Tag Archives: Kitab Ayub

Ayub 13:20-14:22

Kalau manusia mati, dapatkah ia hidup lagi?」

Oleh Lu Zhuo An (呂焯安)
Alliance Bible Seminary H.K.

(Ayub 13:20-14:22 [ITB])
13:20 Hanya janganlah Kaulakukan terhadap aku dua hal ini, maka aku tidak akan bersembunyi terhadap Engkau:21 jauhkanlah kiranya tangan-Mu dari padaku, dan kegentaran terhadap Engkau janganlah menimpa aku!
22 Panggillah, maka aku akan menjawab; atau aku berbicara, dan Engkau menjawab.23 Berapa besar kesalahan dan dosaku? Beritahukanlah kepadaku pelanggaran dan dosaku itu.
24 Mengapa Engkau menyembunyikan wajah-Mu, dan menganggap aku sebagai musuh-Mu?
25 Apakah Engkau hendak menggentarkan daun yang ditiupkan angin, dan mengejar jerami yang kering?
26 Sebab Engkau menulis hal-hal yang pahit terhadap aku dan menghukum aku karena kesalahan pada masa mudaku;27 kakiku Kaumasukkan ke dalam pasung, segala tindak tandukku Kauawasi, dan rintangan Kaupasang di depan tapak kakiku?
28 Dan semuanya itu terhadap orang yang sudah rapuh seperti kayu lapuk, seperti kain yang dimakan gegat!

14:1 Manusia yang lahir dari perempuan, singkat umurnya dan penuh kegelisahan.2 Seperti bunga ia berkembang, lalu layu, seperti bayang-bayang ia hilang lenyap dan tidak dapat bertahan.
3 Masakan Engkau menujukan pandangan-Mu kepada orang seperti itu, dan menghadapkan kepada-Mu untuk diadili?
4 Siapa dapat mendatangkan yang tahir dari yang najis? Seorangpun tidak!
5 Jikalau hari-harinya sudah pasti, dan jumlah bulannya sudah tentu pada-Mu, dan batas-batasnya sudah Kautetapkan, sehingga tidak dapat dilangkahinya,6 hendaklah Kaualihkan pandangan-Mu dari padanya, agar ia beristirahat, sehingga ia seperti orang upahan dapat menikmati harinya.
7 Karena bagi pohon masih ada harapan: apabila ditebang, ia bertunas kembali, dan tunasnya tidak berhenti tumbuh.8 Apabila akarnya menjadi tua di dalam tanah, dan tunggulnya mati di dalam debu,9 maka bersemilah ia, setelah diciumnya air, dan dikeluarkannyalah ranting seperti semai.
10 Tetapi bila manusia mati, maka tidak berdayalah ia, bila orang binasa, di manakah ia?11 Seperti air menguap dari dalam tasik, dan sungai surut dan menjadi kering,12 demikian juga manusia berbaring dan tidak bangkit lagi, sampai langit hilang lenyap, mereka tidak terjaga, dan tidak bangun dari tidurnya.
13 Ah, kiranya Engkau menyembunyikan aku di dalam dunia orang mati, melindungi aku, sampai murka-Mu surut; dan menetapkan waktu bagiku, kemudian mengingat aku pula!
14 Kalau manusia mati, dapatkah ia hidup lagi? Maka aku akan menaruh harap selama hari-hari pergumulanku, sampai tiba giliranku;15 maka Engkau akan memanggil, dan akupun akan menyahut; Engkau akan rindu kepada buatan tangan-Mu.
16 Sungguhpun Engkau menghitung langkahku, Engkau tidak akan memperhatikan dosaku;17 pelanggaranku akan dimasukkan di dalam pundi-pundi yang dimeteraikan, dan kesalahanku akan Kaututup dengan lepa.
18 Tetapi seperti gunung runtuh berantakan, dan gunung batu bergeser dari tempatnya,19 seperti batu-batu dikikis air, dan bumi dihanyutkan tanahnya oleh hujan lebat, demikianlah Kauhancurkan harapan manusia.20 Engkau menggagahi dia untuk selama-lamanya, maka pergilah ia, Engkau mengubah wajahnya dan menyuruh dia pergi.
21 Anak-anaknya menjadi mulia, tetapi ia tidak tahu; atau mereka menjadi hina, tetapi ia tidak menyadarinya.
22 Hanya tubuhnya membuat dirinya menderita, dan karena dirinya sendiri jiwanya berduka cita.

Ayat Kunci: Ah, kiranya Engkau menyembunyikan aku di dalam dunia orang mati, melindungi aku, sampai murka-Mu surut; dan menetapkan waktu bagiku, kemudian mengingat aku pula! (Ayub 14:13)

Perikop hari ini melanjutkan tanggapan Ayub yang pertama terhadap Zofar. Faktanya, objek pembicaraan telah berubah dari ketiga sahabat itu menjadi terhadap Allah (13:20-14:22). Sama seperti dia menanggapi Elifas (7:12-21) dan Bildad (9:28-33; 10:2-19), Ayub juga mempunyai perkataan yang ingin diucapkan kepada Allah ketika menanggapi Zofar (13:20-14:22).

Dia pertama kali menyampaikan kasusnya kepada Allah (13:20-28). Perhatikan bahwa mulai ayat 21, kata ganti orang yang digunakan telah diubah dari kamu sekalian (jamak) menjadi Engkau. Hal ini jelas menunjukkan bahwa objek dialog Ayub telah beralih dari ketiga sahabatnya kepada Allah. Saat menceritakan penderitaannya sendiri, Ayub tetap teguh mengharapkan jawaban Allah (13:22).

Pasal 14 merupakan ratapan sedih yang mencerminkan keputusasaan yang dirasakan Ayub; di dalamnya, Ayub meratapi singkatnya hidup (ayat 1-6), akhir dari kematian (ayat 7-17), dan tiadanya harapan (ayat18-22). Manusia yang lahir dari perempuan mencerminkan kelemahan laki-laki, karena perempuan yang melahirkannya juga lemah (ayat 1). Ayat 4 Siapa dapat mendatangkan yang tahir dari yang najis? Seorangpun tidak! Artinya tanpa anugerah yang disediakan oleh Allah, siapakah yang mampu menyucikan yang najis? (lihat 9:30-31; 25:4). Umur manusia memang ditentukan oleh Allah (ayat 5 Jikalau hari-harinya sudah pasti, dan jumlah bulannya sudah tentu pada-Mu, dan batas-batasnya sudah Kautetapkan, sehingga tidak dapat dilangkahinya). Pohon yang tumbang masih bisa tumbuh, tetapi manusia musnah jika ia mati, Ayub saat ini merasa itu tidak adil bagi dia (ayat 7-10).

Sebagaimana disebutkan sebelumnya mengenai situasi setelah kematian, Ayub tidak mendapat wahyu khusus mengenai hal ini. Ia percaya adanya kehidupan setelah kematian (ayat 13 kiranya Engkau menyembunyikan aku di dalam dunia orang mati, melindungi aku, sampai murka-Mu surut …), tetapi ia tidak mengetahui tentang kebangkitan setelah kematian (ayat 12). Ia hanya berharap setelah mati ia mendapat kesempatan untuk berdiri di hadapan Allah (ayat 14) dan menerima jawaban-jawaban yang ia harapkan semasa hidupnya. Belakangan, Allah menyingkapkan bahwa baik orang benar maupun orang tidak benar suatu hari nanti akan berdiri di hadapan Allah. Orang mati akan dibangkitkan terlebih dahulu (Ibrani 9:27). Meski Ayub tidak bisa memastikan, tetapi dia yakin akan ada peluang seperti itu (ayat 16). Karena menurutnya akhir seperti itu masuk akal. Ketika dia akhirnya berdiri di hadapan Allah, Ayub yakin bahwa dia akan mampu menjernihkan semua tuduhan palsu terhadap dirinya.

Beberapa ayat terakhir (ayat 18-22) menggambarkan keputusasaan Ayub. Tampaknya dia hanya melihat sedikit perubahan atau campur tangan ilahi dalam sisa hidupnya. Hanya ada satu hal yang pasti: kematian.

Renungkan:
Dari pernyataan Ayub tentang Allah, mari kita mencoba memahami perasaannya. Sekarang mari nyatakan di hadapan Allah apa yang tidak Anda pahami dan apakah ada yang Anda tidak puas di dalam hati.


Renungan pemahaman Kitab Ayub

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Ayub ditulis oleh Lu Zhuo An (呂焯安) yang dipublikasi pada bulan Oktober 2015 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Ayub 12:1-13:19

Diam! Aku hendak bicara, apapun yang akan terjadi atas diriku!」

Oleh Lu Zhuo An (呂焯安)
Alliance Bible Seminary H.K.

(Ayub 12:1-13:19 [ITB])
12:1 Tetapi Ayub menjawab:
2 Memang, kamulah orang-orang itu, dan bersama-sama kamu hikmat akan mati.3 Akupun mempunyai pengertian, sama seperti kamu, aku tidak kalah dengan kamu; siapa tidak tahu hal-hal serupa itu?
4 Aku menjadi tertawaan sesamaku, aku, yang mendapat jawaban dari Allah, bila aku berseru kepada-Nya; orang yang benar dan saleh menjadi tertawaan.5 Penghinaan bagi orang yang celaka, –demikianlah pendapat orang yang hidup aman–suatu pukulan bagi orang yang tergelincir kakinya.
6 Tetapi amanlah kemah para perusak, dan tenteramlah mereka yang membangkitkan murka Allah, mereka yang hendak membawa Allah dalam tangannya.
7 Tetapi bertanyalah kepada binatang, maka engkau akan diberinya pengajaran, kepada burung di udara, maka engkau akan diberinya keterangan.8 Atau bertuturlah kepada bumi, maka engkau akan diberinya pengajaran, bahkan ikan di laut akan bercerita kepadamu.
9 Siapa di antara semuanya itu yang tidak tahu, bahwa tangan Allah yang melakukan itu;10 bahwa di dalam tangan-Nya terletak nyawa segala yang hidup dan nafas setiap manusia?11 Bukankah telinga menguji kata-kata, seperti langit-langit mencecap makanan?12 Konon hikmat ada pada orang yang tua, dan pengertian pada orang yang lanjut umurnya.
13 Tetapi pada Allahlah hikmat dan kekuatan, Dialah yang mempunyai pertimbangan dan pengertian.
14 Bila Ia membongkar, tidak ada yang dapat membangun kembali; bila Ia menangkap seseorang, tidak ada yang dapat melepaskannya.
15 Bila Ia membendung air, keringlah semuanya; bila Ia melepaskannya mengalir, maka tanah dilandanya.
16 Pada Dialah kuasa dan kemenangan, Dialah yang menguasai baik orang yang tersesat maupun orang yang menyesatkan.
17 Dia yang menggiring menteri dengan telanjang, dan para hakim dibodohkan-Nya.
18 Dia membuka belenggu yang dikenakan oleh raja-raja dan mengikat pinggang mereka dengan tali pengikat.
19 Dia yang menggiring dan menggeledah para imam, dan menggulingkan yang kokoh.
20 Dia yang membungkamkan orang-orang yang dipercaya, menjadikan para tua-tua hilang akal.
21 Dia yang mendatangkan penghinaan kepada para pemuka, dan melepaskan ikat pinggang orang kuat.
22 Dia yang menyingkapkan rahasia kegelapan, dan mendatangkan kelam pekat pada terang.
23 Dia yang membuat bangsa-bangsa bertumbuh, lalu membinasakannya, dan memperbanyak bangsa-bangsa, lalu menghalau mereka.
24 Dia menyebabkan para pemimpin dunia kehilangan akal, dan membuat mereka tersesat di padang belantara yang tidak ada jalannya.
25 Mereka meraba-raba dalam kegelapan yang tidak ada terangnya; dan Ia membuat mereka berjalan terhuyung-huyung seperti orang mabuk.

