「Janganlah engkau menolak didikan Yang Mahakuasa!」
Oleh Lu Zhuo An (呂焯安)
Alliance Bible Seminary H.K.
(Ayub 4:1-5:27 [ITB])
4:1 Maka berbicaralah Elifas, orang Teman:
2 「Kesalkah engkau, bila orang mencoba berbicara kepadamu? Tetapi siapakah dapat tetap menutup mulutnya?3 Sesungguhnya, engkau telah mengajar banyak orang, dan tangan yang lemah telah engkau kuatkan;4 orang yang jatuh telah dibangunkan oleh kata-katamu, dan lutut yang lemas telah kaukokohkan;5 tetapi sekarang, dirimu yang tertimpa, dan engkau kesal, dirimu terkena, dan engkau terkejut.
6 Bukankah takutmu akan Allah yang menjadi sandaranmu, dan kesalehan hidupmu menjadi pengharapanmu?
7 Camkanlah ini: 『siapa binasa dengan tidak bersalah dan di manakah orang yang jujur dipunahkan?』
8 Yang telah kulihat ialah bahwa orang yang membajak kejahatan dan menabur kesusahan, ia menuainya juga.9 Mereka binasa oleh nafas Allah, dan lenyap oleh hembusan hidung-Nya.
10 Singa mengaum, singa meraung–patahlah gigi singa-singa muda.11 Singa binasa karena kekurangan mangsa, dan anak-anak singa betina bercerai-berai.
12 Suatu perkataan telah disampaikan kepadaku dengan diam-diam dan telingaku menangkap bisikannya,13 waktu bermenung oleh sebab khayal malam, ketika tidur nyenyak menghinggapi orang.14 Aku terkejut dan gentar, sehingga tulang-tulangku gemetar.15 Suatu roh melewati aku, tegaklah bulu romaku.16 Ia berhenti, tetapi rupanya tidak dapat kukenal. Suatu sosok ada di depan mataku, suara berbisik-bisik kudengar: 『17 Mungkinkah seorang manusia benar di hadapan Allah, mungkinkah seseorang tahir di hadapan Penciptanya?』
18 Sesungguhnya, hamba-hamba-Nya tidak dipercayai-Nya, malaikat-malaikat-Nyap didapati-Nya tersesat,19 lebih-lebih lagi mereka yang diam dalam pondok tanah liat, yang dasarnya dalam debu, yang mati terpijat seperti gegat.
20 Di antara pagi dan petang mereka dihancurkan, dan tanpa dihiraukan mereka binasa untuk selama-lamanya.
21 Bukankah kemah mereka dicabut? Mereka mati, tetapi tanpa hikmat.
5:1 Berserulah–adakah orang yang menjawab engkau? Dan kepada siapa di antara orang-orang yang kudus engkau akan berpaling?
2 Sesungguhnya, orang bodoh dibunuh oleh sakit hati, dan orang bebal dimatikan oleh iri hati.
3 Aku sendiri pernah melihat orang bodoh berakar, tetapi serta-merta kukutuki tempat kediamannya.
4 Anak-anaknya selalu tidak tertolong, mereka diinjak-injak di pintu gerbang tanpa ada orang yang melepaskannya.
5 Apa yang dituainya, dimakan habis oleh orang yang lapar, bahkan dirampas dari tengah-tengah duri, dan orang-orang yang dahaga mengingini kekayaannya.
6 Karena bukan dari debu terbit bencana dan bukan dari tanah tumbuh kesusahan;7 melainkan manusia menimbulkan kesusahan bagi dirinya, seperti bunga api berjolak tinggi.
8 Tetapi aku, tentu aku akan mencari Allah, dan kepada Allah aku akan mengadukan perkaraku.
9 Ia melakukan perbuatan-perbuatan yang besar dan yang tak terduga, serta keajaiban-keajaiban yang tak terbilang banyaknya;10 Ia memberi hujan ke atas muka bumi dan menjatuhkan air ke atas ladang;11 Ia menempatkan orang yang hina pada derajat yang tinggi dan orang yang berdukacita mendapat pertolongan yang kuat;
12 Ia menggagalkan rancangan orang cerdik, sehingga usaha tangan mereka tidak berhasil;13 Ia menangkap orang berhikmat dalam kecerdikannya sendiri, sehingga rancangan orang yang belat-belit digagalkan.
14 Pada siang hari mereka tertimpa gelap, dan pada tengah hari mereka meraba-raba seperti pada waktu malam.
15 Tetapi Ia menyelamatkan orang-orang miskin dari kedahsyatan mulut mereka, dan dari tangan orang yang kuat.
16 Demikianlah ada harapan bagi orang kecil, dan kecurangan tutup mulut.
17 Sesungguhnya, berbahagialah manusia yang ditegur Allah; sebab itu janganlah engkau menolak didikan Yang Mahakuasa.18 Karena Dialah yang melukai, tetapi juga yang membebat; Dia yang memukuli, tetapi yang tangan-Nya menyembuhkan pula.
