「Dalam kegelapan melihat perlindungan Allah (1) – Menghancurkan perintah raja」
Oleh Rev. Dr. Chén Chuán Huá (陳傳華)
Alliance Bible Seminary H.K.
(Keluaran 1:1-21 [TB2])
1 Inilah nama anak-anak Israel yang datang ke Mesir bersama Yakub; mereka datang dengan keluarganya masing-masing: 2 Ruben, Simeon, Lewi dan Yehuda; 3 Isakhar, Zebulon dan Benyamin; 4 Dan, Naftali, Gad dan Asyer. 5 Jumlah seluruhnya tujuh puluh jiwa, yang dilahirkan bagi Yakub, sedangkan Yusuf telah berada di Mesir. 6 Kemudian meninggallah Yusuf, serta semua saudaranya dan seluruh generasi itu. 7 Orang-orang Israel beranak cucu dan tak terbilang jumlahnya. Mereka bertambah banyak dan dengan dahsyat berlipat ganda sehingga negeri itu dipenuhi mereka.
8 Kemudian muncullah seorang raja baru memerintah tanah Mesir, yang tidak mengenal Yusuf. 9 Raja itu berkata kepada rakyatnya, 「Bangsa Israel itu lebih banyak dan lebih kuat daripada kita. 10 Marilah kita bertindak cerdik terhadap mereka, supaya mereka jangan bertambah banyak lagi, dan apabila terjadi peperangan, jangan-jangan mereka bersekutu dengan musuh kita dan memerangi kita, lalu pergi dari negeri ini.」
11 Sebab itu, pengawas-pengawas kerja paksa diangkat untuk menindas mereka dengan kerja paksa. Mereka harus mendirikan bagi Firaun kota-kota perbekalan, yakni Pitom dan Ra’amses. 12 Tetapi, semakin ditindas, mereka semakin bertambah banyak dan berkembang pesat, sehingga orang merasa takut kepada orang Israel itu. 13 Lalu dengan kejam orang Mesir memaksa orang Israel bekerja, 14 dan membuat hidup mereka pahit oleh pekerjaan yang berat, yaitu mengerjakan tanah liat dan batu bata, dan berbagai pekerjaan di padang. Segala pekerjaan itu dengan kejam dipaksakan orang Mesir kepada mereka.
15 Raja Mesir juga memerintahkan kepada bidan-bidan Ibrani, seorang bernama Sifra dan yang lain bernama Pua, katanya: 16 「Apabila kamu menolong perempuan Ibrani pada waktu bersalin, kamu harus memperhatikan jenis kelamin anak itu: Jika anak laki-laki, kamu harus membunuhnya, tetapi jika anak perempuan, biarkan ia hidup.」
17 Tetapi, bidan-bidan itu takut akan Allah dan tidak melakukan seperti yang dikatakan raja Mesir kepada mereka, sehingga membiarkan bayi-bayi itu hidup. 18 Lalu raja Mesir memanggil bidan-bidan itu dan bertanya kepada mereka, 「Mengapakah kamu berbuat demikian, membiarkan hidup bayi-bayi itu?」 19 Jawab bidan-bidan itu kepada Firaun, 「Sebab perempuan Ibrani tidak sama dengan perempuan Mesir; mereka itu kuat-kuat. Sebelum bidan datang, mereka telah bersalin.」
20 Allah berbuat baik kepada bidan-bidan itu; bangsa itu bertambah banyaklah dan menjadi sangat kuat. 21 Karena bidan-bidan itu takut akan Allah, Ia membuat mereka berumah tangga.
Hari ini kita akan mulai merenungkan tentang tokoh penting lainnya, Musa, dan belajar darinya. Hari ini dan besok kita akan melihat situasi seperti apa yang dialami Musa.