13:1 Sesungguhnya, semuanya itu telah dilihat mataku, didengar dan dipahami telingaku.2 Apa yang kamu tahu, aku juga tahu, aku tidak kalah dengan kamu.
3 Tetapi aku, aku hendak berbicara dengan Yang Mahakuasa, aku ingin membela perkaraku di hadapan Allah.
4 Sebaliknya kamulah orang yang menutupi dusta, tabib palsulah kamu sekalian.5 Sekiranya kamu menutup mulut, itu akan dianggap kebijaksanaan dari padamu.
6 Dengarkanlah pembelaanku, dan perhatikanlah bantahan bibirku.
7 Sudikah kamu berbohong untuk Allah, sudikah kamu mengucapkan dusta untuk Dia?
8 Apakah kamu mau memihak Allah, berbantah untuk membela Dia?
9 Apakah baik, kalau Ia memeriksa kamu? Dapatkah kamu menipu Dia seperti menipu manusia?
10 Kamu akan dihukum-Nya dengan keras, jikalau kamu diam-diam memihak.
11 Apakah kebesaran-Nya tidak akan mengejutkan kamu dan ketakutan kepada-Nya menimpa kamu?
12 Dalil-dalilmu adalah amsal debu, dan perisaimu perisai tanah liat.
13 Diam! Aku hendak bicara, apapun yang akan terjadi atas diriku!
14 Dagingku akan kuambil dengan gigiku, dan nyawaku akan kutatang dalam genggamku.
15 Lihatlah, Ia hendak membunuh aku, tak ada harapan bagiku, namun aku hendak membela peri lakuku di hadapan-Nya.
16 Itulah yang menyelamatkan aku; tetapi orang fasik tidak akan menghadap kepada-Nya.
17 Dengarkanlah baik-baik perkataanku, perhatikanlah keteranganku.
18 Ketahuilah, aku menyiapkan perkaraku, aku yakin, bahwa aku benar.
19 Siapa mau bersengketa dengan aku? Pada saat itu juga aku mau berdiam diri dan binasa.

Ayat Kunci: Sekiranya kamu menutup mulut, itu akan dianggap kebijaksanaan dari padamu (Ayub 13:5)

Pasal 12 sampai 14 adalah respons pertama Ayub terhadap kata-kata Zofar, kenyataannya dia menyangkal perkataan ketiga temannya dan pandangan mereka tentang Allah; dia sekali lagi menantang Allah dan meminta kematian. Bagian pertama adalah percakapan dengan teman (12:1-13:19), dan bagian berikutnya adalah doa kepada Allah (13:20-14:22). Ayub tidak setuju dengan kesimpulan teman-temannya; namun pada saat yang sama, dia tidak dapat menjelaskan mengapa Allah memperlakukannya seperti ini. Dia hanya bisa menganggap Allah tidak adil. Kita akan merenungkan bagian pertama hari ini dan bagian berikutnya besok.

Dalam ayat-ayat bacaan hari ini, Ayub membantah teman-temannya (12:1-13:19). Jelas sekali, kata-kata yang diucapkan dalam 12:2 mengandung ejekan, Memang, kamulah orang-orang itu, dan bersama-sama kamu hikmat akan mati. Teman-teman Ayub ternyata tidak sebijaksana yang mereka kira. Ayub menunjukkan bahwa apa yang mereka katakan tentang Allah hanyalah logika sederhana biasa-biasa saja (lihat 5:9-10; 8:13-19; 11:7-9). Kesimpulan yang mereka ambil tentang hubungan sebab akibat antara manusia dan Allah adalah didasarkan pada perilaku manusia – itu tidak sesuai dengan kehidupan nyata. Untuk membuktikan perkataannya maka Ayub menggunakan dirinya sendiri sebagai contoh dan fakta bahwa orang jahat yang dilihatnya makmur (12:6). Ayub menunjukkan bahwa binatang yang diciptakan juga mengetahui bahwa Allahlah yang mendatangkan bencana (12:7-9; lih. 11:12).

Ayat 12:12 mengandung unsur ironi, Konon hikmat ada pada orang yang tua, dan pengertian pada orang yang lanjut umurnya, Ayub sendiri tidak mempercayainya. Mungkin Ayub sedang bercerita tentang teman-temannya, atau bertanya, Apakah orang berusia lanjut pasti memiliki hikmat? Ayub kemudian membantah pertanyaan tersebut dengan menunjukkan bahwa hanya Allah satu-satunya Yang Maha Bijaksana (12:13). Ayub berbicara tentang perbuatan Allah dalam beberapa aspek untuk membuktikan hikmah Allah yang tidak dapat diduga. Di sisi lain, Ayub juga menunjukkan kuasa Allah dalam alam dan urusan antar bangsa (12:14-21). Perbuatan Allah dan hal-hal tentang Allah hanya dapat dipahami melalui wahyu khusus Allah, dan jalan-jalan-Nya sangat mendalam (12:22; lih. 11:7). Namun, Allah juga bisa mengambil pemahaman manusia (12:24-25). Singkat kata, jika semua argumen sahabat Ayub benar, maka sejarah akan menjadi saksi bahwa semua penguasa dan pemimpin tidak akan bisa menikmati berkat yang dijanjikan Allah (12:13-25).

Jika teman-teman Ayub ingin mengandalkan pengalaman mereka sendiri sebagai otoritas untuk membangun argumen mereka, Ayub dapat melakukan hal yang sama (13:1-2). Karena teman-teman Ayub tidak dapat menyelesaikan masalahnya, dia berpaling kepada Allah dan meminta Allah untuk berbicara kepadanya (13:3). Saat membahas ketidakmampuan sahabatnya mewakili Allah, Ayub kembali menggunakan bahasa hukum atau pengadilan (13:6-12). Bagi Ayub, tidak masuk akal jika mereka yang mengaku sebagai pembela Allah harus menggunakan argumen yang tidak adil, bias, dan benar-benar bohong. Kemudian kita melihat Allah menegur orang-orang ini (40:7-8). Mereka sama sekali tidak membela Allah, namun membela pandangan diri mereka tentang Allah. Kita harus mengambil pelajaran dari wahyu Allah ini.

Meski Ayub sempat meragukan keadilan Allah, ia tetap teguh pada keyakinannya bahwa Allah akan menghakimi ketiga sahabatnya dengan adil. Pertanyaan terbesar Ayub adalah tentang keadilan Allah. Ayub meminta teman-temannya untuk diam dan lebih mendengarkan pemaparan kasusnya kepada Allah (13:13-19; lih. 13:5-6). Ayub tahu bahwa jika dia mencoba berbicara kepada Allah, dia akan membahayakan nyawanya (13:14). Meski begitu, ia tetap berharap mendapat kesempatan mengungkapkan perasaannya di hadapan Allah (13:15). Jika Allah benar-benar membunuhnya, dia akan tetap bersedia melakukannya karena dia lebih menginginkan jawaban daripada keinginannya untuk hidup dalam penderitaan yang tidak dapat dipahami. Ayub telah mempersiapkan pembelaannya dan yakin akan memenangkan kasusnya (13:18). Dia menegaskan kembali bahwa dia tidak bersalah (13:18).

Renungkan:
Dari perkataan Ayub, apakah menurut Anda bahwa Ayub berada dalam emosi yang sedang tinggi? Masih depresi? Mintalah Allah untuk memberi kita kepekaan kapan waktu yang tepat untuk berbicara dan waktu untuk diam tidak berbicara.


Renungan pemahaman Kitab Ayub

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Ayub ditulis oleh Lu Zhuo An (呂焯安) yang dipublikasi pada bulan Oktober 2015 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Ayub 11:1-20

Jagalah hatimu tetap damai dan angkat tanganmu kepada Allah」

Oleh Lu Zhuo An (呂焯安)
Alliance Bible Seminary H.K.

(Ayub 11:1-20 [ITB])
1 Maka berbicaralah Zofar, orang Naama:
2 Apakah orang yang banyak bicara tidak harus dijawab? Apakah orang yang banyak mulut harus dibenarkan?3 Apakah orang harus diam terhadap bualmu? Dan kalau engkau mengolok-olok, apakah tidak ada yang mempermalukan engkau?
4 Katamu: Pengajaranku murni, dan aku bersih di mata-Mu.
5 Tetapi, mudah-mudahan Allah sendiri berfirman, dan membuka mulut-Nya terhadap engkau,6 dan memberitakan kepadamu rahasia hikmat, karena itu ajaib bagi pengertian. Maka engkau akan mengetahui, bahwa Allah tidak memperhitungkan bagimu sebagian dari pada kesalahanmu.
7 Dapatkah engkau memahami hakekat Allah, menyelami batas-batas kekuasaan Yang Mahakuasa?8 Tingginya seperti langit–apa yang dapat kaulakukan? Dalamnya melebihi dunia orang mati–apa yang dapat kauketahui?
9 Lebih panjang dari pada bumi ukurannya, dan lebih luas dari pada samudera.
10 Apabila Ia lewat, melakukan penangkapan, dan mengadakan pengadilan, siapa dapat menghalangi-Nya?11 Karena Ia mengenal penipu dan melihat kejahatan tanpa mengamat-amatinya.
12 Jikalau orang dungu dapat mengerti, maka anak keledai liarpun dapat lahir sebagai manusia.
13 Jikalau engkau ini menyediakan hatimu, dan menadahkan tanganmu kepada-Nya;14 jikalau engkau menjauhkan kejahatan dalam tanganmu, dan tidak membiarkan kecurangan ada dalam kemahmu,15 maka sesungguhnya, engkau dapat mengangkat mukamu tanpa cela, dan engkau akan berdiri teguh dan tidak akan takut,16 bahkan engkau akan melupakan kesusahanmu, hanya teringat kepadanya seperti kepada air yang telah mengalir lalu.
17 Kehidupanmu akan menjadi lebih cemerlang dari pada siang hari, kegelapan akan menjadi terang seperti pagi hari.18 Engkau akan merasa aman, sebab ada harapan, dan sesudah memeriksa kiri kanan, engkau akan pergi tidur dengan tenteram;19 engkau akan berbaring tidur dengan tidak diganggu, dan banyak orang akan mengambil muka kepadamu.
20 Tetapi mata orang fasik akan menjadi rabun, mereka tidak dapat melarikan diri lagi; yang masih diharapkan mereka hanyalah menghembuskan nafas.

Ayat Kunci: Engkau akan merasa aman, sebab ada harapan, dan sesudah memeriksa kiri kanan, engkau akan pergi tidur dengan tenteram (Ayub 11:18)

Pasal ini mencatat pidato pertama Zofar, orang Naama. Dia pada dasarnya tergerak oleh apa yang dikatakan Ayub. Pidatonya sangat agresif. Dibandingkan Elifas dan Bildad, ia lebih menyakiti Ayub. Dia terlebih dahulu mencela Ayub (11:1-6), antara lain: Ayub banyak bicara (ayat 2), kesombongan Ayub (ayat 3), sikap Ayub yang merasa benar sendiri (ayat 4), dan kebodohan Ayub (ayat 5). Ayat 5-6 penuh dengan konotasi yang mengejek; Zofar percaya bahwa Allah telah memperlakukan Ayub dengan baik dan dia pantas mendapatkan hukuman yang lebih dari yang sekarang ini.

Selanjutnya, Zofar memuji hikmat Allah (11:7-12). Elifas dan Bildad terutama berbicara tentang kebenaran dan keadilan Allah; Zofar meninggikan hikmat-Nya. Ia menjelaskan bahwa hikmat Allah melampaui pemahaman. Ayat 12 mengatakan bahwa lebih sulit orang yang bebal (orang yang hampa dan bodoh) belajar hikmat dibandingkan keledai yang bodoh melahirkan seekor anak keledai. Bagi Zofar, Ayub sangat bodoh karena dia gagal memahami kebenaran yang diucapkan Elifas dan Bildad.

Terakhir, Zofar menegur Ayub (11:13-20). Ia menasihati Ayub untuk bertobat (ayat 13), berdoa (ayat 13), dan bertobat (ayat 14). Jika Ayub mengikuti nasihatnya, maka Ayub akan mampu memulihkan keadaannya semula. Zofar juga membahas buah-buah baik yang akan dialami Ayub setelah pertobatannya, antara lain: hati nurani yang bersih, kesetiaan, dan keberanian (ayat 15); perdamaian, popularitas, kepemimpinan (ayat 19), dll.

Seperti Bildad, pidato pertama Zofar diakhiri dengan peringatan keras (ayat 20; lih. 8:22).

