「Mungkinkah seorang manusia benar di hadapan Allah? Bagaimana seseorang bisa menjadi orang benar di hadapan Allah?」
Oleh Lu Zhuo An (呂焯安)
Alliance Bible Seminary H.K.
(Ayub 9:1-10:22 [ITB])
9:1 Tetapi Ayub menjawab:
2 「Sungguh, aku tahu, bahwa demikianlah halnya, masakan manusia benar di hadapan Allah?
3 Jikalau ia ingin beperkara dengan Allah satu dari seribu kali ia tidak dapat membantah-Nya.
4 Allah itu bijak dan kuat, siapakah dapat berkeras melawan Dia, dan tetap selamat?
5 Dialah yang memindahkan gunung-gunung dengan tidak diketahui orang, yang membongkar-bangkirkannya dalam murka-Nya;6 yang menggeserkan bumi dari tempatnya, sehingga tiangnya bergoyang-goyang;7 yang memberi perintah kepada matahari, sehingga tidak terbit, dan mengurung bintang-bintang dengan meterai;8 yang seorang diri membentangkan langit, dan melangkah di atas gelombang-gelombang laut;9 yang menjadikan bintang Biduk, bintang Belantik, bintang Kartika, dan gugusan-gugusan bintang Ruang Selatan;10 yang melakukan perbuatan-perbuatan besar yang tidak terduga, dan keajaiban-keajaiban yang tidak terbilang banyaknya.
11 Apabila Ia melewati aku, aku tidak melihat-Nya, dan bila Ia lalu, aku tidak mengetahui.
12 Apabila Ia merampas, siapa akan menghalangi-Nya? Siapa akan menegur-Nya: Apa yang Kaulakukan?
13 Allah tidak menahani murka-Nya, di bawah kuasa-Nya para pembantu Rahab membungkuk;14 lebih-lebih aku, bagaimana aku dapat membantah Dia, memilih kata-kataku di hadapan Dia?
15 Walaupun aku benar, aku tidak mungkin membantah Dia, malah aku harus memohon belas kasihan kepada yang mendakwa aku.
16 Bila aku berseru, Ia menjawab; aku tidak dapat percaya, bahwa Ia sudi mendengarkan suaraku;17 Dialah yang meremukkan aku dalam angin ribut, yang memperbanyak lukaku dengan tidak semena-mena,18 yang tidak membiarkan aku bernafas, tetapi mengenyangkan aku dengan kepahitan.
19 Jika mengenai kekuatan tenaga, Dialah yang mempunyai! Jika mengenai keadilan, siapa dapat menggugat Dia?
20 Sekalipun aku benar, mulutku sendiri akan menyatakan aku tidak benar; sekalipun aku tidak bersalah, Ia akan menyatakan aku bersalah.21 Aku tidak bersalah! Aku tidak pedulikan diriku, aku tidak hiraukan hidupku!22 Semuanya itu sama saja, itulah sebabnya aku berkata: yang tidak bersalah dan yang bersalah kedua-duanya dibinasakan-Nya.
23 Bila cemeti-Nya membunuh dengan tiba-tiba, Ia mengolok-olok keputusasaan orang yang tidak bersalah.
24 Bumi telah diserahkan ke dalam tangan orang fasik, dan mata para hakimnya telah ditutup-Nya; kalau bukan oleh Dia, oleh siapa lagi?
25 Hari-hariku berlalu lebih cepat dari pada seorang pelari, lenyap tanpa melihat bahagia,26 meluncur lewat laksana perahu dari pandan, seperti rajawali yang menyambar mangsanya.
27 Bila aku berpikir: Aku hendak melupakan keluh kesahku, mengubah air mukaku, dan bergembira,28 maka takutlah aku kepada segala kesusahanku; aku tahu, bahwa Engkau tidak akan menganggap aku tidak bersalah.
29 Aku dinyatakan bersalah, apa gunanya aku menyusahkan diri dengan sia-sia?
30 Walaupun aku membasuh diriku dengan salju dan mencuci tanganku dengan sabun,31 namun Engkau akan membenamkan aku dalam lumpur, sehingga pakaianku merasa jijik terhadap aku.
32 Karena Dia bukan manusia seperti aku, sehingga aku dapat menjawab-Nya: Mari bersama-sama menghadap pengadilan.33 Tidak ada wasit di antara kami, yang dapat memegang kami berdua!
34 Biarlah Ia menyingkirkan pentung-Nya dari padaku, jangan aku ditimpa kegentaran terhadap Dia,35 maka aku akan berbicara tanpa rasa takut terhadap Dia, karena aku tidak menyadari kesalahanku.」
10:1 「Aku telah bosan hidup, aku hendak melampiaskan keluhanku, aku hendak berbicara dalam kepahitan jiwaku.