「Inilah nama anak-anak Israel yang datang ke Mesir bersama Yakub; mereka datang dengan keluarganya masing-masing… Jumlah seluruhnya tujuh puluh jiwa, yang dilahirkan bagi Yakub, sedangkan Yusuf telah berada di Mesir. Kemudian meninggallah Yusuf, serta semua saudaranya dan seluruh generasi itu. Orang-orang Israel beranak cucu dan tak terbilang jumlahnya. Mereka bertambah banyak dan dengan dahsyat berlipat ganda sehingga negeri itu dipenuhi mereka」 (Kel. 1:1, 5-7)
Kitab Keluaran dalam bahasa Ibrani dimulai (וְ vav) secara literal berarti 「selanjutnya」, yang merupakan kelanjutan dari akhir Kitab Kejadian: 「Kemudian matilah Yusuf, berumur seratus sepuluh tahun. Mayatnya dirempah-rempahi, dan ditaruh dalam peti mati di Mesir.」 Dengan demikian, kita dapat melihat dengan jelas hubungan antara masa lalu dan masa depan. Dimulai dengan Yusuf, orang Israel tinggal di Mesir selama sekitar empat ratus tahun. Allah memberkati mereka dengan sangat dan membuat mereka berbuah dan berkembang biak, diperkirakan jumlah orang melebihi dua juta!
「Kemudian muncullah seorang raja baru memerintah tanah Mesir, yang tidak mengenal Yusuf. Raja itu berkata kepada rakyatnya, 『Bangsa Israel itu lebih banyak dan lebih kuat daripada kita. Marilah kita bertindak cerdik terhadap mereka, supaya mereka jangan bertambah banyak lagi, dan apabila terjadi peperangan, jangan-jangan mereka bersekutu dengan musuh kita dan memerangi kita, lalu pergi dari negeri ini.』」 (Kel. 1:8-10)
Karena mendapatkan berkat dari Allah, orang Israel 「beranak cucu dan bertambah banyak jumlahnya, dan menjadi sangat kuat, dan memenuhi negeri itu,」 dan orang Mesir mulai takut kepada mereka. Firaun yang telah mengenal Yusuf dan mendapat manfaat darinya telah pergi, dan Firaun yang baru tidak mau mengingat kontribusi Yusuf di masa lalu, tetapi malah menganggap teman sebagai musuh.
Jika kita menilik kembali sejarah 100 tahun terakhir, kita menemukan bahwa banyak negara mengecualikan kelompok etnis asing. Misalnya, banyak negara mendiskriminasi orang Tionghoa dan memberlakukan undang-undang yang menentang orang Tionghoa; orang Serbia menjadi sasaran pembersihan etnis; Nazi Jerman menerapkan kebijakan 「pembersihan orang Yahudi」; dan selama Perang Yugoslavia, genosida terjadi di Bosnia dan Kosovo! Tindakan brutal yang dilakukan manusia demi tujuan diri mereka sendiri sungguh mengejutkan dan menyedihkan.
Pada waktu itu, raja Mesir menggunakan tiga dekrit kerajaan, yang mewakili tiga strategi, untuk menindas orang Israel.
「Sebab itu, pengawas-pengawas kerja paksa diangkat untuk menindas mereka dengan kerja paksa. Mereka harus mendirikan bagi Firaun kota-kota perbekalan, yakni Pitom dan Ra’amses. Tetapi, semakin ditindas, mereka semakin bertambah banyak dan berkembang pesat, sehingga orang merasa takut kepada orang Israel itu. Lalu dengan kejam orang Mesir memaksa orang Israel bekerja, dan membuat hidup mereka pahit oleh pekerjaan yang berat, yaitu mengerjakan tanah liat dan batu bata, dan berbagai pekerjaan di padang. Segala pekerjaan itu dengan kejam dipaksakan orang Mesir kepada mereka」 (Kel. 1:11-14)
Pelajaran 1: penderitaan manusia tidak sebesar perlindungan Allah
Keputusan raja yang pertama adalah menindas orang Israel dengan perbudakan. Orang Israel yang dulu membantu orang Mesir kini menjadi budak. Di satu sisi, orang Mesir membutuhkan orang Israel sebagai pekerja budak; di sisi lain, mereka takut orang Israel akan menjadi lebih kuat, sehingga mereka semakin menindas orang Israel. Namun, penindasan yang dilakukan orang-orang tidak sebesar perlindungan Allah, tetapi malah membuat mereka semakin berkembang pesat.
