
4 Dan aku berkata: telah terusir aku dari hadapan mata-Mu. Mungkinkah aku memandang lagi bait-Mu yang kudus?
5 Segala air telah mengepung aku, mengancam nyawaku; samudera raya merangkum aku; lumut lautan membelit kepalaku 6 di dasar gunung-gunung. Aku tenggelam ke dasar bumi; pintunya terpalang di belakangku untuk selama-lamanya. Ketika itulah Engkau naikkan nyawaku dari dalam liang kubur, ya TUHAN, Allahku.
7 Ketika jiwaku letih lesu di dalam aku, teringatlah aku kepada TUHAN, dan sampailah doaku kepada-Mu, ke dalam bait-Mu yang kudus. 8 Mereka yang berpegang teguh pada berhala kesia-siaan, merekalah yang meninggalkan Dia, yang mengasihi mereka dengan setia. 9 Tetapi aku, dengan ucapan syukur akan kupersembahkan korban kepada-Mu; apa yang kunazarkan akan kubayar. Keselamatan adalah dari TUHAN!
10 Lalu berfirmanlah TUHAN kepada ikan itu, dan ikan itu pun memuntahkan Yunus ke darat.

Ayat 5a: Segala air telah mengepung aku mengancam nyawaku diterjemahkan secara harfiah: Segala air telah mengepung akusampai nepeš. Kata nepeš bisa diartikan sebagai jiwa atau nafas hidup. Dapat dikatakan bahwa nyawa hidup nabi Yunus terancam. Nepeš juga bisa berarti tenggorokan atau leher. Oleh karena itu, kalimat yang relevan dapat diterjemahkan sebagai: segala air telah mengepung aku sampai leher atau sampai tenggorokan. Seluruh kalimat menunjukkan bahwa nyawa Yunus dalam bahaya sangat kritis. Di ayat 5b lumut lautan membelit kepalaku, kata lumut lautan (rumput laut) sama dengan nama Laut Gelagah (Sea of Reeds), Red Sea / Laut Merah tempat bahaya yang dilalui orang Israel (lihat Kel. 10:19 terjemahan BIMK atau Green’s Literal). Secara umum, seluruh ayat 5 menggambarkan tingkat bahaya dari situasi yang dihadapi oleh nabi Yunus, yang secara bertahap makin kuat: pertama air mengelilingi Yunus sampai leher, kemudian Yunus berada di air yang dalam; akhirnya bahkan lumut lautan membelit kepalanya. Sekali ini Yunus jelas pasti mati tanpa perlu diragukan lagi. Ayat 6a: di dasar gunung-gunung. Aku tenggelam ke dasar bumi; pintunya terpalang di belakangku untuk selama-lamanya, menyatakan bahwa hidup Yunus bahkan lebih lagi berada di ambang kematian. Kata tenggelam (turun, KJV went down) adalah salah satu kunci dalam kitab Yunus, dia pertama-tama turun (pergi) ke Yafo, kemudian turun ke dalam kapal (1:3), kemudian turun ke dalam ruang kapal paling bawah (1:5), dan sekarang turun ke dasar gunung, yang berarti bahwa Yunus telah turun sampai ujung paling bawah yang paling akhir. Di Ulangan 32:22, dunia orang mati yang paling bawah ditulis paralel dengan dasar gunung-gunung; oleh karena itu, frasa dasar gunung-gunung di Yun. 2:6 ini memiliki hubungan yang tidak dapat terpisah dengan dunia orang mati, dan pintu dasar bumi menunjuk ke dunia orang mati.

Walau ujung buntu yang sudah paling akhir bagi manusia, namun bagi Tuhan itu merupakan permulaan awal saja. Pada saat Yunus berpikir bahwa ini adalah waktunya ia harus menghadapi kematian, tetapi TUHAN Yahweh - Ketika itulah Engkau naikkan nyawaku dari dalam liang kubur, ya TUHAN, Allahku (ayat 6b). Kata naikkan (menyelamatkan) merupakan kontras yang sangat kuat atas kata tenggelam (turun) di ayat 6a, yang membalikkan nasib Yunus yang jatuh terjun menurun. Ayat 6b juga merupakan titik balik seluruh puisi mazmur yang dituliskan di sini.

