Tag Archives: Kitab Ayub

Ayub 29:1-30:31

Kiranya Yang Maha Kuasa menjawabku」

Oleh Lu Zhuo An (呂焯安)
Alliance Bible Seminary H.K.

(Ayub 29:1-30:31 [ITB])
29:1 Maka Ayub melanjutkan uraiannya:
2 Ah, kiranya aku seperti dalam bulan-bulan yang silam, seperti pada hari-hari, ketika Allah melindungi aku,3 ketika pelita-Nya bersinar di atas kepalaku, dan di bawah terang-Nya aku berjalan dalam gelap;4 seperti ketika aku mengalami masa remajaku, ketika Allah bergaul karib dengan aku di dalam kemahku;5 ketika Yang Mahakuasa masih beserta aku, dan anak-anakku ada di sekelilingku;6 ketika langkah-langkahku bermandikan dadih, dan gunung batu mengalirkan sungai minyak di dekatku.
7 Apabila aku keluar ke pintu gerbang kota, dan menyediakan tempat dudukku di tengah-tengah lapangan,8 maka ketika aku kelihatan, mundurlah orang-orang muda dan bangkitlah orang-orang yang sudah lanjut umurnya, lalu tinggal berdiri;9 para pembesar berhenti bicara, dan menutup mulut mereka dengan tangan;10 suara para pemuka membisu, dan lidah mereka melekat pada langit-langitnya;11 apabila telinga mendengar tentang aku, maka aku disebut berbahagia; dan apabila mata melihat, maka aku dipuji.
12 Karena aku menyelamatkan orang sengsara yang berteriak minta tolong, juga anak piatu yang tidak ada penolongnya;13 aku mendapat ucapan berkat dari orang yang nyaris binasa, dan hati seorang janda kubuat bersukaria;14 aku berpakaian kebenaran dan keadilan menutupi aku seperti jubah dan serban;15 aku menjadi mata bagi orang buta, dan kaki bagi orang lumpuh;16 aku menjadi bapa bagi orang miskin, dan perkara orang yang tidak kukenal, kuselidiki.17 Geraham orang curang kuremuk, dan merebut mangsanya dari giginya.
18 Pikirku: Bersama-sama dengan sarangku aku akan binasa, dan memperbanyak hari-hariku seperti burung feniks.
19 Akarku mencapai air, dan embun bermalam di atas ranting-rantingku.20 Kemuliaanku selalu baru padaku, dan busurku kuat kembali di tanganku.21 Kepadakulah orang mendengar sambil menanti, dengan diam mereka mendengarkan nasihatku.22 Sehabis bicaraku tiada seorangpun angkat bicara lagi, dan perkataanku menetes ke atas mereka.23 Orang menantikan aku seperti menantikan hujan, dan menadahkan mulutnya seperti menadah hujan pada akhir musim.
24 Aku tersenyum kepada mereka, ketika mereka putus asa, dan seri mukaku tidak dapat disuramkan mereka.
25 Aku menentukan jalan mereka dan duduk sebagai pemimpin; aku bersemayam seperti raja di tengah-tengah rakyat, seperti seorang yang menghibur mereka yang berkabung.

30:1 Tetapi sekarang aku ditertawakan mereka, yang umurnya lebih muda dari padaku, yang ayah-ayahnya kupandang terlalu hina untuk ditempatkan bersama-sama dengan anjing penjaga kambing dombaku.
2 Lagipula, apakah gunanya bagiku kekuatan tangan mereka? Mereka sudah kehabisan tenaga,3 mereka merana karena kekurangan dan kelaparan, mengerumit tanah yang kering, belukar di gurun dan padang belantara;4 mereka memetik gelang laut dari antara semak-semak, dan akar pohon arar menjadi makanan mereka.
5 Mereka diusir dari pergaulan hidup, dan orang berteriak-teriak terhadap mereka seperti terhadap pencuri.
6 Di lembah-lembah yang mengerikan mereka harus diam, di dalam celah-celah tanah dan sela-sela gunung;7 di antara semak-semak mereka meraung-raung, mereka berkelompok di bawah jeruju;8 mereka itulah orang-orang bebal yang tak dikenal, yang didepak dari negeri.
9 Tetapi sekarang aku menjadi sajak sindiran dan ejekan mereka.10 Mereka mengejikan aku, menjauhkan diri dari padaku, mereka tidak menahan diri meludahi mukaku,11 karena tali kemahku telah dilepaskan Allah dan aku direndahkan-Nya, dan mereka tidak mengekang diri terhadap aku.
12 Di sebelah kananku muncul gerombolan, dikaitnya kakiku, dan dirintisnya jalan kebinasaan terhadap aku;13 mereka membongkar jalanku dan mengusahakan kejatuhanku; tidak ada yang menghalang-halangi mereka.
14 Seperti melalui tembok yang terbelah lebar mereka menyerbu, mereka datang bergelombang di tengah-tengah keruntuhan.
15 Kedahsyatan ditimpakan kepadaku; kemuliaanku diterbangkan seperti oleh angin, dan bahagiaku melayang hilang seperti awan.
16 Oleh sebab itu jiwaku hancur dalam diriku; hari-hari kesengsaraan mencekam aku.
17 Pada waktu malam tulang-tulangku seperti digerogoti, dan rasa nyeri yang menusuk tak kunjung berhenti.
18 Oleh kekerasan yang tak terlawan koyaklah pakaianku dan menggelambir sekelilingku seperti kemeja.
19 Ia telah menghempaskan aku ke dalam lumpur, dan aku sudah menyerupai debu dan abu.
20 Aku berseru minta tolong kepada-Mu, tetapi Engkau tidak menjawab; aku berdiri menanti, tetapi Engkau tidak menghiraukan aku.
21 Engkau menjadi kejam terhadap aku, Engkau memusuhi aku dengan kekuatan tangan-Mu.
22 Engkau mengangkat aku ke atas angin, melayangkan aku dan menghancurkan aku di dalam angin ribut.
23 Ya, aku tahu: Engkau membawa aku kepada maut, ke tempat segala yang hidup dihimpunkan.
24 Sesungguhnya, masakan orang tidak akan mengulurkan tangannya kepada yang rebah, jikalau ia dalam kecelakaannya tidak ada penolongnya?
25 Bukankah aku menangis karena orang yang mengalami hari kesukaran? Bukankah susah hatiku karena orang miskin?
26 Tetapi, ketika aku mengharapkan yang baik, maka kejahatanlah yang datang; ketika aku menantikan terang, maka kegelapanlah yang datang.
27 Batinku bergelora dan tak kunjung diam, hari-hari kesengsaraan telah melanda diriku.
28 Dengan sedih, dengan tidak terhibur, aku berkeliaran; aku berdiri di tengah-tengah jemaah sambil berteriak minta tolong.
29 Aku telah menjadi saudara bagi serigala, dan kawan bagi burung unta.
30 Kulitku menjadi hitam dan mengelupas dari tubuhku, tulang-tulangku mengering karena demam;31 permainan kecapiku menjadi ratapan, dan tiupan serulingku menyerupai suara orang menangis.

Ayat Kunci: aku berpakaian kebenaran dan keadilan menutupi aku seperti jubah dan serban (Ayub 29:14)

Pidato panjang dari pasal 29 – 31 ini merupakan pembelaan Ayub atas ketidakbersalahannya. Sebelum berdialog dengan ketiga temannya, Ayub mengadakan monolog (pasal tiga). Kini dia juga menulis monolog untuk merangkum percakapannya dengan teman-temannya. Dalam ketiga pasal ini, Ayub merindukan masa lalunya yang tidak bercacat (pasal 29); dia sedih dengan kesulitannya saat ini (pasal 30); dan dia menegaskan kembali bahwa dia tidak bersalah (pasal 31). Seluruh pidatonya seperti argumen penutup di pengadilan, namun ketiga temannya tidak disebutkan sama sekali. Hari ini mari kita terlebih dahulu merenungkan pasal 29 sampai 30.

Pasal 29 adalah catatan Ayub mengenai integritasnya di masa lalu. Struktur pasal ini adalah contoh klasik paralelisme:
Berkat (ayat 2-6)
Kehormatan (ayat 7-11)
Perbuatan baik Ayub (ayat 12-17)
Kehormatan (ayat 18-20)
Berkat (ayat 21-25)

Keseluruhan pidato mencapai klimaksnya di bagian tengah, dan bagian tengah yakni ayat 14 aku berpakaian kebenaran dan keadilan menutupi aku seperti jubah dan serbandapat dikatakan sebagai ayat utama, menegaskan perbuatan baik Ayub untuk mengimbangi tuduhan tidak masuk akal dari teman-temannya. Pasal ini juga dapat dibagi menjadi dua bagian: ayat 1-11 menggambarkan harapan untuk kembali ke masa lalu, sedangkan ayat 12-25 menjelaskan mengapa Ayub menikmati hari-hari itu. Karena pada ayat 2-5 Ayub pertama kali menyebutkan berkat yang diterimanya, maka terlihat betapa indahnya persekutuannya dengan Allah. Susu dan minyak (ayat 6) melambangkan kelimpahan. Gunung batu di ayat 6 mungkin mengacu pada alat yang digunakan untuk memeras buah zaitun menjadi minyak. Dahulu Ayub menolong orang yang tertindas dan menghukum para penindas (ayat 17). Ia juga menyemangati dan menghibur mereka yang membutuhkan (ayat 24-25), ia bukan seperti tuduhan palsu dari teman-temannya.

Pasal 29 berbicara tentang apa yang Allah berikan kepada Ayub di masa lalu; pasal 30 berbicara tentang apa yang Allah ambil kembali (lihat 1:21). Kini, Ayub berada dalam kesulitan yang besar: ia tidak dihormati (ayat 1-15); diabaikan (ayat 16-23); dan ia memohon pertolongan (ayat 24-31). Di masa lalu, Ayub menikmati kehormatan terbesar. Namun kini, ia mendapat hinaan dari orang-orang hina (ayat 1-15; lih. 29:8, 21-25).

Renungkan:
Ada kegembiraan dalam hidup, tetapi ada juga air mata. Bisakah Anda menerimanya? Tuliskan kunci penting yang Anda gunakan untuk menerima keberuntungan dan ketidakberuntungan dalam hidup Anda.


Renungan pemahaman Kitab Ayub

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Ayub ditulis oleh Lu Zhuo An (呂焯安) yang dipublikasi pada bulan Oktober 2015 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Ayub 28:1-28

Allah tahu jalan kebijaksanaan」

Oleh Lu Zhuo An (呂焯安)
Alliance Bible Seminary H.K.

