Tag Archives: Kehidupan Keluarga

Bilangan 5:11-15

「Curiga dan Menghilangkan Keraguan」
Oleh 賴建國 (Lài Jiàn Guó)

Alliance Bible Seminary H.K.

(Bil. 5:11-15 [ITB])
11 TUHAN berfirman kepada Musa: 12 Berbicaralah kepada orang Israel dan katakanlah kepada mereka: Apabila isteri seseorang berbuat serong dan tidak setia terhadap suaminya, 13 dan laki-laki lain tidur dan bersetubuh dengan perempuan itu, dengan tidak diketahui suaminya, karena tinggal rahasia bahwa perempuan itu mencemarkan dirinya, tidak ada saksi terhadap dia, dia tidak kedapatan, 14 dan apabila kemudian roh cemburu menguasai suami itu, sehingga ia menjadi cemburu terhadap isterinya, dan perempuan itu memang telah mencemarkan dirinya, atau apabila roh cemburu menguasai suami itu, sehingga ia menjadi cemburu terhadap isterinya, walaupun perempuan itu tidak mencemarkan dirinya, 15 maka haruslah orang itu membawa isterinya kepada imam. Dan orang itu harus membawa persembahan karena perempuan itu sebanyak sepersepuluh efa tepung jelai, yang ke atasnya tidak dituangkannya minyak dan yang tidak dibubuhinya kemenyan, karena korban itu ialah korban sajian cemburuan, suatu korban peringatan yang mengingatkan kepada kedurjanaan.

Bilangan pasal 5 berbicara tentang kekudusan kemah Israel, pertama-tama berbicara tentang tiga kenajisan secara ritual (Bil. 5:2), yang tidak ada hubungannya dengan perbuatan dosa. Kedua, tentang kerugian dan kompensasi, telah terkait dosa kejahatan. Dan yang ketiga adalah menghilangkan ketidaksetiaan dalam pernikahan, yang merupakan dosa yang sangat serius, yang harus diselesaikan secara ritual dan pengadilan.

Alkitab berbicara tentang dua kemungkinan: pertama adalah bahwa perempuan telah melakukan perzinahan dan suaminya tidak memiliki bukti (Bil. 5:12-14a, 27, 29), yang kedua adalah bahwa wanita tersebut tidak bersalah, tetapi suaminya curiga tetapi tanpa dasar (Bil. 5:14b, 28, 30). Kedua kasus ditangani dengan menggunakan prosedur yang sama, dan prosedur ini dijelaskan hanya satu kali (Bil. 5:15-26), dan untuk membuktikan bahwa dia bersalah atau tidak bersalah (ayat 19-22). Prosedur ini memiliki tiga poin utama:

1) Memberikan persembahan sajian atas kecemburuan: suaminya membawa istrinya ke imam dan memberikan persembahan sajian cemburuan tidak dituangkan minyak ke atasnya dan tidak dibubuhi kemenyan, karena korban itu ialah korban sajian cemburuan, suatu korban peringatan yang mengingatkan kepada kedurjanaan (ayat 15)

2) Meminum air kudus yang dibubuhi debu yang ada di lantai Kemah Suci: imam akan memberi wanita itu minum air pahit yang mendatangkan kutuk dan bersumpah di hadapan Tuhan. Jika wanita benar-benar melakukan perzinaan tidak setia kepada suaminya dan air pahit memasuki tubuhnya, dia akan mengembungkan perut dan mengempiskan pahanya (ini adalah eufemisme untuk rahim dan organ seksual) dan mandul tidak dapat melahirkan anak. Sebaliknya, jika dia tidak bersalah, dia dapat terhindar dari bencana dan dapat memiliki anak, membuktikan bahwa dia suci.

3) Keikutsertaan imam dalam memverifikasi: Kitab Bilangan tidak mendiskriminasi perempuan, tetapi melindungi hak-hak mereka. Sebagian besar masyarakat kuno adalah laki-laki lebih dihormati dan perempuan lebih rendah, pada zaman itu, laki-laki dapat menceraikan istri mereka secara sewenang-wenang asalkan merasa istri mereka melakukan perzinaan. Paragraf ini, bagaimanapun, mengharuskan imam untuk turun tangan dan memverifikasi apakah wanita itu benar-benar tidak setia telah melakukan perzinaan, alih-alih hanya mengandalkan perkataan satu pihak, hendak melalui pembuktian verifikasi barulah bisa diputuskan, dan di antaranya menggunakan air kudus juga menunjukkan bahwa TUHAN (Yahweh) adalah pihak yang sejatinya yang memutuskan.

