Tag Archives: Kitab Yunus

Yunus 2:6

「Yunus turun sampai ke dasar terdalam」

Oleh Rev. Dr. Cheung Mi-mee
Alliance Bible Seminary H.K.

(Yunus 2:6 [TB2])
6 Ke dasar gunung-gunung aku turun,
tenggelam ke dasar bumi;
………pintunya terpalang di belakangku selama-lamanya.
Ketika itulah Engkau mengangkat
nyawaku dari dalam liang kubur,
………ya TUHAN, Allahku.

Tenggelam turunnya Yunus, mencapai klimaks di 2:6, tampaknya berpuncak pada tenggelam sampai ke dasar gunung-gunung, yang dalam pandangan dunia Semian merujuk pada dua pegunungan bawah tanah yang menopang bumi (Youngblood, Yunus, 109). Dalam Alkitab, ini biasanya merujuk pada pilar-pilar yang menopang bumi (1 Samuel 2:8; Ayub 9:6). Dalam doa Yunus, gunung-gunung ini disebutkan terletak di kedua sisi ambang Sheol (dunia orang mati), bagian dasarnya setara dengan pintu masuk ke kuburan. Turunnya Yunus ke dasar gunung-gunung ini melambangkan titik terjauh dari TUHAN dan merupakan kontras yang ekstrem dengan Bait Allah yang disebutkan dalam 2:4. Doa ini adalah mazmur yang sepenuhnya menurun, kebalikan dari mazmur-mazmur yang menaik dalam Kitab Mazmur.

Dasar gunung-gunung adalah gerbang dasar bumi, yang merujuk pada tempat pembuangan. Kata bumi dalam Perjanjian Lama biasanya merujuk pada tanah Kanaan, milik pusaka Israel yang berharga. Ironisnya, Yunus tidak memasuki tanah Kanaan di sini, melainkan memasuki tempat yang paling dekat dengan Sheol.

Frasa Ketika itulah Engkau mengangkat nyawaku dari dalam liang kubur, ya TUHAN, Allahku adalah mazmur yang berdiri sendiri (monocolon), relatif jarang dalam puisi Ibrani, biasanya menandakan adanya transisi yang signifikan dalam mazmur ini. Tenggelam turunnya Yunus disela oleh ayat ini. Yunus menggambarkan dirinya seperti berada di dalam liang kubur; kata liang kubur menyiratkan pembusukan, menandakan keadaan pembusukan mayat (yaitu, kuburan atau Sheol/dunia orang mati). Oleh karena itu, ia mengakui kematiannya yang sudah dekat, tetapi TUHAN telah menyelamatkannya dari lubang maut, dari dunia bawah. TUHAN mengizinkan Yunus mengalami ambang kematian, sebagian untuk memberitahu dirinya konsekuensi dari tindakannya, dan sebagian lagi karena itu adalah jalan yang dipilih Yunus sendiri. Pembebasannya mungkin tampak bertentangan dengan keadilan Allah, tetapi itu menunjukkan kesabaran dan kasih karunia Allah. Tegangan tarikan antara keadilan dan kasih karunia anugerah inilah yang menjadi tema sentral kitab ini, dan berkaitan erat dengan keselamatan yang dialami oleh orang Kristen. Alkitab berkata, Dan sama seperti manusia ditetapkan untuk mati hanya satu kali saja, dan sesudah itu dihakimi (Ibrani 9:27). Dosa memang mengarah pada penghakiman, akhir penghakiman ini adalah maut. Namun, kasih karunia anugerah Allah membawa kita diselamatkan melalui Yesus Kristus. Semakin kita memahami kengerian kematian, semakin kita dapat menghargai betapa berharganya keselamatan.

Refleksi:
1. Sejak awal Yunus melarikan diri dari panggilan Allah, ia makin lama turun tenggelam semakin dalam, ke dasar laut, hingga mencapai dasar bumi. Ia merasakan kematian dan merasa sangat jauh dari Allah. Bahkan dalam keadaan seperti ini, Allah tetap menyelamatkan dirinya. Pernahkah Anda mengalami titik terendah dalam hidup Anda? Ketika Anda merasa putus asa, Tuhan tetap tidak meninggalkan Anda.


Renungan pemahaman Kitab Yunus

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Yunus ditulis oleh Rev. Dr. Cheung Mi-mee yang dipublikasi pada bulan Desember 2025 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Yunus 2:5

「Yunus menerima penghakiman」

Oleh Rev. Dr. Cheung Mi-mee
Alliance Bible Seminary H.K.

(Yunus 2:5 [TB2])
5 Segala air telah mengepung aku,
mengancam nyawaku;
………samudera dalam meliputi aku.
Rumput laut membelit kepalaku.

Dalam ayat ini, Yunus kembali ke momen ketika ia dilemparkan ke laut, dikelilingi air dan terjerat rumput laut. Ayat ini seolah mengulang tema dan gambaran dari 2:3 Telah Kaulemparkan aku ke tempat yang dalam, ke pusat lautan, arus air mengepung aku; segala gelora dan gelombang-Mu menghempaskan aku. Di ayat 5 ini, kata segala air, samudera dalam, dan rumput laut bersesuaian dengan pusat lautan, tempat yang dalam, dan arus air di ayat 2:3. Berharga diperhatikan bahwa rumput laut (reeds) di ayat ini dapat merujuk pada rumput yang tumbuh di sungai, berada di arus air di ayat 2:3, yang berada di arus air sungai air tawar. Kesesuaian paralel ini menekankan bahwa keberadaan Yunus di sungai melambangkan ia menerima penghakiman, dan dibelit oleh rumput sungai melambangkan ia berdosa melakukan kesalahan (lihat penjelasan ayat 2:3, frasa arus air mengepung aku; segala gelora dan gelombang-Mu menghempaskan aku dalam bahasa aslinya merujuk pada sebuah sungai. Dalam kepercayaan Mesopotamia, terdapat sebuah sungai yang mengalir melalui dasar laut, berfungsi sebagai ambang pintu menuju orang mati. Sungai inilah tempat jiwa-jiwa diadili untuk menentukan bersalah atau tidaknya mereka). Oleh karena itu, ayat ini seolah meneguhkan penghakiman Yunus karena melarikan diri dari Allah. Namun, meskipun Yunus dibelit oleh rumput laut, yang menandakan dosanya, ia tidak benar-benar mati. Dalam hal ini, Allah juga menyatakan anugerah kasih karunia-Nya, sama seperti kita, orang percaya, seperti Yunus, seharusnya dihukum, tetapi kemudian dilahirkan kembali melalui kasih karunia anugerah penebusan Tuhan Yesus. Pengalaman Yunus pun sama.