(Ayub 28:1-28 [ITB])
1 Memang ada tempat orang menambang perak dan tempat orang melimbang emas;2 besi digali dari dalam tanah, dan dari batu dilelehkan tembaga.
3 Orang menyudahi kegelapan, dan batu diselidikinya sampai sedalam-dalamnya, di dalam kekelaman dan kelam pekat.
4 Orang menggali tambang jauh dari tempat kediaman manusia, mereka dilupakan oleh orang-orang yang berjalan di atas, mereka melayang-layang jauh dari manusia.
5 Tanah yang menghasilkan pangan, dibawahnya dibongkar-bangkir seperti oleh api.
6 Batunya adalah tempat menemukan lazurit yang mengandung emas urai.
7 Jalan ke sana tidak dikenal seekor burung buaspun, dan mata elang tidak melihatnya;8 binatang yang ganas tidak menginjakkan kakinya di sana dan singa tidak melangkah melaluinya.
9 Manusia melekatkan tangannya pada batu yang keras, ia membongkar-bangkir gunung-gunung sampai pada akar-akarnya;10 di dalam gunung batu ia menggali terowongan, dan matanya melihat segala sesuatu yang berharga;11 air sungai yang merembes dibendungnya, dan apa yang tersembunyi dibawanya ke tempat terang.
12 Tetapi di mana hikmat dapat diperoleh, di mana tempat akal budi?
13 Jalan ke sana tidak diketahui manusia, dan tidak didapati di negeri orang hidup.
14 Kata samudera raya: Ia tidak terdapat di dalamku, dan kata laut: Ia tidak ada padaku.
15 Untuk gantinya tidak dapat diberikan emas murni, dan harganya tidak dapat ditimbang dengan perak.
16 Ia tidak dapat dinilai dengan emas Ofir, ataupun dengan permata krisopras yang mahal atau dengan permata lazurit;17 tidak dapat diimbangi oleh emas, atau kaca, ataupun ditukar dengan permata dari emas tua.
18 Baik gewang, baik hablur, tidak terhitung lagi; memiliki hikmat adalah lebih baik dari pada mutiara.
19 Permata krisolit Etiopia tidak dapat mengimbanginya, ia tidak dapat dinilai dengan emas murni.
20 Hikmat itu, dari manakah datangnya, atau akal budi, di manakah tempatnya?
21 Ia terlindung dari mata segala yang hidup, bahkan tersembunyi bagi burung di udara.
22 Kebinasaan dan maut berkata: Hanya desas-desusnya yang sampai ke telinga kami.
23 Allah mengetahui jalan ke sana, Ia juga mengenal tempat kediamannya.
24 Karena Ia memandang sampai ke ujung-ujung bumi, dan melihat segala sesuatu yang ada di kolong langit.
25 Ketika Ia menetapkan kekuatan angin, dan mengatur banyaknya air,26 ketika Ia membuat ketetapan bagi hujan, dan jalan bagi kilat guruh,27 ketika itulah Ia melihat hikmat, lalu memberitakannya, menetapkannya, bahkan menyelidikinya;28 tetapi kepada manusia Ia berfirman: 『Sesungguhnya, takut akan Allah, itulah hikmat, dan menjauhi kejahatan itulah akal budi.』

Ayat Kunci: Sesungguhnya, takut akan Allah, itulah hikmat, dan menjauhi kejahatan itulah akal budi (Ayub 28:28)

Percakapan antara Ayub dan ketiga temannya berakhir ketika Zofar terdiam. Pasal 28 hingga 31 dianggap merupakan monolog Ayub, yang merangkum tiga putaran dialog. Bagian ini lebih seperti monolog daripada dialog; oleh karena itu, beberapa ahli percaya bahwa perkataan tersebut bukanlah perkataan Ayub melainkan orang lain: Zofar, Bildad, atau Allah sendiri. Ada beberapa peneliti berpendapat bahwa monolog ini ditambahkan oleh editor kitab ini. Namun, tema monolog ini konsisten dengan apa yang Ayub katakan sebelumnya (lihat 9:10-11; 12:13; 17:10; 23:8-10; 26:14); oleh karena itu, pandangan tradisional masih lebih disukai. Pasal 28 merupakan puisi hikmah yang menjadi penghubung antara bagian sebelumnya dengan bagian yang di selanjutnya. Pasal ini memisahkan dua paragraf utama bagian puisi, di bagian pertama dialog Ayub dan ketiga temannya, dan bagian kedua tiga monolog: Ayub (pasal 29-31); Elihu (pasal 32-37); dan Allah (pasal 38-41).

Bagian yang kita renungkan hari ini (pasal 28) adalah pembicaraan Ayub tentang hikmat Allah. Dalam pasal ini, Ayub merangkum posisinya di hadapan Allah. Ia bukan tidak taat kepada Allah, sebagaimana dituduhkan oleh teman-temannya; sebaliknya, Ayub menyatakan bahwa ia takut akan Allah dan berusaha menghindari dosa (ayat 28). Ia selalu berpegang teguh pada ajaran yang diterimanya sejak kecil: bahwa manusia harus percaya dan menaati Allah karena Allah mengelola dunia dengan kebijaksanaan yang tak terbatas. Fakta bahwa Ayub percaya bahwa Allah tidak adil terhadapnya tidak berarti bahwa dia telah sepenuhnya melepaskan imannya kepada Allah.

Analisis struktur keseluruhan pasal adalah sebagai berikut:
Pendahuluan (ayat 1-2) ─ Semua harta ada sumbernya
Bagian 1 (ayat 3-11) ─ Semua harta ada sumbernya
Chorus dan respons (ayat 12-14): Hikmat sulit ditemukan
Bagian 2 (ayat 15-19) ─ Hikmah adalah harta karun
Chorus dan respons (ayat 20-22): Hikmat sulit ditemukan
Bagian 3 (ayat 23-27) – Allah dan Hikmah
Kesimpulan (ayat 28) – Sumber dari hikmah

Monolog Ayub terutama menunjukkan bahwa manusia adalah cerdas, mereka dapat mengeksplorasi, menemukan, dan mengekstraksi sumber daya material yang melimpah. Namun, hanya sedikit yang bisa dilakukan mengenai sesuatu yang lebih mendasar dalam hidup, yaitu kebijaksanaan. Alasannya, hikmat tidak terkubur di dalam tanah, namun ada di dalam Allah. Rahasia untuk memperoleh hikmat adalah dengan mengarahkan hidup kita kepada Allah.

Hakikat hikmah adalah takut akan Allah (menghormati dan menaati Allah) dan menjauhi dosa (ayat 28). Ini adalah pengetahuan yang diperoleh melalui wahyu transenden yang melampaui dunia. Meski kita tidak pernah bisa memahami kedalaman hikmat Allah, kita bisa mengalaminya dengan menyembah dan menaati Allah, menjadikan Dia pusat kehidupan kita, dan membiarkan Dia membentuk hidup kita. Dengan demikian kita dapat mengalami kebijaksanaan.

Dalam monolog ini, Ayub menunjukkan bahwa ia mempunyai pemahaman hikmah yang lebih besar dibandingkan ketiga sahabatnya. Monolog ini dapat dikatakan mengungkap keterbatasan kebijaksanaan manusia. Di pasal 28, Ayub membuktikan bahwa dia memang takut akan Allah. Di pasal 29, dia melanjutkan dengan menjelaskan bahwa dia juga menjauhi kejahatan. Oleh karena itu, terlihat bahwa pasal 28 merupakan penghubung yang cerdas. Ini juga merupakan klimaks yang bagus untuk keseluruhan kitab.

Renungkan:
Apakah Anda menganggap diri Anda bijaksana? Mengapa? Mari membangun sebuah kebiasaan: Setiap pagi, sebelum meninggalkan rumah, mintalah hikmah kepada Allah untuk hari itu.


Renungan pemahaman Kitab Ayub

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Ayub ditulis oleh Lu Zhuo An (呂焯安) yang dipublikasi pada bulan Oktober 2015 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Ayub 25:1-27:23

「g」

Oleh Lu Zhuo An (呂焯安)
Alliance Bible Seminary H.K.

(Ayub 25:1-27:23 [ITB])
25:1 Maka Bildad, orang Suah, menjawab:
2 Kekuasaan dan kedahsyatan ada pada Dia, yang menyelenggarakan damai di tempat-Nya yang tinggi.
3 Dapatkah dihitung pasukan-Nya? Dan siapakah yang tidak disinari terang-Nya?
4 Bagaimana manusia benar di hadapan Allah, dan bagaimana orang yang dilahirkan perempuan itu bersih?5 Sesungguhnya, bahkan bulanpun tidak terang dan bintang-bintangpun tidak cerah di mata-Nya.6 Lebih-lebih lagi manusia, yang adalah berenga, anak manusia, yang adalah ulat!

26:1 Tetapi Ayub menjawab:
2 Alangkah baiknya bantuanmu kepada yang tidak kuat, dan pertolonganmu kepada lengan yang tidak berdaya!3 Alangkah baiknya nasihatmu kepada orang yang tidak mempunyai hikmat, dan pengertian yang kauajarkan dengan limpahnya!4 Atas anjuran siapakah engkau mengucapkan perkataan-perkataan itu, dan gagasan siapakah yang kaunyatakan?
5 Roh-roh di bawah menggeletar, demikian juga air dan penghuninya.6 Dunia orang mati terbuka di hadapan Allah, tempat kebinasaanpun tidak ada tutupnya.
7 Allah membentangkan utara di atas kekosongan, dan menggantungkan bumi pada kehampaan.8 Ia membungkus air di dalam awan-Nya, namun awan itu tidak robek.9 Ia menutupi pemandangan takhta-Nya, melingkupinya dengan awan-Nya.10 Ia telah menarik garis pada permukaan air, sampai ujung perbatasan antara terang dan gelap;11 tiang-tiang langit bergoyang-goyang, tercengang-cengang oleh hardik-Nya.
12 Ia telah meneduhkan laut dengan kuasa-Nya dan meremukkan Rahab dengan kebijaksanaan-Nya.13 Oleh nafas-Nya langit menjadi cerah, tangan-Nya menembus ular yang tangkas.
14 Sesungguhnya, semuanya itu hanya ujung-ujung jalan-Nya; betapa lembutnya bisikan yang kita dengar dari pada-Nya! Siapa dapat memahami guntur kuasa-Nya?

27:1 Maka Ayub melanjutkan uraiannya:
2 Demi Allah yang hidup, yang tidak memberi keadilan kepadaku, dan demi Yang Mahakuasa, yang memedihkan hatiku,3 selama nafasku masih ada padaku, dan roh Allah masih di dalam lubang hidungku,4 maka bibirku sungguh-sungguh tidak akan mengucapkan kecurangan, dan lidahku tidak akan melahirkan tipu daya.
5 Aku sama sekali tidak membenarkan kamu! Sampai binasa aku tetap mempertahankan bahwa aku tidak bersalah.6 Kebenaranku kupegang teguh dan tidak kulepaskan; hatiku tidak mencela seharipun dari pada umurku.
7 Biarlah musuhku mengalami seperti orang fasik, dan orang yang melawan aku seperti orang yang curang.8 Karena apakah harapan orang durhaka, kalau Allah menghabisinya, kalau Ia menuntut nyawanya?9 Apakah Allah akan mendengar teriaknya, jika kesesakan menimpa dia?10 Dapatkah ia bersenang-senang karena Yang Mahakuasa dan berseru kepada Allah setiap waktu?
11 Aku akan mengajari kamu tentang tangan Allah, apa yang dimaksudkan oleh Yang Mahakuasa tidak akan kusembunyikan.12 Sesungguhnya, kamu sekalian telah melihatnya sendiri; mengapa kamu berpikir yang tidak-tidak?
13 Inilah bagian orang fasik yang ditentukan Allah, dan milik pusaka orang-orang lalim yang mereka terima dari Yang Mahakuasa:
14 Kalau anak-anaknya bertambah banyak mereka menjadi makanan pedang, dan anak cucunya tidak mendapat cukup makan;15 siapa yang luput dari padanya, akan turun ke kubur karena wabah, dengan tidak ditangisi oleh janda mereka.
16 Jikalau ia menimbun uang seperti debu banyaknya, dan menumpuk pakaian seperti tanah liat,17 sekalipun ia yang menumpuknya, namun orang benar yang akan memakainya, dan orang yang tidak bersalah yang akan membagi-bagi uang itu.
18 Ia mendirikan rumahnya seperti sarang laba-laba, seperti gubuk yang dibuat penjaga.19 Sebagai orang kaya ia membaringkan diri, tetapi tidak dapat ia mengulanginya: ketika ia membuka matanya, maka tidak ada lagi semuanya itu.20 Kedahsyatan mengejar dia seperti air bah, pada malam hari ia diterbangkan badai;21 angin timur mengangkatnya, lalu lenyaplah ia; ia dilemparkannya dari tempatnya.
22 Dengan tak kenal belas kasihan Allah melempari dia, dengan cepat ia harus melepaskan diri dari kuasa-Nya.23 Oleh karena dia orang bertepuk tangan, dan bersuit-suit karena dia dari tempat kediamannya.

Ayat Kunci: Kebenaranku kupegang teguh dan tidak kulepaskan; hatiku tidak mencela seharipun dari pada umurku (Ayub 27:6)

Ketiga pasal ini merupakan pidato Bildad yang ketiga (pasal 25), dan tanggapan Ayub yang ketiga terhadap pidato Bildad (pasal 26-27). Kata-kata singkat Bildad mencerminkan bahwa teman-teman Ayub sudah kehabisan akal. Tanggapan Ayub tentu saja tidak membuat mereka sepakat dengan apa yang ia kemukakan, tetapi pasti membuat mereka tidak dapat berkata-kata panjang lebar.