19 Dari enam macam kesesakan engkau diluputkan-Nya dan dalam tujuh macam engkau tidak kena malapetaka.
20 Pada masa kelaparan engkau dibebaskan-Nya dari maut, dan pada masa perang dari kuasa pedang.
21 Dari cemeti lidah engkau terlindung, dan engkau tidak usah takut, bila kemusnahan datang.
22 Kemusnahan dan kelaparan akan kautertawakan dan binatang liar tidak akan kautakuti.
23 Karena antara engkau dan batu-batu di padang akan ada perjanjian, dan binatang liar akan berdamai dengan engkau.
24 Engkau akan mengalami, bahwa kemahmu aman dan apabila engkau memeriksa tempat kediamanmu, engkau tidak akan kehilangan apa-apa.
25 Engkau akan mengalami, bahwa keturunanmu menjadi banyak dan bahwa anak cucumu seperti rumput di tanah.
26 Dalam usia tinggi engkau akan turun ke dalam kubur, seperti berkas gandum dibawa masuk pada waktunya.
27 Sesungguhnya, semuanya itu telah kami selidiki, memang demikianlah adanya; dengarkanlah dan camkanlah itu!」
Ayat Kunci: 「Tetapi aku, tentu aku akan mencari Allah, dan kepada Allah aku akan mengadukan perkaraku」(5:8)
Latar belakang perikop Kitab Suci:
Di antara dua solilokui Ayub (pasal 3 dan pasal 29-31, solilokui adalah monolog pembicaraan yang dilakukan dengan diri sendiri dan menyampaikan curahan hati dan keluhan dengan berbicara seorang diri), terdapat tiga babak perdebatan, yaitu percakapan antara Ayub dan ketiga temannya. Pada setiap kesempatan, Elifas, Bildad, dan Zofar berbicara secara bergantian, dengan diselingi tanggapan dari Ayub terhadap mereka masing-masing. Format ini sama di babak pertama dan kedua (pasal 4-14, 15-21); tetapi di babak ketiga, pidato Zofar hilang, dan sepertinya dia tidak punya apa-apa untuk dikatakan. Dalam tiga putaran babak perdebatan, teman-teman Ayub tidak mengubah pendiriannya. Mereka percaya pada teori hukum sebab akibat: Allah memberi pahala kepada orang benar dan menghukum orang berdosa. Mereka mengklaim bahwa semua penderitaan adalah hukuman. Karena Ayub menderita, dia pasti berdosa, dan mereka percaya bahwa apa yang dialami manusia adalah respons Allah terhadap perilaku manusia (lihat Yohanes 9:2). Meskipun argumen ini terkadang benar, argumen ini tidak dapat menjelaskan semua pengalaman hidup kita, seperti yang akan ditunjukkan oleh Kitab Ayub nanti.
Struktur perikop:
Pidato Elifas di pasal 4 dan 5 diungkapkan dalam struktur paralel terbalik, dengan menonjolkan poin-poin penting di paragraf tengah:
A. kalimat pembuka (4:2)
B. Kata-kata penghiburan (4:3-6)
C. Cara Allah berurusan dengan manusia (4:7-11)
D. Penyingkapan kebenaran (4:12-21)
C’ Cara Allah berurusan dengan manusia (5:1-16)
B’ Kata-kata penghiburan (5:17-26)
A’ Kesimpulan (5:27)
Penjelasan:
Pada awalnya (4:1-6), Elifas cukup sopan. Namun hal itu dengan cepat berubah menjadi kritis. Dia mengatakan bahwa Ayub pernah membantu orang lain di masa lalu, jadi mengapa dia tidak bisa ceria sekarang? Pada bagian berikutnya (4:7-11), Elifas dengan jelas mengungkapkan pandangannya tentang penderitaan dan pemahaman dasarnya tentang hubungan antara Allah dan manusia (ayat 7). Ia percaya bahwa orang baik pada akhirnya akan menang dan orang jahat pada akhirnya akan gagal. Baik Bildad maupun Zofar setuju dengan pandangan ini. Namun, seperti yang belakangan ditunjukkan oleh Ayub, pengalaman hidup tidak mendukung pandangan ini. Bagian ini juga menggambarkan argumen Elifas: apa yang ia lihat dan alami secara pribadi (ayat 8 「yang telah kulihat ialah bahwa orang yang membajak kejahatan dan menabur kesusahan, ia menuainya juga」). Namun, kita harus memahami bahwa pengalaman pribadi ada batasnya dan jelas tidak cukup untuk menjelaskan dan memberikan bantuan terhadap masalah besar yang dibicarakan Ayub dan ketiga temannya.
