Ayub 6:1-7:21

Kesesakan jiwaku … kepedihan hatiku」

Oleh Lu Zhuo An (呂焯安)
Alliance Bible Seminary H.K.

(Ayub 6:1-7:21 [ITB])
1 Lalu Ayub menjawab:
2 Ah, hendaklah kiranya kekesalan hatiku ditimbang, dan kemalanganku ditaruh bersama-sama di atas neraca!3 Maka beratnya akan melebihi pasir di laut; oleh sebab itu tergesa-gesalah perkataanku.
4 Karena anak panah dari Yang Mahakuasa tertancap pada tubuhku, dan racunnya diisap oleh jiwaku; kedahsyatan Allah seperti pasukan melawan aku.
5 Meringkikkah keledai liar di tempat rumput muda, atau melenguhkah lembu dekat makanannya?6 Dapatkah makanan tawar dimakan tanpa garam atau apakah putih telur ada rasanya?7 Aku tidak sudi menjamahnya, semuanya itu makanan yang memualkan bagiku.
8 Ah, kiranya terkabul permintaanku dan Allah memberi apa yang kuharapkan!9 Kiranya Allah berkenan meremukkan aku, kiranya Ia melepaskan tangan-Nya dan menghabisi nyawaku!10 Itulah yang masih merupakan hiburan bagiku, bahkan aku akan melompat-lompat kegirangan di waktu kepedihan yang tak kenal belas kasihan, sebab aku tidak pernah menyangkal firman Yang Mahakudus.
11 Apakah kekuatanku, sehingga aku sanggup bertahan, dan apakah masa depanku, sehingga aku harus bersabar?12 Apakah kekuatanku seperti kekuatan batu? Apakah tubuhku dari tembaga?13 Bukankah tidak ada lagi pertolongan bagiku, dan keselamatan jauh dari padaku?
14 Siapa menahan kasih sayang terhadap sesamanya, melalaikan takut akan Yang Mahakuasa.
15 Saudara-saudaraku tidak dapat dipercaya seperti sungai, seperti dasar dari pada sungai yang mengalir lenyap,16 yang keruh karena air beku, yang di dalamnya salju menjadi cair,17 yang surut pada musim kemarau, dan menjadi kering di tempatnya apabila kena panas;18 berkeluk-keluk jalan arusnya, mengalir ke padang tandus, lalu lenyap.
19 Kafilah dari Tema mengamat-amatinya dan rombongan dari Syeba mengharapkannya,20 tetapi mereka kecewa karena keyakinan mereka, mereka tertipu setibanya di sana.21 Demikianlah kamu sekarang bagiku, ketika melihat yang dahsyat, takutlah kamu.
22 Pernahkah aku berkata: Berilah aku sesuatu, atau: Berilah aku uang suap dari hartamu,23 atau: Luputkan aku dari tangan musuh, atau: Tebuslah aku dari tangan orang lalim?
24 Ajarilah aku, maka aku akan diam; dan tunjukkan kepadaku dalam hal apa aku tersesat.25 Alangkah kokohnya kata-kata yang jujur! Tetapi apakah maksud celaan dari pihakmu itu?26 Apakah kamu bermaksud mencela perkataan? Apakah perkataan orang yang putus asa dianggap angin?27 Bahkan atas anak yatim kamu membuang undi, dan sahabatmu kamu perlakukan sebagai barang dagangan.
28 Tetapi sekarang, berpalinglah kepadaku; aku tidak akan berdusta di hadapanmu.29 Berbaliklah, janganlah terjadi kecurangan, berbaliklah, aku pasti benar.
30 Apakah ada kecurangan pada lidahku? Apakah langit-langitku tidak dapat membeda-bedakan bencana?