Ayat 7 dan 3 sangat mirip dalam hal kata atau tema, kedua ayat menggambarkan pemazmur berdoa memohon kepada Allah saat menghadapi kesulitan, dan kemudian mengalami jawaban atas doa. Ayat 7b sampailah doaku kepada-Mu, ke dalam bait-Mu yang kudus, di sini Yunus beralih menggunakan sebutan orang kedua (“Mu”) untuk memanggil TUHAN. Demikian pula, ini juga ditemukan dalam Maz. 5:7b aku akan masuk ke dalam rumah-Mu, sujud menyembah ke arah bait-Mu yang kudus dengan takut akan Engkau, dan Maz. 18:6a ketika aku dalam kesesakan, aku berseru kepada TUHAN, kepada Allahku aku berteriak minta tolong. Ia mendengar suaraku dari bait-Nya. Ayat 7b bait-Mu yang kudus menggemakan bait-Mu yang kudus di ayat 4b. Dalam ayat 4, Yunus diusir dari pandangan hadirat Allah, dan ia berharap untuk memasuki Bait Suci, sekarang, ketika Yunus bersedia berdoa kepada Allah, titik balik, ia dapat datang ke hadirat Allah dan memasuki Bait Suci.

Renungkan:

Pernahkah Anda menghadapi ancaman kematian? Pada saat itu, bagaimana Anda berpegang teguh pada Tuhan?


Renungan pemahaman Kitab Yunus (klik untuk membuka)

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain (klik untuk membuka)


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Yunus, Obaja, Habakuk ditulis oleh 謝慧兒 (Xiè Huì Ér) yang dipublikasi pada bulan Oktober 2019, merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Iklan yang ada bukan milik blog ini, tetapi milik WordPress penyedia fasilitas blog tanpa biaya.

Yunus 2:1-10 (2)

「Babak 3: Doa Yunus di Perut Ikan (2)」
Oleh 謝慧兒 (Xiè Huì Ér)

Alliance Bible Seminary H.K.

(Yun. 2:1-10 [ITB])
Bahasa asli 2:2-11
1 Berdoalah Yunus kepada TUHAN, Allahnya, dari dalam perut ikan itu, 2 katanya: Dalam kesusahanku aku berseru kepada TUHAN, dan Ia menjawab aku, dari tengah-tengah dunia orang mati aku berteriak, dan Kaudengarkan suaraku. 3 Telah Kaulemparkan aku ke tempat yang dalam, ke pusat lautan, lalu aku terangkum oleh arus air; segala gelora dan gelombang-Mu melingkupi aku.
4 Dan aku berkata: telah terusir aku dari hadapan mata-Mu. Mungkinkah aku memandang lagi bait-Mu yang kudus?
5 Segala air telah mengepung aku, mengancam nyawaku; samudera raya merangkum aku; lumut lautan membelit kepalaku 6 di dasar gunung-gunung. Aku tenggelam ke dasar bumi; pintunya terpalang di belakangku untuk selama-lamanya. Ketika itulah Engkau naikkan nyawaku dari dalam liang kubur, ya TUHAN, Allahku.
7 Ketika jiwaku letih lesu di dalam aku, teringatlah aku kepada TUHAN, dan sampailah doaku kepada-Mu, ke dalam bait-Mu yang kudus. 8 Mereka yang berpegang teguh pada berhala kesia-siaan, merekalah yang meninggalkan Dia, yang mengasihi mereka dengan setia. 9 Tetapi aku, dengan ucapan syukur akan kupersembahkan korban kepada-Mu; apa yang kunazarkan akan kubayar. Keselamatan adalah dari TUHAN!
10 Lalu berfirmanlah TUHAN kepada ikan itu, dan ikan itu pun memuntahkan Yunus ke darat.