Pidato Bildad menekankan kebesaran Allah dan bahwa semua manusia adalah pendosa. Ia berharap suatu saat Ayub akan mengakui bahwa dirinya adalah orang berdosa karena semua orang di muka bumi adalah orang berdosa. Ayat 25:4 Bagaimana manusia benar di hadapan Allah, dan bagaimana orang yang dilahirkan perempuan itu bersih? Bildad mengulangi apa yang telah ia katakan sebelumnya (lih. 4:17; 9:2a; 15:14). Mungkin Bildad berharap agar Ayub setuju bahwa ia akan dianggap bersalah di hadapan Allah. Di ayat 25:5-6 ia memberikan contoh untuk mendukung argumentasinya, Sesungguhnya, bahkan bulanpun tidak terang dan bintang-bintangpun tidak cerah di mata-Nya. Lebih-lebih lagi manusia, yang adalah berenga, anak manusia, yang adalah ulat! Menariknya, ketiga sahabat yang awalnya datang untuk menghibur Ayub, sekarang dalam pidato terakhir mereka tampak sangat tertekan. Ucapan mereka, pandangan dunia mereka, tidak dapat membantu Ayub.

Pasal 26 dan 27 merupakan tanggapan Ayub yang ketiga terhadap pidato Bildad. Dilihat dari panjangnya, jawaban Ayub sangat kontras dengan ucapan Bildad. Dalam pasal 26, Ayub menanggapi apa yang dikatakan Bildad. Di ayat 1-4, Ayub menanggapi sikap Bildad, bahwa Bildad lemah dan tidak kompeten serta tidak dapat membantu orang lain. Kemudian di ayat 5-14 Ayub menyinggung tema besar tentang Allah yang dibawakan Bildad. Ucapan Ayub dengan jelas menunjukkan bahwa ia mempunyai pemahaman dan konsep Allah yang lebih luas dan lebih komprehensif dibandingkan Bildad.

Dalam pasal 27, Ayub menanggapi tiga temannya (26:2-4 menggunakan kamu (bentuk tunggal), lalu 27:5, 11, dan 12 menggunakan kamu sekalian). Dia pada dasarnya menyangkal pemahaman teman-temannya. Ayat 1, … Ayub melanjutkan uraiannya … sepertinya menunjukkan bahwa ada jeda singkat antara pidato tanggapan di pasal 26 dan 27, mungkin menunggu Zofar berbicara. Namun, Zofar tidak berkata apa-apa lagi. Oleh karena itu, Ayub terus berbicara dan menanggapi terutama kepada ketiga sahabatnya, bukan hanya Bildad. Pertama, Ayub yakin akan ketidakbersalahannya (ayat 1-6). Di sini dia bersumpah untuk pertama kalinya bahwa perkataannya benar. Ayat 7-23 menunjukkan bahwa Ayub berdiri di sisi kebenaran, dan semua orang yang menyerangnya dihitung sebagai pelaku kejahatan (kita percaya bahwa Ayub tidak bermaksud memasukkan ketiga temannya ke dalam kelompok pelaku kejahatan), untuk memastikan bahwa dirinya adalah orang yang jujur.

Beberapa ahli berpendapat bahwa 27:13-23 seharusnya menjadi putaran ketiga dari pidato Zofar. Namun jika kita simpulkan berdasarkan literatur dan gaya sastra, ayat ini selaras dengan ayat 27:7-10, dan juga sesuai dengan ayat 24:18-25. Ayub menegaskan bahwa orang fasik pada akhirnya memang akan dihukum. Meskipun Ayub percaya bahwa Allah tidak adil terhadapnya, dia tetap percaya bahwa Allah adalah Yang Maha Benar. Kontradiksi yang nyata inilah yang mendorong Ayub dengan penuh semangat ingin mendapatkan jawaban dari Allah. Dia setuju dengan sudut pandang temannya: orang fasik akan dihukum oleh Allah, dan ini merupakan pengalaman hidup yang normal (27:13-23); namun Ayub percaya bahwa ini bukanlah kebenaran universal yang dapat diterapkan pada semua kasus, dan situasi individu tertentu mungkin berbeda, dirinya adalah contoh terbaik.
(Allah tidak dapat dikekang oleh formula.)

Renungkan:
Saat membicarakan masalah tertentu dengan orang lain, tahu diri dan tahu cara tutup mulut pada saat yang tepat adalah suatu kebijaksanaan. Mengingat kembali pengalaman masa lalu Anda, pernahkah Anda mencoba berdebat bahkan ketika Anda kehilangan kata-kata? Tuliskan pelajaran berharga yang Anda pelajari.


Renungan pemahaman Kitab Ayub

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Ayub ditulis oleh Lu Zhuo An (呂焯安) yang dipublikasi pada bulan Oktober 2015 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Ayub 23:1-24:25

Semoga aku tahu mendapatkan Dia, dan boleh datang ke tempat Ia bersemayam!」

Oleh Lu Zhuo An (呂焯安)
Alliance Bible Seminary H.K.

(Ayub 23:1-24:25 [ITB])
23:1 Tetapi Ayub menjawab:
2 Sekarang ini keluh kesahku menjadi pemberontakan, tangan-Nya menekan aku, sehingga aku mengaduh.
3 Ah, semoga aku tahu mendapatkan Dia, dan boleh datang ke tempat Ia bersemayam.4 Maka akan kupaparkan perkaraku di hadapan-Nya, dan kupenuhi mulutku dengan kata-kata pembelaan.5 Maka aku akan mengetahui jawaban-jawaban yang diberikan-Nya kepadaku dan aku akan mengerti, apa yang difirmankan-Nya kepadaku.
6 Sudikah Ia mengadakan perkara dengan aku dalam kemahakuasaan-Nya? Tidak, Ia akan menaruh perhatian kepadaku.7 Orang jujurlah yang akan membela diri di hadapan-Nya, dan aku akan bebas dari Hakimku untuk selama-lamanya.
8 Sesungguhnya, kalau aku berjalan ke timur, Ia tidak di sana; atau ke barat, tidak kudapati Dia;9 di utara kucari Dia, Ia tidak tampak, aku berpaling ke selatan, aku tidak melihat Dia.10 Karena Ia tahu jalan hidupku; seandainya Ia menguji aku, aku akan timbul seperti emas.11 Kakiku tetap mengikuti jejak-Nya, aku menuruti jalan-Nya dan tidak menyimpang.12 Perintah dari bibir-Nya tidak kulanggar, dalam sanubariku kusimpan ucapan mulut-Nya.
13 Tetapi Ia tidak pernah berubah–siapa dapat menghalangi Dia? Apa yang dikehendaki-Nya, dilaksanakan-Nya juga.14 Karena Ia akan menyelesaikan apa yang ditetapkan atasku, dan banyak lagi hal yang serupa itu dimaksudkan-Nya.
15 Itulah sebabnya hatiku gemetar menghadapi Dia, kalau semuanya itu kubayangkan, maka aku ketakutan terhadap Dia.16 Allah telah membuat aku putus asa, Yang Mahakuasa telah membuat hatiku gemetar;17 sebab bukan karena kegelapan aku binasa, dan bukan juga karena mukaku ditutupi gelap gulita.

24:1 Mengapa Yang Mahakuasa tidak mencadangkan masa penghukuman dan mereka yang mengenal Dia tidak melihat hari pengadilan-Nya?
2 Ada orang yang menggeser batas tanah, yang merampas kawanan ternak, lalu menggembalakannya.3 Keledai kepunyaan yatim piatu dilarikannya, dan lembu betina kepunyaan seorang janda diterimanya sebagai gadai,4 orang miskin didorongnya dari jalan, orang sengsara di dalam negeri terpaksa bersembunyi semuanya.
5 Sesungguhnya, seperti keledai liar di padang gurun mereka keluar untuk bekerja mencari apa-apa di padang belantara sebagai makanan bagi anak-anak mereka.6 Di ladang mereka mengambil makanan hewan, dan kebun anggur, milik orang fasik, dipetiki buahnya yang ketinggalan.7 Dengan telanjang mereka bermalam, karena tidak ada pakaian, dan mereka tidak mempunyai selimut pada waktu dingin;8 oleh hujan lebat di pegunungan mereka basah kuyup, dan karena tidak ada tempat berlindung, mereka mengimpitkan badannya pada gunung batu.
9 Ada yang merebut anak piatu dari susu ibunya dan menerima bayi orang miskin sebagai gadai.10 Dengan telanjang mereka berkeliaran, karena tidak ada pakaian, dan dengan kelaparan mereka memikul berkas-berkas gandum;11 di antara dua petak kebun mereka membuat minyak, mereka menginjak-injak tempat pengirikan sambil kehausan.12 Dari dalam kota terdengar rintihan orang-orang yang hampir mati dan jeritan orang-orang yang menderita luka, tetapi Allah tidak mengindahkan doa mereka.
13 Ada lagi golongan yang memusuhi terang, yang tidak mengenal jalannya dan tidak tetap tinggal pada lintasannya.14 Pada parak siang bersiaplah si pembunuh, orang sengsara dan miskin dibunuhnya, dan waktu malam ia berlaku seperti pencuri.15 Orang yang berzinah menunggu senja, pikirnya: 『Jangan seorangpun melihat aku;』 lalu dikenakannya tudung muka.16 Di dalam gelap mereka membongkar rumah, pada siang hari mereka bersembunyi; mereka tidak kenal terang,17 karena kegelapan adalah pagi hari bagi mereka sekalian, dan mereka sudah biasa dengan kedahsyatan kegelapan.18 Mereka hanyut di permukaan air, bagian mereka terkutuk di bumi; mereka tidak lagi pergi ke kebun anggur mereka.
19 Air salju dihabiskan oleh kemarau dan panas, demikian juga dilakukan dunia orang mati terhadap mereka yang berbuat dosa.20 Rahim ibu melupakan dia, berenga mengerumitnya, ia tidak diingat lagi: kecurangan dipatahkan seperti pohon kayu.21 Ia menjarahi perempuan mandul, yang tidak beranak, dan tidak berbuat baik terhadap seorang janda,22 bahkan menyeret orang-orang perkasa dengan kekuatannya; ia bangun kembali, tetapi hidupnya tidak terjamin.23 Allah memberinya keamanan yang menjadi sandarannya, dan mengawasi jalan-jalannya.
24 Hanya sebentar mereka meninggikan diri, lalu tidak ada lagi; mereka luruh, lalu menjadi lisut seperti segala sesuatu, mereka dikerat seperti hulu tangkai gandum.
25 Jikalau tidak demikian halnya, siapa berani menyanggah aku dan meniadakan perkataanku?

Ayat Kunci: Karena Ia tahu jalan hidupku; seandainya Ia menguji aku, aku akan timbul seperti emas (Ayub 23:10)

Pasal 23 dan 24 merupakan tanggapan ketiga Ayub terhadap pidato Elifas. Namun Ayub untuk sementara mengabaikan tuduhan Elifas yang tidak masuk akal, di kedua pasal ini Ayub hanya menyatakan apa yang dia yakini sebagai ketidakadilan dan ketidakbenaran Allah.

Ayub mengakui bahwa seruannya merupakan pemberontakan terhadap Allah (ayat 2a), namun Ayub tetap tidak putus asa: bahwa ia akan mempunyai kesempatan untuk mengajukan kasusnya di hadapan Allah sebelum ia meninggal (23:1-7; lih. 9:14-16). Namun, ke mana pun Ayub berpaling, dia tidak dapat menemukan Allah. Ayat 10 Karena Ia tahu jalan hidupku; seandainya Ia menguji aku, aku akan timbul seperti emas, memiliki arti Allah tahu aku tidak bersalah, jadi Dia menolak pernyataanku, karena begitu Dia mendengar kasusku, Dia harus mengakui ketidakadilan-Nya. Ayub akan dianggap emas murni (Lihat 22:25). ia memiliki pengharapan ini karena ia menyadari bahwa dirinya tidak bersalah (23:8-12) dan selama ini ia menjalani kehidupan yang setia di hadapan Allah.