Deskripsi situasi Yunus di air menggunakan frasa seperti mengepung aku, meliputi aku, dan membelit kepalaku, yang semuanya menyiratkan terbungkus dan tertutup rapat, yang menggambarkan keterpisahannya dari Allah dan mengekspresikan keadaan susah Yunus. Situasi Yunus di laut tampaknya berkaitan dengan penghakiman dan keterpisahan dari Allah. Seseorang merasa tak berdaya ketika terkurung, dan dihakimi oleh Allah juga merupakan momen ketidakberdayaan. Yunus memerintahkan para pelaut untuk mencampakkannya ke laut, membawa dirinya kepada penghakiman. Rumput laut yang membelit kepala Yunus tampaknya melambangkan penguburannya, mengenakan kain kafan. Ironisnya, Yunus sebelumnya ingin mati, dan sekarang Allah mengizinkannya mengalami sesuatu yang mendekati kematian. Keinginan Yunus untuk mati adalah untuk melarikan diri, sementara tujuan Allah membiarkannya mengalami kematian adalah untuk menuntunnya kepada pertobatan.

Refleksi:
1. Allah sering mendisiplinkan kita dengan cara yang ironis, bukan untuk menghina atau menghukum kita, melainkan untuk membuat kita bertobat dan berbalik arah melalui seluruh proses tersebut. Ketika kita mengalami disiplin Tuhan (Ibrani 12:5-7), berhati-hatilah agar tidak berpikir bahwa Tuhan telah meninggalkan kita atau sedang mempermainkan kita. Sebaliknya, Dia membimbing kita dengan hati seorang Bapa yang penuh kasih dan dengan tangan-Nya yang lembut namun penuh kuasa. Sekalipun kita memiliki keraguan di hati, atau mungkin tidak dapat membedakan antara disiplin Tuhan, konsekuensi alami dari perbuatan kita, atau bahkan serangan iblis di masa-masa sulit, kita dapat tetap percaya kepada Tuhan dan berserah diri kepada tangan-Nya yang penuh kuasa.


Renungan pemahaman Kitab Yunus

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Yunus ditulis oleh Rev. Dr. Cheung Mi-mee yang dipublikasi pada bulan Desember 2025 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Yunus 2:2-4

「Yunus berseru kepada TUHAN dalam kesusahannya」

Oleh Rev. Dr. Cheung Mi-mee
Alliance Bible Seminary H.K.

(Yunus 2:2-4 [TB2])
Dalam kesusahanku aku berseru kepada TUHAN,
………dan Ia menjawab aku,
dari dalam dunia orang mati aku berteriak,
………dan Engkau mendengarkan suaraku.
3 Telah Kaulemparkan aku ke tempat yang dalam,
………ke pusat lautan,
………arus air mengepung aku;
segala gelora dan gelombang-Mu
………menghempaskan aku.
4 Lalu aku berkata: Aku telah tersingkir dari hadapan mata-Mu.
………Mungkinkah aku memandang lagi bait-Mu yang kudus?

Doa Yunus dimulai dengan permohonannya kepada TUHAN, sebuah permohonan yang tidak secara eksplisit disebutkan dalam pasal 1. Kemungkinan besar ia berdoa saat dilemparkan ke laut, dan doanya terkabul, menunjukkan bahwa itu adalah permohonan untuk keselamatan. Ia menggambarkan pengalamannya di laut sebagai kedalaman dunia orang mati. Yunus menggambarkan berada di dalam ikan sebagai dunia orang mati, merasa seperti orang mati, tetapi bertahan hidup melalui kasih karunia anugerah Allah. Ia tahu bahwa ia disingkirkan adalah karena dosanya, dan dengan demikian memandang kelangsungan hidupnya sebagai anugerah dari Allah. Di ayat 2:2, dalam dunia orang mati(בֶּ֧טֶן שְׁא֛וֹל šə·’ō·wl mib·be·ṭen) dalam bahasa aslinya mengacu pada perut sheol (dunia orang mati), yang mempersonifikasikannya untuk menekankan nafsu alam maut yang tak terpuaskan, tidak ada akhir, yang mampu menelan manusia bulat-bulat. Ini juga menggambarkan bagaimana dosa dapat menjauhkan seseorang dari Tuhan, tanpa akhir yang terlihat, hanya ada jerumus yang makin dalam.

Meskipun pada pasal pertama kita melihat orang-orang di kapal melemparkan Yunus ke laut, di 2:3 Telah Kaulemparkan aku ke tempat yang dalam, ke pusat lautan, Yunus mengakui bahwa sebenarnya TUHAN-lah yang melemparkan dia ke laut.

Frasa arus air mengepung aku; segala gelora dan gelombang-Mu menghempaskan aku, dalam bahasa aslinya merujuk pada sebuah sungai. Dalam kepercayaan Mesopotamia, terdapat sebuah sungai yang mengalir melalui dasar laut, berfungsi sebagai ambang pintu menuju orang mati. Sungai inilah tempat jiwa-jiwa diadili untuk menentukan bersalah atau tidaknya mereka. (Youngblood, Jonah, 107)

Mungkinkah aku memandang lagi bait-Mu yang kudus? (Aku akan tetap memandang ke bait-Mu) kemungkinan merujuk pada Yunus yang mengungkapkan kepasrahannya yang terus-menerus kepada Allah melalui doa. Dari uraian awal doa Yunus, kita dapat melihat bahwa ia berdoa memohon keselamatannya. Mungkin ketika ditelan oleh ikan besar, ia masih belum tahu bagaimana ia ditebus. Di dalam perut ikan, ia mengira ia sudah berada di Sheol, tempat orang mati berada dan tempat orang-orang dilahap tanpa pandang bulu. Oleh karena itu, Yunus jelas tahu bahwa ia dapat memperoleh kesempatan kedua dalam hidup karena kasih karunia anugerah Allah.

Refleksi:
1. Yunus berdoa kepada TUHAN saat berada di dalam ikan besar itu, berfokus terutama pada keselamatannya. Ia tidak menjelaskan mengapa ia berada di dalam ikan itu, melainkan mengungkapkan kelegaan karena masih hidup. Kata-kata yang ia gunakan dalam doanya mirip dengan yang terdapat dalam Kitab Mazmur (Mazmur 18:6 Ketika aku dalam kesesakan, aku berseru kepada TUHAN, kepada Allahku aku berteriak minta tolong. Ia mendengar suaraku dari bait-Nya, teriakku minta tolong kepada-Nya sampai ke telinga-Nyadan Mazmur 120:1 Dalam kesesakanku aku berseru kepada TUHAN dan Ia menjawab aku), yang mencerminkan pengenalan Yunus terhadap Sabda Allah. Namun, pengenalan ini tidak diwujudkan dalam ketaatan. Apa arti firman Tuhan dalam hidup saya? Apakah saya berdoa dan membaca Alkitab, tetapi tanpa hati yang taat, apa arti semua ini bagi saya?

2. Tuhan menanggapi reaksi manusia terhadap-Nya. Penebusan Yunus tidak terlepas dari kesediaannya untuk berdoa kepada Tuhan. Hari ini, apakah saya berharap Allah akan bekerja dalam hidup saya? Respons saya adalah iman, dan apa yang dimanifestasikan menjadi doa.


Renungan pemahaman Kitab Yunus

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Yunus ditulis oleh Rev. Dr. Cheung Mi-mee yang dipublikasi pada bulan Desember 2025 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Yunus 1:17-2:1

「Yunus diselamatkan」

Oleh Rev. Dr. Cheung Mi-mee
Alliance Bible Seminary H.K.