Pada pidato putaran pertama, Elifas berdasarkan pengalaman pribadi, sedangkan Bildad berdasarkan tradisi. Lalu Zofar sepertinya berdasarkan intuisi (20:1-5) dan pemahaman. Zofar percaya pada hukum sebab-akibat terutama karena ini adalah logika sederhana yang lebih mudah diterima, dan dia yakin hukum itu benar. Pidatonya merupakan pidato yang paling emosional di antara ketiganya, dengan analisis yang kurang rasional.

Renungkan:
Menurut Anda apakah mungkin untuk menyeimbangkan emosi dan rasionalitas ketika membantu seseorang yang kesusahan? Tuliskan apa yang menurut Anda dapat membantu seseorang mengendalikan emosi.


Renungan pemahaman Kitab Ayub

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Ayub ditulis oleh Lu Zhuo An (呂焯安) yang dipublikasi pada bulan Oktober 2015 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Ayub 9:1-10:22

Mungkinkah seorang manusia benar di hadapan Allah? Bagaimana seseorang bisa menjadi orang benar di hadapan Allah?」

Oleh Lu Zhuo An (呂焯安)
Alliance Bible Seminary H.K.

(Ayub 9:1-10:22 [ITB])
9:1 Tetapi Ayub menjawab:
2 Sungguh, aku tahu, bahwa demikianlah halnya, masakan manusia benar di hadapan Allah?
3 Jikalau ia ingin beperkara dengan Allah satu dari seribu kali ia tidak dapat membantah-Nya.
4 Allah itu bijak dan kuat, siapakah dapat berkeras melawan Dia, dan tetap selamat?
5 Dialah yang memindahkan gunung-gunung dengan tidak diketahui orang, yang membongkar-bangkirkannya dalam murka-Nya;6 yang menggeserkan bumi dari tempatnya, sehingga tiangnya bergoyang-goyang;7 yang memberi perintah kepada matahari, sehingga tidak terbit, dan mengurung bintang-bintang dengan meterai;8 yang seorang diri membentangkan langit, dan melangkah di atas gelombang-gelombang laut;9 yang menjadikan bintang Biduk, bintang Belantik, bintang Kartika, dan gugusan-gugusan bintang Ruang Selatan;10 yang melakukan perbuatan-perbuatan besar yang tidak terduga, dan keajaiban-keajaiban yang tidak terbilang banyaknya.
11 Apabila Ia melewati aku, aku tidak melihat-Nya, dan bila Ia lalu, aku tidak mengetahui.
12 Apabila Ia merampas, siapa akan menghalangi-Nya? Siapa akan menegur-Nya: Apa yang Kaulakukan?
13 Allah tidak menahani murka-Nya, di bawah kuasa-Nya para pembantu Rahab membungkuk;14 lebih-lebih aku, bagaimana aku dapat membantah Dia, memilih kata-kataku di hadapan Dia?
15 Walaupun aku benar, aku tidak mungkin membantah Dia, malah aku harus memohon belas kasihan kepada yang mendakwa aku.
16 Bila aku berseru, Ia menjawab; aku tidak dapat percaya, bahwa Ia sudi mendengarkan suaraku;17 Dialah yang meremukkan aku dalam angin ribut, yang memperbanyak lukaku dengan tidak semena-mena,18 yang tidak membiarkan aku bernafas, tetapi mengenyangkan aku dengan kepahitan.
19 Jika mengenai kekuatan tenaga, Dialah yang mempunyai! Jika mengenai keadilan, siapa dapat menggugat Dia?
20 Sekalipun aku benar, mulutku sendiri akan menyatakan aku tidak benar; sekalipun aku tidak bersalah, Ia akan menyatakan aku bersalah.21 Aku tidak bersalah! Aku tidak pedulikan diriku, aku tidak hiraukan hidupku!22 Semuanya itu sama saja, itulah sebabnya aku berkata: yang tidak bersalah dan yang bersalah kedua-duanya dibinasakan-Nya.
23 Bila cemeti-Nya membunuh dengan tiba-tiba, Ia mengolok-olok keputusasaan orang yang tidak bersalah.
24 Bumi telah diserahkan ke dalam tangan orang fasik, dan mata para hakimnya telah ditutup-Nya; kalau bukan oleh Dia, oleh siapa lagi?
25 Hari-hariku berlalu lebih cepat dari pada seorang pelari, lenyap tanpa melihat bahagia,26 meluncur lewat laksana perahu dari pandan, seperti rajawali yang menyambar mangsanya.
27 Bila aku berpikir: Aku hendak melupakan keluh kesahku, mengubah air mukaku, dan bergembira,28 maka takutlah aku kepada segala kesusahanku; aku tahu, bahwa Engkau tidak akan menganggap aku tidak bersalah.
29 Aku dinyatakan bersalah, apa gunanya aku menyusahkan diri dengan sia-sia?
30 Walaupun aku membasuh diriku dengan salju dan mencuci tanganku dengan sabun,31 namun Engkau akan membenamkan aku dalam lumpur, sehingga pakaianku merasa jijik terhadap aku.
32 Karena Dia bukan manusia seperti aku, sehingga aku dapat menjawab-Nya: Mari bersama-sama menghadap pengadilan.33 Tidak ada wasit di antara kami, yang dapat memegang kami berdua!
34 Biarlah Ia menyingkirkan pentung-Nya dari padaku, jangan aku ditimpa kegentaran terhadap Dia,35 maka aku akan berbicara tanpa rasa takut terhadap Dia, karena aku tidak menyadari kesalahanku.

10:1 Aku telah bosan hidup, aku hendak melampiaskan keluhanku, aku hendak berbicara dalam kepahitan jiwaku.
2 Aku akan berkata kepada Allah: Jangan mempersalahkan aku; beritahukanlah aku, mengapa Engkau beperkara dengan aku.3 Apakah untungnya bagi-Mu mengadakan penindasan, membuang hasil jerih payah tangan-Mu, sedangkan Engkau mendukung rancangan orang fasik?
4 Apakah Engkau mempunyai mata badani? Samakah penglihatan-Mu dengan penglihatan manusia?5 Apakah hari-hari-Mu seperti hari-hari manusia, tahun-tahun-Mu seperti hari-hari orang laki-laki,6 sehingga Engkau mencari-cari kesalahanku, dan mengusut dosaku,7 padahal Engkau tahu, bahwa aku tidak bersalah, dan bahwa tiada seorangpun dapat memberi kelepasan dari tangan-Mu?
8 Tangan-Mulah yang membentuk dan membuat aku, tetapi kemudian Engkau berpaling dan hendak membinasakan aku?9 Ingatlah, bahwa Engkau yang membuat aku dari tanah liat, tetapi Engkau hendak menjadikan aku debu kembali?10 Bukankah Engkau yang mencurahkan aku seperti air susu, dan mengentalkan aku seperti keju?11 Engkau mengenakan kulit dan daging kepadaku, serta menjalin aku dengan tulang dan urat.
12 Hidup dan kasih setia Kaukaruniakan kepadaku, dan pemeliharaan-Mu menjaga nyawaku.
13 Tetapi inilah yang Kausembunyikan di dalam hati-Mu; aku tahu, bahwa inilah maksud-Mu:14 kalau aku berbuat dosa, maka Engkau akan mengawasi aku, dan Engkau tidak akan membebaskan aku dari pada kesalahanku.
15 Kalau aku bersalah, celakalah aku! dan kalau aku benar, aku takkan berani mengangkat kepalaku, karena kenyang dengan penghinaan, dan karena melihat sengsaraku.16 Kalau aku mengangkat kepalaku, maka seperti singa Engkau akan memburu aku, dan menunjukkan kembali kuasa-Mu yang ajaib kepadaku.17 Engkau akan mengajukan saksi-saksi baru terhadap aku, –Engkau memperbesar kegeraman-Mu terhadap aku–dan pasukan-pasukan baru, bahkan bala tentara melawan aku.
18 Mengapa Engkau menyebabkan aku keluar dari kandungan? Lebih baik aku binasa, sebelum orang melihat aku!19 Maka aku seolah-olah tidak pernah ada; dari kandungan ibu aku langsung dibawa ke kubur.
20 Bukankah hari-hari umurku hanya sedikit? Biarkanlah aku, supaya aku dapat bergembira sejenak,21 sebelum aku pergi, dan tidak kembali lagi, ke negeri yang gelap dan kelam pekat,22 ke negeri yang gelap gulita, tempat yang kelam pekat dan kacau balau, di mana cahaya terang serupa dengan kegelapan.

Ayat Kunci: Sekalipun aku benar, mulutku sendiri akan menyatakan aku tidak benar; sekalipun aku tidak bersalah, Ia akan menyatakan aku bersalah (Ayub 9:20)

Perikop hari ini (pasal 9-10) adalah tanggapan pertama Ayub terhadap perkataan Bildad. Ayub memulai tanggapannya terhadap Bildad dengan mengakui bahwa sebagian besar perkataan temannya itu benar (ayat 2). Namun dia segera beralih ke pertanyaan yang diajukan Elifas kepadanya sebelumnya (4:17 『Mungkinkah seorang manusia benar di hadapan Allah, mungkinkah seseorang tahir di hadapan Penciptanya?』). Pertanyaan ini rupanya membekas dalam benak Ayub. Bagi Ayub, Allah tampak seperti Allah yang otoriter dan berubah-ubah. Bagaimana seseorang bisa menjadi orang benar di hadapan Allah yang demikian? Karena Allah adalah pribadi seperti itu, bagaimana manusia bisa menang dalam konfrontasi pengadilan dengan Allah (lihat 40:1-5; 42:2).

Karena alasan-alasan berikut ini, Ayub percaya bahwa dia tidak dapat mengalahkan Allah. (1) Allah itu Maha Besar (9:1-12) – Karena Allah itu maha kuasa, kalau kamu berdebat dengan-Nya, kamu tidak akan mampu menjawab-Nya. (2) Allah bersifat otokratis (9:13-24) — karena Dia membinasakan baik yang sempurna maupun yang jahat. (3) Allah itu tidak adil (9:25-35) – apapun yang terjadi, Dia tetap menganggap manusia bersalah.

Pada zaman dahulu, Rahab (ayat 13) merupakan gambaran monster laut yang misterius dan simbol kejahatan. Monster ini, bersama dengan monster yang diterjemahkan sebagai ikan besar di 7:12 (ITB menerjemahkan sebagai naga), keduanya berperan penting dalam mitos penciptaan beberapa bangsa di Timur Dekat, termasuk bangsa Mesopotamia dan Kanaan. Orang Israel terkadang menggambarkan Mesir sebagai Rahab (lihat 26:12; Mazmur 87:4; 89:10; Yesaya 30:7; 51:9), karena dia memiliki banyak kemiripan dengan monster ini.

Ayub sampai pada kesimpulan bahwa tidak menjadi masalah apakah dia bersalah atau tidak karena Allah membinasakan yang saleh (seperti dirinya) maupun yang jahat (ayat 22). Selain itu, fakta bahwa orang-orang yang tidak bersalah meninggal mendadak akibat bencana juga menunjukkan ketidakadilan Allah (ayat 23). Ayub ingin menunjukkan bahwa argumen teman-temannya salah. Ayub tidak hanya melihat pengalaman pribadi saja, melihat ke sekeliling, bukankah fakta bahwa orang benar menderita dan orang fasik makmur (ayat 24), bukankah membuktikan apa yang ia katakan? Singkatnya, Ayub berpikir bahwa Allah bertekad untuk berurusan dengannya, jadi sekeras apa pun dia berusaha membuktikan bahwa dia tidak bersalah, itu sia-sia. Rasa frustrasi yang diungkapkan Ayub dalam ayat 30-35 dapat dimengerti; karena Allah adalah penasihat hukum dan hakim dirinya, ia tampak sangat tidak berdaya. Oleh karena itu, Ayub merindukan sosok netral yang mampu mengatasi pergumulannya dengan Allah. Di Timur Dekat kuno, usulan wasit yang netral dapat diterima atau ditolak oleh kedua belah pihak (lihat 13:7-12; 16:18-21). Ayub sepertinya putus asa untuk mendapatkan keadilan dari Allah. Ia hanya berharap agar Allah tetap berbelas kasih kepadanya (ayat 34).