Untuk memperkuat argumennya, Elifas menyatakan bahwa ia mendapat penglihatan dari Allah (4:12-21). Namun, karena alasan berikut, kita dapat percaya bahwa penglihatan Elifas tidak datang dari Allah. Pertama-tama, dia sendiri tidak mengatakan bahwa dia menerimanya dari Allah. Umumnya, mereka yang menerima penyingkapan dari Allah akan menyatakan bahwa itu diberikan oleh Allah. Kedua, isi penyingkapan (ayat 17-21) tidak sesuai dengan apa yang telah penyingkapan Allah tentang diri-Nya dalam ayat-ayat lain dalam Alkitab; di sini roh ini tampak tidak peduli terhadap manusia. Jelas sekali, 「roh」 yang dibicarakan Elifas bukanlah Roh Kudus. Namun apa yang dia dengar masih mengandung bagian kebenaran: manusia tidak dapat menyucikan dirinya di hadapan Allah; manusia adalah makhluk fana. Namun kesalahan Elifas adalah menerapkan kata-kata ini kepada Ayub sebagai seorang yang terus-menerus berbuat dosa (bandingkan 1:1, 8; 2:3).
Berdasarkan argumen di pasal 4, Elifas menasihati Ayub (5:1-16). Walaupun perbandinga di ayat 7 『siapa binasa dengan tidak bersalah dan di manakah orang yang jujur dipunahkan?』 sampai batas tertentu ada benarnya, kesalahan Elifas adalah menggunakannya sebagai alasan penderitaan Ayub. Tentu saja kita akan mengalami kesengsaraan dalam hidup, namun belum tentu hal tersebut disebabkan oleh dosa. Teman-teman Ayub menyadari bahwa orang jahat bisa makmur untuk sementara waktu (ayat 3), namun mereka percaya bahwa Allah akan menghukum mereka karena dosa mereka sebelum mereka meninggalkan dunia ini. Yesus juga tidak setuju dengan pandangan ini (lihat Lukas 13:4 「Atau sangkamu kedelapan belas orang, yang mati ditimpa menara dekat Siloam, lebih besar kesalahannya dari pada kesalahan semua orang lain yang diam di Yerusalem? 」).
Penghiburan Elifas memang baik (ayat 8). Ayub memang berharap mendapat kesempatan berbicara di hadapan Allah, namun hal itu bukan karena alasan yang diasumsikan Elifas. Tentu saja penderitaan Ayub mempunyai efek penyucian dan mendorong Ayub untuk bertumbuh lebih baik. Namun, dari ayat 1:16 hingga 2:10, kita mengetahui bahwa alasan dasar mengapa Allah mengizinkan Iblis menyerang Ayub bukanlah seperti ini. Ayub bukanlah orang pertama atau terakhir yang merasa sulit merasakan kebahagiaan saat mengalami ujian dari Allah. Penghiburan Elifas tidak membuahkan hasil yang diinginkan. Elifas mengakhiri pidatonya dengan mendesak Ayub untuk bertobat (5:17-27). Allah itu maha pengasih, dan Dia pasti akan memberkati Ayub agar ia panjang umur dan sejahtera.
Dalam pidato pertama ini, Elifas mengaitkan penderitaan Ayub dengan dosanya. Ia mengidentifikasi dosa sebagai bagian dari kehidupan manusia yang mengakibatkan hukuman dan disiplin ilahi. Ia pun mengingatkan Ayub untuk bertobat dan berjanji Allah akan memberkatinya lagi. Namun asumsi Elifas bahwa Ayub dengan sengaja berdosa terhadap Allah tidaklah benar. Oleh karena itu, penghiburannya tidak efektif. Dari perkataan tersebut, hendaknya kita belajar untuk berhati-hati: hindari menilai hubungan seseorang dengan Allah hanya berdasarkan apa yang dialaminya, dari apa yang kita lihat dengan mata daging, apakah itu masa sulit atau masa baik.
Renungkan:
Mari merenungkan kembali masa lalu ketika orang lain sedang mengalami masa-masa sulit. Pernahkah Anda mencoba menasihati mereka seperti yang dilakukan Elifas? Tuliskan apa pembelajaran terbesar yang Anda dapatkan dari kata-kata Elifas?
Renungan pemahaman Kitab Ayub
Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain
Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Ayub ditulis oleh Lu Zhuo An (呂焯安) yang dipublikasi pada bulan Oktober 2015 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).
Renungan untuk Kalangan Kristen.