Ayub merasa frustrasi dengan kuasa Allah yang tidak dapat ditolak dan tindakan-Nya yang tidak dapat dimengerti (23:13-24:17). Meskipun ia merasa takut dan gemetar (23:13-17), ia tetap memutuskan untuk mempertanyakan Allah. Ayub tidak mengerti mengapa Allah tidak mengadili (24:1-12). Ada tiga bidang dosa yang disebutkan secara khusus di sini: memindahkan batas wilayah, menduduki tanah orang lain, merampas ternak dan domba orang lain, dan menganiaya orang lemah. Ayub tidak mengerti mengapa Allah mengabaikan orang-orang yang melakukan dosa-dosa tersebut dan tidak menghukum mereka, tetapi justru menjatuhkan hukuman yang sangat berat terhadap dirinya.

Beberapa ayat terakhir tampaknya mencerminkan iman Ayub (24:18-25), yang berarti bahwa Allah pada akhirnya akan menghakimi manusia. Namun mengapa Allah tidak segera melaksanakan penghakiman? Di sinilah Ayub bingung.

Hari ini, dibandingkan Ayub, meskipun kita memiliki lebih banyak wahyu Allah, kita masih harus mengakui bahwa sulit untuk memahami sepenuhnya tindakan Allah.

Mengapa Allah melakukan ini kepada satu orang dan mempunyai pengaturan yang berbeda untuk orang lain? Semua hal ini tidak dapat sepenuhnya dipahami oleh manusia kita yang terbatas, dan hikmat Allah tidak dapat dipahami dengan logika sederhana manusia.

O, alangkah dalamnya ──
1. Kekayaan hikmah dan pengetahuan Allah!
2. Sungguh tak terselidiki keputusan-keputusan-Nya,
3. sungguh tak terselami jalan-jalan-Nya!
3′ Siapakah yang mengetahui pikiran Tuhan?
2′ Siapa yang pernah menjadi penasihat-Nya?
1′ Siapakah yang pernah memberikan sesuatu kepada-Nya, sehingga Ia harus menggantikannya?Sebab segala sesuatu
………… dari dia,
……………….. oleh pada Dia,
……………………… kepada dia.
Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya! Amin. (Roma11:33-36)

Renungkan:
Memikirkan keterbatasan manusia, apakah membantu Anda agar tidak lagi merasa Allah tidak adil membiarkan mereka yang berbuat jahat? Tuliskan sesuatu yang secara pribadi Anda ragukan tentang tindakan Allah, dan kemudian, seperti Ayub, beritahukan kepada Allah tentang hal itu.


Renungan pemahaman Kitab Ayub

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Ayub ditulis oleh Lu Zhuo An (呂焯安) yang dipublikasi pada bulan Oktober 2015 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Ayub 22:1-30

Apakah manusia berguna bagi Allah?」

Oleh Lu Zhuo An (呂焯安)
Alliance Bible Seminary H.K.

(Ayub 22:1-30 [ITB])
1 Maka Elifas, orang Teman, menjawab:
2 Apakah manusia berguna bagi Allah? Tidak, orang yang berakal budi hanya berguna bagi dirinya sendiri.3 Apakah ada manfaatnya bagi Yang Mahakuasa, kalau engkau benar, atau keuntungannya, kalau engkau hidup saleh?
4 Apakah karena takutmu akan Allah, maka engkau dihukum-Nya, dan dibawa-Nya ke pengadilan?
5 Bukankah kejahatanmu besar dan kesalahanmu tidak berkesudahan?6 Karena dengan sewenang-wenang engkau menerima gadai dari saudara-saudaramu dan merampas pakaian orang-orang yang melarat;7 orang yang kehausan tidak kauberi minum air, dan orang yang kelaparan tidak kauberi makan,8 tetapi orang yang kuat, dialah yang memiliki tanah, dan orang yang disegani, dialah yang mendudukinya.9 Janda-janda kausuruh pergi dengan tangan hampa, dan lengan yatim piatu kauremukkan.
10 Itulah sebabnya engkau dikelilingi perangkap, dan dikejutkan oleh kedahsyatan dengan tiba-tiba.11 Terangmu menjadi gelap, sehingga engkau tidak dapat melihat dan banjir meliputi engkau.
12 Bukankah Allah bersemayam di langit yang tinggi? Lihatlah bintang-bintang yang tertinggi, betapa tingginya!
13 Tetapi pikirmu: Tahu apa Allah? Dapatkah Ia mengadili dari balik awan-awan yang gelap?14 Awan meliputi Dia, sehingga Ia tidak dapat melihat; Ia berjalan-jalan sepanjang lingkaran langit!
15 Apakah engkau mau tetap mengikuti jalan lama, yang dilalui orang-orang jahat,16 mereka yang telah direnggut sebelum saatnya, yang alasnya dihanyutkan sungai;17 mereka yang berkata kepada Allah: 『Pergilah dari pada kami!』 dan: 『Yang Mahakuasa dapat berbuat apa terhadap kami?』
18 Namun Dialah juga yang memenuhi rumah mereka dengan segala yang baik–tetapi rancangan orang fasik adalah jauh dari padaku.
19 Hal itu dilihat oleh orang benar dan mereka bersukaria; orang yang tidak bersalah mengolok-olok mereka:20 『Sungguh, lawan kami telah dilenyapkan, dan peninggalan mereka telah habis dimakan api.』
21 Berlakulah ramah terhadap Dia, supaya engkau tenteram; dengan demikian engkau memperoleh keuntungan.22 Terimalah apa yang diajarkan mulut-Nya, dan taruhlah firman-Nya dalam hatimu.
23 Apabila engkau bertobat kepada Yang Mahakuasa, dan merendahkan diri; apabila engkau menjauhkan kecurangan dari dalam kemahmu,24 membuang biji emas ke dalam debu, emas Ofir ke tengah batu-batu sungai,25 dan apabila Yang Mahakuasa menjadi timbunan emasmu, dan kekayaan perakmu,26 maka sungguh-sungguh engkau akan bersenang-senang karena Yang Mahakuasa, dan akan menengadah kepada Allah.
27 Jikalau engkau berdoa kepada-Nya, Ia akan mengabulkan doamu, dan engkau akan membayar nazarmu.
28 Apabila engkau memutuskan berbuat sesuatu, maka akan tercapai maksudmu, dan cahaya terang menyinari jalan-jalanmu.
29 Karena Allah merendahkan orang yang angkuh tetapi menyelamatkan orang yang menundukkan kepala!
30 Orang yang tidak bersalah diluputkan-Nya: engkau luput karena kebersihan tanganmu.

Ayat Kunci: Berlakulah ramah terhadap Dia, supaya engkau tenteram; dengan demikian engkau memperoleh keuntungan (Ayub 22:21)

Pasal 22 hingga 27 merupakan dialog putaran ketiga antara Ayub dan ketiga temannya. Kritik terhadap Ayub yang dilakukan ketiga sahabat Ayub dalam tiga babak pidato mereka dapat dibuatkan garis besar sebagai berikut:

Tuduhan terhadap Ayub
Babak 1 Kamu adalah orang berdosa dan kamu harus bertobat!
Babak 2 Kamu orang fasik, jadi kamu akan dihakimi dan dihukum!
Babak 3 Nyata, kamu telah melakukan dosa-dosa ini!

Pada pidato putaran ketiga, Elifaslah yang berbicara lebih dulu. Namun, kata-kata dan perilakunya lebih tidak sopan dari sebelumnya, dan dia jelas menggunakan kata-kata yang keras untuk memaksakan alasannya. Dalam beberapa ayat pertama (ayat 1-5), Elifas menjelaskan bahwa Ayub tidak dapat memberi manfaat bagi Allah. Namun, ayat-ayat ini mencerminkan kelemahan konsep Elifas tentang Allah. Baginya, Allah tidak suka berkomunikasi dengan manusia atau memberkati mereka. Satu-satunya cara Dia ikut campur dalam kehidupan manusia adalah dengan menghukum mereka ketika mereka melakukan kesalahan. Banyak orang saat ini juga menganut konsep yang salah ini. Allah tidak membutuhkan manusia, namun Dia berkenan memiliki relasi persekutuan dengan manusia dan berlaku adil terhadap manusia.

Selanjutnya, Elifas menghitung dosa Ayub (ayat 6-11). Ayat 8 orang yang kuat, dialah yang memiliki tanah, dan orang yang disegani, dialah yang mendudukinya, ini merupakan penilaian Elifas terhadap Ayub, menurutnya Ayub memiliki sikap hati sebagai berikut: Siapa yang berkuasa dan dapat mengendalikan serta menguasai orang-orang di sekitarnya maka akan dihormati, sedangkan orang saleh tidak dihormati. Apakah tuduhan Elifas benar? Apakah Ayub benar-benar melakukan dosa-dosa ini? Dalam 31:16-22, Ayub dengan tegas menyangkal telah melakukan dosa-dosa ini.

Elifas kemudian menilai motif Ayub. Ia berasumsi bahwa Ayub merasa Allah berada jauh di surga, sehingga orang-orang berdosa di bumi dapat melarikan diri (ayat 12-20). Namun, Ayub percaya bahwa Allah adalah Maha Tahu (21:22). Mungkin di ayat 15-16, Elifas berpikir tentang orang-orang fasik di zaman Nuh. Di ayat 18, Elifas sepertinya mengakui bahwa ada orang fasik yang menikmati kemakmuran sementara, dan menurutnya Ayub adalah salah satunya.

Akhirnya Elifas mengambil kesimpulan bahwa Ayub perlu bertobat (ayat 21-30). Sebenarnya, nasihat Elifas seharusnya sangat bermanfaat. Sayangnya pidatonya sebelumnya sangat tidak sopan dan tidak adil dalam membuat kritik, sehingga pengaruhnya sangat berkurang. Ayub tidak perlu bertobat; penderitaannya bukan disebabkan oleh dosa apa pun yang telah dilakukannya.

Bentuk seruan seperti ini tidak cocok bagi orang-orang yang belum diselamatkan saat ini. Karena Allah tidak mengharuskan manusia memperbaharui hidupnya agar bisa berkenan kepada Allah. Dia juga tidak menjanjikan kelimpahan materi bagi orang-orang yang bertobat. Kepercayaan Elifas terhadap hukum sebab-akibat menyebabkan dia salah memahami kehidupan dan Allah.

Renungkan:
Menurut Anda mengapa Elifas mengalami kemunduran dalam retorika pidato yang begitu kuat? Tuliskan sebuah ayat untuk selalu membantu Anda menghindari kesalahan yang sama seperti Elifas.


Renungan pemahaman Kitab Ayub

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Ayub ditulis oleh Lu Zhuo An (呂焯安) yang dipublikasi pada bulan Oktober 2015 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Ayub 20:1-21:34

Alangkah hampanya penghiburanmu」

Oleh Lu Zhuo An (呂焯安)
Alliance Bible Seminary H.K.