Konsep Ayub tentang Allah mulai kacau karena apa yang Allah lakukan tidak sesuai dengan pemahamannya yang terbatas tentang Allah. Kita juga akan mengalami masalah ini. Kita harus belajar untuk menegakkan konsep kita tentang Allah melalui wahyu Alkitab. Karena hanya wahyu Alkitab yang dapat memberikan kita pandangan yang paling lengkap dan seimbang tentang Allah, dibandingkan hanya mengandalkan pengalaman kita yang terbatas dan pribadi.

Pasal 10 adalah doa lain (lih. 7:7-21), yang merupakan tantangan Ayub kepada Allah: Tunjukkan padaku … mengapa … (ayat 2) (Harap perhatikan ungkapan dalam ayat ini, seolah-olah dalam pengadilan. Dalam ayat 7, Ayub sekali lagi menyatakan dirinya tidak bersalah.) Ayub terheran-heran karena Allah mencurahkan begitu banyak pemikiran dan perhatian padanya sejak dalam kandungan hingga pertumbuhannya hanya untuk membinasakan dia (ayat 8-17; bandingkan ayat 11 dengan Mazmur 139:13 Sebab Engkaulah yang membentuk buah pinggangku, menenun aku dalam kandungan ibuku). Dalam ayat 18-22, Ayub kembali mengungkapkan keinginannya untuk mati (lihat pasal 3; 6:8-9). Ia tidak banyak bicara tentang kehidupan setelah kematian. Baginya, kematian membuka pintu menuju kegelapan dan negeri bayang-bayang kematian (ayat 21-22); namun Ayub melihatnya lebih baik daripada hidup dalam kesakitan. Sejauh ini, kita telah melihat bahwa setiap kali Ayub berbicara, ia menyebutkan kematian dan kegelapan (3:21-22; 7:21; 10:21-22). Dia benar-benar orang yang hancur.

Renungkan:
Bayangkan jika Anda berada dalam situasi Ayub, apakah Anda akan memandang Allah seperti Ayub? Menurut Anda apa yang dapat Anda lakukan agar tidak terjerumus ke dalam pola pikir Ayub?


Renungan pemahaman Kitab Ayub

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Ayub ditulis oleh Lu Zhuo An (呂焯安) yang dipublikasi pada bulan Oktober 2015 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Ayub 8:1-22

Allah tidak akan pernah meninggalkan orang yang saleh!」

Oleh Lu Zhuo An (呂焯安)
Alliance Bible Seminary H.K.

(Ayub 8:1-22 [ITB])
1 Maka berbicaralah Bildad, orang Suah:
2 Berapa lamakah lagi engkau akan berbicara begitu, dan perkataan mulutmu seperti angin yang menderu?
3 Masakan Allah membengkokkan keadilan? Masakan Yang Mahakuasa membengkokkan kebenaran?4 Jikalau anak-anakmu telah berbuat dosa terhadap Dia, maka Ia telah membiarkan mereka dikuasai oleh pelanggaran mereka.
5 Tetapi engkau, kalau engkau mencari Allah, dan memohon belas kasihan dari Yang Mahakuasa,6 kalau engkau bersih dan jujur, maka tentu Ia akan bangkit demi engkau dan Ia akan memulihkan rumah yang adalah hakmu.
7 Maka kedudukanmu yang dahulu akan kelihatan hina, tetapi kedudukanmu yang kemudian akan menjadi sangat mulia.
8 Bertanya-tanyalah tentang orang-orang zaman dahulu, dan perhatikanlah apa yang diselidiki para nenek moyang.
9 Sebab kita, anak-anak kemarin, tidak mengetahui apa-apa; karena hari-hari kita seperti bayang-bayang di bumi.
10 Bukankah mereka yang harus mengajari engkau dan yang harus berbicara kepadamu, dan melahirkan kata-kata dari akal budi mereka?
11 Dapatkah pandan bertumbuh tinggi, kalau tidak di rawa, atau mensiang bertumbuh subur, kalau tidak di air?12 Sementara dalam pertumbuhan, sebelum waktunya disabit, layulah ia lebih dahulu dari pada rumput lain.
13 Demikianlah pengalaman semua orang yang melupakan Allah; maka lenyaplah harapan orang fasik,14 yang andalannya seperti benang laba-laba, kepercayaannya seperti sarang laba-laba.15 Ia bersandar pada rumahnya, tetapi rumahnya itu tidak tetap tegak, ia menjadikannya tempat berpegang, tetapi rumah itu tidak tahan.
16 Ia seperti tumbuh-tumbuhan yang masih segar di panas matahari, sulurnya menjulur di seluruh taman.17 Akar-akarnya membelit timbunan batu, menyusup ke dalam sela-sela batu itu.18 Tetapi bila ia dicabut dari tempatnya, maka tempatnya itu tidak mengakuinya lagi, katanya: Belum pernah aku melihat engkau!19 Demikianlah kesukaan hidupnya, dan tumbuh-tumbuhan lain timbul dari tanah.
20 Ketahuilah, Allah tidak menolak orang yang saleh, dan Ia tidak memegang tangan orang yang berbuat jahat.21 Ia masih akan membuat mulutmu tertawa dan bibirmu bersorak-sorak.22 Pembencimu akan terselubung dengan malu, dan kemah orang fasik akan tidak ada lagi.

Ayat Kunci: Masakan Allah membengkokkan keadilan? Masakan Yang Mahakuasa membengkokkan kebenaran? (Ayub 8:3)

Pasal 8 mencatat pidato pertama Bildad. Dia pada dasarnya setuju dengan Elifas: Allah membiarkan penderitaan menimpa Ayub karena dosanya, dan percaya bahwa selama Ayub mau mengakui dosanya maka dia akan menerima kasih karunia Allah lagi. Argumen Bildad agak berbeda dengan argumen Elifas. Argumen Elifas didasarkan pada pengalaman dan pengamatan pribadi (4:8, 12:21); Bildad mengutip beberapa sumber yang lebih dapat diandalkan — yaitu, tradisi yang telah diwariskan selama berabad-abad turun-temurun (ayat 8-10).

Kata-kata pembuka Bildad berbeda dengan kata-kata Elifas. Elifas lebih lembut dan tidak langsung; Bildad tidak sabar dan terus terang. Ia menekankan keadilan Allah (ayat 1-7). Ia menuduh Ayub berbicara dengan sombong (ayat 2 Berapa lamakah lagi engkau akan berbicara begitu, dan perkataan mulutmu seperti angin yang menderu?) dan ia percaya bahwa kematian anak-anak Ayub adalah kesalahannya sendiri (ayat 4 Jikalau anak-anakmu telah berbuat dosa terhadap Dia, maka Ia telah membiarkan mereka dikuasai oleh pelanggaran mereka). Maksudnya adalah: Jika Ayub tidak berbuat dosa, lalu Allah membiarkan dia mengalami bencana seperti itu, maka Allah tidak adil — tetapi ini tidak mungkin. Karena Allah pasti benar, jadi masalahnya pasti ada pada Ayub. Jelas sekali, seperti Elifas, dia percaya bahwa semua penderitaan disebabkan oleh dosa. Dia kemudian menjelaskan bahwa pandangannya didasarkan pada pengalaman selama berabad-abad dan oleh karena itu sangat berotoritas (ayat 8-10). Namun sayang sekali, banyak aliran sesat yang mempunyai sejarah panjang dan mendalam. Oleh karena itu, argumen ini tidak cukup kuat untuk dikagumi.

Bildad kemudian menggunakan beberapa metafora untuk menunjukkan kefasikan Ayub (ayat 11-19). Gambaran tumbuhan pandan (ayat 11-13) menunjukkan sudut pandang Bildad bahwa Ayub telah meninggalkan Allah, sumber berkat (lih. 1:1, 8); sarang laba-laba (ayat 14-15) menunjukkan bahwa Ayub bersandar pada semua yang dimilikinya, bukan pada Allah; adapun daun-daun di taman (ayat 16-19), Ayub diibaratkan seperti rumput liar yang dicabut akarnya dan pada akhirnya akan digantikan oleh orang lain.

Bildad mengakhiri pidatonya (ayat 20-22) dengan mengingatkan Ayub bahwa Allah setia dan berharap dapat membawa Ayub kepada pertobatan. Jika Ayub benar-benar bertobat, Bildad meyakinkannya bahwa Allah akan memulihkannya dan dia masih memiliki kemungkinan untuk diberkati.

Meski Bildad tampak lebih rendah hati dibandingkan Elifas, ucapannya tidak menggugah Ayub. Argumennya sangat berbeda dengan pengalaman Ayub. Orang-orang seperti Bildad, yang berpegang teguh pada tradisi dan tidak mau mengevaluasi kembali argumen mereka dengan cara yang baru, tidak mampu membantu mereka yang mempunyai masalah. Kita harus selalu berpikiran terbuka. Mengingat terang dan bukti baru, kita dan apa yang kita ikuti, mungkin saja salah. Kiranya kita selalu rendah hati, memiliki hati yang terbuka.

Renungkan:
Apakah menurut Anda ada batasan dalam menggunakan pengalaman tradisional untuk membantu orang menghadapi kesulitan? Tulislah tentang hal-hal dari pengalaman pribadi yang dapat membantu seseorang menghadapi situasi sulit.


Renungan pemahaman Kitab Ayub

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Ayub ditulis oleh Lu Zhuo An (呂焯安) yang dipublikasi pada bulan Oktober 2015 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Ayub 6:1-7:21

Kesesakan jiwaku … kepedihan hatiku」

Oleh Lu Zhuo An (呂焯安)
Alliance Bible Seminary H.K.

(Ayub 6:1-7:21 [ITB])
1 Lalu Ayub menjawab:
2 Ah, hendaklah kiranya kekesalan hatiku ditimbang, dan kemalanganku ditaruh bersama-sama di atas neraca!3 Maka beratnya akan melebihi pasir di laut; oleh sebab itu tergesa-gesalah perkataanku.
4 Karena anak panah dari Yang Mahakuasa tertancap pada tubuhku, dan racunnya diisap oleh jiwaku; kedahsyatan Allah seperti pasukan melawan aku.
5 Meringkikkah keledai liar di tempat rumput muda, atau melenguhkah lembu dekat makanannya?6 Dapatkah makanan tawar dimakan tanpa garam atau apakah putih telur ada rasanya?7 Aku tidak sudi menjamahnya, semuanya itu makanan yang memualkan bagiku.
8 Ah, kiranya terkabul permintaanku dan Allah memberi apa yang kuharapkan!9 Kiranya Allah berkenan meremukkan aku, kiranya Ia melepaskan tangan-Nya dan menghabisi nyawaku!10 Itulah yang masih merupakan hiburan bagiku, bahkan aku akan melompat-lompat kegirangan di waktu kepedihan yang tak kenal belas kasihan, sebab aku tidak pernah menyangkal firman Yang Mahakudus.
11 Apakah kekuatanku, sehingga aku sanggup bertahan, dan apakah masa depanku, sehingga aku harus bersabar?12 Apakah kekuatanku seperti kekuatan batu? Apakah tubuhku dari tembaga?13 Bukankah tidak ada lagi pertolongan bagiku, dan keselamatan jauh dari padaku?
14 Siapa menahan kasih sayang terhadap sesamanya, melalaikan takut akan Yang Mahakuasa.
15 Saudara-saudaraku tidak dapat dipercaya seperti sungai, seperti dasar dari pada sungai yang mengalir lenyap,16 yang keruh karena air beku, yang di dalamnya salju menjadi cair,17 yang surut pada musim kemarau, dan menjadi kering di tempatnya apabila kena panas;18 berkeluk-keluk jalan arusnya, mengalir ke padang tandus, lalu lenyap.
19 Kafilah dari Tema mengamat-amatinya dan rombongan dari Syeba mengharapkannya,20 tetapi mereka kecewa karena keyakinan mereka, mereka tertipu setibanya di sana.21 Demikianlah kamu sekarang bagiku, ketika melihat yang dahsyat, takutlah kamu.
22 Pernahkah aku berkata: Berilah aku sesuatu, atau: Berilah aku uang suap dari hartamu,23 atau: Luputkan aku dari tangan musuh, atau: Tebuslah aku dari tangan orang lalim?
24 Ajarilah aku, maka aku akan diam; dan tunjukkan kepadaku dalam hal apa aku tersesat.25 Alangkah kokohnya kata-kata yang jujur! Tetapi apakah maksud celaan dari pihakmu itu?26 Apakah kamu bermaksud mencela perkataan? Apakah perkataan orang yang putus asa dianggap angin?27 Bahkan atas anak yatim kamu membuang undi, dan sahabatmu kamu perlakukan sebagai barang dagangan.
28 Tetapi sekarang, berpalinglah kepadaku; aku tidak akan berdusta di hadapanmu.29 Berbaliklah, janganlah terjadi kecurangan, berbaliklah, aku pasti benar.
30 Apakah ada kecurangan pada lidahku? Apakah langit-langitku tidak dapat membeda-bedakan bencana?

