Yunus 4:1-4

「Babak 6.1: Yunus Kesal, Berargumentasi dengan Allah (1)」
Oleh 謝慧兒 (Xiè Huì Ér)

Alliance Bible Seminary H.K.

(Yun. 4:1-4 [ITB])
1 Tetapi hal itu sangat mengesalkan hati Yunus, lalu marahlah ia. 2 Dan berdoalah ia kepada TUHAN, katanya: Ya TUHAN, bukankah telah kukatakan itu, ketika aku masih di negeriku? Itulah sebabnya, maka aku dahulu melarikan diri ke Tarsis, sebab aku tahu, bahwa Engkaulah Allah yang pengasih dan penyayang, yang panjang sabar dan berlimpah kasih setia serta yang menyesal karena malapetaka yang hendak didatangkan-Nya. 3 Jadi sekarang, ya TUHAN, cabutlah kiranya nyawaku, karena lebih baik aku mati dari pada hidup.
4 Tetapi firman TUHAN: Layakkah engkau marah?

Kekesalan hati nabi Yunus, menghantar kita masuk paragraf terakhir dari kitab Yunus ─ Yun. 4:1-11. Catatan tentang argumen dan konfrontasi nabi ini dengan Allah, juga merupakan klimaks dari kisah Yunus. Kita akan membagi perikop ini menjadi dua kali perenungan. Hari ini kita merenungkan 4:1-4, bagian pertama dari konfrontasi Yunus dengan Allah.

Ayat 1 Tetapi hal itu sangat mengesalkan hati Yunus, lalu marahlah ia, terjemahan literalnya: Ini, Yunus menganggapnya adalah jahat (jahat, ra ̔a ̔ , “be evil, bad”), adalah kejahatan besar (ra ̔ah, “evil, misery”); maka ia marah. Hal ini jelas merujuk pada ayat di atas, 3:10 Allah tidak jadi menurunkan malapetaka terhadap mereka. Dengan kata lain: Yunus merasa bahwa Allah mengampuni orang-orang Niniwe adalah hal yan jahat dan bahkan jahat besar. Kata jahat atau akar kata yang terkait adalah salah satu kata kunci yang sangat penting dalam kitab Yunus. Selain yang ada di ayat 4:1, Alkitab ITB menerjemahkan ra ̔ah sebagai: jahat (Yun. 1:2; 3:8, 10), malapetaka (Yun. 1:7, 8; 3:10; 4:2), dan penderitaan (Yun. 4:6, secara fungsional ITB kekesalan hati). Di antaranya, narator tampaknya sengaja menggunakan kata ra ̔ah untuk memperlihatkan ironi yang terbesar dari catatan peristiwa tersebut. Semua kejahatan (ra ̔ah) yang terjadi dalam seluruh peristiwa Yunus, sampai pasal 4 semua sudah tidak ada lagi: malapetaka badai di laut telah berlalu. Niniwe juga telah berpaling dari jalan hidup jahat, Allah juga memutuskan untuk tidak menurunkan malapetaka kepada Niniwe. Satu-satunya yang tersisa kejahatan (ra ̔ah) ada dalam hati pikiran nabi Yunus yang masih harus diselesaikan. Sebagai seorang nabi Allah, setelah memberitakan pesan Allah, dengan cepat menerima respon tanggapan yang positif, dan dia sepatutnya bahagia; tetapi Yunus sebaliknya marah dengan pengampunan Allah yang datang kepada bangsa asing, bukankah itu ironis? Terlebih lagi, bukankah tidak lama baru-baru ini oleh diri Yunus sendiri mengalami pengampunan Allah, menyelamatkannya terlepas dari ambang kematian!

Ayat 2 – 3 mencatat doa yang kedua kali dari nabi Yunus. Dalam doa ini, Yunus mengungkapkan untuk pertama kalinya alasan mengapa ia pertama kali melarikan diri ke Tarsis, ayat 2b menggambarkan sifat Allah yang berasal dari Keluaran 34:6 TUHAN, TUHAN, Allah penyayang dan pengasih, panjang sabar, berlimpah kasih-Nya dan setia-Nya, dan Keluaran 32:14 menyesallah TUHAN karena malapetaka yang dirancangkan-Nya atas umat-Nya. Dan doa pemohonan Yunus di ayat 3a, dalam teks bahasa aslinya dimulai dengan kesegeraan yang memiliki makna sekarang segera, mendesak, Jadi sekarang, ya TUHAN, cabutlah kiranya nyawaku, karena lebih baik aku mati dari pada hidup, mirip dengan doa nabi Elia di masa lalu; tetapi Elia karena menerima penganiayaan sehingga demikian memohon, tetapi Yunus adalah karena ia tidak ingin melihat hasil akhir maka memohon diberi kematian. Bahkan perkataan cabutlah kiranya nyawaku, karena lebih baik aku mati dari pada hidup yang secara literalnya ambil kembali hidupku dari aku, karena kematianku lebih baik dari hidupku kalimat yang sama, diulangi lagi di ayat 8; nabi ini dalam waktu singkat, dua kali begitu mendesak meminta kematian dalam doanya.

Allah tidak meninjau kembali masa lalu dan hanya tertuju menanggapi keadaan nabi saat ini. Dalam tanggapan Allah, Dia tidak secara langsung menegur Yunus, tetapi hanya mengajukan pertanyaan kepadanya:Engkau marah seperti ini, benarkah itu? (ayat 4). Terjemahan ITB Layakkah engkau marah? Lihat juga terjemahan Today’s Chinese Version lebih ekspresif: Atas dasar apa engkau marah? Pertanyaan Allah ini jelas merupakan pertanyaan tandingan, yang jawabannya jelas: kemarahan Yunus sama sekali tidak masuk akal, tidak ada alasan yang relevan. Perlu ditunjukkan bahwa Allah tidak menganggapi permintaan Yunus untuk mengambil nyawanya, ini pada dasarnya permintaan yang tidak perlu.

Renungkan:

Karena Allah melakukan sesuatu yang menurut nabi ini tidak masuk akal dan tidak boleh dilakukan, nabi ini kemudian meminta kematian dua kali. Bagaimana dengan kita? Apakah kita begitu marah kepada Tuhan karena Tuhan membiarkan terjadinya sesuatu yang menurut pendapat kita tidak masuk akal?


Renungan pemahaman Kitab Yunus (klik untuk membuka)

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain (klik untuk membuka)


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Yunus, Obaja, Habakuk ditulis oleh 謝慧兒 (Xiè Huì Ér) yang dipublikasi pada bulan Oktober 2019, merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Iklan yang ada bukan milik blog ini, tetapi milik WordPress penyedia fasilitas blog tanpa biaya.