(Yunus 1:17-2:1 [TB2])
17 Atas penentuan TUHAN datanglah seekor ikan besar yang menelan Yunus. Yunus tinggal di dalam perut ikan itu selama tiga hari tiga malam.
2:1 Yunus berdoa kepada TUHAN, Allahnya, dari dalam perut ikan itu …

Kasih karunia Allah kepada Yunus dinyatakan dengan memberikan Yunus kehidupan. Meskipun Yunus dilemparkan ke laut, Allah tidak meninggalkannya. Frasa Atas penentuan TUHAN juga muncul dalam 4:6-8. Dalam bahasa aslinya, penentuan adalah dalam bentuk kata kerja yang bersifat pengharapan (jussive), tetapi ketika subjeknya adalah atasan, kata itu seharusnya memiliki makna yang memerintah. Oleh karena itu, di sini, TUHAN memerintahkan seekor ikan besar untuk menelan Yunus, yang mengungkapkan otoritas Allah atas ciptaan alam. Sama seperti angin dan ombak di pasal pertama, bahkan kapal pun merupakan bejana yang digunakan Allah untuk melaksanakan kehendak-Nya. Ikan besar ini menjadi bejana kasih karunia Allah; ketidaktaatan Yunus seharusnya menyebabkan kehancuran, tetapi melalui kasih karunia anugerah Allah, hidupnya diselamatkan.

Ayat 1:17 mencatat bahwa Yunus berada di dalam perut ikan besar selama tiga hari tiga malam. Periode tiga hari tiga malam ini bertepatan dengan kebangkitan Yesus pada hari ketiga setelah kematian-Nya, dan Yesus sendiri menyebutkan bahwa kebangkitan-Nya menggemakan tiga hari tiga malam Yunus di dalam perut ikan (Matius 12:40). Lebih lanjut, beberapa ahli telah mengamati penggunaan tiga hari untuk perjalanan dalam banyak contoh Perjanjian Lama dan membandingkannya dengan penggunaan frasa yang sama dalam mitologi Sumeria; tiga hari tiga malam mungkin mewakili waktu yang dibutuhkan untuk melakukan perjalanan ke alam maut (Shoel). (Youngblood, Jonah, 102)

Apa yang Yunus alami setelah ditelan ikan besar? Karena doanya tidak menyebutkan ikan, meskipun ia tetap sadar saat ditelan, rasa takut mungkin membuatnya pingsan. Ketika akhirnya ia sadar kembali, dikelilingi kegelapan total, ia mungkin awalnya mengira tempat itu adalah Sheol. Seiring berjalannya waktu, ia menyadari bahwa tempat itu bukanlah tempat keputusasaan, melainkan rasa aman yang unik dan misterius.

Perlu dicatat bahwa kata ikan besar dalam 2:1 bersifat feminin, tetapi dalam 1:17 bersifat maskulin. Perubahan ini mungkin terjadi karena penulis ingin menghubungkan ikan besar dengan kapal (yang feminin), keduanya merupakan bejana yang digunakan Allah untuk menyelamatkan Yunus dari penghakiman. Kemungkinan lain adalah bahwa kata ini menghubungkan ikan besar dengan alam maut (Sheol, yang juga feminin).

Refleksi:
1. Sepanjang pengejaran Allah terhadap Yunus, Dia secara konsisten menunjukkan bahwa Dia adalah Allah yang Mahakuasa, dan segala sesuatu berada dalam kendali-Nya. Kekuasaan-Nya atas ciptaan-Nya menunjukkan kedaulatan-Nya yang mutlak. Ketika kita tahu bahwa Tuhan memegang kendali, kita dapat menghadapi peristiwa yang menimpa kita dengan tenang. Apakah Anda sedang menghadapi situasi sulit? Apakah Anda percaya bahwa Tuhan memegang kendali dalam hal-hal ini?

2. Meskipun narasinya tidak membahas pengalaman Yunus setelah dilemparkan ke laut, kita dapat menyimpulkan dari doa-doanya bahwa awalnya ia percaya bahwa ia berada di alam maut, tetapi kemudian menyadari bahwa ia tetap aman. Doa-doanya dipanjatkan setelah ia yakin ia aman. Hal ini menunjukkan adanya perubahan dalam perjalanan rohaninya, yang menunjukkan kuasa kasih karunia Allah yang mengubah hidup. Sudahkah Anda mengalami kasih karunia anugerah Allah bagi Anda? Bagaimana kasih karunia itu mengubah hidup Anda?


Renungan pemahaman Kitab Yunus

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Yunus ditulis oleh Rev. Dr. Cheung Mi-mee yang dipublikasi pada bulan Desember 2025 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Yunus 1:15-16

「Yunus dicampakkan ke dalam laut」

Oleh Rev. Dr. Cheung Mi-mee
Alliance Bible Seminary H.K.

(Yunus 1:15-16 [TB2])
15 Kemudian mereka mengangkat Yunus, dan mencampakkannya ke dalam laut. Laut pun berhenti mengamuk.
16 Orang-orang itu menjadi sangat takut kepada TUHAN, lalu mempersembahkan kurban sembelihan bagi TUHAN serta mengikrarkan nazar.

Setelah berdoa kepada Allah, para pelaut akhirnya mengangkat Yunus dan mencampakkannya ke laut. Peran mereka seperti pelaksana penghakiman, menyerahkan Yunus, yang perlu dihakimi, ke dalam tangan TUHAN; di sisi lain, mereka juga memenuhi kehendak Allah — tujuan awal Allah menciptakan badai di laut adalah untuk melemparkan Yunus ke laut. Dampak dari mencampakkan Yunus ke laut langsung terasa; laut yang mengamuk pun mereda. Laut pun berhenti mengamuk dalam bahasa asli (זַעַף; mengamuk) merujuk pada kemarahan, dan kata ini sering digunakan untuk menggambarkan kemarahan manusia (lihat 1 Raja-raja 21:4). Oleh karena itu, di sini digunakan personifikasi untuk menggambarkan laut. Keadaan laut mencerminkan murka Allah, tetapi berhenti saat Yunus dilemparkan ke laut.

Sebelum menggambarkan Yunus lebih lanjut, penulis Kitab Yunus menggambarkan reaksi orang-orang di kapal. Sebagaimana telah disebutkan sebelumnya, orang-orang di kapal merupakan salah satu tokoh utama dalam bagian ini, dan mereka sangat berbeda dengan Yunus. Sebagaimana mereka menunjukkan rasa takut di tengah badai, mereka juga menunjukkan rasa hormat kepada TUHAN ketika badai tenang. Namun, sifat rasa takut mereka telah berubah. Awalnya, mereka takut kehilangan nyawa, tetapi di sini, rasa hormat para pelaut berasal dari karya ajaib Allah, dan rasa hormat ini diwujudkan dalam persembahan kurban dan nazar mereka.