7:1 Bukankah manusia harus bergumul di bumi, dan hari-harinya seperti hari-hari orang upahan?2 Seperti kepada seorang budak yang merindukan naungan, seperti kepada orang upahan yang menanti-nantikan upahnya,3 demikianlah dibagikan kepadaku bulan-bulan yang sia-sia, dan ditentukan kepadaku malam-malam penuh kesusahan.
4 Bila aku pergi tidur, maka pikirku: Bilakah aku akan bangun? Tetapi malam merentang panjang, dan aku dicekam oleh gelisah sampai dinihari.5 Berenga dan abu menutupi tubuhku, kulitku menjadi keras, lalu pecah.
6 Hari-hariku berlalu lebih cepat dari pada torak, dan berakhir tanpa harapan.
7 Ingatlah, bahwa hidupku hanya hembusan nafas; mataku tidak akan lagi melihat yang baik.8 Orang yang memandang aku, tidak akan melihat aku lagi, sementara Engkau memandang aku, aku tidak ada lagi.
9 Sebagaimana awan lenyap dan melayang hilang, demikian juga orang yang turun ke dalam dunia orang mati tidak akan muncul kembali.10 Ia tidak lagi kembali ke rumahnya, dan tidak dikenal lagi oleh tempat tinggalnya.
11 Oleh sebab itu akupun tidak akan menahan mulutku, aku akan berbicara dalam kesesakan jiwaku, mengeluh dalam kepedihan hatiku.
12 Apakah aku ini laut atau naga, sehingga Engkau menempatkan penjaga terhadap aku?
13 Apabila aku berpikir: Tempat tidurku akan memberi aku penghiburan, dan tempat pembaringanku akan meringankan keluh kesahku,14 maka Engkau mengagetkan aku dengan impian dan mengejutkan aku dengan khayal,15 sehingga aku lebih suka dicekik dan mati dari pada menanggung kesusahanku.
16 Aku jemu, aku tidak mau hidup untuk selama-lamanya. Biarkanlah aku, karena hari-hariku hanya seperti hembusan nafas saja.
17 Apakah gerangan manusia, sehingga dia Kauanggap agung, dan Kauperhatikan,18 dan Kaudatangi setiap pagi, dan Kauuji setiap saat?
19 Bilakah Engkau mengalihkan pandangan-Mu dari padaku, dan membiarkan aku, sehingga aku sempat menelan ludahku?
20 Kalau aku berbuat dosa, apakah yang telah kulakukan terhadap Engkau, ya Penjaga manusia? Mengapa Engkau menjadikan aku sasaran-Mu, sehingga aku menjadi beban bagi diriku?21 Dan mengapa Engkau tidak mengampuni pelanggaranku, dan tidak menghapuskan kesalahanku? Karena sekarang aku terbaring dalam debu, lalu Engkau akan mencari aku, tetapi aku tidak akan ada lagi.

Ayat Kunci: Apakah gerangan manusia, sehingga dia Kauanggap agung, dan Kauperhatikan (Ayub 7:17)

Perikop hari ini (pasal 6-7) adalah tanggapan pertama Ayub terhadap perkataan Elifas.
Pada mulanya Ayub tidak menjawab Elifas secara langsung, namun memprotes keadaan dirinya. Ayub berkata bahwa dia sangat kesal sehingga dia memprotes (6:1-7). Ayub percaya bahwa penderitaannya lebih berat daripada pasir di laut (ayat 2-3); ia percaya bahwa segala kemalangan yang dialaminya berasal dari Allah. Allah yang dia kenal di masa lalu sama sekali tidak sesuai dengan Allah yang dia alami sekarang. Jika tidak ada kesempatan atau hak untuk memprotes, hal ini tidak dapat diterima, dan orang akan menolak makanan tanpa garam (ayat 6-7). Sebaliknya, Ayub berkata bahwa dirinya sangat tertekan dan rela mati (6:8-13). Ayub berharap agar Allah melenyapkannya agar ia dapat terbebas dari penderitaannya (ayat 9). Ia yakin bahwa dirinya setia pada Firman Allah (ayat 10), ia menyimpulkan bahwa ia sudah tidak berdaya dan putus asa.

Kemudian, dia menanggapi ucapan Elifas, namun ditujukan kepada tiga temannya sekaligus (6:24-30 kamu sekalian).
Pertama, Ayub mengungkapkan kekecewaannya terhadap teman-temannya (6:14-23). Teman-teman Ayub seharusnya menghibur dan menyemangati dia ketika dia menghadapi krisis kemungkinan meninggalkan Allah. Namun, mereka bukan saja gagal melakukannya, bahkan mereka juga membuat penilaian gegabah sehingga dengan sia-sia menambah penderitaan Ayub. Kini mereka seperti aliran air (ayat 15), tidak mampu menolong orang lain. Oleh karena itu, Ayub mengimbau teman-temannya (6:24-30), meminta mereka untuk menunjukkan dengan jelas dosa apa yang telah ia lakukan dan hukuman apa yang harus ia terima karenanya. Hal ini hanya disampaikan tersirat saja dalam pidato Elifas, tetapi Ayub ingin mendengar penjabaran yang jelas dan pasti, jika tidak maka dia tidak akan puas.

Selanjutnya, pada bagian protes ini (7:1-6, lihat pasal 3), Ayub mengulangi penderitaan yang ia alami. Ayub membandingkan dirinya dengan seorang budak atau pekerja upahan, dan menganggap dirinya lebih buruk daripada mereka. Torak (puntalan tenun) dan harapan pada ayat 6 adalah kata yang sama dalam bahasa aslinya. Ayub menyatakan bahwa harapannya telah hilang, seperti alat penenun yang kehabisan benang. Meski begitu, Ayub tidak berpaling dari Allah dalam situasi penderitaan yang sulit, ia tetap berdoa kepada Allah (7:7-21). Ayub selalu mengutamakan Allah dan berusaha semaksimal mungkin untuk berbicara dengan Allah (lihat Mazmur 16:8). Inilah yang membuat Ayub pada akhirnya tetap terjaga dan tidak menyerah bahkan dalam situasi ekstrem sulit ini, dan itu juga yang menjadi sumber motivasi serta kekuatannya. Kita sering melihat ketika orang meninggalkan Allah dalam situasi sulit, sehingga akibatnya kehidupan rohani mereka akan terjerumus mengalami kesulitan besar.

Ayub yakin dia akan segera mati. Namun di sini, dia tidak meminta kematian seperti sebelumnya (3:20-22). Perubahan seperti itu mungkin merupakan hasil dari berpaling kepada Allah dan berdoa kepada-Nya. Dunia orang mati (ayat 9) mengacu pada kuburan dalam Perjanjian Lama. Orang-orang pada zaman tersebut percaya bahwa ini adalah tempat di mana jiwa beristirahat setelah kematian. Detailnya adalah sebuah misteri. Dalam doa ini, Ayub memprotes Allah karena tidak membiarkan dia mati begitu saja. Dia percaya bahwa Allah tidak punya alasan untuk menempatkan dia dalam kesulitan ini. Allah tidak memberinya waktu istirahat (ayat 19). Jika dia berbuat dosa, dia meminta Allah menunjukkan dosanya (ayat 20, 6:24). Ayub yakin bahwa ia tidak melakukan kejahatan apa pun sehingga pantas menerima penderitaan seperti itu (ayat 21).

Beberapa orang takut mengungkapkan perasaannya kepada Allah. Namun, Ayub tidak menyembunyikan apa pun. Meskipun ia yakin bahwa Allah memperlakukannya dengan tidak adil, ia tetap bersedia membiarkan Allah mengoreksinya. Doa protes ini bisa menjadi teladan bagi kita. Allah memahami pikiran Ayub dengan sangat baik, dan Dia tidak marah kepada Ayub karena perkataannya yang tulus.

Cara yang dipakai Elifas, bukan hanya gagal menghibur Ayub, namun justru menambah dukacitanya. Oleh karena itu, tanggapan Ayub menunjukkan ketidaksenangannya. Berdasarkan pengalamannya sendiri, Elifas menganggap dirinya mampu memiliki pengetahuan supernatural. Ia bersikeras menjebak Ayub dalam teori hukum sebab-akibat, memperlakukannya sebagai orang yang telah melakukan dosa besar. Ayub tidak menghargai perkataan Elifas. Dahulu Ayub sendiri pernah menganut pandangan Elifas, namun kini ia tahu bahwa teori tersebut tidak selalu benar dalam semua situasi kondisi.

Renungkan:
Ketika Ayub sedang melalui hari-hari yang sulit, dia sangat berusaha untuk berbicara dengan Allah. Mengapa? Tuliskan apa (jika ada) yang Anda protes kepada Allah dalam hidup Anda saat ini, dan kemudian sampaikan kepada Allah.


Renungan pemahaman Kitab Ayub

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Ayub ditulis oleh Lu Zhuo An (呂焯安) yang dipublikasi pada bulan Oktober 2015 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Ayub 4:1-5:27

Janganlah engkau menolak didikan Yang Mahakuasa!」

Oleh Lu Zhuo An (呂焯安)
Alliance Bible Seminary H.K.

(Ayub 4:1-5:27 [ITB])
4:1 Maka berbicaralah Elifas, orang Teman:
2 Kesalkah engkau, bila orang mencoba berbicara kepadamu? Tetapi siapakah dapat tetap menutup mulutnya?3 Sesungguhnya, engkau telah mengajar banyak orang, dan tangan yang lemah telah engkau kuatkan;4 orang yang jatuh telah dibangunkan oleh kata-katamu, dan lutut yang lemas telah kaukokohkan;5 tetapi sekarang, dirimu yang tertimpa, dan engkau kesal, dirimu terkena, dan engkau terkejut.
6 Bukankah takutmu akan Allah yang menjadi sandaranmu, dan kesalehan hidupmu menjadi pengharapanmu?
7 Camkanlah ini: 『siapa binasa dengan tidak bersalah dan di manakah orang yang jujur dipunahkan?』
8 Yang telah kulihat ialah bahwa orang yang membajak kejahatan dan menabur kesusahan, ia menuainya juga.9 Mereka binasa oleh nafas Allah, dan lenyap oleh hembusan hidung-Nya.
10 Singa mengaum, singa meraung–patahlah gigi singa-singa muda.11 Singa binasa karena kekurangan mangsa, dan anak-anak singa betina bercerai-berai.
12 Suatu perkataan telah disampaikan kepadaku dengan diam-diam dan telingaku menangkap bisikannya,13 waktu bermenung oleh sebab khayal malam, ketika tidur nyenyak menghinggapi orang.14 Aku terkejut dan gentar, sehingga tulang-tulangku gemetar.15 Suatu roh melewati aku, tegaklah bulu romaku.16 Ia berhenti, tetapi rupanya tidak dapat kukenal. Suatu sosok ada di depan mataku, suara berbisik-bisik kudengar: 『17 Mungkinkah seorang manusia benar di hadapan Allah, mungkinkah seseorang tahir di hadapan Penciptanya?』
18 Sesungguhnya, hamba-hamba-Nya tidak dipercayai-Nya, malaikat-malaikat-Nyap didapati-Nya tersesat,19 lebih-lebih lagi mereka yang diam dalam pondok tanah liat, yang dasarnya dalam debu, yang mati terpijat seperti gegat.
20 Di antara pagi dan petang mereka dihancurkan, dan tanpa dihiraukan mereka binasa untuk selama-lamanya.
21 Bukankah kemah mereka dicabut? Mereka mati, tetapi tanpa hikmat.