2 Aku akan berkata kepada Allah: Jangan mempersalahkan aku; beritahukanlah aku, mengapa Engkau beperkara dengan aku.3 Apakah untungnya bagi-Mu mengadakan penindasan, membuang hasil jerih payah tangan-Mu, sedangkan Engkau mendukung rancangan orang fasik?
4 Apakah Engkau mempunyai mata badani? Samakah penglihatan-Mu dengan penglihatan manusia?5 Apakah hari-hari-Mu seperti hari-hari manusia, tahun-tahun-Mu seperti hari-hari orang laki-laki,6 sehingga Engkau mencari-cari kesalahanku, dan mengusut dosaku,7 padahal Engkau tahu, bahwa aku tidak bersalah, dan bahwa tiada seorangpun dapat memberi kelepasan dari tangan-Mu?
8 Tangan-Mulah yang membentuk dan membuat aku, tetapi kemudian Engkau berpaling dan hendak membinasakan aku?9 Ingatlah, bahwa Engkau yang membuat aku dari tanah liat, tetapi Engkau hendak menjadikan aku debu kembali?10 Bukankah Engkau yang mencurahkan aku seperti air susu, dan mengentalkan aku seperti keju?11 Engkau mengenakan kulit dan daging kepadaku, serta menjalin aku dengan tulang dan urat.
12 Hidup dan kasih setia Kaukaruniakan kepadaku, dan pemeliharaan-Mu menjaga nyawaku.
13 Tetapi inilah yang Kausembunyikan di dalam hati-Mu; aku tahu, bahwa inilah maksud-Mu:14 kalau aku berbuat dosa, maka Engkau akan mengawasi aku, dan Engkau tidak akan membebaskan aku dari pada kesalahanku.
15 Kalau aku bersalah, celakalah aku! dan kalau aku benar, aku takkan berani mengangkat kepalaku, karena kenyang dengan penghinaan, dan karena melihat sengsaraku.16 Kalau aku mengangkat kepalaku, maka seperti singa Engkau akan memburu aku, dan menunjukkan kembali kuasa-Mu yang ajaib kepadaku.17 Engkau akan mengajukan saksi-saksi baru terhadap aku, –Engkau memperbesar kegeraman-Mu terhadap aku–dan pasukan-pasukan baru, bahkan bala tentara melawan aku.
18 Mengapa Engkau menyebabkan aku keluar dari kandungan? Lebih baik aku binasa, sebelum orang melihat aku!19 Maka aku seolah-olah tidak pernah ada; dari kandungan ibu aku langsung dibawa ke kubur.
20 Bukankah hari-hari umurku hanya sedikit? Biarkanlah aku, supaya aku dapat bergembira sejenak,21 sebelum aku pergi, dan tidak kembali lagi, ke negeri yang gelap dan kelam pekat,22 ke negeri yang gelap gulita, tempat yang kelam pekat dan kacau balau, di mana cahaya terang serupa dengan kegelapan.」
Ayat Kunci: 「Sekalipun aku benar, mulutku sendiri akan menyatakan aku tidak benar; sekalipun aku tidak bersalah, Ia akan menyatakan aku bersalah」 (Ayub 9:20)
Perikop hari ini (pasal 9-10) adalah tanggapan pertama Ayub terhadap perkataan Bildad. Ayub memulai tanggapannya terhadap Bildad dengan mengakui bahwa sebagian besar perkataan temannya itu benar (ayat 2). Namun dia segera beralih ke pertanyaan yang diajukan Elifas kepadanya sebelumnya (4:17 『Mungkinkah seorang manusia benar di hadapan Allah, mungkinkah seseorang tahir di hadapan Penciptanya?』). Pertanyaan ini rupanya membekas dalam benak Ayub. Bagi Ayub, Allah tampak seperti Allah yang otoriter dan berubah-ubah. Bagaimana seseorang bisa menjadi orang benar di hadapan Allah yang demikian? Karena Allah adalah pribadi seperti itu, bagaimana manusia bisa menang dalam konfrontasi pengadilan dengan Allah (lihat 40:1-5; 42:2).
Karena alasan-alasan berikut ini, Ayub percaya bahwa dia tidak dapat mengalahkan Allah. (1) Allah itu Maha Besar (9:1-12) – Karena Allah itu maha kuasa, kalau kamu berdebat dengan-Nya, kamu tidak akan mampu menjawab-Nya. (2) Allah bersifat otokratis (9:13-24) — karena Dia membinasakan baik yang sempurna maupun yang jahat. (3) Allah itu tidak adil (9:25-35) – apapun yang terjadi, Dia tetap menganggap manusia bersalah.