Berharga diperhatikan bahwa di ayat 16 Orang-orang itu menjadi sangat takut kepada TUHAN, lalu mempersembahkan kurban sembelihan bagi TUHAN serta mengikrarkan nazar, terdapat tiga cognate accusatives yakni kata kerja dan objek langsungnya memiliki akar kata yang sama. Karena kata benda yang memiliki akar atau makna yang sama dengan kata kerja yang mengikutinya, misal “Saya membantu dia dengan bantuan besar,” maka frasa yang redundan menciptakan penakanan yang tegas:

וַיִּֽירְא֧וּ הָאֲנָשִׁ֛ים יִרְאָ֥ה (yir·’āh hā·’ă·nā·šîm way·yî·rə·’ū, the men fear YHWH with a great fear) orang-orang itu takut kepada TUHAN dengan takut yang besar, di antaranya kata takut יָרֵא yare’

וַיִּֽזְבְּחוּ־זֶ֙בַח֙ וַֽיִּדְּר֖וּ (YHWH ze·ḇaḥ – way·yiz·bə·ḥū, sacrifice a sacrifice to YHWH) mempersembahkan persembahan kepada TUHANdi antaranya kata mempersembahkan זָבַח zeh’-ɓach

וַֽיִּדְּר֖וּ נְדָרִֽים (nə·ḏā·rîm way·yid·də·rū, vow vows) menazarkan nazardi antaranya kata nazar נָדַר neh’-der

Di sini kata kerja dan objek memiliki akar kata yang sama memunculkan permainan bunyi dalam bahasa Ibrani, yang mengungkapkan keheranan terhadap para pelaut asing yang mempersembahkan ibadah dan korban kepada TUHAN. (Youngblood, Jonah, 84)

Refleksi:
1. Ketidaktaatan Yunus mendatangkan murka Allah, dan ia membutuhkan kasih karunia Allah untuk ditebus. Pengalamannya persis seperti yang dialami orang-orang yang tidak percaya. Alkitab menyebutkan bahwa manusia seringkali hidup di bawah murka Allah (lihat Roma 1:18; Yohanes 3:36), tetapi Tuhan Yesus menjadi korban pendamaian, yang memungkinkan mereka yang hidup di bawah murka Allah untuk mengalami kasih karunia Allah. Mengetahui bahwa murka Allah hanya dapat diselesaikan melalui keselamatan Tuhan Yesus, bagaimana Anda memandang pelayanan penginjilan?

2. Dalam bagian ini, penulis Kitab Yunus mengungkapkan kekagumannya atas penyembahan dan kurban yang dipersembahkan oleh para pelaut non-Yahudi. Hal ini karena pada awalnya mereka tidak mengenal Allah, tetapi melalui Yunus, mereka mengalami kuasa-Nya dan mempersembahkan kurban, yang menunjukkan bahwa setelah mengalami keajaiban Allah, memberi persembahan merupakan respons yang wajar. Pernahkah Anda mengalami pengalaman bersama Allah? Bagaimana pengalaman ini mendorong Anda untuk memberi persembahan kepada Allah?


Renungan pemahaman Kitab Yunus

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Yunus ditulis oleh Rev. Dr. Cheung Mi-mee yang dipublikasi pada bulan Desember 2025 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Yunus 1:13-14

「Usaha dan doa para pelaut」

Oleh Rev. Dr. Cheung Mi-mee
Alliance Bible Seminary H.K.

(Yunus 1:13-14 [TB2])
13 Orang-orang itu justru mendayung untuk membawa kapal itu kembali ke darat, tetapi mereka tidak sanggup, sebab laut semakin bergelora menyerang mereka. 14 Mereka berserulah kepada TUHAN, katanya, Ya TUHAN, janganlah kiranya Engkau biarkan kami binasa karena nyawa orang ini. Janganlah Engkau tanggungkan kepada kami darah orang yang tidak bersalah, sebab Engkau, TUHAN, telah berbuat seperti yang Kaukehendaki.

Meskipun Yunus memerintahkan para pelaut untuk mencampakkannya ke laut, mereka tidak langsung mengikuti instruksinya itu. Mereka terus mendayung sekuat tenaga, berharap dapat membawa kapal ke pantai. Mereka mungkin berharap dapat mengembalikan Yunus ke darat, di satu sisi terhindar dari badai yang timbul karena Yunus, di sisi lain menghindari mencampakkannya ke laut yang berpotensi menyebabkan mereka menumpahkan darah orang tak berdosa sehingga melanggar Allah. Lebih lanjut, mereka percaya bahwa jika Allah menggunakan badai untuk menghentikan pelayaran mereka, mungkin maksud-Nya adalah agar mereka membawa kapal ke pantai.

Namun, upaya mereka tidak dapat membawa kapal ke pantai, karena ombak menghantam mereka. Upaya mereka untuk melarikan diri dari badai dengan kembali ke darat digagalkan, dan mereka tidak dapat dengan aman mengirim Yunus pergi, sehingga mereka tidak punya pilihan selain mencampakkannya ke laut. Hasilnya, Allah membuat Yunus mengalami disiplin-Nya dalam perjalanannya melarikan diri dari Allah, mencegahnya kembali ke titik awal pelariannya — pantai —melambangkan bahwa Allah tidak akan membiarkannya kembali ke pantai, seolah-olah Yunus tidak pernah membuat keputusan untuk melarikan diri dari TUHAN, berpikir bahwa tidak pernah terjadi apa-apa, dan ia tidak perlu menghadapi konsekuensi ketidaktaatan. Jadi ketidakmampuan mereka untuk mencapai pantai mungkin menunjukkan bahwa masalah ini tidak dapat dimulai dari titik awal, karena ketidaktaatan Yunus sendiri mengharuskan dia menghadapi kematian (Yehezkiel 18:4 Dan orang yang berbuat dosa, itu yang harus mati), dan dia hanya dapat ditebus melalui anugerah keselamatan Allah.

Dalam bahasa asli, kata mendayung dengan sekuat tenaga (וְיִשְׁתֹּ֥ק way·yaḥ·tə·rū to dig/menggali) dalam Kitab Yehezkiel merujuk pada menggali tembok. Dalam Kitab Amos, kata ini digunakan untuk menggambarkan menggali sampai ke alam maut. Penulis menggunakan kata ini, yang tidak umum digunakan untuk menggambarkan mendayung, kemungkinan untuk secara spesifik menggambarkan tindakan para pelaut ini — menggali ke bawah, yang pada akhirnya menggali menembus alam maut, yang juga merupakan tujuan Yunus. Kata ini melambangkan mereka yang melarikan diri dari Allah, hidupnya makin dijalani makin menurun.

Karena tidak dapat mencapai pantai dengan usaha mereka sendiri, setelah kehabisan semua pilihan lain, para pelaut berdoa kepada TUHAN, memohon agar kematian Yunus tidak menyebabkan kematian mereka sendiri, dan agar Allah tidak meminta pertanggungjawaban mereka atas pertumpahan darah orang yang tak berdosa. Yang luar biasa dari doa ini adalah mereka menggunakan nama TUHAN dan menyebutkan sifat-sifat Allah: bahwa Allah bertindak sesuai kehendak-Nya sendiri. Hal ini mencerminkan rasa hormat para pelaut terhadap kehendak dan kuasa TUHAN. Ironisnya, doa mereka sama dengan doa yang seharusnya dipanjatkan Yunus saat masih di palka; doa itu datang dari sekelompok orang yang tidak mengenal TUHAN, bukan dari hamba TUHAN.

