「Kalau manusia mati, dapatkah ia hidup lagi?」
Oleh Lu Zhuo An (呂焯安)
Alliance Bible Seminary H.K.
(Ayub 13:20-14:22 [ITB])
13:20 Hanya janganlah Kaulakukan terhadap aku dua hal ini, maka aku tidak akan bersembunyi terhadap Engkau:21 jauhkanlah kiranya tangan-Mu dari padaku, dan kegentaran terhadap Engkau janganlah menimpa aku!
22 Panggillah, maka aku akan menjawab; atau aku berbicara, dan Engkau menjawab.23 Berapa besar kesalahan dan dosaku? Beritahukanlah kepadaku pelanggaran dan dosaku itu.
24 Mengapa Engkau menyembunyikan wajah-Mu, dan menganggap aku sebagai musuh-Mu?
25 Apakah Engkau hendak menggentarkan daun yang ditiupkan angin, dan mengejar jerami yang kering?
26 Sebab Engkau menulis hal-hal yang pahit terhadap aku dan menghukum aku karena kesalahan pada masa mudaku;27 kakiku Kaumasukkan ke dalam pasung, segala tindak tandukku Kauawasi, dan rintangan Kaupasang di depan tapak kakiku?
28 Dan semuanya itu terhadap orang yang sudah rapuh seperti kayu lapuk, seperti kain yang dimakan gegat!」
14:1 「Manusia yang lahir dari perempuan, singkat umurnya dan penuh kegelisahan.2 Seperti bunga ia berkembang, lalu layu, seperti bayang-bayang ia hilang lenyap dan tidak dapat bertahan.
3 Masakan Engkau menujukan pandangan-Mu kepada orang seperti itu, dan menghadapkan kepada-Mu untuk diadili?
4 Siapa dapat mendatangkan yang tahir dari yang najis? Seorangpun tidak!
5 Jikalau hari-harinya sudah pasti, dan jumlah bulannya sudah tentu pada-Mu, dan batas-batasnya sudah Kautetapkan, sehingga tidak dapat dilangkahinya,6 hendaklah Kaualihkan pandangan-Mu dari padanya, agar ia beristirahat, sehingga ia seperti orang upahan dapat menikmati harinya.
7 Karena bagi pohon masih ada harapan: apabila ditebang, ia bertunas kembali, dan tunasnya tidak berhenti tumbuh.8 Apabila akarnya menjadi tua di dalam tanah, dan tunggulnya mati di dalam debu,9 maka bersemilah ia, setelah diciumnya air, dan dikeluarkannyalah ranting seperti semai.
10 Tetapi bila manusia mati, maka tidak berdayalah ia, bila orang binasa, di manakah ia?11 Seperti air menguap dari dalam tasik, dan sungai surut dan menjadi kering,12 demikian juga manusia berbaring dan tidak bangkit lagi, sampai langit hilang lenyap, mereka tidak terjaga, dan tidak bangun dari tidurnya.
13 Ah, kiranya Engkau menyembunyikan aku di dalam dunia orang mati, melindungi aku, sampai murka-Mu surut; dan menetapkan waktu bagiku, kemudian mengingat aku pula!
14 Kalau manusia mati, dapatkah ia hidup lagi? Maka aku akan menaruh harap selama hari-hari pergumulanku, sampai tiba giliranku;15 maka Engkau akan memanggil, dan akupun akan menyahut; Engkau akan rindu kepada buatan tangan-Mu.
16 Sungguhpun Engkau menghitung langkahku, Engkau tidak akan memperhatikan dosaku;17 pelanggaranku akan dimasukkan di dalam pundi-pundi yang dimeteraikan, dan kesalahanku akan Kaututup dengan lepa.
18 Tetapi seperti gunung runtuh berantakan, dan gunung batu bergeser dari tempatnya,19 seperti batu-batu dikikis air, dan bumi dihanyutkan tanahnya oleh hujan lebat, demikianlah Kauhancurkan harapan manusia.20 Engkau menggagahi dia untuk selama-lamanya, maka pergilah ia, Engkau mengubah wajahnya dan menyuruh dia pergi.