Yun. 2:1 didasarkan pada Yunus sebagai subjek, menyatakan bahwa Yunus nabi yang awalnya menghindari TUHAN akhirnya bersedia datang ke hadapan TUHAN dan berdoa kepada-Nya. Ayat 2ab-2b adalah pengakuan iman. Ayat 2ab … aku berseru (qara’, ”call”)secara harfiah diterjemahkan sebagai aku memanggil, paralel dengan ayat 2b aku berteriak. Yunus dua kali menekankan bahwa dia memanggil kepada Tuhan, ironis dibandingkan penolakan sebelumnya untuk memohon kepada TUHAN. Karena, sebagaimana disebutkan dalam analisis pada pasal 1: di awal kitab Yunus, TUHAN telah memerintahkan nabi untuk qara’ (qara’ ‘al, ”call against”) mengumumkan kepada penduduk Niniwe, namun nabi Yunus pada waktu itu melawan dan melarikan diri. Ketika angin ribut bertiup di laut, sang nakhoda kapal memanggil Yunus agar qara’ (qara’ ‘al, ”call unto”) memohon kepada Allah, dan Yunus yang berbaring dan tidur juga tidak memberikan tanggapan. Setelah itu, ombak semakin menggelora, yang qara’ (qara’ ‘al, ”call unto”) memohon kepada Allah juga adalah para awak kapal, bukan Yunus (Yun. 1:14). Sekarang, dalam Yun. 2:2, kita akhirnya mendengar nabi Yunus qara’ (call) memanggil TUHAN. Selain itu, ayat 2ab dalam kesusahanku paralel dengan dalam dunia orang mati. Frasa dalam dunia orang mati terjemahan literalnya adalah dalam perut dunia orang mati《lih. terjemahan LeeZhenzhong》. Dunia orang mati adalah tempat di mana orang akan pergi setelah kematian, dan mereka akan pergi tanpa kembali; di dunia orang mati, semua aktivitas orang akan berhenti. Frasa dalam perut dunia orang mati saling berkoresponden dengan dalam perut ikan ayat 1:17 dan 2:1. Dalam perut dunia orang mati, itu adalah menunjuk pada orang sedang menghadapi ancaman kematian. Sebuah kata yang mengikuti dalam ayat 2a: Ia menjawab aku, terdapat paralelnya dalam ayat 2b Kaudengarkan suaraku. Terdapat perubahan sebutan orang ketiga Ia menjadi orang kedua Kau, yang pertama adalah deskripsi Yunus secara objektif terhadap pihak ketiga, berubah kepada pengakuan iman langsung pribadi nabi Yunus kepada Allah, mengakui bahwa Allah memang Tuhan yang mendengarkan doa.

Ayat 3a Kaulemparkan dengan 1:4a TUHAN menurunkan angin ribut ke laut, 1:5 mereka membuang ke dalam laut segala muatan melemparkan barang-barang dari kapal ke laut, 1:12, 15: mencampakkannya ke laut, kata mencampakkan, membuang, melemparkan dalam bahasa aslinya berbeda akar kata namun memiliki arti yang serupa, jelas memiliki koresponden dengan ayat di atas, yakni meskipun yang melemparkan Yunus ke laut adalah para awak kapal, tetapi mereka hanya mewakili TUHAN melakukan hukuman. Bagi Yunus, TUHANlah yang mengendalikan semuanya. Ayat 3b segala gelora dan gelombang-Mu melingkupi aku memiliki kata-kata yang persis sama dengan Mazmur 42:7b, Bani Korah merasa bahwa kesulitan datang satu demi satu, dan hari ini pengalaman nabi Yunus juga serupa.

Ayat 4b aku memandang lagi bait-Mu yang kudus secara harfiah diterjemahkan: dengan pasti aku mau terus lagi memandang … Walau beberapa ahli berpendapat bahwa kegigihan Yunus memandang lagi bait-Mu yang kudus tidak sesuai dengan konteks sebelumnya, bukankah Yunus telah melarikan diri dari TUHAN? Bagaimana bisa tiba-tiba hendak memandang ke Bait Allah? Dan frasa aku tetap hendak memandang lagi bait-Mu yang kudus sebenarnya sangat mungkin keluar dari mulut Yunus, mencerminkan tekad Yunus: bahkan jika dia dibuang, dia tetap masih mau berdoa (memandang) kepada TUHAN. Namun, pengakuan iman nabi Yunus kepada TUHAN, bagaimanapun juga terbatas pada verbal di mulut, tindakan yang sesungguhnya bertentangan dengan deklarasi dirinya sendiri.

Renungkan:

Dalam keadaan apa Anda akan memanggil Tuhan?


Renungan pemahaman Kitab Yunus (klik untuk membuka)

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain (klik untuk membuka)


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Yunus, Obaja, Habakuk ditulis oleh 謝慧兒 (Xiè Huì Ér) yang dipublikasi pada bulan Oktober 2019, merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Iklan yang ada bukan milik blog ini, tetapi milik WordPress penyedia fasilitas blog tanpa biaya.