Refleksi:
1. Ketidaktaatan Yunus harus dibayar mahal. Upaya para pelaut untuk kembali ke pantai menunjukkan bahwa Yunus membutuhkan lebih dari sekadar kembali ke titik awal; ia membutuhkan penebusan sejati. Demikian pula, dosa manusia harus dihukum; dosa tidak bisa dianggap tidak terjadi apa-apa. Dosa membutuhkan pengakuan dan pertobatan yang berani untuk mengalami pengampunan Allah. Apakah ada dosa dalam hidup Anda yang tidak ingin Anda hadapi? Mungkin Anda sering menginginkan awal yang baru, tetapi ini hanya dapat dicapai setelah penebusan dan pengampunan Allah.

2. Doa para pelaut kepada Allah menyatakan bahwa Dia akan bertindak sesuai dengan kehendak-Nya sendiri, yang merupakan salah satu tema penting dalam kitab ini. Kitab ini menunjukkan bahwa meskipun Yunus mengenal Allah, dalam tindakannya ia ingin Allah bertindak sesuai dengan kehendak diri Yunus sendiri. Dalam hati Anda, apakah Tuhan bertindak sesuai dengan kehendak-Nya sendiri atau kehendak Anda? Mengapa?


Renungan pemahaman Kitab Yunus

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Yunus ditulis oleh Rev. Dr. Cheung Mi-mee yang dipublikasi pada bulan Desember 2025 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Yunus 1:11-12

「Yunus memerintahkan kepada para pelaut agar mencampakkankannya ke laut」

Oleh Rev. Dr. Cheung Mi-mee
Alliance Bible Seminary H.K.

(Yunus 1:11-12 [TB2])
11 Mereka bertanya, Apa yang harus kami lakukan padamu, supaya laut mereda terhadap kami? Sebab laut semakin bergelora. 12 Sahutnya kepada mereka, Angkatlah aku dan campakkan aku ke dalam laut supaya laut mereda dan tidak menyerang kamu lagi. Sebab, aku tahu bahwa karena akulah badai besar ini menyerang kamu.

Orang-orang di kapal tahu bahwa Yunus adalah hamba Allah, dan mereka percaya ia dapat memberi tahu mereka prosedur yang benar untuk memenuhi tuntutan Allah. Maka mereka bertanya kepada Yunus apa yang harus mereka lakukan untuk menenangkan ombak. Pertanyaan mereka menyiratkan hukuman bagi Yunus, adegan ini yang dengan jelas menggambarkan bagaimana Allah sering menggunakan orang-orang non-Yahudi untuk menghukum Israel dalam sejarah Israel (lihat Ulangan 28:33, 36, Suatu bangsa yang tidak kaukenal akan memakan hasil bumimu dan segala hasil jerih payahmu; engkau akan selalu ditindas dan diinjak … TUHAN akan membawa engkau dengan raja yang kauangkat atasmu itu kepada suatu bangsa yang tidak dikenal olehmu ataupun oleh nenek moyangmu; …).

Mereka bertanya kepada Yunus bermula dari gelombang yang semakin bergejolak. Ayat 11b Sebab laut semakin bergelora/for the sea is more and more tempestuous, dalam bahasa aslinya, frasa ini mengandung dua partisipel: semakin (הוֹלֵ֥ך hō·w·lêḵ, to go/to walk) dan bergelora (וְסֹעֵֽר wə·sō·‘êr, to storm/to rush upon). Kedua partisipel ini ditempatkan berdampingan (הוֹלֵ֥ך hō·w·lêḵ to go/to walk merupakan kata bantu untuk וְסֹעֵֽר wə·sō·‘êr to storm/to rush upon), menekankan sifat gelombang yang terus-menerus dan mengungkapkan bahwa pengejaran Allah terhadap Yunus tidak kenal henti. Jawaban Yunus kepada mereka adalah mengangkatnya dan mencampakkan dirinya ke laut. Dalam bahasa aslinya, terdapat tiga kata kerja di sini: angkatlah aku (שָׂא֙וּנִי śā·’ū·nî), campakkan aku ke dalam laut (וַהֲטִילֻ֣נִי wa·hă·ṭî·lu·nî), dan laut mereda (וְיִשְׁתֹּ֥ק wə·yiš·tōq). Dua kata kerja pertama bersifat imperatif, dan kata kerja terakhir dalam bentuk mengharap (jussive) , mungkin menunjukkan bahwa tujuan dari dua perintah yang mendahului adalah berharap untuk menenangkan laut. Mengapa Yunus memerintahkan orang-orang di kapal untuk mencampakkannya ke dalam laut alih-alih melompat sendiri? Kata mencampakkan juga muncul dalam 1:5, di mana para pelaut mencampakkan ke laut muatan kapal mereka (dalam bahasa aslinya, כְּלִי kel-ee’ yang berarti perkakas/barang-barang). Yunus kemudian memerintahkan para pelaut untuk mencampakkannya ke laut, dan perannya pun berubah menjadi sebuah perkakas/barang-barang, sama seperti muatan kapal (כְּלִי kel-ee’). Dalam pengutusan awal Yunus, ia memang merupakan perkakas כְּלִי kel-ee’ yang awalnya digunakan TUHAN, dan di atas kapal ia juga merupakan kapal perkakas sehingga para pelaut dapat mengenal TUHAN melalui peristiwa ini.

Yunus memerintahkan para pelaut untuk melemparkannya ke laut karena ia tahu badai yang mereka alami adalah kesalahannya. Menurut pemahaman Yunus tentang Allah (4:2), sebab aku tahu, bahwa Engkaulah Allah yang pengasih dan penyayang, yang panjang sabar dan berlimpah kasih setia serta yang menyesal karena malapetaka yang hendak didatangkan-Nya, Yunus tahu Allah tidak akan membiarkan para pelaut ini menderita secara tidak adil, dan ia percaya bahwa ketika ia dicampakkan ke laut, mereka yang berada di kapal juga akan diselamatkan. Di sini kita melihat bahwa pemahaman Yunus tentang Allah sangat mendalam, tetapi pemahaman ini tidak mendekatkan dirinya kepada Allah. Ia memilih dirinya binasa dicampakkan ke laut, tidak bersedia berdoa kepada Allah, mencari kehendak-Nya, dan menaati misi yang telah Allah berikan kepadanya. Berharga untuk diperhatikan bahwa ia tidak berdoa kepada Allahnya seperti yang diminta sang nakhoda, melainkan mencampakkan nyawanya.

Refleksi:
1. Yunus tidak taat, dan Allah bisa saja memilih untuk tidak memakai dirinya, tetapi ayat tersebut menekankan pengejaran Allah terhadap dirinya, membuktikan bahwa Allah menghargai bukan hanya pelayanan itu sendiri, tetapi juga orang yang melayani-Nya. Dalam pelayanan, mudah untuk hanya berfokus pada peristiwa itu sendiri, mengabaikan bagaimana Allah membentuk hidup seseorang melalui pelayanan. Apa saja hal yang perlu Anda renungkan terkait hal ini?