Pada zaman dahulu, Rahab (ayat 13) merupakan gambaran monster laut yang misterius dan simbol kejahatan. Monster ini, bersama dengan monster yang diterjemahkan sebagai 「ikan besar」 di 7:12 (ITB menerjemahkan sebagai 「naga」), keduanya berperan penting dalam mitos penciptaan beberapa bangsa di Timur Dekat, termasuk bangsa Mesopotamia dan Kanaan. Orang Israel terkadang menggambarkan Mesir sebagai Rahab (lihat 26:12; Mazmur 87:4; 89:10; Yesaya 30:7; 51:9), karena dia memiliki banyak kemiripan dengan monster ini.
Ayub sampai pada kesimpulan bahwa tidak menjadi masalah apakah dia bersalah atau tidak karena Allah membinasakan yang saleh (seperti dirinya) maupun yang jahat (ayat 22). Selain itu, fakta bahwa orang-orang yang tidak bersalah meninggal mendadak akibat bencana juga menunjukkan ketidakadilan Allah (ayat 23). Ayub ingin menunjukkan bahwa argumen teman-temannya salah. Ayub tidak hanya melihat pengalaman pribadi saja, melihat ke sekeliling, bukankah fakta bahwa orang benar menderita dan orang fasik makmur (ayat 24), bukankah membuktikan apa yang ia katakan? Singkatnya, Ayub berpikir bahwa Allah bertekad untuk berurusan dengannya, jadi sekeras apa pun dia berusaha membuktikan bahwa dia tidak bersalah, itu sia-sia. Rasa frustrasi yang diungkapkan Ayub dalam ayat 30-35 dapat dimengerti; karena Allah adalah penasihat hukum dan hakim dirinya, ia tampak sangat tidak berdaya. Oleh karena itu, Ayub merindukan sosok netral yang mampu mengatasi pergumulannya dengan Allah. Di Timur Dekat kuno, usulan wasit yang netral dapat diterima atau ditolak oleh kedua belah pihak (lihat 13:7-12; 16:18-21). Ayub sepertinya putus asa untuk mendapatkan keadilan dari Allah. Ia hanya berharap agar Allah tetap berbelas kasih kepadanya (ayat 34).
Konsep Ayub tentang Allah mulai kacau karena apa yang Allah lakukan tidak sesuai dengan pemahamannya yang terbatas tentang Allah. Kita juga akan mengalami masalah ini. Kita harus belajar untuk menegakkan konsep kita tentang Allah melalui wahyu Alkitab. Karena hanya wahyu Alkitab yang dapat memberikan kita pandangan yang paling lengkap dan seimbang tentang Allah, dibandingkan hanya mengandalkan pengalaman kita yang terbatas dan pribadi.
Pasal 10 adalah doa lain (lih. 7:7-21), yang merupakan tantangan Ayub kepada Allah: 「Tunjukkan padaku … mengapa …」 (ayat 2) (Harap perhatikan ungkapan dalam ayat ini, seolah-olah dalam pengadilan. Dalam ayat 7, Ayub sekali lagi menyatakan dirinya tidak bersalah.) Ayub terheran-heran karena Allah mencurahkan begitu banyak pemikiran dan perhatian padanya sejak dalam kandungan hingga pertumbuhannya hanya untuk membinasakan dia (ayat 8-17; bandingkan ayat 11 dengan Mazmur 139:13 「Sebab Engkaulah yang membentuk buah pinggangku, menenun aku dalam kandungan ibuku」). Dalam ayat 18-22, Ayub kembali mengungkapkan keinginannya untuk mati (lihat pasal 3; 6:8-9). Ia tidak banyak bicara tentang kehidupan setelah kematian. Baginya, kematian membuka pintu menuju kegelapan dan negeri bayang-bayang kematian (ayat 21-22); namun Ayub melihatnya lebih baik daripada hidup dalam kesakitan. Sejauh ini, kita telah melihat bahwa setiap kali Ayub berbicara, ia menyebutkan kematian dan kegelapan (3:21-22; 7:21; 10:21-22). Dia benar-benar orang yang hancur.
Renungkan:
Bayangkan jika Anda berada dalam situasi Ayub, apakah Anda akan memandang Allah seperti Ayub? Menurut Anda apa yang dapat Anda lakukan agar tidak terjerumus ke dalam pola pikir Ayub?
Renungan pemahaman Kitab Ayub
Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain
Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Ayub ditulis oleh Lu Zhuo An (呂焯安) yang dipublikasi pada bulan Oktober 2015 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).
Renungan untuk Kalangan Kristen.