(Ayub 20:1-21:34 [ITB])
20:1 Maka Zofar, orang Naama, menjawab:
2 Oleh sebab itulah pikiran-pikiranku mendorong aku menjawab, karena hatiku tidak sabar lagi. 3 Kudengar teguran yang menghina aku, tetapi yang menjawab aku ialah akal budi yang tidak berpengertian.
4 Belumkah engkau mengetahui semuanya itu sejak dahulu kala, sejak manusia ditempatkan di bumi, 5 bahwa sorak-sorai orang fasik hanya sebentar saja, dan sukacita orang durhaka hanya sekejap mata? 6 Walaupun keangkuhannya sampai ke langit dan kepalanya mengenai awan, 7 namun seperti tahinya ia akan binasa untuk selama-lamanya; siapa yang pernah melihatnya, bertanya: 『Di mana dia?』 8 Bagaikan impian ia melayang hilang, tak berbekas, lenyap bagaikan penglihatan waktu malam.
9 Ia tidak lagi tampak pada mata yang melihatnya, dan tempat kediamannya tidak melihatnya lagi. 10 Anak-anaknya harus mencari belas kasihan orang miskin, dan tangannya sendiri harus mengembalikan kekayaannya. 11 Tulang-tulangnya boleh penuh tenaga orang muda, tetapi tenaga itupun akan membaringkan diri bersama dia dalam debu.
12 Sungguhpun kejahatan manis rasanya di dalam mulutnya, sekalipun ia menyembunyikannya di bawah lidahnya, 13 menikmatinya serta tidak melepaskannya, dan menahannya pada langit-langitnya, 14 namun berubah juga makanannya di dalam perutnya, menjadi bisa ular tedung di dalamnya. 15 Harta benda ditelannya, tetapi dimuntahkannya lagi, Allah yang mengeluarkannya dari dalam perutnya. 16 Bisa ular tedung akan diisapnya, ia akan dibunuh oleh lidah ular.
17 Ia tidak boleh melihat batang-batang air dan sungai-sungai yang mengalirkan madu dan dadih. 18 Ia harus mengembalikan apa yang diperolehnya dan tidak mengecapnya; ia tidak menikmati kekayaan hasil dagangnya.
19 Karena ia telah menghancurkan orang miskin, dan meninggalkan mereka terlantar; ia merampas rumah yang tidak dibangunnya.
20 Sesungguhnya, ia tidak mengenal ketenangan dalam batinnya, dan ia tidak akan terluput dengan membawa harta bendanya. 21 Suatupun tidak luput dari pada lahapnya, itulah sebabnya kemujurannya tidak kekal. 22 Dalam kemewahannya yang berlimpah-limpah ia penuh kuatir; ia ditimpa kesusahan dengan sangat dahsyatnya.
23 Untuk mengisi perutnya, Allah melepaskan ke atasnya murka-Nya yang menyala-nyala, dan menghujankan itu kepadanya sebagai makanannya.
24 Ia dapat meluputkan diri terhadap senjata besi, namun panah tembaga menembus dia.
25 Anak panah itu tercabut dan keluar dari punggungnya, mata panah yang berkilat itu keluar dari empedunya: ia menjadi ngeri.26 Kegelapan semata-mata tersedia bagi dia, api yang tidak ditiup memakan dia dan menghabiskan apa yang tersisa dalam kemahnya.
27 Langit menyingkapkan kesalahannya, dan bumi bangkit melawan dia.
28 Hasil usahanya yang ada di rumahnya diangkut, semuanya habis pada hari murka-Nya.
29 Itulah ganjaran Allah bagi orang fasik, milik pusaka yang dijanjikan Allah kepadanya.”

21:1 Tetapi Ayub menjawab:
2 Dengarkanlah baik-baik perkataanku dan biarlah itu menjadi penghiburanmu. 3 Bersabarlah dengan aku, aku akan berbicara; sehabis bicaraku bolehlah kamu mengejek.
4 Kepada manusiakah keluhanku tertuju? Mengapa aku tidak boleh kesal hati? 5 Berpalinglah kepadaku, maka kamu akan tercengang, dan menutup mulutmu dengan tangan!
6 Kalau aku memikirkannya, aku menjadi takut, dan gemetarlah tubuhku.
7 Mengapa orang fasik tetap hidup, menjadi tua, bahkan menjadi bertambah-tambah kuat?
8 Keturunan mereka tetap bersama mereka, dan anak cucu diperhatikan mereka. 9 Rumah-rumah mereka aman, tak ada ketakutan, pentung Allah tidak menimpa mereka.
10 Lembu jantan mereka memacek dan tidak gagal, lembu betina mereka beranak dan tidak keguguran. 11 Kanak-kanak mereka dibiarkan keluar seperti kambing domba, anak-anak mereka melompat-lompat. 12 Mereka bernyanyi-nyanyi dengan iringan rebana dan kecapi, dan bersukaria menurut lagu seruling.
13 Mereka menghabiskan hari-hari mereka dalam kemujuran, dan dengan tenang mereka turun ke dalam dunia orang mati.
14 Tetapi kata mereka kepada Allah: 『Pergilah dari kami! Kami tidak suka mengetahui jalan-jalan-Mu. 15 Yang Mahakuasa itu apa, sehingga kami harus beribadah kepada-Nya, dan apa manfaatnya bagi kami, kalau kami memohon kepada-Nya?』
16 Memang, kemujuran mereka tidak terletak dalam kuasa mereka sendiri! Rancangan orang fasik adalah jauh dari padaku.
17 Betapa sering pelita orang fasik dipadamkan, kebinasaan menimpa mereka, dan kesakitan dibagikan Allah kepada mereka dalam murka-Nya!18 Mereka menjadi seperti jerami di depan angin, seperti sekam yang diterbangkan badai.
19 Bencana untuk dia disimpan Allah bagi anak-anaknya. Sebaiknya, orang itu sendiri diganjar Allah, supaya sadar; 20 sebaiknya matanya sendiri melihat kebinasaannya, dan ia sendiri minum dari murka Yang Mahakuasa! 21 Karena peduli apa ia dengan keluarganya sesudah ia mati, bila telah habis jumlah bulannya?
22 Masakan kepada Allah diajarkan orang pengetahuan, kepada Dia yang mengadili mereka yang di tempat tinggi?
23 Yang seorang mati dengan masih penuh tenaga, dengan sangat tenang dan sentosa; 24 pinggangnya gemuk oleh lemak, dan sumsum tulang-tulangnya masih segar. 25 Yang lain mati dengan sakit hati, dengan tidak pernah merasakan kenikmatan. 26 Tetapi sama-sama mereka terbaring di dalam debu, dan berenga-berenga berkeriapan di atas mereka.
27 Sesungguhnya, aku mengetahui pikiranmu, dan muslihat yang kamu rancangkan terhadap aku.
28 Katamu: 『Di mana rumah penguasa? Di mana kemah tempat kediaman orang-orang fasik?』
29 Belum pernahkah kamu bertanya-tanya kepada orang-orang yang lewat di jalan? Dapatkah kamu menyangkal petunjuk-petunjuk mereka, 30 bahwa orang jahat terlindung pada hari kebinasaan, dan diselamatkan pada hari murka Allah?
31 Siapa yang akan langsung menggugat kelakuannya, dan mengganjar perbuatannya? 32 Dialah yang dibawa ke kuburan, dan jiratnya dirawat orang. 33 Dengan nyaman ia ditutupi oleh gumpalan-gumpalan tanah di lembah; setiap orang mengikuti dia, dan yang mendahului dia tidak terbilang banyaknya.
34 Alangkah hampanya penghiburanmu bagiku! Semua jawabanmu hanyalah tipu daya belaka!

Ayat Kunci: sorak-sorai orang fasik hanya sebentar saja, dan sukacita orang durhaka hanya sekejap mata (Ayub 20:5)

Pasal 20 adalah pidato Zofar yang kedua. Pidato ini lebih menyakitkan hati Ayub dibandingkan pidato-pidato lainnya. Dalam pidatonya ini, Zofar menyerang Ayub tanpa ampun. Ia melanjutkan tema yang sebelumnya ditekankan oleh Elifas dan Bildad: akhir dari orang fasik. Elifas berfokus pada penderitaan orang fasik, Bildad menekankan jebakan yang dialami orang fasik, dan Zofar menekankan fakta bahwa orang fasik akan kehilangan kekayaannya.

Di ayat 16:3 Ayub bertanya kepada teman-temannya Apa yang merangsang engkau untuk menyanggah? Zofar menanggapinya dengan mengatakan, Pemahamanku menuntut aku untuk menjawab (20:1-3), dan memakainya untuk mengungkapkan kemarahannya. Zofar mengingatkan Ayub bahwa kemakmuran orang fasik pun hanya berumur pendek (20:4-11; lih. 15:29). Dosa-dosa mereka akan dihukum (20:12-19), dan kejahatan mereka pada akhirnya akan meracuni kehidupan mereka (ayat 14). Penderitaan orang-orang fasik yang dilukiskan oleh Zofar tampaknya merujuk pada Ayub. Hal ini pasti akan sangat menyakiti hati Ayub.

Zofar percaya bahwa ketika orang jahat mengabdikan dirinya untuk memuaskan keinginannya sendiri, murka Allah akan tiba-tiba datang. Segala sesuatu di belakangnya juga hancur (20-29). Mengenai nasib orang jahat, Zofar tidak sepenuhnya salah. Allah memang akan menghakimi dosa, namun ia salah jika mengira Allah pasti akan menghakimi orang fasik dalam hidup saat ini. Dan, ia juga salah jika menganggap Ayub sebagai pelaku kejahatan.

Pasal 21 adalah tanggapan Ayub yang kedua terhadap pidato Zofar. Di akhir dialog putaran pertama, Ayub menanggapi poin penting yang dikemukakan oleh ketiga temannya — bahwa Allah memberkati orang benar dan menghukum orang fasik. Di akhir dialog putaran kedua, Ayub kembali menanggapi poin penting lainnya yang disebutkan oleh ketiga sahabatnya – orang fasik akan dihakimi dan dimusnahkan pada hari-hari kehidupan saat ini.

Ayub berharap agar teman-temannya mendengarkan dengan tenang jawabannya, itu akan merupakan penghiburan terbaik baginya (21:1-6). Dia mengingatkan mereka bahwa dia bukannya tidak puas dengan teman-temannya. Dia hanya meminta Allah untuk menanggapi kebingungannya, namun diamnya Allah membuat dia tidak bisa sabar menunggu.

Ayub menunjukkan bahwa ketiga sahabat tersebut hanya memilih contoh untuk mendukung pandangan mereka, dan Ayub menantang mereka bagaimana mereka dapat menjelaskan fenomena bahwa banyak orang fasik tidak mengalami hukuman dalam hidup ini (21:7-16). Ia secara khusus membahas pernyataan Zofar di pasal 20 bahwa banyak orang yang menolak Allah masih menikmati kemakmuran (ayat 14-15; lih. 18:21). Ayat 16 mungkin menyiratkan bahwa kemakmuran mereka berasal dari Allah; namun ayat 16 di bawah ini menunjukkan bahwa Ayub tidak ingin menjadi seperti orang fasik tersebut.

Ayub menyatakan bahwa alasan mengapa orang fasik dan orang benar binasa adalah sama: karena mereka semua adalah pendosa (21:17-26), dan bukan karena mereka adalah pendosa yang jahat maka mereka pasti akan mati lebih awal. Selain itu, Allah tidak akan menghukum anak-anak karena dosa orang tuanya karena hal tersebut tidak masuk akal dan orang tua tidak dapat melihatnya. Ayub juga menekankan bahwa salah jika mereka menggunakan hukum sebab-akibat kausalitas moral untuk membatasi Allah, dan itu bahkan lebih tidak bijaksana (ayat 22).

Ucapan Ayub lebih seimbang dibandingkan dengan tiga Sahabat dan juga sesuai dengan keadaan sebenarnya. Orang fasik tidak serta merta meninggal lebih awal. Beberapa orang fasik berumur panjang dan sejahtera (21:27-34). Misalnya: Manasye adalah raja Yehuda yang terburuk, namun masa pemerintahannya paling lama. Meskipun Mussolini dan Hitler tidak meninggal dengan bahagia, Lenin dan Stalin berumur panjang sebelum meninggal dengan damai. Alkitab dengan jelas menyatakan: Memang setiap orang yang mau hidup beribadah di dalam Kristus Yesus akan menderita aniaya (2 Timotius 3:12)

Jelaslah, setelah dua putaran dialog, Ayub memiliki pemahaman yang lebih dewasa.

Renungkan:
Inspirasi apa yang diberikan kepada Anda berdasarkan realitas orang fasik makmur dan orang benar menderita? Katakan kepada Allah bahwa Anda sangat percaya bahwa Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga (Matius 5:10).


Renungan pemahaman Kitab Ayub

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Ayub ditulis oleh Lu Zhuo An (呂焯安) yang dipublikasi pada bulan Oktober 2015 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Ayub 19:1-29

「g」

Oleh Lu Zhuo An (呂焯安)
Alliance Bible Seminary H.K.