2. Orang-orang di kapal bertanya kepada Yunus apa yang harus mereka lakukan, menunjukkan rasa hormat mereka kepada Allah. Yunus, tahu bahwa ia akan menghadapi kematian, tetap menyarankan para pelaut untuk mencampakkannya ke laut, menunjukkan tekadnya untuk melarikan diri dari Allah. Pengerasan hati seperti itu membuat seseorang sulit untuk mengubah pikirannya. Pernahkah Anda mengalami pengerasan hati dalam hidup Anda? Bagaimana Anda mengubah pikiran Anda?

3. Meskipun Yunus enggan menaati firman TUHAN untuk pergi ke Niniwe menyampaikan pesan Allah, Allah menggunakan ketidaktaatannya agar orang-orang di kapal dapat mengenal TUHAN. Kehendak Allah memang lebih tinggi daripada kehendak manusia, dan tujuan Allah tidak akan gagal karena kelemahan manusia.


Renungan pemahaman Kitab Yunus

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Yunus ditulis oleh Rev. Dr. Cheung Mi-mee yang dipublikasi pada bulan Desember 2025 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Yunus 1:7-10

「Yunus mengaku sebagai penyembah TUHAN」

Oleh Rev. Dr. Cheung Mi-mee
Alliance Bible Seminary H.K.

(Yunus 1:7-10 [TB2])
7 Kemudian mereka berkata satu sama lain, Mari kita membuang undi, supaya kita mengetahui karena siapa kita malapetaka ini menimpa kita. Mereka pun membuang undi dan undi itu jatuh pada Yunus. 8 Kata mereka kepadanya, Beritahukan kepada kami, karena siapa malapetaka ini menimpa kita. Apa pekerjaanmu dan dari mana asalmu? Apa negerimu dan dari bangsa mana engkau? 9 Sahutnya kepada mereka, Aku orang Ibrani. Aku takut akan TUHAN, Allah Semesta Langit, yang menjadikan lautan dan daratan. 10 Orang-orang itu sangat ketakutan dan berkata kepadanya, Apa yang telah kaulakukan? Orang-orang itu mengetahui bahwa ia melarikan diri, jauh dari hadapan TUHAN, sebab hal itu telah diberitahukannya kepada mereka.

Yunus tidak mengindahkan nasihat sang nakhoda untuk berdoa kepada Tuhan. Setelah kehabisan pilihan lain, orang-orang di kapal terpaksa membuang undi untuk mencoba menemukan sumber badai besar tersebut. Beberapa studi sejarah Timur Dekat kuno menunjukkan bahwa orang-orang berkeyakinan percaya bahwa dewa-dewa akan mendatangkan malapetaka bagi manusia karena secara tidak sengaja melakukan kejahatan yang tidak mereka sukai. Latar belakang ini menjelaskan mengapa orang-orang di kapal itu membuang undi.

Membuang undi adalah salah satu metode dalam Perjanjian Lama untuk memahami kehendak Allah. Amsal 16:33 juga menyebutkan, Undi dibuang di pangkuan, tetapi setiap keputusannya berasal dari pada TUHAN. Tidak diketahui bagaimana para pelaut ini tahu cara menggunakan metode ini, tetapi tampaknya mereka telah menggunakan metode yang tepat.

Ketika undi jatuh pada Yunus, para awak kapal menanyainya tentang latar belakangnya, menunjukkan perlunya mereka memverifikasi lebih lanjut keterlibatannya. Dalam pandangan mereka, tindakan dewa-dewa bersifat sewenang-wenang, dan murka para dewa dapat menimpa siapa pun — entah dosa yang disengaja, ataupun yang tidak disengaja, atau karena suatu alasan sehingga seseorang telah tidak disenangi para dewa. Para pelaut mempertanyakan apakah Yunus pantas menerima nasib seperti itu, mempertimbangkan risiko campur tangan untuk menyelamatkannya dengan mengorbankan keselamatan mereka sendiri.

Ketika Yunus menyebutkan bahwa ia takut akan TUHAN, Allah yang menciptakan laut dan daratan, orang-orang di kapal menjadi ketakutan. Ketakutan mereka mencerminkan kebesaran dan keagungan Allah TUHAN. Patut dicatat bahwa Yunus menekankan nama Allah dalam pernyataannya. Dalam teks bahasa aslinya, kata TUHAN (יהוה YHWH) mendahului takut (יָרֵ֔א yā·rê), menempatkan nama TUHAN di awal untuk menekankan penyingkapan nama TUHAN. Aku orang Ibrani (אָנֹ֑כִי עִבְרִ֣י ā·nō·ḵî ‘iḇ·rî) adalah istilah yang biasanya digunakan orang Israel untuk menggambarkan diri mereka kepada orang asing. Karena orang Ibrani menyembah TUHAN, Yunus memberi tahu orang-orang di kapal bahwa ia adalah penyembah TUHAN. Lebih lanjut, dalam bahasa asli, ia takut berfungsi sebagai predikat aku (אֲנִ֣י ă·nî), dengan TUHAN sebagai objek langsungnya. Oleh karena itu, Yunus menyatakan rasa hormat takutnya kepada TUHAN: Aku sungguh-sungguh takut akan TUHAN. Namun, rasa hormat takutnya hanya berupa kata-kata dan tidak diungkapkan dalam tindakan nyata. Penulis secara khusus menggambarkan rasa takut orang-orang di kapal dalam ayat 10. Dalam bahasa asli, orang-orang itu sangat ketakutan (וַיִּֽירְא֤וּ הָֽאֲנָשִׁים֙ יִרְאָ֣ה yir·’āh hā·’ă·nā·šîm way·yî·rə·’ū), dua kata וַיִּֽירְא֤ו yir·’āh dan יִרְאָ֣ה way·yî·rə·’ū diartikan sebagai takut. Dengan mengulangi konsep rasa takut (יִרְאָ֣ה way·yî·rə·’ū), kata kerja sebelumnya (וַיִּֽירְא֤ו yir·’āh) diperkuat penekanannya.

Refleksi:
1. Penulis Kitab Yunus sengaja membandingkan Yunus dengan orang-orang di kapal, ironisnya menunjukkan bahwa meskipun Yunus berbicara tentang takut akan Allah, tetapi ia tidak menaati Dia. Hal ini mengajarkan kita bahwa rasa hormat takut yang sejati bukan hanya sekadar kata-kata, melainkan tindakan ketaatan. Apakah Anda memiliki rasa hormat takut kepada Tuhan? Bagaimana Anda mengungkapkan rasa hormat Anda kepada Tuhan?