5:1 Berserulah–adakah orang yang menjawab engkau? Dan kepada siapa di antara orang-orang yang kudus engkau akan berpaling?
2 Sesungguhnya, orang bodoh dibunuh oleh sakit hati, dan orang bebal dimatikan oleh iri hati.
3 Aku sendiri pernah melihat orang bodoh berakar, tetapi serta-merta kukutuki tempat kediamannya.
4 Anak-anaknya selalu tidak tertolong, mereka diinjak-injak di pintu gerbang tanpa ada orang yang melepaskannya.
5 Apa yang dituainya, dimakan habis oleh orang yang lapar, bahkan dirampas dari tengah-tengah duri, dan orang-orang yang dahaga mengingini kekayaannya.
6 Karena bukan dari debu terbit bencana dan bukan dari tanah tumbuh kesusahan;7 melainkan manusia menimbulkan kesusahan bagi dirinya, seperti bunga api berjolak tinggi.
8 Tetapi aku, tentu aku akan mencari Allah, dan kepada Allah aku akan mengadukan perkaraku.
9 Ia melakukan perbuatan-perbuatan yang besar dan yang tak terduga, serta keajaiban-keajaiban yang tak terbilang banyaknya;10 Ia memberi hujan ke atas muka bumi dan menjatuhkan air ke atas ladang;11 Ia menempatkan orang yang hina pada derajat yang tinggi dan orang yang berdukacita mendapat pertolongan yang kuat;
12 Ia menggagalkan rancangan orang cerdik, sehingga usaha tangan mereka tidak berhasil;13 Ia menangkap orang berhikmat dalam kecerdikannya sendiri, sehingga rancangan orang yang belat-belit digagalkan.
14 Pada siang hari mereka tertimpa gelap, dan pada tengah hari mereka meraba-raba seperti pada waktu malam.
15 Tetapi Ia menyelamatkan orang-orang miskin dari kedahsyatan mulut mereka, dan dari tangan orang yang kuat.
16 Demikianlah ada harapan bagi orang kecil, dan kecurangan tutup mulut.
17 Sesungguhnya, berbahagialah manusia yang ditegur Allah; sebab itu janganlah engkau menolak didikan Yang Mahakuasa.18 Karena Dialah yang melukai, tetapi juga yang membebat; Dia yang memukuli, tetapi yang tangan-Nya menyembuhkan pula.
19 Dari enam macam kesesakan engkau diluputkan-Nya dan dalam tujuh macam engkau tidak kena malapetaka.
20 Pada masa kelaparan engkau dibebaskan-Nya dari maut, dan pada masa perang dari kuasa pedang.
21 Dari cemeti lidah engkau terlindung, dan engkau tidak usah takut, bila kemusnahan datang.
22 Kemusnahan dan kelaparan akan kautertawakan dan binatang liar tidak akan kautakuti.
23 Karena antara engkau dan batu-batu di padang akan ada perjanjian, dan binatang liar akan berdamai dengan engkau.
24 Engkau akan mengalami, bahwa kemahmu aman dan apabila engkau memeriksa tempat kediamanmu, engkau tidak akan kehilangan apa-apa.
25 Engkau akan mengalami, bahwa keturunanmu menjadi banyak dan bahwa anak cucumu seperti rumput di tanah.
26 Dalam usia tinggi engkau akan turun ke dalam kubur, seperti berkas gandum dibawa masuk pada waktunya.
27 Sesungguhnya, semuanya itu telah kami selidiki, memang demikianlah adanya; dengarkanlah dan camkanlah itu!

Ayat Kunci: Tetapi aku, tentu aku akan mencari Allah, dan kepada Allah aku akan mengadukan perkaraku(5:8)

Latar belakang perikop Kitab Suci:
Di antara dua solilokui Ayub (pasal 3 dan pasal 29-31, solilokui adalah monolog pembicaraan yang dilakukan dengan diri sendiri dan menyampaikan curahan hati dan keluhan dengan berbicara seorang diri), terdapat tiga babak perdebatan, yaitu percakapan antara Ayub dan ketiga temannya. Pada setiap kesempatan, Elifas, Bildad, dan Zofar berbicara secara bergantian, dengan diselingi tanggapan dari Ayub terhadap mereka masing-masing. Format ini sama di babak pertama dan kedua (pasal 4-14, 15-21); tetapi di babak ketiga, pidato Zofar hilang, dan sepertinya dia tidak punya apa-apa untuk dikatakan. Dalam tiga putaran babak perdebatan, teman-teman Ayub tidak mengubah pendiriannya. Mereka percaya pada teori hukum sebab akibat: Allah memberi pahala kepada orang benar dan menghukum orang berdosa. Mereka mengklaim bahwa semua penderitaan adalah hukuman. Karena Ayub menderita, dia pasti berdosa, dan mereka percaya bahwa apa yang dialami manusia adalah respons Allah terhadap perilaku manusia (lihat Yohanes 9:2). Meskipun argumen ini terkadang benar, argumen ini tidak dapat menjelaskan semua pengalaman hidup kita, seperti yang akan ditunjukkan oleh Kitab Ayub nanti.

Struktur perikop:
Pidato Elifas di pasal 4 dan 5 diungkapkan dalam struktur paralel terbalik, dengan menonjolkan poin-poin penting di paragraf tengah:
A. kalimat pembuka (4:2)
B. Kata-kata penghiburan (4:3-6)
C. Cara Allah berurusan dengan manusia (4:7-11)
D. Penyingkapan kebenaran (4:12-21)
C’ Cara Allah berurusan dengan manusia (5:1-16)
B’ Kata-kata penghiburan (5:17-26)
A’ Kesimpulan (5:27)

Penjelasan:
Pada awalnya (4:1-6), Elifas cukup sopan. Namun hal itu dengan cepat berubah menjadi kritis. Dia mengatakan bahwa Ayub pernah membantu orang lain di masa lalu, jadi mengapa dia tidak bisa ceria sekarang? Pada bagian berikutnya (4:7-11), Elifas dengan jelas mengungkapkan pandangannya tentang penderitaan dan pemahaman dasarnya tentang hubungan antara Allah dan manusia (ayat 7). Ia percaya bahwa orang baik pada akhirnya akan menang dan orang jahat pada akhirnya akan gagal. Baik Bildad maupun Zofar setuju dengan pandangan ini. Namun, seperti yang belakangan ditunjukkan oleh Ayub, pengalaman hidup tidak mendukung pandangan ini. Bagian ini juga menggambarkan argumen Elifas: apa yang ia lihat dan alami secara pribadi (ayat 8 yang telah kulihat ialah bahwa orang yang membajak kejahatan dan menabur kesusahan, ia menuainya juga). Namun, kita harus memahami bahwa pengalaman pribadi ada batasnya dan jelas tidak cukup untuk menjelaskan dan memberikan bantuan terhadap masalah besar yang dibicarakan Ayub dan ketiga temannya.

Untuk memperkuat argumennya, Elifas menyatakan bahwa ia mendapat penglihatan dari Allah (4:12-21). Namun, karena alasan berikut, kita dapat percaya bahwa penglihatan Elifas tidak datang dari Allah. Pertama-tama, dia sendiri tidak mengatakan bahwa dia menerimanya dari Allah. Umumnya, mereka yang menerima penyingkapan dari Allah akan menyatakan bahwa itu diberikan oleh Allah. Kedua, isi penyingkapan (ayat 17-21) tidak sesuai dengan apa yang telah penyingkapan Allah tentang diri-Nya dalam ayat-ayat lain dalam Alkitab; di sini roh ini tampak tidak peduli terhadap manusia. Jelas sekali, roh yang dibicarakan Elifas bukanlah Roh Kudus. Namun apa yang dia dengar masih mengandung bagian kebenaran: manusia tidak dapat menyucikan dirinya di hadapan Allah; manusia adalah makhluk fana. Namun kesalahan Elifas adalah menerapkan kata-kata ini kepada Ayub sebagai seorang yang terus-menerus berbuat dosa (bandingkan 1:1, 8; 2:3).

Berdasarkan argumen di pasal 4, Elifas menasihati Ayub (5:1-16). Walaupun perbandinga di ayat 7 『siapa binasa dengan tidak bersalah dan di manakah orang yang jujur dipunahkan?』 sampai batas tertentu ada benarnya, kesalahan Elifas adalah menggunakannya sebagai alasan penderitaan Ayub. Tentu saja kita akan mengalami kesengsaraan dalam hidup, namun belum tentu hal tersebut disebabkan oleh dosa. Teman-teman Ayub menyadari bahwa orang jahat bisa makmur untuk sementara waktu (ayat 3), namun mereka percaya bahwa Allah akan menghukum mereka karena dosa mereka sebelum mereka meninggalkan dunia ini. Yesus juga tidak setuju dengan pandangan ini (lihat Lukas 13:4 Atau sangkamu kedelapan belas orang, yang mati ditimpa menara dekat Siloam, lebih besar kesalahannya dari pada kesalahan semua orang lain yang diam di Yerusalem? ).

Penghiburan Elifas memang baik (ayat 8). Ayub memang berharap mendapat kesempatan berbicara di hadapan Allah, namun hal itu bukan karena alasan yang diasumsikan Elifas. Tentu saja penderitaan Ayub mempunyai efek penyucian dan mendorong Ayub untuk bertumbuh lebih baik. Namun, dari ayat 1:16 hingga 2:10, kita mengetahui bahwa alasan dasar mengapa Allah mengizinkan Iblis menyerang Ayub bukanlah seperti ini. Ayub bukanlah orang pertama atau terakhir yang merasa sulit merasakan kebahagiaan saat mengalami ujian dari Allah. Penghiburan Elifas tidak membuahkan hasil yang diinginkan. Elifas mengakhiri pidatonya dengan mendesak Ayub untuk bertobat (5:17-27). Allah itu maha pengasih, dan Dia pasti akan memberkati Ayub agar ia panjang umur dan sejahtera.

Dalam pidato pertama ini, Elifas mengaitkan penderitaan Ayub dengan dosanya. Ia mengidentifikasi dosa sebagai bagian dari kehidupan manusia yang mengakibatkan hukuman dan disiplin ilahi. Ia pun mengingatkan Ayub untuk bertobat dan berjanji Allah akan memberkatinya lagi. Namun asumsi Elifas bahwa Ayub dengan sengaja berdosa terhadap Allah tidaklah benar. Oleh karena itu, penghiburannya tidak efektif. Dari perkataan tersebut, hendaknya kita belajar untuk berhati-hati: hindari menilai hubungan seseorang dengan Allah hanya berdasarkan apa yang dialaminya, dari apa yang kita lihat dengan mata daging, apakah itu masa sulit atau masa baik.

Renungkan:
Mari merenungkan kembali masa lalu ketika orang lain sedang mengalami masa-masa sulit. Pernahkah Anda mencoba menasihati mereka seperti yang dilakukan Elifas? Tuliskan apa pembelajaran terbesar yang Anda dapatkan dari kata-kata Elifas?


Renungan pemahaman Kitab Ayub

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Ayub ditulis oleh Lu Zhuo An (呂焯安) yang dipublikasi pada bulan Oktober 2015 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Ayub 2:11-3:26

Lebih baik tidak dilahirkan daripada dilahirkan?」

Oleh Lu Zhuo An (呂焯安)
Alliance Bible Seminary H.K.

(Ayub 2:11-3:26 [ITB])
11 Ketika ketiga sahabat Ayub mendengar kabar tentang segala malapetaka yang menimpa dia, maka datanglah mereka dari tempatnya masing-masing, yakni: Elifas, orang Teman, dan Bildad, orang Suah, serta Zofar, orang Naama. Mereka bersepakat untuk mengucapkan belasungkawa kepadanya dan menghibur dia.12 Ketika mereka memandang dari jauh, mereka tidak mengenalnya lagi. Lalu menangislah mereka dengan suara nyaring. Mereka mengoyak jubahnya, dan menaburkan debu di kepala terhadap langit.
13 Lalu mereka duduk bersama-sama dia di tanah selama tujuh hari tujuh malam. Seorangpun tidak mengucapkan sepatah kata kepadanya, karena mereka melihat, bahwa sangat berat penderitaannya.