(Ayub 19:1-29 [ITB])
1 Tetapi Ayub menjawab:
2 Berapa lama lagi kamu menyakitkan hatiku, dan meremukkan aku dengan perkataan?3 Sekarang telah sepuluh kali kamu menghina aku, kamu tidak malu menyiksa aku.
4 Jika aku sungguh tersesat, maka aku sendiri yang menanggung kesesatanku itu.
5 Jika kamu sungguh hendak membesarkan diri terhadap aku, dan membuat celaku sebagai bukti terhadap diriku,6 insafilah, bahwa Allah telah berlaku tidak adil terhadap aku, dan menebarkan jala-Nya atasku.
7 Sesungguhnya, aku berteriak: 『Kelaliman!』, tetapi tidak ada yang menjawab. Aku berseru minta tolong, tetapi tidak ada keadilan.8 Jalanku ditutup-Nya dengan tembok, sehingga aku tidak dapat melewatinya, dan jalan-jalanku itu dibuat-Nya gelap.
9 Ia telah menanggalkan kemuliaanku dan merampas mahkota di kepalaku.10 Ia membongkar aku di semua tempat, sehingga aku lenyap, dan seperti pohon harapanku dicabut-Nya.
11 Murka-Nya menyala terhadap aku, dan menganggap aku sebagai lawan-Nya.
12 Pasukan-Nya maju serentak, mereka merintangi jalan melawan aku, lalu mengepung kemahku.
13 Saudara-saudaraku dijauhkan-Nya dari padaku, dan kenalan-kenalanku tidak lagi mengenal aku.
14 Kaum kerabatku menghindar, dan kawan-kawanku melupakan aku.
15 Anak semang dan budak perempuanku menganggap aku orang yang tidak dikenal, aku dipandang mereka orang asing.
16 Kalau aku memanggil budakku, ia tidak menyahut; aku harus membujuknya dengan kata-kata manis.
17 Nafasku menimbulkan rasa jijik kepada isteriku, dan bauku memualkan saudara-saudara sekandungku.
18 Bahkan kanak-kanakpun menghina aku, kalau aku mau berdiri, mereka mengejek aku.
19 Semua teman karibku merasa muak terhadap aku; dan mereka yang kukasihi, berbalik melawan aku.
20 Tulangku melekat pada kulit dan dagingku, dan hanya gusiku yang tinggal padaku.
21 Kasihanilah aku, kasihanilah aku, hai sahabat-sahabatku, karena tangan Allah telah menimpa aku.22 Mengapa kamu mengejar aku, seakan-akan Allah, dan tidak menjadi kenyang makan dagingku?
23 Ah, kiranya perkataanku ditulis, dicatat dalam kitab,24 terpahat dengan besi pengukir dan timah pada gunung batu untuk selama-lamanya!
25 Tetapi aku tahu: Penebusku hidup, dan akhirnya Ia akan bangkit di atas debu.
26 Juga sesudah kulit tubuhku sangat rusak, tanpa dagingkupun aku akan melihat Allah,27 yang aku sendiri akan melihat memihak kepadaku; mataku sendiri menyaksikan-Nya dan bukan orang lain. Hati sanubariku merana karena rindu.
28 Kalau kamu berkata: 『Kami akan menuntut dia dan mendapatkan padanya sebab perkaranya!』,29 takutlah kepada pedang, karena kegeraman mendatangkan hukuman pedang, agar kamu tahu, bahwa ada pengadilan.

Ayat Kunci: Tetapi aku tahu: Penebusku hidup, dan akhirnya Ia akan bangkit di atas debu. Juga sesudah kulit tubuhku sangat rusak, tanpa dagingkupun aku akan melihat Allah, (Ayub 19:25-26)

Pasal ini merupakan tanggapan Ayub yang kedua terhadap pidato Bildad, dan merupakan salah satu pasal terpenting dalam kitab ini. Karena di sini Ayub turun ke titik yang sangat rendah dan naik ke titik yang sangat tinggi. Kedua ekstrem ini muncul dalam pasal yang sama. Dalam pasal ini, dia mengungkapkan penolakan yang dia terima dari teman, kerabat, dan hambanya. Namun di sisi lain, ia mulai memiliki iman baru terhadap Allah.

Kedua pidato Bildad diawali dengan Bilakah …? (How long…? / Berapa lama …?) Dalam tanggapan ini, Ayub juga memulai dengan Berapa lama lagi …? (How long…? / Berapa lama …?) Ayub secara terang-terangan menyatakan bahwa teman-temannyalah yang memperlakukannya dengan buruk (19:1-6). Ayat 3 Sekarang telah sepuluh kali kamu menghina aku, kamu tidak malu menyiksa aku …di sini kata sepuluh kali bisa berarti harfiah sepuluh pengalaman yang sebenarnya, atau bisa juga berarti sedemikian berulang kali. Ayub menyatakan bahwa Allah tidak menangani kasusnya dengan adil (ayat 5-6; lih. 8:3). Ayub tidak setuju dengan kata-kata Bildad (18:8-10). Ia percaya bahwa Allahlah yang mengepungnya dengan jerat; Allahlah yang menyiksanya dan bekerja melawannya (19:7-12). Ayub sepakat dengan teman-temannya bahwa Allahlah yang menempatkan dia dalam kesulitan. Perbedaannya adalah teman-teman Ayub mengira Allah menghukum Ayub karena dosa-dosanya; namun Ayub menganggap Allah memperlakukannya dengan tidak adil, bukan karena dosa-dosanya. Allah tidak menanggapi seruan dirinya itu menunjukkan ketidakadilan Allah (ayat 7).

Kemudian di ayat 8-12, Ayub menyebutkan sepuluh cara Allah bisa memukul dirinya. Perhatikan pengulangan terus menerus kata …-Nya dan Iayang menekankan bahwa Allahlah yang bertanggung jawab. Ayub menunjukkan bahwa semua kesulitannya berasal dari Allah (bandingkan 19:8b dan 18:5-6, 18; 19:9 dan 18:16-17; 19:10a dan 18:7,12; 10 9:10b dan 18:16; 19:12 dan 18:14). Ada yang menganggap perkataan Ayub di sini menghujat Allah. Namun, penghujatan adalah dengan sengaja mengolok-olok Allah dan menentang Allah. Ayub tidak mengolok-olok Allah atau menentang Dia. Dia hanya menggambarkan Allah dari pemahaman pengalamannya sendiri. Dia tidak mengerti mengapa Allah memperlakukannya dengan tidak adil, dan dia berulang kali meminta Allah untuk memecahkan misteri ini untuknya.

Selanjutnya Ayub juga menyebutkan bahwa orang lain yang mengenalnya memperlakukannya dengan kasar (19:13-22). Dalam menggambarkan orang-orang yang memperlakukannya dengan kasar, Ayub mengawali dengan menyebut orang-orang yang jauh, kemudian mendekat, dan terakhir menyebutkan orang-orang terdekatnya. Dari generasi yang sama hingga yang termuda. Makna di balik ayat 20 kemungkinan besar adalah gigi Ayub sudah tanggal dan yang tersisa hanya gusi daging giginya saja. Karena tidak menemukan penghiburan di antara orang lain, Ayub kembali berpaling kepada Allah!

Ayub tidak menemukan penghiburan di antara orang-orang yang dapat dilihatnya, sehingga ia kembali kepada Allah, yang tidak terlihat dengan mata daging, dan membangun kembali imannya kepada Allah (19:23-29). Ayat ini mungkin merupakan bagian yang paling dikenal dalam kitab ini (ayat 23-27). Itu adalah peneguhan iman Ayub yang besar kepada Allah. Permintaan Ayub di ayat 23-24 terpenuhi, melebihi semua yang dia minta atau bayangkan. Siapakah Penebus yang disebutkan Ayub di ayat 25? Mungkin ini mengacu pada perantara yang disebutkan dalam 9:33 dan 16:19. Kita dapat percaya bahwa dalam pikiran Ayub, ini adalah pribadi lain selain Allah. Namun sebagian orang berpikir itu mengacu pada Allah (lihat ayat 26). Dalam bahasa Ibrani, kata penebus mengacu pada kerabat dekat yang memberikan perlindungan hukum kepada kerabat yang tidak berdaya (lihat Imamat 25:23-25, 47-55; Rut 2:20, 4:4-15; Mazmur 119:154; Amsal 23:11; Yeremia 50:34). Ayub yakin bahwa Penebus ini akan menangani kasusnya dan membela kasusnya. Pada akhirnya Ayub mampu dibenarkan di hadapan semua orang (ayat 25b). Meskipun Ayub mungkin tidak mengetahui siapa Penebus ini, saat ini kita mengetahui bahwa Dia adalah Yesus Kristus (1 Tim. 2:5). Meskipun Ayub tidak memahami makna nubuat dari kata-katanya, itu jelas merupakan nubuat tentang Mesias.

Setelah pernyataan iman yang memiliki terobosan ini, selanjutnya kita melihat Ayub tidak terlalu panik. Dia telah belajar melihat penderitaannya dalam terang kekekalan. Jika kita dapat membantu orang mendapatkan perspektif seperti itu dan melihat penderitaan mereka, kita akan menemukan bahwa penderitaan mereka akan berkurang atau terobati.

Renungkan:
Akhir dari manusia adalah permulaan dari Allah! Apakah menurut Anda ini adalah cara yang tepat untuk menggambarkan Ayub dalam pasal ini? Tuliskan apa yang akan Anda lakukan ketika Anda menasihati seseorang yang sedang bergumul.


Renungan pemahaman Kitab Ayub

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Ayub ditulis oleh Lu Zhuo An (呂焯安) yang dipublikasi pada bulan Oktober 2015 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Ayub 18:1-21

Cahaya orang fasik akan padam」

Oleh Lu Zhuo An (呂焯安)
Alliance Bible Seminary H.K.

(Ayub 18:1-21 [ITB])
1 Maka Bildad, orang Suah, menjawab:
2 Bilakah engkau habis bicara? Sadarilah, baru kami akan bicara.
3 Mengapa kami dianggap binatang? Mengapa kami bodoh dalam pandanganmu?4 Engkau yang menerkam dirimu sendiri dalam kemarahan, demi kepentinganmukah bumi harus menjadi sunyi, dan gunung batu bergeser dari tempatnya?
5 Bagaimanapun juga terang orang fasik tentu padam, dan nyala apinya tidak tetap bersinar.6 Terang di dalam kemahnya menjadi gelap, dan pelita di atasnya padam.
7 Langkahnya yang kuat terhambat, dan pertimbangannya sendiri menjatuhkan dia.8 Karena kakinya sendiri menyangkutkan dia dalam jaring, dan di atas tutup pelubang ia berjalan.9 Tumitnya tertangkap oleh jebak, dan ia tertahan oleh jerat.10 Tali tersembunyi baginya dalam tanah, perangkap terpasang baginya pada jalan yang dilaluinya.11 Kedahsyatan mengejutkan dia di mana-mana, dan mengejarnya di mana juga ia melangkah.12 Bencana mengidamkan dia, kebinasaan bersiap-siap menantikan dia jatuh.
13 Kulit tubuhnya dimakan penyakit, bahkan anggota tubuhnya dimakan oleh penyakit parah.14 Ia diseret dari kemahnya, tempat ia merasa aman, dan dibawa kepada raja kedahsyatan.15 Dalam kemahnya tinggal apa yang tidak ada sangkut pautnya dengan dia, di atas tempat kediamannya ditaburkan belerang.16 Di bawah keringlah akar-akarnya, dan di atas layulah rantingnya.
17 Ingatan kepadanya lenyap dari bumi, namanya tidak lagi disebut di lorong-lorong.18 Ia diusir dari tempat terang ke dalam kegelapan, dan ia dienyahkan dari dunia.19 Ia tidak akan mempunyai anak atau cucu cicit di antara bangsanya, dan tak seorangpun yang tinggal hidup di tempat kediamannya.
20 Atas hari ajalnya orang-orang di Barat akan tercengang, dan orang-orang di Timur akan dihinggapi ketakutan.
21 Sungguh, demikianlah tempat kediaman orang yang curang, begitulah tempat tinggal orang yang tidak mengenal Allah.

Ayat Kunci: Ingatan kepadanya lenyap dari bumi, namanya tidak lagi disebut di lorong-lorong (Ayub 18:17)

Pasal ini mencatat pidato kedua Bildad. Ia menekankan nasib orang jahat; dibandingkan dengan yang pertama kali, tidak ada yang baru, tetapi lebih tajam dan keras dari pidato yang pertama.