2. Konsep Yunus melarikan diri dari TUHAN disebutkan di ayat 10 ia melarikan diri, jauh dari hadapan TUHAN, dan juga muncul di ayat 3. Mungkinkah Yunus benar-benar melarikan diri dari TUHAN? (Lihat Mazmur 139) Anda dapat merenungkan hal ini dengan bantuan Mazmur 139

1 TUHAN, Engkau menyelidiki dan mengenal aku;
2 Engkau mengetahui ketika aku duduk atau berdiri,
Engkau mengerti pikiranku dari jauh.
3 Engkau mengamati aku ketika aku berjalan dan berbaring,
segala jalanku Kaumaklumi.
4 Sebab sebelum lidahku mengeluarkan perkataan,
sesungguhnya, semuanya telah Kauketahui, ya TUHAN.
5 Dari belakang dan dari depan Engkau memagari aku,
dan Engkau menaruh tangan-Mu ke atasku.
6 Terlalu ajaib bagiku pengetahuan itu,
terlalu tinggi, tidak sanggup aku mencapainya.
7 Ke mana aku dapat pergi menjauhi roh-Mu,
ke mana aku dapat lari dari hadapan-Mu?
8 Jika aku naik ke langit, Engkau di sana;
jika aku menaruh tempat tidurku di dunia orang mati,
Engkau pun di situ.
9 Jika aku terbang dengan sayap fajar,
dan membuat kediaman di ujung laut,
10 juga di sana tangan-Mu akan menuntun aku,
dan tangan kanan-Mu memegang aku. …


Renungan pemahaman Kitab Yunus

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Yunus ditulis oleh Rev. Dr. Cheung Mi-mee yang dipublikasi pada bulan Desember 2025 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Yunus 1:4-6

「Tidur nyenyak Yunus」

Oleh Rev. Dr. Cheung Mi-mee
Alliance Bible Seminary H.K.

(Yunus 1:4-6 [TB2])
4 Namun, TUHAN menurunkan angin ribut ke laut, lalu terjadilah badai besar, sehingga kapal itu hampir saja hancur. 5 Awak kapal itu ketakutan, masing-masing berteriak-teriak kepada ilahnya. Mereka membuang ke dalam laut segala muatan kapal itu untuk meringankannya. Sementara itu, Yunus telah turun ke bagian kapal yang paling bawah, berbaring di situ, dan tertidur nyenyak. 6 Datanglah nakhoda menemuinya dan berkata, Bagaimana mungkin engkau tidur begitu nyenyak? Bangunlah, berserulah kepada Allahmu, barangkali Allah itu akan memperhatikan kita, sehingga kita tidak binasa.

Ketidaktaatan Yunus terhadap panggilan TUHAN seharusnya mengakibatkan kematian (lihat 1 Raja-raja 13), tetapi Allah tidak memperlakukannya seperti itu. Cara Allah adalah dengan membiarkan Yunus melihat kehendak-Nya selangkah demi selangkah. Dari ayat empat dan seterusnya, latar peristiwa berubah menjadi sebuah kapal/laut. Dalam Perjanjian Lama atau budaya Timur Dekat kuno, laut dikaitkan dengan kematian dan kekacauan. Penggunaan laut sebagai latar belakang pelarian Yunus mencerminkan situasi Yunus saat itu. Bagian ini juga berkaitan erat dengan Tuhan Yesus yang menenangkan badai di Perjanjian Baru, kedaulatan TUHAN atas ciptaan tercermin dalam kemampuan-Nya untuk menurunkan angin ribut ke laut, demikian pula dalam kitab Yunus, berulang kali ditunjukkan TUHAN adalah Allah yang berdaulat penuh atas ciptaan. Di sini, kedaulatan atas angin muncul untuk pertama kalinya. Kekuatan badai digambarkan ketika kapal hampir hancur, sehingga laut, angin, dan kapal semuanya sesuai dengan kehendak Allah. Ketaatan makhluk-makhluk ciptaan ini menjadi kontras dengan ketidaktaatan Yunus.

Para pelaut adalah tokoh utama dalam bagian ini, yang berkaitan dengan latar laut, respons mereka menjadi contoh positif; mereka takut dan memohon kepada ilah mereka sendiri. Penyebutan masing-masing berteriak-teriak kepada ilahnya mencerminkan bahwa para pelaut ini bukanlah penyembah TUHAN, tetapi mereka melakukan segala daya upaya untuk mencegah badai mencelakai mereka, mencerminkan ketulusan mereka terhadap kehidupan. Yunus digambarkan dalam bagian ini sedang turun ke palka. Kata kerja turun (יָרַד yarad) muncul empat kali dalam kitab Yunus, dua kali dalam 1:3, dan sekali lagi dalam 1:5, menunjukkan gerakan Yunus ke bawah. Dari turun ke Yafo dan turun ke dalam kapal (went down into it) dalam 1:3, hingga melanjutkan turun ke palka di ayat 1:5, kondisi rohaninya terungkap. Yunus turun ke dasar kapal untuk tidur. Tindakan tidur ini bersifat simbolis, mencerminkan kegelapan rohaninya. Perilakunya sangat kontras dengan perilaku para pelaut, memperlihatkan kurangnya rasa hormat dan kewaspadaannya terhadap Allah.

Dalam bagian ini, kita dapat melihat beberapa teknik penulisan bentuk ironis. Para pelaut, yang bukan penyembah TUHAN, ketakutan dan berdoa kepada dewa-dewa mereka sendiri; tetapi nabi Allah tidak ingin bertanya kepada Allah, malah terus berlayar ke hilir dan tertidur lelap. Ironi lainnya adalah teguran sang nakhoda kepada Yunus. Dalam tegurannya, sang nakhoda menggambarkan Yunus sebagai orang yang sedang tidur dan menggunakan kata bangun, berharap Yunus akan berseru kepada Allahnya sendiri. Ironinya terletak pada kenyataan bahwa seorang nakhoda yang tidak mengenal satu-satunya Allah yang benar, ia mengajukan tuntutan seperti itu kepada nabi dari Allah yang menciptakan langit dan bumi.

Dalam kata-kata sang nakhoda, ia menyebutkan, barangkali Allah itu akan memperhatikan kita, sehingga kita tidak binasa. Ini adalah tema yang sangat penting dalam Kitab Yunus: bahwa Allah melakukan kehendak-Nya sesuai respons manusia. Ironisnya, kata-kata ini diucapkan oleh seseorang yang tidak mengenal Allah, dan inilah tepatnya alasan di balik pelarian Yunus dari panggilan TUHAN, karena ia tahu bahwa Allah akan memutuskan untuk mengasihani penduduk Niniwe berdasarkan respons mereka.

Refleksi:
1. Meskipun para pelaut tidak mengenal Allah yang menciptakan langit dan bumi, mereka tetap takut dan berseru kepada ilah masing-masing, mengantisipasi malapetaka yang akan menimpa mereka. Yunus, di sisi lain, melarikan diri dari Allah. Perbedaan mencolok di antara mereka inilah yang sengaja ditonjolkan dalam bagian ini, yang menekankan keseriusan para pelaut dan nakhoda asing terhadap Allah dan kehidupan, sementara Yunus, nabi Israel, justru kalah bersinar dari mereka. Sebagai orang Kristen, seberapa besar rasa hormat kita kepada Allah? Ketika menghadapi tantangan hidup, apakah kita berdoa kepada-Nya dengan rasa hormat? Apakah Anda seseorang yang mengakui keberadaan Allah tetapi hidup sebagaimana seorang ateis? Mengapa atau mengapa tidak?