21 Anak-anaknya menjadi mulia, tetapi ia tidak tahu; atau mereka menjadi hina, tetapi ia tidak menyadarinya.
22 Hanya tubuhnya membuat dirinya menderita, dan karena dirinya sendiri jiwanya berduka cita.」
Ayat Kunci: 「Ah, kiranya Engkau menyembunyikan aku di dalam dunia orang mati, melindungi aku, sampai murka-Mu surut; dan menetapkan waktu bagiku, kemudian mengingat aku pula!」 (Ayub 14:13)
Perikop hari ini melanjutkan tanggapan Ayub yang pertama terhadap Zofar. Faktanya, objek pembicaraan telah berubah dari ketiga sahabat itu menjadi terhadap Allah (13:20-14:22). Sama seperti dia menanggapi Elifas (7:12-21) dan Bildad (9:28-33; 10:2-19), Ayub juga mempunyai perkataan yang ingin diucapkan kepada Allah ketika menanggapi Zofar (13:20-14:22).
Dia pertama kali menyampaikan kasusnya kepada Allah (13:20-28). Perhatikan bahwa mulai ayat 21, kata ganti orang yang digunakan telah diubah dari 「kamu sekalian (jamak)」 menjadi 「Engkau.」 Hal ini jelas menunjukkan bahwa objek dialog Ayub telah beralih dari ketiga sahabatnya kepada Allah. Saat menceritakan penderitaannya sendiri, Ayub tetap teguh mengharapkan jawaban Allah (13:22).
Pasal 14 merupakan ratapan sedih yang mencerminkan keputusasaan yang dirasakan Ayub; di dalamnya, Ayub meratapi singkatnya hidup (ayat 1-6), akhir dari kematian (ayat 7-17), dan tiadanya harapan (ayat18-22). 「Manusia yang lahir dari perempuan」 mencerminkan kelemahan laki-laki, karena perempuan yang melahirkannya juga lemah (ayat 1). Ayat 4 「Siapa dapat mendatangkan yang tahir dari yang najis? Seorangpun tidak!」 Artinya tanpa anugerah yang disediakan oleh Allah, siapakah yang mampu menyucikan yang najis? (lihat 9:30-31; 25:4). Umur manusia memang ditentukan oleh Allah (ayat 5 「Jikalau hari-harinya sudah pasti, dan jumlah bulannya sudah tentu pada-Mu, dan batas-batasnya sudah Kautetapkan, sehingga tidak dapat dilangkahinya」). Pohon yang tumbang masih bisa tumbuh, tetapi manusia musnah jika ia mati, Ayub saat ini merasa itu tidak adil bagi dia (ayat 7-10).
Sebagaimana disebutkan sebelumnya mengenai situasi setelah kematian, Ayub tidak mendapat wahyu khusus mengenai hal ini. Ia percaya adanya kehidupan setelah kematian (ayat 13 「kiranya Engkau menyembunyikan aku di dalam dunia orang mati, melindungi aku, sampai murka-Mu surut …」), tetapi ia tidak mengetahui tentang kebangkitan setelah kematian (ayat 12). Ia hanya berharap setelah mati ia mendapat kesempatan untuk berdiri di hadapan Allah (ayat 14) dan menerima jawaban-jawaban yang ia harapkan semasa hidupnya. Belakangan, Allah menyingkapkan bahwa baik orang benar maupun orang tidak benar suatu hari nanti akan berdiri di hadapan Allah. Orang mati akan dibangkitkan terlebih dahulu (Ibrani 9:27). Meski Ayub tidak bisa memastikan, tetapi dia yakin akan ada peluang seperti itu (ayat 16). Karena menurutnya akhir seperti itu masuk akal. Ketika dia akhirnya berdiri di hadapan Allah, Ayub yakin bahwa dia akan mampu menjernihkan semua tuduhan palsu terhadap dirinya.
Beberapa ayat terakhir (ayat 18-22) menggambarkan keputusasaan Ayub. Tampaknya dia hanya melihat sedikit perubahan atau campur tangan ilahi dalam sisa hidupnya. Hanya ada satu hal yang pasti: kematian.
Renungkan:
Dari pernyataan Ayub tentang Allah, mari kita mencoba memahami perasaannya. Sekarang mari nyatakan di hadapan Allah apa yang tidak Anda pahami dan apakah ada yang Anda tidak puas di dalam hati.
Renungan pemahaman Kitab Ayub
Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain
Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Ayub ditulis oleh Lu Zhuo An (呂焯安) yang dipublikasi pada bulan Oktober 2015 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).
Renungan untuk Kalangan Kristen.