Bildad begitu membuka mulut langsung menegur Ayub (18:1-4). Bildad menjadi tidak sabar karena penolakan Ayub untuk berubah pikiran atau mengakui dosanya (ayat 1-2). Ayub menyatakan bahwa Allah mencabik-cabiknya seperti binatang yang mencabik-cabik mangsanya (16:9), namun Bildad menyatakan bahwa Ayublah yang mencabik-cabik dirinya sendiri (ayat 4a). Ia percaya bahwa Ayub tidak berhak meminta Allah melakukan mukjizat besar baginya, yang menunjukkan kesombongan Ayub (ayat 4b).

Berdasarkan hal ini, Bildad, seperti Elifas, memperingatkan Ayub dengan menjelaskan secara rinci kesengsaraan orang fasik (18:5-21). Perhatikan apa yang Bildad dan Elifas katakan tentang orang fasik:

ElifasOrang fasikBildad
15:22-23, 30Hidup dalam kegelapan18:5-6, 18
15:30b, 32-33Seperti tanaman tidak sehat18:16
15:30, 34Terbakar api18:15
15:27-31Kehilangan pengaruh18:7, 15-16
15:21, 24Terkejut dan ketakutan18:11, 14
15:34Kehilangan keluarga18:6, 14-15
15:4, 13, 25-26Tidak mengenal Allah18:21
15:13Jatuh ke dalam perangkap, jebakan18:8-10

Bagian yang paling menonjol dari ayat ini adalah seringnya berbicara tentang bagaimana orang fasik akan jatuh ke dalam jerat dan perangkap, terutama di ayat 8-10. Bildad tidak hanya berbicara tentang orang-orang fasik yang tertangkap, tetapi juga seperti binatang yang terdesak, terjebak dalam ketakutan (ayat 11). Seperti Elifas, Bildad menggambarkan apa yang dialami Ayub (misalnya 18:13a, 15), anggota tubuhnya dimakan oleh penyakit parah (lihat juga MIL, ITL kematian anak sulung memakan bagian-bagian tubuhnya) mungkin berarti kematian yang mengerikan.

Kita harus ingat bahwa ketika kita menasihati orang-orang yang sedang bergumul, kita tidak meminta mereka untuk mengadopsi filosofi atau teologi kita. Hal yang paling penting adalah membantunya dan membimbingnya untuk berpikir tentang Allah dan berbicara kepada-Nya. Teman-teman Ayub sepertinya sudah menyerah karena Ayub tidak setuju dengan teologi mereka. Mereka tidak dapat menerima Ayub. Permintaan Ayub untuk berdialog dengan Allah justru tidak dapat diterima oleh teologi mereka.

Renungkan:
Menurut Anda apa dampak positif dan negatif pidato Bildad terhadap Ayub? Tuliskan apa yang tidak akan pernah Anda lakukan saat menasihati seseorang yang sedang dalam pergumulan atau penderitaan.


Renungan pemahaman Kitab Ayub

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Ayub ditulis oleh Lu Zhuo An (呂焯安) yang dipublikasi pada bulan Oktober 2015 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Ayub 16:1-17:16

Semangatku patah, umurku telah habis」

Oleh Lu Zhuo An (呂焯安)
Alliance Bible Seminary H.K.

(Ayub 16:1-17:16 [ITB])
16:1 Tetapi Ayub menjawab:
2 Hal seperti itu telah acap kali kudengar. Penghibur sialan kamu semua!3 Belum habiskah omong kosong itu? Apa yang merangsang engkau untuk menyanggah?
4 Akupun dapat berbicara seperti kamu, sekiranya kamu pada tempatku; aku akan menggubah kata-kata indah terhadap kamu, dan menggeleng-gelengkan kepala atas kamu.5 Aku akan menguatkan hatimu dengan mulut, dan tidak menahan bibirku mengatakan belas kasihan.6 Tetapi bila aku berbicara, penderitaanku tidak menjadi ringan, dan bila aku berdiam diri, apakah yang hilang dari padaku?
7 Tetapi sekarang, Ia telah membuat aku lelah dan mencerai-beraikan segenap rumah tanggaku,8 sudah menangkap aku; inilah yang menjadi saksi; kekurusanku telah bangkit menuduh aku.9 Murka-Nya menerkam dan memusuhi aku, Ia menggertakkan giginya terhadap aku; lawanku memandang aku dengan mata yang berapi-api.10 Mereka mengangakan mulutnya melawan aku, menampar pipiku dengan cercaan, dan bersama-sama mengerumuni aku.11 Allah menyerahkan aku kepada orang lalim, dan menjatuhkan aku ke dalam tangan orang fasik.
12 Aku hidup dengan tenteram, tetapi Ia menggelisahkan aku, aku ditangkap-Nya pada tengkukku, lalu dibanting-Nya, dan aku ditegakkan-Nya menjadi sasaran-Nya.13 Aku dihujani anak panah, ginjalku ditembus-Nya dengan tak kenal belas kasihan, empeduku ditumpahkan-Nya ke tanah.14 Ia merobek-robek aku, menyerang aku laksana seorang pejuang.
15 Kain kabung telah kujahit pada kulitku, dan tandukku kumasukkan ke dalam debu;16 mukaku merah karena menangis, dan bulu mataku ditudungi kelam pekat,17 sungguhpun tidak ada kelaliman pada tanganku, dan doaku bersih.
18 Hai bumi, janganlah menutupi darahku, dan janganlah kiranya teriakku mendapat tempat perhentian!
19 Ketahuilah, sekarangpun juga, Saksiku ada di sorga, Yang memberi kesaksian bagiku ada di tempat yang tinggi.
20 Sekalipun aku dicemoohkan oleh sahabat-sahabatku, namun ke arah Allah mataku menengadah sambil menangis,21 supaya Ia memutuskan perkara antara manusia dengan Allah, dan antara manusia dengan sesamanya.
22 Karena sedikit jumlah tahun yang akan datang, dan aku akan menempuh jalan, dari mana aku tak akan kembali lagi.

17:1 Semangatku patah, umurku telah habis, dan bagiku tersedia kuburan.
2 Sesungguhnya, aku menjadi ejekan; mataku terpaksa menyaksikan tantangan mereka.
3 Biarlah Engkau menjadi jaminanku bagi-Mu sendiri! Siapa lagi yang dapat membuat persetujuan bagiku?
4 Karena hati mereka telah Kaukatupkan bagi pengertian; itulah sebabnya Engkau mencegah mereka untuk menang.
5 Barangsiapa mengadukan sahabatnya untuk mencari keuntungan, mata anak-anaknya akan menjadi rabun.
6 Aku telah dijadikan sindiran di antara bangsa-bangsa, dan aku menjadi orang yang diludahi mukanya.
7 Mataku menjadi kabur karena pedih hati, segala anggota tubuhku seperti bayang-bayang.
8 Orang-orang yang jujur tercengang karena hal itu, dan orang yang tidak bersalah naik pitam terhadap orang fasik.
9 Meskipun begitu orang yang benar tetap pada jalannya, dan orang yang bersih tangannya bertambah-tambah kuat.
10 Tetapi kamu sekalian, silakan datang kembali! Seorang yang mempunyai hikmat takkan kudapati di antara kamu!
11 Umurku telah lalu, telah gagal rencana-rencanaku, cita-citaku.
12 Malam hendak dijadikan mereka siang: terang segera muncul dari gelap, kata mereka.
13 Apabila aku mengharapkan dunia orang mati sebagai rumahku, menyediakan tempat tidurku di dalam kegelapan,14 dan berkata kepada liang kubur: Engkau ayahku, kepada berenga: Ibuku dan saudara perempuanku,15 maka di manakah harapanku? Siapakah yang melihat adanya harapan bagiku?16 Keduanya akan tenggelam ke dasar dunia orang mati, apabila kami bersama-sama turun ke dalam debu.

Ayat Kunci: Ketahuilah, sekarangpun juga, Saksiku ada di sorga, Yang memberi kesaksian bagiku ada di tempat yang tinggi (Ayub 16:19)

Kedua pasal ini merupakan tanggapan Ayub yang kedua terhadap pidato Elifas. Tanggapan Ayub mencerminkan ketidaktertarikannya yang semakin besar terhadap tuduhan teman-temannya. Dia memberi mereka peringatan. Setelah itu, dia melanjutkan ratapannya dalam ketersendirian.

Ayub dari awal sudah terus terang mengungkapkan rasa bosannya kepada teman-temannya (16:1-5). Dia mengatakan bahwa apa yang dikatakan temannya bukanlah hal baru atau bermanfaat baginya (ayat 1). Perkataan Elifas tidak memberikan penghiburan yang dijanjikan (15:11). Yang mereka ucapkan hanyalah kata-kata sia-sia (ayat 3). Ayub menyatakan bahwa dia juga bisa mengucapkan kata-kata seperti itu, dan efeknya akan lebih baik daripada kata-kata mereka itu.

Kegelisahan terbesar Ayub bukan disebabkan oleh teman-temannya. Pertanyaan Ayub yang terus-menerus adalah mengapa Allah memperlakukan dia seperti ini (16:6-17). Dilihat dari sudut pandang ini, mudah untuk memahami apa yang dikatakan bagian ini. Dalam ayat 17 dia menegaskan kembali bahwa dia tidak bersalah dan tidak pantas menerima penderitaan ini. Oleh karena itu, Ayub sangat rindu mempunyai wakil di surga (16:18-17:2). Ayat 18 adalah seruan untuk meminta keadilan. Ayub tidak ingin kasusnya diabaikan saat dia meninggal. Sekalipun dia sendiri tidak dapat hidup untuk menjadi saksi, dia tetap berharap pertanyaannya akan terjawab dan ketidakbersalahannya akan dikukuhkan secara adil. Perantara yang dimaksud di ayat 19 mungkin merujuk pada pribadi di surga, tetapi dapat diyakini bukanlah Allah sendiri. Perhatikan ayat 21, banyak peneliti berpendapat bahwa ini mengacu pada Yesus Kristus. Dia adalah mediator yang disiapkan oleh Allah Bapa. Namun Ayub tentu saja tidak mendapat wahyu mengenai hal ini. Dia hanya mengungkapkan keinginan yang mendalam di dalam hatinya.

Dalam 17:3-5, Ayub mengeluarkan penolakan kepada teman-temannya. Dalam tindakan hukum jenis ini, setiap pihak yang berperkara akan memberikan jaminan kepada hakim sebelum persidangan, yang menjamin bahwa mereka akan tetap adil dan jujur selama proses berlangsung. Jika salah satu pihak bertindak tidak adil atau tidak jujur, maka uang jaminan akan hangus. Ayub berseru kepada Allah meminta bukti (ayat 3a). Mediator yang dimaksudkan dalam ayat 3 adalah bila yang diadili tidak dapat memberikan jaminan, maka ia akan memberikannya. Secara umum, teman-teman Ayub akan membantunya menyiapkan uang jaminan. Namun mereka berbalik melawannya dan menyerangnya. Ayub menghubungkan ketidaktahuan teman-temannya karena tindakan Allah (ayat 4 Karena hati mereka telah Kaukatupkan bagi pengertian; itulah sebabnya Engkau mencegah mereka untuk menang.) Ayat 5 Barangsiapa mengadukan sahabatnya untuk mencari keuntungan, sepertinya Ayub percaya bahwa teman-temannya tidak membantunya karena mereka ingin mendapatkan sebagian dari warisannya setelah kematiannya. Tentu saja ini hanya spekulasi, dan kita dapat melihat ketiga sahabat itu tidak punya motif seperti itu.

Menilai situasi pribadinya, Ayub berkali-kali menyatakan bahwa dia tidak akan bisa lolos dari malapetaka. Menghadapi kematian, Ayub tampak sangat tertekan (17:6-16). Ayub kembali menuduh Allah menjadikannya bahan tertawaan di kalangan manusia (ayat 6). Mungkin beberapa orang tua menggunakan dia sebagai contoh negatif untuk mengajari anak-anak mereka konsekuensi melakukan kejahatan, seperti halnya Ayub. Dalam kesukaran yang luar biasa, Ayub mengalami kelelahan fisik dan mental (ayat 7). Namun, ia sangat yakin bahwa pengalamannya tidak akan mengubah pendirian orang-orang saleh terhadap para pelaku kejahatan (ayat 8b). Pada bagian akhir, Ayub sekali lagi menyebutkan kematiannya yang telah direncanakan dan merasa sangat tertekan (17:13-16).