2. Allah memiliki otoritas mutlak atas ciptaan-Nya, dan Dia juga berdaulat atas lingkungan yang kita hadapi. Saat menghadapi badai, Anda dapat merenungkannya dari satu perspektif: Allah juga menggunakan badai ini untuk membantu kita mengenal-Nya dan diri kita sendiri.

3. Teguran dan nasihat sang nakhoda mengungkapkan belas kasihan dan kasih karunia Allah, mendesak orang-orang untuk segera mencari pertolongan Allah. Meskipun pandangan ini datang dari seseorang yang tidak benar-benar mengenal TUHAN, hal itu menyingkapkan titik buta dalam diri kita yang mengaku percaya kepada Allah: kita dengan mudah mengandalkan usaha sendiri alih-alih mencari kasih karunia Allah setiap hari. Kita hendaknya tidak menunggu sampai kita menghadapi badai yang tak teratasi dalam hidup barulah mulai memahami cara bersandar kepada Allah.


Renungan pemahaman Kitab Yunus

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Yunus ditulis oleh Rev. Dr. Cheung Mi-mee yang dipublikasi pada bulan Desember 2025 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Yunus 1:3

「Memberontak terhadap panggilan」

Oleh Rev. Dr. Cheung Mi-mee
Alliance Bible Seminary H.K.

(Yunus 1:3 [TB2])
3 Tetapi, Yunus bersiap untuk melarikan diri ke Tarsis, jauh dari hadapan TUHAN. Ia pergi ke Yafo dan mendapati di sana sebuah kapal yang akan berangkat ke Tarsis. Ia membayar biaya perjalanannya, lalu naik kapal itu untuk berlayar bersama mereka ke Tarsis, jauh dari hadapan TUHAN

Ayat pertama dan kedua tampaknya merupakan narasi yang familiar tentang panggilan seorang nabi, tetapi mulai dari ayat ketiga, kita melihat bahwa respons nabi Yunus terhadap panggilan ini bersifat negatif. Hal ini belum pernah terjadi sebelumnya dalam Alkitab; nabi adalah juru bicara Allah. Ulangan 18:18 menyebutkan bahwa para nabi diangkat oleh Allah, dan tugas mereka adalah menyampaikan firman yang telah Allah berikan kepada mereka untuk diteruskan kepada umat-Nya. Dalam Yeremia 1:5, 7-9, Yeremia juga menyebutkan bahwa Allah telah mengangkatnya sebagai nabi sebelum ia lahir; Allah mempersiapkannya untuk dengan berani mewartakan dan dengan firman-Nya sendiri memenuhi mulutnya. Namun, reaksi Yunus menunjukkan bahwa ia bukanlah nabi biasa.

Dalam panggilan Allah kepada Yunus Pergilah segera ke Niniwe, kota yang besar itu, serukanlah peringatan terhadap mereka, karena kejahatannya telah sampai kepada-Ku, digunakan kata bangun/arise (קוּם qūm, TB2 menerjemahkan sebagai pergilah), Yunus juga menggunakan kata yang sama (קוּם qūm) ketika melarikan diri dari panggilan TUHAN, hanya saja ia pergi ke arah yang berbeda. (Bandingkan ITL Bangunlah engkau, pergilah ke Niniwe, negeri besar itu … Tetapi bangunlah Yunus hendak lari ke Tarsis dari hadapan hadirat Tuhan …). Niniwe adalah kota penting di Asyur pada masa itu, terletak di sebelah timur Israel, sementara Tarsis kemungkinan besar terletak di Spanyol selatan modern, yaitu di sebelah barat Israel. Perbedaan arah ini mencerminkan respons Yunus yang sepenuhnya berlawanan terhadap panggilan Allah, yang menekankan pembangkangan sang nabi yang nyata terhadap panggilan TUHAN.

Yunus bangkit dan melarikan diri ke Tarsis, jauh dari hadapan TUHAN. Kata melarikan diri dalam bahasa asli (לִ·בְרֹ֣חַ liv·ro·ach to flee) adalah infinitif (kata kerja bentuk infinitive adalah tanpa subjek, tense, atau aspek yang spesifik), kemungkinan menekankan tujuan Yunus. Oleh karena itu, tujuan Yunus melarikan diri ke arah barat menuju Tarsis justru untuk melarikan diri dari TUHAN. Apakah Yunus benar-benar percaya bahwa ia dapat melarikan diri dari TUHAN? Sebagai seorang nabi Allah, ia pasti telah mengetahui sifat-sifat Allah; apakah ia tidak tahu bahwa Allah Maha Hadir? Di sepanjang kitab ini, kita melihat Yunus secara konsisten mementingkan diri sendiri, termasuk dalam peristiwa melarikan diri dari Allah ini. Dari sudut pandangnya, ia berpikir ia dapat melarikan diri dari Allah hanya dengan pergi ke arah yang berlawanan, tetapi ternyata tidak demikian. Sebaliknya, Allah, melalui serangkaian peristiwa, mengungkapkan pengajaran dan kesabaran-Nya terhadap Yunus.

Sampai di sini, pembaca mungkin bertanya: apa yang membuat nabi ini lari dari Allah? Namun, pertanyaan ini tetap tak terjawab dalam kitab ini hingga awal pasal empat, ketika ia akhirnya mengungkapkannya kepada Allah.

Dalam pelariannya dari Allah, Yunus menggunakan caranya sendiri: ia bertemu sebuah kapal, menaikinya, dan pergi ke Tarsis bersama orang-orang di dalamnya. Penggunaan kata kapal yang berulang-ulang ini terhubung dengan adegan berikutnya. Lokasi penting dalam paragraf-paragraf berikutnya adalah di atas kapal.

Refleksi:
1. Banyak orang, setelah membaca kitab Yunus, hanya mengingat ketidaktaatan Yunus dan mengidentifikasikan diri kita setuju dengannya. Sikap setuju ini mencerminkan sifat berdosa dan kelemahan manusia, tetapi juga dapat mendorong kita untuk meniru tindakannya. Ketidaktaatan Yunus terhadap panggilan Allah bukannya tanpa konsekuensi, sebagaimana ditunjukkan dalam pengalaman-pengalamannya selanjutnya. Oleh karena itu, ketika kita menghadapi kelemahan kita, kita hendaknya tidak sekadar melihatnya sebagai ekspresi sifat manusia atau sebagai tanda kebenaran manusiawi. Kenyataannya, kelemahan-kelemahan itu adalah manifestasi dosa kita di hadapan Allah, yang menuntut pertobatan yang sungguh-sungguh.

2. Pelarian Yunus sia-sia, karena Allah tidak menghilang karena pelarian kita. Dia bukanlah energi penopang, juga bukan eksistensi yang hanya ada jika kita percaya, tidak ada jika kita tidak percaya; Dia adalah Allah yang sejati, Ia tidak berubah berdasarkan perasaan subjektif kita. Apakah Anda mengalami saat-saat ketika Anda mencoba melarikan diri dari Allah? Mengapa?


Renungan pemahaman Kitab Yunus

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Yunus ditulis oleh Rev. Dr. Cheung Mi-mee yang dipublikasi pada bulan Desember 2025 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.