7:1 Bukankah manusia harus bergumul di bumi, dan hari-harinya seperti hari-hari orang upahan?2 Seperti kepada seorang budak yang merindukan naungan, seperti kepada orang upahan yang menanti-nantikan upahnya,3 demikianlah dibagikan kepadaku bulan-bulan yang sia-sia, dan ditentukan kepadaku malam-malam penuh kesusahan.
4 Bila aku pergi tidur, maka pikirku: Bilakah aku akan bangun? Tetapi malam merentang panjang, dan aku dicekam oleh gelisah sampai dinihari.5 Berenga dan abu menutupi tubuhku, kulitku menjadi keras, lalu pecah.
6 Hari-hariku berlalu lebih cepat dari pada torak, dan berakhir tanpa harapan.
7 Ingatlah, bahwa hidupku hanya hembusan nafas; mataku tidak akan lagi melihat yang baik.8 Orang yang memandang aku, tidak akan melihat aku lagi, sementara Engkau memandang aku, aku tidak ada lagi.
9 Sebagaimana awan lenyap dan melayang hilang, demikian juga orang yang turun ke dalam dunia orang mati tidak akan muncul kembali.10 Ia tidak lagi kembali ke rumahnya, dan tidak dikenal lagi oleh tempat tinggalnya.
11 Oleh sebab itu akupun tidak akan menahan mulutku, aku akan berbicara dalam kesesakan jiwaku, mengeluh dalam kepedihan hatiku.
12 Apakah aku ini laut atau naga, sehingga Engkau menempatkan penjaga terhadap aku?
13 Apabila aku berpikir: Tempat tidurku akan memberi aku penghiburan, dan tempat pembaringanku akan meringankan keluh kesahku,14 maka Engkau mengagetkan aku dengan impian dan mengejutkan aku dengan khayal,15 sehingga aku lebih suka dicekik dan mati dari pada menanggung kesusahanku.
16 Aku jemu, aku tidak mau hidup untuk selama-lamanya. Biarkanlah aku, karena hari-hariku hanya seperti hembusan nafas saja.
17 Apakah gerangan manusia, sehingga dia Kauanggap agung, dan Kauperhatikan,18 dan Kaudatangi setiap pagi, dan Kauuji setiap saat?
19 Bilakah Engkau mengalihkan pandangan-Mu dari padaku, dan membiarkan aku, sehingga aku sempat menelan ludahku?
20 Kalau aku berbuat dosa, apakah yang telah kulakukan terhadap Engkau, ya Penjaga manusia? Mengapa Engkau menjadikan aku sasaran-Mu, sehingga aku menjadi beban bagi diriku?21 Dan mengapa Engkau tidak mengampuni pelanggaranku, dan tidak menghapuskan kesalahanku? Karena sekarang aku terbaring dalam debu, lalu Engkau akan mencari aku, tetapi aku tidak akan ada lagi.

Ayat Kunci: Apakah gerangan manusia, sehingga dia Kauanggap agung, dan Kauperhatikan (Ayub 7:17)

Perikop hari ini (pasal 6-7) adalah tanggapan pertama Ayub terhadap perkataan Elifas.
Pada mulanya Ayub tidak menjawab Elifas secara langsung, namun memprotes keadaan dirinya. Ayub berkata bahwa dia sangat kesal sehingga dia memprotes (6:1-7). Ayub percaya bahwa penderitaannya lebih berat daripada pasir di laut (ayat 2-3); ia percaya bahwa segala kemalangan yang dialaminya berasal dari Allah. Allah yang dia kenal di masa lalu sama sekali tidak sesuai dengan Allah yang dia alami sekarang. Jika tidak ada kesempatan atau hak untuk memprotes, hal ini tidak dapat diterima, dan orang akan menolak makanan tanpa garam (ayat 6-7). Sebaliknya, Ayub berkata bahwa dirinya sangat tertekan dan rela mati (6:8-13). Ayub berharap agar Allah melenyapkannya agar ia dapat terbebas dari penderitaannya (ayat 9). Ia yakin bahwa dirinya setia pada Firman Allah (ayat 10), ia menyimpulkan bahwa ia sudah tidak berdaya dan putus asa.

Kemudian, dia menanggapi ucapan Elifas, namun ditujukan kepada tiga temannya sekaligus (6:24-30 kamu sekalian).
Pertama, Ayub mengungkapkan kekecewaannya terhadap teman-temannya (6:14-23). Teman-teman Ayub seharusnya menghibur dan menyemangati dia ketika dia menghadapi krisis kemungkinan meninggalkan Allah. Namun, mereka bukan saja gagal melakukannya, bahkan mereka juga membuat penilaian gegabah sehingga dengan sia-sia menambah penderitaan Ayub. Kini mereka seperti aliran air (ayat 15), tidak mampu menolong orang lain. Oleh karena itu, Ayub mengimbau teman-temannya (6:24-30), meminta mereka untuk menunjukkan dengan jelas dosa apa yang telah ia lakukan dan hukuman apa yang harus ia terima karenanya. Hal ini hanya disampaikan tersirat saja dalam pidato Elifas, tetapi Ayub ingin mendengar penjabaran yang jelas dan pasti, jika tidak maka dia tidak akan puas.