Renungkan:

Keluarga adalah unit dasar masyarakat, dan hubungan pernikahan yang baik adalah kekuatan untuk stabilitas sosial. Ini adalah kemalangan terburuk yang timbul dari kecurigaan atas kesucian pasangan. Sekalipun buktinya tidak memadai dan sulit diputuskan kesalahannya, kecurigaan sudah cukup untuk menyebabkan bencana yang menghancurkan. Dalam masyarakat, tingkat perceraian terus meningkat dan merupakan masalah sosial serius. Jika ada masalah dalam pernikahan, jangan bertindak impulsif (bersifat cepat bertindak secara tiba-tiba menurut gerak hati), menyebabkan tragedi yang tidak dapat diperbaiki. Dianjurkan untuk mencari bantuan dari para ahli atau gembala, dan bertindak sesuai dengan prinsip-prinsip Alkitab. Lebih baik mengambil tindakan pencegahan sebelum terjadi. Sehari-harinya tingkatkan hubungan antara suami dan istri dan cegah setiap serigala kecil yang mengganggu pernikahan.


Renungan pemahaman Kitab Bilangan (klik untuk membuka)

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain (klik untuk membuka)


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Bilangan 1-16 ditulis oleh 賴建國 (Lài Jiàn Guó) yang dipublikasi pada bulan Februari 2020 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Iklan yang ada bukan milik blog ini, tetapi milik WordPress penyedia fasilitas blog tanpa biaya.

Kej. 27:36-37

「Ditipu dan Dibuang」

(Kej. 27:36-37 [ITB])
36Kata Esau: “Bukankah tepat namanya Yakub, karena ia telah dua kali menipu aku. Hak kesulunganku telah dirampasnya, dan sekarang dirampasnya pula berkat yang untukku.” Lalu katanya: “Apakah bapa tidak mempunyai berkat lain bagiku?”
37Lalu Ishak menjawab Esau, katanya: “Sesungguhnya telah kuangkat dia menjadi tuan atas engkau, dan segala saudaranya telah kuberikan kepadanya menjadi hambanya, dan telah kubekali dia dengan gandum dan anggur; maka kepadamu, apa lagi yang dapat kuperbuat, ya anakku?”

Terbentuknya karakter seseorang, biasanya terkait erat tidak terpisahkan dengan keluarga seseorang berasal. Pasal ini secara khusus banyak berbicara tentang relasi orang tua dan anak dari Ishak satu keluarga empat orang. Sebutan keluarga yang digunakan dalam teks ini 「anakku」 (Kej. 27:1, 8, 18, 20, 21, 24, 25, 26, 27, 37), 「ayahmu」, 「ayahku」, 「ayahnya」 (Kej. 27:6, 9, 10, 14, 18, 30, 31, 34, 38, 41), 「ibunya」 (ayat 14), 「kakakmu」, 「kakakku」, 「kakaknya」, 「saudaramu」, 「adikmu」, 「saudaranya」, 「adikku」 (Kej. 27:6, 11, 23, 29, 30, 35, 37, 40, 41, 42, 43), 「anak sulung」, 「anak bungsu」 (Kej. 27: 1, 15, 42), 「anak laki-lakinya」, 「anak laki-laki dia (wanita)」, 「anak laki-laki ibumu」 (Kej. 27: 9, 17, 20), 「anak laki-lakimu」, 「anak sulungmu」 (Kej. 27:19, 31, 32). Merupakan sebuah pasal di dalam Alkitab yang paling banyak menggunakan sebutan-sebutan keluarga tersebut.