Strategi pertama tidak efektif, sehingga raja Mesir menggunakan dekrit kerajaan kedua 「Pembunuhan Bayi」: 「Raja Mesir juga memerintahkan kepada bidan-bidan Ibrani, seorang bernama Sifra dan yang lain bernama Pua, katanya: 『Apabila kamu menolong perempuan Ibrani pada waktu bersalin, kamu harus memperhatikan jenis kelamin anak itu: Jika anak laki-laki, kamu harus membunuhnya, tetapi jika anak perempuan, biarkan ia hidup.』」 (Kel. 1:15-16)
Raja Mesir memerintahkan dua kepala bidan untuk membunuh bayi orang Israel. Bayi laki-laki dibunuh, sedangkan bayi perempuan dibiarkan hidup untuk dijadikan selir atau budak orang Mesir. Tujuannya adalah untuk menyingkirkan keturunan Israel dan mencapai tujuan pembersihan etnis kronis.
「Tetapi, bidan-bidan itu takut akan Allah dan tidak melakukan seperti yang dikatakan raja Mesir kepada mereka, sehingga membiarkan bayi-bayi itu hidup」 (Kel. 1:17)
Pelajaran 2: Ada orang-orang kepunyaan Allah di zaman kegelapan
Bahkan di zaman kegelapan, Allah tetap menunjukkan kehendak-Nya melalui mereka yang takut kepada-Nya — kedua bidan yang takut kepada Allah ini. Mereka lebih takut kepada Allah daripada kepada manusia, dan dengan berani menentang perintah raja, mempertaruhkan nyawa mereka untuk melindungi nyawa bayi laki-laki Israel. Semangat takut kepada Allah dan keberanian ini patut dipelajari! Ketika kita menghadapi perintah yang tidak adil, kita harus memilih untuk mengikuti Allah atau mengikuti manusia. Siapakah raja kita?
「Lalu raja Mesir memanggil bidan-bidan itu dan bertanya kepada mereka, 『Mengapakah kamu berbuat demikian, membiarkan hidup bayi-bayi itu?』 Jawab bidan-bidan itu kepada Firaun, 『Sebab perempuan Ibrani tidak sama dengan perempuan Mesir; mereka itu kuat-kuat. Sebelum bidan datang, mereka telah bersalin.』」 (Kel. 1:18-19)
Pelajaran 3: Tahu kapan harus mengatakan apa
Raja Mesir menemukan sesuatu yang aneh dan memanggil bidan untuk mencari tahu apa yang sedang terjadi. Sebagai orang Kristen, kita tentu tidak boleh berbohong, tetapi bagaimana seharusnya kita menanggapi ketika berhadapan dengan seorang pembunuh yang sangat jahat? Apakah raja Mesir yang sangat menentang kebenaran ini pantas mendapatkan tanggapan yang benar? Haruskah bidan itu setia kepada Allah dan menyelamatkan nyawa, atau setia kepada raja Mesir dan membunuh nyawa? Bidan itu memilih untuk setia kepada Allah. Jika itu Anda, bagaimana Anda akan menanggapinya? Oleh karena itu, dalam keadaan khusus tertentu, tahu kapan harus mengatakan apa.
Allah berkenan dengan tindakan para bidan tersebut, 「Allah berbuat baik kepada bidan-bidan itu; bangsa itu bertambah banyaklah dan menjadi sangat kuat. Karena bidan-bidan itu takut akan Allah, Ia membuat mereka berumah tangga」 (Kel. 1:20-21)
Strategi kedua nyata tidak efektif! Besok kita akan melanjutkan dengan dekrit ketiga raja Mesir.
Apakah raja Mesir telah mengambil jalan yang salah? Bukankah ia akan menerima lebih banyak berkat dari Allah jika ia menunjukkan kebaikan kepada orang Israel?
Refleksi:
1. Apa yang diajarkan perikop ini kepada saya?
2. Ketika saya melihat orang saling menyakiti, apakah saya melihat perlindungan Allah di balik itu?
3. Ketika saya melihat kegelapan dan ketidakadilan, seperti di tempat kerja, di masyarakat, atau dalam keluarga saya, apakah saya berdiri sebagai seorang hamba Allah?
4. Bagaimana saya tahu kapan harus mengatakan sesuatu? Dalam situasi khusus tahu sebaiknya mengatakan apa?
Renungan pemahaman Kitab Kejadian – Keluaran
Renungan pemahaman Kitab Kejadian
Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain
Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Kejadian – Keluaran ditulis oleh Rev. Dr. Chén Chuán Huá (陳傳華) yang dipublikasi pada bulan Juni 2025 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).
Renungan untuk Kalangan Kristen.