Selanjutnya, pada bagian protes ini (7:1-6, lihat pasal 3), Ayub mengulangi penderitaan yang ia alami. Ayub membandingkan dirinya dengan seorang budak atau pekerja upahan, dan menganggap dirinya lebih buruk daripada mereka. Torak (puntalan tenun) dan harapan pada ayat 6 adalah kata yang sama dalam bahasa aslinya. Ayub menyatakan bahwa harapannya telah hilang, seperti alat penenun yang kehabisan benang. Meski begitu, Ayub tidak berpaling dari Allah dalam situasi penderitaan yang sulit, ia tetap berdoa kepada Allah (7:7-21). Ayub selalu mengutamakan Allah dan berusaha semaksimal mungkin untuk berbicara dengan Allah (lihat Mazmur 16:8). Inilah yang membuat Ayub pada akhirnya tetap terjaga dan tidak menyerah bahkan dalam situasi ekstrem sulit ini, dan itu juga yang menjadi sumber motivasi serta kekuatannya. Kita sering melihat ketika orang meninggalkan Allah dalam situasi sulit, sehingga akibatnya kehidupan rohani mereka akan terjerumus mengalami kesulitan besar.

Ayub yakin dia akan segera mati. Namun di sini, dia tidak meminta kematian seperti sebelumnya (3:20-22). Perubahan seperti itu mungkin merupakan hasil dari berpaling kepada Allah dan berdoa kepada-Nya. Dunia orang mati (ayat 9) mengacu pada kuburan dalam Perjanjian Lama. Orang-orang pada zaman tersebut percaya bahwa ini adalah tempat di mana jiwa beristirahat setelah kematian. Detailnya adalah sebuah misteri. Dalam doa ini, Ayub memprotes Allah karena tidak membiarkan dia mati begitu saja. Dia percaya bahwa Allah tidak punya alasan untuk menempatkan dia dalam kesulitan ini. Allah tidak memberinya waktu istirahat (ayat 19). Jika dia berbuat dosa, dia meminta Allah menunjukkan dosanya (ayat 20, 6:24). Ayub yakin bahwa ia tidak melakukan kejahatan apa pun sehingga pantas menerima penderitaan seperti itu (ayat 21).

Beberapa orang takut mengungkapkan perasaannya kepada Allah. Namun, Ayub tidak menyembunyikan apa pun. Meskipun ia yakin bahwa Allah memperlakukannya dengan tidak adil, ia tetap bersedia membiarkan Allah mengoreksinya. Doa protes ini bisa menjadi teladan bagi kita. Allah memahami pikiran Ayub dengan sangat baik, dan Dia tidak marah kepada Ayub karena perkataannya yang tulus.

Cara yang dipakai Elifas, bukan hanya gagal menghibur Ayub, namun justru menambah dukacitanya. Oleh karena itu, tanggapan Ayub menunjukkan ketidaksenangannya. Berdasarkan pengalamannya sendiri, Elifas menganggap dirinya mampu memiliki pengetahuan supernatural. Ia bersikeras menjebak Ayub dalam teori hukum sebab-akibat, memperlakukannya sebagai orang yang telah melakukan dosa besar. Ayub tidak menghargai perkataan Elifas. Dahulu Ayub sendiri pernah menganut pandangan Elifas, namun kini ia tahu bahwa teori tersebut tidak selalu benar dalam semua situasi kondisi.

Renungkan:
Ketika Ayub sedang melalui hari-hari yang sulit, dia sangat berusaha untuk berbicara dengan Allah. Mengapa? Tuliskan apa (jika ada) yang Anda protes kepada Allah dalam hidup Anda saat ini, dan kemudian sampaikan kepada Allah.


Renungan pemahaman Kitab Ayub

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Ayub ditulis oleh Lu Zhuo An (呂焯安) yang dipublikasi pada bulan Oktober 2015 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.