3:1 Sesudah itu Ayub membuka mulutnya dan mengutuki hari kelahirannya.2 Maka berbicaralah Ayub:
3 Biarlah hilang lenyap hari kelahiranku dan malam yang mengatakan: Seorang anak laki-laki telah ada dalam kandungan.
4 Biarlah hari itu menjadi kegelapan, janganlah kiranya Allah yang di atas menghiraukannya, dan janganlah cahaya terang menyinarinya.
5 Biarlah kegelapan dan kekelaman menuntut hari itu, awan-gemawan menudunginya, dan gerhana matahari mengejutkannya.6 Malam itu–biarlah dia dicekam oleh kegelapan; janganlah ia bersukaria pada hari-hari dalam setahun; janganlah ia termasuk bilangan bulan-bulan.
7 Ya, biarlah pada malam itu tidak ada yang melahirkan, dan tidak terdengar suara kegirangan.
8 Biarlah ia disumpahi oleh para pengutuk hari, oleh mereka yang pandai membangkitkan marah Lewiatan.
9 Biarlah bintang-bintang senja menjadi gelap; biarlah ia menantikan terang yang tak kunjung datang, janganlah ia melihat merekahnya fajar,10 karena tidak ditutupnya pintu kandungan ibuku, dan tidak disembunyikannya kesusahan dari mataku.
11 Mengapa aku tidak mati waktu aku lahir, atau binasa waktu aku keluar dari kandungan?
12 Mengapa pangkuan menerima aku; mengapa ada buah dada, sehingga aku dapat menyusu?
13 Jikalau tidak, aku sekarang berbaring dan tenang; aku tertidur dan mendapat istirahat14 bersama-sama raja-raja dan penasihat-penasihat di bumi, yang mendirikan kembali reruntuhan bagi dirinya,15 atau bersama-sama pembesar-pembesar yang mempunyai emas, yang memenuhi rumahnya dengan perak.
16 Atau mengapa aku tidak seperti anak gugur yang disembunyikan, seperti bayi yang tidak melihat terang?
17 Di sanalah orang fasik berhenti menimbulkan huru-hara, di sanalah mereka yang kehabisan tenaga mendapat istirahat. 18 Dan para tawanan bersama-sama menjadi tenang, mereka tidak lagi mendengar suara pengerah. 19 Di sana orang kecil dan orang besar sama, dan budak bebas dari pada tuannya.
20 Mengapa terang diberikan kepada yang bersusah-susah, dan hidup kepada yang pedih hati;21 yang menantikan maut, yang tak kunjung tiba, yang mengejarnya lebih dari pada menggali harta terpendam;22 yang bersukaria dan bersorak-sorai dan senang, bila mereka menemukan kubur;23 kepada orang laki-laki yang jalannya tersembunyi, yang dikepung Allah?
24 Karena ganti rotiku adalah keluh kesahku, dan keluhanku tercurah seperti air. 25 Karena yang kutakutkan, itulah yang menimpa aku, dan yang kucemaskan, itulah yang mendatangi aku.
26 Aku tidak mendapat ketenangan dan ketenteraman; aku tidak mendapat istirahat, tetapi kegelisahanlah yang timbul.

Ayat Kunci: Mengapa terang diberikan kepada yang bersusah-susah, dan hidup kepada yang pedih hati (Ayub 3:20)

Dalam kesedihan dan kesepian, dia dikunjungi oleh tiga sahabatnya dan Elihu. Ketika tiga sahabatnya melihat kondisi Ayub, sejenak mereka tidak bisa menerimanya. Selama tujuh hari tujuh malam, mereka hanya terdiam (2:11-13). Namun kunjungan mereka dan sikap diam mereka telah menggugah emosi Ayub. Oleh karena itu, Ayub tidak bisa lagi menahan depresinya, sehingga ia mengutuk hari kelahirannya. Ini juga membuka bagian puitis kitab Ayub dengan monolog di mana Ayub mengutuk hari lahirnya sendiri; menjadi paralel dengan monolog lain pasal 29-31, yakni yang dicatat di bagian yang mengikuti catatan percakapan Ayub dengan ketiga temannya, khususnya pasal 31, karena dalam pasal tersebut sekali lagi Ayub mengutuk dirinya sendiri. Kedua monolog tersebut bersama-sama tiga putaran dialog antara Ayub dan ketiga temannya, membentuk satu bagian yang menyatu. Tulisan berbentuk puisi berlangsung hingga 42:6, dan kemudian kitab Ayub berakhir dalam bentuk tulisan narasi.

Dengan jelas tampak bahwa berlalunya waktu tidak mengurangi kepedihan Ayub; sebaliknya, malah memperdalam kepedihannya. Di pasal 2, kata-kata Ayub menunjukkan pengendalian diri dan ketundukannya pada kedaulatan Allah. Kini menjadi gelisah, penuh katarsis emosional. Dalam pasal ini, Ayub mengungkapkan kesediaannya untuk mati daripada menerima penderitaan yang tidak masuk akal ini lebih lama lagi.

Ayub berharap ia tidak pernah dilahirkan ke dunia (3:1-10). Ia tampaknya menganggap masa pembuahan sebagai awal keberadaannya (3:3). Ayub mengungkapkan dengan berbagai cara bahwa ia menyesal karena ia masih hidup. Tampaknya, keinginan tersebut ia miliki karena ia tidak dapat memahami bagaimana sebenarnya hubungannya dengan Allah, atau tempatnya di alam semesta. Ayub mempunyai banyak pertanyaan tentang urutan penciptaan. Tampaknya ia menyadari bahwa untuk memahami hubungannya dengan Allah, dan memahami tempat dirinya dalam ciptaan, harus dimulai dengan mengetahui dan memahami penciptaan. Dalam memperjelas berbagai hubungan Ayub, baik Elihu maupun Allah banyak berbicara tentang penciptaan oleh Allah, yang menunjukkan mengapa tema penciptaan begitu banyak tersebar dalam kitab Ayub. Memahami penciptaan oleh Allah memang membantu kita memahami diri kita sendiri dan hubungan kita dengan Allah (Kejadian 1-2).

Ayub lebih suka dia mati saat ia dilahirkan (3:11-19). Ayub berpikir bahwa situasi lain yang dapat diterima adalah dia masih dilahirkan, tetapi menderita distosia dan meninggal saat lahir. Semua kegembiraan di masa lalu akan hilang, itu bisa mengimbangi penderitaan yang ia alami sekarang. Baginya, istirahat yang didapat dari kematian lebih baik daripada hidup dalam penderitaan.

Ayub berharap agar ia segera mati (3:20-26). Banyak penderitaan yang dialami Ayub bersifat rasional: dalam monolog pasal ini, ia terus bertanya mengapa? (3:11, 12, 16, 20, 23, total tujuh kali), demikian juga dalam Dialog berikutnya masih sama (7:20, 21; 9:29; 13:24; 21 4; 24:1). Hal ini mencerminkan bahwa Ayub bukanlah manusia super. Ketika ia menderita, ia tentu akan bertanya: Mengapa? Kenapa aku?

Untuk merangkum perasaan Ayub dalam monolog ini: ia rela mati, namun ia tidak mempunyai niat untuk bunuh diri. Tekanan yang ekstrem menyakitkan ini menghapus kenangan indah di masa lalu; dia begitu diselimuti kesengsaraan yang ia alami sekarang ini sehingga dia tidak bisa melihat cahaya di belakangnya. Allah kadang-kadang mengijinkan manusia mengalami penderitaan yang besar, dan kita harus berhati-hati untuk tidak menghakimi seseorang yang sedang berjalan melalui lembah bayang-bayang kematian, seperti yang akan kita lihat dilakukan oleh teman-teman Ayub.

Alkitab mengajarkan kita untuk selalu bersukacita dan mengucap syukur dalam segala hal (Efesus 5:20; Filipi 4:4; 1 Tesalonika 5:6-18). Jika kita ingin berkeluh kesah atas kesulitan yang kita hadapi, sebaiknya kita belajar dari Mazmur, karena Mazmur akan mengalihkan pandangan kita dari diri kita kembali kepada Allah. Alkitab memanggil kita untuk menanggung penderitaan dan tekun berdoa (Yakobus 5:13). Ayub dipandang sebagai contoh positif (Yakobus 5:11) karena cara dia menanggapi Allah (lihat Ayub 40:4-5; 42:1-6), bukan cara dia menanggapi kesulitan dan orang-orang yang menghibur dia. Yakobus 5:11 Sesungguhnya kami menyebut mereka berbahagia, yaitu mereka yang telah bertekun; kamu telah mendengar tentang ketekunan Ayub dan kamu telah tahu apa yang pada akhirnya disediakan Tuhan baginya, karena Tuhan maha penyayang dan penuh belas kasihan

Renungkan:
Mengingat kembali saat-saat ketika Anda dihadapkan pada situasi sulit di masa lalu, bagaimana tanggapan Anda? Bandingkan doa-doa Ayub dan tuliskan apa yang Anda pelajari dari doa-doa tersebut, yang dapat membantu Anda menghadapi situasi sulit dengan lebih baik di masa depan.


Renungan pemahaman Kitab Ayub

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Ayub ditulis oleh Lu Zhuo An (呂焯安) yang dipublikasi pada bulan Oktober 2015 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Ayub 2:1-10

Ada pintu musibah dan berkat, hanya Allah yang memegang kendali」

Oleh Lu Zhuo An (呂焯安)
Alliance Bible Seminary H.K.

(Ayub 2:1-10 [ITB])
1 Pada suatu hari datanglah anak-anak Allah menghadap TUHAN dan di antara mereka datang juga Iblis untuk menghadap TUHAN.
2 Maka bertanyalah TUHAN kepada Iblis: Dari mana engkau? Lalu jawab Iblis kepada TUHAN: Dari perjalanan mengelilingi dan menjelajah bumi.
3 Firman TUHAN kepada Iblis: Apakah engkau memperhatikan hamba-Ku Ayub? Sebab tiada seorangpun di bumi seperti dia, yang demikian saleh dan jujur, yang takut akan Allah dan menjauhi kejahatan. Ia tetap tekun dalam kesalehannya, meskipun engkau telah membujuk Aku melawan dia untuk mencelakakannya tanpa alasan.
4 Lalu jawab Iblis kepada TUHAN: Kulit ganti kulit! Orang akan memberikan segala yang dipunyainya ganti nyawanya.5 Tetapi ulurkanlah tangan-Mu dan jamahlah tulang dan dagingnya, ia pasti mengutuki Engkau di hadapan-Mu.
6 Maka firman TUHAN kepada Iblis: Nah, ia dalam kuasamu; hanya sayangkan nyawanya.
7 Kemudian Iblis pergi dari hadapan TUHAN, lalu ditimpanya Ayub dengan barah yang busuk dari telapak kakinya sampai ke batu kepalanya.8 Lalu Ayub mengambil sekeping beling untuk menggaruk-garuk badannya, sambil duduk di tengah-tengah abu.
9 Maka berkatalah isterinya kepadanya: Masih bertekunkah engkau dalam kesalehanmu? Kutukilah Allahmu dan matilah!
10 Tetapi jawab Ayub kepadanya: Engkau berbicara seperti perempuan gila! Apakah kita mau menerima yang baik dari Allah, tetapi tidak mau menerima yang buruk? Dalam kesemuanya itu Ayub tidak berbuat dosa dengan bibirnya.