Namun justru bukan sebuah keluarga yang sehat, satu keluarga empat orang masing-masing justru menyimpan rencana yang tidak baik, setiap orang juga membayar harga bagi tindakan bodoh dirinya sendiri. Ribka sebagai ibu, bersekongkol dengan anak laki-laki membohongi suami, berencana memakai kejahatan untuk mendapatkan kebaikan. Walaupun tercapai tujuannya, namun dalam satu hari juga kehilangan dua anak laki-laki (Kej. 27:45). Esau sebagai kakak, memandang rendah hak bagian anak sulung, demi sedikit makanan menjual berkat yang bersifat rohani, kelak justru ingin dengan diam-diam mengambil kembali, menunjukkan isi hatinya tidak lebih lurus dan jujur dibandingkan adik laki-lakinya. Ishak sebagai ayah, sengaja tidak menaati ketetapan Allah (Firman TUHAN kepadanya:「… anak yang tua akan menjadi hamba kepada anak yang muda」, Kej. 25:23), masih sengaja membohongi istri, hendak memberkati Esau anak sulung. Hasilnya disiasati oleh istri, dibohongi Yakub, menerima sungut-sungut dari Esau, mati karena kepahitan dirinya sendiri. Penglihatan mata jasmaninya buram, mata rohani juga sudah ikut menjadi bodoh (walaupun kita sudah tua mata rabun tetapi kiranya janganlah mata rohani ikut rabun.) Yakub sebagai aktor utama, jelas sudah tahu membohongi ayah akan mendatangkan kutukan, tetap bekerja sama dengan ibunya menipu ayah membohongi saudara, hasilnya dipaksa melarikan diri meninggalkan rumah yang hangat. Dengan demikian tercerai-berailah satu keluarga.

Ucapan berkat dari Ishak bagi Esau (Kej. 27:39-40), dalam terjemahan mudah terjadi salah paham. Dalam ITB, NET, NIV, HSCB, dsb. diterjemahkan sebagai:

「... tempat kediamanmu akan jauh dari tanah-tanah gemuk di bumi
                             jauh dari embun dari langit di atas.」

Tetapi dalam KJV, CUVT, dsb. diterjemahkan sebagai:

「... tempat kediamanmu akan tanah-tanah gemuk di bumi
                        dan dari embun dari langit di atas」

Perbedaan kedua macam terjemahan adalah kata depan min dalam frasa「מִשְׁמַנֵּ֤י」, kata depan tersebut dalam bahasa Ibrani bisa diartikan sebagai 「berasal dari」 atau 「terpisah dari」. Tetapi dilihat dari konteks makna yang kedua akan lebih sesuai.

Renungkan: Apakah engkau mencintai orang dalam keluargamu? Keluarga sepatutnya adalah sorga di antara manusia, benteng tempat berlindung, namun tidak sedikit orang dilukai paling mendalam oleh orang terdekat dalam keluarga, jatuh seumur hidup tidak dapat bangkit berdiri. Sepatutnya memegang erat kesempatan, baik-baik mengasihi dia. Perkataan dan perbuatan apapun, semuanya harus keluar dari sisi terang dari manusia sehingga dapat menggerakan perasaan dan moralitas yang paling tinggi dari orang.

Renungan ini merupakan terjemahan versi bahasa Mandarin 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Kejadian 27-50 ditulis oleh 賴建國 (Lài Jiàn Guó) yang dipublikasi pada bulan Januari 2018 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).

Keluaran 18:1-12

Keluarga dan pelayanan

Oleh Lài Jiàn Guó (賴建國)
Alliance Bible Seminary H.K.

(Kel. 18:1-12 [ITB])
1 Kedengaranlah kepada Yitro, imam di Midian, mertua Musa, segala yang dilakukan Allah kepada Musa dan kepada Israel, umat-Nya, yakni bahwa TUHAN telah membawa orang Israel keluar dari Mesir.
2 Lalu Yitro, mertua Musa, membawa serta Zipora, isteri Musa, yang dahulu disuruh Musa pulang 3 dan kedua anak laki-laki Zipora; yang seorang bernama Gersom, sebab kata Musa: Aku telah menjadi seorang pendatang di negeri asing, 4 dan yang seorang lagi bernama Eliezer, sebab katanya: Allah bapaku adalah penolongku dan telah menyelamatkan aku dari pedang Firaun.
5 Ketika Yitro, mertua Musa, beserta anak-anak dan isteri Musa sampai kepadanya di padang gurun, tempat ia berkemah dekat gunung Allah, 6 disuruhnyalah mengatakan kepada Musa: Aku, mertuamu Yitro, datang kepadamu membawa isterimu beserta kedua anaknya.
7 Lalu keluarlah Musa menyongsong mertuanya itu, sujudlah ia kepadanya dan menciumnya; mereka menanyakan keselamatan masing-masing, lalu masuk ke dalam kemah. 8 Sesudah itu Musa menceritakan kepada mertuanya segala yang dilakukan TUHAN kepada Firaun dan kepada orang Mesir karena Israel dan segala kesusahan yang mereka alami di jalan dan bagaimana TUHAN menyelamatkan mereka.
9 Bersukacitalah Yitro tentang segala kebaikan, yang dilakukan TUHAN kepada orang Israel, bahwa Ia telah menyelamatkan mereka dari tangan orang Mesir.
10 Lalu kata Yitro: Terpujilah TUHAN, yang telah menyelamatkan kamu dari tangan orang Mesir dan dari tangan Firaun. 11 Sekarang aku tahu, bahwa TUHAN lebih besar dari segala allah; sebab Ia telah menyelamatkan bangsa ini dari tangan orang Mesir, karena memang orang-orang ini telah bertindak angkuh terhadap mereka.
12 Dan Yitro, mertua Musa, mempersembahkan korban bakaran dan beberapa korban sembelihan bagi Allah; lalu Harun dan semua tua-tua Israel datang untuk makan bersama-sama dengan mertua Musa di hadapan Allah.