Renungkan:
Dari respons Ayub yang kedua kepada Elifas, apakah menurut Anda pikirannya kacau? Dalam proses berbicara dengan orang, terutama yang sedang menghadapi masalah, kita perlu berlatih berpikir dan merasakan dengan penuh perhatian.


Renungan pemahaman Kitab Ayub

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Ayub ditulis oleh Lu Zhuo An (呂焯安) yang dipublikasi pada bulan Oktober 2015 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Ayub 15:1-35

「g」

Oleh Lu Zhuo An (呂焯安)
Alliance Bible Seminary H.K.

(Ayub 15:1-35 [ITB])
1 Maka Elifas, orang Teman, menjawab:
2 Apakah orang yang mempunyai hikmat menjawab dengan pengetahuan kosong, dan mengisi pikirannya dengan angin?3 Apakah ia menegur dengan percakapan yang tidak berguna, dan dengan perkataan yang tidak berfaedah?
4 Lagipula engkau melenyapkan rasa takut dan mengurangi rasa hormat kepada Allah.5 Kesalahanmulah yang mengajar mulutmu, dan bahasa orang licik yang kaupilih.6 Mulutmu sendirilah yang mempersalahkan engkau, bukan aku; bibirmu sendiri menjadi saksi menentang engkau.
7 Apakah engkau dilahirkan sebagai manusia yang pertama, atau dijadikan lebih dahulu dari pada bukit-bukit?8 Apakah engkau turut mendengarkan di dalam musyawarah Allah dan meraih hikmat bagi dirimu?9 Apakah yang kauketahui, yang tidak kami ketahui? Apakah yang kaumengerti, yang tidak terang bagi kami?10 Di antara kami juga ada orang yang beruban dan yang lanjut umurnya, yang lebih tua umurnya dari pada ayahmu.
11 Kurangkah artinya bagimu penghiburan Allah, dan perkataan yang dengan lemah lembut ditujukan kepadamu?12 Mengapa engkau dihanyutkan oleh perasaan hatimu dan mengapa matamu menyala-nyala,13 sehingga engkau memalingkan hatimu menentang Allah, dan mulutmu mengeluarkan perkataan serupa itu?
14 Masakan manusia bersih, masakan benar yang lahir dari perempuan?15 Sesungguhnya, para suci-Nya tidak dipercayai-Nya, seluruh langitpun tidak bersih pada pandangan-Nya;16 lebih-lebih lagi orang yang keji dan bejat, yang menghirup kecurangan seperti air.
17 Aku hendak menerangkan sesuatu kepadamu, dengarkanlah aku, dan apa yang telah kulihat, hendak kuceritakan,18 yakni apa yang diberitakan oleh orang yang mempunyai hikmat, yang nenek moyang mereka tidak sembunyikan,19 ketika hanya kepada mereka negeri itu diberikan, dan tidak ada seorang asingpun masuk ke tengah-tengah mereka.
20 Orang fasik menggeletar sepanjang hidupnya, demikian juga orang lalim selama tahun-tahun yang disediakan baginya.21 Bunyi yang dahsyat sampai ke telinganya, pada masa damai ia didatangi perusak.
22 Ia tidak percaya, bahwa ia akan kembali dari kegelapan: ia sudah ditentukan untuk dimakan pedang.
23 Ia mengembara untuk mencari makan, entah ke mana. Ia tahu, bahwa hari kegelapan siap menantikan dia.
24 Ia ditakutkan oleh kesesakan dan kesempitan, yang menggagahinya laksana raja yang siap menyergap.
25 Karena ia telah mengedangkan tangannya melawan Allah dan berani menantang Yang Mahakuasa;26 dengan bertegang leher ia berlari-lari menghadapi Dia, dengan perisainya yang berlapis tebal.
27 Mukanya telah ditutupinya dengan lemak, dan lapisan lemak dikenakannya pada pinggangnya;28 ia menetap di kota-kota yang telah hancur, di rumah-rumah yang tidak dapat didiami orang, yang ditentukan untuk tetap menjadi reruntuhan.
29 Ia takkan menjadi kaya dan hartanya tidak kekal, serta miliknyapun tidak bertambah-tambah di bumi.
30 Ia tidak akan luput dari kegelapan, tunasnya akan dilayukan oleh nyala api, dan ia akan dilenyapkan oleh nafas mulut-Nya.
31 Janganlah ia percaya kepada kesia-siaan, akan tertipulah ia, karena kesia-siaan akan menjadi ganjarannya.
32 Sebelum genap masanya, ajalnya akan sampai; dan rantingnyapun tidak akan menghijau.
33 Ia seperti pohon anggur yang gugur buahnya dan seperti pohon zaitun yang jatuh bunganya.
34 Karena kawanan orang-orang fasik tidak berhasil, dan api memakan habis kemah-kemah orang yang makan suap.
35 Mereka menghamilkan bencana dan melahirkan kejahatan, dan tipu daya dikandung hati mereka.

Ayat Kunci: Kurangkah artinya bagimu penghiburan Allah, dan perkataan yang dengan lemah lembut ditujukan kepadamu? (Ayub 15:11)

Perikop hari ini membuka dialog putaran kedua antara Ayub dan ketiga temannya (pasal 15 hingga 21). Kita tidak tahu apakah di antaranya ada tenggat waktu. Urutannya sama dengan dialog putaran pertama, Elifas masih memulainya terlebih dahulu, lalu Bildad, dan terakhir Zofar.

Pada pidato putaran kedua, teman-teman Ayub pada dasarnya mempertahankan posisi semula tentang penyebab penderitaan Ayub dan logika cara kerja hubungan antara manusia dan Allah. Namun, suasana hati dan semangat mereka berubah, mereka menjadi semakin memusuhi Ayub. Mereka tampaknya berpikir bahwa Ayub tidak akan bertobat, sehingga mereka mengambil pendekatan yang lebih tidak langsung, menekankan nasib orang jahat, dengan harapan dapat memaksa Ayub untuk bertobat. Tanggapan Ayub sejauh ini tampaknya telah meyakinkan Elifas bahwa ia adalah seorang berdosa yang keras kepala dan sengaja memusuhi Allah.

Elifas menegur Ayub karena ucapannya yang tidak sopan (ayat 1-6) dan karena menganggap dirinya bijaksana dan bersih (ayat 7-16). Ayub sekali lagi dikritik sebagai angin dan angin timur (ayat 2-3 Patutkah seorang yang berbudi memberi perkataan cakap angin akan jawabnya? Patutkah dipenuhinya perutnya dengan angin timur? ITL; 8:2 Berapa lamakah lagi engkau akan berbicara begitu, dan perkataan mulutmu seperti angin yang menderu?) Angin timur merupakan angin panas destruktif yang bertiup dari padang pasir. Elifas percaya bahwa dosa Ayub menyebabkan dia berbicara dengan sombong. Bagi Elifas, Ayub sedang menghina dia. Karena Ayub yang lebih muda menolak hikmat teman-temannya yang lebih tua, Ayub bertindak tidak hormat dan berpikir bahwa ia mempunyai hikmat yang lebih besar melebihi mereka. Tentu saja Ayub tidak bermaksud seperti itu. Ia hanya mengatakan bahwa ia bijaksana, sama seperti mereka (12:3; 13:2). Ia tidak mengaku tahu mengapa ia menderita seperti itu, namun menyatakan bahwa penjelasan teman-temannya salah dan tidak sesuai dengan apa yang ia alami. Elifas berpikir bahwa doa Ayub kepada Allah adalah pemberontakan melawan Allah (ayat 12-13), namun kenyataannya tidak demikian. Kita perlu berhati-hati agar tidak melakukan kesalahan yang sama dalam pelayanan kita. Di satu sisi, Elifas benar bahwa semua manusia adalah orang berdosa yang korup (ayat 14); namun di sisi lain, ia salah dalam berpikir bahwa Ayub menderita karena pemberontakannya melawan Allah.

Sebelum mengakhiri pidatonya, Elifas merinci nasib orang fasik (ayat 17-35). Mungkin dia ingin menggunakan bagian ini untuk menakut-nakuti Ayub agar bertobat. Seperti sebelumnya, pijakan wibawa yang dipakai Elifas adalah didasarkan pada pengamatan dan pengalamannya (ayat 17; lih. 4:8). Di dalamnya ia menambahkan hikmat nenek moyang (ayat 18-19; lih. 8:8). Dalam masyarakat kuno, menolak mengikuti tradisi masa lalu dipandang sebagai tanda kebebalan. Orang jahat akan mendapat masalah karena dosanya (ayat 20-25). Ia akan bersusah payah dan menderita sepanjang hidupnya (ayat 20a; lih. 4:22), seperti perempuan yang sedang melahirkan; hari-harinya akan dihitung (ayat 20b; lih. 14:5), dan ia akan terus-menerus ketakutan. (ayat 21a); dirampok pada masa damai (ayat 21b; lih. 1:13-19; 12:6); sering diganggu oleh rasa berdosa (ayat 22a); ketakutan seperti diburu dan dibunuh (ayat 22b); khawatir kebutuhan dasar hidup (ayat 23); sering berada dalam krisis dan kesukaran (ayat 24; lih. 7:14; 9:34; 13:21; 14:20). Ayub mengaku menderita selama ini. Elifas menyiratkan bahwa Ayub memiliki semua ciri orang jahat. Dalam daftar ini, Elifas memberikan penekanan khusus pada permasalahan batin orang jahat.

Ayat 15:20-35 dinyatakan dalam sepasang struktur paralel untuk menekankan atau menyoroti alasan hukuman tersebut.
A. Penghakiman Orang Jahat (15:20-24)
B. Alasan diadili dan dihukum (15:25-26)
B’ Alasan diadili dan dihukum (15:27-28)
A’ Penghakiman Orang Jahat (15:29-35)

Pada dasarnya ada dua alasan mengapa orang jahat dihakimi dan dihukum: pemberontakan dan melawan terhadap Allah (ayat 25-26), serta kesombongan diri (ayat 27-28). Arti dari ayat 28 mungkin adalah ia menetap di kota-kota yang telah hancur, di rumah-rumah yang tidak dapat didiami orang, yang ditentukan untuk tetap menjadi reruntuhan, dengan demikian ia melanggar kutukan yang ditetapkan atas tempat yang sunyi itu (lihat Yosua 6:26; 1 Raja-raja 16:34). Ayat 29-35, sekali lagi menuliskan tujuh macam hukuman: dia tidak akan beruntung (ayat 29), dia akan binasa (ayat 30a), hasil seluruh jerih payahnya akan hilang (ayat 30b), dan dia akan mati sebelum waktunya (ayat 31-32a, lih. 4:8), kegagalan (ayat 32b-33), tidak membuahkan hasil (ayat 34; lih. 3:7; 4:21; 8:22), menipu diri sendiri (ayat 31).

Baik bagian awal (ayat 20 Orang fasik bekerja keras dengan rasa sakit sepanjang hidupnya KJV) maupun akhir (ayat 35 Mereka menghamilkan bencana dan melahirkan kejahatan, dan tipu daya dikandung hati mereka) mengacu pada kehamilan sebagai perbandingan. Uraian tentang penghakiman dan hukuman ini tidak serta merta disusun seperti di atas. Ciri-ciri puisi yang paralel sering kali menggunakan persamaan deskripsi untuk memperkuat aspek ekspresi tertentu.

Renungkan:
Elifas selalu berada dalam posisinya sendiri untuk menilai tanggapan Ayub. Bagaimana hal ini menginspirasi Anda? Menurut Anda apa yang harus menjadi langkah pertama dalam belajar menempatkan diri pada posisi orang lain?


Renungan pemahaman Kitab Ayub

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Ayub ditulis oleh Lu Zhuo An (呂焯安) yang dipublikasi pada bulan Oktober 2015 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.