Ayat Kunci: Firman TUHAN … : Apakah engkau memperhatikan hamba-Ku Ayub? … Ia tetap tekun dalam kesalehannya, … (Ayub 2:3)

Analisis struktur perikop:
I. Bertemu kembali pemandangan di langit (2:1 -7a)
A. Iblis juga datang di hadapan Allah (2:1)
B. Dialog antara TUHAN dan Iblis (2:2-6)
A’ Iblis mundur dari hadapan Allah (2:7a)
II. Ayub sekali lagi lulus ujian (2:7b-10)
A. Iblis menyerang Ayub (2:7b)
B. Sekujur tubuh Ayub dipenuhi barah yang busuk, ia menjadi najis dan diasingkan (2:7c-8)
B’ Orang terdekat yakni istri Ayub menasihati dia untuk meninggalkan Allah (2:9)
A’ Ayub tetap mempertahankan integritasnya dan teguh mengakui kedaulatan Allah (2:10)

Iblis sekali lagi menyatakan bahwa alasan Ayub masih menyembah Allah adalah karena Allah masih menjaga dan memelihara dia, kehidupan Ayub tetap utuh. Kulit ganti kulit, Ayub rela kehilangan segalanya (kulit) dalam hidupnya, termasuk anak dan harta bendanya, namun ia tetap mempertahankan kehidupan fisiknya (kulit). Inilah kelicikan Iblis. Iblis sedikitpun tidak bisa menjamah Ayub jika tanpa izin Allah. Setelah menerima izin dari Allah, maka Iblis mengambil kesehatan Ayub dan membuat dia menderita kesakitan fisik (2:7-8, 12; 3:24-25; 7:5; 9:18; 16:16; 19:17, 20; 30:17, 27, 30; 3321)。

Penyakit yang diderita Ayub juga menempatkannya pada posisi yang najis sehingga membuatnya dikucilkan oleh masyarakat. Oleh karena itu, ia harus pindah ke luar kota dan hidup di antara pengemis dan tuna wisma. Pada masa sebelumnya, Ayub duduk di gerbang kota dan mempunyai status sosial yang sangat tinggi (29:7). Penyakit Ayub mempunyai dampak lain: tindakan istrinya (2:9). Istrinya menyimpulkan bahwa Allah tidak adil terhadap Ayub — dia menjalani kehidupan yang saleh tetapi mengalami bencana yang tidak adil. Dia menyatakan bahwa hubungan antara Allah dan manusia sama dengan hubungan Ayub dan orang lain: hubungan sebab akibat. Namun dia berperilaku bodoh (tidak memiliki pemahaman rohani) (ayat 10, Engkau berbicara seperti perempuan gila! Apakah kita mau menerima yang baik dari Allah, tetapi tidak mau menerima yang buruk? ) Namun, kita tidak perlu terlalu menyalahkan kelakuan istri Ayub ini, ia kehilangan sepuluh orang anak yang telah susah payah ia besarkan, dan ia melihat suaminya menderita, ia tidak berdaya menolong dan tidak memahami alasannya. Dalam situasi kesedihan dan depresi yang ekstrem, kita mudah menjadi impulsif dan menghakimi. Tentu saja ini bukanlah sikap yang benar, tetapi inilah respons yang diharapkan Iblis dari Ayub.

Namun, hasil dari penderitaan Ayub tidak seperti yang Iblis harapkan. Di tengah kesulitan tersebut, Ayub tetap menegaskan ketaatannya atas kedaulatan Allah. Meski Ayub tidak mengerti kenapa dia berada dalam keadaan bencana seperti itu, dia tetap tidak berbuat dosa atau mengutuk Allah dengan mulutnya; meskipun tidak ada hasil yang baik tetapi dia tetap bersikeras untuk terus menyembah Allah. Tanggapan Ayub membuktikan bahwa Iblis salah (… ulurkanlah tangan-Mu dan jamahlah tulang dan dagingnya, ia pasti mengutuki Engkau di hadapan-Mu 2:5) dan juga meneguhkan firman Allah (Ia tetap tekun dalam kesalehannya, meskipun engkau telah membujuk Aku melawan dia untuk mencelakakannya tanpa alasan 2:3).

Renungkan:
Hal manakah yang paling sulit dalam hidup Anda untuk tetap menjaga kekudusan hidup saat ini? Temukan orang kepercayaan (atau pendeta gereja) untuk meminta bantuan dan dukungan dalam bidang ini.


Renungan pemahaman Kitab Ayub

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Ayub ditulis oleh Lu Zhuo An (呂焯安) yang dipublikasi pada bulan Oktober 2015 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Ayub 2:1-10 (2)

「Ada pintu musibah dan berkat, hanya Allah yang memegang kendali (2)」

Oleh Lu Zhuo An (呂焯安)
Alliance Bible Seminary H.K.

(Ayub 2:1-10 [ITB])
1 Pada suatu hari datanglah anak-anak Allah menghadap TUHAN dan di antara mereka datang juga Iblis untuk menghadap TUHAN.
2 Maka bertanyalah TUHAN kepada Iblis: Dari mana engkau? Lalu jawab Iblis kepada TUHAN: Dari perjalanan mengelilingi dan menjelajah bumi.
3 Firman TUHAN kepada Iblis: Apakah engkau memperhatikan hamba-Ku Ayub? Sebab tiada seorangpun di bumi seperti dia, yang demikian saleh dan jujur, yang takut akan Allah dan menjauhi kejahatan. Ia tetap tekun dalam kesalehannya, meskipun engkau telah membujuk Aku melawan dia untuk mencelakakannya tanpa alasan.
4 Lalu jawab Iblis kepada TUHAN: Kulit ganti kulit! Orang akan memberikan segala yang dipunyainya ganti nyawanya.5 Tetapi ulurkanlah tangan-Mu dan jamahlah tulang dan dagingnya, ia pasti mengutuki Engkau di hadapan-Mu.
6 Maka firman TUHAN kepada Iblis: Nah, ia dalam kuasamu; hanya sayangkan nyawanya.
7 Kemudian Iblis pergi dari hadapan TUHAN, lalu ditimpanya Ayub dengan barah yang busuk dari telapak kakinya sampai ke batu kepalanya.8 Lalu Ayub mengambil sekeping beling untuk menggaruk-garuk badannya, sambil duduk di tengah-tengah abu.
9 Maka berkatalah isterinya kepadanya: Masih bertekunkah engkau dalam kesalehanmu? Kutukilah Allahmu dan matilah!
10 Tetapi jawab Ayub kepadanya: Engkau berbicara seperti perempuan gila! Apakah kita mau menerima yang baik dari Allah, tetapi tidak mau menerima yang buruk? Dalam kesemuanya itu Ayub tidak berbuat dosa dengan bibirnya.

Ayat Kunci: Firman TUHAN … : Apakah engkau memperhatikan hamba-Ku Ayub? … Ia tetap tekun dalam kesalehannya, … (Ayub 2:3)

Renungan lebih lanjut tentang penderitaan yang dialami Ayub.
Lima bencana yang terjadi berturut-turut mewakili tiga kategori kerusakan yang mungkin terjadi pada siapa pun, semua dialami Ayub (dari ringan hingga parah, dari luar hingga dalam).

Yang pertama adalah semua harta yang ia miliki di dunia. Semua harta benda adalah sesuatu yang berada di luar tubuh, dan ada peluang untuk hilang dan mendapatkan kembali, dan pada saat itulah statusnya ditegaskan kembali (1:3, Apakah engkau memperhatikan hamba-Ku Ayub? Sebab tiada seorangpun di bumi seperti dia, yang demikian saleh dan jujur, yang takut akan Allah dan menjauhi kejahatan. Ia tetap tekun dalam kesalehannya, meskipun engkau telah membujuk Aku melawan dia untuk mencelakakannya tanpa alasan).

Pukulan tingkat kedua menghantam secara emosional. Dari 1:5 dan 1:20, kita dapat mengetahui bahwa kehilangan anak-anaknya merupakan pukulan telak bagi Ayub. Luka emosional tersebut tidak dapat disembuhkan, meskipun itu terjadi hanya sekali tetapi luka tersebut sangat mendalam dan permanen di masa depan, dia tidak akan bisa melupakan tragedi ini walau waktu berlalu.

Penderitaan tingkat ketiga menghantam tubuh, pikiran dan jiwa Ayub sendiri. Pertama, barah yang busuk dari telapak kakinya sampai ke batu kepalanya tersebarlah bisul ganas dari telapak kaki sampai ke kepala, dan dia mengambil sekeping beling untuk menggaruk-garuk badannya, sambil duduk di tengah-tengah abu (2:7-8). Seorang lelaki tua yang bermartabat dan terhormat tiba-tiba menderita penyakit aneh penuh bisul dan gatal-gatal, sangat menderita. Bahkan ketiga temannya memandang dari jauh, mereka tidak mengenalnya lagi (2:12) Selain rasa sakit fisik. Guncangan serangan dari istrinya: Kutukilah Allahmu dan matilah! (2:9) benar-benar menyebabkan dia sangat berat penderitaannya (2:13), ia sangat menderita secara ekstrem.

Aplikasi penting:
Dalam ujian yang dihadapi Ayub, terjadi dialog antara Iblis dan Allah. Ini memberi kita banyak pengetahuan tentang Iblis.

• Iblis bertanggung jawab kepada Allah. Ketika anak-anak Allah menghadap TUHAN dan di antara mereka datanglah juga Iblis (1:6; 2:1). Kalimat ini tidak menunjukkan bahwa anak-anak Allah mempunyai hak untuk memasuki hadirat Allah kapan saja, demikian juga Iblis tidak bisa sesuka hati datang ke hadapan Allah; melainkan, ini menunjukkan bahwa di bawah otoritas Allah, mereka harus melaporkan pekerjaan mereka di hadapan Allah secara rutin. Ini juga merupakan alasan mengapa Iblis bisa memasuki hadirat Allah, tidak diragukan ini sebenarnya merupakan pengalaman yang ekstrem sangat menakutkan bagi Iblis.

• Pikiran Iblis tidak dapat disembunyikan dari Allah. Pertanyaan Allah kepada Iblis (1:7, 8; 2:2) tidak berarti Allah tidak mengetahui apa pun isi pikiran Iblis. Alasan mengapa Allah bertanya adalah menggunakan pertanyaan-pertanyaan tersebut untuk memaksa Iblis mengakui perbuatannya. Pertanyaan Allah kepada Iblis dapat diterjemahkan seperti ini: Apakah kamu bertekad untuk memperlakukan (menangani) hamba-Ku Ayub, karena tidak ada orang seperti dia di bumi …? Iblis segera mengakui dan mengatakan itulah alasannya mengapa dia tidak dapat menyakiti Ayub, karena Allah memberi perlindungan kepada dia dan seisi rumahnya, membuat pagar sekeliling dia dan rumahnya serta segala yang dimilikinya …. Ini adalah pesan yang sangat menghibur. Allah mengetahui pikiran Iblis dan mengetahui orang-orang yang ingin dicelakai oleh Iblis.

• Dari pasal 1 dan 2, kita mengetahui bahwa di balik segala dosa yang merusak bumi ini, Iblis adalah makhluk yang sombong dan congkak (lihat 1 Petrus 5:8).

• Dari pasal 1 dan 2, kita dapat melihat sisi Iblis yang sebenarnya, yaitu: dia tidak maha hadir dan tidak mahatahu. Karena Iblis adalah makhluk ciptaan, ia pasti dibatasi oleh ruang dan waktu. Dia bisa sekaligus maha hadir di mana-mana pada satu saat yang sama. Dia tidak seperti Allah yang bisa membaca pikiran manusia. Karena Iblis tidak memahami pikiran Ayub, dia berpikir bahwa Ayub akan roboh karena serangannya. Tetapi Iblis salah, dan dia gagal.

• Dari pasal satu dan dua, kita melihat bahwa tanpa izin Allah, Iblis tidak bisa bergerak dan tidak bisa berbuat apa-apa. Perbuatan-perbuatannya selalu dalam pengawasan Allah; ia ibarat laut yang ganas, betapapun bergolaknya, ia tetap tidak dapat melampaui batas-batas yang telah ditentukan oleh Allah (30:11). Allah mengizinkan Iblis melakukan sesuatu karena Allah dapat mengubah serangannya terhadap manusia menjadi berkat, seperti halnya yang terjadi pada Ayub.

• Di sisi lain, kita tidak boleh mengabaikan satu hal: setiap izin yang Allah berikan kepada Iblis memiliki batasan tertentu (1:12; 2:6). Bagi orang percaya, hal ini sungguh merupakan suatu penghiburan yang besar (lihat 1 Korintus 10:13 Pencobaan-pencobaan yang kamu alami ialah pencobaan-pencobaan biasa, yang tidak melebihi kekuatan manusia. Sebab Allah setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu. Pada waktu kamu dicobai Ia akan memberikan kepadamu jalan ke luar, sehingga kamu dapat menanggungnya).

• Ingatlah bahwa mata Allah selalu tertuju pada anak-anak-Nya, terutama ketika mereka jatuh dalam pencobaan. Perhatikan bagaimana Allah menyebut nama Ayub, Allah mengenali karakter Ayub yang jujur dan hati yang saleh, dan secara khusus berbicara tentang hamba-Ku. Ayub sangat berharga di hati Allah, sangat nampak terutama saat ia terjerumus dalam pencobaan.


Renungan pemahaman Kitab Ayub

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Ayub ditulis oleh Lu Zhuo An (呂焯安) yang dipublikasi pada bulan Oktober 2015 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.