Di pasal 18, Yitro dan Zipora muncul kembali, bersama-sama dengan Musa berbagi kesaksian keselamatan, sehingga Musa bisa mendapatkan kembali kehangatan keluarga, lebih siap untuk menyambut perjanjian Sinai. Tema keluarga terlihat menonjol dalam ayat 1-12, menunjukkan pentingnya keluarga dalam keseluruhan rencana keselamatan.

Perikop ini dapat dibagi menjadi dua bagian: reuni keluarga (ayat 1-7), ucapan syukur dan penyembahan (ayat 8-12). Seluruh catatan ini menghangatkan hati, membuat orang mengenangnya tanpa jemu seperti mata air Elim (Kel. 15:27), tak terlupakan.

Yitro mendengar segala kasih kemurahan yang dilakukan Allah kepada orang Israel, sehingga Yitro membawa Zipora istri Musa, dan kedua anak laki-lakinya (ayat 2-4). Di sini secara khusus mencatat nama kedua anak laki-laki Musa.
Musa menamai salah satu anak laki-lakinya Gersom (gērǝšōm, yang berarti menjadi seorang pendatang di sana), yang merupakan pengakuannya terhadap bangsa Israel. Anak laki-laki lainnya bernama Eliezer (‘ĕlî’ezer, yang berarti Allah penolong), menghubungkan iman dan leluhur.

Pertemuan ini adalah reuni keluarga Musa, dan Zipora dan kedua putranya secara resmi diterima oleh orang Israel dan menjadi bagian dari mereka. Keluaran 4:24-26 … Zipora mengambil pisau batu, dipotongnya kulit khatan anaknya …, menghilangkan keraguan anak Musa sudah disunat, dan pasal ini ditempatkan sebelum pasal 19, yang menunjukkan bahwa kedua anak Musa juga berpartisipasi dalam perjanjian Sinai.

Kesaksian Musa kepada Yitro, ayah mertuanya, ada dua bagian: pertama, segala sesuatu yang dilakukan Allah kepada Firaun dan orang Mesir menunjukkan perbuatan-perbuatan besar Allah. Kedua, segala kesulitan yang dihadapi bangsa Israel di padang gurun, TUHAN memberi mereka pimpinan tiang awan dan api, persediaan makanan dan air, dan perlindungan kemenangan dalam pertempuran, yang semuanya membuktikan penyertaan TUHAN (ayat 8), membuat Yitro ayah mertuanya merespons dengan semangat antusias.

Dahulu pertama kali Yitro bertemu Musa, ia menerima Musa sebagai bagian dari keluarga karena alasan kemanusiaan. Empat puluh tahun kemudian, Yitro lebih nyata melihat karya perbuatan TUHAN, ia menerima iman Musa, bersama Musa menyembah kepada Allah (ayat 11-12). Harun beserta semua tua-tua Israel, mewakili keluarga Musa dan seluruh orang Israel, bersama-sama Yitro mempersembahkan korban dan melakukan ibadah penyembahan, terlebih memperlihatkan penghargaan atas tema keluarga.

Renungkan:
(1) Fokus pada keluarga: melayani Allah tidak berarti mengabaikan keluarga, sebaliknya sepatutnya mengurus keluarga, mengelola pernikahan, mengasuh anak, dan pelayanan gereja (1 Tim. 3:1-7).
(2) Membangun ulang citra ayah: walaupun merasa citra buruk bapa di dunia, tetapi dapat merenungkan Bapa surgawi yang penuh kasih kemurahan.


Renungan pemahaman Kitab Keluaran

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Keluaran 1-18 ditulis oleh Lài Jiàn Guó (賴建國) yang dipublikasi pada bulan Oktober 2014 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.